Showing posts with label Jejak Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Jejak Sejarah. Show all posts

Sunday, January 28, 2018

Buddhisme dan Homoseksualitas: Kebijaksanaan yang Tidak Ternoda


Harian SejarahDalam arus politik belakangan, homoseksualitas adalah hal yang cukup menjadi perbincangan di kalangan luas masyarakat Indonesia. Berawal dari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia yang menolak untuk memperluas pasal tentang perzinahan, perbincangan lanjutan di berbagai forum kemudian diisi dengan pembahasan tentang homoseksualitas –ada yang mendukung keputusan MK, demikian tidak kurang yang kontra terhadapnya. 

Menjadi perhatian penulis ketika kemudian sekian banyak argumen yang muncul merujuk pada dasar ajaran agama-agama yang diakui Indonesia. “Semua agama di Indonesia menolak hubungan homoseksual”, demikian itulah kira-kira argumen yang muncul dalam forum-forum. 

Merujuk pada “semua agama” artinya membicarakan enam agama yang diakui Indonesia, yang artinya pula melibatkan Buddhisme di dalamnya. Untuk menghindari saling duga yang tidak berdasar, kemudian tulisan ini dibuat. Tulisan ini akan memberikan gambaran singkat tentang pandangan Buddhisme terhadap hubungan homoseksualitas dan meluruskan posisinya. Demikian, agar keseluruhan masyarakat Indonesia tidak terjebak dalam karma buruk kolektif dengan menggunakan Buddhisme untuk mengutuk perilaku homoseksual. 

Pandangan Buddhisme tentang hubungan homoseksual secara singkat menunjukkan sikap yang sama sekali tidak mengutuk atau menolaknya. Ajaran Buddhisme yang disusun melalui sidang pertama para Sangha hingga masa-masa selanjutnya memberikan gambaran bahwa hubungan homoseksual dipandang sama posisinya seperti hubungan lain yang di dalamnya mengandung daya tarik seksual. Dalam Buddhisme, semua daya tarik seksual diawali dari motivasi dan motivasi setiap orang –yang unik dan khusus, dihargai secara tinggi. Kecuali bila motivasi itu mencelakakan makhluk lain, baru kemudian dianggap sebagai sesuatu yang jahat. 

Dengan demikian, dengan pandangan Buddhis kemudian dapat ditanyakan apakah hubungan homoseksual atau orientasi seksual homoseks seseorang membahayakan orang lain? Apakah hubungan mereka menimbulkan korban? Ataukah hubungan mereka menyakiti makhluk lain? Bila kemudian jawabannya adalah hubungan mereka menyakiti makhluk lain, dalam pandangan Buddhis dapat dikatakan bahwa memang sebaiknya suatu hal tidak boleh menyakiti makhluk lain. Terkadang muncul pandangan bahwa perilaku homoseks dapat menular dan menyebar hingga menimbulkan "korban", lalu muncul pertanyaan selanjutnya tentang apakah anda akan berubah menjadi homoseks dengan melihat orang lain berperilaku demikian? 

Jika tidak, lalu itu berarti tidak bermasalah dan menimbulkan korban. Demikian, sekali lagi penulis tekankan bahwa Buddhisme tidak mengutuk perilaku homoseksual, kecuali itu menyakiti makhluk lain. Buddhisme memandang seorang homoseksual sebagai sebuah individu, dan ini artinya memandang heteroseksual, biseksual dan selibat dalam penghormatan yang sama dengan homoseksual. Ajahn Brahm, seorang tokoh Theravada, membabarkan bahwa sebagian besar umat Buddha di seluruh dunia modern belajar dari inspirasi bahwa Sang Buddha tentu tidak diskriminatif terhadap homoseksualitas. 

Ajaran-ajaran utama dari Buddhisme jelas menunjukkan bahwa kualitas seseorang tidak mengenai urusan apakah seorang berorientasi heteroseksual, homoseksual atau selibat yang kemudian dapat ditentukan sebagai hal yang baik atau buruk, tetapi justru mengenai bagaimana seseorang menggunakan orientasi seksual mereka untuk membuahkan karma baik atau buruk. Dengan demikian bila seorang homoseks berlaku cinta kasih dalam tutur kata dan perbuatan pada pasangan mereka, itu lebih baik dari seorang heteroseksual yang melakukan kekerasan pada pasangannya, demikian sebaliknya.

Menilik lagi lebih dalam intisari Buddhisme, dapat kita temukan tujuan sejati ajaran Buddha Sakyamuni (Siddharta Gautama), bahwa semua ajarannya adalah jalan untuk tujuan pencapaian pencerahan. Tujuan utama ini dapat kita kenali dalam Buddhisme sebagai pembebasan, terbebas dari alam samsara dan kemudian menjadi Buddha. Apakah kemudian homoseksualitas merupakan halangan mencapai tahapan Buddha? 

Hal itu ditinggalkan pada masing-masing individu. Manusia dengan orientasi heteroseksual dapat pula menemukan halangan dalam mencapai tahapan Buddha, demikian pula homoseksual, namun orientasi seksual mereka tidak diperhitungkan dalam pencapaian itu sendiri. Apa yang kemudian menjadi halangan adalah kemelekatan pada hal yang duniawi, demikian dapat disimpulkan bahwa seorang heteroseks yang melekat pada hal duniawi tidak lebih baik dari homoseks yang tidak melekat. Dalam usaha mencapai tahapan Buddha, Buddhisme sekali lagi tidak mendiskriminasi orientasi seksual termasuk homoseksual. 

Selain mencapai tahapan Buddha, ajaran Buddha juga bertujuan agar semua makhluk dapat terbebas dari kesengsaraan dan mencapai kebahagiaan. Dengan mengedepankan pandangan bahwa setiap kehidupan adalah unik dan khusus, dan dengan demikian menghargai pula seorang homoseksual yang memilih hidup untuk menjadi homoseks, Buddhisme tidak akan mengutuk perilaku itu bila dalam arti yang benar mereka menjalankan hidupnya tanpa menyakiti makhluk lain. Bila seseorang menjadi lebih bahagia dalam pilihannya untuk menjadi homoseks, lingkungannya juga hendaknya berharap untuk kebaikan dan kebahagiaannya. Demikian itulah ajaran Buddha. 

Pandangan yang selanjutnya pantas diberikan adalah tentang dosa. Buddhisme tidak melihat homoseksualitas sebagai dosa, bahkan istilah dosa itu sendiri diartikan secara berbeda dalam Buddhisme. Apa yang kira-kira dapat hampir disetarakan dengan istilah itu adalah karma buruk. Demikian itupun Buddhisme tidak melihat homoseksualitas sebagai karma buruk. 

Bahkan dalam penjelasan intelektual Buddhisme Tantrayana, Khenpo Sodargye, disebutkan bahwa perilaku homoseksual tidak akan menyebabkan suatu makhluk (manusia termasuk di dalamnya) untuk terjatuh ke dalam alam yang lebih rendah pada masa hidup berikutnya. Dengan demikian sekali lagi Buddhisme menunjukkan bahwa tidak ada sikap mengutuk dan menolak homoseksual dalam ajarannya. 

Selanjutnya penulis akan bicara tentang sila, yang akan dibahas melalui sudut pandang Buddhisme yang umum. Dalam pandangan Buddhisme umum ada yang disebut sebagai larangan terhadap sexual misconduct yang banyak diterjemahkan sebagai tindakan asusila. Tindakan sexual misconduct ini dalam pandangan Buddhis kemudian terjadi bila terdapat empat hal: orang yang tidak patut disetubuhi, niat untuk menyetubui, usaha untuk menyetubui dan keberhasilan menyetubui. Kita dapat melihat bahwa hal ini berlaku secara netral, jika kita pandang hal ini untuk diterapkan pada seorang heteroseks, dapat saja terjadi, demikian pula terhadap homoseks. 

Dengan demikian tidak ada jaminan bahwa kasus persetubuhan antara pria dan wanita tidak masuk dalam ranah sexual misconduct –demikian pula tidak ada jaminan bahwa hal demikian tidak berlaku pada hubungan homoseks. Buddhisme memang membedakan pria dan wanita secara jelas dalam hal kapasitas –untuk itu sila untuk Sangha pria berbeda dengan Sangha wanita, namun tidak memberikan pemikiran bahwa mereka harus selalu berpasangan. 

Mungkin kemudian muncul argumen lain bahwa dunia berjalan dengan sistem yang disebut sebagai keluarga –yang secara konvensional dipandang sebagai suami, istri dan keturunan mereka. Namun Buddhisme tidak melihat hal ini dalam batas pandang sesempit itu. Buddhisme lahir dari kumpulan Sangha yang tidak berkeluarga demikian pula kebudayaan dunia amat beragam sehingga tidak dapat digeneralisasi sebagai hasil dari sistem keluarga. 

Dengan demikian kehidupan setiap makhluk tidak dapat dipaksakan untuk mengikuti suatu penilaian yang dianggap umum dan digunakan untuk mendikte kehidupan seseorang –misalnya untuk memulai sebuah “keluarga” yang artinya didiktekan sebagai persatuan antara pria dan wanita yang bertugas menghasilkan keturunan. Suatu argumen yang muncul kemudian adalah bahwa hubungan heteroseks sesuai dengan alam dan dengan demikian memiliki perilaku yang berbeda –misal homoseksual, artinya adalah melawan alam dan dengan demikian melawan kehendak Yang Maha Kuasa. 

Master Zhao Hui dari Taiwan, kemudian mengatakan dalam satu pidatonya bahwa argumen ini secara langsung jatuh dalam jebakan naturalisme dalam filsafat, bahwa apa yang diberikan kepada kita oleh alam tidak selalu sempurna. Beliau memberikan contoh bahwa bila seorang anak lahir dalam kondisi cacat, namun dapat diperbaiki dalam operasi, apakah orang tuanya tidak ingin memperbaiki kecacatan anaknya? Dan demikian sama halnya melawan alam? Lalu mengapa alam kemudian tidak menghukum orang tuanya? 

Hukum alam, menurutnya, terkadang memberikan pada kita ketidakberuntungan dan kecacatan sehingga kita kemudian mempunyai pilihan untuk memperbaikinya. Ini adalah nilai dari kemanusiaan. Homoseksualitas tidak seperti sebuah kecacatan yang kemudian menghambat seseorang memperoleh kebahagiaan, tidak pula secara pasti menambah kemelekatan pada dunia yang menghambat jalan menuju pencapaian keBuddhaan. 

Melanjutkan pembahasan tentang sistem keluarga, Buddhisme tidak mempunyai standarisasi bahwa sebuah pernikahan memiliki tugas untuk menghasilkan keturunan. Pernikahan dalam Buddhisme dipandang melalui berbagai sudut pandang sehingga tidak hanya memiliki fungsi prokreasi. Dalam hal ini, Master Zhao Hui sekali lagi menyerukan agar tidak memahami pernikahan sebagai persatuan antara sperma dan sel telur. Persatuan antara dua individu akan menjadi amat baik bila dapat mendukung dua individu untuk berjuang mencapai kebenaran sejati dan pembebasan sejati. 

Buddhisme memberikan pilihan bagi individu yang ingin bersatu dengan individu lain, atau menjalani kehidupan selibat dan menjadi viharawan. Buddhisme juga memberikan pilihan individu untuk menikah atau tidak menikah dalam kultur yang mereka miliki, Buddhisme meninggalkan urusan seremonial pada masing-masing kultur sehingga tidak memaksa seseorang untuk terpaku pada seremonial Buddhis. 

Semua pilihan adalah unik dan khusus, semua kehidupan adalah unik dan khusus, semua motivasi adalah unik dan khusus, bila kesemuanya itu tidak mencelakakan makhluk lain, Buddhisme akan menghargainya. Perilaku yang tidak menciderai Dharma dan tidak menodai kebijaksaan, sekalipun itu adalah perilaku homoseksual tidak akan dikutuk dan dihujat oleh Buddhisme. 

Demikian itu pula Buddhisme hendaknya tidak dijadikan alat untuk menebarkan kebencian dan diskriminasi, yang akan membuat semua makhluk menjadi terjatuh dalam kesengsaraan lewat kebencian, kesedihan dan segala macam emosi negatif yang lainnya.

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Dalai Lama. 2014. Dalai Lama Interview on Larry King Now Ora TV 3rd of October 2014.
Ikeda, Daisaku. 1987. Buddhisme Seribu Tahun Pertama. Jakarta: Indira.
Master Zhao Hui. 2016. Public Hearing Session on the Proposed Same-Sex Marriage Bill 24th of November 2016 at the Parliament of Taiwan.
Powers, John. 1995. Introduction to Tibetan Buddhism. New York: Snow Lion Publications.
Sodargye, Khenpo. 2015. Intellectual Conversation with Professor Eyal Aviv 2nd of January 2015.
Tsongkhapa, Je. 2013. Maha-Bodhipatha-Krama (Lamrim Chenmo), Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan Jilid I. Bandung: Kadam Choeling.
_________. 2013. Maha-Bodhipatha-Krama (Lamrim Chenmo), Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan Jilid II. Bandung: Kadam Choeling.

Wednesday, January 24, 2018

Masyarakat Indonesia di Masa Eeuwwisseling


Masyarakat Indonesia selalu menjadi topik bahasan yang menarik dalam sejarah. Sejarah selalu dapat menemukan topiknya dalam celah-celah kehidupan masyarakat Indonesia. Satu episode yang amat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah masa-masa eeuwisseling. Istilah ini adalah sebuah istilah bahasa Belanda untuk menyebut masa pergantian abad. 

Tentu tidak kita lupakan dari ingatan bahwa gerakan kebangsaan Indonesia berawal dari masa ini. Pergantian dari abad ke-19 menuju abad ke-20 menunjukkan suatu perubahan sifat perjuangan kebangsaan dari fisik menjadi diplomatik dan dari kedaerahan menjadi nasional. Organisasi pergerakan kebangsaan semacam Boedi Oetomo, Sarekat Islam dan lainnya mengambil tempat di sekitaran awal abad ke-20. 

Pada titik ini pula, catatan-catatan kolonial menampakkan bahwa tanda-tanda influensi Islam yang baru akan segera menerpa Indonesia dari Kairo dan Mekkah. Gerakan ini oleh kaum Eropa dipandang sebagai gerakan modernisme Islam –yang pada masa awalnya dibabarkan oleh Syekh Mohammed Abdoe di Kairo. 

Gerakan modernisme yang dibabarkannya itu mengandung tujuan untuk mengembalikan ajaran Islam pada Qur’an dan Hadist serta menginginkan suatu pemisahan dari ajaran-ajaran yang tidak bersumber dari dua sumber ajaran Islam itu. Sedangkan dari Mekkah, ajaran yang kira-kira serupa juga dibawa oleh murid-murid Syekh Achmad Khatib dari Minangkabau. Demikianlah ajaran yang demikian itu berkembang di kalangan masyarakat bumiputra melalui para peziarah (haji) dan siswa-siswa (santri) yang belajar ke Timur Tengah. 

Influensi dari ajaran-ajaran ini secara tidak langsung juga kemudian menjadi pemicu semangat pendirian organisasi-organisasi kebangsaan yang berlandaskan keagamaan –Islam pada khususnya. Keunggulan dari organisasi semacam ini adalah pada batasan keanggotaannya –Boedi Oetomo yang dipandang masih mengandung unsur kedaerahan tentu hanya terbatas pada kalangan etnis atau suku tertentu, namun organisasi keagamaan dapat menaungi bermacam-macam etnis dan suku. Aftermath yang didapatkan dari semangat Islam modern pada masa pergantian abad ini dapat kita lihat dalam catatan sejarah. 

Organisasi-organisasi Islam turut serta dalam perjuangan kebangsaan dan pembentukan Republik Indonesia –baik itu terbebas dari pemerintah Hindia Belanda maupun pendudukan Jepang. Dorongan semangat yang oleh penulis akan disebut sebagai semangat eeuwwisseling ini sudah tentu jelas wujudnya adalah dukungan bagi kebebasan bangsa Indonesia dari tekanan kolonialis dan imperialis. 

Tidak hanya terbatas pada golongan Islam, semangat eeuwwisseling juga kemudian terlihat pada golongan lainnya –di mana pendirian berbagai organisasi dengan berbagai macam basis menjadi amat terasa dan secara langsung membuat babak baru bagi pemerintah Hindia Belanda. 

Di samping penjelasan di atas, tidak pula dapat kita lupakan bahwa semangat eeuwwisseling itu tidak hanya terbatas pada masyarakat Indonesia. Wujud dari kondisi pergantian abad itu secara lebih besar dapat kita lihat pada pecahnya Perang Dunia Pertama –eeuwwisseling selain menjadi tanda tumbuhnya semangat kebangsaan juga adalah tanda zaman ketidakpastian. 

Perang Dunia Pertama adalah wujud nyata perkembangan militerisme, imperialisme dan nasionalisme berlebih yang berkembang di antara masyarakat dan pemimpin negara-negara agresor di masa itu. Perang itu kemudian menjadi salah satu perang paling merusak di dunia dengan korban lebih dari tiga puluh juta jiwa. 

Suatu refleksi kemudian dapat kita buat dari peristiwa-peristiwa pada masa pergantian abad, bahwa sudah tidak asing lagi bila ada suatu gerakan perubahan di masa pergantian abad lainnya. Hal ini barangkali yang terlihat di Indonesia pada masa belakangan. Suatu semangat keagamaan yang kiranya baru kemudian muncul dan menjadi massif. Semangat yang demikian itu dapat saja menjadi semangat eeuwwisseling yang baru. 

Namun, perlu pula kita kemudian merefleksikan lebih dalam lagi bahwa apakah semangat itu adalah semangat membangun negeri seperti yang ditunjukkan masyarakat Indonesia di masa kolonial Hindia Belanda atau semangat itu akan mewujud pada tindakan yang merusak seperti yang digambarkan oleh Perang Dunia Pertama. Tugas sejarah adalah untuk menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat dan mengakar dalam hati masyarakat, demikian juga memberikan pukulan telak bagi ancaman-ancaman kebangsaan yang barangkali muncul dari masyarakat itu sendiri. 

Refleksi ini kemudian harusnya menjadikan kita –insan yang terus menerus belajar sejarah bangsa ini, menjadi maklum dan tidak mengalami keterkejutan yang luar biasa dalam masa pergantian abad yang sedang kita alami bersama. Akankah masa pergantian abad ini menjadi penguat persatuan masyarakat Indonesia –seperti pada masa kolonial Hindia Belanda? atau justru meninggalkan luka yang tidak terlupakan seperti Perang Dunia Pertama?

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Aveling, Harry (ed.). 1979. The Development of the Indonesian Society. St. Lucia: University of Queensland Press.
D. M. G. Koch. 1950. Om de Vrijheid: De Nationalistische Beweging in Indonesie. Jakarta: Pembangunan. 
De Jong, L. 1984. Het Koninkrijk Der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog. ‘s-Gravenhage: SDU Uitgeverij. 
Van Goor, J. 1994. De Nederlandse Kolonien, Geschiedenis van de Nederlandse Expansie, 1960-1975. ‘s-Gravenhage: SDU Uitgeverij. 
Vlekke, H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.


Wednesday, April 19, 2017

Kudeta 3 Juli 1946 'Kudeta Pertama' dalam Sejarah Indonesia

Kelompok Persatuan Perjuangan 1946. (Foto: Jakarta.go.id)

Kemerdekaan Indonesia yang belum genap setahun harus mengakami pergolakan politik yang menjurus pada perebutan kekuasaan. Pada tanggal 3 Juli 1946, terjadi peristiwa yang dilakukan oleh pendukung Tan Malaka yang berusaha merebut kekuasaan.

Percobaan perebutan kekuasaan dilatarbelakangi oleh kekecewaan simpatisan Tan Malaka yang tergabung dalam kelompok Persatuan Perjuangan terhadap keputusan Perundingan Linggarjati. Persatuan Perjuangan menganggap gagalnya Kabinet Sjahrir mewujudkan pengakuan kedaulatan Republik Indonesia seratus persen. Pengakuan wilayah Indonesia atas Sumatera, Jawa, dan Madura mengecewakan kelompok ini dan berupaya merencanakan kudeta.

Kudeta yang dilakukan bukan menjatuhkan kekuasaan Presiden Soekarno, melainkan untuk meruntuhkan Kabinet Perdana Menteri (PM) Sutan Sjahrir. Di benak beberapa politisi dan bahkan pihak tentara, kebijakan PM Sjahrir di meja diplomasi dengan Belanda sangat tidak memuaskan.

Ketegangan antara Kabinet Sjahrir dan kelompok oposisi semakin meruncing. Rencana kudeta dilancarkan kelompok Persatuan perjuangan dengan menculik anggota-anggota Kabinet Sjahrir. telah diketahui oleh pemerintah. Pemerintah memutuskan untuk meringkus kelompok Persatuan Perjuangan yang dibawahi Tan Malaka, Achmad Soebardjo dan Soekarni. Ketiganya dijebloskan ke jeruji besi pada 23 Maret 1946.

Simpatisan dan kolega Tan Malaka terutama yang berasal dari kalangan militer geram terhadap penangkapan Tan Malaka dan lainnya. Diantaranya adalah Mayjen R.P. Sudarsono maupun Kolonel Sutarto, serta A.K. Yusuf.

Mereka pun ambil langkah untuk menculik PM Sjahrir ketika singgah di Surakarta (Solo, Jawa Tengah). perintah  penculikan itu turut disertai surat tugas penangkapan yang diteken langsung oleh Kolonel Sutarto yang kala itu, bertindak sebaga Panglima Divisi IV.

Tanggal 27 Juni 1946 terjadi penculikan atas diri Perdana Menteri Sjahrir, Menteri Kemakmuran Darmawan Mangunkusumo, dan beberapa tokoh kabinet lainnya. Pada tanggal 28 Juni 1946, Presiden Soekarno menyatakan keadaan bahaya di Indonesia.
Media Massa mengabarkan kudeta yang dilakukan oleh kelompok pendukung Tan Malaka. Foto: Pinterest
Pada tanggal 29 Juni 1946 seluruh kekuasaan diserahkan kepada Presiden Sukarno. Presiden Sukarno kemudian berpidato melalui radio menuntut pembebasan Sjahrir dan menteri-menterinya.

“Ini Presidenmu! Kalau engkau cinta kepada proklamasi dan Presidenmu, engkau cinta kepada perjuangan bangsa Indonesia yang insya Allah, de jure akan diakui oleh seluruh dunia.

Tidak ada jalan kecuali. Hai, pemuda-pemudaku, kembalikanlah Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang engkau tawan di Negara Republik Indonesia yang kita cintai. Sadarlah bahwa perjuangan tidak akan berhasil dengan cara-cara kekerasan!"

Kelompok yang menculik tokoh-tokoh Kabinet Sjahrir kemudian membebaskan, meskipun demikian, usaha kudeta tetap saja terjadi.
PM Sutan Sjahrir memberikat penjelasan terhadap penculikan terhadapnya. Foto: santijehannanda.com
30 Juni dini hari, Sjahrir pun diantarkan ke Yogyakarta dan diserahkan pada para ajudan Soekarno. Tanggal 3 Juli 1946, pelaku utama kudeta, Mayor Jenderal Sudarsono datang menghadap Presiden Soekarno. Ia beserta rekan-rekannya menyodorkan empat naskah berisi maklumat kepada presiden untuk ditandatangani.

Isi dari maklumat tersebut :

  1. Presiden memberhentikan Kabinet Sjahrir.
  2. Preslden menyerahkan pimpinan politik, sosial, dan ekonomi kepada Dewan Pimpinan Politik.
  3. Presiden mengangkat 10 anggota Dewan Pimpinan Politik (yang nama-namanya tercantum dalam naskah).
  4. Presiden mengangkat 13 menteri negara (yang nama-namanya tercantum dalam naskah).

Maklumat pada hakikatnya menuntut agar pimpinan pemerintahan diserahkan kepada para pengikut kelompok Persatuan Perjuangan yang dipimpin oleh Tan Malaka. Tetapi Presiden Sukarno tidak menerima maklumat tersebut.

Pada saat itu juga Mayor Jenderal Sudarsono beserta rekannya ditangkap. Empat belas orang yang diduga terlibat dalam usaha kudeta diajukan ke depan Mahkamah Tentara Agung. Tujuh terdakwa dibebaskan dari tuntutan. Dalam persidangan pengadilan tersebut, selain Mayor Jenderal Sudarsono, Mr. Muhammad Yamin juga dipersalahkan memimpin percobaan kudeta.
Foto: santijehannanda.com
Mereka kemudian dijatuhi hukuman empat tahun. Lima terdakwa lainnya dihukum 2-3 tahun. Tetapi mereka semuanya dibebaskan dengan grasi Presiden Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1948, pada peringatan tiga tahun Kemerdekaan Indonesia.


Rujukan:  Zara, M. Yuanda. 2009. Peristiwa 3 Juli 1946 MedPress, dll

Tuesday, April 18, 2017

Inilah Salam Nasional Bangsa Indonesia


“Tangan kanan naik setinggi telinga. Jari lima bersatu. Apakah artinya itu? Negara kita telah merdeka. Suara mengguntur mengucapkan Salam Nasional: Merdeka!” 

Kutipan tersebut merupakan tata cara bagaimana melakukan Salam Nasional, "Salam Merdeka." Salam Merdeka sendiri kini jarang terdengar dalam aktifitas keseharian masyarakat Indonesia yang kalut dalam era globalisasi dunia. Salam Merdeka kini tak ubahnya pekik yang kini identik dengan salam partai-partai politik nasionalis.

Salam "Merdeka" sendiri merupakan Salam Nasional bangsa Indonesia setelah keberhasilan bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Bukan hanya sekedar salam, Salam Merdeka ini sudah ditetapkan sebagai Salam Nasional sesuai dengan putusan Maklumat Pemerintah Republik Indonesia tanggal 31 Agustus 1945, meskipun demikian Salam Nasional ini secara resmi berlaku sejak 1 September 1945.
Bung Karno mengucap "Salam Merdeka" kepada rakyat. Foto: Istimewa
Bung Karno lah yang mempopulerkan "Salam Merdeka" ini. Dalam perjalanannya menyampaikan berita kemerdekaan Indonesia, Bung Karno kerap kali membakar semangat rakyat dengan pekik "Merdeka!" Selain semboyan seperti “Sekali Merdeka Tetap Merdeka” atau “Merdeka atau Mati.”

Pada 4 September 1955 di Surabaya, Bung Karno menjelaskan filosofi dibalik Salam Nasional itu. 

"Pekik merdeka, saudara-saudara, adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imprealisme dengan tiada ikatan penjajahan sedikit pun. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional belum selesai, jangan lupa kepada pekik merdeka! Tiap-tiap kali kita berjumpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “merdeka!"
Bung Karno sedang mengajarkan Salam Nasional kepada anak-anak, Yogyakarta, 1947. Foto: Istimewa
Dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Presiden Soekarno menjelaskan ketetapan Salam Merdeka tersebut. "Aku menetapkan supaya setiap warga negara Republik memberi salam kepada orang lain dengan mengangkat tangan, membuka lebar kelima jarinya sebagai pencerminan lima dasar negara dan meneriakkan, merdeka!"

Bung Karno mengaku terinspirasi dari Nabi Muhammad. "Sebagaimana Nabi Besar Muhammad s.a.w, memperkenalkan salam untuk mempersatukan umatnya, kami pun menciptakan satu salam kebangsaan bagi bangsa Indonesia," jelas Bung Karno dalam autobiografinya.

Pasca kejatuhan Presiden Soekarno tahun 1966 dan berkuasanya rezim Orde Baru Soeharto, Salam Nasional ini tidak pernah diucapkan lagi. Proses depolitisasi dan desukarnoisme menyebabkan segala hal yang berhubungan dengan Soekarno terlupakan dan ditutupi oleh Orde Baru. Kini masyarakat umum menganggap bahwa Salam Nasional ini identik dengan slogan partai politik PNI, PDIP serta partai nasionalis lainnya.

Akan tetapi meskipun tidak dipraktekan lagi pada masa Orde Baru, Salam Nasional ini masih sah secara yuridis. Hal ini berkaitan karena tidak adanya presiden Indonesia setelah Soekarno yang mencabut Maklumat Pemerintah Republik Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 tersebut.

Untuk memperkenalkan salam merdeka ke seluruh penjuru tanah air, pemerintah pernah membuat film dokumenter. Filmnya dibuat oleh sineas Kotot Soekardi.

Berikut cuplikan videonya :


Monday, April 17, 2017

Depresi Besar Dunia 'Malaise' (1929-1939)


Depresi Besar atau zaman malaise adalah sebuah peristiwa menurunnya tingkat ekonomi secara dramatis di seluruh dunia yang mulai terjadi pada tahun 1929. Volume perdagangan internasional berkurang drastis, begitu pula dengan pendapatan perseorangan, pendapatan pajak, harga, dan keuntungan.

ota-kota besar di seluruh dunia terpukul, terutama kota yang pendapatannya bergantung pada industri berat. Kegiatan pembangunan gedung-gedung terhenti. Wilayah pedesaan yang hidup dari hasil pertanian juga tak luput terkena dampaknya karena harga produk pertanian turun 40 hingga 60 persen.

Antara 1939 dan 1944, banyak orang mendapat pekerjaan kembali karena Perang Dunia II, dan Depresi Besarpun berakhir.

Dunia barat antara tahun 1929-1939 mengalami krisis ekonomi yang terdalam dan paling lama dalam sejarah industri barat. Di Amerika Serikat, depresi ekonomi terjadi ketika jatuhnya pasar modal pada bulan Oktober 1929 di bursa saham Wall Steet yang menyebabkan hilangnya jutaan investor. Selama beberapa tahun ke depan, di AS terjadi penurunan belanja konsumsi dan investasi yang menyebabkan berkurangnya produksi barang dan meningkatnya tingkat pengangguran.

Pada tahun 1933, ketika depresi berat mencapai titik terburuk, sejumlah 13-15 juta orang Amerika menganggur dan hampir setengah dari bank di negara mengalami failed. Meskipun bantuan darurat dan pembaharuan sistem ekonomi dilakukan oleh Presiden Franklin D. Roosevelt yang dikenal dengan "New Deal" cukup membantu mengurangi efek terburuk dari depresi besar pada 1930-an

Perekonmian Amerika Serikat baru mengalami kemajuan setelah 1939, ketika Perang Dunia II yang membuat industri di Amerika melejit pesat atas permintaan pasar senjata dan bahan makanan.

Jatunya Pasar Saham "Wall Street" 1929

Ekonomi Amerika memasuki masa resesi selama musim panas 1929, ketika belanja konsumen menurun dan mengakibatkan barang-barang menumpuk, sehingga memperlambar laju produksi. Pada saat yang sama, harga saham terus mengalami kenaikan dan pada musim gugur 1939 mencapi tingkat yang tidak dapat diperkirakan. Pada 24 Oktober 1929, investor mulai menjual saham mereka secara massal.
Banyak dari anak-anak terlantar dan kelaparan karena orang tuanya tidak memiliki pekerjaan untuk membeli kebutuhan pangan. Foto: US-History.com
Pada saat itu 24 Oktober 1929, tercatat sekitar 12,8 juta saham diperdagangkan hari itu, yang kemudian dikenal sebagai "Kamis Hitam." Lima hari kemudian pada "Selasa Hitam" sekitar 16 juta saham diperdagangkan pasca gelombang kepanikan susulan melanda Wall Street. Jutaan saham berakhir tidak berharga dan para investor yang telah memberli saham "margin" (dengan uang pinjaman) disapu bersih sepenuhnya.

Sebagaimana konsumen yang menghilang di tengah jatuhnya pasar modal, penurunan pengeluaran dan investasi mendorong pabrik dan bisnis lain untuk memperlambat produksi dan konstruksi mulai memikirkan nasib karyawan mereka. Bagi mereka yang cukup beruntung untuk tetap bekerja, upah akan jatuh dan daya beli terus menurun. Banyak orang Amerika terpaksa untuk membeli secara kredit jatuh ke dalam utang.

Penggunaan standar emas dalam pertukaran mata uang membuat depresi dari Amerika Serikat menyebar hingga ke seluruh dunia, terutama Eropa

Memburuknya Depresi Ekonomi

Presiden Herbert Hoover dan para pemimpin AS lainnya memberikan jaminan bahwa krisis ekonomi akan berlalu dengan sendirinya, pada kenyataannya tidaklah demikian. Krisis ekonomi terus memburuk hingga tiga tahun ke depan. Pada tahun 1930, sekitar empat juta orang Amerika menjadi pengangguran, kemudian angka tersebut meningkat menjadi enam juta orang pada tahun 1931. Industri juga mengalami kelesuan dengan penurunan 50% produksi barang.

Garis bantuan makanan, dapur umum, dan meningkatnya jumlah tunawisma menjadi hal yang umum di kota-kota di Dunia dan Amerika. Pada tahun 1920-an, kekeringan yang melanda dunia menyebabkan petani-petani mengalami gagal panen dan tidak dapat menghasilkan kebutuhan pangan. Banyak petani yang berusaha mengatasi kebutuhan pangan mereka sendiri, sementara di tempat lain banyak orang-orang mengalami kelaparan.

Pada musim gugur tahun 1930-an, satu dari empat gelombang kekacauan perbankan dimulai. Banyak dari investor kehilangan kepercayaan solvabilitas mereka dan menutup deposito. Banyak bank yang kemudian melikuidasi pinjaman dengan tujuan melngkapi cadangan kas yang cukup bagi mereka sendiri.

Kekacauan kembali terjadi di musim semi dan musim gugur tahun 1931 dan 1932 di AS, dan pada awal tahun 1933 ribuan bank telah menutup bank mereka. Untuk menghadapi situasi tersebut, Presiden AS, Herbert Hoover mengeluarkan kebijakan untuk menunjang bank-bank yang gagal dan lembaga lainnya dengan memberikan pinjaman dari negara. Peminjamaan dari negara kepada bank-bank tersebut dimaksudkan agar mereka dapat kembali menjalankan usahanya dan mampi mempekerjakan kembali karyawan mereka.

Harapan Baru dari Franklin D. Roosevelt

Hoover, seorang Republikan yang sebelumnya menjabat sebagai sekretaris AS bidang perdagangan, percaya bahwa pemerintah seharusnya tidak langsung campur tangan dalam perekonomian dan dengan demikian tidak memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lapangan kerja atau memberikan bantuan ekonomi bagi warganya.

Pada tahun 1932, bagaimanapun, Amerika Serikat terperosok ke dalam Depresi Besar yang menyebabkan 13-15 juta orang (atau lebih dari 20 persen dari penduduk AS pada waktu itu) menjadi pengangguran. Pada pilpres selanjutnya, Franklin D. Roosevelt memenangkan kemenangan besar dalam pemilu Presiden.
Berita Tentang New Deal. Foto:slideplayer.com
Pada Hari Pengukuhan, Franklin D. Roosevelt (4 Maret 1933), setiap negara bagian AS telah memerintahkan semua bank yang tersisa untuk menutup diri pada akhir gelombang keempat kepanikan perbankan dan Departemen Keuangan AS tidak memiliki cukup uang untuk membayar semua pekerja pemerintah. Meskipun demikian, Franklin D. Roosevelt berusaha memproyeksikan energi tenang dan optimisme, ia menyatakan bahwa “satu-satunya hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri.”

Roosevelt mengambil tindakan segera untuk mengatasi kesulitan ekonomi negara itu. Kebijakn pertama mengumumkan empat hari “libur bank” di mana semua bank akan menutup sehingga Kongres AS mengesahkan undang-undang reformasi dan membuka kembali bank-bank yang bertekad melawan depresi ekonomi. Dia juga mulai menangani masyarakat secara langsung melalui radio dalam serangkaian pembicaraan dan ini disebut sebagai “obrolan perapian” Roosevelt berusaha untuk memulihkan kepercayaan publik.
Franklin D. Roosevelt bercengkrama dengan masyarakat. Foto: Britannica
Selama 100 hari jalannya pemerintahan Roosevelt, pemerintahannya mengeluarkan undang-undang yang bertujuan untuk menstabilkan produksi industri dan pertanian, menciptakan lapangan kerja dan mendorong pemulihan ekonomi. Selain itu, Roosevelt berusaha untuk mereformasi sistem keuangan, menciptakan Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) untuk melindungi rekening nasabah dan Securities and Exchange Commision (SEC) untuk meregulasi pasar saham dan mencegah pelanggaran yang menyebabkan kejatuhan pasar saham tahun 1929 lalu. Program-program yang dijalankan oleh pemerintahan F.D. Roosevelt dikenal dengan istilah "New Deal."

Jalan Sulit Menuju Pemulihan Ekonomi

Di antara program dan lembaga-lembaga New Deal yang membantu dalam pemulihan dari Depresi Besar adalah Tennessee Valley Authority (TVA), yang merupakan proyek pembangunan bendungan dan proyek listrik tenaga air untuk mengendalikan banjir dan menyediakan tenaga listrik dari Selatan ke Lembah Tennessee yang merupakan wilayah miskin dan Works Progress Administration (WPA), sebuah program penciptaan lapangan pekerjaan yang memberikan pekerjaan tetap bagi 8,5 juta orang dalam kurun waktu 1935-1943.

Setelah menunjukkan tanda-tanda awal pemulihan pada awal musim semi 1933, ekonomi terus membaik selama tiga tahun ke depan, di mana PDB riil (disesuaikan dengan inflasi) tumbuh pada tingkat rata-rata 9 persen per tahun.

Resesi tajam menghantam pada tahun 1937, disebabkan sebagian oleh keputusan Federal Reserve persyaratan untuk meningkatkan cadangan uang. Meskipun perekonomian mulai membaik kembali pada tahun 1938, kontraksi parah yang kedua dibalik banyak keuntungan dalam produksi serta lapangan kerja yang berkepanjangan.
File:Bundesarchiv Bild 119-11-19-12, Adolf Hitler bei Ortsgruppenfeier der NSDAP Rosenheim.jpg
Adolf Hitler berpidato pada tahun 1935. Foto: German Federal Archives
Depresi ekonomi dunia telah memicu munculnya gerakan-gerakan politik ekstrimis di berbagai negara di Eropa, terutama kemunculan rezim Nazi Adolf Hitler di Jerman. Agresi Jerman merambah Eropa pada tahun 1939 mengakibatkan WPA mengalihkan perhatiannyauntuk memperkuat infrastruktur militer Amerika Serikat, meskipun AS sebagai negara mempertahankan netralitasnya selama awal Perang Dunia II.

Di Kanada produksi industri negara tersebut jatuh dengan hanya mampu memproduksi 58% dari kebutuhan normal selama tahun 1929-1932. Di Eropa Inggris mengalami penurunan industri yang sangat buruk di angka 82% pada tahun 1929 yang menyebabkan pendapatan nasional Inggris turun menjadi 56%. Inggris pun mengalami masalah dengan peningkatan jumlah pengangguran yang mencapai 27 % pada tahun 1933.

Perancis mungkin menjadi negara yang tidak terlalu terdampak depresi besar ekonomi. Perancis mampu mengukir angka pertumbuhan ekonomi sebesar 4,43% selama Depresi Besar 1930 yang hanya turun 0,63% dari tahun sebelumnya. Penurunan produksi Perancis juga relatif kecil tak sampai 20% dengan penangguran yang hanya 4-5%.

Meskipun demikian, depresi di Perancis cenderung memiliki efek luas pada ekonomi lokal dan menyebabkan kerusuhan dan pembentukan Front Rakyat yang dipimpin oleh Léon Blum, pemimpin sosialis dari Serikat Pekerja Internasional Perancis yang kemudian memenangkan pemilu pada tahun 1936. Kelompok Ultra-Nasionalis cenderung meningkat, meskipun demokrasi tetap dominan hingga akhir Perang Dunia II.

Swasembada pangan yang relatif tinggi membuat Perancis hanya mengalami sedikit permasalahan pangan ketimbang negara lain di Eropa seperti Jerman dan Inggris.

Mengawali Perang Dunia II

Dengan keputusan Roosevelt untuk mendukung Inggris dan Prancis dalam perjuangan melawan Jerman dan Kekuatan Blok Sentral lainnya, manufaktur pertahanan siap melangkah, memproduksi lebih banyak dan lebih banyak pekerjaan di sektor swasta.

Ketika Jepang menyerang Pearl Harbor pada Desember 1941 dan menyebabkan deklarasi perang AS, pabrik-pabrik di negara AS kembali pada kekuatan produksi penuh. Hal tersebut memperluas produksi industri, serta wajib militer meluas mulai tahun 1942, mengurangi tingkat pengangguran di bawah tingkat sebelum depresi ekonomi.

Ketika Depresi Besar dimulai, Amerika Serikat adalah satu-satunya negara industri di dunia yang tidak memiliki asuransi atau jaminan sosial kepada warganya. Pada tahun 1935, Kongres AS meloloskan UU Jaminan Sosial, yang untuk pertama kalinya diberikan Amerika kepada pengangguran, disabilitas, dan pensiun untuk hari tua.



Janissari, Pasukan Khusus Turki Utsmani

Foto: weloveist

Janissari bisa disebut Janizary, dalam bahasa Turki, Yeniçeri yang memiliki arti "tentara baru" merupakan pasukan infantri elit milik Turki Utsmani. Mereka merupakan pasukan pengawal sultan yang paling dipercaya kekaisaran Utsmani. Pasukan ini mulai didirikan pada era Sultan Murad I (1362–1389).

Para Janissari merupakan budak yang berasal dari daerah taklukan Utsmani khususnya di wilayah Balkan. Kekaisaran Utsmani mengambil anak-anak beragama kristen yang berusia antara 8 sampai 20 tahun, mereka kemudian mengalami Islamisasi dan diberi pelatihan militer. Meskipun mereka adalah budak, mereka tetap mendapatkan bayaran yang layak dan mendapat kedudukan yang baik dalam masyarakat.

Janissari mendapat pelatihan khusu agar dapat bergerak sangat cepat ketika terjadi kekacauan. Mereka disebar di berbagai kota di Kekaisaran Turki Utsmani. Meskipun mereka secara dasar merupakan bagian dari angkatan darat, mereka juga ditempatkan dalam berbagai kapal perang Utsmani sebagai pasukan pengamanan.
Pasukan Jannisari dengan penggunaan senjata yang mereka miliki. Foto: nocookie.net
Jannisari pada awalnya dipersiapkan sebagai pasukan pemanah, dalam pertempuran jarak dekat biasa menggunakan kapak dan pedang kilijs. Dalam keadaan tidak berperang, Jannisari bisanya hanya dibekali senjata berupa pisau belati dan pedang Yatagan saat menjaga istana kerajaan, pedang Yatagan sendiri menjadi simbol dari Korps Jannisari. Pada tahun 14440-an, Jannisari mulai dipersenjatai dengan senjata api sederhana. 

"Sebagai pasukan Infanteri membawa senapan terbukti menjadikan Jannisari lebih efektif daripada pasukan kavaleri yang dilengkapi dengan pedang dan tombak. Janissari adalah prajurit penuh waktu dibayar dengan upah tunai selama kedaan perang dan damai. Dalam perang, mereka menerima bagian dari harta rampasan perang juga."

Baru pada abad ke-16, Jannisari mendapatkan modernisasi dalam persenjataan, mereka dilengkapi dan mendapatkan pelatihan penggunaan senapan. Penggunaan "trench gun" (Senapan Parit), granat tangan, dan meriam tangan menjadi hal yang umum digunakan oleh Jannisari. Ketika Jannisari terlibat dalam Perang Kreta (1645-1669), penggunaan "Pistol Abus" menjadi populer digunakan oleh Jannisari.

Korps Janissari bertahan hingga akhir abad ke-19 M, mereka menolak modernisasi militer yang dilakukan Kekaisaran Turki Utsmani. Alasan lainnya pembubaran korps ini, karena pasukan ini banyak melakukan kudeta pada sekitar abad ke-17 sampai 18 M. Salah satu kudeta yang dilakukan oleh Janissari adalah pada 15 Juni 1826, ketika 135.000 Janissari melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Sultan Mahmud. Kudeta ini gagal dan berakhir dengan banyaknya Janissari yang tewas dan dijebloskan ke penjara.

Atas pemberontakan ini, Sultan Mahmud II kemudian mengeksekusi mati sekitar 6000 Jannisari dan kemudian membubarkan pasukan ini pada tahun 1826 dan membentuk kesatuan yang lebih modern.


Monday, April 10, 2017

10 Foto Seputar Proklamasi Indonesia

Tepat 71 tahun yang lalu, Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Dilansir dari laman Brilio English, berikut merupakan 10 foto yang menggambarkan peristiwa bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Foto-foto berikut yang merupakan koleksi dari Indonesian Press Photo Service (IPPHOS) yang akan menggambarkan sekitar proklamasi 71 tahun yang lalu.

1. Alex and Frans Mendur, Fotografer IPPHOS berbicara dengan Soekarno


2. Teks Proklamasi Asli Sebelum Diketik Ulang


3. Teks Proklamasi yang Telah Diketik Sayuti Melik


4. Fatmawati Menjahit Bendera Saka Merah Putih



5. Presiden Soekarno Membacakan Teks Proklamasi


6. Presiden Soekarno Berdoa Setelah Membacakan Teks Proklamasi


7. Pengibaran Bendera Merah Putih



8. Tokoh Penting yang Hadir saat Proklamasi


9. Masyarakat Merayakan Kemerdekaan!


10. Berita Utama Surat Kabar tentang Kemerdekaan Indonesia


Salam Merdeka!