Showing posts with label Jejak Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Jejak Sejarah. Show all posts

Sunday, April 9, 2017

Istri-Istri Presiden Soekarno


Soekarno merupakan Presiden Pertama Indonesia. Selain dikaruniai bakat dalam mengolah kata-kata dan menyihir massa. Ia juga diberkati paras yang rupawan. Tak pelak ini yang membuat banyak wanita jatuh dalam pelukannya. Berikut ini adalah wanita-wanita yang terjerat hatinya oleh Bung Karno, bapak proklamasi Indonesia.

Selain sebagai proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno juga dikenal memiliki banyak istri. Tercatat ada 9 perempuan yang diakui sebagai istri sah-nya.

1. Siti Oetari (1921–1923)


Siti Oetari merupakan putri sulung H.O.S Tjokroaminoto. Saat itu Soekarno merupakan salah satu penghuni kos di rumah Tjokroaminoto di Surabaya. Perjumpaannya yang bertahun-tahun di rumah Tjokroaminoto mungkin merupakan alasan mereka bisa saling jatuh hati. Tjokroaminoto mulai melihat bahwa Bung Karno menaruh hati pada puterinya, dan bisa ditebak bahwa pernikahan antara kedua insan ini bakal dilangsungkan.

Namun kenyataan bahwa Soekarno tidak mencintai Oetari sebagaimana seorang suami mencintai istrinya. Begitu pula Oetari. Dunia pergerakan Soekarno dan dunia kanak-kanak Oetari terlalu berseberangan. Hubungan mereka pun lebih seperti kakak-adik.

Tahun 1921, Bung Karno saat itu masih berumur 20 tahun dan Oetari baru berusia 16 tahun. Sayangnya hubungan mereka berakhir singkat, tahun 1923 kedua insan ini menyatakan perceraiannya.

2. Inggit Garnasih (1923–1943)


Setelah lulus dari HBS di Surabaya, Bung Karno melanjutkan pendidikan di Technische Hooge School (THS) Bandung. Pertemuannya Sukarno dan Inggit bermula dari hubungan antara anak kos dan induk semang. Lama kelamaan Sukarno menaruh hati dengan Inggit, begitu pula sebaliknya. Kedekatan mereka diperparah dengan mulai renggangnya hubungan Sukarno dengan Oetari istrinya.

Hubungan Bung Karno dan Inggit mulai beranjak lebih jauh. Mereka menjadi lebih sering mengobrol dan terlihat mesra. Rumah tangga Inggit dengan suaminya mulai tidak harmonis. Haji Sanusi selaku sang suami mulai merasakan ada yang lain antara hubungan Sukarno dan Inggit. Ia lalu menceraikan Inggit dan merelakannya pergi ke pangkuan Sukarno. 

Pernikahan Sukarno dan Inggit terhitung lama. Tercatat pernikahan yang dilangsungkan tahun 1923 tersebut bertahan hingga hampir 20 tahun lamanya. Inggit berperan besar dalam menyokong langkah Sukarno membawa Indonesia menuju kemerdekaan. Meski demikian, pernikahan tersebut harus kandas tahun 1942.

Pernikahan Soekarno dan Inggit tidak dikaruniai anak. Tahun 1943, Soekarno menceraikan Inggit yang tak mau dimadu.

3. Fatmawati (1943–1956)

Hasil gambar untuk fatmawati dan soekarno
Sukarno dan Keluarga. Image Source

Sepak terjang Sukarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia semakin mengkhawatirkan. Terbukti dirinya diasingkan ke Bengkulu tahun 1938 oleh Belanda. Kepergian Sukarno ke tanah Bengkulu memulai kisah cinta baru. Ia yang berangkat bersama Inggit memulai kontaknya dengan Fatmawati puteri seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu.

Hubungan mereka awalnya biasa saja. Fatmawati merupakan teman dari anak angkat Sukarno yakni Ratna Juami. Keduanya bersekolah di tempat yang sama di Bengkulu. Seperti kisah dengan istri sebelumnya.

Tanggal 1 Juni 1943, Soekarno dan Fatmawati menikah. Soekarno berusia 42 tahun dan Fatma 20 tahun. Setelah Indonesia merdeka, Fatma menjadi ibu negara pertama. Dia juga yang menjahit bendera pusaka merah putih.

Pernikahan ketiga Sukarno ternyata juga kandas pada 1954. Dari Fatmawati, Soekarno mendapatkan lima orang anak. Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

4. Hartini (1952–1970)


Ketika dipinang oleh Soekarno, status Hartini adalah janda dengan lima orang anak. Ketika mereka akhirnya menikah, kala itu Hartini berusia 29 tahun. Karena saat itu Fatmawati telah dikenal luas sebagai Ibu Negara. Hartini mendapat banyak sekali kritikan dari media dan aktivis wanita yang lebih membela Fatmawati. Pernikahannya harus dia bayar mahal dengan nama baik yang tercoreng.

Pernikahan keduanya diawali oleh pertemuan di Candi Prambanan, Jawa Tengah, saat sang kepala negara mengadakan kunjungan kerja. Sumber lain menyebutkan, pertemuan di candi itu adalah kelanjutan cinta pandangan pertama keduanya di rumah dinas Wali Kota Salatiga, setahun sebelumnya.

Dari Soekarno, Hartini melahirkan dua anak. Yakni Taufan Soekarnoputra dan Bayu Soekarnoputra. Hartini tetap menjadi istri saat masa kekuasaannya Soekarno sudah memasuki usia senja.

Hartini juga tetap mempertahankan status pernikahan hingga ajal menjemput Soekarno. Di pangkuan Hartinilah, Putra Sang Fajar menghembuskan napas terakhirnya di RS Gatot Subroto pada 21 Juni 1970.

5. Kartini Manoppo (1959–1968)


Awal mula Bung Karno jatuh hati pada wanita yang pernah jadi pramugari Garuda Indonesia itu saat melihat lukisan karya Basuki Abdullah. Sejak saat itu, Kartini tak pernah absen tiap kali Bung Karno pergi ke luar negeri.

Kartini merupakan wanita asal Bolaang Mongondow, Sulawesi. Dia terlahir dari keluarga terhormat, sehingga Kartini menutup rapat-rapat pernikahannya dengan Bung Karno. Sejarah mencatat, Kartini merupakan istri kedelapan Sang Putera Fajar.

Bung Karno dan Kartini dikaruniai seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Totok Suryawan Sukarno yang lahir pada tahun 1967.

6. Ratna Sari Dewi (1962–1970)


Ratna Sari Dewi adalah wanita kelima yang dinikahi Soekarno. Lahir dengan nama Naoko Nemoto di Tokyo, 6 Februari 1940, Dewi dinikahi sang proklamator saat usia 19 tahun. Dari Soekarno, yang ketika itu berumur 57 tahun, Dewi mempunyai satu anak yaitu Kartika Sari Dewi Soekarno.

Dewi tengah menginjak usia 19 tahun. Namun menjelang redupnya pamor Soekarno, Dewi meninggalkan Indonesia dan hidup selama 10 tahun di Perancis. Pada 1983, Dewi kembali ke Indonesia.

Kisah pertemuan Soekarno dan Dewi cukup menarik. Gadis Jepang itu berkenalan dengan Soekarno lewat seseorang ketika Bung Karno berada di Hotel Imperial, Tokyo. Sebelum menjadi istri Soekarno, Dewi adalah seorang pelajar sekaligus entertainer.

Namun setelah perceraiannya dengan Soekarno dia pergi ke berbagai negara seperti Swiss, Perancis dan Amerika Serihat. Soekarno dan Dewi memiliki puteri tunggal yang diberi nama Kartika Sari Dewi Soekarno.

Dalam 'A Life in the Day of Madame Dewi' diceritakan, setelah bercerai dengan Soekarno, Dewi kemudian pindah ke berbagai negara di Eropa termasuk Swiss, Perancis, dan Amerika Serikat. Pada 2008, ia menetap di Shibuya, Tokyo, Jepang.

7. Haryati (1963–1966)


Pernikahan Soekarno dan Hayati berlangsung pada 21 Mei 1963. Namun, pernikahan mereka hanya berlangsung selama 2 tahun. Soekarno menceraikan Haryati karena alasan tidak ada kecocokan antara keduanya. Ketika itu pula, Soekarno tengah dekat dengan Ratna Sari Dewi.

Haryati adalah seorang penari istana sekaligus staf Sekretaris Negara Bidang Kesenian. Karena profesinya itu, Haryato menjadi dekat dengan sang proklamator. Soekarnopun terus menerus berusaha memikat hati Haryati yang kala itu berusia 23 tahun.

Selang tiga tahun, Haryati diceraikan tanpa anak. Soekarno beralasan sudah tidak cocok. Saat itu, Soekarno juga sedang dekat dengan Ratna Sari Dewi.

8. Yurike Sanger (1964–1968)



Pertama kali Presiden Soekarno bertemu dengan Yurike Sanger pada tahun 1963. Kala itu Yurike masih yang masih berstatus pelajar menjadi salah satu anggota Barisan Bhinneka Tunggal Ika pada acara Kenegaraan.

Kala itu Yurike masih berstatus sebagai pelajar SMA. Meski rentang usia antar keduanya cukup jauh, namun hal itu tidak menyurutkan niat Soekarno untuk memberi perhatian pada Yurike. Dia mengirimi sang gadis belia surat cinta dan bahkan menghadiahinya dengan kalung. Akhirnya mereka berdua menikah pada tahun 1964.

Kondisi Bung Karno pada 1967 yang secara de facto di makzulkan sebagai presiden, berdampak pada kehidupan pribadi. Didasari rasa cinta yang luar biasa, Bung Karno yang menjadi tahanan rumah di Wisma Yoso menyarankan agar Yurike meminta cerai. Akhirnya perceraian itu terjadi, meski keduanya masih saling cinta.

9. Heldy Djafar (1966–1969)



Gadis kelahiran Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur ini masih berusia 18 tahun ketika Soekarno menikahinya. Sementara, Soekarno sendiri telah berusia 65 tahun. Dia merupakan istri kesembilan dari Soekarno.

Pernikahan keduanya hanya bertahan dua tahun. Kala itu situasi politik sudah semakin tidak menentu. Komunikasi tak berjalan lancar setelah Soekarno menjadi tahanan di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto. Heldy sempat mengucap ingin berpisah, tetapi Soekarno bertahan. Soekarno hanya ingin dipisahkan oleh maut.

Akhirnya, pada 19 Juni 1968 Heldy 21 tahun menikah lagi dengan Gusti Suriansyah Noor. Kala itu Heldy yang sedang hamil tua mendapat kabar Soekarno wafat.

Garis Keluarga Besar Soekarno




Kekuatan Soekarno: Ajaran Nasakom dan Resopim


Demokrasi yang begitu belia di Indonesia, pasca soevereiniteitsoverdracht (penyerahan kedaulatan) Belanda terhadap Indonesia 27 Desember 1949. Demokrasi Indonesia mulai berkembang pada masa Demokrasi Parlementer ketika Indonesia kembali menjadi NKRI. 

Demokrasi Parlementer Indonesia yang kemudian memberikan kebebasan berdemokrasi memunculkan banyak partai politik di Indonesia saat itu, beberapa diantaranya tumbuh menjadi partai-partai besar seperti PNI, Masyumi, NU, dan PKI.

Banyaknya persaingan politik serta perbedaan ideologi tiap-tiap partai menimbulkan gejolak perbedaan persfektif bangsa Indonesia dalam memahami kehidupan benegara. Hal ini berdampak pada terancamnya persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia oleh pertentantangan ideologi yang berkembang.

Hal ini terlihat dari pertentangan-pertentangan Ideologi pada Dewan Konstituante yang bertugas merumuskan dasar negara dan undang-undang dasar yang baru. Pertentangan antara Ideologi Pancasila, Sosialisme, dan Islam mencuat hingga sampai 1959 lembaga tersebut tidak mampu merumuskan dasar negara dan UUD baru bagi Indonesia.

Untuk menghindari jurang kehancuran politik dan kebangsaan, Presiden Soekarno yang sejak berlakunya Demokrasi Liberal kekuasaannya hanya terbatas sebagai kepala negara kemudian mengeluarkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959 yang tercantum dalam Keputusan Presiden RI No. 75/1959.

Tujuan dikeluarkan dekrit tersebut adalah untuk menyelesaikan masalah negara yang semakin tidak menentu dan untuk menyelamatkan negara.

Isi Dekrit Presiden adalah sebagai berikut.
  • Pembubaran Dewan Konstituante
  • Tidak berlakunya UUDS 1950 dan berlakunya kembali UUD 1945.
  • Pembentukan MPRS dan DPAS

Demokrasi Terpimpin kemudian berlaku di Indonesia antara tahun 1959-1966, yaitu dari dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 hingga Jatuhnya kekuasaan Sukarno. Disebut Demokrasi terpimpin karena demokrasi di Indonesia saat itu mengandalkan pada kepemimpinan Presiden Sukarno.

Sebagai bentuk toleransi terhadap seluruh ideologi yang berkembang di Indonesia. Presiden Soekarno kemudian mengambil langkah untuk menyeimbangkan kekuatan-kekuatan ideologi dalam kerangka pemahaman kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai nilai-nilai Pancasila. 

Ideologi-ideologi tersebut yang kemudian terklasifikasi atas tiga kekuata besar yaitu, Nasionalis, Agama, dan Komunis disatukan dalam kerangka ideologi NASAKOM.

NASAKOM sendiri digagas oleh Presiden Soekarno untuk menggalang pesatuan bangsa agar tidak terpecah dalam pertentangan Ideologi. Presiden percaya bahwa Pancasila dan gagasan NASAKOM adalah jalan tengah yang bisa menjadi landasan kuat bagi Indonesia menghadapi berbagai tantangan globalisasi.

Ajaran Nasakom



Bagi Presiden Soekarno, NASAKOM merupakan cerminan paham berbagai golongan dalam masyarakat. Presiden Soekarno percaya bahwa dengan menerima dan melaksanakan NASAKOM maka persatuan Indonesia akan terwujud dalam pluralisme bangsa Indonesia. Ajaran NASAKOM kemudian mulai disebarluaskan pada masyarakat.

Namun ajaran NASAKOM ini banyak dinilai kurang tepat diterapkan. Hal ini mengingat kondisi saat itu tengah terjadi Perang Dingin. NASAKOM yang digadang-gadang sebagai Ideologi perdamaian berujung pada pandangan bangsa Barat yang memegang teori domino untuk mewaspadai Indonesia terjerumus dalam komunisme.

Indonesia lebih dianggap sebagai negara yang tak memiliki pegangan dibanding negara non blok. Hal ini karena kedekatan Soekarno dengan Barat dan Timur sekaligus, yang memunculkan pandangan terhadap politik internasional Soekarno.

Barat kemudian mendekati Presiden Soekarno untuk memastikan Indonesia tidak jatuh dalam teori domino yang tengah terjadi di Vietnam. Keterlibatan Amerika Serikat dalam serangkaian pemberontakan daerah di Indonesia dan sokongan AS dalam pemberontakan PRRI/Persemesta.

Amerika Serikat diketahuinya membantu para pemberontak, yang antara lain terbukti dengan tertembaknya pesawat dan tertangkapnya pilot berkebangsaan Amerika Allan Lawrence Pope pada masa pemberontakan itu.


Makin tampak bahwa Soekarno makin anti Amerika, anti PBB yang dianggapnya didominasi pengaruh barat. Anti Amerika dari Soekarno ini telah tampil karena sejumlah pengalaman tidak menyenangkan dengan adanya campur tangan Amerika dalam kehidupan politik Indonesia. Presiden Soekarno kemudian mengalihkan politik Indonesia bergabung dengan poros Peking-Pyongyang yang berhaluan komunis.


Pengamalan ajaran NASAKOM kemudian memperkuat kedudukan Presiden yang mengatakan “Revolusi belum selesai!” Kelompok-kelompok yang kemudian menolak NASAKOM akan dicap sebagai kontra-revolusi. Presiden Soekarno kemudian memusatkan kekuatan politiknya dengan mengeluarkan RESOPIM yang merupakan akronim dari Revolusi, Sosialisme Indonesia, dan Pimpinan Nasional.

Kelompok-kelompok yang kritis terhadap ajaran Nasakom adalah kalangan golongan kanan dan ABRI. Hal itulah yang kemudian dimanfaatkan oleh rivalnya dari golongan kiri radikal semacam PKI dengan mencapkan diri mereka sebagai pembela NASAKOM dan menuding berbagai pihak yang kritis terhadap NASAKOM sebagai kontra revolusi.

PKI sendiri kemudian menjadi kekuatan politik yang begitu dekat dengan Soekarno. Identitas yang dibangun sebagai pelindung NASAKOM sebatas untuk merebut simpati dari Presiden Soekarno. Presiden Soekarno sendiri kemudian menaruh simpati agak lebih kepada PKI, karena PKI dipandang mampu menggalang dukungan masyarakat untuk menguatkan posisi politik Presiden Soekarno.

Ajaran Resopim


Jika NASAKOM merupakan cara Presiden Soekarno untuk menyatukan ideologi-ideologi di masyarakat menjadi persatuan kebangsaan. Maka RESOPIM yang merupakan singkatan dari Revolusi, Sosialisme Indonesia, dan Pimpinan Nasional, cenderung ditujukan untuk memperkuat kedudukan Presiden Soekarno.


Tujuan dari RESOPIM sendiri adalah menggerakan seluruh kehidupan berbangsa dan negara menuju kemandirian bangsa dan melawan penjajahan model baru yang Presiden Soekarno sebut NEKOLIM atau Neo Kolonialisme dengan cara revolusi nasional yang prograsif, dijiwai oleh semangat sosialisme, yang arahkan oleh satu pimpinan nasional yang disebut Panglima Besar Revolusi (PBR), yaitu Presiden Soekarno.

- Kutipan Pidato Presiden Soekarno pada tahun 1961 tentang RESOPIM

“…perlunya meresapkan adilnya Amanat Penderitaan Rakyat agar meresap pula tanggung jawab terhadapnya serta mustahilnya perjuangan besar kita berhasil tanpa Tritunggal Revolusi, ideologi nasional progresif dan pimpinan nasional.

Akan tetapi hal ini berdampak pada kedudukan birokrasi negara. Dari RESOPIM ini kedudukan lembaga-lembaga tinggi dan tertinggi negara ditetapkan di bawah presiden. Hal ini terlihat dengan adanya pemberian pangkat menteri kepada pimpinan lembaga tersebut, padahal kedudukan menteri seharusnya sebagai pembantu presiden.

Saturday, April 8, 2017

Soekarno: Penemuan Kembali Revolusi Kita!


Cuplikan Pidato Ir. Soekarno 17 Agustus 1959 

Maka itu tepat­ maha­ tepatlah, bahwa kita pada 5 Juli 1959 kembali kepada Undang­Undang Dasar 1945. Dengan kembali kita kepada UndangUndang Dasar 1945 itu, maka kita menemukan kembali Revolusi kita, rediscover our Revolution, menemuka kembali Revolusi kita, yang sejak tahun 1950 kita tinggalkan, dan kita lupakan, dan kadang­kadang kita durhakai. 

"Sistim politik yang kita anut, tidak memberikan manfaat kepada rakyat banyak. Kita harus tinjau kembali sistim itu, kita harus herzien sistim itu. Ya, tinjau kembali sistim itu, dan menggantinya dengan satu sistim yang lebih sesuai dengan kepribadian bangsa kita, lebih memberi pimpinan ke arah tujuan yang satu itu, yaitu masyarakat keadilan sosial.

Nasional kita setia kepada Pancasila, internasional kita setia kepada Pancasila. Nasional kita setia kepada Proklamasi, internasional kita setia kepada Proklamasi." Demikianlah jawaban yang kita berikan kepada segala tentangan dan tantangan terhadap Revolusi kita itu. Dan karena jawaban yang tegas dan tepat ini, dan atas dasar jawaban yang tegas dan tepat ini, maka Revolusi kita pada akhir tahun 1958 itu dapat diselamatkan, dapat "survive", meskipun belum mencapai kemenangan terakhir secara keseluruhan.

Serentak Rakyat Indonesia dengan kembali kita kepada UndangUndang Dasar '45 itu lantas laksana mendapat "Wahyu Cakraningrat" kembali, serentak jiwa Revolusi yang tadinya laksana padam itu lantas hidup kembali dan bangkit kembali! Maka pada 17 Agustus 1959 saya mengucapkanlah satu pidato, yang berhubung dengan hidup kembalinya jiwa Revolusi itu, saya namakan "Penemuan kembali Revolusi kita","The rediscovery of our Revolution".

Syarat­syarat mental daripada perjoangan kita sungguhlah menjadi lengkap! Yaitu:
·         Kesatu : Revolusi.
·         Kedua : Ideologi Nasional Progresif (yaitu Undang­Undang Dasar '45 dan Manipol/ USDEK).
·         Ketiga : Pimpinan Nasional. Tritunggal itu baru berupa pemenuhan satu syarat. Hasil masih harus diperjoangkan. Kemenangan masih harus diperjoangkan. Tritunggal hanyalah satu syarat untuk lancarnya dan nanti berhasilnya perjoangan.

Bagaimana situasi sekarang? Persyaratan perjalanan kita sekarang sudah lengkap: RIL – R I L ­ "Revolution, Ideology, Leadership". Atau Re­so­pim, yaitu "Revolusi, Sosialisme, Pimpinan Nasional". Dengan lengkapnya persyaratan perjalanan itu, sekarang kita boleh berjalan terus. Malah alat­alat perjalananpun sudah kita miliki semuanya ala kadarnya:

Kesatu : Sudah barang tentu RIL ­ Revolutiom Ideology, Leadership, ­ atau Re­so­pim, Revolusi, Sosialisme, Pimpinan Nasional. 
Kedua : Alat­alat teknis, yang berupa skill dan alat-alat industri.
Ketiga : Modal, yang berupa kekayaan materiil, manpower, dan lain sebagainya.
Keempat : Angkatan Bersenjata yang lumayan.
Kelima : Kerja­sama dengan dunia luar.

Dan sebagainya lagi, dan sebagainya lagi. Dengan adanya alat­alat ini, maka perjalanan kita itu, asalkan penggerakan tekad dan energi cukup, bisalah berlangsung dengan tidak ngulerkambang. Maka jagalah jangan sampai ada kemerosotan dalam pemakaian alat­alat itu:
  • Konsolidirlah selalu segala alat perjoangan.
  • Maksimalkanlah dan perluaskanlah selalu pemakaian alat perjoangan.
  • Perbaikilah dan sempurnakanlah selalu mutunya alat perjoangan.
  • Koreksilah selalu jikalau ada kesalahan atau kekeliruan dalam pemakaian alat perjoangan. 
Ini minta satu approach yang dinamis dan dialektis, satu cara­kerja yang dinamis dan dialektis Dinamis, oleh karena masyarakat bertumbuh secara dinamis. Misalnya taraf pendidikan bertumbuh secara dinamis, jumlah murid bertumbuh secara dinamis, kemajuan teknis bertumbuh  secara dinamis, jumlah penduduk bertumbuh secara dinamis, kesadaran Rakyat bertumbuh secara dinamis, tuntutan­tuntutan hidup bertumbuh secara dinamis. 

Tidakkah saya menamakan Revolusi kita ini "Revolusi­tuntutan­meningkat", atau Inggeris­nya "a Revolution of rising demands"? Siapa yang tidak dinamis, tak mungkin akan dapat meladeni pertumbuhan masyarakat yang amat dinamis itu!


Dan dialektis?

Dialektis, oleh karena segala pertumbuhan selalu menjadi dialektis dengan timbulnya persoalan­persoalan­penentang, yaitu dengan timbulnya contradicties. Kemajuan, perbaikan, kemenangan, pun menimbulkan persoalan­persoalan­penentang, atau contradicties, yang segera harus dihadapi dan dipecahkan, agar tidak menjadi rintangan bagi pertumbuhan selanjutnya. Siapa yang tidak dialektis, tak mungkin dapat meladéni dengan segera segala contradicties itu! Tetapi janganlah heran! Sebab, di masa yang lampau, kegiatan nasional kita terpaksa terbagi­-bagi :
  • Kecuali membangun, kita harus menyelamatkan Negara dari pemberontakan dan subversi asing. Kecuali membangun, kita harus mengamankan daerah­daerah dari gerombolan­gerombolan yang menggarong dan mengganas. 
  • Kecuali membangun, kita masih harus menjebol sisa­sisa lama dari alam kolonial, yang membikin golongan­golongan bersikap reformistis, konservatif, liberal, kadang­kadang kontrarevolusioner. 
  • Kecuali membangun, kita harus menanam dasar­dasar baru yang merupakan syarat mutlak bagi suatu Negara Merdeka seperti Indonesia, dengan penduduk 92 juta, begitu luas dalam daerahnya, begitu kaya­raya dalam alamnya. Kecuali membangun, kita harus berjoang menyelesaikan persoalan
  • Irian Barat.

Pendek­kata, dalam masa yang lampau, perhatian dan kegiatan kita terpaksalah terbagi antara apa yang tempohari saya namakan destruksi dan konstruksi Tetapi ini kali saya juga sudah dapat membawa hasil­hasilpertama daripada Perjoangan Bangsa Indonesia, yaitu tercapainya dasar­dasar.

Konsepsi buat Revolusi kita, Kenegaraan kita, dan Kebangsaan kita. Konsepsi itu sudah menjadi Konsepsi Nasional, sudah menjadi milik Bangsa Indonesia secara keseluruhan, sudah mulai dilaksanakan, dengan hasil yang amat baik. Pendek­kata saya tonjolkan, bahwa sudah menjadi kenyataan;
  • Satu: Bahwa Indonesia, juga sesudah merdeka sebagai Republik, akan tetap bertumbuh atas dasar Revolusi, yaitu Revolusi yang multicomplex.
  • Dua: Bahwa penghidupan Nasional didasarkan atas Pancasila, jelasnya Manipol/USDEK = Sosialisme Indonesia.
  • Tiga: Bahwa Amanat Penderitaan Rakyat dilaksanakan di bawah satu Pimpinan Nasional di antara mereka itu tadinya banyak yang mengira bahwa syarat mutlak untuk kemajuan Negara dan Bangsa ialah kemajuan teknik dan modal uang semata­mata.


Mereka tidak tahu, bahwa dalam abad ke­XX salah satu dasar bagi kemajuan nasional ialah Konsepsi ideologi yang progresif revolusioner, berdasarkan atas kepribadian nasional. Asal segala persoalan, terutama sekali persoalan pembangunan, kita selesaikan atas dasar Konsep Sosial ke arah Sosialisme.

Konsep Sosial yang bewust­sebewustnya menuju kepada Masyarakat Sosialisme :
  • Pertama: Ikut­sertakan seluruh pekerja dalam memikul tanggungjawab dalam produksi dan alat­alat­produksi
  • Kedua: Adakanlah terus­menerus frappez, frappez toujours retooling mental dan retooling organisasi, sesuai dengan Manipol/USDEK.
  • Ketiga: Resapkan dasar RIL, atau Resopim sampai ke peloksok­peloksok, sampai ke desa­desa, sampai ke gunung­gunung

Tetapi, jangan dilupakan, bahwa dalam kegembiraan mengenai hasil­hasil dalam bidang keamanan phisik, kita harus tetap waspada, harus tetap tak boleh lengah. Sebab pada waktu pemberontak­pemberontak itu melakukan pemberontakannya, mereka mempunyai dasar fikiran yang berlainan sekali dengan dasar­fikiran kita, berlainan dengan tujuan­asli dan upaya Revolusi. 

Kita harus tetap waspada, jangan sampai dengan pulihnya keamanan phisik, keamanan politik menjadi terganggu
atau goncang.

Inilah Ordening Baru di bidang politik secara organisatoris yang didasarkan atas semangat Golong­Royong, Musyawarah dan Mufakat. 

Organisasi-­organisasi atau lembaga­lembaga Negara tersebut, semuanya mengejar satu tujuan utama, yaitu melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat berdasarkan Resopim. Demokrasi kita tidak lain tidak bukan ialah mencari sintese, mencari akumulasi fikiran dan tenaga untuk melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat, semuanya atas pedoman Ordening Baru yaitu:

Revolusi­Manipol/ USDEK­Pimpinan Nasional. Dus Demokrasi Terpimpin tidak mencari menghasilkan kemenangan sesuatu golongan atau kekalahan sesuatu golongan, ia hanya menghasilkan akumulasi maksimal daripada fikiran­fikiran­baik, cara­cara­baik, kemajuan­kemajuan positif untuk Rakyat secara Keseluruhan, tidak untuk sesuatu golongan atau partai. maka Demokrasi Terpimpin kita itu tegas­nyata mempunyai dua unsur, unsur "demokrasi", dan unsur "terpimpin".

Rakyat sudah dipimpin oleh Manipol, maka Angkatan Bersenjatapun harus dipimpin oleh Manipol. Sekali lagi saya ulangi di sini: bukan Angkatan Bersenjata atau bedil yangmemimpin Manipol, tetapi Manipol yang memimpin Angkatan Bersenjata dan bedil! Tentang pengertian sosialisme dan pelaksanaan sosialisme inipun tak boleh ada antagonisme dan kontradiksi di kalangan pemimpinpemimpin kita, baik pemimpin preman maupun pemimpin militer. Mengertilah, bahwa :
  • Nasionalisasi belum merupakan sosialisme!
  • Indonesianisasi belum merupakan sosialisme!
  • Nasionalisasi dan Indonesianisasi itu hanyalah sekadar batuloncatan saja ke arah sosialisme, itupun jikalau nasionalisasi dan Indonesianisasi itu dijalankan atas dasar Manipol/USDEK.

 Karena itu maka di dalam salah satu pidato di Surabaya (Hari Pemuda) saya berkata: "Siapa yang setuju kepada Pancasila, harus setuju kepada Nasakom; siapa yang tidak setuju kepada Nasakom, sebenarnya tidak setuju kepada Pancasila!" Sekarang saya tambah: "Siapa setuju kepada Undang­Undang Dasar '45 harus setuju kepada Nasakom; siapa tidak setuju kepada Nasakom, sebenarnya tidak setuju kepada Undang­Undang Dasar '45!" 

Pancasila adalah alat pemersatu! Pancasila bukan alat pemecahbelah Dengan Pancasila, kita juga mempersatukan tiga aliran besar yang bernama Nasakom itu. Jadi janganmempergunakan Pancasila untuk mengadudomba antara kita dengan kita.

Bagi kita, kemerdekaan adalah satu pepundén yang keramat! Pendirian kita dalam memerdekakan Irian Barat ialah bahwa kedaulatan kita sudah meliputi Irian Barat itu, dari Sabang sampai Merauke". Saya tidak pernah berkata: "Mari memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah Republik", saya selalu berkata: "mari memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah kekuasaan Republik". 

Dalam perjoangan, peganglah teguh segala apa yang sudah didapat, dan perjoangkanlah secara teratur apa yang belum tercapai. Kedaulatan atas Irian Barat sejak hari Proklamasi '45 sudah di tangan kita, dan tentang pendirian ini kita tidak ragu­ragu lagi, malah kita pegang teguh mati­matian dengan segala macam perjoangan. Tingkat pendirian yang akan datang ialah:

Memancangkan Sang Merah­Putih di Irian Barat, dan pemancangan Sang Merah­Putih itu pasti akan terjadi apabila kekuasaan Pemerintah di daerah itu di tangan kita. Oleh sebab itu maka apa yang telah ada dalam genggaman kita, kita genggam teguh, dan apa yang belum tercapai, yaitu kekuasaan pemerintah, marilah kita perjoangkan.

Kita bertekad bulat, kita mendesak terus. Kita merasa kuat, oleh karena kita memang kuat, dan oleh karena kita di fihak yang benar, dan oleh karena kita tidak berjalan sendiri Cita­cita Revolusi kita adalah, kataku, kongruen dengan "the social conscience of Man". 

Itulah sebabnya maka Revolusi Indonesia amat populer di kalangan tiga­perempat umat manusia itu, dan bahwa semboyan­baru "freedom to be free", "bebas untuk merdeka", yang saya lansir di luar­negeri dalam perjalanan muhibah yang akhir ini, disambut amat baik sekali oleh mereka itu, terutama sekali oleh Rakyat­Rakyat Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Dengan salam itu pula nanti akhir bulan ini Insya Allah saya akan menuju Beograd di Yugoslavia untuk mewakili Bangsa Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Negara­Negara yang berpolitik bebas dan aktif, yang akan dimulai pada tanggal l September yang akan datang.

Konferensi Tingkat Tinggi Negara­Negara Bebas dan Konferensi Asia­Afrika itu adalah komplementer satu sama lain, artinya "mengkomplitkan" satu sama lain. Dua Konferensi ini isi­mengisi satu sama lain.

Konferensi Asia­Afrika adalah penggabungan (samenbundeling) daripada rasa nasionalisme anti imperialisme di Asia­Afrika Dengan mensponsori K.T.T. dan ikut dalam K.T.T. maka Indonesia merasa setia kepada kepribadiannya, setia kepada sumbernya yang tertulis dalam Pembukaan Undang­Undang Dasar, setia kepada garis­azasi daripada politik­luar­negerinya.

Tahun 1957 saya namakan tahun penentuan, dan saya mintakan penentuan­penentuan; tahun 1958 saya namakan tahun tantangan, dan saya mintakan jawaban­jawaban­tegas atas beberapa tantangan; tahun 1959 kita kembali kepada Undang­Undang Dasar '45, dan saya tonjoli tahun 1959 itu dengan pidato "Penemuan Kembali Revolusi Kita", yaitu dengan penegasan setegas­tegasnya daripada Konsepsi Nasional yang kemudian oleh Rakyat dinamakan Manipol/USDEK.

Apakah garis­azasi politik­luar­negeri kita itu?
Pertama : Bebas dan Aktif Kita bertekad bulat, kita mendesak terus. Kita merasa kuat, oleh karena kita memang kuat, dan oleh karena kita di fihak yang benar, dan oleh karena kita tidak berjalan sendiri
Cita­cita Revolusi kita adalah, kataku, kongruen dengan "the social conscience of Man". Itulah sebabnya maka Revolusi Indonesia amat populer di kalangan tiga­perempat umat manusia itu, dan bahwa semboyan­baru "freedom to be free", "bebas untuk merdeka", yang saya lansir di luar­negeri dalam perjalanan muhibah yang akhir ini, disambut amat baik sekali oleh mereka itu, terutama sekali oleh Rakyat­Rakyat Asia, Afrika, dan Amerika Latin.

Dengan salam itu pula nanti akhir bulan ini Insya Allah saya akan menuju Beograd di Yugoslavia untuk mewakili Bangsa Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi Negara­Negara yang berpolitik bebas dan aktif, yang akan dimulai pada tanggal l September yang akan datang. Konferensi Tingkat Tinggi Negara­Negara Bebas dan Konferensi Asia­Afrika itu adalah komplementer satu sama lain, artinya "mengkomplitkan" satu sama lain. 

Dua Konferensi ini isi­mengisi satu sama lain. Konferensi Asia­Afrika adalah penggabungan (samenbundeling) daripada rasa nasionalisme anti imperialisme di Asia­Afrika Dengan mensponsori K.T.T. dan ikut dalam K.T.T. maka Indonesia merasa setia kepada kepribadiannya, setia kepada sumbernya yang tertulis dalam Pembukaan Undang­Undang Dasar, setia kepada garis­azasi daripada politik­luar­negerinya.

Tahun 1957 saya namakan tahun penentuan, dan saya mintakan penentuan­penentuan; tahun 1958 saya namakan tahun tantangan, dan saya mintakan jawaban­jawaban­tegas atas beberapa tantangan; tahun 1959 kita kembali kepada Undang­Undang Dasar '45, dan saya tonjoli tahun 1959 itu dengan pidato "Penemuan Kembali Revolusi Kita", yaitu dengan penegasan setegas­tegasnya daripada Konsepsi Nasional yang kemudian oleh Rakyat dinamakan Manipol/USDEK.

Apakah garis­azasi politik­luar­negeri kita itu?

Pertama : Bebas dan Aktif
Kedua : Solidaritas Asia­Afrika.
Ketiga : "Tetangga baik", good neighbour policy.
Untuk apa?

Untuk Perjoangan menentang Kolonialisme­imperialisme (pertama).
Untuk mempertumbuhkan Kepribadian Nasional (kedua).
Untuk Persahabatan dan Perdamaian antar­bangsa (ketiga).

Sejak penerimaan itulah Konsepsi Nasional menjadi bulat, yaitu Konsepsi Tritunggal R.I.L., ("Revolution, Ideology, Leadership") atau Konsepsi Resopim: "Revolusi, Sosialisme, Pimpinan Nasional".

Tetap berjalan terus, mcnuju Matahari, sebab Matahari itu sudah terbit, dan jalan sudah terang­benderang!

Bangsa yang berjalan terus akan Besar!
Bangsa yang mandek, akan kerdil!
Bangsa yang mundur, akan hancur!
Hancur­lebur, tidak tahan sinarnya Matahari!

Friday, April 7, 2017

Yerusalem: Kota Tiga Kekuatan Besar Dunia


Yarusalem (dalam bahasa Ibrani Yerushalayim atau al-Quds dalam bahasa Arab adalah kota yang dianggap suci oleh tiga agama utama Abrahamik-Yudaisme, Kristen, dan Islam. Tidaklah mengherankan bahwa di bagian Kota Lama, yang hanya seluas 0,9 kilomiter persegi, terdapat banyak bangunan suci keagamaan, di antaranya Tembok Ratapan, Gereja Makan Suci, Masjid Kubah Batu dan Masjid Al-Aqsa.

Salah satu kota tertua di dunia, Yarusalem terletak di suatu daratan tinggi di Pegunungan Yudea antara Laut Tengah dan Laut Mati. Dihuni sejak 4.000 tahun SM, orang Ibrani mengambil alih kota ini dari tangan orang Yebus dan kemudian dijadikan ibu kota kerajaan Israel Kuno di bawah raja Daud. Anaknya, Raja Solomon (Sulaiman) kemudian membangun sebuah bait Allah, yang menjadi pusat ibadah orang Yahudi pada  zaman kuno.


Yesusalem menjadi kota yang diperebutkan oleh pelbagai kekuatan besar. Orang Yahudia, Kristen, dan Islam sama-sama menganggap kota ini sebagai "Kota Suci" mereka. Disinilah orang Kristen meyakini Yesus Kristus di makamkan, Kota yang didalamnya terdapat masjid yang di agungkan oleh umat Islam. Masjid Al-Aqsa secara luas dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat Islam. Muslim percaya bahwa Muhammad diangkat ke Sidratul Muntaha dari tempat ini setelah sebelumnya dibawa dari Masjid Al-Haram di Mekkah ke Al-Aqsa dalam peristiwa Isra' Mi'raj. Dan disinilah orang Yahudi meratapi Tembok Ratapan yang merupakan sisa dinding Bait Suci di Yerusalem yang dibangun oleh Raja Herodes. Bait Suci itu hancur ketika orang-orang Yahudi memberontak kepada kerajaan Romawi pada tahun 70 Masehi.

Pada tahun 1538, penguasa Ottoman Sultan Sulaiman yang Agung membangun tembok di sekeliling Yarusallem. Pada masa kini, tembok tersebut menetapkan wilayah Kota Lama, yang dibagi menjadi empat kawasan-dikenal sejak abad ke-19 sebagai kawasan Armendia, Kristen, Yahudi, dan Muslim. Kota Lama dijadikan sebagai sebuat tempat sebuah Warisan Dunia pada tahun 1981. Kota Yarusalem Modern telah berkembang jauh melebihi perbatasa Kota Lama.

Selama sejarah panjangnya, Yarusalem dihancurkan dua kali, dikepung sebanyak 23 kali, diserang 52 kali, serta direbut dan direbut kembali selama 44 kali. Orang Yahudi sendiri merebutnya empat kali: oleh Raja Daud (1000SM), Wangsa Makabe(152SM), Bar-Kohba(132), dan saat Perang Enam Hari (1967).

Pada saat perang Arab-Israel 1948, Yerusalem menjadi salah satu ajang pertempuran tersengit antara-antara kelompok-kelompok bersenjata Yahudi seperti Haganah, Irgun, dan Lehi di satu pihak dengan pasukan Arab yang dimotori oleh Legiun Arab Transyordania di pihak lain.


Mengambil keuntungan dari posisi-posisinya di perbukitan, orang Arab boleh dikatakan berhasil memotong kota tersebut dari pusat kekuatan Yahudi di daerah lembah kawasan pantai. Sekalipun akhirnya berhasil mempertahankan Yerusalem Barat, pasukan Israel pimpinan David Shaltiel dan Uzi Narkiss gagal merebut Kota Lama di akhir perang. Bahkan kawassan Yahudi di Kota Lama jatuh ke tangan legiun Arab, yang kemudian mengosongkannya dengan mengusir ke-1700 orang penghuninya.

Setelah Gencatan Senjata 1948 Yarusalem Timur, termasuk Kota Lama, dianeksasi ke dalam Kerajaan Yordania. Israel baru bisa mengusai Yerusalem Timur setelah Perang Enam Hari, dimana daerah yang direbutkan dari Yordania itu kemudian dianeksasi dan disatukan dengan Yerusallem Barat sebagai ibu kotanya. Klaim itu ditentang oleh bangsa Palestina, yang juga mengklaim Yerusallem sebagai ibu kota masa depannya. Kedua klaim itu sendiri sama-sama tidak diakui secara internasional.

Sumber: Enam Hari yang Mengungcang Dunia Nino Oktorino

First Published by Gu-buk.net

Tuesday, April 4, 2017

Lord Mountbatten: Raja Muda India dari Inggris


Louis Francis Albert Victor Nicholas Mountbatten, atau yang sering dipanggil Lord Mountbatten, adalah seorang anggota dari keluarga Kerajaan Inggris yang pernah menjabat sebagai First Sea Lord di Royal Navy, Viceroy of India dan Gubernur Jenderal India.

Lord Mountbatten juga adalah paman dari Pangeran Philip dan sepupu Ratu Elizabeth II. Selama Perang Dunia II, ia bertindak sebagai Panglima Komando Asia Tenggara (1943-1946). Ia merupakan Raja Muda India terakhir sekaligus Gubernur Jenderal India yang pertama. Pada tahun 1950, India berdiri sebagai republik yang merdeka. Berbagai posisi penting dijabat Lord Mountbatten sesudah penugasannya di India baik di Britania Raya maupun di tingkat internasional.

Mountbatten lahir di Inggris pada tanggal 25 Juni 1900 dengan nama asli Louis of Battenberg. Ia adalah anak kedua dari perkawinan antara Pangeran Louis Alexander of Battenberg dan Putri Victoria of Gesse and by Rhine. Lord Mountbatten memiliki hubungan dengan keluarga Kerajaan Inggris melalui neneknya, Putri Alice dan buyut perempuannya, Ratu Victoria.

Lord Mountbatten dididik di rumahnya antara 1903-1913 dan melanjutkan pendidikannya di Lockers Park School di Hartfodshire pada tahun 1913 dan setelah itu di Royal Naval College di Osborne pada 1915.

Peran dalam Perang Dunia I dan Interwar atau Interbellum

Setelah lulus dari Royal Naval College, ia ditugaskan di Battle Cruiser HMS Lion sebagai seorang Midshipman pada Juli 1916 lalu dipindahkan ke HMS Ratu Elizabeth pada akhir Perang Dunia I. Pada Oktober 1918, Lord Mountbatten ditunjuk sebagai Perwira Eksekutif di HMS P.31 dan dipromosikan menjadi sub-letnan pada 1919. Ia menikah dengan Edwina Ashley, anak dari Wilfred Ashley, 1st Baron Mount Temple.

File:LionSP 001672.jpg
HMS Lion

Ia memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di Christ's College, Cambridge, dimana ia mempelajari Literatur Inggris. Kemudian, ketertarikannya pada perkembangan teknologi, mendorong Lord Mountbatten untuk bergabung dengan Portsmouth Signals School di tahun 1924 dan mempelajari elektronika di Royal Naval College, Greenwich. Dikarenakan latar belakang pendidikan elektronika sering ditugaskan ke posisi yang menangani komunikasi melalui wireless(radio) di wilayah Mediterania.

Lord Mountbatten ditunjuk untuk mengkomando dua destroyer antara 1934-1936, HMS Daring dan HMS Wishart. Setelah dipromosikan menjadi kapten(setara dengan pangkat kolonel) pada pertengahan 1936, ia diberikan komando atas destroyer HMS Kelly dua tahun kemudian.

Peranan pada Awal Perang Dunia II

Lord Louis Mountbatten tiba di Ceylon pada bulan April tahun 1944. Foto: Getty Images

Pada awal Perang Dunia II, Lord Mountbatten mengambil komando 5th Destroyer Flotilla dari HMS Kelly. Ia membawa kembali Edward VIII, Duke of Windsor, dari Perancis pada akhir 1939 dan mengevakuasi pasukan Sekutu dari Norwegia pada pertengahan 1940. Pada Mei 1940, HMS Kelly ditorpedo oleh Jerman dan komando Mountbatten dipindah ke destroyer HMS Javelin.

Di Pertempuran Kreta di tahun 1941, HMS Kelly ditenggelamkan oleh pembom Jerman dan ia dipindahkan ke aircraft carrier HMS Illustrious pada Agustus 1941 ketika kapal tersebut sedang diperbaiki di Virginia. Pada periode perbaikan HMS Illustrious, Lord Mountbatten sempat mengunjungi Pearl Harbor melalui udara dan menganggap bahwa pelabuhan tersebut kurang siap terhadap ancaman udara.

Sebagai Chief of Combined Operations

Pada Oktober di tahun yang sama, Lord Mountbatten dipromosikan ke pangkat Komodor atau Laksamana Satu, serta diangkat menjadi Chief of Combined Operations, badan kooperasi antar Sekutu.

Pertama, ia merencanakan Serangan terhadap St. Nazaire, sebuah serangan cepat yang berhasil merusak pelabuhan besar St. Nazaire. Keberhasilan serangan ini membuat AL Jerman kehilangan satu-satunya pelabuhan yang dapat menampung U-boat di Perancis selatan dan diperkirakan mempercepat Pendaratan Normandia sebanyak beberapa bulan.

Mountbatten juga merencanakan Serangan Dieppe, yang berubah menjadi suatu bencana karena dukungan darat, udara dan laut yang kurang serta mengakibatkan ribuan tentara terluka, terbunuh atau ditawan, sebagian besar dari mereka prajurit Kanada.

Walaupun begitu, kegagalan ini akan dipelajari dan diaplikasikan bagi Pendaratan Normandia dalam bentuk dukungan udara dan laut yang ditingkatkan secara besar dan penggunaan tank berjenis Hobart's Funnies yang mempercepat pergerakan pasukan darat di pantai dengan meledakkan ranjau dan sebagainya.

Sebagai Komandan SEAC

Lord Mountbatten ditunjuk Churchill sebagai Komandan Sekutu Tertinggi di Asia Tenggara atau South East Asia Command (SEAC) di tahun 1943 dan dipromosikan secara sementara ke pangkat Laksamana.

Selama kepemimpinan Mountbatten di Asia Tenggara, pasukan Sekutu berhasil merebut kembali Burma dari tangan Jepang oleh Jenderal William Slim. Mountbatten juga menerima penyerahan Jepang dari Jenderal Itagaki Seishiro di bulan September 1945. Setelah SEAC dibubarkan, ia diturunkan kembali ke pangkat Laksamana Muda.

Kemerdekaan India dan Pakistan

Jawaharlal Nehru, Lord Ismay, Lord Louis Mountbatten, Muhammad Ali Jinnah. Foto: BBC

Berbekal pengalaman sebagai Komandan SEAC yang bermarkas di India, PM Inggris, Clement Attlee, menunjuk Lord Mountbatten sebagai Viceroy of India pada Februari 1947. Ia diberi tugas untuk memperlancar usaha kemerdekaan India, dengan batas waktu 1948. Ia diberi instruksi yang menekankan pada persatuan India tetapi memberikannya otoritas untuk beradaptasi dengan situasi yang ada.

Setelah Lord Mountbatten sampai di India, ia menyimpulkan bahwa situasinya terlalu rumit dan rawan jika kemerdekaan India tidak dicapai sesegera mungkin. Sebagian besar penasehatnya memilih sebuah pemberian kedaulatan secara perlahan, tetapi menurutnya menunggu sampai 1948 akan membawa India kepada perang saudara.

Mountbatten menyukai pemimpin kongres Jawaharlal Nehru karena pandangannya yang liberal dan Mahatma Gandhi yang mendukung persatuan India, tetapi ia paham bahwa Muhammed Ali Jinnah adalah pihak yang paling menentukan apakah India akan bersatu atau tidak. Jinnah tak ingin India bersatu dan mendukung dibangunnya sebuah negara yang terpisah, Pakistan. Ketidakmampuan Jinnah untuk berkompromisasi dan juga dihadapkan dengan batas waktu 1948, sebagian besar pimpinan India memilih untuk memisahkan India.

Sebuah komite yang diketuai oleh Sir Cyril Radcliffe diberi tugas untuk memisahkan India, dengan India dengan mayoritas Hindu dan Pakistan serta Pakistan Timur dengan mayoritas Muslim. Pemisahan ini mengakibatkan perpindahan massal orang Muslim ke wilayah Pakistan dan orang Hindu ke India.

Ketika India dan Pakistan mendapatkan kemerdekaan mereka pada tengah malam di tanggal 14-15 Agustus 1947, Mountbatten tetap berada di India sebagai Gubernur Jenderal India yang pertama sampai Juni 1948.

Keputusan Lord Mountbatten untuk memisahkan India secepat mungkin dipenuhi dengan pro kontra. Di satu sisi, pencapaian kemerdekaan kedua negara tersebut dengan cepat dipandang baik. Akan tetapi, dikarenakan cepatnya pemisahan ini, perpindahan massal orang Muslim dan Hindu mengakibatkan banyak korban jiwa dan banyak orang mengkritik aksi tersebut sebagai hal yang ceroboh dan berbahaya, walaupun kekhawatiran Mountbatten atas sebuah perang sipil itu masuk akal dan mungkin terjadi.

Karir setelah India

Setelah selesai menjabat sebagai Gubernur-Jenderal, Lord Mountbatten kembali bertugas di Laut Mediterania sebagai komandan 1st Cruiser Squadron. Ia pun dinaikkan pangkatnya menjadi Laksamana Madya pada Juni 1949.

Ditahun berikutnya, ia menjabat sebagai Fourth Sea Lord lalu di 1952 sebagai Komandan Tertinggi NATO di Mediterania. Posisi ini diikuti dengan kenaikannya ke pangkat Laksamana pada 1953 serta penunjukannya sebagai First Sea Lord pada 1955-1959. Akhirnya, ia pun dinaikkan pangkatnya untuk terakhir kalinya di tahun 1956 sebagai Laksamana Besar atau Admiral of the Fleet.

Selama ia menjabat sebagai First Sea Lord, kekhawatiran utamanya adalah cara mempertahankan jalur pengiriman barang dan perdagangan Inggris apabila Inggris diserang oleh bom nuklir. Setelah mendalami mengenaj persenjataan nuklir, ia paham akan potensi nuklir jika berbasis pada sebuah armada kapal selam, tetapi tidak menyukai prospek kehancuran total yang dapat terjadi setelah sebuah ledakan nuklir.

Kemudian, pada 1965, ia menjadi Gubernur Isle of Wight. Selain itu, ia juga menjabat sebagai presiden United World Colleges(UWC) pada masa 1967-1978. Di bawah pimpinannya, UWC of South East Asia dibuat di Singapura dan UWC of Pacific dibuat di British Columbia pada 1970-an. Setelah 1978, ia melepaskan posisinya sebagai presiden UWC.

Meninggal: 27 Agustus 1979

Mountbatten memang sering berlibur di rumah musim panasnya di Irlandia. Meski telah diperingati oleh polisi Irlandia, pada 27 Agustus 1979, Mountbatten dan keluarganya pergi memancing di kapalnya, Shadow V. Pada malam sebelumnya, seorang anggota Provisional Irish Republican Army (IRA) atau Pasukan Provisional Revolusioner Irlandia, bernama Thomas McMahon yang menaruh sebuah bom yang dikendalikan dari jarak jauh di kapal itu dan keesokan harinya, setelah Mountbatten dan keluarganya baru berangkat, bom tersebut meledak.

Ledakan tersebut membunuh Mountbatten, kedua cucunya dan melukai anaknya yang tertua, Patricia, dan suaminya serta ibu dari menantunya, Doreen, dan satu orang kru di kapal tersebut. Mountbatten, yang kakinya terkoyak akibat ledakan tersebut, ditarik keluar dari air oleh nelayan di sekitarnya, tetapi meninggal sebelum dapat ditolong. Kedua cucunya meninggal seketika dan Doreen meninggal keesokan harinya akibat luka-luka.

Thomas sendiri ditangkap 2 jam sebelum bom tersebut diledakkan atas dugaan pencurian mobil dan dijatuhi hukuman seumur hidup, tetapi ia dibebaskan pada tahun 1998 sebagai bagian dari Perjanjian Jumat Agung pada awal 1998.

Pembunuhan Mountbatten ini tak berdasar, sebab ironisnya, setelah sebuah investigasi dilakukan terhadap surat-suratnya, ditemukan bahwa Mountbatten secara rahasia bersimpati dengan  persatuan Irlandia.

Lord Mountbatten dikuburkan pada 5 September 1979, dengan upacara yang berlangsung di Westminster Abbey dan, sesuai dengan keinginannya, dikuburkan di Romsey Abbey.




First Published by Historypedia

Monday, April 3, 2017

Supersemar: Surat Kuasa atau Pemindahan Kekuasaan?

Soeharto di belakang Sukarno, Maret 1966. Image Source

Puluhan tahun yang lalu telah berlalu, namun Supersemar masih layak diperbincangkan dan kerap menuai kontroversi. Surat yang “ditandatangani” oleh Presiden Sukarno pada tanggal 11 Maret 1966 ini masih menyimpan sejumlah misteri.

Menilik sisi sejarahnya, surat ini boleh dikatakan sebagai titik awal dari sebuah peralihan kepemimpinan Nasional dari Orde Lama yang dipimpin Sukarno menuju Orde Baru di bawah kekuasaan Soeharto. Supersemar telah mengantarkan Letnan Jendral Soeharto kepada pucuk kekuasan Republik Indonesia. Apa sebenarnya isi dari Supersemar?

Surat Perintah ini berisi perintah Presiden Sukarno kepada Letn.Jend Soeharto untuk mengambil langkah-langkah yang dirasa perlu untuk memulihkan ketertiban dan keamanan umum. Perintah kedua yaitu meminta Soeharto untuk melindungi presiden, semua anggota keluarga, beserta hasil karya dan ajarannya. Akan tetapi, Soeharto tidak menjalankan perintah tersebut dan justru mengambil tindakan berdasarkan interpretasinya sendiri.

Foto: Arsip Kompas

Dengan adanya dorongan kekuatan anti-PKI, Soeharto pun mengadakan Sidang MPRS demi mengkukuhkan Supersemar. Pada tanggal 20 Juni - 6 Juli 1966, MPRS mengadakan Sidang Umum.

Mengenai pemindahan kekuasaan, baik secara eksplisit maupun implisit jelas tidak tercantum di dalam surat tersebut. Bahkan, dalam pidato Sukarno di persidangan MPRS pada 17 Agustus 1966, ia menegaskan bahwa Supersemar bukanlah “transfer of sovereignity” dan bukan pula “transfer of authority.” Pidato pertanggungjawaban nya yang berjudul “Nawaksara” itu ditolak oleh MPRS. Pada waktu yang sama, MPRS menetapkan TAP MPRS No. IX/MPRS/1966 tentang Supersemar.

Alih-alih melindungi Sukarno, Soeharto justru menjadikan Sukarno sebagai “tahanan rumah” di Istana Bogor, dan kemudian di Wisma Yaso di Jakarta. Sukarno juga diinterogasi oleh Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban).

Sukarno baru diberhentikan setelah mengalami sakit parah. Selama sakit, Presiden pertama ini tidak mendapatkan perawatan yang baik, hingga akhirnya meninggal pada 21 Juni 1970.

Saat ini, setidaknya terdapat tiga jenis salinan dari Supersemar yang disimpan di ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia). Akan tetapi ketiganya memiliki versinya masing-masing.  Pertama, Supersemar yang diterima dari Sekretariat Negara, dengan ciri: jumlah halaman dua lembar, menggunakan kop Burung Garuda, diketik rapi, dan di bawahnya tercantum tanda tangan beserta nama "Sukarno".

Kedua, Supersemar yang diperoleh dari Pusat Penerangan TNI AD dengan ciri: jumlah halaman satu lembar, berkop Burung Garuda namun dengan ketikan yang tidak serapi versi pertama. Penulisan ejaan sudah menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku pada saat itu. Jika pada versi pertama di bawah tanda tangan tertulis nama "Sukarno", pada versi kedua tertulis nama "Soekarno".

Ketiga, Supersemar yang didapat dari Yayasan Akademi Kebangsaan, dengan ciri: jumlah halaman satu lembar, sebagian surat robek sehingga tidak utuh lagi, dengan kop surat yang tidak jelas, hanya berupa salinan. Tanda tangan Soekarno pada versi ketiga ini juga berbeda dengan versi pertama dan kedua.

Soeharto memang tak lagi berkuasa, juga tidak ada dampak langsung secara politis terhadap Republik Indonesia hari ini, namun pengungkapan misteri Supersemar akan memiliki arti bagi bangsa Indonesia. Setidaknya sebagai bangsa yang merdeka, sejarah kita dapat diceritakan secara jelas.

Akan tetapi, hingga hari ini, upaya pengungkapan misteri mengenai Supersemar boleh dikatakan menemui jalan buntu. Surat aslinya tidak diketahui keberadaannya, bak ditelan bumi, ia hilang secara misterius.


Penulis: Arif Rizal Maulana - Ilmu Sejarah UI

Pidato Martin Luther King Jr: I Have a Dream


Kita mengenal sebuah ungkapan I Have a Dream yang merupakan bagian dari padato yang terkenal sepanjang masa. Pidato tersebut disampaikan pada 28 Agustus 1963 oleh Martin Luther King Jr.

Pidato tersebut disampaikan di hadapan lebih dari 200.000 pendukung hak-hak sipil, pidato tersebut masuk ke dalam peringkat pidato paling terkenal pada abad ke-20 di Amerika Serikat menurut jajak pendapat cendekiawan orasi tahun 1999.

Ketika Martin Luther King Jr berbicara mengenai persamaan hak dan kebebasan yang menurutnya merupakan sebuah "utopia" atau masyarakat khayalan dengan kualitas-kualitas yang sangat didambakan ataupun nyaris sempurna. Pada masa itu, AS menjadi bagian dari negara yang tingkat diskriminasi rasial cukup tinggi. Warga Afro-Amerika mendapatkan diskriminasi dan ketidaksetaraan dengan warga AS berkulit terang.

Pemisahan dilakukan terhadap warga AS yang berkulit hitam dengan putih. Pemisahan itu mencakup kesempatan bekerja, memperbaiki taraf perekonomian dan hak dalam mengenyam pendidikan. Bahkan pemisahan tersebut sampai pada kepemilikan seperti kendaraan, makan direstauran, dan segala elemen kehidupan.

Kemudian, pada 1964, Martin Luther King Jr dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian. Tahun yang sama, AS membuat langkah maju yang signifikan dengan meloloskan UU Hak Sipil.

"I have a dream that my four little children will one day live in a nation where they will not be judged by the color of their skin but by the content of their character."

"Saya punya mimpi bahwa empat anak saya suatu hari akan hidup di negara di mana mereka tidak akan dinilai oleh warna kulit mereka tetapi dari nilai karakter mereka."

Martin Luther King dilahirkan 15 Januari 1929 di sebuah keluarga pendeta Protestan Amerika. Ia dengan cepat terlibat dalam gerakan pembebasan hak kulit hitam sejak awal.


Untuk melihat "Teks Pidato" lengkap Martin Luther King Jr, 'I Have a Dream’  Klik Disini