Wednesday, January 4, 2017

Marco Polo dan Sven Hedin: Melihat Jalur Sutra dari Masa Berbeda

Marco Polo dan Sven Hedin: Melihat Jalur Sutra dari Masa Berbeda

Marco Polo adalah seorang penjelajah yang dahulunya hidup sebagai anak yatim piatu. Dikisahkan bahwa ayahnya telah meninggal sebelum ia pernah melihatnya dan ibunya meninggal saat ia masih anak-anak. Kehidupannya seperti anak yatim kebanyakan dan kemuidan berubah setelah seseorang asing masuk dalam kehidupannya, ialah ayah yang selama ini tidak pernah ia temui.

Marco Polo dan Sven Hedin: Melihat Jalur Sutra dari Masa Berbeda
Dinasti Han (Foto/chinesetimeschool)
Seseorang datang dan mengaku sebagai ayah Marco Polo menceritakan bahwa ia tidak meninggal namun pergi ke tempat yang jauh di mana ada orang-orang yang tidak pernah dibayangkan oleh orang Eropa. Negeri yang dikunjungi oleh ayahnya itu adalah Cina yang dideskripsikan sebagai berikut:
  • Raja memiliki istana yang sangat luas.
  • Raja dapat menjamu 40.000 orang dalam sehari dengan menghidangkan makanan dan minuman.
  • Satu ruangan dalam istana mampu menampung sekitar 6000 orang.
  • Istri sangat patuh pada suami dan selalu diminta untuk melayani tamu.
  • Dan hal lain yang cocok dengan fakta di Cina pada masa itu.
Mendengar hal itu, Marco Polo kecil menjadi terbakar semangatnya untuk mengikuti jejak sang ayah, namun dengan mimpi yang jauh lebih besar. Ia ingin menciptakan sebuah hubungan dagang antara negeri yang ajaib itu dengan peradaban Barat. Mulailah ia berangkat untuk memulai perjalanannya. Setiap detail perjalanan digambarkan secara nyata.

Pegunungan dan sungai semua dicatat dengan rinci sampailah ia di depan gurun pasir terbesar yang menjadi penghalang Jalur Sutra –Taklamakan. Mulai dari pertemuannya dengan gurun Taklamakan inilah ceritanya berubah dari nyata menjadi tidak masuk akal. Para ahli ada yang berpikir bahwa Marco Polo hanya sampai Cathay dan tidak melanjutkan perjalanannya ke Cina. Semua yang ada di tulisan setelahnya adalah apa yang dia dengar dan dia catat.

Marco Polo dan Sven Hedin: Melihat Jalur Sutra dari Masa Berbeda

Namun ahli lain berpendapat bahwa tidak mungkin Marco Polo mampu menulis hal yang sedemikian detail tanpa ia pernah ke sana. Ia menuliskan bagaimana raja menangani kasus korupnya menteri keuangan dan hal lain yang detail mengenai masyarakat mongol tapi tidak dengan Cina Han.

Sejarawan berpedapat bahwa Marco Polo benar-benar sampai ke Cina namun ia hidup di kalangan orang Mongol sehingga tidak menuliskan dengan rinci apa yang ada di kalangan Cina Han. Ia tidak menulis tentang foot-binding dan hal lain yang berkaitan dengan orang Han. Tapi ia menggambarkan dengan nyata suasana di antara orang-orang Mongol.

Memang ceritanya pada bagian ini dibumbui banyak hal yang tidak logis tentang bagaimana binatang menunduk pada manusia atau bahwa ada mahkluk yang tidak bisa dinalar tetapi hal ini bisa dijelaskan melalui proses penulisannya, buku ini ditulis berdasarkan penuturan Marco Polo oleh teman satu sel-nya yang menyukai cerita dongeng. Marco Polo meninggal di antara orang-orang yang meragukan eksplorasinya ke Cina dan Asia Tengah.

Marco Polo dan Sven Hedin: Melihat Jalur Sutra dari Masa Berbeda
(Foto/svenhedinfoundation.org)

Berbeda zaman dari Marco Polo, Sven Hedin dari Stockholm mengidolakan dia dan ingin membuat dirinya sebagai seorang pahlawan yang dielu-elukan. Ia memulai langkahnya ketika belajar di Berlin tentang geografi dan memiliki gagasan untuk pergi ke daerah lama Jalur Sutra untuk memetakan daerah itu. Ambisinya bertambah dengan keinginannya untuk menemukan kota-kota lama di Jalur Sutra kuno.


Setelah berpamitan dengan kekasih hati yang amat ingin ia pukau, ia berangkat menuju mulut Taklamakan. Taklamakan sangatlah luas dan ganas, sehingga memerlukan persiapan yang khusus. Saat persiapan yang luar biasa itulah surat dari kekasih hatinya datang menyatakan bahwa ia akan bertunangan dan meninggalkan Hedin, dengan hatinya yang hancur, ia berangkat ke perut Taklamakan yang lapar.

Marco Polo dan Sven Hedin: Melihat Jalur Sutra dari Masa Berbeda
(Foto/svenhedinfoundation.org)
Ia bersama dengan rombongan kehabisan air ketika baru setengah perjalanan sehingga banyak yang mati dan banyak yang meninggalkan Sven. Ia akhirnya tinggal sendiri dan hamper mati pula, tetapi bukan Sven Hedin bila tidak  melanjutkan langkahnya. Beruntunglah dia menemukan sungai ketika masa kelam itu.

Ia tidak putus asa, ia kembali mempersiapkan dengan matang dan memulai perjalanan ke-2 untuk masuk ke perut Taklamakan, kali ini dia sukses dan menemukan apa yang dia mau. Ia menemukan sejumlah reruntuhan kuno kota-kota di Taklamakan dan kembali ke Stockholm sebagai seorang pahlawan yang dielu-elukan.

Marco Polo dan Sven Hedin: Melihat Jalur Sutra dari Masa Berbeda
Hedin bersalaman dengan Hitler (Foto/bonnier.news)
Namun, kepopulerannya tidak bertahan lama, saat pecah perang dunia pertama (World War I), Sven Hedin berdiri di garda depan untuk membela Jerman dan blok sentral. Kecintaannya pada Jerman membawa petaka, ia membuat penghargaan yang diberikan Inggris,
Amerika dan negara-negara Sekutu mencabut semua gelar yang pernah mereka berikan pada Sven Hedin. Setelah periode itu, meletuslah perang dunia kedua (World War II) dan ia kembali memihak Jerman –di antara 2 pahlawan yang dimiliki Adolf Hitler, Sven Hedin masuk ke dalam salah satunya.

Ia sangat bangga karena disanjung Hitler dan berpidato dengan bersemangat kepada Nazi. Ia tidak percaya bahwa Nazi Jerman yang dipimpin Hitler adalah pasukan yang kejam dan beringas, ia selalu percaya bahwa Jerman adalah simbol kedisiplinan. Demikianlah, Sven Hedin, perintis penemuan pada Jalur Sutra namanya dihapus dari sejarah, menunjukkan betapa kuat pengaruh politik dibanding pengaruh ilmu pengetahuan sendiri. Sven Hedin, di luar segala kontroversi yang menimpanya, adalah seorang penjelajah yang hebat. Ia memikirkan bagaimana cara untuk membangkitkan kembali peradaban di bekas Jalur Sutra. Jauh, ketika orang-orang sedang sibuk memikirkan negara mereka masing-masing.

Sumber

  • National Geographic. Tanpa Tahun. The Silk Road. Washington: NatGeo.
  • Universiteit Leiden. 2014. Connecting the Silk Road. Trade, People & Social Networks (c. 400-1300 AD). Conference on the Silk Road Subject, 17-18 May 2014.
  • Waugh, Daniel C. Tanpa tahun. The Silkroads in History. Seattle: University of Washington.

Penulis : C.Reinhart
E-mail: christopher.reinhart@ui.ac.id.

" Penulis merupakan mahasiswa dan peneliti dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia dengan Spesialisasi sejarah Buddhisme dan Agraris. "

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon