Showing posts with label Maritim. Show all posts
Showing posts with label Maritim. Show all posts

Persentuhan Awal Prancis dan Kelautan Nusantara

Het White Huis (Gedung Putih) dibangun oleh Daendels, hari ini gedung ini difungsikan sebagai Kantor Kementerian Keuangan Indonesia merupakan pemerintahan Pemerintah Kolonial Republik Bataaf dibawah komando Prancis pada abad 19.

Harian Sejarah - Di kala mata orang-orang modern tertuju pada sejarah panjang kolonial Belanda, ternyata orang-orang Prancis sudah masuk dalam kehidupan kelautan Nusantara pada sekitaran abad ke-16. Masa ini sama tuanya dengan masa-masa awal Belanda mencengkeramkan hegemoninya di kepulauan Nusantara. Persentuhan itu dimulai dari perjalanan awal kapal-kapal Prancis yang bertolak dari pelabuhan Normandi, Prancis. Pelayaran awal orang-orang Prancis ini merupakan pelayaran yang pertama sejak ditemukannya jalur pelayaran melalui Samudera Pasifik pada 1519 oleh Magellan. 

Kapal-kapal yang bertolak dari Honfleur, Normandi ini dipimpin oleh seorang kapten bernama Verrazane. Verrazane yang optimis dengan ekspedisinya ini mengambil jalan untuk menyusuri Samudera Pasifik, namun sayang tidak beruntung menemukan Tanjung Magellan. Kapten kapal ini kemudian meneruskan perjalanannya melalui bagian selatan Samudera Atlantik barat dan berakhir di Samudera Hindia. 

Pada titik yang gemilang ini, ternyata kondisi awak kapal tidak segemilang pencapaian Verrazane. Dengan kondisi yang serba tidak menguntungkan, awak kapal kemudian memutuskan untuk memberontak sehingga membuat perjalanan hanya dilanjutkan dengan satu kapal lain yang sebelumnya dipimpin Pierre Caunay. 

Pada 1527, satu kapal yang tersisa ini melihat bibir pantai Sumatra. Kapal-kapal ini kemudian berhasil berlabuh di pelabuhan besar Aceh yang pada masanya merupakan bandar dagang besar di Asia. Pertemuan awal penduduk Nusantara dengan orang-orang Prancis ini tidak berlangsung dengan mulus. Para pelaut Prancis tidak mendapat sambutan hangat dan bahkan harus mengalami pertempuran hebat yang menewaskan kapten kapal. Dengan gugurnya pimpinan ekspedisi, pelaut-pelaut ini memutuskan untuk kembali ke negeri mereka tanpa melanjutkan ekspedisi ke pulau penghasil rempah-rempah di timur. 

Dalam perjalannya ke Prancis, kapal ini kemudian terdampar di Madagaskar dan awak kapalnya melanjutkan perjalanan dengan rakit hingga ke Mozambik –hanya untuk kemudian ditangkap oleh orang-orang Portugis. Verrazane yang berhasil selamat dan kembali ke Prancis merancang satu perjalanan lagi untuk mendapatkan kembali orang-orangnya yang terdampar. Verrazane menyewa satu kapal bernama La Marie du Bon Secours di bawah pimpinan kapten De Fumay. Kapal ini kemudian mencapai Tanjung Harapan, lagi-lagi hanya untuk ditangkap oleh orang-orang Portugis yang merampas harta benda yang dimuat kapal itu. 

French and Nusantara’s Marine Initial Contact. Foto: tentanghijau.id

Persentuhan selanjutnya orang Prancis dengan orang-orang Nusantara lagi-lagi kembali diawali dari pelabuhan Prancis –kali ini di bawah pimpinan Jean dan Raoul Parmentier. Perjalanan ini disponsori oleh Jean Ango, seorang juragan kapal yang juga membiayai perjalanan Verrazane pada masa sebelumnya. Jean Ango mempunyai ambisi kuat untuk menjalin hubungan dagang langsung dengan kepulauan rempah-rempah di Hindia Timur. Perjalanan ini dilangsungkan dengan dua kapal –La Penseé dan Le Sacre yang lebih besar dari kapal-kapal yang dibawa oleh Verrazane. 

Pada tahun 1529, kapal-kapal ini bertolak dari pelabuhan Dieppe dan berhasil mencapai Madagaskar pada tahun yang sama. Kedua kapal ini kemudian melanjutkan perjalanan hingga berhasil menyentuh bibir pantai barat Sumatra pada Oktober 1529 dan kembali ke Prancis dalam keadaan yang sempurna. Dalam perjalanan dagangnya ini, Parmentier bersaudara melihat adanya harapan hubungan dagang dengan orang-orang pribumi Nusantara. Hal ini diindikasikan dari adanya niat baik untuk bertukar hadiah dan makan malam bersama. Pertemuan yang bersahabat ini terjadi di Pulau Tiku, sebuah pulau di dekat Padang yang pada masa itu dikuasai raja bernama Meligica-Saga.

Dari persentuhan awal ini, kita dapat mengenal pandangan Prancis terhadap penduduk Nusantara. Pelaut Prancis mendeskripsikan Tiku sebagai kampung nelayan miskin dengan gubug-gubug dan perkakas makan kasar. Mereka juga menyebut bahwa penduduk di sana berkulit gelap dengan air muka yang mencemaskan. Seluruh penduduk di sana bertelanjang kaki dan memakai pakaian dari kain katun berwarna merah, coklat atau biru tua. 

Seorang kepala desa akan menyampirkan sarong di bahunya dan memakai gelang emas yang berat, ia juga membawa kris yang bertahtakan emas. Penduduknya secara umum mengenakan ikat kepala atau topi jerami sebagai penutup kepala mereka. 

Dari sisi pandang pelaut Prancis, orang-orang lokal yang mereka temui tampak kotor kecuali para pejabatnya. Mereka juga memberi kita catatan tentang senjata yang digunakan penduduk lokal berupa: busur, panah, tombak dan sumpit yang digunakan untuk meniupkan panah-panah beracun, persenjataan itu juga diperlengkapi dengan tameng tebal dari kulit gajah atau kulit banteng dan kulit ular atau kulit ikan. 

Pandangan lain yang ditinggalkan para pelaut Prancis itu juga adalah tentang wanita-wanita Nusantara –khususnya Melayu, yang mendapat reputasi sebagai wanita-wanita yang cantik dan menarik. Pelaut Prancis mengakui bahwa wanita-wanita di Sumatra yang mereka temui memang sesuai dengan reputasi mereka, namun wanita-wanita itu tidak barbar dan justru harus menjaga kesucian mereka. Pelacuran seperti yang sudah dikenal di negeri-negeri barat tidak berlaku di Sumatra. 

Hukuman-hukuman akan dijatuhkan bagi mereka-mereka yang tidak mematuhi adat. Hal ini membuat penduduk di Tiku dan Sumatra bersikap jujur satu sama lain. Namun, hal ini tidak berlaku dalam hubungan mereka dengan orang asing. 

Dari sisi pandang Prancis, wanita-wanita Tiku sangat bertanggung jawab atas berbagai macam pekerjaan rumah hingga urusan bercocok tanam. Urusan wanita sangat banyak sedangkan prianya hanya duduk-duduk dan bertaruh dalam permainan sabung ayam. Hal ini dikemukakan oleh Crignon yang segera mendapat dukungan dari pelaut yang datang ke sana setelahnya. Makanan di Tiku dianggap membosankan karena hanya terdiri dari nasi dan ikan, ayam hanya muncul pada perayaan-perayaan. Namun begitu, daerah ini sangat kaya akan hasil buah-buahan. Selain itu, aneka satwa tropis dapat ditemukan di sana.

Hasil dari persentuhan yang kedua ini tidak menunjukkan adanya keberhasilan dalam hal kesepakatan dagang. Orang-orang di Tiku tidak mau berkompromi sehingga meninggalkan orang Prancis untuk pada akhirnya harus angkat kaki dari pulau itu. Para pelaut kemudian bertolak dari Tiku dengan sedikit dagangan merica dan berhasil sampai di Dieppe pada Juli 1530. 

Demikian, dengan adanya catatan perjalanan awal Prancis ini, kita dapat melihat pandangan yang lain daripada pandangan kolonial. Pandangan Prancis tentu saja terlepas dari adanya kepentingan politik yang mengikat orang-orang kolonial Belanda hingga Inggris yang pernah menguasai Nusantara. Dengan adanya pandangan barat yang tidak memiliki kepentingan politik kolonial ini, dapat ditarik kesimpulan yang lebih objektif tentang keadaan masyarakat Nusantara pada abad-abad pertengahan.

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Djoened, Marwati dan Nugroho Notosusanto (ed.). 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Dorléans, Bernard. 2016. Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad XVI sampai dengan abad XX. Jakarta: KPG.
Reid, Anthony. 1993. Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, Volume 2. New Haven: Yale University.
Vlekke, H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.

Kapal Rusia Laksamana Kuznetsov


Harian Sejarah - Kapal Laksamana Kuznetsov merupakan salah satu kapal dalam armada laut Angkatan Laut Rusia yang juga bermuatan kapal kapal penjelajah rudal berat Pyotr Velikiy, dua kapal penghancur kelas Udaloy Severomorsk, kapal Wakil Laksamana Kulakov, serta kapal-kapal pendukung lain.

Selain itu, pasukan aviasi kapal Laksamana Kuznetsov juga mendapat tambahan bantuan pesawat dari pangkalan militer Hmeimim.

Laksamana Kuznetsov adalah kapal induk yang pertama kali diluncurkan pada 1985 dan merupakan unggulan Angkatan Laut Rusia.

Dalam operasi militer kali ini, kapal induk Laksamana Kuznetsov dibantu oleh kira-kira 15 pesawat tempur Su-33 dan MiG-29K/KUB, serta 10 helikopter Ka-52K, Ka-27, dan Ka-31.

Kuznetsov. Foto: gambarkapal.com

Spesifikasi :

  • Kru: 1.960 orang
  • Berat benaman: 60 ribu ton
  • Kecepatan maksimum: 29 knot (53,71 kilometer per jam)
  • Senjata:
  • 12 rudal antikapal 4K80 Granit
  • 24 sistem peluncur rudal antipesawat Kinzhal (192 rudal)
  • 8 kompleks rudal antipesawat 3M87 Kortik (256 rudal)
  • 2 RBU-12000 Udav (60 peledak)
  • 6 senapan otomatis enam barel 30 mm AK-630
  • Pasukan udara (sesuai proyek): 26 pesawat tempur Su-27K (Su-33) atau MiG-29K, serta helikopter Ka-27 dan Ka-31
Sekarang ini Pasukan aviasi kapal induk Laksamana Kuznetsov berencana melakukan penyerangan terhadap  militan ISIS di dekat kota Aleppo, Suriah dalam waktu dekat, demikian dilaporkan media Rusia Gazeta.ru, mengutip narasumber dari Kementerian Pertahanan Rusia.

Melihat Kembali Konsep Maritim Indonesia


Kita memandang laut sebagai sebuah kehidupan, tempat dimana semua orang dapat bergantung terhadap derasnya lautan. Sejak masa prasejarah manusia mendiami kepulauan Nusantara, mereka berlayar untuk memenuhi kehidupan mereka atau sekadar bermain dengan luasnya lautan. Mereka berlayar dari tanah kelahiran mereka hingga ke Pantai Barat Afrika, bagaimana? Manusia Indonesia pantas dibilang sebagai seorang pelaut bukan? Nusantara kita yang dahulu merupan cikal bakal dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang orang mengenalnya sebagai poros maritim yang sedang dibangkitkan kejayaannya oleh presiden Indonesia sekarang, Presiden Joko Widodo.

Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit dapatlah kita jadikan contoh dari kejayaan maritim Indonesia di masa lalu. Kedua emporium tersebut dapat besar karena menguasai lautan, Majapahit meskipun terletak di pedalaman, namun dapat menguasai daerah-daerah Pantai Utara Jawa. Dengan militer yang kuat serta sarana pelabuhan yang baik sebagai bandar dagang, keduanya dapat menguasai perniagaan di seluruh Asia Tenggara.

Menjelang abad ke-16 kemaritiman nusantara mengalami keadaan yang berubah sejak kedatangan pedagang-pedagang Eropa. Bangsa Eropa yang berusaha menancapkan kapitalisme dan imperialism guna melakukan monopili ekonomi mengakibatkan sempitnya pergerakan kehidupan. Jaringan pelayaran kerajaan-kerajaan di nusantara dan nelayan-nelayannya tergoyah, tersungkur masuk dalam fase kolonialisme asing.

Maritim Dalam Diskusi Kemerdekaan

Kolonialisme mencuci otak cara pandang manusia Indonesia, laut bukanlah prioritas, tetapi sebuah benteng perbatasan kolonialisme dengan dunia luar. Pemerintah kolonial Belanda menanamkan konsep pemikiran bangsa Indonesia yang terpusat di daratan seperti yang orang-orang Eropa pikirkan. Hingga kini pemikiran terus tetap terjaga dalam pemikiran Indonesia modern, bukannya memikirkan bagaimana mengembangkan daerah pesisir dan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, melainkan lebih sibuk memikirkan batas lahan dan pemekaran wilayah demi meratanya kekuasaan politik disetiap kawasan dan meninggalkan masyarakat yang miskin karena tidak dapat memanfaatkan kekayaan laut Indonesia yang luas.

Dalam sejarah, pada masa menjelang kemerdekaan. Para pendiri bangsa mempunyai cita-cita mengembalikan kejayaan Sriwijaya dan Majapahit dengan mengarahkan Indonesia kembali berjaya di laut. Dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 31 Mei 1945, Muhammad Yamin dengan tegas memperjuangkan perwujudan Tanah Air ke dalam wilayah negara Indonesia. ia menegaskan bahwa pemahaman Tanah Air adalah konsep tunggal.

Dengan demikian, Tanah Air merupakan konsep yang satu. “..membicarakan daerah Negara Indonesia dengan menumpahkan perhatian kepada pulau dan daratan sesungguhnya adalah berlawanan dengan realitas. Tanah Air ialah terutama daerah lautan dan mempunyai pantai yang panjang.”

Yamin meyakini laut Indonesia namun kala itu mendapat hambatan dari dunia Internasional yang menyebut laut merupakan zona bebas. Perjuangan Indonesia mengintegrasikan laut ke dalam wilayahnya dimulai kembali oleh Perdana Menteri Djuanda pada 1957. Untuk menguasai kembali lautan, pemerintah Soekarno memperkuat pasukan angkatan laut baik dari jumlah prajurit hingga alat utama sistem persenjataan. Namun, pengembalian laut sebagai sumber kehidupan gagal setelah pemerintahan berpindah tangan ke Soeharto yang berorientasi ke darat. - Harian Sejarah

-Imam Maulana Al Fatih

Ekosistem Maritim Pembentuk Peradaban Indonesia di Masa Lalu


Jika kita melihat mengenai geografi kemaritiman di Indonesia, maka kita akan merujuk pada geografi kemaritiman Kerajaan Sriwijaya, kemudian daerah-daerah di Pantai Utara Jawa, Pantai Makasar, dan wilayah Maluku yang berkembang melalui perdagangan global pada masanya. Wilayah maritim yang notabene adalah wilayah pantai dan lautan dimanfaatkan oleh masyarakat di kerajaan-kerajaan untuk melakukan perdagangan secara global. 

Perkembangan peradaban masyarakat Indonesia bertalian erat hubungannya dengan pesisir pantai dan lautan sebagai zona maritim. Kita akan melihat peradaban yang dibangun melalui jalur perdagangan. Hal ini dapat terjadi demikian karena masyarakat lepas pantai umumnya bukan hanya memanfaatkan lautan untuk memenuhi kebutuhan pangan lautan dengan berprofesi sebagai nelayan, akan tetapi lebih dari itu pesisir pantai dan lautan dijadikan bandar perdagangan. 

Dalam proses perdagangan yang dilakukan secara internasional, selain sarana pertukaran barang terjadi pula interaksi budaya yang mengakibatkan infiltrasi budaya luar ke masyarakat lokal. Hal inilah yang menjadikan masyarakat di daerah pesisir mengalami peradaban yang lebih maju ketimbang wilayah pedalaman karena menerima kemajuan peradaban lain yang disebabkan interksi dengan pedagang-pedagan negara-negara lain yang singgah di pantai-pantai tersebut.

(Foto/Liputan Utama)
Kerajaan-kerajaan yang bercorak maritim memiliki kekuatan yang lebih kuat dalam mengatur suatu kawasan. Hal tersebut karena kerajaan-kerajaan tersebut cenderung memiliki kekuatan ekonomi yang kuat dibanding dengan kerajaan-kerjaan di pedalaman. Ini terjadi karena level kuantitas perdagangan kerajaan maritim volume cukup besar dengan cakupan wilayah yang cukup luas, selain itu penerimaan bea pajak menjadi nilai tambah terhadap ekonomi, hal inilah yang membuat ekonomi masyarakat pesisir menjadi mumpuni karena aktifitas perdagangan tersebut.

Kekuatan dalam berdiplomasi merupakan cara agar kerajaan maritime dapat mempertahankan hegemoni atas kekuasaanya dilautan.  Sriwijaya yang merupakan kerajaan maritim terbesar dan teraktif dalam menjalankan perdagangan global di Nuasantara memiliki tradisi politik yang cenderung metropolitan. Sriwijaya membangun hubungan politik yang aktif dengan Kerajaan Chola dan Cina. Hal ini dilakukan untuk menjaga keamanan dan stabilitas jalur perdagangan Selat Malaka yang merupakan jalur perdagangan yang menghubungkan jalur perdagangan ke India dan Cina

Proses penyebaran agama merupakan dampak dari aktifitas perdagangan global yang disebarkan melalui proses akulturasi masyarakat luar dengan masyarakat lokal. Penyebaran agama Hindu dan Buddha dengan beberapa teori mengatakan disebarkan oleh mereka golongan waisyaWaisya merupakan mereka yang termasuk ke dalam kasta pengusaha atau pedagang, diantara mereka yang singgah akhirnya melakukan penyebaran agama dengan menikahi penduduk lokal. Hal ini khususnya oleh Kerajaan Sriwijaya dilakukan dengan membuat Pusat Pengajaran Agama Buddha yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat tradisi agama Buddha di Asia Tenggara.

Masyarakat wilayah pesisir di Indonesia umumnya Pantai Utara Jawa pada saat infiltarasi penyebaran agama Islam mengalami peningkatan status, hal ini karena mereka dapat terbebas dari sistem kasta yang menggolongkan masyarakat ke dalam beberapa bagian pada masa Kerajaan Hindu berkuasa di Tanah Jawa. Dan sebaliknya semua itu terjadi cukup lambat di daerah pedalaman karena masyarakat pedalaman terisolasi oleh peradaban dunia dengan menetap di tengah hutan, sehingga kehidupan masyarakat dan perdagangan hanya sebatas pada antar komunitas lokal, atau hanya sekadar melakukan perdagangan dengan wilayah pesisir.

Selain kekuatan perekonomian dan budaya. Posisi Geografi Maritim menjadi salah satu permasalahan kerajaan dan masyarakat yang berada di wilayah pesisir, hal ini karena munculnya perebutan hegemoni antara kekuatan-kekuatan politik lain untuk menguasai jalur perdagangan. Perebutan hegemoni inilah yang seringkali menimbulkan peperangan untuk memperebutkan daerah perdagangan. Selain itu muncul ancaman dari intervensi asing juga menjadi bahaya bagi masyarakat wilayah pesisir. 

Kedatangan Orang Belanda
Kekuatan-kekuatan asing ini masuk melalui pelabuhan-pelabuhan stategis untuk melaksanakan monopoli dagang di wilayah tersebut yang kerap kali berusaha untuk mengintervensi kerajaan-kerajaan tersebut, dan akhirnya berujung pada penaklukan wilayah kerajaan pesisir. Hal tersebut pernah dilakukan oleh Armada Spanyol yang dipimpin oleh  Afonso de Albuquerque dengan menaklukan Malaka (1511) atau mencampuri urusan dalam negeri yang akhirnya menimbulkan kerugian bagi kerajaan maritim, seperti yang dialami oleh Kerajaan Makasar yang harus menandatangi perjanjian Bongaya akibat kekalahannya melawan Kerajaan Bone yang dibantu oleh VOC. Yang berakibat Makasar harus tunduk perjanjian yang menyebabkan VOC mendapatkan hak untuk memonopoli perdagangan di wilayah Timur Nusantara.

Demikian bahwa geografi martim memiliki dampak yang berpengaruh disegala segi kehidupan masyarakat wilayah kerajaan maritim. Di satu sisi masyarakat daerah pesisir mengalami kemajuan peradaban yang lebih pesat ketimbang wilayah pedalaman akibat proses akulturasi budaya melalui jalur perdagangan. Namun disisi lain menjadi sebuah ancaman dari luar dengan kekuatan asing yang ingin memperoleh keuntungan lebih dalam perdagangan dengan melakukan monopoli dagang atau menaklukan kerajaan-kerajaan maritim.
________________________

Sumber :

[1] Prof. Dr. Slamet Muljana. 2013. Sriwijaya
[2] Abd Rahman Hamid. 2006. Sejarah Maritim

Kapal Selam Rusia Varshavyanka


Angkatan Laut Rusia memperkuat potensi tempur Armada Laut Hitamnya dengan menghadirkan kapal selam disel-elektrik terbaru Varshavyanka (Proyek 636.6). Empat kapal selam tipe ini telah beroperasi di Laut Hitam dan dua lainnya akan bergabung pada November mendatang. Saat ini, mereka masih menjalani uji coba di Teluk Finlandia dan Laut Baltik. Kapal selam ini kabarnya merupakan kapal paling senyap di kelasnya. Secara tak resmi, militer NATO menyebut kapal selam ini sebagai ‘lubang hitam’ di samudra.

Proyek 636 merupakan kapal selam disel-elektrik generasi ketiga. Mereka dikembangkan di Biro Desain Rubin, menggunakan kapal selam Paltus sebagai basisnya. Namun, sistem elektronik dan efektivitas tempur mereka dipertajam. Selain itu, kapal selam ini juga mendapat tambahan sistem radio-elektronik dan hidroakustik terbaru.


Varshavyanka mampu mengidentifikasi kapal musuh dan target lain pada jarak maksimal, mendekati dan memantau mereka tanpa terekspos, dan jika perlu mengerahkan senjata canggih yang mereka miliki. Tugas utama kapal selam ini ialah melindungi markas marinir dan rute laut serta menyerang kapal selam musuh dan kapal permukaan. Ia juga dapat melakukan misi pengintaian dan patroli di laut dan menghantam infrastruktur pesisir menggunakan rudal jelajah.

Foto: Jejak Tapak

Di Pasifik, Varshavyanka akan memperkuat potensi tempur AL Rusia di Timur Jauh. Mereka mampu mengarungi perairan internasional Laut Cina Selatan dan Laut Jepang, ‘dengan sunyi’ memantau perkembangan terbaru wilayah tersebut.

Sebelumnya, kapal ini telah memamerkan kemampuan tempur mereka dalam aksi nyata pada Desember 2015 lalu saat operasi militer Rusia di Suriah. Kapal selam Rostov-on-Don submarine (B-237) menembakan satu putaran misil jelajah Kalibr-PL terhadap infrastruktur yang dikuasai ISIS di Provinsi Raqqa, Suriah. Itu merupakan searngan misil kapal selam Rusia pertama terhadap musuh sungguhan.

Spesifikasi










Ciri umum: 
  • Panjang 74 m
  • Lebar 10 m
  • Bobot 4000 ton
  • Kedalaman Tekanan Lambung 240 m
  • Awak kapal 52
  • Jenis Kapal Kelas Kilo


Performa :
  • Kedalaman Operasi Max 300 m
  • Kecepatan Max 30 km/jam
  • Mengapung: 10–12 knot (19–22 km/h; 12–14 mph)
  • Menyelam: 17–25 knot (31–46 km/h; 20–29 mph) 
  • Daya tahan: 45 day


Mesin :
  • 2 Generator bertenaga 1500 kuda
  • 1 elektrik pendorong
  • 1 elektrik ekonomi
  • 2 mesin disel standby
  • 2 set baterai elektronik


Persenjataan :
  • Senjata utama Rudal Kaliber Jelajah
  • Rudal Kaliber-PL Jelajah jangkauan 2000 km
  • 6 x 533 mm (21 in) lubang torpedo
  • 18 torpedo
  • Club S anti-ship missiles
  • 24 mines
  • 8 SA-N-8 Gremlin or 8 SA-N-10 Gimlet Surface-to-air missiles

Negara Pengguna

Kapal selam pertama kelas Kilo untuk Angkatan Laut Uni Soviet beroperasi pada tahun 1980. Angkata Laut Rusia masih memiliki kapal selam kelas ini, dan per tahun 2011 dilaporkan memiliki 17 buah kapal selam aktif, dengan 7 kapal dalam tahap peremajaan. 33 buah diekspor ke beberapa negara :

  •  Aljajair : 2 original Kilo, 2 improved Kilo (636M)
  •  RRC : 2 original Kilo, 10 improved Kilo
  •  Polandia : 1 original Kilo
  •  Iran : 3 Kilo
  •  Rumania : 1 Kilo
  •  Vietnam : 6 improved Kilo dalam pemesanan
  •  India : 4 Shindughosh class (Kilo class)
  •  Federasi Rusia : 20 original Kilo aktif, 3 improved kilo aktif, 3 improved Kilo dalam pemesanan


Sumber :


Komoditi Perdagangan di Kesultanan Malaka

Bandar Malaka abad ke-14. Foto: Pinterest

Harian Sejarah - Kesultanan Malaka terus berkembang dan meluaskan hegemoni (kekuasaan) wilayahnya. Daerah-daerah diselat, serta pulau Sumatera masuk ke dalam pengaruhnya. Termasuk Samudera yang pernah dikunjungi oleh Ibn Batuta dalam pelayarannya menuju China pada pertengahan abad ke-14. Sebelum dikuasa oleh Portugis pada 1511, Malaka memainkan peran yang penting sebagai bandar “transito” dalam perdagangan maritime kawasan Asia Tenggara.

Kesultanan Malaka pada abad ke-15, berdasarkan keterangan Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia (1996).

Tomi Pires yang pernah tinggal di Malaka antara tahun 1512-1515 mendeskripsikan sepuluh trayek (jalur) pelayaran yang menghubungkan atau dihubungkan oleh Malaka pada abad ke-16, berikut ini adalah komoditi dagang di Kesultanan Malaka, sebagai berikut
  1. Malaka-pantai timur Sumatera ; emas, kapur barus, sutera, lada, damar, dan hasil hutan, madu, lilir,tir,belerang, besi, kapas, rotan, beras, serta bahan pangan lainnya, dan budak hitan. Hasil-hasil tersebut kemudian ditukar dengan tekstil India. 
  2. Malaka-Sunda (Jawa Barat) ; lada, asam jawa, budak, batuan semi permata, pangan lainya. Hasil ini ditukarkan dengan tekstil India, pinang, air mawar, dan sebagainya.
  3. Malaka-Jawa Tengah dan Jawa Timur ; beras, lada, asam jawa, batuan permata, budak, emas, dan tekstil yang akan dijual ke timur. Hasil ini ditukarka dengan tekstil India dan barang dari China.
  4. Malaka-Jawa Barat dan Pantai Utara Sumatera ; hasil yang sama seperti dengan pantai timur Sumatera dan kuda dikapalkan ke Jawa Barat. Terjadi juga perdagangan langsung dengan pedagang Gujarat yang membawa tekstil
  5. Jawa Tengah dan Timur-Sumatera Selatan; kapas, madu, lilin, tir, rotan, lada, dan emas dikapalkan ke Jawa
  6. Jawa-Bali, Lombok, Sumbawa; bahan pangan, tekstil kasar, budak, dan kuda. Hasil-hasil ini ditukarkan dengan tekstil kasar Jawa
  7. Bali, Lombok, Sumba-Timor; kayu cendana dari daerah Timor dan Sumba ditukarkan dengan tekstil kasar India dan Jawa
  8. Timor-Sumba-Maluku; pala, cengkeh, dan bunga pala dari Maluku ditukarkan dengan tekstil kasar Sumbawa, mata uang Jawa, dan perhiasan dari India.
  9. Jawa dan Malaka-Kalimantan Selatan; bahan-bahan pangan, intan, emas, dan kapur barus ditukarkan dengan tekstil India.
  10. Sulawesi Selatan-Malaka; budak, beras, dan emas dari Makassar ditukarkan langsung oleh orang-orang bugis dengan tekstil India, damar, dan sebagainya
Ilustrasi Kegiatan Perdagangan di Pelabuhan di Asia . Foto:katailmu.com

Komoditi tersebut terhubung dengan sistem perdagangan yang dihubungkan Malaka dengan jalur-jalur yang membentang ; ke barat sampai India, Persia, Arab, Syria, Afrika Timur, sampai China dan mungkin Jepang. Ini merupakan sistem perdagangan yang paling besar di dunia pada zamannya. Dua tempat pertukaran yang paling penting adalah Gujarat (India barat laut) dan Malaka. Rempah-rempah merupakan komoditi utama, kemudia tekstil India, Jawad an Beras Jawa.

Sumber :

Abd Rahman Hamid. 2013. Sejarah Maritim Indonesia. Yogyakarta: Ombak
M. C Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern: 1800-2008. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press,