Monday, January 2, 2017

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia

Merujuk pada pergerakan nasional, maka terlebih dahulu kita harus mengerti perkembangan masyarakat dan lingkungannya. Pada awal pergerakan nasional Indonesia antara 1900-1928 kehidupan masyarakat Bumiputera mengalami perubahan sosial terutama mereka yang menetap di wilayah perkotaan seperti Surabaya, Bandung, Semarang, dan Batavia. Batavia sendiri tumbuh menjadi kota metropolitan dengan serangkaian kemajuan teknologi, seperti telepon, mobil, dan listrik.

Arus informasi menjadi salah satu pendorong pergerakan nasional, elite terpelajar yang muncul sebagai dampak dari penerapan politik etis. Mereka yang belajar di sekolah-sekolah pemerintah atau partikelir (swasta) di perkotaan atau di Eropa menerima informasi yang Bergama dari penjuru dunia. Elite terpelajar inilah yang mempunyai cita-cita kemerdekaan yang mereka dapatkan dari hasil belajar di sekolah, mereka mengenal ideologi-ideologi dan filsafat yang membawa mereka untuk berpikir terbuka.

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia
Pelajar Bumiputera di Belanda (Foto/Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)
Kondisi masyarakat masih terpecah atas tiga golongan : Eropa, Timur Asing dan Bumiputera. Masyarakat Bumiputera masih mengalami ketertimpangan dalam pelbagai hal meskipun telah dilakukannya politik etis. Pendidikan yang merupakan konsep dari trias etika masih belum berjalan maksimal. Pemerintah kolonial tidak serta merta memberikan pendidikan yang berjenjang kepada masyarakat. Hal ini sebagai antisipasi agar masyarakat Bumiputera tidak mendapatkan pendidikan yang cukup tinggi karena dikhawatirkan melakukan pemberontakan. Pemerintah hanya mengedepankan masyarakat sekadar bisa baca, tulis, dan hitung, meskipun angka buta huruf masih tinggi. Masyarakat dalam pendidikannya tidak diperkenalkan pada pendidikan politik dan filsafat yang dapat memunculkan benih-benih pemberontakan.

Meskipun serangkaian tindakan dilakukan oleh pemerintah dengan membatasi ruang gerak pendidikan. Kenyataannya masyarakat bumiputera mengalami kemajuan secara mobilitas sosial. Hal ini dapat terjadi karena para elite terpelajar yang mengenyam pendidikan di perkotaan dan negeri Belanda tidak serta mereta menelan mentah-mentah pendidikan untuk dirinya sendiri. 

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia
Bp. Soerjoadipoetro tengah mengajar di Taman Siswa Bandung.(Foto/Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen) 
Banyak dari mereka yang mengabdikan diri dengan mengajar dan mendirikan sekolah-sekolah partikelir (swasta) yang digratiskan atau berbiaya murah, sehingga masyarakat jelata dapat menikmati pendidikan, sekolah ini oleh Pemerintah Hindia Belanda disebut sebagai sekolah liar. Arus informasi pun tidak dapat dibendung pemerintah, hal ini karena ‘pers’ tengah berkembang dengan cukup besar di perkotaan-perkotaan besar. Media cetak seperti koran berkembang luas di masyarakat.

Faktor Pendorong Pergerakan Nasional

Modernisasi menjadi faktor internal pendorong lahirnya pergerakan nasional. Meskipun telepon dan surat kabar belum menyeluruh di seluruh wilayah jajahan, namun transportasi berupa kereta api menjadi alat integrasi antar wilayah di pulau Jawa. 

Integrasi transportasi inilah yang menyebabkan arus urbanisasi masyarakat pedesaan sehingga mobilitas sosial dapat menyebar ke masyarakat desa.
Golongan terpelajar sebagai promotor pergerakan nasional banyak mendapatkan ilham dari perjalanannya ke wilayah-wilayah di pulau Jawa. Ketimpangan yang terjadi dipelbagai wilayah membuat golongan terpelajar sadar akan adanya penderitaan yang meluas dikalangan masyarakat bumiputera. Hal ini berbeda dengan apa yang mereka pelajari di Eropa mengenai HAM, Demokrasi, Sosialisme, dan Liberalisme.

Raasa senasib dan sepenanggungan muncul dikalangan elite pelajar yang melihat adanya kesengsaraan yang ditimbulkan oleh praktik kolonialisme yang dilakukan pemerintah kolonial. Pelajaran sejarah yang mereka dapatkan menimbulkan kesadaran persatuan dan kesatuan secara nasional untuk melawan koloniialisme. 

Mereka menganggap bahwa persatuan kedaerahan yang menyebabkan perpecahan  dan tidak adanya persatuan dalam melawan penjajahan adalah sebab kemerdekaan tidak dapat diwujudkan. Atas kesadaran sejarah maka golongan terpelajar merencanakan sebuah pergerakan nasional yang menyatukan seluruh elemen pergerakan bangsa yang terbebas dari identitas kedaerahan.

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia
Kemenangan Jepang atas perubutan Port Arthut dari Rusia 1905 (Foto/Library of Congress)
Kemenangan Jepang dalam perang melawan Rusia pada 1905 memberikan dampak yang meluas terhadap perjuangan nasional bangsa-bangsa di Asia. Bangsa-bangsa di Asia yang tengah melakukan pergerakan nasional seperti di Turki, Mesir, India, Filipina dan Indonesia mendapatkan dampak psikologis terhadap semangat perjuangan nasionalisme. Mereka bangsa-bangsa Asia memiliki optimisme bahwa bangsa Asia dapat mengalahkan bangsa Eropa yang telah ratusan tahun menancapkan kolonialisme dan Imperialisme.

Pan-Islamisme yang berkembang di Mesir dan Timur tengah memberikan pemahaman ideologi Islam sebagai semangat perjuangan orang-orang Islam di Malaya dan Indonesia untuk menyatukan kekuatan sesama Islam dengan melakukan perjuangan dengan semangat jihat mengusir penjajahan.

Di Indonesia elite perjuangan yang tergabung dalam kelompok-kelompok perjuangan menyiapkan konsep perjuangan nasional. 

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia
Pelajar STOVIA penggagas Budi Otomo (collection of geheimniser)
Mereka yang berjuang dengan berbagai keyakianan dan pemahaman politik seperti demokrasi, liberalisme, dan sosialisme untuk bersatu membentuk suatu identitas berdasarkan perjuangan nasional. Nasionalisme dikalangan pemuda yang kemudian berkembang dengan pendirian Organisasi Budi Utomo 1908 sebagai permulaan perjuangan nasional, meskipun banyak kalangan yang menilai bahwa Budi Utomo tidak terbuka secara umum dan hanya untuk golongan priyayi, namun sejarah nasional Indonesia mencatatkan bahwa pergerakan nasional diawali pada 1908 hingga akhirnya mencapai suatu konsesus pergerakan pemuda nasional yang berujung pada dicetuskannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Referensi :
  • Dr. Muhamad Hisyam, Prof. Dr. I Ketut Ardhana.2008. Indonesia Dalam Arus Sejarah Jilid 5. PT Ichtiar Baru van Hoeve
  • Sartono Kartodirdjo. 1993. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah Pergerakan Nasional Jilid 2 "Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme". Gramedia Pustaka Utama

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon