Saturday, December 31, 2016

Cut Nyak Din: Seorang Wanita yang Mengajaibkan di Hindia Belanda

Cut Nyak Dhien setelah ditangkap oleh pejabat Hindia Belanda. Foto: Tropenmuseum

Harian Sejarah - Tanpa mengkerdilkan peran dari pahlawan-pahlawan lain yang berjuang di Aceh, Cut Nyak Din sudah tentu merupakan salah satu wanita yang paling dikenal oleh khalayak banyak tentang kepiawaiannya melawan kaphe Ulanda.

Kekaguman masyarakat Indonesia sekarang terhadap Cut Nyak Din tidak kalah pada kekaguman musuh-musuh Cut Nyak Din pada masa itu. Telah disebutkan dalam tulisan saya sebelumnya bahwa jumlah pimpinan perang Belanda yang banyak tidak dapat mengalahkan Cut Nyak Din. Hal ini membuat C. van der Pol menyebut Din sebagai Een der Merkwaardigste Vrouwen in Nederland-Indie.

Teuku Umar Syahid, Din Muncul sebagai Pimpinan Utama

Lahir di Aceh dan menjadi anak dari Teuku Nanta Cek Setia Raja, Din tumbuh menjadi seorang wanita yang cerdik dan tangkas sejak masa mudanya. Aliran darah Din sudah tentu adalah aliran kebencian kepada penjajahan yang mewujud dalam seorang wanita. Din melihat penjajahan Belanda pada waktu itu sebagai sebuah aksi yang brutal dan bengis. Menyaksikan hal yang demikian sepanjang masa remaja sampai dipinang oleh Ibrahim Lamnga, membuat Din memiliki dendam kesumat yang luar biasa.

Kebencian Din bertambah hebat ketika pada 27 Juni 1878, Ibrahim Lamnga meninggal tertembus peluru Belanda. Dua tahun setelah syahidnya Ibrahim Lamnga, Din menerima pinangan Teuku Umar, seorang panglima perang besar Aceh yang tersohor namanya. Pinangan ini dibalas Din dengan syarat bahwa Umar harus memperbolehkan Din ikut serta melawan Belanda. Melihat semangat yang kuat itu, diterimalah syarat itu oleh Teuku Umar.

Dalam setiap aksi yang dilancarkan Umar setelah pernikahannya, Cut Nyak Din selalu menjadi auctor intellectualisnya. Dalam hal ini, melihat betapa hebatnya peran seorang istri Umar yang menghancurkan Belanda bertubi-tubi, geramlah Belanda. Namun, pada masa ini, target utama Belanda adalah Umar. Umar telah berhasil melaksanakan tipu muslihat yang merugikan Belanda. Hingga sampailah saat yang maha sedih, di pantai laut Meulaboh, pada 11 Februari 1899, Umar tewas tertembak peluru Belanda ketika rencana penyerbuannya bocor ke telinga Belanda.

Satu kali mungkin bolehlah hati Din ditenangkan, namun kehilangan yang kedua kalinya ini membuat Din tidak tahan lagi. Namun, amarahnya ini bukan semata-mata pembalasan dendam terhadap suaminya. Din tidak pernah patah hati, karena ia adalah putri ksatria yang yakin bahwa suaminya telah syahid di jalan Allah. Sungguh, pada detik peluru mengambil jiwa Teuku Umar, pada detik yang sama itu pula Belanda telah membangunkan seorang panglima yang berbahaya bagi mereka.

Kekuatan Pasukan Din

Cut Nyak Din, setelah memberikan penghormatan pada jenazah Umar dan memakamkannya, angkat senjata melawan Belanda. Demikianlah, dalam perang ini, tampilah Din sebagai salah seorang pimpinan perang yang terlama dan termahal melawan Belanda. Cut Nyak Din melawan dengan bekas pasukan Umar dan para pengikut setianya. Ia berjanji bahwa ia tidak akan berhenti melawan hingga nyawa berpisah dengan raganya.

Untuk keperluan perlawanan ini, Din menciptakan suatu siasat agar pasukan bergerak secara mobil: pasukan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu yang cepat. Tujuannya adalah untuk mengecoh Belanda, sehingga serdadu paling berpengalam sekalipun tidak mampu menangkap pasukan Din. Langkah pasukan Din ini seperti kijang yang sangat cepat. Pasukan yang bergerak itu sekaligus membersihkan sisa-sisa pemukiman sementara mereka agar tak dapat diikuti Belanda. Dalam hal pengintaian, mereka juga memeriksa sekitaran.

Dari zaman hidupnya Teuku Umar, ketakutan Belanda terhadap Din dan Umar sudah menunjukkan wujudnya. Di negeri Belanda sana, lagu-lagu beredar di kalangan umum: Aan een touw Teuku Umar en zijn vrouw (Gantung di tali Teuku Umar dan istrinya). Hal ini bukan saja dikarenakan kekuatan perang yang hebat. Terlebih adalah berkat kekuatan surat-surat kiriman pejuang dan dakwah yang terus berdengung di Aceh.

Cut Nyak Din: Panglima yang Ditakuti Belanda

Kepemimpinan Din yang tak tergoyahkan adalah salah satu alasan masuk akal Belanda gentar terhadapnya. Cut Nyak Din secara kontiniu selalu membangkitkan semangat juang pengikutnya yang tinggal sedikit itu. Tidaklah kita terheran kalua begitu, dengan sumpah setia para pengikut yang berbunyi: “Langkahi dahulu mayat kami sebelum menangkap Cut Nyak Din!”. Hal ini pulalah yang nanti memilukan hati kita ketika rasa cinta para pengikut mengantarkan Din ke pangkuan Belanda.

Dibanding rasa hormat para pengikut setia, rasa hormat seluruh rakyat Aceh lebih menggetarkan lagi. Pada 1901, saat Belanda gencar melakukan operasi militer di Aceh Barat, Din terpaksa berpindah ke Aceh Tengah. Di sana, ia diterima dengan syukur oleh penduduk yang sangat bersimpati. Ratu perang ini disuplai segala kebutuhannya oleh rakyat Gayo. Kepercayaan yang hebat dari semua orang inilah yang betul-betul ditakuti oleh Belanda.

Cut Nyak Din adalah pemimpin yang sangat piawai. Di samping menyampaikan strategi-strategi perang yang mematikan Belanda, Din selalu membangkitkan semangat pengikutnya dengan memberikan cerita-cerita kepahlawanan. Hal ini membuat perlawanan tidak pernah padam. Pasukan Din, menurut H. M. Said, juga adalah pasukan yang piawai menggunakan klewang.

Dalam masa modern, mungkin tidak ada bandingannya, seorang wanita yang mampu mengalahkan tokoh militer yang banyak jumlahnya: Van Heutz, Van Daalen, Van der Maaten, Veltman, H. Colijn, Christoffel dan banyak lainnya serta telah menghadapi Brandhoff, Mathes juga Campioni tanpa kalah. Sejak sebelum Sultan Aceh menyerah hingga sesudahnya, sungguhpun Din didukung atau tidak, sungguhpun ia menderita atau tidak. Tidak ada yang bisa menghentikan panglima yang satu ini. Betapa tidak takut Belanda menghadapi wanita yang bencinya terhadap Belanda tidak pernah lekas ini.

Rasa Kagum Musuh-Musuh Din

Ketika Umar masih hidup, Din telah menjadi sosok yang menakutkan bagi pemerintah kolonial. Namun, berbeda dengan kesan yang dihinggapkan Umar ke Belanda hingga ia disebut schurk, nampaknya ketakutan Belanda terhadap Din lebih ditunjukkan dengan rasa kagum yang luar biasa. Hal ini mungkin dikarenakan Belanda tak pernah memiliki pahlawan wanita yang seperti Din dan tidak pula ia memiliki Joan d’Arc.

Hal ini dibuktikan dengan pernyataan Residen Belanda Jongejans: “Zij is slechts eene in de rij der vrouwen” yang berarti hanya Din lah satu-satunya di antara para wanita yang pada waktu itu mampu membuat takjub Belanda. Jika kita berbicara tentang Din, bukanlah persoalan gender yang utama. Di antara orang-orang Aceh, telah banyak wanita yang angkat senjata melawan penjajahan Belanda. Namun, Din adalah seorang wanita yang luar biasa, tanpa mengkerdilkan peran yang lain, telah mencatatkan suatu kekalahan yang juga dibarengi kekaguman Belanda. Cut Nyak Din lebih fanatik dari istri pejuang Aceh lain mengenai tidak mengenal takluk. Cut Nyak Din menjadi berbeda dengan wanita yang lain karena ia adalah pemikir strategi dan pada akhirnya ia menjadi pimpinan utama perang.

Ketika ia menjadi pimpinan utama perang inilah rasa kagum muncul di antara para musuhnya. Mereka dari kalangan Belanda yang menceritakan siapa itu Cut Nyak Din adalah mereka yang telah mengenal sendiri Din di medan perang. Di antara mereka, ada seorang perwira bernama Brandhoff yang menyatakan bahwa Din bukanlah orang sembarangan, pasukan Din berhasil melawan pasukan pimpinan Mathes yang berjumlah kira-kira 451 orang. Ternyata, Din mampu membuat mundur Belanda dengan serangan klewang yang luar biasa.  Hal yang demikian ini tentulah membuat Belanda merasa kagum akan Din.

Rasa kagum itu juga muncul dari kenyataan bahwa Din berjuang dengan kondisi yang tidak sehat. Penyakin rabun dan encok serta kondisi hutan yang susah bukanlah pengalaman indah bagi seorang anak Uleebalang seperti Din. Daripada hal ini, muncul pula simpati dari para pengikut. Betapa kita tidak tersentuh hatinya melihat kondisi Din ini yang membuat para pengikut, karena rasa hormat dan kasihan, terpaksa menyerahkan Din ke tangan Belanda.

Selain kondisi Din yang memburuk, sebab dari penyerahan Din ke Belanda adalah juga susahnya bantuan yang didapatkan, serangan dari tentara Belanda juga menyempitkan ruang gerak. Namun, yang paling merugikan adalah taktik Belanda dengan memberikan surat ampunan pada para pejuang yang menyerahkan diri. Karena hal ini, beberapa pengikut Din juga membelot dan kembali ke tempat asal mereka.

Din memberi bukti pada kita semua bahwa ia tidak akan goyah dalam melawan Belanda. Ketika Panglima Laot, pengikutnya yang setia, memberi saran pada Din untuk menyerah. Din yang sudah terlihat lemah itu amarahnya meluap dan membuatnya seperti pada masa muda lagi dan mengatakan bahwa ia lebih baik mati di hutan dan meneruskan perjuangan suci. Demikianlah, Din, wanita pejuang yang disegani Belanda itu tidak pula menyerah pada kondisi yang sangat menyedihkan sekalipun.

Baiknya, sebagai anak bangsa yang sudah tentu ingin bangsanya menjadi lebih baik, kita harus melihat masa lalu pula sebagai refleksi. Perjuangan Din, wanita yang mengajaibkan dari Hindia Belanda, kini sudah tercapai. Belanda telah hengkang dari bumi Nusantara, nama Din sekarang lebih dikenal sebagai pahlawan nasional Indonesia. Sungguhlah malu bila bangsa Indonesia sekarang menghabiskan tenaga untuk konflik internal yang tidak perlu. Kita harus melihat masa depan sejauh, bahkan lebih jauh, dari kita melihat masa lalu.

Daftar Pustaka :

Alfian, Ibrahim. 1987. Perang di Jalan Allah. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Ibrahim, Muchtaruddin. 1996. Cut Nyak Din. Jakarta: Department of Education and Culture Republic of Indonesia.
Lulofs, Szekely. 1951. Cut Nyak Din: Kisah Ratu Perang Aceh. Jakarta: Komunitas Bambu.
Reinhart, C. 2016. Cut Nyak Din: Auctor Intellectualis Perang Aceh. Jakarta: Universitas Indonesia.
Said, H. Mohammad. 1991. Aceh Sepanjang Abad. Medan: Harian Waspada.
Van ‘T Veer, Paul. 1985. Perang Aceh: Kisah Kegagalan Snouck Hurgonje. Jakarta: Temprint.
Zainuddin, H. M. 1966. Srikandi Atjeh. Medan: Pustaka Iskandar Muda.

Kiriman dari : C.Reinhart - Mahasiswa Sejarah UI 2016

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon