Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Sunday, January 28, 2018

Buddhisme dan Homoseksualitas: Kebijaksanaan yang Tidak Ternoda


Harian SejarahDalam arus politik belakangan, homoseksualitas adalah hal yang cukup menjadi perbincangan di kalangan luas masyarakat Indonesia. Berawal dari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia yang menolak untuk memperluas pasal tentang perzinahan, perbincangan lanjutan di berbagai forum kemudian diisi dengan pembahasan tentang homoseksualitas –ada yang mendukung keputusan MK, demikian tidak kurang yang kontra terhadapnya. 

Menjadi perhatian penulis ketika kemudian sekian banyak argumen yang muncul merujuk pada dasar ajaran agama-agama yang diakui Indonesia. “Semua agama di Indonesia menolak hubungan homoseksual”, demikian itulah kira-kira argumen yang muncul dalam forum-forum. 

Merujuk pada “semua agama” artinya membicarakan enam agama yang diakui Indonesia, yang artinya pula melibatkan Buddhisme di dalamnya. Untuk menghindari saling duga yang tidak berdasar, kemudian tulisan ini dibuat. Tulisan ini akan memberikan gambaran singkat tentang pandangan Buddhisme terhadap hubungan homoseksualitas dan meluruskan posisinya. Demikian, agar keseluruhan masyarakat Indonesia tidak terjebak dalam karma buruk kolektif dengan menggunakan Buddhisme untuk mengutuk perilaku homoseksual. 

Pandangan Buddhisme tentang hubungan homoseksual secara singkat menunjukkan sikap yang sama sekali tidak mengutuk atau menolaknya. Ajaran Buddhisme yang disusun melalui sidang pertama para Sangha hingga masa-masa selanjutnya memberikan gambaran bahwa hubungan homoseksual dipandang sama posisinya seperti hubungan lain yang di dalamnya mengandung daya tarik seksual. Dalam Buddhisme, semua daya tarik seksual diawali dari motivasi dan motivasi setiap orang –yang unik dan khusus, dihargai secara tinggi. Kecuali bila motivasi itu mencelakakan makhluk lain, baru kemudian dianggap sebagai sesuatu yang jahat. 

Dengan demikian, dengan pandangan Buddhis kemudian dapat ditanyakan apakah hubungan homoseksual atau orientasi seksual homoseks seseorang membahayakan orang lain? Apakah hubungan mereka menimbulkan korban? Ataukah hubungan mereka menyakiti makhluk lain? Bila kemudian jawabannya adalah hubungan mereka menyakiti makhluk lain, dalam pandangan Buddhis dapat dikatakan bahwa memang sebaiknya suatu hal tidak boleh menyakiti makhluk lain. Terkadang muncul pandangan bahwa perilaku homoseks dapat menular dan menyebar hingga menimbulkan "korban", lalu muncul pertanyaan selanjutnya tentang apakah anda akan berubah menjadi homoseks dengan melihat orang lain berperilaku demikian? 

Jika tidak, lalu itu berarti tidak bermasalah dan menimbulkan korban. Demikian, sekali lagi penulis tekankan bahwa Buddhisme tidak mengutuk perilaku homoseksual, kecuali itu menyakiti makhluk lain. Buddhisme memandang seorang homoseksual sebagai sebuah individu, dan ini artinya memandang heteroseksual, biseksual dan selibat dalam penghormatan yang sama dengan homoseksual. Ajahn Brahm, seorang tokoh Theravada, membabarkan bahwa sebagian besar umat Buddha di seluruh dunia modern belajar dari inspirasi bahwa Sang Buddha tentu tidak diskriminatif terhadap homoseksualitas. 

Ajaran-ajaran utama dari Buddhisme jelas menunjukkan bahwa kualitas seseorang tidak mengenai urusan apakah seorang berorientasi heteroseksual, homoseksual atau selibat yang kemudian dapat ditentukan sebagai hal yang baik atau buruk, tetapi justru mengenai bagaimana seseorang menggunakan orientasi seksual mereka untuk membuahkan karma baik atau buruk. Dengan demikian bila seorang homoseks berlaku cinta kasih dalam tutur kata dan perbuatan pada pasangan mereka, itu lebih baik dari seorang heteroseksual yang melakukan kekerasan pada pasangannya, demikian sebaliknya.

Menilik lagi lebih dalam intisari Buddhisme, dapat kita temukan tujuan sejati ajaran Buddha Sakyamuni (Siddharta Gautama), bahwa semua ajarannya adalah jalan untuk tujuan pencapaian pencerahan. Tujuan utama ini dapat kita kenali dalam Buddhisme sebagai pembebasan, terbebas dari alam samsara dan kemudian menjadi Buddha. Apakah kemudian homoseksualitas merupakan halangan mencapai tahapan Buddha? 

Hal itu ditinggalkan pada masing-masing individu. Manusia dengan orientasi heteroseksual dapat pula menemukan halangan dalam mencapai tahapan Buddha, demikian pula homoseksual, namun orientasi seksual mereka tidak diperhitungkan dalam pencapaian itu sendiri. Apa yang kemudian menjadi halangan adalah kemelekatan pada hal yang duniawi, demikian dapat disimpulkan bahwa seorang heteroseks yang melekat pada hal duniawi tidak lebih baik dari homoseks yang tidak melekat. Dalam usaha mencapai tahapan Buddha, Buddhisme sekali lagi tidak mendiskriminasi orientasi seksual termasuk homoseksual. 

Selain mencapai tahapan Buddha, ajaran Buddha juga bertujuan agar semua makhluk dapat terbebas dari kesengsaraan dan mencapai kebahagiaan. Dengan mengedepankan pandangan bahwa setiap kehidupan adalah unik dan khusus, dan dengan demikian menghargai pula seorang homoseksual yang memilih hidup untuk menjadi homoseks, Buddhisme tidak akan mengutuk perilaku itu bila dalam arti yang benar mereka menjalankan hidupnya tanpa menyakiti makhluk lain. Bila seseorang menjadi lebih bahagia dalam pilihannya untuk menjadi homoseks, lingkungannya juga hendaknya berharap untuk kebaikan dan kebahagiaannya. Demikian itulah ajaran Buddha. 

Pandangan yang selanjutnya pantas diberikan adalah tentang dosa. Buddhisme tidak melihat homoseksualitas sebagai dosa, bahkan istilah dosa itu sendiri diartikan secara berbeda dalam Buddhisme. Apa yang kira-kira dapat hampir disetarakan dengan istilah itu adalah karma buruk. Demikian itupun Buddhisme tidak melihat homoseksualitas sebagai karma buruk. 

Bahkan dalam penjelasan intelektual Buddhisme Tantrayana, Khenpo Sodargye, disebutkan bahwa perilaku homoseksual tidak akan menyebabkan suatu makhluk (manusia termasuk di dalamnya) untuk terjatuh ke dalam alam yang lebih rendah pada masa hidup berikutnya. Dengan demikian sekali lagi Buddhisme menunjukkan bahwa tidak ada sikap mengutuk dan menolak homoseksual dalam ajarannya. 

Selanjutnya penulis akan bicara tentang sila, yang akan dibahas melalui sudut pandang Buddhisme yang umum. Dalam pandangan Buddhisme umum ada yang disebut sebagai larangan terhadap sexual misconduct yang banyak diterjemahkan sebagai tindakan asusila. Tindakan sexual misconduct ini dalam pandangan Buddhis kemudian terjadi bila terdapat empat hal: orang yang tidak patut disetubuhi, niat untuk menyetubui, usaha untuk menyetubui dan keberhasilan menyetubui. Kita dapat melihat bahwa hal ini berlaku secara netral, jika kita pandang hal ini untuk diterapkan pada seorang heteroseks, dapat saja terjadi, demikian pula terhadap homoseks. 

Dengan demikian tidak ada jaminan bahwa kasus persetubuhan antara pria dan wanita tidak masuk dalam ranah sexual misconduct –demikian pula tidak ada jaminan bahwa hal demikian tidak berlaku pada hubungan homoseks. Buddhisme memang membedakan pria dan wanita secara jelas dalam hal kapasitas –untuk itu sila untuk Sangha pria berbeda dengan Sangha wanita, namun tidak memberikan pemikiran bahwa mereka harus selalu berpasangan. 

Mungkin kemudian muncul argumen lain bahwa dunia berjalan dengan sistem yang disebut sebagai keluarga –yang secara konvensional dipandang sebagai suami, istri dan keturunan mereka. Namun Buddhisme tidak melihat hal ini dalam batas pandang sesempit itu. Buddhisme lahir dari kumpulan Sangha yang tidak berkeluarga demikian pula kebudayaan dunia amat beragam sehingga tidak dapat digeneralisasi sebagai hasil dari sistem keluarga. 

Dengan demikian kehidupan setiap makhluk tidak dapat dipaksakan untuk mengikuti suatu penilaian yang dianggap umum dan digunakan untuk mendikte kehidupan seseorang –misalnya untuk memulai sebuah “keluarga” yang artinya didiktekan sebagai persatuan antara pria dan wanita yang bertugas menghasilkan keturunan. Suatu argumen yang muncul kemudian adalah bahwa hubungan heteroseks sesuai dengan alam dan dengan demikian memiliki perilaku yang berbeda –misal homoseksual, artinya adalah melawan alam dan dengan demikian melawan kehendak Yang Maha Kuasa. 

Master Zhao Hui dari Taiwan, kemudian mengatakan dalam satu pidatonya bahwa argumen ini secara langsung jatuh dalam jebakan naturalisme dalam filsafat, bahwa apa yang diberikan kepada kita oleh alam tidak selalu sempurna. Beliau memberikan contoh bahwa bila seorang anak lahir dalam kondisi cacat, namun dapat diperbaiki dalam operasi, apakah orang tuanya tidak ingin memperbaiki kecacatan anaknya? Dan demikian sama halnya melawan alam? Lalu mengapa alam kemudian tidak menghukum orang tuanya? 

Hukum alam, menurutnya, terkadang memberikan pada kita ketidakberuntungan dan kecacatan sehingga kita kemudian mempunyai pilihan untuk memperbaikinya. Ini adalah nilai dari kemanusiaan. Homoseksualitas tidak seperti sebuah kecacatan yang kemudian menghambat seseorang memperoleh kebahagiaan, tidak pula secara pasti menambah kemelekatan pada dunia yang menghambat jalan menuju pencapaian keBuddhaan. 

Melanjutkan pembahasan tentang sistem keluarga, Buddhisme tidak mempunyai standarisasi bahwa sebuah pernikahan memiliki tugas untuk menghasilkan keturunan. Pernikahan dalam Buddhisme dipandang melalui berbagai sudut pandang sehingga tidak hanya memiliki fungsi prokreasi. Dalam hal ini, Master Zhao Hui sekali lagi menyerukan agar tidak memahami pernikahan sebagai persatuan antara sperma dan sel telur. Persatuan antara dua individu akan menjadi amat baik bila dapat mendukung dua individu untuk berjuang mencapai kebenaran sejati dan pembebasan sejati. 

Buddhisme memberikan pilihan bagi individu yang ingin bersatu dengan individu lain, atau menjalani kehidupan selibat dan menjadi viharawan. Buddhisme juga memberikan pilihan individu untuk menikah atau tidak menikah dalam kultur yang mereka miliki, Buddhisme meninggalkan urusan seremonial pada masing-masing kultur sehingga tidak memaksa seseorang untuk terpaku pada seremonial Buddhis. 

Semua pilihan adalah unik dan khusus, semua kehidupan adalah unik dan khusus, semua motivasi adalah unik dan khusus, bila kesemuanya itu tidak mencelakakan makhluk lain, Buddhisme akan menghargainya. Perilaku yang tidak menciderai Dharma dan tidak menodai kebijaksaan, sekalipun itu adalah perilaku homoseksual tidak akan dikutuk dan dihujat oleh Buddhisme. 

Demikian itu pula Buddhisme hendaknya tidak dijadikan alat untuk menebarkan kebencian dan diskriminasi, yang akan membuat semua makhluk menjadi terjatuh dalam kesengsaraan lewat kebencian, kesedihan dan segala macam emosi negatif yang lainnya.

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Dalai Lama. 2014. Dalai Lama Interview on Larry King Now Ora TV 3rd of October 2014.
Ikeda, Daisaku. 1987. Buddhisme Seribu Tahun Pertama. Jakarta: Indira.
Master Zhao Hui. 2016. Public Hearing Session on the Proposed Same-Sex Marriage Bill 24th of November 2016 at the Parliament of Taiwan.
Powers, John. 1995. Introduction to Tibetan Buddhism. New York: Snow Lion Publications.
Sodargye, Khenpo. 2015. Intellectual Conversation with Professor Eyal Aviv 2nd of January 2015.
Tsongkhapa, Je. 2013. Maha-Bodhipatha-Krama (Lamrim Chenmo), Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan Jilid I. Bandung: Kadam Choeling.
_________. 2013. Maha-Bodhipatha-Krama (Lamrim Chenmo), Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan Jilid II. Bandung: Kadam Choeling.

Wednesday, May 31, 2017

Orang Samaria yang Murah Hati

Ilustrasi: providencemag.com

Harian Sejarah - Orang Samaria yang murah hati dalam bahasa Inggris: The Good Samaritan, merupakan perumpamaan yang ditujukan pada kisah yang terdapat dalam Lukas 10:25-37. Perumpamaan ini tergambarkan dari kisah yang mengangkat cinta kasih yang tidak membeda-bedakan. Cinta kasih ini pun bahkan ditujukan kepada orang yang dibenci sekalipun.

Kisah ini bercerita tentang orang Samaria yang menolong seorang saudagar Yahudi yang dirampok. Padahal orang Samaria adalah orang yang dimusuhi dan dibenci oleh Yahudi.

"Yesus mengisahkan cerita ini kepada seorang ahli Taurat yang menanyakan kepadanya, apa yang harus diperbuatnya untuk mendapatkan hidup kekal.

Maka ujar Yesus sambil kata-Nya, "Bahwa adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; maka jatuhlah ia ke tangan penyamun, yang merampas pakaiannya serta memukul dia, lalu pergi meninggalkan dia hampir mati. Kebetulan turunlah dengan jalan itu juga seorang imam; apabila dilihatnya dia, maka menyimpanglah ia melintas dia.

Sedemikianpun seorang suku bangsa Lewi, apabila sampai ke tempat itu serta terpandang akan dia, maka menyimpanglah ia melintas dia. Tetapi seorang Samaria, yang sedang berjalan datang ke tempat ia terhantar; apabila terpandang akan dia, maka jatuhlah kasihannya, lalu ia menghampiri dia serta membebatkan lukanya, sambil menuang minyak dan air anggur ke atasnya; setelah itu ia pun menaikkan dia ke atas keledainya sendiri, lalu membawa dia ke rumah tumpangan, serta membela dia. Pada keesokan harinya dikeluarkannya dua dinar, diberikannya kepada tuan rumah tumpangan itu sambil katanya: Belakanlah dia, dan barang apa yang engkau belanjakan lebih daripada itu aku ganti, apabila aku datang kembali."



Lukas 10: 25-37

25. Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"

26. Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?"

27. Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

28. Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."

29. Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?"

30. Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati.

31. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

32. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.

33. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

34. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

35. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

36. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"

37. Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

Al-Kindi dan Filsafat Ketuhanan

Al-Kindi – The Transmission of Greek Metaphysics to Islamic Theology. Foto: BBC

Harian Sejarah - Pada abad ke-9 penulisan filsafat secara sistematis baru dimulai adapun pada masa sebelumnya kegiatan filosofis hanya terbatas pada penerjemahan karya-karya filsafat Yunani dan Suryani. Seorang penulis yang mengawali langkah untuk membangun tradisi penulisan filsafat tak lain adalah Al Kindi, bernama lengkap Abu Yusuf Yaqub Al-Kindi lahir di Kufah tahun 866 M.

Tak lama kemudian dia berpindah ke Baghdad yang pada masa itu menjadi ibu kota kekhalifahan Bani Abbas sebagai pusat keilmuan. Di sini ia menyelesaikan pendidikannya. Pengetahuannya mengenai kesusastraan Yunani, Persia dan India telah menganugerahinya kehormatan dan kemasyhuran selama tinggal di Baghdad.

Al Kindi dipandang sebagai filosof bangsa Arab pertama karena ia sebagai pencinta kebijaksanaan serta mempunyai metode dan penyelidikan filsafat yang tersistematis. Ia menjadi jembatan penghubung antara pendekatan intelektual dengan disiplin filsafat.

Pada masa itu teologi mu’tazilah menjadi pegangan pemerintahan Islam sehingga Al Kindi mendapat dukungan dari tiga khalifah Bani Abbas yakni Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim, dan Al-Watsiq. Ketiga Khalifah ini mendukung total keberlangsungan belajar-mengajar serta kegiatan ilmiah, filsafat, dan sastra.

Akan tetapi pada masa pemerintahan al-Mutawakil, Al Kindi mengalami nasib buruk karena khalifah tidak menyetujui kecenderungannya terhadap paham mu’tazilah sehingga beberapa konflik terjadi seperti dipecat dari jabatannya, perebutan perpustakaan al-Kindiyah yang akhirnya kembali ditangan pemilik aslinya. Al Kindi tidak memperoleh hak-hak istimewahnya di istana.

Al-Kindi aktif terlibat dalam kegiatan penerjemahan buku-buku Yunani dan sekaligus melakukan koreksi serta perbaikan atas terjemahan orang lain. Selain itu, ia juga termasuk seorang yang kreatif dan produktif dalam kegiatan tulis-menulis. Tulisannya cukup banyak dalam pelbagai disiplin ilmu. Untuk lebih jelasnya di bawah ini dikemukakan beberapa karya Al-Kindi:
  1. Fi al-falsafat al-‘Ula
  2. Kitab al-Hassi ‘ala Ta’allum al-Falsafat
  3. Risalat ila al-Ma’mun fi al-‘illat wa Ma’lul
  4. Risalat fi Ta’lif al-A’dad
  5. Kitab al-Falsafat al-Dakhilat wa al-Masa’il al-Manthiqiyyat wa al-Mu’tashah wa ma Fauqa al-Thabi’iyyat
  6. Kammiyat Kutub Aristoteles
  7. Fi al-Nafs

Hasil tulisan Al kindi tak lepas dari hasil cerminan komitmen kuatnya pada jalan filsafat dan wacana rasional. Diantara karyanya yang paling menarik adalah risalahnya yang berjudul Al-Hatsts ‘ala Ta’allum Al-Falasafah (Anjuran untuk Belajar Filsafat), Fi Al-Falsafah Al-Ula (Filsafat Pertama) dan lain sebagainya. Dalam kerangka filosofis Al Kindi banyak mengikuti jejak Plato dan Aristoteles.

Filsafat Ketuhanan: Bukti Keberadaan Tuhan

Pandangan Al-Kindi tentang ketuhanan sesuai dengan ajaran Islam dan bertentangan dengan pendapat Aristoteles, Palto dan Plotinus. Berdasarkan hasil tulisan beliau dalam kitab Fi al-Falsafat al-Ula’ dan Fi Wahdaniyyat Allah wa Tanahi Jirm al-Alam. Beliau berpendapat bahwa Allah adalah wujud sebenarnya, bukan berasal dari tiada menjadi ada. Allah adalah wujud yang ada dan selalu ada dan akan selamanya ada.

Allah adalah wujud sempurna dan tidak didahului wujud lain. Wujud-Nya tidak berakhir sedangkan wujud lain disebabkan wujud-Nya. Ia adalah Maha Esa yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak ada satupun zat yang menyamai-Nya dalam segala aspek. Ia melahirkan dan dilahirkan.

Untuk membuktikan adanya Allah, Al-Kindi mengajukan tiga argumen:
  1. Baharunya alam
  2. Keanekaragaman dalam wujud
  3. Kerapian alam

Tentang argumen baharunya alam, Al-Kindi mengemukakan argumennya bahwa tidak mungkin alam ini mempunyai permulaan waktu dan setiap yang mempunyai permulaan akan berkesudahan (mutanahi). Setiap benda ada yang menyebebabkan wujudnya dan mustahil benda itu sendiri yang menjadi sebabnya. Dengan demikian bahwa alam semesta baharu dan diciptakan dari tiada oleh yang menciptakannya, yakni Allah.

Tentang argumen yang kedua, keanekaragaman dalam wujud, Al-Kindi berargumen bahwa tidak mungkin ada keanekaragaman terjadi dengan sendirinya atau secara kebetulan, tetapi ada yang menyebabkan atau merancangnya. Sebagai penyebabnya mustahil alam itu sendiri dan jika alam yang menjadi sebab (Illat’)-nya akan terjadi tasalsul (rangkaian) yang tidak akan habis-habisnya. Dengan demikian bahwa yang menjadi penyebab harus berada diluar alam itu sendiri, yakni Zat Yang Maha Baik, Maha Mulia, yang mendahului adanya alam, yang disebut Allah Swt.

Al-Kindi menyebutkan bahwa ada dua sebab atau ‘illat: Pertama, sebab yang sebenarnya dan aksinya adalah ciptaan dari ketiadaan (ibda’) adalah Allah Yang Maha Esa, Pencipta Tunggal alam semesta. Kedua, sebab yang tidak sebenarnya, sebab yang menyebabkan sebab-sebab itu sendiri. Sebab ini jelas membutuhkan yang lain tanpa berkesudahan. Ia bukanlah bukanlah sebab yang menciptakan alam ini.

Tentang argumen yang ketiga, kerapian alam. Al-Kindi menegaskan bahwa alam empiris ini tidak mungkin dan terkendali begitu saja tanpa ada yang mengatur dan mengendalikannya. Pengatur dan pengendalinya tetntu yang berada diluar alam dan tidak sama dengan alam. Zat itu tidak terlihat, tetapi dapat diketahui dengan melihat fenomena atau tanda-tanda yang terdapat di alam. Zat itulah yang disebut Allah.

Demikianlah bahwa sekalipun Al-Kindi bergelut dalam dunia filsafat Yunani, ia tidak begitu saja menerima ide-ide yang ada didalamnya tetapi ia menyesuaikan dengan ajaran Islam sehingga nuansa keislaman tetap terjaga.


Rujukan:

Majid Fakhry. 2002. Sejarah Filsafat Islam, Bandung: Mizan
George N  Atiyeh, Terjm: Kasidjo Djojosuwarno. 1983. Al-Kindi Tokoh Filosof Muslim, Bandung: Pustaka
Sirajuddin Zar. 2012. Filsafat Islam dan Filsafatnya, Rajawali Press: Jakarta

Tulisan Zulfian Awaludin, Mahasiswa Filsafat Agama IAIN Syekh Nurjati Cirebon di Qureta. 28 Maret 2016. Al-Kindi dan Filsafat Ketuhanan, Pembuktian Keberadaan Tuhan

Thursday, February 23, 2017

Perkembangan Islam di Indonesia: Antara Negara dan Reformasi

Foto: idntimes.com

Harian Sejarah - Perkembangan Islam di Indonesia dapat kita secara menyeluruh dalam sejarah nasional Indonesia. Islam datang ke Nusantara dibawa oleh pedagang-pedagang Muslim dari Gujarat, Arab, Persia, dan Cina serta melakukan infilitrasi sejak abad ke-7-15 M dan terus berkembang serta eksis di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa sejak abad ke-17 M. Masuknya Islam di Nusantara yang menjadi cikal bakal Indonesia saat ini melalui beberapa saluran seperti perdagangan, perkawinan, tasawuf, dan bahkan dalam perkembangannya Islam di Indonesia memperluas hegemoninya melalui peperangan guna memperluas kekuasaan politik kerajaan-kerajaan Islam. 

Ekspansi kemudian dilakukan kepada kerajaan Islam lainnya atau kepada kerajaan Hindu atau Buddha yang tersisa di Nusantara, seperti Kesultanan Banten yang meruntuhkan sisa-sisa Kerajaan Padjajaran atau Kesultanan Demak yang mengekspansi Kerajaan Majapahit. Islam juga tumbuh selaras dengan kebudayaan di Indonesia, selama melakukan infilitrasi di Nusantara. Infiltrasi dilakukan dengan menggunakan perpaduan budaya, berbeda dengan Islamisasi di wilayah Timur Tengah yang cenderung menggerus kebudayaan lama. 

Islam di Indonesia mengubah kebudayaan yang ada agar selaras dengan nilai-nilai Islam, Sunan Bonang dan Kalijaga menggunakan wayang sebagai media penyebaran dakwah Islam untuk menarik simpati masyarakat Jawa pada saat itu. Penyebaran Islam dilakukan dengan tidak mengubah dominan nilai yang ada di masyarakat, para pendakwah seperti Wali Songo melakukan penyebaran Islam kepada masyarakat seolah-olah Islam adalah bagian dari masyarakat Jawa.

Di era Indonesia Modern, Islam tumbuh dan berkembang menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia, selain sebagai agama terbesar yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, Islam juga menjadi bagian dari identitas politik dan perjuangan. Selain sebagai identitas politik, Islam pun khususnya di Jawa terbagi menjadi beberapa golongan kelas sosial, menurut Clifford Geertz dalam Agama Jawa: abangan, santri, priyayi dalam kebudayaan Jawa, mengungkapkan tentang adanya trikotom kelompok-kelompok Islam di Jawa yang terbagi atas abangan, santri dan priyayi. Pengelompokan ini ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama dan budaya, ataupun hubungan antara agama dan politik.

Orang abangan berangapan bahwa pengamalan ajaran Islam berintikan sebagai ajaran kemanusiaan yang berfokus pada bagaimana menerapkan Islam dalam kehidupan sehari-hari dan mengaplikasikan nilai-nilai Islam secara parsial. Orang abangan tidak menjalankan ajaran Islam dengan sepenuhnya, semisalnya dalam sudut peribadatan, hal ini dikarenakan masih tercampurnya ajaran Islam dengan kebudayaan Hindu-Buddha yang melekat dalam kebudayaan masyarakat Jawa, orang abangan ini yang dikenal menjalankan ajaran Islam Kejawen. 

Ajaran Islam Kejawen ini salah satunya begitu melekat dalam kehidupan Islam di Keraton Yogyakarta dan Surakarta yang menjalankan ajaran Islam, namun masih mempercayai mitologi jawa kuno seperti, bahwa “seorang raja berkerabat dengan Nyi Roro Kidul.” Berbeda dengan abangan, santri dan priyayi merupakan kelompok Islam yang menjalankan agama sebagai bagian dari kehidupan, kelompok santri akan tumbuh disekolah-sekolah agama yang disebut “pesantren” dan cenderung konservatif, sedangkan golongan priyayi merupakan kelompok Islam yang berasal dari golongan bangsawan yang pada era Pemerintahan Hindia Belanda mendapatkan pendidikan barat dan cenderung berpandangan reformis dan moderat dalam menjalankan kehidupan beragama. Namun meski demikian. 

Golongan santri menyebut bahwa orang-orang barat sebagai orang kafir yang ingin melakukan kristenisasi terhadap abangan dan berusaha untuk melakukan pencegahan, meskipun disisi lain abangan mendapatkan sentimentasi sebagai orang-orang musyrik dari kelompok santri. Hingga pada akhirnya antara santri, abangan, dan priyayi menyatukan kekuatan untuk melakukan perlawanan terhadap kolonialisme yang dilakukan oleh bangsa barat, terlepas dari agama persatuan tersebut lebih dapat dilihat sebagai semangat nasionalisme membebaskan tanah Jawa dari monopolisme dan kolonialisme terhadap perekonomian dan politik. 

Hal ini hampir dapat dikatakan mirip seperti perlawanan kaum paderi dan kaum adat yang sebelumnya terlibat konflik atas pandangan agama namun akhirnya menyatukan kekuatan untuk melawan Belanda yang berusaha melakukan politik devide et impera dan pax netherlandica terhadap Minangkabau.

Pada abad ke 20, perlawanan bangsa Indonesia tidak hanya dalam bentuk perlawanan militer dan politik, tetapi meluas ke dalam hampir semua bidang kehidupan seperti politik, ekonomi dan sosial. Pada masa ini muncul sejumlah organisasi Islam moderen yang menerapkan prinsip pengetahuan rasional dan memanfaatkan perkembangan teknologi. 

K.H Abdul Wahid Hasyim

Jika pada masa sebelumnya banyak digunakan jimat-jimat kekebalan untuk melawan Belanda, sementara teknologi dianggap sebagai produk kafir yang harus dihindari; maka pada abad ke 20 metode atau cara-cara Barat yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam banyak dimanfaatkan. Salah satunya pengenaan celana dan jas yang pada kurun waktu 1900-1945 dianggap sebagai simbol dari kafir barat, namun akhirnya banyak digunakan oleh orang-orang Islam yang menganggap sebagai keterbukaan Islam dalam menerima kebudayaan, salah satu pelopor penggunaan jas dan celana pada masa pergerakan nasional adalah K.H Wahid Hasyim yang merupakan anak dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), K.H Hasyim Ashari.

Organisasi-organisasi Islam pada kurun waktu 1900-1945 juga mempengaruhi khasanah perkembangan Islam di Indonesia. Dimulai dari organisasi Islam yang bersifat politik seperti Sarekat Islam, Masyumi, Partai Nahdlatul Ulama (NU) dan organisasi Islam yang mengedepankan pendidikan sebagai persiapan mempersiapkan kemerdekaan seperti Muhammadiyah.

Pada dekade 1950-an terdapat tokoh-tokoh Islam yang terlibat langsung dalam pemerintahan Republik Indonesia yang pada era tersebut memberlakukan demokrasi Liberal. Natsir yang merupakan petinggi Masyumi mengawali kabinet Demokrasi Liberal menjadi Perdana Menteri dari 6 September 1950 - 21 Maret 1951 dan berperang dengan mengeluarkan "mosi integral" yang merupakan sebuah hasil keputusan parlemen mengenai bersatunya kembalinya sistem pemerintahan Indonesia dalam sebuah kesatuan. Syafrudin Prawiranegara, seorang tokoh Masyumi lainnya, berperan dalam mengatasi persoalan moneter Indonesia pasca revolusi dengan kebijakan "Gunting Syafrudin." Burhanudin Harahap berperan meletakkan dasar-dasar pemilu yang demokratis yang menjadi acuan dilaksanakannya pemilu tahun 1955.

Islam Pada Masa Orde Baru dan Reformasi

Pada tahun 1971, tepatnya setelah pemilu tahun 1971. Pemerintah Orde Baru mengeluarkan kebijakan fusi partai politik untuk menyederhanakan peta perpolitikan di Indonesia. Partai-partai yang di fusi berkelompok menjadi tiga kelompok yang terdiri dari golongan nasionalis dan golongan Islam, serta satu golongan karya. Partai-partai yang dilakukan fusi ini berkembang berdasarkan program kerja dan berusaha untuk diarahkan tidak terbawa oleh ideologi partai. 
  1. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) merupakan fusi dari NU, Parmusi, PSII, dan Partai Islam Perti yang dilakukan pada tanggal 5 Januari 1973 (kelompok partai politik Islam.)
  2. Partai Demokrasi Indonesia (PDI), merupakan fusi dari PNI, Partai Katolik, Partai Murba, IPKI, dan Parkindo (kelompok partai politik yang bersifat nasionalis.
  3. Golongan Karya (Golkar).

Hal ini mengakibatkan pergeseran politik partai Islam yang cenderung untuk berpolitik berdasarkan perebutan kekuasaan di legislatif.

Selain melakukan fusi yang meleburkan kekuatan-kekuatan politik partai-partai, pemerintah Indonesia menetapkan kebijakan pemeurnian ajaran Pancasila dan pemberlakuan asa tunggal Pancasila yang mengakibatkan seluruh kekuatan partai politik haruslah berdasarkan ideologi Pancasila dalam berpolitik dan menjalankan pendidikan politik kepada kader dan masyarakat, memang Pancasila tidak bertentangan dengan Ideologi Islam. 

Ketetapan ini  tercantum pada UU No. 3 tahun 1985 tentang ditetapkannya Pancasila sebagai asas Partai Politik. Tidak lama setelah dikeluarkannya UU No. 3 tahun 1985, Orde Baru kembali mengeluarkan kebijakan mengenai Pancasila sebagai asas tunggal untuk organisasi-organisasi kemasyarakatan melalui UU No. 8 tahun 1985. Organisasi masyarakat diberi waktu dua tahun untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas.

Mengenai asa tunggal Pancasila, tidak banyak dari golongan Islam memprotes terhadap kebijakan ini, salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia seperti Nahdlatul Ulama yang menyatakan Ideologi Pancasia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia. Hal ini sesuai dengan ketetapan Muktamar NU 1984 yang menyatakan bahwa Pancasila dan NKRI Sudah Final karena sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Pada masa Reformasi yang mengakhiri kekuasaan Orde Baru pada tahun 1998. Ketetapan mengenai asa tunggal Pancasila dicabut. Hal ini mengakibatkan seluruh kekuatan politik Islam dapat mengekspresikan Ideologi Islam dan aliran-aliran lainnya selama tidak bertentangan dengan Ideologi Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan kebebasan berpolitik yang terjadi di masa Reformasi, membuat bebas masuknya ideologi-ideologi dari luar, termasuk ideologi Islam yang memiliki aliran-aliran yang telah berkembang di luar negeri. 

Pada masa reformasi pula Ideologi yang bersifat fundamentalis dan konservatif serta ideologi yang bersifat ekstrimis menampakan diri dalam perpolitikan yang dilakukan oleh golongan Islam, hal ini karena NU dan Muhammadiyah tidak lagi menjadi dwi-tunggal yang mengundang perhatian banyak pengamat asing. Selain NU dan Muhammadiyah, realitasnya, ada banyak organisasi massa Islam di Indonesia, misalnya Persis atau Perti, namun memang tidak sebesar dua organisasi sebelumnya.

Salah satunya muncul organisasi Front Pembela Islam yang dikenal cukup konservatif yang bertujuan untuk mendirikan Negara Indonesia berlandaskan syariat Islam. Dan muncul organisasi-organisasi Islam yang lainnya yang tergabung dalam organisasi masyarakat (ORMAS). Meskipun hanya berupa ORMAS, hal ini lah yang cenderung dapat merubah konstelasi politik hinga ke lapisan bawah masyarakat tentang perpolitikan Islam dan seluruh aspek kehidupan umat Islam Indonesia.

Partai-partai Islam pun kembali bermunculan, diantaranya adalah PPP, PBB, Partai Keadilan, Partai Persatuan, Masyumi, Partai Kebangkitan Umat (PKU), Partai Abud Yatama (PAY), PSII-1905, PNU dan Partai Cinta Damai (PCD), serta PKB, PAN, Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia (SUNI). Partai Politik Islam ini berusahan untuk merebut kekuasaan politik di DPR dan MPR, bahkan berkoalisi baik dengan partai Islam ataupun nasionalis untuk merebut kursi Lembaga Kepresidenan. 

Meskipun partai-partai Islam ini tidak meraih suara terbesar, namun koalisi mereka menjadi Poros Tengah yang dapat menghalangi tampilnya aliran dan kelompok Politikus nasionalis dan koalisinya serta memunculkan beberapa tokoh utama pada posisi-posisi strategis di lembaga eksekutif dan legistatif. Seperti Amin Rais sebagai ketua DPR-RI dari PAN dan Gus Dur sebagai Presiden dari PKB yang merupakan partai bentukan NU. Terorisme juga menjadi bagian yang mewarnai sejarah kontemporer Indonesia selama masa reformasi. 

Aksi-aksi terorisme ini melekat dengan kehidupan umat Islam di Indonesia karena pelaku-pelaku tindak terorisme yang berlaku sebagai oknum membawa Ideologi-ideologi kekerasan yang mereka klaim berlandaskan ideologi Islam. Ideologi-ideologi inilah yang disinyalir masuk ke Indonesia dari negara-negara Timur Tengah yang mengalami konflik berkepanjangan. Peristiwa-perista tindak terorisme yang membawa Islam sebagai landasan tindakannya membuat resah kehidupan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Islam di Indonesia yang dikenal sebagai Islam yang reformis dan moderat tercoreng dengan tindakan-tindakan terorisme yang mengatasnamakan umat Islam Indonesia.

Peristiwa Bom Bali 1 (2002), Bom Hotel JW Marriott (2003), Bom Kedubes Australia (2004), Bom Bali 2 (2005), Bom Hotel JW Mariott dan Ritz-Carlton (2009), Bom Mapolresta Cirebon (2011), dan Bom Plaza Sarinah (2016), serta Bom Thamrin (2016) menjadi bukti bahwa kehidupan Islam Indonesia yang moderat tengah dirusak oleh Ideolog-Ideologi luar yang ingin mengarahkan Indonesia terlibat konflik Arab Spring yang tengah terjadi di negara-negara Teluk.

Namun sepertinya apa yang kita lihat bahwa perkembangan Ideologi semacam ini memang tidak berkembang pesat oleh karena Ideologi Islam Indonesia yang cenderung mengedepankan sifat moderat, luhur, dan reformis sehingga tidak terjerumus terhadap ideologi-ideologi praktis yang membawa Islam sebagai tujuan perjuangannya seperti, Wahabi dan Khawarij.

Meskipun demikian, kita tidak dapat membiarkan perkembangana ideologi semacam ini berkembang. Hal ini harus kita lakukan melihat perkembangan ideologi tersebut yang tengah melakukan kaderisasi terhadap pemuda-pemuda Indonesia yang secara usia mudah untuk dilakukan dogmatisasi. Dogmatisasi ini biasanya dilakukan dalam pengkaderan-pengkaderan yang dilakukan pada organisasi-organisasi Islam tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA, hingga Perguruan Tinggi (PT).



Daftar Pustaka
  • Geertz Clifford. 2013. Agama Jawa : Abangan, Santri, Priyayi Dalam Kebudayaan Jawa. Depok, Indonesia: Komunitas Bambu
  • Kartodirdjo Sartono. 1987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1900. Jakarta, Indonesia: Gramedia Pustaka Utama
  • Ricklefs M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta, Indonesia: Gadjah Mada University Press
  • Mujilan, Kaelany. 2016. Materi Pembelajaran Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Agama Islam. Depok, Indonesia: Gadjah Mada University Press
  • Tjandrasasmita Uka. 2009. Arkeologi Islam Nusantara.  Jakarta, Indonesia: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
  • Tim Tempo. 2016. Seri Tempo Tokoh Islam Awal Kemerdekaan: Wahid Hasyim. Jakarta, Indonesia: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
  • Poesponegoro Djoened Marwati, Notosusanto Nugroho, dkk, dkk. 2008. Sejarah Nasional Indonesia II (Edisi Pemutkhiran). Jakarta, Indonesia: Balai Pustaka
  • Poesponegoro Djoened Marwati, Notosusanto Nugroho, dkk. 2008. Nasional Indonesia III (Edisi Pemutkhiran). Jakarta, Indonesia: Balai Pustaka
  • Frederick H. William dan Soeroto Soeri. 1984. Pemahaman Sejarah Indonesia. Indonesia: LP3ES

Sunday, February 12, 2017

Beragama Tanpa Dogmatis


Harian Sejarah - Dalam masalah pembelajaran agama, jujur saya memang kurang mendalam, bahkan untuk membaca Al Quran sekalipun masih terbata-bata dan tak merdu didengar.

Namun permasalahan agama saya sikapi sebagai keyakinan, bukan dogma. Karena saya akan selalu bertanya, karena memang sifat sejarawan harus berpikir skeptis. Akan berbahaya jika saya berpikir dogmatis, karena jika saya salah mengikuti suatu ulama maka saya akan ikut saja tanpa ada keraguan dan pertanyaan.

Ujungnya apa? Mungkin saya lupa jati diri sendiri dan secara tidak sadar malah berbuat nahi munkar dan melukai sesama muslim, sesama bangsa Indonesia, dan khususnya Warga Negara Indonesia.

Karena tujuan beragama bagi saya itu mengenal kebaikan dan kedamaian di dunia dan akhirat. Damai itu mudah bukan?

Permasalahan di negeri kita sebenarnya bukan antara santri dan abangan, intelektual muslim atau sekuler, pribumi atau keturunan. Akan tetapi adu domba antara sesama muslim dengan dogma-dogma yang berbeda-beda, karena orang yang berpikir dogmatis akan selalu beranggapan bahwa mereka yang berbeda dengan saya itu adalah salah dan harus dibenarkan dengan cara apapun, bahkan dengan kekerasan sekalipun.

Orang-orang komunis berkata bahwa "agama itu candu," saya rasa ungkapan itu tidaklah salah sepenuhnya mengingat sebuah perkataan mereka itu bersumber dari pemikiran Filasafat Karl Marx. Asumsi saya yang dapat saya tarik dari kata candu yang mengandung arti memabukan adalah bahwa jika seorang berpikiran mengenai agama atau berpikiran dengan pemikiran agama secara dogmatis dan terikat oleh subjektifitas seseorang tanpa berpikir objektif. Maka ia akan terjebak ke dalam sesuatu yang saya sebut "asal nurut" kepada ulama atau ahli agama yang menurut ia benar. Ujungnya? ia akan bertindak seperti orang mabuk, dia tidak bisa membedakan antara teman dan lawan, bangsanya sendiri atau bangsa luar, saudaranya atau tidak, kekerasan atau tidak, bahkan tak jarang pembunuhan atau pengkafiran dijadikan suatu pernyataan bahwa orang yang tidak sepaham dengan dia adalah musuh dan menyatakan perang dengan dia.

Hal ini kerap terjadi di Timur Tengah yang sekarang tengah mengalami Arab Spring. Mereka mengedepankan ayat-ayat dalam kitab suci yang berbau perang dan kekerasan, tanpa melihat ayat-ayat yang mengandung ajakan untuk melakukan persaudaran. Hal ini terjadi ketika mereka tidak menelisik kitab suci mereka secara mandiri dan melakukan perbandingan pendapat atas penafsiran kita suci antara ulama yang berbeda. Kebiasaan yang timbul adalah bahwa mereka hanya menuruti satu atau beberapa ulama saja dan terkadang justru mengkoreksi ulama yang mengeluarkan pendapat keagamaan yang tidak sepaham dengannya atau tidak sejalan dengan semangat keagamaannya.

Hal ini akan sangat berbahaya jika terjadi di Indonesia. Negara kita sejak berdiri sudah terbiasa dengan kemajemukan dan pendiri bangsa kita sudah memikirkan akan hal tersebut. Negara kita berbeda dengan India yang hanya terbagi atas beberapa suku dan sudah mengalami rentetan sejarah yang memang kurang harmonis antara Islam dan Hindu yang terlihat dari konflik Kesultanan Mughal dengan kerajaan-kerjaan Hindu di India. Negara kita justru dalam sejarahnya terjadi akulturasi antara Kebudayaan Hindu dan Islam sehingga menghasilkan Islam yang bercorak Nusantara. Islam yang meletakan budaya dan agama selaras sebagai jalan kehidupan, bukan menggunakan agama untuk menyangkal kebudayaan lokal.

Kesimpulan yang dapat saya berikan kepada anda adalah bahwa sebaiknya kita beragama secara objektif. Objektif disini adalah bahwa kita harus sering bertanya mengenai tujuan hakiki dari kehidupan beragama yang kita jalankan. Sebagai seorang Islam kita mengenal bahwa Islam bersal dari kata "Salam" yang artinya damai, sehingga kita harus berpikiran seperti demikian. Jauhilah kita dari pemikiran dogmatis artinya hanya ikut saja apa kata seseorang. Menurut saya ulama yang baik akan menyuruh kita untuk mengaji (belajar) mengenai ayat-ayat Al Quran dan juga semuanya seperti Filsafat Islam, Fiqih, Sejarah dan lain sebagainya, bukan hanya menyuruh kita menurut dan menuntut pengakuan dari kita agar patuh.


Agama ada untuk memperbaiki akhlak manusia
Agama ada untuk menerangi jalan kehidupan manusia yang gelap
Agama ada untuk mengajari kita apa itu welas kasih
Dan Agama ada untuk menunjukan kita Kasih dan Sayang Allah SWT 

Saturday, January 28, 2017

Apa itu Stigmata ?


Harian Sejarah - Stigmata adalah tanda luka-luka Yesus yang tersalib, yang muncul secara tiba-tiba pada tubuh seseorang. Termasuk dalam tanda sengsara ini adalah luka-luka paku di kaki dan tangan, luka tombak di lambung, luka di kepala akibat mahkota duri, dan luka bilur-bilur penderaan di sekujur tubuh, teristimewa di punggung. Seorang stigmatis, yaitu orang yang menderita akibat stigmata, dapat memiliki satu, atau beberapa, atau bahkan semua tanda sengsara itu. Stigmata dapat kelihatan, dapat pula tidak kelihatan; dapat permanen, dapat pula sementara waktu saja.

Sebagian orang yang tidak percaya, akan menghubungkan tanda luka-luka yang demikian, yang muncul atas diri seseorang, dengan suatu penyakit atau bahkan dengan suatu kondisi psikologis tanpa memikirkan gagasan adikodrati. Tentu saja, Gereja juga pertama-tama berusaha memastikan bahwa luka-luka tersebut bukan berasal dari sebab-sebab alamiah, dan mencari bukti adikodrati guna membuktikan bahwa stigmata tersebut sungguh merupakan suatu tanda dari Tuhan. Gereja juga hendak memastikan bahwa stigmata tersebut bukanlah suatu tanda dari setan guna membangkitkan suatu kegemparan rohani yang menyesatkan orang banyak.

Oleh sebab itu, karena stigmata merupakan suatu tanda persatuan dengan Tuhan kita yang tersalib, seorang yang benar-benar stigmatis haruslah hidup dengan mengamalkan keutamaan-keutamaan dengan gagah berani, tabah dalam menanggung penderitaan baik fisik maupun jiwa, dan hampir senantiasa mencapai tingkat persatuan ekstasis dengan-Nya dalam doa.

Tanda luka-luka dari stigmata yang benar itu sendiri juga berbeda dari luka-luka yang timbul akibat penyakit: Stigmata yang benar, sesuai dengan luka-luka Tuhan kita, sedangkan luka-luka yang timbul akibat penyakit akan muncul secara acak pada tubuh. Stigmata yang benar, mencucurkan darah teristimewa pada hari-hari di mana dikenangkan Sengsara Yesus (misalnya pada hari Jumat dan Jumat Agung), sementara luka-luka yang timbul akibat penyakit tidak demikian.

Stigmata yang benar, memancarkan darah yang bersih serta murni, sedangkan yang timbul akibat penyakit memancarkan darah yang disertai nanah. Darah yang memancar dari stigmata yang benar, sekali waktu dapat terpancar dalam jumlah besar tanpa mencelakakan sang stigmatis, sedangkan yang berasal dari penyakit akan melemahkan orang secara serius hingga diperlukan transfusi darah. Stigmata yang benar, tak dapat disembuhkan baik melalui medis ataupun perawatan lainnya, sedangkan yang timbul akibat penyakit dapat disembuhkan. Yang terakhir, stigmata yang benar, muncul secara tiba-tiba, sedangkan yang timbul akibat penyakit muncul perlahan-lahan seturut periode waktu dan dapat dihubungkan dengan penyebab psikologis dan fisik yang utama.

Para stigmatis yang benar, mengalami keterkejutan atas munculnya stigmata. Tanda ini bukanlah sesuatu yang mereka “mohon dalam doa”. Terlebih lagi, dalam kerendahan hati, seringkali mereka berusaha menyembunyikannya agar tak menarik perhatian orang terhadap dirinya.

Stigmatis pertama “yang dinyatakan sah” adalah St Fransiskus dari Assisi (1181 - 1226). Pada bulan Agustus tahun 1224, ia dan beberapa biarawan Fransiskan lainnya mengadakan perjalanan ke Mount Alvernia di Umbria, dekat Assisi, untuk berdoa. Di sana, St Fransiskus memohon untuk diperkenankan ikut ambil bagian dalam sengsara Kristus. Pada Pesta Salib Suci, 14 September 1224, St Fransiskus mendapat penglihatan: ia dipeluk oleh Yesus yang tersalib. Sengsara dari Jumat Agung yang pertama tercurah atas dirinya, dan ia menerima stigmata.

St Fransiskus berusaha menyembunyikan tanda karunia ilahi ini dari yang lainnya, dengan membalut kedua tangannya dengan jubahnya dan mengenakan sepatu serta kaus kaki (yang tidak biasa ia lakukan). Lama-kelamaan, rekan-rekan biarawan memperhatikan perubahan dalam cara berpakaian St Fransiskus dan juga sengsara fisiknya, maka terungkaplah rahasia stigmatanya. Pada akhirnya, atas nasehat para rekan biarawan, St Fransiskus mulai membiarkan stigmatanya terlihat orang lain. St Fransiskus mengatakan, “Tak suatupun yang memberiku penghiburan begitu besar selain dari merenungkan hidup dan sengsara Tuhan kita. Andai aku hidup hingga akhir jaman, aku tak akan membutuhkan buku lain.” Sudah tentu, kasih St Fransiskus kepada Tuhan kita yang tersalib, yang diungkapkannya melalui perhatiannya kepada mereka yang malang dan menderita, mendatangkan karunia stigmata baginya.

St Katarina dari Sienna (1347-1380), yang dianugerahi pengalaman-pengalaman mistik dan penglihatan-penglihatan sejak ia masih berusia enam tahun, juga dianugerahi stigmata. Pada bulan Februari 1375, ketika mengunjungi Pisa, ia ikut ambil bagian dalam Misa di Gereja St Kristina. Setelah menyambut Komuni Kudus, ia tenggelam dalam meditasi mendalam, sementara matanya menatap lekat pada salib. Sekonyong-konyong, dari salib datanglah lima berkas sinar berwarna merah darah yang menembusi kedua tangan, kaki dan lambungnya, mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa hebat hingga ia jatuh tak sadarkan diri. St Katarina dari Sienna menerima stigmata, yang hanya tampak olehnya saja, hingga sesudah akhir hayatnya.

Mungkin stigmatis yang paling termasyhur adalah St Padre Pio. Ia dilahirkan pada tahun 1887, dianugerahi penglihatan-penglihatan sejak umurnya masih lima tahun, dan sejak usia dini telah memutuskan untuk mengabdikan hidupnya bagi Tuhan. Padre Pio masuk biara Kapusin Fransiskan pada tahun 1903 dan ditahbiskan sebagai imam pada tahun 1910. Katanya, “Aku terbakar habis oleh kasih kepada Tuhan dan oleh kasih kepada sesamaku.”              

Pada tanggal 5 Agustus 1918, Padre Pio mendapat penglihatan di mana ia merasa dirinya ditikam dengan sebilah tombak; sesudahnya luka akibat tikaman tombak itu tinggal pada tubuhnya. Kemudian, pada tanggal 20 September 1918, saat ia memanjatkan syukur sesudah perayaan Misa, ia juga menerima luka-luka Tuhan kita di kedua kaki dan tangannya. Setiap hari, Padre Pio kehilangan sekitar satu cangkir darah; luka-luka itu tidak pernah menutup ataupun bertambah parah. Pula, bukannya bau darah, melainkan bau harum yang semerbak terpancar dari luka-lukanya.

Sepanjang hidupnya, Padre Pio memahami benar kedahsyatan sengsara Juruselamat kita akibat tangan-tangan mereka yang berada di dalam maupun di luar Gereja, juga akibat setan. Walau demikian, Padre Pio mengatakan, “Aku ini hanyalah suatu alat dalam tangan Tuhan. Aku berguna hanya jika dikendalikan oleh Penggerak Ilahi.” Stigmata tinggal dalam tubuh Padre Pio hingga akhir hayatnya. Paus Paulus VI berkata tentangnya, “Lihat, betapa masyhurnya dia, betapa seluruh dunia berkumpul sekelilingnya! Tetapi mengapa? Apakah mungkin karena ia seorang filsuf? Karena ia bijak? Karena ia cakap dalam pelayanan? Karena ia mempersembahkan Misa dengan rendah hati, mendengarkan pengakuan dosa dari fajar hingga gelap dan - tak mudah mengatakannya - ia adalah dia yang menyandang luka-luka Tuhan kita.”

Tak banyak dari antara para kudus yang dianugerahi stigmata; dan mereka yang dianugerahinya, seperti St Fransiskus, St Katarina dan St Padre Pio, memahami secara mendalam sengsara Tuhan kita. Sementara stigmata mungkin membangkitkan rasa takjub kita, tanda itu sendiri dan mereka yang menderitanya hendaknya menjadi inspirasi bagi kita dalam mengejar persatuan yang lebih mesra dengan Tuhan kita, teristimewa dengan sering menerima Sakramen Tobat dan menyambut Ekaristi Kudus.

Kisah Theresi Neumann

Foto: media.bizarrepedia.com

Kejadian Aneh Stigmata ini biasanya terjadi di lingkungan Tradisi Iman Kristen Katolik yakni biarawan atau biarawati 'terpilih' lah yang mengalaminya. Aneh Tapi Nyata luka ini muncul secara tiba-tiba dan mengeluarkan darah baru yang segar tanpa meninggalkan infeksi bagi stigmatic, sebutan buat orang yang mengalami mukjizat aneh ini. Pernahkah anda menonton Film Stigmata yang dulu booming pada tahun 1999 seperti itulah kira-kira gambaran bagi penderita stigmatic.

Salah satunya dialami oleh wanita dengan nama panggilan Resl, Therese Neumann wanita dari Konnersreuth Bavaria Jerman ini dilahirkan pada tahun 1898 dari sebuah keluarga Katolik yang terbilang miskin.

Suatu ketika saat umurnya menginjak 20 tahun kobaran api melalap gudang Martin Neumann pamannya, di mana Thresia bekerja. Saat membantu memadamkan api itulah Resl mengalami kecelakaan. Ia jatuh ke tanah dengan rasa teramat nyeri di punggung. Ia tak dapat berjalan dan harus dipapah pulang.

Kecelakaan ini membuatnya lumpuh sebagian di punggung dan kejang-kejang hebat di kedua kaki. Dokter tak dapat mendatangkan kesembuhan. Keadaan Resl semakin memburuk dari hari ke hari. Klimaks dari penderitaannya terjadi pada bulan Maret 1919 ketika ia menjadi sama sekali buta.

Resl, gadis yang dulu sangat aktif, sekarang harus terbaring di tempat tidur karena kebutaan, sawan, nyeri di punggung dan kedua kaki dan borok-borok bernanah di punggung dan kakinya. Ia kemudian menghabiskan hidupnya dengan berbaring di ranjang selama 6,5 tahun. Keluarganya selalu menghibur dengan membacakan bacaan-bacaan rohani.

Ajaib, ia mengalami kesembuhan dan tepat 1 tahun kemudian dia menerima stigmata di bagian jantung dan kedua telapak tangannya. Saat itu juga ia berpuasa penuh selama 36 tahun hingga ajalnya, sehingga makanan dan minuman satu-satunya hanyalah 'Tubuh Kristus'.

Source: Romo William P. Saunders dan Dark Side of Dimension

Monday, January 23, 2017

Ajaran Sufistik Sunan Kalijaga dalam Pewayangan


Harian Sejarah - Wakil Ketua PWNU DIY M. Jadul Maula berpendapat bahwa Sunan Kalijaga adalah Sufi Dunia yang senantiasa mengajak pada Tuhan melalui dirinya sendiri, 
Man ‘arafa nafsah, ‘arafa Rabbah (siapa telah mengenal dir sendiri maka telah mengenal Tuhannya). 

Hal tersebut disampaikannya dalam Seminar Nasional bertajuk “Sunan Kalijaga dan Kesatuan Agama-Ilmu-Seni” yang diadakan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Kamis (10/10), di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Jl. Laksda Adi Sucipto.

Sunan Kalijaga yang dikenal menyisipkan makna-makna sufistik pada lakon-lakon Wayang sebagai dasar ajarannya di setiap pementasan. Sebagai contoh adalah Lakon Jumenengan Parikesit.

Jumenengan Parikesit merupakan intisari atau ringkasan ajaran Sunan Kalijaga, juga sekaligus sebagai piwulang atau nasehat Sunan Kalijaga kepada Sutawijaya sebelum mendirikan Kerajaan Mataram. Meskipun sebenarnya, ajaran tersebut tidak hanya ditujukan kepada para Raja, melainkan kepada seluruh masyarakat.

Diceritakan bahwa Parikesit waktu itu akan dinobatkan sebagai raja di Hastinapura. Namun, agar jumeneng (tegak) sebagai raja, ada tiga syarat yang harus dilaluinya. Ketiga syarat tersebut adalah, dilenggahi atau dilantik oleh Wasi Jolodoro, mendatangkan Punokawan, dan harus punya senjata Keris Luksongo.

“Namun Parikesit di situ bukanlah calon raja sebenarnya, melainkan ia hanya sebagai pralambang dari jati diri kita. Karakter atau jati diri kita ini sudah kuat atau tidak?” ujar Kang Jadul, sapaan akrab budayawan ini.

Karakter atau jati diri yang kuat merupakan bekal paling penting dalam kehidupan seseorang. Ketiga syarat yang diajukan kepada Parikesit tersebut merupakan gambaran langkah yang harus ditempuh seseorang agar memperoleh karakter atau jati diri yang kuat agar dapat menyatu dengan Tuhan.

Syarat pertama adalah dilenggahi Wasi Jolodoro. Wasi Jolodoro adalah Kakak dari Kresna. Ini merupakan lambang dari batin yang sudah disucikan di Grojokan Sewu. Oleh karenanya ia berwarna putih, lantaran kesucian batin yang dimilikinya.

Menurut Kang Jadul, batin yang suci atau bening merupakan landasan utama yang harus kuat, dan tokoh-tokoh di dalam Wayang merupakan gambaran dari 10 unsur yang ada di dalam diri manusia.

Unsur pertama hingga kelima adalah lima panca indra yang digambarkan melalui Pandawa Lima (Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa). Kelima unsur tersebut tidak bisa menang jika tidak didukung oleh lima unsur lain yang merupakan unsur keenam hingga kesepuluh. 

Pertama, Baladewa, sebagai lambang dari batin. Kedua, Kresna, yang memiliki senjata Cakra yang bisa memutarbalikkan fakta. Kresna tersebut merupakan gambaran dari pikiran kita yang bisa memutarbalikkan fakta. Ketiga, Sembada, Istri Arjuna. Ini merupakan lambang dari perasaan atau kelembutan, dimana Sembada memiliki kelembutan perasaan yang luar biasa. Keempat, Karno, yang merupakan lambang keseimbangan, dan terakhir adalah ruh.

“Kesepuluh unsur tersebut harus bersambung dengan baik agar menghasilkan batin yang jernih, karena batin yang jernih akan menghasilkan pikiran yang jernih, dan sebaliknya, batin yang keruh akan menghasilkan pikiran yang jahat,” ungkap pengasuh Pesantren Kaliopak Bantul tersebut.

“Ini sebenarnya merupakan konsep kemanusiaan yang utuh. Instrumen untuk menselaraskan bukanlah akal, apalagi perasaan, melainkan batin,” tambahnya.

Syarat kedua yaitu mendatangkan Punokawan. Punokawan yang berjumlah empat, yakni Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong merupakan simbol dari empat Malaikat yang terdapat pada diri manusia, yakni Malaikat Jibril, Mikail, Isrofil, dan Izroil. Punokawan disini merupakan gambaran dari fungsi tugas-tugasnya Malaikat, yaitu mengawasi manusia.

Adapun syarat ketiga adalah Keris Luksongo. Songo yang merupakan bahasa Jawa dari Sembilan adalah hasil dari delapan ditambah satu. Maksudnya, delapan tersebut adalah empat unsur alam yang terdapat dalam diri manusia, yakni udara, tanah, air, dan api, yang kemudian ditambahkan empat benda langit. Nantinya dengan kedelapan unsur tersebut akan dapat mengantarkan pada satu, Tuhan.

“Dari sini dapat dipastikan bahwa jika seseorang memiliki hablun minallah (hubungan dengan Allah) dan hablun minal ‘alam (hubungan dengan alam) yang baik, maka tentu akan memiliki hablun minannas (hubungan dengan sesama manusia) yang baik pula. Itulah sebenarnya ajaran struktur dasar Sunan Kalijaga pada orang Jawa (khususnya), dan Nusantara (umumnya),” papar Kang Jadul panjang lebar.

Respon politik kita saat ini, lanjutnya, sudah keluar dari nilai ini alias melupakan alam. Padahal hal tersebutlah yang menguatkan Kerajaan Mataram dapat bertahan sampai sekarang, yakni selama 500 tahun. Tentu tidak mudah membuat sebuah kerajaan agar bertahan selama itu. Ajaran inilah yang harus dimunculkan kembali agar bisa melindungi tanah Jawa dan Nusantara, yakni keseimbangan antara mikro kosmos dengan makro kosmos. 
(Dwi Khoirotun Nisa’/Mahbib)


Shared From NU.or.id