Showing posts with label Essai. Show all posts
Showing posts with label Essai. Show all posts

Friday, February 3, 2017

Komunis Di Sana Sini

Komunis Di Sana Sini

Sudah kita ketahui belakangan ini kata-kata komunis begitu mudah keluar dari mulut-mulut pengikut atau simpatisan dari habib tertentu. Sampai-sampai karena  sangking takutnya dengan komunis uang kertas pun disalahkan karena mengandung komunisme di lambangnya. Bisa dibilang habib itu  menganut hyper komunisphobia. Kaum-kaumnya pun tidak ketinggalan apa pun yang berbentuk menyerupai lambang komunis akan dibilang komunis, lawan politik dituduh komunis, bahkan  pemerintah Jokowi dituduh komunis. 

Kalau bicara tentang tuduhan komunis, saya mengingat bahwasannya ini adalah cara-cara Orde Baru  mencap yang anti terhadapnya. Terkadang kaum ini membingungkan, mereka cap komunis sana sini tapi mereka  sebenarnya tidak tau apa-apa tentang PKI itu sendiri. Tuduhan mereka  tidak lebih karena kebencian semata. Terutama pada pemerintah.

Bagaimana bisa dituduh komunis? Wong  antek-antek Orde Baru pun bercokol  di  Pemerintahan. Sebagaimana diketahui bahwasanyaa  orang orde baru membenci komunisme. Pengusutan pembantai tragedi pasca G30S pun tidak  terealisasi hingga saat ini di pemerintahan  Jokowi. Padahal dia waktu itu berjanji akan menuntaskan kasus HAM masa lalu. Namun  itu semua dihalangi oleh unsur pemerintahan yang lalu. Mereka tidak ingin mengungkap sejarah kelam bangsa, dimana  terjadi pembunuhan jutaan anak bangsa ditangan saudara sendiri. Saya tentunya  bukan pembela PKI, sayaa berhaluan politik bersebrangan dengan PKI. Namun kalau urusan kemanusian hati saya tergerak akan hal itu.

Mengapa kita begitu takut akan komunisme? Padahal sistem Komunisme sudah gagal dan masuk liang lahat sejarah bersama pencetusnya Uni Soviet. Negara seperti Cina yang notabennya komunis tidak menjalankan komunis secara utuh, bahkan ekonomi mereka bercorak “Kapitalisme Negara”, Vietnam pun juga sama menganut paham ekonomi kapitalisme meskipun saya tidak tau kapitalisme apa yang dianutnya, Korea Utara lah yang masih dibilang penganut komunisme  yang kuat hingga saat ini. 

Tapi kita bisa lihat Korea Utara keadaannya menyedihkan kontras sekali dengan saudaranya di Selatan Korea. Lantas mengapa mereka bilang “Hati-hati bangkitnya PKI”? Padahal beberapa tahun lalu  ada anak yang ditangkap oleh aparatur negara karenaa menggunakan  kaus berlambang komunisme. Harusan jika mereka bilang pemerintah Jokowi adalah Komunis, anak itu harusnya dipelihara bukan ditangkap.

Komunisme tidak akan bangkit karena masih ada TAP MPR XXV mustahil Komunis bangkit. Lagipula siapa yang menganut sistem usang yang sudah gagal  dalam sejarah. Terkadang kaum ini sangat lucu. Selain melempar tuduhan komunis mereka juga mencap sebagai syiah, yahudi, kapitalis. Wong ini lah yang disebut gagal paham, maklumlah kaum ini kesehariannya hanya mengunyah nasi bungkus dan berdemo menuntut ahok sang penista agama menurut mereka. 

Padahal bagi orang terdidik Kapitalis dan Komunis saja sudah  bersebrangan. Syiah dan Yahudi pun berbeda ajaran. Tuduhan melempar penyataan komunis adalah  perbuatan tidak etis hanya di lakukan oleh para panasbung dan habibnya. Bagi anda yang merasa terdidik ada baiknya anda mengkaji ulang apa itu komunisme sendiri? Sejarah PKI itu seperti apa? Apa saja yang telah diperbuat PKI selama ini di bumi  nusantara? Mengapa orde baru membenci sekali komunisme?. Anda yang merasa terdidik jangan asal ikut-ikutan  Anda tidak boleh mempunyai keyakinan buta, sifat seorang terdidik adalah sifat keterbukaan.  Membaca adalah kunci untuk mengetahui semua yang terjadi di masa lalu.  Yang disebut orang terdidik “Orang yang mampu berpikir jernih mendahulukan nalarnya dibandingkan kebenciannya”.


Salam sejahtera bagi semua mahluk di semesta (Candide)

Wednesday, January 11, 2017

Melihat Kembali Konsep Maritim Indonesia


Kita memandang laut sebagai sebuah kehidupan, tempat dimana semua orang dapat bergantung terhadap derasnya lautan. Sejak masa prasejarah manusia mendiami kepulauan Nusantara, mereka berlayar untuk memenuhi kehidupan mereka atau sekadar bermain dengan luasnya lautan. Mereka berlayar dari tanah kelahiran mereka hingga ke Pantai Barat Afrika, bagaimana? Manusia Indonesia pantas dibilang sebagai seorang pelaut bukan? Nusantara kita yang dahulu merupan cikal bakal dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang orang mengenalnya sebagai poros maritim yang sedang dibangkitkan kejayaannya oleh presiden Indonesia sekarang, Presiden Joko Widodo.

Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dapatlah kita jadikan contoh dari kejayaan maritim Indonesia di masa lalu. Kedua emporium tersebut dapat besar karena menguasai lautan, Majapahit meskipun terletak di pedalaman, namun dapat menguasai daerah-daerah Pantai Utara Jawa. Dengan militer yang kuat serta sarana pelabuhan yang baik sebagai bandar dagang, keduanya dapat menguasai perniagaan di seluruh Asia Tenggara.

Menjelang abad ke-16 kemaritiman nusantara mengalami keadaan yang berubah sejak kedatangan pedagang-pedagang Eropa. Bangsa Eropa yang berusaha menancapkan kapitalisme dan imperialism guna melakukan monopili ekonomi mengakibatkan sempitnya pergerakan kehidupan. Jaringan pelayaran kerajaan-kerajaan di nusantara dan nelayan-nelayannya tergoyah, tersungkur masuk dalam fase kolonialisme asing.

Maritim Dalam Diskusi Kemerdekaan

Kolonialisme mencuci otak cara pandang manusia Indonesia, laut bukanlah prioritas, tetapi sebuah benteng perbatasan kolonialisme dengan dunia luar. Pemerintah kolonial Belanda menanamkan konsep pemikiran bangsa Indonesia yang terpusat di daratan seperti yang orang-orang Eropa pikirkan. Hingga kini pemikiran terus tetap terjaga dalam pemikiran Indonesia modern, bukannya memikirkan bagaimana mengembangkan daerah pesisir dan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, melainkan lebih sibuk memikirkan batas lahan dan pemekaran wilayah demi meratanya kekuasaan politik disetiap kawasan dan meninggalkan masyarakat yang miskin karena tidak dapat memanfaatkan kekayaan laut Indonesia yang luas.

Dalam sejarah, pada masa menjelang kemerdekaan. Para pendiri bangsa mempunyai cita-cita mengembalikan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit dengan mengarahkan Indonesia kembali berjaya di laut. Dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 31 Mei 1945, Muhammad Yamin dengan tegas memperjuangkan perwujudan Tanah Air ke dalam wilayah negara Indonesia. ia menegaskan bahwa pemahaman Tanah Air adalah konsep tunggal.

Dengan demikian, Tanah Air merupakan konsep yang satu. “..membicarakan daerah Negara Indonesia dengan menumpahkan perhatian kepada pulau dan daratan sesungguhnya adalah berlawanan dengan realitas. Tanah Air ialah terutama daerah lautan dan mempunyai pantai yang panjang.”

Yamin meyakini laut Indonesia namun kala itu mendapat hambatan dari dunia Internasional yang menyebut laut merupakan zona bebas. Perjuangan Indonesia mengintegrasikan laut ke dalam wilayahnya dimulai kembali oleh Perdana Menteri Djuanda pada 1957. Untuk menguasai kembali lautan, pemerintah Soekarno memperkuat pasukan angkatan laut baik dari jumlah prajurit hingga alat utama sistem persenjataan. Namun, pengembalian laut sebagai sumber kehidupan gagal setelah pemerintahan berpindah tangan ke Soeharto yang berorientasi ke darat. - Harian Sejarah

-Imam Maulana Al Fatih

Mengurangi Utang Moral Negeri Belanda, Jika Ingin Lebih Mengangkat Harga Diri Indonesia


“Negeri Belanda telah menjajah Indonesia selama 350 tahun” demikianlah bunyi pernyataan yang sering dikatakan orang di Indonesia. Efek yang luar biasa dari pernyataan ini tentu dapat kita rasakan. Namun, apakah pernyataan itu secara historis dapat dibenarkan? Perlu kajian yang mendalam untuk membuktikan hal tersebut. Dengan pernyataan yang demikian, nasionalisme Indonesia digembleng. Tidak ada yang mempersalahkan pernyataan itu. Namun, kebencian dan pandangan yang negatif, kemudian diarahkan mata-mata generasi sekarang ke Den Haag.

Pada tahun-tahun belakangan, diskusi-diskusi mutakhir telah dilakukan. Tahun 2016, bertempat di auditorium gedung 1, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, pernyataan ini disinggung dalam diskusi “Sejarah Lokal”. Hasil dari diskusi itu menyebutkan bahwa Negeri Belanda tidak benar-benar menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Kita selalu percaya bahwa kedatangan De Houtman yang pertama menjadi batasan paling pertama penjajahan Belanda. Apakah kunjungan De Houtman yang kurang sopan di awal itu dapat kita generalisasikan sebagai representasi Negeri Belanda? Jawabannya perlu Anda diskusikan lagi dan Anda kaji secara lebih mendalam.

Berangkat dari kebisingan yang sampai ke telinga saya tentang betapa penting untuk mengangkat harga diri Indonesia dari hegemoni asing, artikel pendek ini ditulis. Betapa tidak menjadi perhatian saya, ketika perbincangan di tengah carut marutnya kondisi Indonesia yang sedang dilanda kebingungan tentang adanya dugaan hegemoni asing ini, masih juga ada yang percaya bahwa Belanda telah menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Pernyataan ini secara langsung menyatakan bahwa Negeri Belanda begitu luar biasa dapat memegang kendali atas Indonesia yang luas ini selama ratusan tahun.

Penjiwaan terhadap suatu pernyataan, hendaknya kita lakukan dengan memperhatikan waktu dan kondisi saat pernyataan tersebut dilontarkan. Ketika pernyataan tiga setengah abad itu dilontarkan, yang menurut banyak pihak, oleh Presiden Soekarno, kondisi Indonesia memerlukan pembakar semangat yang luar biasa melawan imperialisme asing. Namun, pada zaman modern ini, justru hubungan baik dengan segala bangsa adalah hal yang menguntungkan.

Lebih jauh, pernyataan yang demikian itu, membuat utang moral Negeri Belanda menjadi sangat besar. Sekali lagi pertanyaan muncul, apa benar sebesar itu? Jika iya, utang moral Negeri Belanda yang besar itu setara dengan begitu lemahnya Indonesia selama tiga setengah abad. Namun, jika kita melihat jauh ke barat, ujung paling barat Indonesia, Aceh, masih menggelorakan perlawanan yang membuat hati kita terharu. 

Cut Nyak Din, hingga ia dikhianati oleh pengikutnya pun tidak pula memiliki hati untuk menyerah. Jika kita mempertahankan utang moral Negeri Belanda yang besar terhadap Indonesia, apakah kita tidak mengkerdilkan peran Din yang luar biasa itu? Refleksi-refleksi perlu kita lakukan. Ketika kita melihat perjuangan Din yang mulia dan penuh semangat, bolehlah kita pula mengurangi beban moral yang kita berikan ke Negeri Belanda. Bolehlah kita mengangkat tinggi kepala kita dan berkata: di ujung barat sana, tempat yang sekarang menjadi Indonesia, Cut Nyak Din masih belum menyerah pada kaphe Ulanda hingga ia dijebak pada 1905.

Kembali dapat kita lihat, kepentingan suatu pernyataan dilontarkan itu sesuai dengan zeitgeist yang ada pada zamannya. Belum tentu dapat kita pertahankan semangatnya, tapi sudah tentu dapat kita pertahankan ingatan dan pengetahuannya. Tidak hanya pernyataan yang bersifat historis yang saya maksudkan dalam hal ini, namun segala pernyataan lain yang mungkin diinterpretasikan tidak sesuai dengan zamannya. Bolehlah kita meminjam pernyataan-pernyataan yang disebutkan Konfusius pada setiap kitab yang dituliskan atas pernyataannya. 

Pernyataan beliau, meskipun tentu dapat diterapkan dalam masa modern, tetapi adalah suatu pernyataan yang terpengaruh dari jiwa zaman di saat Tiongkok terpecah menjadi banyak negara yang saling berperang. Pernyataannya paling sesuai digunakan untuk mengatasi konflik-konflik yang pada masa itu terjadi. Demikian Konfusius, demikian pula tokoh yang lain. Akhir kata, apakah insan akademis seperti Anda akan mempertahankan beban utang moral yang sedemikian besar untuk Negeri Belanda atau akan meningkatkan lebih jauh harga diri Indonesia dengan tanpa malu memperbaiki pola pikir yang telah ada?

Memperbaiki kesalahan tidak membuktikan bahwa kita bodoh, tetapi membuktikan kedewasaan kita untuk mempelajari lagi apa yang kita lupa atau belum ketahui. 

C. Reinhart

Sunday, January 1, 2017

Menggiring Meninggalkan Islam Yang Harmoni


Harian Sejarah - Kalau kita melihat sekarang ini. Mungkin kita melihat serangkaian pengamanan yang sangat ekstra untuk mengawal sahabat-sahabat kita umat Nasrani yang sedang melaksanakan ibadah Natal mereka. Sebenarnya kenapa ini harus dilakukan ? Saya rasa ini ada yang salah, seolah-olah negara kita adalah negara komunis yang mengintervensi agama. 

Padahal meskipun dalam catatan sejarah Indonesia, PKI pernah melangsungkan ‘kudeta’, tetapi Komunisme di Indonesia berbeda dengan Komunisme di negara lain. Banyak dari tragedi berdarah ganyang PKI yang kebanyakan adalah guru ngaji, ustad, santri, dan segala macam golongan. Mereka ikut PKI mungkin termakan oleh jargon Ideologi “ Sama rata, sama bahagia “ yang belum terwujud pada Era Pemerintahan Presiden Soekarno. 

Dan lagi pula saya berpendapat orang-orang yang mengisukan PKI secara berlebih-lebihan adalah orang BODOH, karena Komunisme ada karena kelaparan dan kemiskinan, sedangkan Indonesia merupakan surga yang menyediakan limpahan kebutuhan kita dan masyarakat kita sudah pintar dan bukan ikut segala  macam intrik politik berdasarkan sodoran memuaskan perut (walaupun masih ada yang menyukai nasi bungkus).

Kembali saya tekankan, mengapa kita harus takut merayakan hari raya penganut agama lain ? Kita adalah negeri yang mayoritas Islam. Dan sepanjang saya belajar sejarah dari SMP (SMP ya kan?). Saya selalu mendapatkan gambaran bahwa Islam adalah agama yang toleran dan memperjuangkan kemerdekaan bersama kawan-kawan saya Mu’ahid (sebutan terhadap non muslim). Dan selama saya belajar sejarah hingga saat ini saya mengenyam Pendidikan S1 Sejarah, saya selalu disuguhkan bahwa Islam adalah rahmat bagi semesta alam, membawa kedamaian bagi pemeluknya, dan mengasihi kepada seluruh umat manusia.

Akan tetapi sekarang harus sadari! Bahwa ancaman Komunisme bukanlah satu-satunya ancaman bagi Ideologi kebangsaan kita, Dan isu PKI adalah salah satu cari golongan-golongan Islam Transaksional yang menginginkan Ideologi Khilafah di bumi Nusantara untuk menggiring opini umat Islam Indonesia membenarkan tindaknnya dan secara laten membuat pola pikir umat Islam Indonesia menjadi radikal (yang tadinya rahmatan lil alamin).

Membuat provokasi adalah cara yang mereka lakukan untuk menggesekan kesatuan bangsa kita. Mereka menghina keimanan agama lain di media sosial. Sehingga membuat pencitraan permusuhan antara Umat Islam dan Golongan Mu’ahid. Mereka menciptakan opini untuk membuat keretakan terhadap keutuhan bangsa kita dengan cara penghasutan dan mengajarkan kekerasan.
Bunuh!!! Bunuh!!! Bunuh!!! Bunuh!!! Bunuh!!!

Itu merupakan cara mereka untuk memperngaruhi pemikiran golongan-golongan Islam kita yang bersatu dengan budaya lokal Indonesia yang luhur. Mereka menciptakan sebuah eskplansi bahwa Islam tidak boleh bercampur dengan budaya, akan tetapi mereka mencampuradukan Islam kita dengan budaya kekerasan.

Kita sekarang harus sadar. Bahwa kita dalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang berada di Indonesia. Kita harus memiliha opini-opini yang berkembang untuk menggiring kita melakukan perpecahan. Islam mengajarkan untuk memberikan hidayah dengan lemah lembut. Islam memberikan kasih kepada semua orang. Karena Islam diturunkan untuh menjadi rahmat bagi semesta alam. Melindungi seluruh umat manusia (baik islam maupun Mu’ahid).
Islam Indonesia mengajarkan :

“ Kasih, Sayang, Memaafkan, Adil “

Yang merupakan pencerminan dari nama-nama Allah yang baik, sedangakan

“ BUNUH, KAFIR, CINA KOMUNIS, PROVOKASI, PERANG, BUNUH. “

Sama sekali bukan penggambaran dari Umat Islam Indonesia, bahkan bukan gambaran dari Ajaran Islam yang saya pelajari sejak SMP.

Sejarah yang saya pelajari sejak SMP bukan mengajarkan untuk mengatakan pahlawan itu kafir atau pahlwan itu tak pantas karena kafir. Tapi Sejarah mengajarkan saya bahwa kita berjuang untuk Tanah Air dengan menanggalkan identitas primodial kita, agama kita bawa ke medan perjuangan untuk memanjatkan doa kepada Allah. Kalau sejak dulu kita mempermasalahkan agama dalam perjuangan kemerdekaan. Sudah jelas negara Indonesia pasca RIS akan tepercah.

Akan tetapi ? Kita tetap bersatu.

“ Karena Agama adalah cara kita mendekatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Akan tetapi Rasa Nasionalisme adalah cara kita mendekatkan pada Persatuan Bangsa, Ya Bangsa Indonesia “

* Artikel ini merupakan posting ulang, pertama kali saya posting di Seword.com

Thursday, December 29, 2016

Jangan Biasa-biasa Saja

Bagaimana dengan judul yang saya berikan? Nampaknya biasa-biasa saja. Tidak menarik. Ya, judulnya tidak dapat menarik perhatian Anda. Tapi rasa tidak menarik dan biasa-biasa sajalah yang akan saya bahas dengan menyangkutkan ilmu filsafat.
Oke, sekarang Anda tahu sekarang tahun berapa? Lebih rincinya abad ke berapa? Atau kita hidup di zaman apa? Sebuah pertanyaan sepele yang bisa dijawab dengan angka. Tapi saya menganjurkan agar Anda menjawabnya dengan pertanyaan lagi. Mengapa? Jika Anda menanyakan itu kepada saya. Maka sayang sekali saya akan terdiam seribu bahasa.
Akan saya katakan mengapa dunia yang kita jalani begitu membosankan--standar. Karena Kita telah luput dari rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu sendiri bukan hanya sekadar mencari atau menjawab pertanyaan dengan rumus yang sudah ada begitu saja. Coba pikirkan dengan tidak biasa: mengapa harus ada rumus untuk menyelesaikan permasalahan? Atau darimana rumus berasal? Bagaimana sesuatu bisa ada dari ketiadaan?
Saat kita masih anak-anak rasa ingin tahu begitu besar. Dia bertanya apapun dengan yang dilihatnya. Tapi saat dia menjadi dewasa dia malah merasa semua sudah biasa-biasa saja. Apa yang ada di dunia ini sudah ada dengan begitu saja--sama seperti kue bolu, tercipta dari gabungan beberapa bahan kemudian di oven. Padahal ada juga yang bisa membuat kue bolu dengan mantra? Mengapa tidak mencari tahu.
Mengapa bayi belum bisa berbicara saat baru dilahirkan? Mudah. Secara logika karena bayi tidak memiliki gigi dan tak mendukungnya tuk berbicara. Tapi bukankah Tuhan bisa saja menciptakan bayi dengan gigi dan dapat berbicara? Tapi sungguh aneh jika itu terjadi. Mengapa? Karena jika bayi bisa berbicara dia akan bertanya--bertanya seperti apakah dunia yang akan dihadapinya? Bagaimana bisa dia ada di sini? Untuk apa? Dan mungkin mengatakan kalau dunia ini sungguh menakjubkannya!
Kalau Anda tidak percaya, Anda masih sering melakukannya--bertanya pada keasingan. Semisalnya, saat Anda memasuki ruangan atau tempat yang belum pernah Anda tahu tentang seluk-beluknya pasti Anda akan bertanya-tanya "Seperti apa di sana? Apakah ada sesuatu? Adakah yang menarik?"
Semuanya ada hubungannya dengan kebiasaan. (Catat ini!) Kita semua tahu bayi yang baru lahir tidak dapat berbicara, apalagi sampai bertanya tentang hal sedemikian rupa. Tapi bagaimana dengan dunia ini sendiri? Bagaimana jika betul-betul ada bayi yang bisa berbicara? Bukankah dengan kuasa Tuhan, Nabi Isa As juga dapat berbicara ketika masih bayi untuk mengatakan kebenaran tentang ibunya yang dituduh sebagai pezina waktu itu?
Dunia itu sendiri dengan serta-merta sudah menjadi suatu kebiasaan. Tampaknya hal yang sudah ada tidak lagi menjadi pertanyaan maupun keanehan.
Kesimpulannya: Berwaspadalah! Anda berada di atas lapisan es yang tipis. Dan inilah sebabnya mengapa kita harus mempelajari filsafat, hanya untuk berjaga-jaga saja. Saya tidak akan membiarkan Anda, di antara semua orang lain, ikut sejajar dengan mereka yang apatis dan acuh tak acuh. Saya ingin Anda selalu ingin tahu. Jangan bersikap biasa-biasa saja.
Saya akan memberikan sebuah cindera mata besar--sangat besar kepada Anda yang sudah berkenan membaca tulisan ini.

Sebuah pertanyaan: "Apa warna sinar? Dan mengapa sinar bewarna demikian? Bukankah dunia bisa saja disinari dengan kegelapan? Dan kegelapan berasal dari apa? Karena tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan?" (S.A./2016)
Kiriman dari : Adipati Prakash Setiawan
Anda dapat mengirimkan tulisan anda melalui email ke hariansejarah@gmail.com 

Pentingnya Ilmu Filsafat Dalam Problematika Kehidupan

Pentingnya Ilmu Filsafat Dalam Problematika Kehidupan


Di tengah hiruk pikuk berkoar-koarnya para agamis dan politis yang saling melemparkan opini-opini mereka mengenai dogma yang mereka anut. Semua perkataan mereka dianggap suci bagi yang sejalan dengan mereka, ya, sesuai dengan pemikiran masing-masing. 

Maklum saja dunia sedang dibolak-balik oleh para penguasa maupun para ulama yang sedang mempermainkan masyarakat. Agar dirinya yang sakit dianggap waras dan mereka yang waras dianggap sakit. Tidak ada kekacauan di dunia tanpa disebabkan oleh cara berpikir yang saling bersebrangan itu. Dan masyarakat kurang terlatih dalam pemikiran mereka sehingga mereka mudah dimanipulasi oleh kekuasaan.
Seharusnya masyarakat kita mempelajari ilmu filsafat. Secara umum memang begitu muskil, tapi setidaknya ini mengajarkan kita untuk berpikir kritis. Terlebih lagi Indonesia terlalu banyak pemahaman dan doktrin menjuru kesesatan. Anehnya masyarakat kita mudah menerima dan terprovokasi dengan pemahaman yang ditafsir secara bebas ala habib dan syeikh yang belajar sanad tidak jelas. Tanpa bertanya, mereka langsung menganggukan kepala kemudian menyuarakan yang mereka dengar. Mungkin ini akibat dari sepatah kalimat ‘Sami’na wa atho’nayang artinya kami dengar, kami taat. Seharusnya di zaman yang sudah bisa dibilang gila dan penuh euforia dosa kalimat itu diganting dengan “‘Sami’na wa ‘ashoina” yang artinya kami dengar, tapi kami tidak menaatinya.
Kita harus bertanya, sekalipun itu sudah terlihat jelas. Bertanya adalah berpikir, tidak bertanya berarti tidak berpikir, bukan jawaban yang kita pelajari, tetapi berpikir mencari jawaban yang mesti kita lakukan. Menerima  jawaban tanpa penalaran imaji sama dengan menerima sampah, seperti alunan lidah orang yang keluar dari kebodohan.
Keuntungan mempelajari filsafat menjadi cara cerdas bagi jiwa untuk tetap waras dan tumbuh berevolusi. Terutama ketika dunia makin sakit dan sistem nilai kian tergedrasi. Filsafat sendiri memampukan kita menyusun sendiri pegangan di antara berbagai informasi dan pendapat yang membingungkan, serta mampu membuat benteng pertahanan dari pemahaman garis keras yang kini berkembang liar dan arogan.
Maka daripada itu, mempelajari filsafat sangat menguntungkan bagi masyarakat dalam berpikir lebih kritis lagi dalam menghadapi persoalan pada umumnya. Dan tujuan dari filosof sendiri tidak hanya untuk nilai akademis, tapi filosof diharapkan mampu membuat suatu pemikiran dalam memecahkan sebuah pertanyaan mendasar. Seperti “siapa kamu?” dan “dari manakah datangnya dunia?”
Mempelajari filsafat yang saya uraikan tadi, bukanlah sebuah saran yang bisa dipertimbangkan penting dan kegunaannya dalam keseharian. Tapi menjadi suatu keharusan bagi yang ingin terlepas dari doktrin dan pemahaman sesat. Dan mencari tahu lebih mendalam makna kajian hidup. (S.A./2016)
Kiriman dari : Adipati Prakash Setiawan
Anda dapat mengirimkan tulisan anda melalui email ke hariansejarah@gmail.com 

Wednesday, December 28, 2016

Fragmentasi Umat Islam

umat islam

Harian Sejarah - Ada sekitar 1,6 miliar  orang Islam di bumi, atau sekitar 23% dari seluruh penduduk bumi. Dari 1,6 miliar itu, sekitar 1,3 miliar juta adalah Islam Sunni, termasuk hampir seluruh masyarakat Indonesia adalah penganut Islam Sunni. India adalah juga negara dengan penduduk muslim terbesar ketiga dunia setelah Indonesia dan Pakistan.  250 juta umat Islam adalah Islam Syiah, yang terbesar ada di Iran dan Iraq. 3 juta Islam Ibadi atau Khawarij.   Sisanya Islam Ahmadiyah, Sufi, Quraniyyah, dsb.

3 golongan besar Islam yaitu Sunni, Syiah, dan Ibadi timbul karena perebutan kekuasaan seusai Nabi Muhammad meninggal. Sunni menganggap 4 khalifah yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali sebagai khalifah yang sah. Syiah menganggap hanya Ali dan keturunannya sajalah yang layak memimpin umat Islam, sedangkan Ibadi menentang keduanya.

3 diantara 4 khulafaurrasyidin mati terbunuh, Umar dibunuh oleh budak dari Iran yang tidak rela Iran dikuasai muslim , Utsman dibunuh oleh pemberontak muslim sendiri, sedangkan Ali dibunuh oleh Khawarij.

Setelah Ali, praktis khalifah adalah raja biasa yang kebetulan beragama Islam, yang tentunya gaya hidupnya jauh dari gaya hidup Nabi Muhammad atau Khulafaurrasyidin, beberapa diantaranya mulai punya istri puluhan dimana di Alquran maksimum hanya 4 sampai hidup serba mewah.

perpecahan

Konflik antar denominasi Islam ini masih terjadi hingga sekarang bahkan tak jarang berperang, yang Sunni benci dengan Syiah, yang Syiah benci dengan Sunni, lalu keduanya benci Ahmadiyah, Ibadi, dsb. Hanya Islam Sufi yang secara umum menghindari konflik antar denominasi ini.

Kesamaan dari semua denominasi adalah bahwa banyak diantara meraka yang menjual agama demi kepentingan duniawi semata, ulama yang menjual ayat maupun ulama yang berkolaborasi dengan penguasa untuk berkuasa bersama seperti yang terjadi di beberapa negara yang mayoritas Islam, khususnya di wilayah Timur Tengah.

Fragmentasi ruwet ini ketika tidak ditarik dengan pendalaman sejarah hanya akan menghasilkan perang-perang dan kebencian baru, padahal dalam sejarah sudah begitu jelas bahwa kepemimpinan orang baik dan sederhana seperti Nabi Muhammad dan Khulafaurrasyidin lah yang seharusnya ditiru, bukannya perang dan kebencian yang memang sejak jaman Khulafaurrasyidin dihembuskan oleh manusia-manusia haus kekuasaan.

Tentunya tak heran, jika Utsman dan Ali termasuk cucunya Nabi Muhammad Hasan dan Husein saja bisa dibunuh demi kekuasaan, jaman modern ini orang yang mengaku Islam bisa melakukan apapun demi kekuasaan dan keduniawian serta diperalat oleh sejumlah 'Elit Politik' yang menginginkan umat terkotak-kota dalam mengoyang suatu pemerintahan atau memuluskan jalan pemerintahan.

Kekuatan asing turut serta dalam lingkaran perpecahan. Pihak asing seringkali terlibat untuk mempertahankan kepentingannya di suatu kawasan, misalnya Amerika dan Russia yang berada dibalik beberapa peperangan di Timur Tengah, salah satunya yang sekarang terjadi di Suriah. Keduanya berada dibalik dua sisi yang bertikai sehingga menimbulkan keruwetan, ditambah lagi dengan masuknya Arab Saudi dan Iran sebagai simbol dari perpecahan Sunni dan Syiah di kawasan Timur Tengah dan Teluk.

Semua ini memunculkan suatu pemasalahan global. Kekerasan menjadi suatu yang melekat pada Islam sejauh maraknya Islamphobia. Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang ramah tamah, dan Islam yang mengedepankan permusyawarahan tergerus oleh faham-faham Islam Transaksional. Faham ini berujung pada penyebaran Islam garis keras seperti wahabi ke pelbagai negara. Mereka akhirnya membentuk kelompok-kelompok militan yang kerap kali melangsungkan aksi Terorisme yang bertujuan mendirikan Kekhilafahan. Kekhilafahan ini menuru mereka adalah solusi dari perpecahan Islam dan kemunduran Islam.

Fragmentasi Umat Islam

Padahal jika kita berpikir logis, kemunduran Islam justru karena peperangan dan pengedepanan ajaran Islam yang keras, ajaran Islam yang mengedepankan peningkatan Ilmu Pengetahuan modern guna menunjang intelektualitas umat dianggap sebagai sesuatu yang kontra terhadap ajaran agama. Surga merupakan iming-iming yang kerap kali diberikan kepada umat Islam yang kering akan pemahaman dan perbandingan ilmu.