Sunday, March 26, 2017

Romantika Lukisan Raden Saleh: Penangkapan Pangeran Diponegoro 1830

Lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro" karya Raden Saleh (1857).

“ Dia ingin memperlihatkan kepada mata seluruh dunia bahawa orang Timur pun punya kesanggupan penuh andai kata duduk sebaris dengan orang-orang Barat itu. Maka pakaian kebangsaannya itu dipakai olehnya pada hari pertunjukan itu maksudnya agar orang- orang Barat itu mengerti bahawa “dia orang Indonesia”. Tidakkah menjadi hairan di waktu itu ejek, suara bisikan semulut demi semulut
dapat dipersaksikan sendiri. Baginya semua itu tidaklah diendahkan. Malah pandangan orang banyak yang memperhatikan dia seorang itu adalah menjadi kemegahan pada dirinya, sedang orang lain tidak begitu.” Ucap Adi Mas (1954) dalam tulisannya Lukisan Raden Saleh Menipu Barat.
***
Saat kita melihat lukisan tersebut, kita akan disuguhkan pada suasana dramatisme pada Masa De Java Oorlog (Perang Jawa) 1825-1830 M. Di kutip dari pembicaraan Mas Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum dalam sebuah kelas Pengantar Sejarah saat berdiskusi mengenai Perang Jawa, beliau berkata bahwa “ Berjudul Perang Jawa karena merupakan sebuah perang yang terbesar dan melibatkan unsur besar manusia Jawa kurun waktu abad ke 19 tersebut.

Bukan antara orang Jawa dan Penguasa Kolonial Hindia Belanda secara khusus yang pada saat itu berperang, melainkan anatara orang jawa yang kontra dan orang jawa simpatisan kolonial yang terlibat pertempuran dengan sedikit orang kulit putih yang berjumlah sekitar 8000 orang terlibat didalam pertempuran sekitar 100.000 masyarakat Jawa pada waktu itu.”

Kita melihat sosok tersebut adalah Pangeran Diponegoro bisa juga disebut Herucokro, seorang pangeran Kesultanan Yogyakarta yang pada Perang Jawa berperan sebagai Tokoh Utama bersama Kyai Mojo dan Ali Sentot Baharsyah Prawirodirdjo yang tidak setuju atas campur tangan yang terlalu jauh oleh kolonial Hindia Belanda terhadap kehidupan kenegaraan Istana Kesultanan Yogyakarta, yang pada waktu ikut menentukan penerus kekuasaan Kesultanan Yogyakarta.

Selain itu atas perilaku kolonial yang membangun jalan raya melintasi makan leluhur Diponegoro. Hingga akhirnya meletusnya Perang Jawa yang melibatkan sebagian besar masyarakat jawa yang menganggap jika istana saja sudah dapat dikendalikan begitu dalam oleh kolonial, bagaimana dengan rakyat yang tidak memiliki kekuatan.

Adalah kemudian Raden Saleh Sjarief Boestaman, pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang mempionirkan seni modern Indonesia (saat itu Hindia Belanda). Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang sedang populer di Eropa saat itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar belakang Jawa sang pelukis.

Raden Saleh terutama dikenang karena lukisan historisnya, Penangkapan Pangeran Diponegoro, pada gamabar diatas  yang menggambarkan peristiwa pengkhianatan pihak Belanda kepada Pangeran Diponegoro yang mengakhiri Perang Jawa pada 1830. Sang Pangeran terbujuk untuk datang ke Magelang untuk membicarakan gencatan senjata, namun pihak Belanda tidak memenuhi jaminan keselamatannya, dan Diponegoro pun ditangkap.
Berkas:Nicolaas Pieneman - The Submission of Prince Dipo Negoro to General De Kock.jpg
"Penyerahan Diri Diponegoro" karya Nicolaas Pieneman (1835). Foto: Rijksmuseum Amsterdam
Peristiwa tersebut telah dilukis oleh pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman yang dikomisikan oleh Jenderal de Kock. Diduga Saleh melihat lukisan Pieneman tersebut saat ia tinggal di Eropa.  Seakan tidak setuju dengan gambaran Pieneman tentang Diponegoro. Saleh memberikan sejumlah perubahan signifikan pada lukisan versinya; Pieneman menggambarkan peristiwa tersebut dari sebelah kanan, Saleh dari kiri. 

Sementara Pieneman menggambarkan Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, Saleh menggambarkan Diponegoro dengan raut tegas dan menahan amarah. Pieneman memberi judul lukisannya "Penyerahan Diri Diponegoro," sedangkan Saleh memberi judul "Penangkapan Diponegoro." Diketahui bahwa Saleh sengaja menggambar tokoh Belanda di lukisannya dengan kepala yang sedikit terlalu besar agar tampak lebih mengerikan
Perubahan-perubahan ini dipandang sebagai rasa nasionalisme pada diri Saleh akan tanah kelahirannya di Jawa. Hal ini juga dapat terlihat pada busana pengikut Diponegoro. Pieneman sendiri tidak pernah ke Hindia Belanda, dan karena itu ia menggambarkan pengikut Diponegoro seperti orang Arab.
edit/historia.co.id
Gambaran Saleh cenderung lebih akurat, dengan kain batik dan blangkon yang terlihat pada beberapa figur. Saleh juga menambahkan detil menarik, ia tidak melukiskan senjata apapun pada pengikut Diponegoro, bahkan keris Diponegoro pun tidak ada. Ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena itu Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik.

Hal yang lebih menarik adalah bahwa kita tahu bahwa Raden Saleh adalah orang pribumi yang mendapat perlakuan istimewa sebagai pribumi, beliau berteman dengan orang belanda dan pernah menjadi pelukis Istana Kerajaa Belanda.

Namun kita menemukan fakta yang mengungkapkan rasa nasionalisme Raden Salah sebagai orang Jawa tersebut, jika kita lihat ke dalam lukisan tersebut, terlihat sosok Raden Saleh di wajah para sosok pengikut Diponegoro dalam lukisan tersebut. Beliau seperti memposisikan dirinya sebagai pengikut dan berada dipihak Pangeran Diponegoro, sebuah makna yang terlihat sebagai sosok perlawanan.

Setelah selesai dilukis pada 1857, Saleh mempersembahkan lukisannya kepada Raja Willem III di Den Haag. Penangkapan Pangeran Diponegoro baru pulang ke Indonesia pada 1978. Kepulangan lukisan tersebut merupakan perwujudan janji kebudayaan antara Indonesia-Belanda pada 1969, tentang kategori pengembalian kebudayaan milik Indonesia yang diambil, dipinjam, dan dipindah tangan ke Belanda pada masa lampau.

Namun dari itu, lukisan Penangkapan tidak termasuk ketiga kategori tersebut, karena sejak awal Saleh memberikannya kepada Raja Belanda dan tidak pernah dimiliki Indonesia. Lukisan tersebut akhirnya diberikan sebagai hadiah dari Istana Kerajaan Belanda dan sekarang dipajang di Istana Negara,Jakarta.

Berkas:Carl Johann Baehr - Porträt des Raden Saleh Syarif Bustaman.jpg
Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880)

Sumber Kepustakaan :

Mas Adi.1954. Tajuk : Lukisan Raden Saleh Menipu Barat.  Terbit : 22 Juni 1954
National Geography. 2013. “Menelanjangi” Lukisan Karya Raden Saleh.
Bisnis.com.  2016. Ada Kode-kode Menarik di Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon