Showing posts with label Info Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Info Sejarah. Show all posts

Swingjugend pecinta jazz dan swing Era Nazi Jerman


Harian Sejarah - Swingjugend adalah sekelompok pecinta jazz dan swing di Jerman pada tahun 1930an, terutama di Hamburg dan Berlin. Mereka terdiri dari anak laki-laki yang berusia 14 sampai 21 tahun dan perempuan di sekolah menengah atas, kebanyakan dari mereka adalah siswa kelas menengah atau atas, juga beberapa pekerja magang. 

Mereka mengagumi cara hidup Inggris dan Amerika, mendefinisikan diri mereka melalui musik swing dan menentang ideologi Nasional-Sosialis, terutama yang digaungkan oleh Pemuda Hitler (Jerman: Hitlerjugend). Nama Swingjugend adalah parodi dari banyak kelompok pemuda yang diorganisir oleh Nazi, seperti Hitlerjugend. Kaum muda juga menyebut diri mereka sebagai Swings atau Swingheinis ("Swingity"); Anggota mereka seringkali disebut "Swing-Boy", "Swing-Girl" atau "Old-Hot-Boy".

Selama rezim Nazi , semua pemuda Arya di Jerman (usia 10 sampai 17 tahun) didorong untuk bergabung dengan Pemuda Hitler (HJ) dan Liga Pemudi Jerman (BDM). Pemimpin organisasi ini menyadari bahwa mereka harus menawarkan atraksi tarian di bidang sosial untuk merekrut anggota baru. Alih-alih mengadopsi tarian swing populer (karena dipandang merosot dan terkait dengan "jazz terkutuk"), mereka beralih ke tarian komunitas Jerman yang baru. 

Hal ini terbukti tidak berhasil, karena alih-alih merangkul hiburan Remaja Hitler, gadis-gadis dan anak laki-laki kota memadati tarian swing. Hal ini dapat dijumpai terutama di kota Hamburg. Remaja ini dikenal sebagai Swing-Heinis, sebuah nama yang disebut pihak berwenang. Swingjugend menjuluki Pemuda Hitler sebagai "Pemuda Homo" sementara Liga Pemudi Jerman disebut "Kasur Tentara." 

Swingjugend menggunakan kecintaan mereka akan music swing dan jazz untuk menciptakan budaya subkultur mereka dengan seorang mantan Swing Kid Frederich Ritzel yang mengatakan dalam sebuah wawancara pada tahun 1985: "Segala sesuatu untuk kita adalah dunia yang sangat merindukan, kehidupan Barat, demokrasi - segalanya terhubung - dan terhubung melalui jazz."


Swing Kids menari-nari di tempat pribadi, klub, ruang sewaan, dan yang lebih penting lagi, Café Heinze. Remaja ini berpakaian sedikit berbeda dari yang lain yang menentang swing  Sebagai contoh, anak laki-laki menambahkan sedikit corak Inggris pada pakaian mereka dengan topi homburg, menata rambut mereka, dan menempelkan pin Union Jack pada jaket mereka. 

Selain itu, sebagai cerminan Anglophilia mereka, "anak laki-laki Swing" suka membawa payung apapun cuacanya dan pipa. Anak perempuan memakai rok pendek, lipstik dan cat kuku bekas pakai, dan rambut panjang yang terurai ke bawah, bukan menggunakan kain kuas atau gulungan bergaya Jerman. 

Kegembiraan gadis Swing "untuk mengenakan model rambut mereka yang melengkung dan untuk merias dengan banyak make-up adalah penolakan terhadap selera dan mode rezim Nazi seperti di Third Reich," tampilan alami "tanpa make up dan rambut yang dikepang adalah gaya yang disukai wanita karena rasanya lebih "Jermanik."


Musik jazz menyinggung ideologi Nazi, karena sering dilakukan oleh orang kulit hitam dan sejumlah musisi Yahudi. Mereka menyebutnya "Musik Negro" (bahasa Jerman: Negermusik), "musik yang merosot" -digabungkan secara paralel dengan "seni merosot" (bahasa Jerman: entartete Kunst). Selain itu, teks lagu menentang ideologi Nazi, mempromosikan permisif seksual atau cinta kebebasan. Meskipun demikian, tidak semua jazz dilarang di Jerman pada saat itu. 

Swing Kids mendefinisikan budaya kontra, yang ditunjukkan dengan pakaian dan musik mereka. Perilakunya, yang digambarkan oleh banyak Nazi, sangat bertentangan dengan militerisme spartan yang oleh rezim dikembangkan di masa mudanya. 

Mereka menyelenggarakan festival tari dan kontes dan mengundang band-band jazz. Peristiwa ini merupakan kesempatan untuk mengejek Nazi, militer dan Hitlerjugend- yang terkenal dengan" Swing Heil! ", Mengejek Sieg Heil yang terkenal itu. Swing Kids mengenakan model rambut panjang dan topi, membawa payung dan bertemu di kafe atau klub. Mereka mengembangkan sebuah jargon yang kebanyakan bercorak anglicisms.

Swingjugend adalah Anglophiles hebat yang lebih suka mendengarkan "musik Inggris" (yaitu swing Amerika dan musik jazz) dan suka berpakaian dengan "gaya Inggris". 

Meskipun mereka bukan oposisi politik yang terorganisir, seluruh budaya Swing Kids berkembang menjadi penolakan keras terhadap tatanan sipil dan budaya Sosialisme Nasional.

Anggota Swingjugend menentang Jerman dan polisi, partai dan kebijakannya, dinas kerja dan militer Hitlerjugend, dan menentang, atau setidaknya acuh tak acuh terhadap perang yang sedang berlangsung. Mereka melihat mekanisme Sosialisme Nasional sebagai "kewajiban massal". Petualangan terbesar sepanjang masa membuat mereka acuh tak acuh; Sebaliknya, mereka merindukan segala sesuatu yang bukan dalam nuansa Jerman, tetapi Inggris.

Dari tahun 1941, represi kekerasan oleh Gestapo dan Hitlerjugend membentuk semangat politik pemuda Swing. Juga, dengan perintah polisi, orang-orang di bawah 21 dilarang pergi ke bar dansa, yang mendorong gerakan tersebut untuk mencari kelangsungan hidupnya dalam keadaan sembunyi-sembunyi.


Resimentasi ketat budaya pemuda di Nazi Jerman melalui Pemuda Hitler menyebabkan munculnya beberapa gerakan protes bawah tanah, di mana remaja lebih mampu menyuarakan kemerdekaan mereka. Ada gerombolan jalanan (Meuten), pemuda kelas pekerja yang meminjam unsur tradisi sosialis dan komunis untuk identitas mereka sendiri, dan ada sedikit kelompok yang memiliki motivasi politik, seperti Edelweiss Pirates (Jerman: Edelweißpiraten), yang menentang norma Hitlerjugend. Kelompok ketiga, yang terdiri dari kalangan menengah ke atas, mendasarkan demonstrasi mereka pada preferensi musik mereka, menolak musik völkisch yang disebarkan oleh partai untuk jazz Amerika, terutama swing.

Swing Kids of Hamburg berhasil mengadakan kontak dengan gerakan perlawanan terkenal lainnya, ketika tiga anggota White Rose (Jerman: Weiße Rose) mengembangkan simpati untuk Swing Kids. Tidak ditemukan kerjasama formal, meskipun kontak ini kemudian digunakan oleh Volksgerichtshof (Pengadilan Rakyat) untuk menuduh beberapa Swing Kids melakukan propaganda anarkis dan sabotase angkatan bersenjata. Pengadilan yang konsekuen, hukuman mati dan eksekusi berhasil dihindari pada akhir perang.

Pada 18 Agustus 1941, dalam operasi polisi yang brutal, lebih dari 300 Swingjugend ditangkap. Upaya melawan mereka dilakukan mulai dari memotong rambut mereka dan mengirim mereka kembali ke sekolah dalam pengawasan ketat, hingga mendeportasi para pemimpin ke kamp konsentrasi. Anak-anak diseret ke kamp konsentrasi Moringen sementara anak-anak dikirim ke Ravensbruck. 

Penangkapan massal ini mendorong kaum muda untuk melanjutkan kesadaran politik dan oposisi mereka terhadap Sosialisme Nasional. Mereka mulai menyebarkan propaganda anti-fasis. Pada bulan Januari 1943, Günter Discher, sebagai salah satu pemimpin kelompok Swing Kids, dideportasi ke kamp konsentrasi pemuda Moringen .



Penulis Anggoro Prasetyo - Mahasiswa Sejarah UI. Dapat dihubungi di 088211800912
Koleksi Foto: Anggoro Prasetyo
Editor: Imam Maulana

Penjelasan Singkat Sistem Politik Inggris Raya

Parlemen Rendah Inggris Raya. Foto: appgdrones.org.uk

Harian Sejarah - Sistem politik Inggris Raya (The British Political System) adalah salah satu sistem politik modern yang paling tua di dunia. Parlemennya disebut sebagai The Mother of Parliament yang mengindikasikan bahwa sistem politik parlemennya merupakan role-model banyak negara demokrasi modern di seluruh dunia. Inggris Raya –negara industri modern itu, secara politik dijalankan oleh dua badan besar yang disebut Parlemen Nasional dan pemerintah. 

Parlemen Nasional merupakan badan legislatif yang mewakili setiap konstituensi –daerah perwakilan di Inggris. Parlemen Nasional ini terdiri dari House of Commons (parlemen rendah) dan House of Lords (parlemen tinggi). Pada tahun 2017, Parlemen rendah terdiri dari total 650 anggota parlemen yang kesemuanya mewakili konstituensi yang berbeda-beda.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memahami sistem politik Inggris Raya adalah sistem kewilayahannya. Apa yang disebut sebagai Inggris berbeda dengan Britania Raya, pun juga berbeda dengan United Kingdom. United Kingdom adalah keseluruhan wilayah yang biasa kita sebut sebagai ‘Inggris’, wilayah ini terdiri dari daerah England atau Inggris, Wales, Scotland dan Northern Ireland. Kata Inggris yang kita anggap berarti sama dengan United Kingdom ternyata tidak benar-benar mencakup keseluruhan wilayahnya. 

Berbeda pula dengan Britania Raya yang merujuk pada daerah-daerah di British Isles yaitu England, Wales dan Scotland. Sedangkan, kata Inggris sendiri sebenarnya hanya merujuk pada England yang merupakan ‘negara bagian’ di selatan kepulauan Britania. Demikian pula, perlu diketahui bahwa bagian selatan Irlandia tidak termasuk dalam wilayah Inggris Raya, mengingat mereka merupakan sebuah republik terpisah yang mempunyai sistem politik tersendiri. 

Untuk memudahkan pemahaman, dalam penulisan ini, digunakan kata ‘Inggris Raya’ untuk merujuk pada United Kingdom. Pemahaman terhadap hal ini sangatlah penting mengingat sistem politik Inggris Raya yang mengenal wilayah konstituensi. Wilayah konstituensi ini sendiri tersebar di seluruh bagian Inggris Raya, bukan hanya Inggris. 

Wilayah konstituensi ini memegang peranan penting, karena di wilayah-wilayah inilah dilaksanakan pemilihan umum. Jika kita tinggal dan menjadi warga negara di Inggris Raya, kita akan mendapatkan hak pilih untuk mengikuti pemilihan umum di satu konstituensi ketika sudah mencapai usia dewasa. Dalam pemilihan umum ini, pada umumnya semua partai akan mengirimkan kandidat untuk menjadi perwakilan di parlemen. 

Kandidat-kandidat akan dipilih pada pemilihan umum di satu konstituensi. Biasanya akan ada sekitar lima atau lebih kandidat dari partai politik yang berbeda-beda. Pemilihan umum di Inggris Raya secara umum akan dilaksanakan setiap lima tahun –namun pada tahun 2017 dilaksanakan pemilihan umum untuk memastikan perimbangan kekuatan di parlemen.

Kandidat yang datang dari partai yang berbeda ini menjelaskan bahwa ada beberapa aliran pemikiran politik yang berbeda di Inggris. 650 anggota parlemen yang sedang menjabat pada awal 2017 ini berasal dari lima partai politik yang berbeda: Green Party, Labour Party, Liberal Democrat Party, Conservative Party dan United Kingdom Independence Party. Sesuai dengan urutannya, partai-partai ini diawali dengan sayap kiri hingga diakhiri dengan sayap kanan. 

Dalam kaitannya, dapat kita lihat bahwa Green Party merupakan partai yang paling left-winged di antara kesemuanya, disusul dengan Labour yang masih berada di sayap kiri, kemudian dengan Democrat yang berada di tengah dan selanjutnya Conservative yang cukup kanan dan UKIP  yang paling right-winged. Setiap partai juga memiliki warna yang identik dengannya: Green identik dengan warna hijau, Labour dengan warna merah, Democrat dengan warna kuning, Conservative dengan warna biru dan UKIP dengan warna ungu. 

Posisi partai-partai ini dalam kompas politik juga sangat mempengaruhi kebijakan yang mereka perkenalkan ketika menjabat. Partai-partai di sayap kiri akan lebih sosialis dalam pemikiran dan tindakan mereka, demikian pula partai di sayap kanan akan berbeda. 

Meskipun begitu, sesuai dengan kepentingan nasional, partai-partai ini juga sangat mungkin mengubah ciri kebijakannya saat diperlukan. Labour beberapa tahun sebelum ini misalnya, cukup mengambil kebijakan sayap kanan untuk mengatasi berbagai permasalahan. Demikian pula, tindakan individu dalam partai juga dapat saja berbeda dengan pemikiran partai. 

Selain berasal dari partai-partai yang telah disebutkan di atas, ada pula partai-partai nasional (National Party) misalnya Scottish National Party atau SNP. Demikian pula, ada yang disebut sebagai kandidat independen, yang terdiri dari orang-orang yang cukup populer untuk dipilih tanpa perlu bergabung dengan salah satu partai politik. 

Selain itu, ada pula sebuah partai politik unik yang tidak mempunyai kursi di parlemen, namun memiliki beberapa kandidat yang terpilih sebagai pemerintah lokal: Official Monster Raving Loony Party  -yang terdiri dari orang-orang eksentrik dengan pakaian yang luar biasa aneh dan berwarna-warni. 

Partai Politik ini muncul pada tahun 1963 dan didirikan oleh Screaming Lord Sutch, berawal dari pemikiran bahwa “bila tidak ada kandidat dari partai politik lain yang disukai, pilihlah Loony Party”. Hal ini dilakukan sebagai bentuk protes ketika tidak ada kandidat dari partai politik lain yang cukup baik, setiap suara untuk mereka disebut sebagai protest vote. Beberapa dari kandidat partai kemudian memenangi pemilihan umum lokal dan bahkan menjadi mayor. 

Dalam kaitannya dengan perimbangan kekuatan di parlemen, dapat kita ketahui bahwa pemerintah dibentuk dari perimbangan kekuatan itu. Partai yang memiliki mayoritas kursi di parlemen akan membentuk pemerintah. Dalam tahun 2017 ini, partai yang memiliki mayoritas itu adalah Conservative yang kemudian membentuk kabinet pemerintahannya di bawah perdana menteri Theresa May. 

Secara umum, ketua partai akan menduduki posisi perdana menteri ketika partai yang dipimpinnya memenangkan pemilihan umum dan mendapat perolehan suara terbesar di parlemen. Sedangkan rivalnya yang tidak mendapat cukup mayoritas kursi akan menduduki kursi oposisi dan membentuk kabinet bayangan. Kabinet bayangan ini dibentuk sebagai pengawas kebijakan pemerintah. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Leader of the Opposition akan mengawasi dengan baik Perdana Menteri, demikian pula Shadow Education Secretary akan mengeluarkan kritik terhadap Education Secretary

Semua hal ini akan dikemukakan dalam debat terbuka maupun tertutup di House of Commons yang merupakan salah satu bagian parlemen di Inggris Raya yang berkedudukan di Westminster. Di dalam debat-debat inilah pihak pemerintah akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang datang dari seluruh anggota parlemen, dan dalam waktu yang sama juga mempertahankan kebijakan yang telah dirancang oleh mereka sebelum akhirnya menjadi kebijakan lebih lanjut yang akan diperkenalkan ke publik. 

Hal ini dilakukan di parlemen mengingat sistem demokrasi yang meletakkan pemerintah di satu sisi dan pengawas pemerintah di sisi lain yang mengawasi dan dalam waktu-waktu tertentu juga harus menghentikan kebijakan. Praktik semacam ini mungkin terlihat sangat agresif, namun demikianlah bagaimana sistem politik di Inggris Raya berjalan –supaya setiap suara didengar di parlemen.

Lalu, ada pertanyaan yang mungkin tersisa dari penjelasan tentang mayoritas suara. Pertanyaan tentang apa yang terjadi bila tidak satu pun partai yang mendapat mayoritas suara pada pemilihan umum. Bila hal ini terjadi, partai dengan suara terbanyak biasanya akan membentuk koalisi. Hal ini terjadi pada tahun 2010 di mana konservatif memenangi pemilihan umum, namun tidak mendapat mayoritas kursi. 

Dengan demikian, partai konservatif membentuk koalisi dengan Liberal Democrat dan membentuk kabinet pemerintah bersama dengan mereka. Demikian pula, ini adalah hal yang direncanakan Labour pada tahun-tahun ini dengan membentuk koalisi bersama beberapa partai untuk mempersiapkan pertempuran pada pemilihan umum berikutnya. Pada tahun 2017 ini, Partai Konservatif memiliki sedikit mayoritas kursi sehingga mereka dapat menjalankan pemerintahan, meskipun dengan serangan dari berbagai sisinya.

Demikian, sistem politik nasional juga dibantu oleh sistem politik lokal yang terdiri dari council yang dipimpin oleh seorang councillor. Dalam ranah yang lebih besar, kita juga mengenal ward yang terdiri dari bebera council dan dipimpin oleh seorang mayor. Di London sendiri, terdapat lebih dari tiga puluh council dan merupakan satu ward tersendiri yang dipimpin oleh seorang Mayor of London yang berkedudukan di London Assembly. Demikianlah sistem politik Inggris Raya yang mempertahankan Inggris selama berabad-abad hingga tetap mempertahankan posisinya sebagai negara besar di tengah aksi Brexit yang mereka lakukan demi memisahkan diri dari Uni Eropa. 


Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Childs, David. 2012. Britain since 1945: A Political History. London: Penguin.
Butler, David. 1995. British General Election since 1945. London: Tanpa Penerbit.
Gill. 2017. Introduction to the British Politics. London: Engvids. 

White Rose, Pirates Edelweiss, dan Gerakan Pemuda Anti Nazi


Harian Sejarah - Gerakan White Rose mungkin yang paling terkenal di antara gerakan perlawanan sipil yang berkembang di Jerman di bawah rezim Nazi. Namun beberapa anggotanya harus membayar harga yang mengerikan untuk pendirian mereka melawan sistem tersebut.

Gerakan White Rose terdiri dari mahasiswa Universitas Munich. Anggota yang paling terkenal adalah Hans dan Sophie Scholl. Anggota White Rose secara sembunyi-sembunyi membagikan selebaran anti-Nazi dan anti-perang dan di tengah upaya mereka yang semakin gencar, mereka ditangkap Nazi Jerman adalah negara kepolisian. Entah itu benar atau tidak, orang percaya bahwa informan ada dimana-mana.

Untuk menjaga kerahasiaan, keanggotaan gerakan White Rose sangat kecil sehingga lebih mudah untuk menghasilkan selebaran anti-perang yang juga dianggap anti-Nazi. Apa yang ada di dalamnya sangat berbahaya. Jika mereka ditangkap, mereka akan dikenai tuduhan pengkhianatan dengan konsekuensi yang tak terelakkan. Itulah sebabnya kelompok tersebut harus dijaga sangat kecil — setiap orang saling mengenal dan masing-masing yakin akan kesetiaan semua orang dalam kelompok tersebut.

Grafiti yang digambar oleh White Rose. Foto: Koleksi Anggoro. P

White Rose aktif antara bulan Juni 1942 dan Februari 1943. Pada waktu itu mereka membuat enam selebaran anti-perang dan anti-Nazi yang disebarkan di depan umum. Anggotanya juga terlibat dalam kampanye graffiti di Munich.

Salah satu selebaran yang berjudul "Perlawanan Pasif terhadap Sosialisme Nasional" menyatakan:
"Banyak, mungkin sebagian besar pembaca dari selebaran ini tidak melihat dengan jelas bagaimana mereka bisa mempraktikkan oposisi yang efektif. Mereka tidak melihat ada jalan yang terbuka untuk mereka. Kami ingin mencoba menunjukkan kepada mereka bahwa setiap orang berada dalam posisi untuk berkontribusi pada penggulingan sistem. 

Hal itu bisa dilakukan hanya dengan kerja sama antara banyak orang yang yakin dan energik — orang-orang yang setuju dengan cara yang harus mereka gunakan. Kami tidak memiliki banyak pilihan mengenai sarana. Satu-satunya yang tersedia adalah resistansi pasif. Makna dan tujuan perlawanan pasif adalah menggulingkan Sosialisme Nasional, dan dalam perjuangan ini kita tidak boleh mundur dari segala arah, apapun tindakannya, apapun sifatnya. 

Kemenangan fasis Jerman dalam perang ini akan memiliki konsekuensi mengerikan yang tak terukur. Kami tidak bisa memberikan cetak biru untuk tindakannya kepada setiap orang, kami hanya bisa menyarankannya secara umum.

Sabotase di pabrik persenjataan dan industri perang, di semua pertemuan, demonstrasi dan organisasi Partai Sosialis Nasional ............... Oleh karena semua kenalan Anda tentang keputusasaan perang ini .................. dan mendesak mereka untuk bersikap pasif."

Selebaran lainnya disebut "Kepada Sesama Pejuang dalam Perlawanan", yang ditulis pada bulan Februari 1943, setelah kekalahan Jerman di Stalingrad.

"Hari perhitungan telah datang - perhitungan kaum muda Jerman terhadap tirani paling kejam yang harus dipaksakan oleh orang-orang kita. Kami tumbuh dalam keadaan di mana semua kebebasan berekspresi dan berpendapat ditekan tanpa ampun. Pemuda Hitler, SA, SS. Semuanya telah mencoba untuk memberi obat kepada kami, untuk membuat resimen kami pada tahun-tahun paling menjanjikan dalam kehidupan kami. 

Bagi kami hanya ada satu slogan: bertarung melawan partai. Nama Jerman tidak terhormat sepanjang masa jika pemuda Jerman pada akhirnya tidak bangkit, membalas dendam, menghancurkan para penyiksa. Mahasiswa! Orang-orang Jerman melihat kita. "

Hari terakhir Sophie. Foto: Koleksi Anggoro. P

Saat brosur dibuka di Universitas Munich, Hans dan Sophie Scholl ditangkap oleh Gestapo. Mereka telah membagikan banyak selebaran White Rose yang mereka bawa. Namun, Sophie dan Hans menyadari bahwa mereka tidak membagikan semuanya. 

Karena begitu banyak masalah yang harus ditanggung untuk menghasilkan selebaran ini, mereka akan memastikan bahwa semuanya terdistribusikan. Mereka terlihat melemparkan selebaran di sekitar atrium universitas oleh seorang penjaga bernama Jakob Schmid dan melaporkan hal ini pada Gestapo. Hal ini terjadi pada 18 Februari 1943. Scholl secara harfiah membawa semua bukti yang dibutuhkan oleh Gestapo.

Baik Hans dan Sophie mengakui tanggung jawab penuh mereka dalam upaya untuk mengakhiri segala bentuk interogasi yang mungkin dapat memaksa mereka membeberkan anggota gerakan lainnya. Namun, Gestapo menolak untuk percaya bahwa hanya dua orang yang terlibat dan setelah diinterogasi lebih lanjut, mereka mendapatkan nama semua orang yang terlibat yang kemudian ditangkap.

Sophie, Hans dan Christoph Probst adalah orang pertama yang dibawa ke hadapan Pengadilan Rakyat pada tanggal 22 Februari 1943. Pengadilan Rakyat didirikan pada tanggal 24 April 1934 untuk mengadili kasus-kasus yang dianggap sebagai pelanggaran politik terhadap rezim Nazi.

Bagaimanapun, persidangan ini tidak lain dirancang untuk menjatuhkan dan mempermalukan. Mungkin dengan harapan penghinaan publik semacam itu akan menunda orang lain yang mungkin berpikir dengan cara yang sama sebagaimana mereka yang seolah dijatuhi kutukan. Ketiganya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati dengan dipancung. Eksekusi dilangsungkan pada hari yang sama.

Percobaan lebih lanjut terjadi pada tanggal 19 April dan 13 Juli 1943 ketika anggota White Rose lainnya dibawa ke hadapan Pengadilan Rakyat. Tidak semuanya dieksekusi. Uji coba ketiga (13 Juli) tidak dipimpin oleh Roland Freisler yang terkenal dan saksi utama —juga diadili (Gisela Schertling)— menarik bukti bahwa dia telah memberikannya saat diinterogasi. Akibatnya, hakim membebaskan semua orang yang diadili hari itu dengan pengecualian satu, Josef Soehngen, yang diberi hukuman enam bulan penjara.

Sebelum Perang Dunia II di Eropa berakhir, selebaran terakhir yang diproduksi oleh White Rose diselundupkan keluar dari Jerman dan diserahkan kepada Sekutu yang sedang maju. Mereka mencetak jutaan salinannya dan menjatuhkannya ke seluruh negeri.


Berikut tokoh-tokoh penting dalam gerakan rahasia White Rose: Hans Scholl, Sophie Scholl, Professor Dr. Kurt Huber, Christoph Probst, Alexander Schmorell, Willi Graff

WHITE ROSE Kelompok mahasiswa anti-Nazi yang terbentuk di Munich pada tahun 1942. Tidak seperti para konspirator yang terlibat dalam Plot 20 Juli (1944) atau peserta di kelompok pemuda seperti Edelweiss Pirates, para anggota White Rose menganjurkan perlawanan tanpa kekerasan sebagai alat untuk melawan rezim Nazi.

Tiga anggota pendiri kelompok tersebut —Hans Scholl, Willi Graf, dan Alexander Schmorell— adalah mahasiswa kedokteran di Universitas Munich. Sementara di Front Timur, trio tersebut mengamati pembunuhan warga sipil Yahudi oleh pasukan SS. 

Ketika mereka kembali ke Munich, ketiganya bergabung dengan siswa lain —termasuk saudara perempuan Hans Sophie— untuk mendiskusikan perlawanan mereka terhadap rezim Nazi. Dengan menggabungkan idealisme muda dengan pengetahuan yang mengesankan tentang sastra Jerman dan ajaran agama Kristen, para siswa menerbitkan kepercayaan mereka dalam serangkaian selebaran dengan nama "The White Rose" (dan kemudian sebagai "Leaflet of the Resistance").

Selebaran pertama, yang diterbitkan pada bulan Juni 1942, dikutip secara bebas dari karya Friedrich Schiller dan Johann Wolfgang von Goethe, dan menganjurkan perlawanan pasif terhadap usaha perang Nazi. Esai White Rose pertama diakhiri dengan pernyataan tersebut, "Jangan lupa bahwa setiap negara layak mendapatkan pemerintah yang dihadapinya." 

Dengan menggunakan alamat yang diperoleh dari sebuah buku telepon, selebaran dikirimkan ke individu di seluruh Munich. Lima selebaran selanjutnya menyusul selama delapan bulan ke depan, dan Gestapo semakin khawatir dengan potensi ancaman yang ditimbulkannya. Pada awal 1943, anggota White Rose menyebarkan selebaran dengan tangan, dan mereka memulai kampanye grafiti anti-Nazi, melukis "Kebebasan" dan "Turunkan Hitler" di bangunan-bangunan di seluruh Munich.

Makam Hans Scholl dan Sophie Scholl

Tindakan tersebut meningkatkan risiko yang dihadapi oleh mahasiswa, dan pada tanggal 18 Februari 1943, seorang anggota partai Nazi mengamati Hans dan Sophie melemparkan selebaran dari gedung kelas Universitas Munich. Mereka ditangkap hari itu juga, dan sebuah penyelidikan berhasil Christoph Probst, seorang mahasiswa kedokteran Universitas Munich, di White Rose. Scholls dan Probst dengan cepat diadili, dan ketiganya dipancung pada tanggal 22 Februari 1943.

Pada bulan-bulan berikutnya, puluhan lainnya dipenjara karena keterkaitan mereka (nyata atau imajiner mereka) dengan White Rose, dan beberapa diantaranya, termasuk Graf dan Schmorell, dieksekusi.

Pirates Edelweiss. Foto: Koleksi Anggoro. P

PIRATES EDELWEISS (Bahasa Jerman: Edelweißpiraten) adalah kelompok pemuda yang menentang peraturan Nazi. Pirates Edelweiss terutama menentang cara Pemuda Hitler yang telah mengambil alih kehidupan kaum muda di Jerman. Sulit untuk memberikan tanggal pasti kapan Pirates Edelweiss pertama kali dimulai namun pada tahun 1936 keanggotaan gerakan Pemuda Hitler dijadikan wajib dan sejarawan cenderung menggunakan tanggal ini sebagai awal dari 'Pirates'. 

Perompak Edelweiss bukanlah gerakan yang spesifik, melainkan sebuah asosiasi dari sejumlah gerakan pemuda yang berkembang di Jerman Barat sebagai tanggapan terhadap resimen Nazi menilai pemuda. Perompak Edelweiss secara diametris berlawanan dengan gerakan Pemuda Hitler, yang dijalankan dengan jalur kuasi-militer. Mereka bebas mengekspresikan apa yang mereka pikirkan. Sementara anak laki-laki dan perempuan dipisahkan secara ketat dalam gerakan Pemuda Hitler, Edelweiss Pirates mendorong hal yang sebaliknya.

Sebagian besar kota di Jerman Barat memiliki beberapa bentuk kelompok Edelweiss Pirates, meskipun beberapa tidak menggunakan judulnya. Di Köln (Cologne), misalnya, mereka dikenal sebagai 'Navajos'. Beberapa sifat menghubungkan semua kelompok. Ada keberatan umum terhadap cara Nazi yang ingin mengendalikan kehidupan para pemuda di Jerman. Anggota Pirates Edelweiss akan memiliki pendidikan yang dikendalikan oleh Nazi saat mereka di sekolah (wajib belajar berakhir pada usia 14). 

Di bawah 14 tahun, waktu malam yang mereka miliki secara efektif juga dikendalikan. Jika seseorang berusia 13 tahun pada saat Hitler menjadi kanselir pada bulan Januari 1933, mereka akan mengalami satu tahun silabus pendidikan Nazi dengan semua yang terkait dengannya sebelum mereka dapat meninggalkan sekolah. Pada tahun 1937, ketika berusia 17 tahun — usia wajib militer. 

Sejak orang tersebut meninggalkan sekolah hingga saat ini, seorang pemuda akan menerima surat panggilan mereka, karena akan ada upaya Nazi untuk mengendalikan kehidupan orang tersebut. Meskipun merupakan persepsi umum bahwa setiap orang berada di bawah kendali Nazi dan bahwa polisi rahasia memiliki informan di mana-mana, jelas bahwa kota-kota besar memang memiliki bagian komunitas pemuda yang tidak puas. Orang-orang muda inilah yang membentuk kelompok Edelweiss Pirate. Pada dasarnya, mereka anti-otoritas dan tidak konformis.

Mereka juga menawarkan cara hidup di luar rezim Nazi yang mencekik. Anggota Pirates Edelweiss menentang pembatasan pergerakan dengan melakukan hiking dan berkemah. Sementara dalam perjalanan ini mereka memiliki cukup kebebasan untuk menyanyikan lagu yang dilarang oleh lagu blues atau jazz Nazi — terutama 'merosot' yang telah disaring dari Perancis. Mereka bisa saja membuka diskusi mengenai topik-topik yang dilarang di kota-kota dan informan mana yang pasti bisa didengar.

Antara tahun 1936 dan September 1939, pihak berwenang Nazi melihat Pirates Edelweiss sedikit lebih dari sekadar iritasi berskala kecil. Namun, sikap berubah selama Perang Dunia II ketika pihak berwenang percaya bahwa Pirates Edelweiss bertanggung jawab untuk mengumpulkan selebaran propaganda anti-Nazi yang dijatuhkan oleh Komando Bomber Inggris pada awal perang dan memasangnya melalui surat-surat. Hal ini dipandang lebih dari sekadar iritasi; dan itu digolongkan sebagai subversi yang terang-terangan.

Pada bulan Juli 1943 , pemimpin Partai Nazi di Dusseldorf menghubungi Gestapo dengan pandangan mereka terhadap kelompok Edelweiss setempat. Surat tersebut menyatakan bahwa "geng" itu "memberat bebannya" dan bahwa "riff-raff" mewakili "bahaya bagi orang muda lainnya". Diklaim bahwa kelompok kota tertentu ini memiliki rentang usia 12 sampai 17 dan anggota tentara yang terkait dengan mereka saat mereka cuti. Para pemimpin kota Dusseldorf juga percaya bahwa kelompok Edelweiss setempat bertanggung jawab atas grafiti anti-Hitler dan anti-perang di kereta bawah tanah. Namun, jelas dinyatakan bahwa ini hanya kecurigaan.

Bahkan saat itu, hukuman bagi orang-orang yang tertangkap tidak begitu drastis seperti yang diperkirakan selama perlakuan Nazi Jerman terhadap orang-orang subversif dewasa. Pihak berwenang tahu bahwa anggota Pirates Edelweiss membanggakan diri pada penampilan mereka dalam artian sangat non-militeristik. 

Hukuman standar bagi siapa pun yang tertangkap adalah membuat kepala mereka dicukur sehingga penampilan mereka yang lebih bohemian berubah menjadi model tentara. Namun, aktivitas Pirates tidak membuat dirinya senang dengan Heinrich Himmler yang mengharuskan semua orang Jerman untuk taat sepenuhnya. Dia memerintahkan sebuah tindakan keras terhadap semua pemuda yang tampaknya gagal dalam kesetiaan total mereka terhadap Hitler dan negara Nazi.

Dalam sebuah surat dari Himmler kepada Reinhard Heydrich (Januari 1942), Kepala SS menulis bahwa pendekatan setengah terukur terhadap kelompok pemuda mana pun yang gagal menunjukkan kesetiaan total tidak dapat diterima dan bahwa anggota kelompok semacam itu harus ditangani sesuai dengan itu. Himmler mengatakan kepada Heydrich bahwa kamp kerja tidak sesuai. Mereka harus dikirim ke kamp konsentrasi selama antara "2 sampai 3 tahun". Himmler tidak membedakan antara pemuda dan "gadis tak berharga".

"Di sana pemuda pertama-tama harus diberi gejolak dan kemudian menjalani latihan berat dan mulai bekerja. Harus dijelaskan bahwa mereka tidak akan pernah diizinkan untuk kembali ke studi mereka. Kita harus menyelidiki berapa banyak dorongan yang mereka dapatkan dari orang tua mereka. Jika mereka mendorong mereka, maka mereka juga harus dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi dan harta benda mereka disita.” (Hitler's Germany oleh Jane Jenkins).

Himmler juga menasihati Heydrich bahwa dia harus turun tangan "secara brutal" untuk menghentikan penyebaran lebih lanjut kelompok pemuda yang tidak puas. Seiring perang berlanjut dan posisi Nazi menjadi lebih genting, Himmler memerintahkan tindakan keras yang lebih brutal. Pada November 1944, tiga belas pemuda digantung di Cologne dan enam di antaranya pernah menjadi anggota Pirates Edelweiss.

Tulisan oleh Anggoro Prasetyo - Mahasiswa Sejarah UI. Dapat dihubungi di 088211800912

Kelahiran dan Pengertian Nasionalisme


Harian Sejarah - Nasionalisme merupakan konsep yang muncul di Barat sejak abad ke-17. Pada abad ini, Inggris muncul sebagai bangsa yang disegani dan dianggap mampu memimin Eropa. Pada abad ini juga merupakan masa dimana pergerakan sosial begitu masif dalam perjuangan kemerdekaan, kemerdekaan individu dan kemerdekaan berpikir serta berpendapat.

Seperti apa yang kita ketahui bahwa pelopor Nasionalisme adalah John Locke, filsuf yang lahir pada 29 Agustus 1632. John Lock menekankan pada pemikirannya tentang kemerdekaan individu, kemuliaan dan kebahagiaan yang merupakan unsur dari hak asasi manusia dari kehidupan manusia.

Dalam perkembangannya, gerakan sosial di Inggris memengaruhi pula bangsa Perancis. Nasionalisme yang berkembang di Perancis dipengaruhi oleh renaisans yang menginginkan kebebasan dari pengawasan gereja. Pelopor Nasionalisme Perancis adalah J.J. Rousseau yang berpendapat bahwa masyarakat politik sejati hanya bisa didasarkan atas sifat-sifat luhur warganya dan cintanya kepada tanah air. 

Puncak gerakan nasionalisme terjadi pada awal abad ke-20 yang muncul dari semangat kemerdekaan, keinginan bebas dari penjajahan, humanisme, dan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme yang muncul di Asia dan Afrika.

Ada beberapa pengertian tentang nasionalisme, antara lain nasionalisme bisa dipahami sebagai bersatunya sekelompok individu dengan individu lain karena adanya dorongan kemauan dan kebutuhan psikis. Dorongan yang lain adalah kesatuan perasaan dan perangai yang muncul karena adanya persamaan nasib. Nasionalisme mengarah pada upaya pembentukan negara. Oleh karena itu, nasionalisme juga berarti kesetiaan tertinggi seorang individu yang diberikan kepada negara dan bangsanya.

Dengan demikian kita mengetahui bahwa Nasionalisme berkaitan dengan eksistensi sebuah kelompok atau bangsa dan adanya keinginan untuk bersatu meskipun beragam perbedaan ada di antara mereka. Keinginan itu biasanya muncul ketika adanya tekanan dari bangsa lain dalam bentuk penjajahan atau kolonialisme. 

Secara politis Nasionalisme adalah gerakan yang berusaha menghancurkan kolonialisme untuk membangun negara bangsa yang merdeka. Gerakan itu semakin efektif saat didukung oleh adanya perasaan senasib sependeritaan dan kesadaran kebangsaan dari warganya. Nasonalisme juga merupakan cara untuk mencintai tanah kelahiran, bangsanya, dan kewarganegaraan yang mengikat pada diri seseorang.


Melihat Museum Nasional Angkatan Udara A.S.

Museum Nasional Angkatan Udara A.S. di Dayton, Ohio adalah museum penerbangan terbesar di dunia. 

Harian Sejarah - Pangkalan Angkatan Udara Wright-Patterson di Dayton, Ohio, adalah rumah bagi Museum Nasional Angkatan Udara Amerika Serikat yang merupakan museum penerbangan tertua dan terbesar di dunia. Museum ini berkembang selama bertahun-tahun, dari awal yang ukurannya sederhana di sebuah sudut kecil satu hanggar pada tahun 1923 menjadi fasilitas modern yang modern dan besar di tanah seluas 400 hektar.

An aerial view of the museum.
Pemandangan museum dari udara. Foto: hwarfarehistorynetwork.com

Selama 87 tahun terakhir, museum ini telah mengakuisisi lebih dari 69.000 artefak, dan lebih dari 6.000 di antaranya dipamerkan untuk umum. Kecuali beberapa pesawat yang terlihat di luar ruangan, hampir semuanya ditampilkan dengan jelas di dalam hanggar ber-AC, termasuk 400 atau lebih pesawat terbang dan rudal, memorabilia pribadi, dan barang-barang yang sangat penting secara historis.

Galeri Museum

DAYTON, Ohio -- Early Years Gallery at the National Museum of the United States Air Force. (U.S. Air Force photo)
Galeri "kekuatan udara" museum mengabadikan momen penting, kampanye militer, dan orang-orang dari kekuatan udara Angkatan Udara A.S. di Front Pasifik dan Eropa. Foto: hwarfarehistorynetwork.com

Pengunjung disambut di pintu masuk ke masing-masing galeri oleh salah satu relawan museum yang sangat membantu dan berpengetahuan luas. Banyak relawan adalah veteran perang yang telah terbang atau bertugas sebagai anggota awak pesawat yang dipajang.

Hal yang paling manarik dari museum ini adalah galeri Perang Dunia II dengan pesawat-pesawat yang digunakan selama selama pertempuran di pelbagai front. Pameran dimulai dengan Pearl Harbor pada tahun 1941 dan terus berlanjut sampai pelepasan bom atom di langit di atas Jepang.

Unggulan dalam daftar yang tak terhitung jumlahnya adalah kelompok terkenal seperti Flying Tigers, Tuskegee Airmen, dan Doolittle Raiders yang mempersiapkan pemogokan bersejarah mereka melawan Jepang pada tahun 1942, bersamaan dengan medali pribadi dua ace teratas Amerika, Mayor Richard I. Bong dan Major Thomas B. Maguire Jr.

Restoration begins on the B-17F “Memphis Belle.”
B-17F “Memphis Belle." Foto: hwarfarehistorynetwork.com

Pesawat Perang Dunia II lainnya yang dipamerkan termasuk B-24, P-47 Thunderbolt, P-38 Lightning, dan Messerschmitt  262 yang sangat langka, merupakan pesawat jet tempur produksi pertama di dunia dalam pertempuran. Galeri itu diakhiri dengan B-29 "Bock's Car." B-29 ini yang menjatuhkan bom atom di Nagasaki pada tahun 1945.

Pengunjung juga dapat melihat koleksi pesawat tempur era sebelum Perang Dunia II, seperti balon tempur abad ke-18 yang beradi di galeri "The Early YearsI." Disini juga terdapat pesawat-pesawat Perang Dunia I yang telah direkondisi seperti Spad, DeHavilland, dan Fokker

Tata Letak Museum

A Mitsubishi A62M Zero is a popular exhibit in the Air Power Gallery.
Mitsubishi A62M Zero. Foto: hwarfarehistorynetwork.com

Ada hanggar yang menampilkan penggunaan kekuatan udara selama Perang Korea, Perang Vietnam dan Perang Dingin. Keunggulan Amerika dalam eksplorasi luar angkasa juga dipamerkan (ditambah dengan koleksi rudal balistik Titan I dan II, Thor dan Jupiter). Pesawat kepresidenan bersejarah, penghormatan kepada Bob Hope, dan sebuah peringatan kamp konsentrasi yang dapat dilihat di lapangan museum.

Di museum ini terdapat Teater IMAX, kafe, dan toko suvenir yang lengkap melengkapi fasilitasnya. Anda mungkin tidak dapat memahami atau mendapatkan pengetahuan menyeluruh tentang penerbangan di museum ini jika hanya melihat-lihat selama beberapa jam. Bagi anda yang minat seputar penerbangan mungkin dapat berkunjung dan menghabiskan waktu selama dua hari untuk memahami isi museum ini.

Sumber: Edmond Holcombe. 15 Maret 2017. The National Museum of the U.S. Air Force


Sparta dan Athena, Siapa Pasukan yang Lebih Kuat?

Ilustrasi: Pinterest

Harian Sejarah - Sparta dan Athena memiliki banyak kesamaan dalam hal organisasi kemasyarakatan, struktur pemerintahan, penilaian, serta pandangan terhadap perempuan. Namun, dalam bidang militer dapat dikatakan mereka memiliki perbedaan yang unik. Inilah beberapa perbedaan kekuatan antara tentara Athena dan Sparta.

1. Fokus Utama Militer Sparta Berada di Angkatan Darat

Ilustrasi Tentara Sparta dalam Film "300". Foto: Onnit

Aspek paling khas dan otentik dari masyarakat Sparta adalah militernya. Dengan kata lain, seluruh kota-kota Sparta berfokus untuk memperkuat pasukan tentaranya. Dalam kehidupan masyarakat dikenal istilah "tentara darat" yang terdiri dari seluruh laki-leki sparta yang menjadi tentara terlatih yang dipersenjatai dengan tombak panjang, prisai, dan baju lapis baja yang dikenal sebagai hoplites. Sejak usia 7 tahun, anak-anak Sparta akan dilatih menjadi tentara dan mendapatkan pendidikan yang keras untuk memperkuat fisik dan mental merek.

Setiap hoplite harus melalui sistem pendidikan yang dikenal sebagai "agoge", yang melibatkan pelatihan di padang gurun atau di barak. Tak jarang mereka harus berhadapan dengan cuaca yang ekstrim atau bertarung dengan binatang buas sejak kecil. Hal tersebut menjadi suatu pembiasaan bagi masyarakat Sparta agar mengenal beratnya kehidupan. Hasil dari pendidikan tersebut membuat masyarakat Sparta memiliki kekuatan secara fisik dan mental, serta menjadi prajurit paling kuat di Yunani Kuno.

2. Athena Terkenal dengan Kehebatan Angkatan Lautnya

Berbeda dengan Sparta, orang Atena memusatkan perhatian pada pembangunan kekuatan angkatan laut. Selama tahun-tahun peperangan, dominasi Athena di laut terus berkembang. Kekuatan laut Athena tumbuh dengan cepat dalam jumlah armada kapal dan kekuatan pasukannya yang terkenal dalam menghadapi segala kondisi cuaca di  lautan. Kekuatan laut tersebut membuat Athena menjadi saingan terberat Sparta adu kekuatan militer.

Karena dominasi laut, Athena menguasai wilayah laut yang luas serta banyak "polis" Yunani (negara kota). Apa yang membedakan angkatan laut Athena dari Sparta dan lainnya adalah Triremes, sebuah kapal revolusioner saat itu. Trireme dianggap sebagai perkembangan kapal perang sebelumnya yang disebut dengan :"bireme." Trimes lebih efisien dan kuat di medan perang laut.

Ilustrasi Trireme Kapal Perang Kuno Athena. Sumber: Pinterest

Trireme terdiri dari 170 oarsmen, tentara, pelaut dan kapten. Karena keganasannya dalam pertempuran dan paruh (ujung lancip di depan kapal) serudukan perunggu di bagian depan, Trireme jauh di depan dalam kecepatan dan manuver dibandingkan dengan kapal lainnya.

3. Sparta Memiliki Helot

Helot sedang berkebun. Foto: Pinterest

Sparta memiliki masyarakat berbasis militer yang merupakan budak dari Messenia yang dikenal sebagai helots, yang harus dikendalikan dan dilatih oleh orang Sparta. Karena banyaknya helots, Orang Sparta harus mengawasi mereka secara teratur. Pengawasan dilakukan dengan teror oleh Sparta untuk memastikan tidak terjadi pemberontakan.

Untuk meneror tentara helot, orang-orang Sparta memiliki organisasi mereka sendiri yang dikenal sebagai "krypteia" yang akan melakukan pekerjaan sebagai polisi rahasia dan pasukan keamanan negara yang tujuannya adalah untuk meneror para budak helot.

Ketika sudah siap, terlatih, terorganisir dan taat, helots siap bertempur. Meskipun mereka dianggap sebagai prajurit rendahan karena status budak mereka, ada banyak catatan yang membuktikan bahwa helots merupakan pasukan yang hebat.

4. Kehebatan Teknologi Angkatan Laut Anthena

Ilustrasi Pertempuran Salamis. Foto: ancientfacts.net

Dibandingkan dengan Sparta hanya menguatkan kekuatan militer untuk pertahanan, Athena mengembangkan kekuatan militernya untuk merebut hegemoni di Mediterania dengan pengembangan teknologi dan pemanfaatan sumber daya alam. Pada puncaknya, Athena memiliki beberapa mesin militer paling canggih, terutama peralatan militer laut.

Dengan sokongan kapal perangnya, orang Atena berada dalam posisi terkuat untuk menguasai seluruh sumber daya di seluruh Mediterranian Timur. Terlebih lagi, kekuatan ekonomi Athehan yang memumpuni. Penguasaan sumber daya alam membuat Athena memiliki banyak persediaan kayu, yang memungkinkan mereka menghasilkan banyak armada kapal dan berkualitas tinggi.


Kekuatan Athenai dibuktikan ketika Panglima Perang Athena Themistocles meramalkan bahwa "kayu akan menyelamatkan kota Athena" ketika invasi Xerxes ke Yunani. Armada Angkatan Laut Athena berhasil mengalahkan armada Persia jumlahnya sangat besar dengan kekuatan kapal perang Athena yang kecil dalam segi jumlah dan ukuran dalam pertempuran di Teluk Salamis. Hal ini membuktikan betapa tak tersentuhnya angkatan laut Athena.

Kutipan Pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945

Presiden Sukarno saat melawat ke Amerika Serikat 1950an. Foto: Kepustakaan Presiden Perpusnas

Harian Sejarah - Kedepannya setiap tanggal 1 Juni kita akan memperingati Hari Lahir Pancasila sebagai peringatan dan hari libur nasional. Hal tersebut dipertegas oleh pemerintah dalam Peraturan Presiden (Perpres) No 24 Tahun 2016 Tentang Hari Lahir Pancasila. 

Hari lahir Pancasila mengacu pada sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 29 Mei-1 Juni 1945. Pada hari itu Muhammad Yamin, Soepomo, kemudian Sukarno memaparkan gagasan mengenai dasar negara..


Istilah Pancasila baru diperkenalkan oleh Sukarno dalam pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945. Tetapi masih ada proses selanjutnya yakni menjadi Piagam Jakarta (Jakarta Charter) pada 22 Juni 1945 dan juga penetapan Undang-undang Dasar yang juga finalisasi Pancasila pada 18 Agustus 1945.

"Berikut ini kutipan pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945"

...Kesinilah kita semua harus menuju: mendirikan satu Nationale staat, diatas kesatuan bumi Indonesia dari Ujung Sumatera sampai ke Irian. Saya yakin tidak ada satu golongan diatara tuan-tuan yang tidak mufakat, baik Islam maupun golongan yang dinamakan „golongan kebangsaan". Kesinilah kita harus menuju semuanya.

Saudara-saudara, jangan orang mengira bahwa tiap-tiap negara merdeka adalah satu nationale staat! Bukan Pruisen, bukan Beieren, bukan Sakssen adalah nationale staat, tetapi seluruh Jermanialah satu nationale staat. Bukan bagian kecil-kecil, bukan Venetia, bukan Lombardia, tetapi seluruh Italialah, yaitu seluruh semenanjung di Laut Tengah, yang diutara dibatasi pegunungan Alpen, adalah nationale staat. Bukan Benggala, bukan Punjab, bukan Bihar dan Orissa, tetapi seluruh segi-tiga Indialah nanti harus menjadi nationale staat.

Demikian pula bukan semua negeri-negeri di tanah air kita yang merdeka di jaman dahulu, adalah nationale staat. Kita hanya 2 kali mengalami nationale staat, yaitu di jaman Sri Wijaya dan di zaman Majapahit. Di luar dari itu kita tidak mengalami nationale staat. Saya berkata dengan penuh hormat kepada kita punya raja-raja dahulu, saya berkata dengan beribu-ribu hormat kepada Sultan Agung Hanyokrokoesoemo, bahwa Mataram, meskipun merdeka, bukan nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Prabu Siliwangi di Pajajaran, saya berkata, bahwa kerajaannya bukan nationale staat. Dengan persaan hormat kepada Prabu Sultan Agung Tirtayasa, berkata, bahwa kerajaannya di Banten, meskipun merdeka, bukan satu nationale staat. Dengan perasaan hormat kepada Sultan Hasanoedin di Sulawesi yang telah membentuk kerajaan Bugis, saya berkata, bahwa tanah Bugis yang merdeka itu bukan nationale staat.

Nationale staat hanya Indonesia  seluruhnya,  yang telah berdiri dijaman Sri Wijaya dan Majapahit dan yang kini pula kita harus dirikan bersama-sama. Karena itu, jikalau tuan-tuan terima baik, marilah kita mengambil sebagai dasar Negara yang pertama: Kebangsaan Indonesia . Kebangsaan Indonesia yang bulat! Bukan kebangsaan Jawa,
bukan kebangsaan Sumatera, bukan kebangsaan Borneo, Sulawesi, Bali, atau lain- lain,tetapi k e b a n g s a a n  I n d o n e s i a, yang bersama-sama menjadi dasar satu nationale staat.

Maaf, Tuan Lim Koen Hian, Tuan tidak mau akan kebangsaan? Di dalam pidato Tuan, waktu ditanya sekali lagi oleh Paduka Tuan fuku-Kaityoo, Tuan menjawab: „Saya tidak mau akan kebangsaan".

Lim Koen Hian: Bukan begitu. Ada sambungannya lagi.

Soekarno : Kalau begitu, maaf, dan saya mengucapkan terima kasih, karena tuan Lim Koen Hian pun menyetujui dasar kebangsaan. Saya tahu, banyak juga orang-orang Tionghoa klasik yang tidak mau akan dasar kebangsaan, karena mereka memeluk faham kosmopolitisme, yang mengatakan tidak ada kebangsaan, tidak ada bangsa. Bangsa Tionghoa dahulu banyak yang kena penyakit kosmopolitisme, sehingga mereka berkata bahwa tidak ada bangsa
Tionghoa, tidak ada bangsa Nippon, tidak ada bangsa India, tidak ada bangsa Arab, tetapi semuanya „menschheid",„peri kemanusiaan". Tetapi Dr. Sun Yat Sen bangkit, memberi pengajaran kepada rakyat Tionghoa, bahwa  a d a         kebangsaan Tionghoa! Saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku sekolah H.B.S. diSurabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosialis yang bernama A. Baars, yang memberi pelajaran
kepada saya, - katanya: jangan berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia, jangan mempunyai rasa kebangsan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 17. Tetapi pada tahun 1918, alhamdulillah, ada orang lain yang memperingatkan saya, - ialah Dr SunYat Sen! Di dalam tulisannya „San Min Chu I" atau „The Three
People’s Principles", saya mendapat pelajaran yang membongkar kosmopolitisme yang diajarkan oleh A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan, oleh pengaruh „The Three People"s Principles" itu.

Maka oleh karena itu, jikalau seluruh bangsa Tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai penganjurnya, yakinlah, bahwa Bung Karno juga seorang Indonesia yang dengan perasaan hormat-sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada Dr. Sun Yat Sen, - sampai masuk kelobang kubur.        (Anggauta-anggauta Tionghoa bertepuk tangan).

Saudara-saudara. Tetapi ........  tetapi ........... memang prinsip kebangsaan ini ada BAHAYANYA! Bahayanya ialah mungkin orang meruncingkan nasionalisme menjadi chauvinisme, sehingga berfaham „Indonesia uber Alles". Inilah
bahayanya! Kita cinta tanah air yang satu, merasa berbangsa yang satu, mempunyai bahasa yang satu. Tetapi Tanah Air kita Indonesia hanya satu bahagian kecil saja dari pada dunia! Ingatlah akan hal ini!

Gandhi berkata: „Saya seorang nasionalis, tetapi kebangsaan saya adalah perikemanusiaan „My nationalism is humanity". Kebangsaan      yang kita anjurkan bukan kebangsaan yang menyendiri, bukan chauvinisme, sebagai dikobar-kobarkan orang di Eropah, yang mengatakan„Deutschland uber Alles", tidak ada yang setinggi Jermania, yang katanya, bangsanya minulyo, berambut jagung dan bermata biru, „bangsa Aria", yang dianggapnya tertinggi diatas dunia, sedang bangsa lain-lain tidak ada harganya. Jangan kita berdiri di atas azas demikian, Tuan-tuan, jangan berkata, bahwa bangsa Indonesialah yang terbagus dan termulya, serta meremehkan bangsa lain. Kita harus menuju persatuan dunia, persaudaraan dunia.

Kita bukan saja harus mendirikan negara Indonesia Merdeka, tetapi kita harus menuju pula  kepada kekeluargaan bangsa-bangsa. Justru inilah prinsip saya yang kedua. Inilah filosofisch principe yang nomor dua, yang
saya usulkan kepada Tuan-tuan, yang boleh saya namakan „internasionalisme".

Tetapi jikalau saya katakan internasionalisme, bukanlah saya bermaksud  kosmopolitisme, yang tidak mau adanya kebangsaan, yang mengatakan tidak ada Indonesia, tidak ada Nippon, tidak ada Birma, tidak ada Inggris, tidak ada Amerika, dan lain-lainnya.

Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman- sarinya internasionalisme. Jadi, dua hal ini, saudara-saudara, prinsip 1 dan prinsip 2, yang pertama-tama saya usulkan kepada tuan-tuan sekalian, adalah bergandengan erat satu sama lain.

Kemudian, apakah dasar yang ke-3? Dasar itu ialah dasar mufakat, dasar perwakilan, dasar permusyawaratan. Negara Indonesia bukan satu negara untuk satu orang, bukan satu negara untuk satu golongan, walaupun golongan kaya. Tetapi kita mendirikan negara „semua buat semua", „satu buat semua, semua buat satu". Saya yakin syarat terkuat untuk Indonesia adalah permusyawaratan perwakilan.

Untuk pihak Islam, inilah tempat yang terbaik untuk memelihara agama. Kita, sayapun, adalah orang Islam, -- maaf beribu-ribu maaf, keislaman saya jauh belum sempurna,  -- tetapi kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan melihat saya punya hati, tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam.

Dan hati Islam Bung karno ini, ingin membela Islam dalam mufakat, dalam permusyawaratan. Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat.

Apa-apa yang belum memuaskan, kita bicarakan di dalam permusyawaratan. Badan perwakilan, inilah tempat kita untuk mengemukakan tuntutan-tuntutan Islam. Disinilah kita usulkan kepada pemimpin-pemimpin rakyat, apa-apa yang kita rasa perlu bagi perbaikan. Jikalau memang kita rakyat Islam, marilah kita bekerja sehebat-hebatnya,
agar-supaya sebagian yang terbesar dari pada kursi-kursi badan perwakilan Rakyat yang kita adakan, diduduki oleh utusan Islam.Jikalau memang rakyat Indonesia rakyat yang bagian besarnya rakyat Islam, dan jikalau memang Islam disini agama yang hidup berkobar-kobar didalam kalangan rakyat, marilah kita pemimpin-pemimpin menggerakkan segenap rakyat itu, agar supaya mengerahkan sebanyak mungkin utusan- utusan Islam ke dalam badan perwakilan ini. Ibaratnya badan perwakilan Rakyat 100 orang anggautanya, marilah kita bekerja, bekerja sekeras-kerasnya, agar supaya 60,70, 80, 90 utusan yang duduk dalam perwakilan rakyat ini orang Islam, pemuka-pemuka Islam. dengan sendirinya hukum-hukum yang keluar dari badan perwakilan rakyat itu, hukum Islam pula. Malahan saya yakin, jikalau hal  yang demikian itu nyata terjadi, barulah boleh dikatakan bahwa agama Islam benar-benar  h i d u p  di dalam jiwa rakyat, sehingga 60%, 70%, 80%, 90% utusan adalah orang Islam, pemuka-pemuka Islam,
ulama-ulama Islam. Maka saya berkata, baru jikalau demikian, baru jikalau demikian, Hiduplah Islam Indonesia, dan bukan Islam yang hanya diatas bibirsaja. Kita berkata, 90% dari pada kita beragama Islam, tetapi lihatlah didalam sidang ini berapa % yang memberikan suaranya kepada Islam? Maaf seribu maaf, saya tanya hal itu! Bagi saya hal
itu adalah satu bukti, bahwa Islam belum hidup sehidup-hidupnya di dalam kalangan rakyat. Oleh karena itu, saya minta kepada saudara-saudara sekalian, baik yang bukan Islam, maupun terutama yang Islam, setujuilah prinsip nomor 3 ini, yaitu prinsip permusyawaratan, perwakilan.

Dalam perwakilan nanti ada perjoangan sehebat-hebatnya. Tidak ada satu staat yang hidup betul-betul hidup, jikalau di dalam badan-perwakilannya tidak seakan-akan bergolak mendidih kawah Candradimuka, kalau tidak ada perjoangan faham di dalamnya. Baik di dalam staat Islam, maupun di dalam staat Kristen, perjoangan selamanya ada. Terimalah prinsip nomor 3, prinsip mufakat, prinsip perwakilan rakyat!

Di dalam perwakilan rakyat saudara-saudara islam dan saudara-saudara kristen bekerjalah sehebat- hebatnya. Kalau misalnya orang Kristen ingin bahwa tiap-tiap letter di dalam peraturan-peraturan negara Indonesia harus menurut Injil, bekerjalah mati- matian, agar suapaya sebagian besar dari pada utusan-utusan yang masuk badan
perwakilan Indonesia ialah orang kristen, itu adil,       - fair play!. Tidak ada satu negara boleh dikatakan negara hidup, kalau tidak ada perjoangan di dalamnya. Jangan kira di Turki tidak ada perjoangan. Jangan kira dalam negara Nippon tidak ada pergeseran pikiran. Allah subhanahuwa Ta’ala memberi pikiran kepada kita, agar supaya dalam
pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, seakan-akan menumbuk membersihkan gabah, supaya keluar dari padanya beras, dan beras akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah saudara-saudara, prinsip nomor 3, yaitu prinsip permusyawaratan

Prinsip No. 4 sekarang saya usulkan, Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu, yaitu prinsip  Kesejahteraan , prinsip ketidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka.  Saya katakan tadi: prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: nationalism, democracy,  sosialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyat sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang-pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, saudara- saudara? Jangan saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negra-negara Eropah adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire democracy. Tetapi tidakkah
di Eropah justru kaum kapitalis merajalela?

Di Amerika ada suatu badan perwakilan rakyat, dan tidakkah di Amerika kaum kapitalis merajalela? Tidakkah di seluruh benua Barat kaum kapitalis merajalela? Padahal ada badan perwakilan rakyat! Tak lain tak bukan sebabnya, ialah oleh karena badan- badan perwakilan rakyat yang diadakan disana itu, sekedar menurut resepnya Franche
Revolutie. Tak lain tak bukan adalah yang dinamakan democratie disana itu hanyalah  politik demokrasi saja; semata-mata tidak ada sociale rechtvaardigheid, -- tak ada keadilan sosial,  tidak ada ekonomi demokrasi sama sekali.

Saudara-saudara, saya ingat akan kalimat seorang pemimpin Perancis, Jean Jaures, yang menggambarkan politieke democratie. „Di dalam Parlementaire Democratie, kata Jean Jaures, di dalam Parlementaire Democratie, tiap-tiap orang mempunyai hak sama. Hak p o l i t i e k  yang sama, tiap orang boleh memilih, tiap-tiap orang boleh masuk di dalam parlement. Tetapi adakah Sociale rechtvaardigheid, adakah kenyataan kesejahteraan di kalangan rakyat?"  Maka oleh karena itu Jean Jaures berkata lagi:  „Wakil kaum buruh yang  mempunyai hak  p o l i t i e k  itu, di dalam Parlement dapat menjatuhkan minister.

Ia seperti Raja! Tetapi di dalam dia punya tempat bekerja, di dalam paberik,  - sekarang ia menjatuhkan minister, besok dia dapat dilempar keluar ke jalan raya, dibikin werkloos, tidak dapat makan suatu apa".

Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki? Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni  p o l i ti e k - e c o m i s c h e democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial!  Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu          Adil? Yang dimakksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian,
menciptakan dunia-baru yang di dalamnya a d a keadilan di bawah pimpinan Ratu Adil.

Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan  p o l i t i e k,  saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan  e k o n o m i kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya.

Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang      bersama dengan masyarakat dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid.

Kita akan bicarakan hal-hal ini bersama-sama,saudara-saudara, di dalam badan permusyawaratan. Saya ulangi lagi, segala hal akan kita selesaikan, segala hal! Juga di dalam urusan kepada negara, saya terus terang, saya tidak akan memilih monarchie. Apa sebab? Oleh karena monarchie „vooronderstelt erfelijkheid",  - turun-temurun. Saya
seorang Islam, saya demokrat karena saya orang Islam, saya meng-hendaki mufakat, maka saya minta supaya tiap-tiap kepala negara pun dipilih. Tidakkah agama Islam mengatakan bahwa kepala-kepala negara, baik kalif, maupun Amirul mu’minin, harus dipilih oleh Rakyat? Tiap-tiap kali kita mengadakan kepala negara, kita pilih. Jikalau
pada suatu hari Ki Bagus Hadikoesoemo misalnya, menjadi kepala negara Indonesia, dan mangkat, meninggal dunia, jangan anaknya Ki Hadikoesoemo dengan sendirinya, dengan automatis menjadi pengganti Ki Hadikoesoemo. Maka oleh karena itu saya tidak mufakat kepada prinsip monarchie itu.

Saudara-saudara, apakah prinsip ke-5? Saya telah mengemukakan 4 prinsip:

1. Kebangsaan Indonesia.
2. Internasionalisme,  -  atau peri-kemanusiaan.
3. Mufakat,   - atau demukrasi.
4. Kesejahteraan sosial.

Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.

Prinsip  K e t u h a n a n ! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad s.a.w., orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada „egoisme-agama".

Dan hendaknya  N e g a r a  Indonesia satu  N e g a r a          yang bertuhan! Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam, maupun Kristen, dengan cara yang be r k e a d a b a n . Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat menghormati satu sama lain. (Tepuk tangan sebagian hadlirin).

Nabi Muhammad s.a.w. telah memberi bukti yang cukup tentang verdraagzaamheid, tentang menghormati agama- agama lain. Nabi Isa pun telah menunjukkan verdraagzaamheid. Marilah kita di dalam Indonesia Merdeka yang kita susun ini, sesuai dengan itu, menyatakan: bahwa prinsip kelima dari pada Negara kita, ialah  Ketuhanan yang Berkebudayaan , Ketuanan yang berbudi pekerti yang luhur, Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain. Hatiku akan berpesta raya, jikalau saudara-saudara menyetujui bahwa Negara Indonesia Merdeka berazaskan Ketuhanan Yang Maha Esa!

Disinilah, dalam pangkuan azas yang kelima inilah, saudara- saudara, segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. Dan Negara kita akan bertuhan pula! Ingatlah, prinsip ketiga, permufakatan, perwakilan, disitulah tempatnya kita mempropagandakan idee kita masing-masing dengan cara yang berkebudayaan!

Saudara-saudara! „Dasar-dasar Negara" telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat disini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan d a s a r. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai Panca
Inderia. Apa lagi yang lima bilangannya?

Seorang yang hadir: Pendawa lima.

Soekarno: Pendawapun lima orangya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi - saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa namanya ialah PANCASILA.  Sila artinya  azas  atau d a s a r,
dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.
(Tepuktangan riuh).