Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Film Dokumenter Berwarna Nazi dan Sepak Terjang Hitler


Nazi, atau secara resmi Nasional Sosialisme (Jerman: Nationalsozialismus), merujuk pada sebuah ideologi totalitarian Partai Nazi (Partai Pekerja Nasional-Sosialis Jerman, Jerman: Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau NSDAP) di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. 

Kata ini juga merujuk pada kebijakan yang dianut oleh pemerintahan Jerman pada tahun 1933-1945, sebuah periode yang kemudian dikenal sebagai Jerman Nazi atau Reich Ketiga. Kata Nazi jadi merupakan singkatan Nasional Sosialisme atau Nationalsozialismus di bahasa Jerman. Sampai hari ini orang-orang yang berhaluan ekstrem kanan dan rasisme sering disebut sebagai Neonazi (neo = "baru" dalam bahasa Yunani).




FIlm Sang Pencerah (2010)

SutradaraHanung Bramantyo
ProduserRaam Punjabi
PenulisHanung Bramantyo
PemeranLukman Sardi
Yati Surachman
Slamet Rahardjo
Giring Ganesha
Ikranagara
Muhammad Ihsan Tarore
Zaskia Adya Mecca
Sujiwo Tejo
Dennis Adhiswara
Agus Kuncoro
Bryan Andrew
MusikTya Subiyakto Satrio
SinematografiFaozan Rizal
PenyuntingWawan I. Wibowo
DistributorMultivision Plus
Tanggal rilis
8 September 2010
NegaraBendera Indonesia Indonesia

Film ini bercerita tentang Darwis (Muhammad Ihsan Tarore) pemuda berusia 21 tahun yang baru saja pulang dari Mekah. Ia sedih karena masyarakat di kampungnya melaksanakan ajaran agama Islam yang melenceng kearah yang sesat. Darwis juga mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan.

Hal pertama yang dibuktikan Darwis adalah arah kiblat yang melenceng. Ia menggunakan sebuah kompas di Masjid Besar Kauman untuk menunjukkan bahwa selama ini penduduk desa sembahyang tidak menghadap ke Ka’bah, melainkan ke arah Afrika. Sang Kyai, Cholil Kamaludiningrat (Slamet Rahardjo) tentu naik pitam karena menganggap Dahlan mengubah tradisi yang sudah dilaksanakan penduduk selama bertahun-tahun.

Ahmad Dahlan yang sudah dewasa (Lukman Sardi) kemudian merintis pergerakan untuk perubahan arah kiblat melalui suraunya. Namun, penduduk menganggap Dahlan sudah mengajarkan aliran sesat dan merusak keagungan Keraton dan Masjid Besar. Selain arah kiblat, ia mulai menghimbau masyarakat untuk berdoa kepada Tuhan dengan tanpa perantara. Masyarakat tidak perlu berdoa dengan menggunakan kyai, ataupun sesajen. Ia mengatakan bahwa semua umat manusia dapat berdoa langsung kepada Tuhannya. Namun pada akhirnya, Dahlan dimusuhi orang-orang di kampungnya.

Tak disangka, Dahlan sangat mahir memainkan biola. Tetapi, kemahirannya ini malah dianggap kontroversial. Ia bahkan dituduh menjadi kyai sesat karena membuka sekolah yang bernuansa seperti sekolah Belanda, serta mengajarkan agama Islam di sekolah para priyayi, Kweekschool di Jetis, Yogyakarta.

Berbagai rintangan harus dilewati Dahlan, mulai dari masjid Kauman tempat ia mengajar mengaji dihancurkan massa, sampai harus rela dianggap sebagai kyai kejawen karena dekat dengan para priyayi di Budi Utomo. Namun, Dahlan tidak cepat berputus asa. Ia dan istrinya, Siti Walidah (Zaskia Adya Mecca) serta kelima muridnya yang paling istimewa: Sudja (Giring Ganesha), Sangidu (Ricky Perdana), Fahrudin (Mario Irwinsyah), Hisyam (Dennis Adhiswara) dan Dirjo (Abdurrahman Arif) kemudian berjuang untuk membentuk sebuah organisasi yang ia beri nama Muhammadiyah dengan tujuan untuk mengajak umat Islam agar tidak terbelakang, dan mampu mengikuti perkembangan zaman di Indonesia.

Film Enam Djam di Jogja (1951)



SutradaraUsmar Ismail
ProduserUsmar Ismail
PemeranDel Juzar
R Sutjipto
Aedy Moward
DistributorPerfini
NegaraIndonesia

Film ini dengan melukiskan peristiwa nyata terkenal dalam sejarah revolusi Indonesia itu dengan cara fiktif, karena merasa dokumen-dokumen yang ada masih belum lengkap dan takut menyinggung berbagai pihak. Yang dilukiskan adalah kerja sama antara rakyat, tentara dan pemerintah. Meski fiktif, tetapi fakta nyata menjadi acuannya. 

Dan kisah disuguhkan lebih dari sisi rakyat atau tentara yang berpangkat rendah. Tekanan Belanda membuat rakyat menderita dan berbagi sikap. Ada yang mendukung perjuangan tentara, ada yang menggerutu. Tentara yang memeras rakyat pun sekilas dilukiskan. Kesulitannya adalah menyatu padukan sikap, gerakan dan menegakkan disiplin semua anggota gerakan. Ada juga terselip kisah cinta.

Tidak ada tokoh yang menonjol dalam kisah, karena begitu banyak pihak yang diceritakan sedikit-sedikit, karena yang jadi tujuan memang pelukisan peristiwa itu secara global.


Film Schindler's List (1993)


SutradaraSteven Spielberg
ProduserSteven Spielberg
Branko Lustig
Gerald R. Molen
SkenarioSteven Zaillian
BerdasarkanSchindler's Ark
karya Thomas Keneally
PemeranLiam Neeson
Ralph Fiennes
Ben Kingsley
Caroline Goodall
Jonathan Sagall
Embeth Davidtz
MusikJohn Williams
SinematografiJanusz Kamiński
PenyuntingMichael Kahn
Perusahaan
produksi
Amblin Entertainment
DistributorUniversal Pictures
Tanggal rilis
  • 30 November 1993(Washington, D.C.)
  • 15 Desember 1993(Amerika Serikat)
Durasi
197 menit
NegaraAmerika Serikat
BahasaBahasa Inggris

Cerita film ini berawal dari kisah seorang pengusaha kaya yang bernama Oscar Schindler.
Dia adalah pengusaha kaya jenius, kharismatik, anggota partai NAZI yang tajir, dekat dengan penguasa, yang hidupnya selalu dipenuhi dengan pesta-pora. Di awal cerita, ingin diberitahu bahwa latar belakang kenapa dia bisa jadi pengusaha sukses. 

Oscar Schindler jeli melihat keadaan. Dia pebisnis ulung, dia bisa memanfaatkan situasi perang di Eropa menjadi profit. Pengusaha asal Cekoslovakia ini berhasil menjadi kaya dari perusahaan peralatan perang. Dari usahanya inilah, ketergantungan Jerman akan peralatan perang yg dibuatnya terlihat.

Dan dari sinilah dia berkenalan dengan petinggi-petinggi militer Jerman. Dengan bermodalkan koneksi, dia justru bisa menyelamatkan warga Yahudi dari kepunahan atas penindasan tentara Jerman.

Sebenarnya usahanya untuk menyelematkan warga Yahudi dari pembunuhan massal tidak direncanakannya dari awal. Semua berjalan secara normal adanya. Awalnya, dia hanya memperkerjakan Itzhak Stern sebagai asisten pribadinya yang setia. Tapi dari sinilah awal penyelamatannya dilakukan. 


FIlm Enemy at The Gates (2001)


SutradaraJean-Jacques Annaud
ProduserJean-Jacques Annaud
John D. Schofield
PenulisJean-Jacques Annaud
Alain Godard
BerdasarkanEnemy at the Gates: The Battle for Stalingrad
karya William Craig
PemeranJoseph Fiennes
Rachel Weisz
Jude Law
Bob Hoskins
Ed Harris
Ron Perlman
MusikJames Horner
SinematografiRobert Fraisse
PenyuntingNoëlle Boisson
Humphrey Dixon
Perusahaan
produksi
Mandalay Pictures
Repérage Films
DistributorParamount Pictures
Tanggal rilis
16 Maret 2001
Durasi
131 menit
NegaraPerancis
Germany
United Kingdom
Ireland
United States
BahasaInggris
Jerman
Rusia
Enemy at the Gates adalah sebuah film yang disutradarai oleh Jean-Jacques Annaud pada tahun 2001, dan diadaptasi dari sebuah buku yang ditulis oleh William Craig yang menceritakan kejadian-kejadian dan peristiwa-peristiwa sekitar Perang Dunia II. Seorang penembak jitu bernama Vasily Zaitsev dari kubu Uni Soviet melawan rival Jermannya, Mayor Heinz Thorvald, pada Pertempuran Stalingrad, 1942.

Sniper asal Rusia bernama Vassili Zaitsev mengintai dan mengikuti tentara Jerman, membawa mereka keluar satu per satu, sehingga menyakiti moral para tentara Jerman. Petugas politik Danilov membawanya pada penerbitan usahanya untuk memberikan bangsanya harapan.

Akan tetapi Vassili akhirnya mulai merasa bahwa ia tidak bisa hidup sampai dengan harapan datang pada dirinya. Dia dan Danilov jatuh cinta dengan gadis yang sama, Tanya, yang merupakan seorang tentara wanita. Jerman datang sniper induk König untuk mengakhiri perang luar biasa terampil para sniper asal Rusia.

Judul film ini diambil dari buku non fiksi karangan William Craig yang berjudul Enemy at the Gates: The Battle for Stalingrad (1973). Pemain film Enemy at the Gates ini adalah Jude Law, Joseph Fiennes, Rachel Weisz, Bob Hoskins, Ed Harris, Ron Perlman, Eva Mattes, dan Gabriel Thomson.

Film Hati Merdeka (2011)


SutradaraYadi Sugandi
Conor Allyn
PenulisConor Allyn
Rob Allyn
PemeranLukman Sardi
Donny Alamsyah
Darius Sinathrya
Teuku Rifnu Wikana
Rahayu Saraswati
Ranggani Puspandya
Astri Nurdin
Michael Bell
Aldy Zulfikar
Nugie
Agung Udijana
DistributorMedia Desa Indonesia
Margate House
Tanggal rilis
9 Juni 2011
Durasi
100 menit
NegaraBendera Indonesia Indonesia

Sinopsis

Setelah menyelesaikan misi yang berakhir tragis dengan kehilangan anggota kelompok ini, kesetiaan kelompok ini kembali diuji dengan mundurnya pimpinan mereka, Amir (Lukman Sardi) dari Angkatan Darat. Tanpa pemimpin dan dengan dirundung kesedihan karena kehilangan mereka, para kadet membawa dendam mereka dalam perjalanan misi mereka ke Bali tempat Dayan yang bisu (T. Rifnu Wikana) tinggal, untuk membalas dendam kepada Belanda. Mereka dikirim ke Bali untuk membunuh Kolonel Raymer (Michael Bell, aktor berbakat dari Inggris yang meninggal April lalu), yang telah membunuh keluarga Tomas (Donny Alamsyah) di awal trilogi ini. 

Tomas telah dipilih sebagai pemimpin baru dari kelompok kadet ini. Menghadapi meriam kapal perang Belanda, Marius yang playboy dan peminum (Darius Sinathrya) harus mengatasi rasa takutnya karena persaingannya dengan Tomas untuk memperebutkan Senja, seorang gadis berdarah biru (Rahayu Saraswati).

Sesampainya di Bali, kelompok taruna ini menyelamatkan Dayu (Ranggani Puspandya) dari kekejaman kelompok milisi KNIL Kolonel Raymer, tetapi salah satu dari kelompok kadet ini hampir saja mati terbunuh. Saat teman mereka sedang berjuang antara hidup dan mati, kelompok kadet ini bertemu dengan pemimpin pemberontak bawah tanah Wayan Suta (Nugie). Tomas bentrok dengan pimpinan mereka terdahulu, Amir (Lukman Sardi) saat mereka merencanakan serangan terakhir untuk melawan milisi Raymer yang menimbulkan pertanyaan: Sejauh mana revolusi ini bisa menghancurkan kejahatan dan tetap mempertahankan idealismenya?


Film November 1828 (1979)


SutradaraTeguh Karya
ProduserInterstudio
Gemini Film
Satria Film
Garuda Film
PenulisTeguh Karya
PemeranSlamet Rahardjo
Rachmat Hidayat
El Manik
Yenny Rachman
Maruli Sitompul
Sardono W. Kusumo
Sunarti Rendra
MusikFrankie Raden
Sardono W. Kusumo
Slamet Rahardjo
SinematografiTantra Suryadi
PenyuntingTantra Suryadi
Durasi
140 menit
NegaraIndonesia

Sinopsis

Film ini menceritakan tentang sebuah kelompok penduduk desa di Jawa yang memberontak melawan pemerintahan penjajahan Hindia Belanda. Film ini mengandung tema loyalitas dan pengkhianatan.
Jalinan kisah November 1828 ini dimulai ketika Kapten van der Borst, disertai pasukannya, berusaha mengorek informasi tentang lokasi persembunyian Sentot Prawirodirdjo, tangan kanan Pangeran Diponegoro. Jayengwirono, seorang demang gila jabatan, memberitahukan bahwa Kromoludirolah yang mengetahui informasi tersebut. Kromoludiro pun ditangkap, ditawan di rumahnya sendiri, dan dengan berbagai upaya dipaksa membuka mulut.

Sepanjang proses interogasi dan mata rantai peristiwa yang ditimbulkannya, terlihat bahwa dibalik konflik antara Belanda dan rakyat Jawa ini sebenarnya berkecamuk konflik internal yang tak kalah dahsyat dalam diri tokoh-tokohnya. Film ini mengingatkan bahwa permusuhan atau sikap agresif berlebihan terhadap orang lain seringkali merupakan ungkapan yang tak disadari dari ketegangan dalam diri orang itu sendiri.

Hal kontras yang menarik juga diperlihatkan dalam sosok Kapten de Borst dan Letnan van Aken. Kapten de Borst pada film ini banyak disulut oleh ambisi pribadi. Ia gerah karena perwira lain yang lebih muda dari dia, ternyata sudah meraih pangkat lebih tinggi. Alasannya karena ia merasa mereka orang Belanda tulen, dan van Aken hanya seorang Indo. Sebaliknya, Letnan van Aken, yang juga seorang Indo, diam-diam bersimpati terhadap rakyat Jawa, dan menolak untuk menghalalkan segala cara.

Kalau dicermati, pihak-pihak yang berkonflik secara frontal adalah para bawahan. Para atasan -- dalam hal ini Belanda dan Pangeran Diponegoro -- hanya berada di latar belakang. Di pihak Belanda, sebenarnya bahkan tidak ada orang Belanda; hanya ada sejumlah perwira Indo dan yang lainnya adalah prajurit bayaran. Pangeran Diponegoro sendiri hanya diperbincangkan; yang muncul di layar adalah orang kepercayaannya, Sentot Prawirodirjo. Itu pun ia ditampilkan dalam citra mesianis: muncul pada detik-detik terakhir untuk memetik hasil perjuangan gotong-royong.