Wednesday, May 31, 2017

Al-Kindi dan Filsafat Ketuhanan

Al-Kindi – The Transmission of Greek Metaphysics to Islamic Theology. Foto: BBC

Harian Sejarah - Pada abad ke-9 penulisan filsafat secara sistematis baru dimulai adapun pada masa sebelumnya kegiatan filosofis hanya terbatas pada penerjemahan karya-karya filsafat Yunani dan Suryani. Seorang penulis yang mengawali langkah untuk membangun tradisi penulisan filsafat tak lain adalah Al Kindi, bernama lengkap Abu Yusuf Yaqub Al-Kindi lahir di Kufah tahun 866 M.

Tak lama kemudian dia berpindah ke Baghdad yang pada masa itu menjadi ibu kota kekhalifahan Bani Abbas sebagai pusat keilmuan. Di sini ia menyelesaikan pendidikannya. Pengetahuannya mengenai kesusastraan Yunani, Persia dan India telah menganugerahinya kehormatan dan kemasyhuran selama tinggal di Baghdad.

Al Kindi dipandang sebagai filosof bangsa Arab pertama karena ia sebagai pencinta kebijaksanaan serta mempunyai metode dan penyelidikan filsafat yang tersistematis. Ia menjadi jembatan penghubung antara pendekatan intelektual dengan disiplin filsafat.

Pada masa itu teologi mu’tazilah menjadi pegangan pemerintahan Islam sehingga Al Kindi mendapat dukungan dari tiga khalifah Bani Abbas yakni Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim, dan Al-Watsiq. Ketiga Khalifah ini mendukung total keberlangsungan belajar-mengajar serta kegiatan ilmiah, filsafat, dan sastra.

Akan tetapi pada masa pemerintahan al-Mutawakil, Al Kindi mengalami nasib buruk karena khalifah tidak menyetujui kecenderungannya terhadap paham mu’tazilah sehingga beberapa konflik terjadi seperti dipecat dari jabatannya, perebutan perpustakaan al-Kindiyah yang akhirnya kembali ditangan pemilik aslinya. Al Kindi tidak memperoleh hak-hak istimewahnya di istana.

Al-Kindi aktif terlibat dalam kegiatan penerjemahan buku-buku Yunani dan sekaligus melakukan koreksi serta perbaikan atas terjemahan orang lain. Selain itu, ia juga termasuk seorang yang kreatif dan produktif dalam kegiatan tulis-menulis. Tulisannya cukup banyak dalam pelbagai disiplin ilmu. Untuk lebih jelasnya di bawah ini dikemukakan beberapa karya Al-Kindi:
  1. Fi al-falsafat al-‘Ula
  2. Kitab al-Hassi ‘ala Ta’allum al-Falsafat
  3. Risalat ila al-Ma’mun fi al-‘illat wa Ma’lul
  4. Risalat fi Ta’lif al-A’dad
  5. Kitab al-Falsafat al-Dakhilat wa al-Masa’il al-Manthiqiyyat wa al-Mu’tashah wa ma Fauqa al-Thabi’iyyat
  6. Kammiyat Kutub Aristoteles
  7. Fi al-Nafs

Hasil tulisan Al kindi tak lepas dari hasil cerminan komitmen kuatnya pada jalan filsafat dan wacana rasional. Diantara karyanya yang paling menarik adalah risalahnya yang berjudul Al-Hatsts ‘ala Ta’allum Al-Falasafah (Anjuran untuk Belajar Filsafat), Fi Al-Falsafah Al-Ula (Filsafat Pertama) dan lain sebagainya. Dalam kerangka filosofis Al Kindi banyak mengikuti jejak Plato dan Aristoteles.

Filsafat Ketuhanan: Bukti Keberadaan Tuhan

Pandangan Al-Kindi tentang ketuhanan sesuai dengan ajaran Islam dan bertentangan dengan pendapat Aristoteles, Palto dan Plotinus. Berdasarkan hasil tulisan beliau dalam kitab Fi al-Falsafat al-Ula’ dan Fi Wahdaniyyat Allah wa Tanahi Jirm al-Alam. Beliau berpendapat bahwa Allah adalah wujud sebenarnya, bukan berasal dari tiada menjadi ada. Allah adalah wujud yang ada dan selalu ada dan akan selamanya ada.

Allah adalah wujud sempurna dan tidak didahului wujud lain. Wujud-Nya tidak berakhir sedangkan wujud lain disebabkan wujud-Nya. Ia adalah Maha Esa yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak ada satupun zat yang menyamai-Nya dalam segala aspek. Ia melahirkan dan dilahirkan.

Untuk membuktikan adanya Allah, Al-Kindi mengajukan tiga argumen:
  1. Baharunya alam
  2. Keanekaragaman dalam wujud
  3. Kerapian alam

Tentang argumen baharunya alam, Al-Kindi mengemukakan argumennya bahwa tidak mungkin alam ini mempunyai permulaan waktu dan setiap yang mempunyai permulaan akan berkesudahan (mutanahi). Setiap benda ada yang menyebebabkan wujudnya dan mustahil benda itu sendiri yang menjadi sebabnya. Dengan demikian bahwa alam semesta baharu dan diciptakan dari tiada oleh yang menciptakannya, yakni Allah.

Tentang argumen yang kedua, keanekaragaman dalam wujud, Al-Kindi berargumen bahwa tidak mungkin ada keanekaragaman terjadi dengan sendirinya atau secara kebetulan, tetapi ada yang menyebabkan atau merancangnya. Sebagai penyebabnya mustahil alam itu sendiri dan jika alam yang menjadi sebab (Illat’)-nya akan terjadi tasalsul (rangkaian) yang tidak akan habis-habisnya. Dengan demikian bahwa yang menjadi penyebab harus berada diluar alam itu sendiri, yakni Zat Yang Maha Baik, Maha Mulia, yang mendahului adanya alam, yang disebut Allah Swt.

Al-Kindi menyebutkan bahwa ada dua sebab atau ‘illat: Pertama, sebab yang sebenarnya dan aksinya adalah ciptaan dari ketiadaan (ibda’) adalah Allah Yang Maha Esa, Pencipta Tunggal alam semesta. Kedua, sebab yang tidak sebenarnya, sebab yang menyebabkan sebab-sebab itu sendiri. Sebab ini jelas membutuhkan yang lain tanpa berkesudahan. Ia bukanlah bukanlah sebab yang menciptakan alam ini.

Tentang argumen yang ketiga, kerapian alam. Al-Kindi menegaskan bahwa alam empiris ini tidak mungkin dan terkendali begitu saja tanpa ada yang mengatur dan mengendalikannya. Pengatur dan pengendalinya tetntu yang berada diluar alam dan tidak sama dengan alam. Zat itu tidak terlihat, tetapi dapat diketahui dengan melihat fenomena atau tanda-tanda yang terdapat di alam. Zat itulah yang disebut Allah.

Demikianlah bahwa sekalipun Al-Kindi bergelut dalam dunia filsafat Yunani, ia tidak begitu saja menerima ide-ide yang ada didalamnya tetapi ia menyesuaikan dengan ajaran Islam sehingga nuansa keislaman tetap terjaga.


Rujukan:

Majid Fakhry. 2002. Sejarah Filsafat Islam, Bandung: Mizan
George N  Atiyeh, Terjm: Kasidjo Djojosuwarno. 1983. Al-Kindi Tokoh Filosof Muslim, Bandung: Pustaka
Sirajuddin Zar. 2012. Filsafat Islam dan Filsafatnya, Rajawali Press: Jakarta

Tulisan Zulfian Awaludin, Mahasiswa Filsafat Agama IAIN Syekh Nurjati Cirebon di Qureta. 28 Maret 2016. Al-Kindi dan Filsafat Ketuhanan, Pembuktian Keberadaan Tuhan

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon