Showing posts with label Masa Kolonial. Show all posts
Showing posts with label Masa Kolonial. Show all posts

Batavia 1681: Gambaran Kemegahan dan Kekejaman Heeren dan Vrouwen VOC di Tanah Jawa

Batavia 1681: Picture of VOC Heeren’s and Vrouwen’s Grandeur and Cruelty in the Javanese Land

Harian Sejarah - Replika Kapal Batavia yang menggambarkan kapal kongsi dagang Belanda (VOC) yang berlayar pada abad 17 –mengingatkan kita pada masa-masa awal masuknya kolonialisme di Nusantara.

Mungkin cukup naif jika menyebut bahwa Indonesia telah dijajah selama kurang lebih tiga setengah abad dan hal itu, sepertinya tidak benar. Kunjungan pertama kongsi dagang Belanda yang terkesan sombong pada sekitaran abad ke-16 dan ke-17 tidak dapat diakui sebagai kekuasaan penuh pada daerah-daerah Nusantara. 

Kunjungan mereka yang hanya mencapai Banten tidak mungkin diartikan sebagai penguasaan juga terhadap Maluku dan kepulauan rempah-rempah lainnya. Kendati demikian, kekejaman orang-orang yang tergabung dalam kongsi dagang Hindia Timur Belanda itu ternyata sudah menampakkan wujudnya pada sekitaran abad ke-17 –saat mereka sudah memiliki Batavia sebagai pusat kamar dagang mereka. 

VOC –menurut register-register mereka, ingin membuat Batavia seperti kota-kota mereka di daratan Eropa. Untuk membuatnya stabil dari luapan banjir dan menjadi kota yang sehat, pembangunan hadir di mana-mana. Beberapa tahun saja sejak mereka mendapatkan Batavia, kota itu sudah berubah menjadi kota dagang megah yang berisi pejabat-pejabat kongsi dagang dan budak-budaknya. Pada sekitaran 1681, kunjungan Jean Baptise Tavernier –seorang Prancis, menunjukkan pada kita tentang bagaimana orang-orang kaya baru Belanda itu berkelakuan di pusat dagang baru mereka. 

Menurut Tavernier, kekayaan berlimpah-limpah yang datang dari penguasaan baru mereka di tanah Jawa dan hubungan dagang mereka yang seringkali disertai intervensi politik pada daerah-daerah penghasil rempah membuat para pejabat ini sukses meraup untung. Kesuksesan yang luar biasa dalam waktu singkat itu kemudian diikuti oleh sifat tamak dan kesombongan yang mengalahkan para aristokrat di Negeri Belanda sendiri. 

Hal-hal ini secara tidak langsung didukung dan dikuatkan oleh negeri induk dengan memberikan jenderal-jenderal Hindia mereka harta dan pasukan untuk menjamin kemegahan armada-armada ‘dagang’ Belanda. Kendati mengirimkan modal dan dukungan yang luar biasa, jarang ada pejabat di Negeri Belanda yang mengetahui tindak kesewenang-wenangan dan kengerian luar biasa yang terjadi di Batavia serta sepanjang  perjalanan menuju ke sana. 

Dimulai dari perjalanan megah dari pelabuhan-pelabuhan sebelah barat Amsterdam, kapal-kapal Hindia mengarungi samudera dan menambatkan talinya di pelabuhan utara Batavia. Ketika sampai di Batavia ini, kekejaman dimulai. Serdadu-serdadu yang baru datang akan diminta bertarung satu sama lain oleh Mayor Batavia, hal ini demi mengetahui kekuatan prajurit. Mereka yang menang akan tinggal di Batavia sebagai ajudan-ajudan jenderal, namun mereka yang kalah akan dikirim jauh ke pulau-pulau berbenteng yang kondisinya jelas jauh sekali dari Batavia. Batavia yang dipenuhi kekayaan dan kuda-kuda Arab serta Persia yang senantiasa mengawal pejabat-pejabat itu ke mana-mana. 

Tavernier sendiri menyaksikan dengan mata kepalanya tentang bagaimana kemegahan dan kekayaan yang dipamerkan oleh para heeren (Bahasa Belanda: tuan-tuan) dan vrouwen (Bahasa Belanda: nyonya-nyonya) Batavia itu. Kereta yang membawa mereka keluar rumah ditarik oleh paling tidak enam ekor kuda dan enam prajurit tombak dengan pakaian yang bagus. 

Belum lagi iring-iringan yang mengekor di belakang mereka terdiri dari sepasukan infantri dan lain-lainnya. Kemegahan ini memang berguna bagi mereka untuk mendapat posisi bagus dalam perundingan dagang, namun juga terkadang memberikan kesan membuang sia-sia kekayaan kongsi dagang. 

Salah satu kisah kekejaman tuan-tuan Belanda itu malahan datang dari gubernur jenderalnya sendiri –Heer Maetsuyker. Gubernur jenderal itu tidak memiliki anak dari perkawinannya selama bertahun-tahun dengan istrinya sehingga membuatnya ingin mendatangkan keponakannya dari Negeri Belanda. Karena kekuasannya yang besar, dikirimlah pesan pada mayor kota tempat keponakan gadisnya itu tinggal untuk kemudian memintanya datang ke Hindia. Setelah pencarian sulit yang dilakukan, ditemukanlah gadis sederhana penjual kubis itu dan disuruhlah pergi ke Hindia menumpang sebuah kapal yang dipimpin seorang laksamana muda. 

Mengetahui betapa berharganya gadis yang menumpang kapalnya itu, laksamana muda menjaganya dengan sepenuh hati demi mendapatkan hatinya dan posisi bagus di samping gubernur jenderal Hindia. Dikarenakan mudahnya gadis itu terkena mabuk laut, laksamana muda tidak pernah meninggalkan kamar gadis itu dan terus menungguinya di samping ranjang. Pun demikian, tidak ada yang tahu bahwa laksamana muda itu juga menemaninya di atas ranjang. Hingga sebelum sampai di Hindia, hamil jugalah gadis itu. 

Sesampainya di Batavia, keponakan perempuan itu disambut dengan pawai dan dielu-elukan. Namun demikian, kekecewaan pun datang juga ketika Heer Maetsuyker mengetahui bahwa kehamilan keponakannya adalah akibat hubungannya dengan laksamana muda. Menyayangkan bahwa ia telah hamil, pernikahan pun dilaksanakan dan anak itu pun dilahirkan. 

Namun, seminggu kemudian, datanglah obat racun dari istana gubernur jenderal untuk keponakan perempuan itu hingga membuatnya tewas. Hal ini dilakukan untuk menjaga kehormatan gubernur jendral itu agar tak memiliki menantu dari kelas rendahan. 

Beda dengan cerita-cerita dari istana gubernur jendral, kisah nyonya-nyonya Batavia lebih mengerikan lagi. Nyonya-nyonya itu berasal dari kelas rendahan di Negeri Belanda yang dikirim ke Batavia untuk mendapatkan pasangan. Setelah menikah dengan pejabat-pejabat VOC yang kaya raya dengan budak-budaknya yang banyak, nyonya-nyonya itu kesombongannya bahkan melebihi putri-putri kerajaan. 

Lebih-lebih lagi, nyonya-nyonya itu merasa sangat pintar sehingga mengira bahwa nafsu-nafsu terlarang dan perselingkuhan mereka tidak dapat terbongkar –kecuali dengan kekuatan supranatural dan Tuhan. Namun sayang, nafsu mereka itu kadang pula tidak dapat dijaga dengan baik hingga membuat mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk berselingkuh dan memuaskan diri. 

Perselingkuhan yang sering kali terjadi bukan antara nyonya-nyonya itu dan perwira muda yang berkulit putih dan tampan, namun yang lebih sering adalah dengan budak-budak belian mereka yang kekar dan berkulit gelap. 

Tavernier mengisahkan bahwa pada perjalannya itu ia menyaksikan perselingkuhan seorang istri sekretaris rumah sakit Batavia yang sebenarnya sungguh tampan. Karena tidak mendapat keturunan dari suaminya, nyonya sekretaris itu pun berselingkuh dengan seorang budaknya yang kekar namun berkulit amat gelap. 

Perselingkuhan itu membuahkan kehamilan yang nantinya justru akan membahayakan rahasianya. Awalnya, sekretaris rumah sakit itu amat senang sehingga mempersiapkan kelahiran dengan amat mewah. Namun, ketika tiba saat kelahiran, kegembiraan itu berubah seketika menjadi kedukaan –ternyata anaknya itu amat gelap kulitnya. Hanya berkat mulut para budak wanita sekretaris itulah perselingkuhan ini kemudian terbongkar. Akhir ceritanya, hanya karena intervensi gubernur jenderal saja, maka kasus ini dapat diatasi dengan hukuman seumur hidup pada budak pria yang menghamili nyonya sekretaris itu. 

Kekejaman yang dilakukan para nyonya Batavia juga tertuju pada budak wanita mereka. Pernah suatu kali seorang nyonya mendapati budak wanitanya tersenyum pada tuannya. Hal ini sebenarnya berawal dari tugas yang diberikan nyonya itu kepada budak wanitanya untuk membantu memakaikan jubah ketika suaminya hendak keluar rumah. Tanpa sengaja, mata suami dan budak wanita itu kemudian bertemu dan budak wanita itu pun tersenyum. Melihat hal ini, nyonya itu menjadi sangat murka dan berpikir bahwa suaminya telah berselingkuh dengan budak itu. 

Setelah suaminya pergi, diikatnya budak wanita itu di meja makan dan dipotong-potonglah tubuh budak itu hingga tidak berdayalah ia. Setelah kehilangan banyak darah, nyonya itu bahkan punya pikiran untuk memasak daging budak itu dan menyajikannya ke suaminya. 

Hanya karena ancaman budak wanita yang lain saja, pemikiran mengerikan itu diurungkan. Budak lainnya mengancam akan melaporkan hal ini ke mayor. Beberapa saat setelahnya, meninggalah budak wanita yang sudah berdarah-darah itu dan kasus ini pun tidak terbongkar hingga waktu yang lama. Setelah terbongkar pun tidak ada teguran bagi si majikan perempuan. 

Di rumah-rumah yang lain, seorang nyonya akan menghukum budak wanitanya dengan menenggelamkan wajahnya ke baskom penuh air mendidih jika budak wanita itu bergurau dengan pria yang bekerja di rumah itu. Hukuman-hukuman yang dilakukan para majikan ini sudah biasa terlihat di rumah-rumah Batavia pada masa itu. 

Hal yang mencengangkan juga terlihat saat seorang budak kehilangan barang pribadinya (biasanya kain selimut) dan justru dihukum karenanya. Demikianlah, pejabat dan orang-orang yang tinggal di Batavia ini mendapat kekuasaan dan dominasi atas budak mereka sehingga bahkan orang-orang negeri induk yang datang ke sana memberikan komentar tentang betapa mengagumkannya penghormatan yang diberikan oleh orang-orang pribumi terhadap para heer dan vrouw yang tinggal di Hindia. 

Demikian itu adalah gambaran kengerian yang terjadi di balik kemegahan Batavia. Kota Batavia adalah kota ajaib yang mampu mengangkat derajat sosial orang-orang buangan Negeri Belanda. Hal-hal yang demikian ini seringkali terjadi di luar pengetahuan negeri induk. Tidak mungkin hal yang demikian dikirimkan sebagai laporan resmi seorang gubernur jenderal. Hanya melalui sumber lain seperti surat-surat dan catatan Tavernier ini saja lah kita mampu melihat kengerian Batavia di tahun 1681. 

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Djoened, Marwati dan Nugroho Notosusanto (ed.). 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Dorléans, Bernard. 2016. Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad XVI sampai dengan abad XX. Jakarta: KPG.
Tavernier, Jean Baptiste. 1681. Kisah Perilaku Orang Belanda di Asia terhadap Rakyat Mereka maupun Orang Asing guna Mendukung Perdagangan. Tanpa kota: Tanpa penerbit. 
_______. 1681. Fin pitoyable d’un riche marchand de Hambourg qui dans sa disgrace s’etait enrole pour simple soldat au service de la Compagnie. Tanpa kota: Tanpa penerbit.
Vlekke, H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.

Pembantaian Etnis Cina pada Peristiwa Geger Pecinan 9 Oktober 1740

Ilusrasi: Pinterest

Harian Sejarah - Pada hari ini, negara kita tengah dirundung permasalahan mengenai rasialitas dan krisis toleransi. Menurut survei dari Wahid Foundation bertajuk "Potensi Intoleransi dan Radikalisme Sosial Keagamaan di Kalangan Muslim Indonesia" yang menghasilkan laporan mengenai kelompok yang dibenci oleh masyarakat Indonesia, meliputi mereka yang berlatarbelakang agama nonmuslim, kelompok tionghoa, komunis, dan selainnya.

Dari total 1.520 responden sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci. Dari jumlah 59,9 persen itu, sebanyak 92,2 persen tak setuju bila anggota kelompok yang mereka benci menjadi pejabat pemerintah di Indonesia. Dari apa yang dipaparkankita dapat mengetahui bahwa kebencian merupakan tolak ukur dari penilaian seseorang terhadap orang lain, sehingga dapat dikatakan segala penilaian bersifat subjektif, bukan objektif.

Di sini kita melihat bahwa akhir-akhir ini kebencian yang berujung pada tindak toleransi dan kebencian rasial ditujukan oleh mereka orang Indonesia keturunan Cina, atau Tionghoa. Kebencian terhadap orang Tionghoa sebenarnya bukanlah keadaan lama dalam realitas sosial masyarakat Indonesia. Setidaknya dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar ungkapan, "orang cina tuh" atau "anak orang cina" yang seolah memisahkan secara sosial budaya orang Indonesia keturunan Tionghoa dengan suku-suku lain di Indonesia.

Hal yang paling menjadi simbolisasi yang ditujukan kepada orang Tionghoa adalah tingkat ekonomi, sosial, dan etnisnya. Simbolisasi tersebut berujung pada stigma yang cenderung negatif dan menganggap orang Tionghoa menjadi sumber dari permasalahan ekonomi orang Indonesia lainnya, yang sering disimbolkan sebagai "pribumi."

Stigma ini kemudian berujung pada kebencian terhadap orang Tionghoa yang berakhir pada intimidasi berupa verbal atau pun fisik. Peristiwa yang terdekat terjadi sekitar 18 tahun yang lalu, ketika gelombang reformasi 1998 turut juga membawa dampak pada intimidasi kepada golongan Tionghoa berupa kekerasan fisik, penjarahan, dan isu yang santer berupa pemerkosaan terhadap wanita-wanita Tionghoa.

Hal ini sebetulnya juga terjadi pada untaian perjalanan sejarah Indonesia. Dan hal tersebut bukan hanya dilakukan oleh golongan masyarakat Indonesia yang dikatakan pribumi, melainkan oleh pihak kolonial Belanda. Sekiranya kita mengenal Peristiwa 9 Oktober 1740, yang merupakan kejadian pembantaian etnis Tionghoa yang dilakukan oleh pihak kolonial VOC.

Hal ini bermula ketika pada awal abad ke-18 terjadi penurunan perekonomian dunia sebagai imbas dari turunnya harga gula, hal ini juga turut mempengaruhi kehidupan Batavia. Kondisi tersebut menyebabkan banyak pengangguran di Batavia, sementara terjadi gelombang migrasi dari Cina yang memadati kota Batavia saat itu. Setidaknya telah ada 4.000 orang Cina bermukim di dalam tembok kota Batavia, sedangkan sekitar 10.000 orang berada di luar tembok kota.

Berkas:Adriaan Valckenier (1695-1751) by T.J. Rheen.jpg
Adriaan Valckenier (1695-1751). Foto: Rijksmuseum Amsterdam

Pemerintah VOC sendiri melakukan pengaturan terhadap masyarakat Tionghoa di Batavia. Salah satunya dengan menunjuk kapitan (pemimpin) yang akan mengatur komunitas masyarakat Tionghoa pada abad ke-17. Konflik kemudian muncul ketika gubernur jenderal saat itu, Adriaan Valckenier mengambil kebijakan untuk mengirimkan kelebihan pengangguran termasuk orang Tionghoa ke Sri Langka untuk mendirikan benteng dan kota persinggahan.

Namun isu kemudian berkembang bahwa banyak dari Orang Tionghoa yang dibunuh dalam perjalanan ke Sri Langka dengan diceburkan ke laut, sehingga menimbulkan kecemasan orang-orang Tonghoa lainnya di Batavia, dan kemudian menghimpun orang-orang Tonghoa di dalam dan luar tembok kota dan menyapkan senjata, serta mengancam untuk melakukan pemberontakan di Batavia.

Berkas:Chinezenmoord van stolk (2).jpg
Ilustrasi Geger Pecinan 1740. Foto: geni.com/Abraham Van Stolk

Ancaman tersebut kemudian dibalas dengan mengeluarkan surat perintah: bunuh dan bantai orang-orang Tionghoa. Para sedadu VOC kemudian melakukan penyerangan, pembakaran dan perampokan terhadap pemukiman-pemukiman Tionghoa di dalam dan luar tembok Batavia. Baik pria, wanita, dan anak-anak tak luput dalam peristiwa berdarah tersebut. Kekerasan dalam batas kota berlangsung dari 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740, sedangkan berbagai pertempuran kecil terjadi hingga akhir November tahun yang sama.

Dilansir dari National Geographic Indonesia, mengutip kisah seorang pelaku pembantain G.Bernhard Schwarzen, berkisah dalam bukunya Reise in Ost-Indien yang terbit pada 1751, " Tak tersisa lagi orang Cina di dalam tembok kota. Seluruh jalanan dan gang-gang dipenuhi mayat, kanal penuh dengan mayat, bahkan kaki kita tak akan basah ketika menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu.”

Musemum Fatahilah, dulu Balai Kota Batavia tempat pembantain pada Peristiwa 9 Oktober 1740. Foto: Tempo

Dalam Peristiwa 9 Oktober 1740, diperkirakan sekitar 5.000 sampai 10.000. Beberapa diantaranya sebelumnya ditawan di di Stadhuis, Balai Kota Batavia (kini Museum Sejarah Jakarta). Mereka kemudian diarakan ke belakang halaman Balai Kota dan kemudian disembelih. Peristiwa berdarah tersebut kemudian dikenal dengan "Geger Pecinan"

Kejadian tersebut membuat banyak orang-orang Tionghoa melarikan diri dari Batavia dan menuju daerah lain seperti di Pantai Utara Jawa, seperti Banten dan Mataram, namun kedatangan mereka juga mendapatkan penolakan dari Kesultanan Banten dan Mataram.

Kawasan Glodok 1880. Foto: KITLV

Usai kejadian tersebut tidak ada orang Cina yang tinggal di dalam Batavia. Beberapa tahun kemudian orang-orang Cina diperbolehkan kembali tinggal di sekitar selatan Batavia, mendiami  daerah berawa yang dijadikan ladang tebu milik seorang Bali bernama Arya Glitok. Daerah tersebut kemudian menjadi daerah pecinaan yang dikenal sebagai Glodok, yang diambil dari nama orang Bali tersebut.

Pemerintahan Republik Bataaf di Indonesia

Bendera Republik Bataaf (Batavian Republic) yang berkibar di Eropa ketika Belanda diduduki oleh Inggris. Sumber: NationStates Forums

Harian Sejarah - Pada tahun 1795 terjadi perubahan di Belanda. Muncullah kelompok yang menamakan dirinya kaum patriot. Kaum ini terpengaruh oleh semboyan Revolusi Perancis: liberte (kemerdekaan), egalite (persamaan), dan fraternite (persaudaraan).

Berdasarkan ide dan paham yang digelorakan dalam Revolusi Perancis itu maka kaum patriot menghendaki perlunya negara kesatuan. Bertepatan dengan keinginan itu pada awal tahun 1795 pasukan Perancis menyerbu Belanda. Raja Willem V melarikan diri ke Inggris. Belanda dikuasai Perancis. Dibentuklah pemerintahan baru sebagai bagian dari Perancis yang dinamakan Republik Bataaf (1795-1806). Sebagai pemimpin Republik Bataaf adalah Louis Napoleon saudara dari Napoleon Bonaparte.

Sementara itu dalam pengasingan, Raja Willem V oleh pemerintah Inggris ditempatkan di Kota Kew. Raja Willem V kemudian mengeluarkan perintah yang terkenal dengan “Surat-surat Kew”. Isi perintah itu adalah agar para penguasa di negeri jajahan Belanda menyerahkan wilayahnya kepada Inggris bukan kepada Perancis.

Dengan “Surat-surat Kew” itu pihak Inggris bertindak cepat dengan mengambil alih beberapa daerah di Hindia seperti Padang pada tahun 1795, kemudian menguasai Ambon dan Banda tahun 1796. Inggris juga memperkuat armadanya untuk melakukan blokade terhadap Batavia.

Sudah barang tentu pihak Perancis dan Republik Bataaf juga tidak ingin ketinggalan untuk segera mengambil alih seluruh daerah bekas kekuasaan VOC di Kepulauan Nusantara. Karena Republik Bataaf ini merupakan vassal dari Perancis, maka kebijakan-kebijakan Republik Bataaf untuk mengatur pemerintahan di Hindia masih juga terpengaruh oleh Perancis.

Kebijakan yang utama bagi Perancis waktu itu adalah memerangi Inggris. Oleh karena itu, untuk mempertahankan Kepulauan Nusantara dari serangan Inggris diperlukan pemimpin yang kuat. Ditunjuklah seorang muda dari kaum patriot untuk memimpin Hindia, yakni Herman Williem Daendels. Ia dikenal sebagai tokoh muda yang revolusioner.

Pemerintahan Herman Williem Daendels (1808-1811)

herman%2Bwillem%2Bdeandles
Herman Willem Daendles. Sumber: Rijksmuseum Amsterdam 

H.W. Daendels sebagai Gubernur Jenderal memerintah di Nusantara pada tahun 1808-1811. Tugas utama Daendels adalah mempertahankan Jawa agar tidak dikuasai Inggris. Sebagai pemimpin yang ditunjuk oleh Pemerintahan Republik Bataaf, Daendels harus memperkuat pertahanan dan juga memperbaiki administrasi pemerintahan, serta kehidupan sosial ekonomi di Nusantara khususnya di tanah Jawa.

Daendels adalah kaum patriot dan liberal dari Belanda yang sangat dipengaruhi oleh ajaran Revolusi Perancis. Di dalam berbagai pidatonya, Daendels tidak lupa mengutip semboyan Revolusi Perancis. Daendels ingin menanamkan jiwa kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan di lingkungan masyarakat Hindia. 

Oleh karena itu, ia ingin memberantas praktik-praktik feodalisme. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat lebih dinamis dan produktif untuk kepentingan negeri induk (Republik Bataaf). Langkah ini juga untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan sekaligus membatasi hak-hak para bupati yang terkait dengan penguasaan atas tanah dan penggunaan tenaga rakyat.

Dalam rangka mengemban tugas sebagai gubernur jenderal dan memenuhi pesan dari pemerintah induk, Daendels melakukan beberapa langkah strategis, terutama menyangkut bidang pertahanan-keamanan, administrasi pemerintahan, dan sosial ekonomi.

Bidang pertahanan dan keamanan

Garis Merah menunjukan jalur Jalan Raya Pos dari ujung barat ke ujung timur Jawa. Sumber: Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, 1994.

Memenuhi tugas mempertahankan Jawa dari serangan Inggris, Daendels melakukan langkah-langkah:

  1. Membangun benteng-benteng pertahanan baru
  2. Membangun pangkalan angkatan laut di Anyer dan Ujungkulon. Namun pembangunan pangkalan di Ujungkulon boleh dikatakan tidak berhasil
  3. Meningkatkan jumlah tentara, dengan mengambil orang-orang pribumi karena pada waktu pergi ke Nusantara, Daendels tidak membawa pasukan. Oleh karena itu, Daendels segera menambah jumlah pasukan yang diambil dari orang-orang pribumi, yakni dari 4.000 orang menjadi 18.000 orang.
  4. Membangun jalan raya dari Anyer (Jawa Barat, sekarang Provinsi Banten) sampai Panarukan (ujung timur Pulau Jawa, Provinsi Jawa Timur) sepanjang kurang lebih 1.100 km. Jalan ini sering dinamakan Jalan Daendels.
Pelaksanaan program pembangunan di bidang pertahanan dan keamanan tersebut telah merubah citra Daendels. Pada awalnya Daendels dikenal sebagai tokoh muda yang demokratis yang dijiwai panji-panji Revolusi Perancis dengan semboyannya: liberte, egalite dan fraternite. Ia berubah menjadi diktator. 

Daendels juga mengerahkan rakyat untuk kerja rodi. Dengan kerja rodi itu maka rakyat yang sudah jatuh miskin menjadi semakin menderita, apalagi kerja rodi dalam pembuatan pangkalan di Ujungkulon, karena lokasi yang begitu jauh, sulit dicapai dan penuh dengan sarang nyamuk malaria. Oleh karena itu, wajar kalau kemudian banyak rakyat Hindia yang jatuh sakit bahkan tidak sedikit yang meninggal. 

Bidang pemerintahan

Daendels juga melakukan berbagai perubahan di bidang pemerintahan. Ia banyak melakukan campur tangan dan perubahan dalam tata cara dan adat istiadat di dalam kerajaan-kerajaan di Jawa. Kalau sebelumnya pejabat VOC datang berkunjung ke istana Kasunanan Surakarta ataupun Kasultanan Yogyakarta ada tata cara tertentu, misalnya harus memberi hormat kepada raja, tidak boleh memakai payung emas, kemudian membuka topi dan harus duduk di kursi yang lebih rendah dari dampar (kursi singgasana raja), Daendels tidak mau menjalani seremoni yang seperti itu. 

Ia harus pakai payung emas, duduk di kursi sama tinggi dengan raja, dan tidak perlu membuka topi. Sunan Pakubuwana IV dari Kasunanan Surakarta terpaksa menerima, tetapi Sultan Hamengkubuwana II menolaknya. 

Penolakan Hamengkubuwana II terhadap kebijakan Daendels menyebabkan terjadinya perseteruan antara kedua belah pihak. Untuk memperkuat kedudukannya di Jawa, Daendels berhasil mempengaruhi Mangkunegara II untuk membentuk pasukan “Legiun Mangkunegara” dengan kekuatan 1.150 orang prajurit. 

Pasukan ini siap sewaktu-waktu untuk membantu pasukan Daendels apabila terjadi perang. Dengan kekuatan yang ia miliki, Daendels semakin congkak dan berani. Daendels mulai melakukan intervensi terhadap pemerintahan kerajaan-kerajaan lokal, misalnya saat terjadi pergantian raja.

Melihat bentuk intervensi dan kesewenang-wenengan Daendels, Raden Rangga terdorong untuk melancarkan perlawanan terhadap kekuatan kolonial. Raden Rangga adalah kepala pemerintahan mancanegara di bawah Kasultanan Yogyakarta. Oleh karena itu, Sultan Hamengkubuwana II mendukung adanya perlawanan yang dilancarkan Raden Rangga. Namun perlawanan Raden Rangga ini segera dapat ditumpas dan Raden Rangga sendiri terbunuh. 

Setelah berhasil mematahkan perlawanan Raden Rangga, Daendels kemudian memberikan ultimatum kepada Sultan Hamengkubuwana II agar menyetujui pengangkatan kembali Danureja II sebagai patih dan Sultan harus menanggung kerugian perang akibat perlawanan Raden Rangga. Sultan Hamengkubuwana II menolak ultimatum itu. 

Akibatnya, pada Desember 1810 Daendels menuju Yogyakarta dengan membawa 3.200 orang serdadu. Dengan kekuatan ini Daendels berhasil memaksa Hamengkubuwana II untuk turun tahta dan menyerahkan kekuasaannya kepada puteranya sebagai Sultan Hamengkubuwana III. Hamengkubuwana III ini sering disebut Sultan Raja dan Hamengkubuwana II yang masih diizinkan tinggal di lingkungan istana sering disebut Sultan Sepuh.

Di samping hal-hal di atas, Daendels juga melakukan beberapa tindakan yang dapat memperkuat kedudukannya di Nusantara. Beberapa tindakan yang dimaksud adalah sebagai berikut:
  1. Membatasi secara ketat kekuasaan raja-raja di Nusantara.
  2. Membagi Pulau Jawa menjadi sembilan daerah prefectuur/prefektur (wilayah yang memiliki otoritas). Masing-masing prefektur dikepalai oleh seorang prefek. Setiap prefek langsung bertanggung jawab kepada Gubernur Jenderal. Di dalam struktur pemerintahan kolonial, setiap prefek membawahi para bupati.
  3. Kedudukan bupati sebagai penguasa tradisional diubah menjadi pegawai pemerintah (kolonial) yang digaji. Sekalipun demikian para bupati masih memiliki hak-hak feodal tertentu.
  4. Kerajaan Banten dan Cirebon dihapuskan dan daerahnya dinyatakan sebagai wilayah pemerintahan kolonial.

Bidang peradilan

Untuk memperlancar jalannya pemerintahan dan mengatur ketertiban dalam kehidupan bermasyarakat, Daendels juga melakukan perbaikan di bidang peradilan. Daendels berusaha memberantas berbagai penyelewengan dengan mengeluarkan berbagai peraturan. 
  1. Daendels membentuk tiga jenis peradilan: (1) peradilan untuk orang Eropa, (2) peradilan untuk orang-orang Timur Asing, dan (3) peradilan untuk orang-orang pribumi. Peradilan untuk kaum pribumi dibentuk di setiap prefektur, misalnya di Batavia, Surabaya, dan Semarang.
  2. Peraturan untuk pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu. Pemberantasan korupsi diberlakukan terhadap siapa saja termasuk orang-orang Eropa, dan Timur Asing.
Bidang sosial ekonomi

Daendels juga diberi tugas untuk memperbaiki keadaan di Tanah Hindia, sembari mengumpulkan dana untuk biaya perang. Oleh karena itu, Daendels melakukan berbagai tindakan yang dapat mendatangkan keuntungan bagi pemerintah kolonial. Beberapa kebijakan dan tindakan Daendels itu misalnya:
  1. Daendels memaksakan berbagai perjanjian dengan penguasa Surakarta dan Yogyakarta yang intinya melakukan penggabungan banyak daerah ke dalam wilayah pemerintahan kolonial, misalnya daerah Cirebon,
  2. Meningkatkan usaha pemasukan uang dengan cara pemungutan pajak,
  3. Meningkatkan penanaman tanaman yang hasilnya laku di pasaran dunia,
  4. Rakyat diharuskan melaksanakan penyerahan wajib hasil pertaniannya,
  5. Melakukan penjualan tanah-tanah kepada pihak swasta.

Pemerintahan Janssen (1811)

File:Jonkheer Jan Willem Janssens (1762-1838). Gouverneur van de Kaapkolonie en gouverneur-generaal van Nederlands Oost Indië Rijksmuseum SK-A-2219.jpeg
Jan Willem Janssens. Sumber: Rijksmuseum Amsterdam 

Pada bulan Mei 1811, Daendels dipanggil pulang ke negerinya. Ia digantikan oleh Jan Willem Janssen. Janssen dikenal seorang politikus berkebangsaan Belanda. Sebelumnya Janssen menjabat sebagai Gubernur Jenderal di Tanjung Harapan (Afrika Selatan) tahun 1802-1806. 

Pada tahun 1806 itu Janssen terusir dari Tanjung Harapan karena daerah itu jatuh ke tangan Inggris. Pada tahun 1810 Janssen diperintahkan pergi ke Jawa dan akhirnya menggantikan Daendels pada tahun 1811. Janssen mencoba memperbaiki keadaan yang telah ditinggalkan Daendels.

Namun harus diingat bahwa beberapa daerah di Hindia sudah jatuh ke tangan Inggris. Sementara itu penguasa Inggris di India, Lord Minto telah memerintahkan Thomas Stamford Raffles yang berkedudukan di Pulau Penang untuk segera menguasai Jawa. Raffles segera mempersiapkan armadanya untuk menyeberangi Laut Jawa. Pengalaman pahit Janssen saat terusir dari Tanjung Harapan pun terulang. 

Pada Tanggal 4 Agustus 1811 sebanyak 60 kapal Inggris di bawah komando Raffles telah muncul di perairan sekitar Batavia. Beberapa minggu berikutnya, tepatnya pada tanggal 26 Agustus 1811 Batavia jatuh ke tangan Inggris. 

Janssen berusaha menyingkir ke Semarang bergabung dengan Legiun Mangkunegara dan prajurit-prajurit dari Yogyakarta serta Surakarta. Namun pasukan Inggris lebih kuat sehingga berhasil memukul mundur Janssen beserta pasukannya. Janssen kemudian mundur ke Salatiga dan akhirnya menyerah di Tuntang. Penyerahan Janssen secara resmi ke pihak Inggris ditandai dengan adanya Kapitulasi Tuntang pada tanggal 18 September 1811.

Rujukan:

Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern (1200-2004). Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. 
Berlian, Samsudin. 2008. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
Kartodirdjo, Sartono. 1990. Pengatar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah Pergerakan Nasional dari Kolonialisme sampai Nasionalisme,  Jilid 2, Jakarta: Gramedia.

Terbentuknya Jaringan Nusantara Melalui Perdagangan

Kapal Dagang Belanda di Teluk Table di dermaga Tanjung Koloni di Tanjung Harapan, 1762. Foto: Iziko William Fehr Collection

Harian Sejarah - Pusat-pusat integrasi Nusantara berlangsung melalui penguasaan laut. Pusat-pusat integrasi itu selanjutnya ditentukan oleh keahlian dan kepedulian terhadap laut, sehingga terjadi perkembangan baru, setidaknya dalam dua hal, yaitu
  • Pertumbuhan jalur perdagangan yang melewati lokasi-lokasi strategis di pinggir pantai, dan 
  • Kemampuan mengendalikan (kontrol) politik dan militer para penguasa tradisional (raja-raja) dalam menguasai jalur utama dan pusat-pusat perdagangan di Nusantara. 

Jadi, prasyarat untuk dapat menguasai jalur dan pusat perdagangan ditentukan oleh dua hal penting yaitu perhatian atau cara pandang, dan kemampuan menguasai lautan.

Jalur-jalur perdagangan yang berkembang di Nusantara sangat ditentukan oleh kepentingan ekonomi pada saat itu dan  perkembangan rute perdagangan dalam setiap masa yang berbeda-beda. Jika pada masa praaksara hegemoni budaya dominan datang dari pendukung budaya Austronesia di Asia Tenggara Daratan, maka pada masa perkembangan Hindu-Buddha di Nusantara terdapat dua kekuatan peradaban besar, yaitu Cina di utara dan India di bagian barat daya. Keduanya merupakan dua kekuatan super power pada masanya dan mempunyai pengaruh amat besar terhadap penduduk di Kepulauan Indonesia.

Bagaimanapun, peralihan rute perdagangan dunia ini telah membawa berkah tersendiri bagi masyarakat dan suku bangsa di Nusantara. Mereka secara langsung terintegrasi ke dalam jaringan perdagangan dunia pada masa itu. Selat Malaka menjadi penting sebagai pintu gerbang yang menghubungkan antara pedagang-pedagang Cina dan pedagang-pedagang India.

Pada masa itu, Selat Malaka merupakan jalur penting dalam pelayaran dan perdagangan bagi pedagang yang melintasi bandar-bandar penting di sekitar Samudra Indonesia dan Teluk Persia. Selat itu merupakan jalan laut yang menghubungkan Arab dan India di sebelah barat laut Nusantara, dan dengan Cina di sebelah timur laut Nusantara.

Jalur ini merupakan pintu gerbang pelayaran yang dikenal dengan nama “jalur sutra”. Penamaan ini digunakan sejak abad ke-1 M hingga abad ke-16 M, dengan komoditas kain sutera yang dibawa dari Cina untuk diperdagangkan di wilayah lain. Ramainya rute pelayaran ini mendorong timbulnya bandar-bandar penting di sekitar jalur, antara lain Samudra Pasai, Malaka, dan Kota Cina (Sumatra Utara sekarang).

Pelayaran dan Perdagangan internasional melalui Selat Malaka. Foto: Taufik Abdullah dan A.B Lapian (2012)

Kehidupan penduduk di sepanjang Selat Malaka menjadi lebih sejahtera oleh proses integrasi perdagangan dunia yang melalui jalur laut tersebut. Mereka menjadi lebih terbuka secara sosial ekonomi untuk menjalin hubungan niaga dengan pedagang-pedagang asing yang melewati jalur itu. 

Di samping itu, masyarakat setempat juga semakin terbuka oleh pengaruh-pengaruh budaya luar. Kebudayaan India dan Cina ketika itu jelas sangat berpengaruh terhadap masyarakat di sekitar Selat Malaka. Bahkan sampai saat ini pengaruh budaya terutama India masih dapat kita jumpai pada masyarakat sekitar Selat Malaka. 

Selama masa Hindu-Buddha di samping kian terbukanya jalur niaga Selat Malaka dengan perdagangan dunia internasional, jaringan perdagangan dan budaya antarbangsa dan penduduk di Kepulauan Indonesia juga berkembang pesat terutama karena terhubung oleh jaringan Laut Jawa hingga Kepulauan Maluku. 

Rempah-Rempah. Foto: Pinterest

Mereka secara tidak langsung juga terintegrasikan dengan jaringan ekonomi dunia yang berpusat di sekitar Selat Malaka, dan sebagian di pantai barat Sumatra seperti Barus. Komoditas penting yang menjadi barang perdagangan pada saat itu adalah rempah-rempah, seperti kayu manis, cengkih, dan pala.

Pertumbuhan jaringan dagang internasional dan antarpulau telah melahirkan kekuatan politik baru di Nusantara. Peta politik di Jawa dan Sumatra abad ke-7, seperti ditunjukkan oleh D.G.E. Hall, bersumber dari catatan pengunjung Cina yang datang ke Sumatra. Dua negara di Sumatra disebutkan, Mo-lo-yeu (Melayu) di pantai timur, tepatnya di Jambi sekarang di muara Sungai Batanghari. Agak ke selatan dari itu terdapat Che-li-fo-che, pengucapan cara Cina untuk kata bahasa sanskerta, Sriwijaya.

Di Jawa terdapat tiga kerajaan utama, yaitu di ujung barat Jawa, terdapat Tarumanegara, dengan rajanya yang terkemuka Purnawarman, di Jawa bagian tengah ada Ho-ling (Kalingga), dan di Jawa bagian timur ada Singhasari dan Majapahit.

Selama periode Hindhu-Buddha, kekuatan besar Nusantara yang memiliki kekuatan integrasi secara politik, sejauh ini dihubungkan dengan kebesaran Kerajaan Sriwijaya, Singhasari, dan Majapahit. Kekuatan integrasi secara politik di sini maksudnya adalah kemampuan kerajaan-kerajaan tradisional tersebut dalam menguasai wilayah-wilayah yang luas di Nusantara di bawah kontrol politik secara longgar dan menempatkan wilayah kekuasaannya itu sebagai kesatuan-kesatuan politik di bawah pengawasan dari kerajaan-kerajaan tersebut. Dengan demikian pengintegrasian antarpulau secara lambat laun mulai terbentuk.

Kerajaan utama yang disebutkan di atas berkembang dalam periode yang berbeda-beda. Kekuasaan mereka mampu mengontrol sejumlah wilayah Nusantara melalui berbagai bentuk media. Selain dengan kekuatan dagang, politik, juga kekuatan budayanya, termasuk bahasa.

Interelasi antara aspek-aspek kekuatan tersebut yang membuat mereka berhasil mengintegrasikan Nusantara dalam pelukan kekuasaannya. Kerajaan-kerajaan tersebut berkembang menjadi kerajaan besar yang menjadi representasi pusat-pusat kekuasaan yang kuat dan mengontrol kerajaan-kerajaan yang lebih kecil di Nusantara.

Hubungan pusat dan daerah hanya dapat berlangsung dalam bentuk hubungan hak dan kewajiban yang saling menguntungkan (mutual benefit). Keuntungan yang diperoleh dari pusat kekuasaan antara lain, berupa pengakuan simbolik seperti kesetiaan dan pembayaran upeti berupa barang-barang yang digunakan untuk kepentingan kerajaan, serta barang-barang yang dapat diperdagangkan dalam jaringan perdagangan internasional. 

Sebaliknya kerajaan-kerajaan kecil memperoleh perlindungan dan rasa aman, sekaligus kebanggaan atas hubungan tersebut. Jika pusat kekuasaan sudah tidak memiliki kemampuan dalam mengontrol dan melindungi daerah bawahannya, maka sering terjadi pembangkangan dan sejak itu kerajaan besar terancam disintegrasi. 

Kerajaan-kerajaan kecil lalu melepaskan diri dari ikatan politik dengan kerajaan-kerajaan besar lama dan beralih loyalitasnya dengan kerajaan lain yang memiliki kemampuan mengontrol dan lebih bisa melindungi kepentingan mereka. 

Sejarah Indonesia masa Hindu-Buddha ditandai oleh proses integrasi dan disintegrasi semacam itu. Namun secara keseluruhan proses integrasi yang lambat laun itu kian mantap dan kuat, sehingga kian mengukuhkan Nusantara sebagai negeri kepulauan yang dipersatukan oleh kekuatan politik dan perdagangan.

Rujukan:

Taufik Abdullah dan A.B Lapian (ed). 2012. Indonesia Dalam Arus Sejarah jilid 3. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve.
Departemen Pariwisata RI. 2011. Pameran Sejarah-Budaya Asia Tenggara: Sriwijaya, sebuah Kejayaan masa lalu di Asia Tenggara, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Direktorat Tinggalan Purbakala.
Kartodirdjo,Sartono dkk, 2012, 700 Tahun Majapahit suatu Bunga Rampai, Dinas Pariwisata Daerah propinsi Daerah Jawa Timur.

STOVIA: Sejarah Pendidikan Dokter Indonesia

Sejarah kedokteran kita mencatat nama-nama besar dokter-dokter pengabdi dan pejuang masyarakat dalam arti yang luas : Wahidin Soedirohusodo, Sutomo, Abdul Rivai, Cipto Mangunkusumo, Abdul Muis, A.K. Gani dan banyak lainnya. “Boedi Oetomo” yang menjadi tonggal sejarah lahirnya Kebangkitan Nasional, “Sumpah Pemuda” yang menjadi dasar persatuan Indonesia, tidak dapat dilepaskan dari tempat-tempat pendidikan kedokteran dan mahasiswa-mahasiswa kedokteran. Nama-nama dan sejarah itu membuat para dokter – dan kita semua – untuk memperbesar pengambdian kepada masyarakat kita yang sedang membangun. ” - Soeharto, 10 November 1976.

Beberapa waktu yang lalu aku berkesempatan mengobrol dengan Bapak Thomas Siregar, kepala Museum KAA. Ia menyayangkan rendahnya minat kunjungan wisatawan lokal terhadap museum. “Padahal, bagi wisatawan luar negeri kunjungan museum adalah prioritas utama setiap kali mereka mendatangi suatu negara atau daerah. Di sana mereka mencari segala informasi terkait negara atau daerah tersebut,” ujarnya. Aku setuju dengan beliau. Wisatawan lokal tampaknya lebih suka mengunjungi tempat-tempat belanja daripada museum.

Aku termasuk di dalamnya. Ketika mengunjungi Borobudur beberapa waktu lalu, aku sangat menyesal karena melewatkan kesempatan mengunjungi museumnya. Demikian juga ketika aku berkesempatan menjelajahi Jogjakarta yang terkenal sebagai kota Museum, aku lebih banyak menghabiskan waktu di Malioboro dan pusat pertokoan buku. Tapi jangan dulu bicara kota lain deh, di Bandung saja aku sangat jarang mengunjungi Museum.

Dari sekian banyak museum yang ada di Indonesia, satu yang cukup menarik perhatianku adalah Museum Kebangkitan Nasional di Jakarta. Kalau ada kesempatan dalam waktu dekat ini, aku bertekad agar bisa mengunjunginya. Aku ingin mengetahui lebih banyak mengenai proses bangkitnya kesadaran dan kebangkitan semangat perjuangan di kalangan dokter Indonesia. Kalangan yang selama ini dianggap bersih dari segala urusan politik dan pergerakan.

Tapi sebelum itu alangkah lebih baiknya apabila aku membaca sedikit mengenai sejarahnya. Untuk itu telah ada dua buku di tanganku. Satu buku berbahasa Belanda berjudul “Ontwikkeling Van Het Geneeskundig Onderwijs Te Weltevreden 1851-1926” (Perkembangan Pendidikan Kedokteran di Weltevreden. G. Kolff Weltevreden – 1926) dan buku berbahasa Indonesia berjudul “125 Tahun Pendidikan Dokter di Indonesia 1851-1976″ (Fak. Kedokteran UI, 1976).

Dua buku tersebut tidak mengkhususkan diri pada pembahasan sejarah pergerakan di kalangan pelajar STOVIA melainkan sejarah STOVIA itu sendiri. Ini bisa membekaliku dengan informasi awal mengenai sejarah Gedung Museum Kebangkitan Nasional tersebut. Selanjutnya mungkin akan kulanjutkan dengan penelusuran sejarah pergerakan yang dirintis para calon dokter dididikan sekolah tersebut dari buku-buku lainnya.
Gedung STOVIA (Sumber : Gedenkboek STOVIA)
Buku “Ontwikkeling Van Het Geneeskundig Onderwijs Te Weltevreden 1851-1926” adalah buku sejenis Gedenkboek atau buku kenang-kenangan yang lazim diterbitkan institusi-institusi besar di masa kolonial. Buku-buku semacam ini memuat informasi berharga seputar perjalanan sejarah institusi sejak didirikan hingga tahun dimana buku tersebut dicetak. Karena dicetak secara khusus, biasanya buku ini peredarannya terbatas dan sangat sulit ditemukan di masa-masa sekarang. Kalaupun ada harganya cukup mahal.

Image

Buku yang pada covernya tertatahkan tinta berwarna emas ini berisi beberapa tulisan, diantaranya : Perjalanan setengah abad pendidikan kedokteran di Wltevreden oleh A. de Waart, Gedung STOVIA oleh arsitek Van Hoytema (sedikit info, dulunya rumah yang kutempati ini berada di jalan van hoytemaweg, dinamakan untuk menghormati jasa sang arsitek).

Beberapa tulisan dari pengajar STOVIA tentang bidang-bidang yang mereka ajarkan, Kenang-kenangan dari para siswa, Anekdot-anekdot, dan tabel-tabel statistik beserta daftar siswa yang pernah dididik di sana. Dari 382 lulusan, Beberapa yang berasal dari Bandung/Priangan di antaranya adalah :

  • E. Moehalie (Preanger, 27/12/1886 – 14/2/1894)
  • Raden Baron (Bandoeng, 1/3/1899 – 1/11/1907)
  • Raden Nata Koesoemah alias Moerad (Tjitjalengka, 19/2/1900 – 20/9/1910)
  • Mas Dajat (Soemedang, 29/12/1904 – 21/6/1916)
  • Koesma (Bandoeng, 1/3/1908 – 21/6/1916)
  • Kisman (Bandoeng, 24/10/1910 – 8/5/1920)
  • Mas Aboel Patah (Madjalaja, 9/10/1911 – 29/10/1921)
  • Mas Drajad (Bandoeng, 22/9/1912 – 28/1/1921)
  • Salim (Soemedang, 13/9/1914 – 2/5/1925)
  • Raden Maamoen Al Rasjid Koesoemadilaga (Soemedang, 21/8/1915 – 17/7/1926)

Seluruh siswa STOVIA pada umumnya memasuki sekolah tersebut pada usia 14-15 tahun dan merupakan mereka yang terbaik dari sekolah sebelumnya. Dilihat dari nama-namanya, banyak sekali yang bukan berasal dari kalangan ningrat/bangsawan melainkan dari tingkat priyayi rendahan. Dengan demikian STOVIA menghasilkan golongan elit baru yang disebut Robert Van Niel sebagai “Prototype pegawai pemerintah dan intelektual abad dua puluh.” Sebagian dari kalangan intelektual inilah yang nantinya, berlawanan dengan harapan pemerintah kolonial terhadap mereka, menjadi penggerak kesadaran nasional atas buruknya perlakuan Belanda terhadap kaum pribumi.

Image

Walaupun “Gedenkboek STOVIA” tidak membahas pergerakan nasional yang dirintis beberapa lulusannya, banyak sekali informasi mengenai sekolah tersebut yang sayangnya seperti sering kukeluhkan selama ini, tidak banyak bisa kucerna akibat pemahaman bahasa Belandaku yang sangat kurang. Akibatnya aku hanya bisa menikmati puluhan dokumentasi sejarah dalam buku ini beserta sedikit sekali keterangan mengenainya.

Untungnya ada buku 125 Tahun Pendidikan Dokter di Indonesia 1851-1976 yang disusun oleh Panitia Peringatan 125 Tahun Pendidikan Dokter di Indonesia 1851-1976. Lewat buku ini, khususnya satu artikel yang ditulis oleh Prof. M.A. Hanafiah S.M. berjudul “125 Tahun Pendidikan Dokter : 75 Tahun Pertama”, aku bisa mendapatkan sedikit gambaran mengenai apa-apa yang dibahas dalam buku Gedenkboek STOVIA karena sang penulis banyak mengambil bahan darinya. Berikut sedikit rangkumannya.

Diawali dari bermacam penyakit yang mengaggu penduduk Banyumas pada tahun 1847, Belanda mulai kewalahan menangani wabah tersebut dikarenakan tenaga kedokterannya yang sangat kurang. Dengan demikian diusahakanlah perekrutan tenaga pribumi sebagai dokter agar murah dan mudah didapat. Usaha itu diawali dengan penyuluhan pencegahan penyakit dan petunjuk penggunaan jamu serta obat-obatan sederhana kepada para kepala desa. Usaha ini ternyata tidak banyak menolong.

Dr. W. Bosch Kepala Jawatan Kesehatan saat itu mengusulkan supaya beberapa orang pribumi dididik untuk menjadi pembantu dokter Belanda. Dari sana muncullah Sekolah Dokter Jawa yang ditetapkan melalui keputusan Gubernemen tanggal 2 Januari 1849 No. 22. Di sana ditetapkan bahwa:
  1. Di rumah sakit militer supaya dididik dengan percuma kurang lebih 30 pemuda Jawa, supaya menjadi dokter-pribumi dan “vaccinateur” (mantri cacar).
  2. Yang akan diterima adalah pemuda dari keluarga baik-baik, pandai menulis dan membaca bahasa Melayu dan Jawa. Selesai pendidikan, mereka harus bersedia masuk dinas Pemerintah sebagai mantri-cacar. Sesudah sebanyak mungkin belajar sendiri, juga dapat nantinya memberi pertolongan medik kepada penduduk daerahnya sendiri.
  3. Mereka “yang menghendaki”, diberi gaji fl.15 sebulan dan gratis perumahan.
Pendidikan dimulai di 3 rumah sakit, di Weltevreden, Semarang dan Surabaya. Kemudian dietapkan hanya di Weltevreden saja, terutama untuk menjaga keseragaman. Sekolah itu dibuka dua tahun kemudian dengan 12 murid. Mereka diajarkan pencacar dan memberikan pertolongan jitu kepada penderita penyakit “panas dan sakit perut”. Bahasa Melayu dijadikan pengantar pelajaran.

Selama dua tahun lamanya siswa atau eleve diberikan 17 mata pelajaran antara lain bahasa Belanda, berhitung, ilmu ukur, ilmu faal, ilmu penyakit, ilmu bedah, dan lain-lain. Hasilnya 11 orang dinyatakan lulus. Dengan surat keputusan Gubernemen tanggal 5 Juni 1853 No. 10 mereka diberi gelar Dokter Jawa, tapi dipekerjakan sebagai Mantri Cacar. Baru lima tahun kemudian beberapa lulusan ditempatkan sebagai pembantu dokter militer atau dokter sipil. Bagaimanapun mereka sangat berjasa dalam menjaga kesehatan masyarakat.

Image
Pelajaran ilmu alam (Sumber : Gedenkboek STOVIA)
Pada tahun 1856 mulai diterima anak-anak dari luar Jawa dan dilakukan penyusunan ulang kurikulum untuk menyesuaikan kebutuhan. Sejak tahun 1864, lama sekolah dijadikan 3 tahun dengan syarat yang diperberat. Siswa pun dibatasi sampai 50 orang saja, mereka harus pandai membaca dan menulis bahasa Melayu dalam huruf latin. Mata pelajaran ditambah menjadi 27, ditambah dasar kosmografi, geologi, minerologi, dan ilmu dokter kehakiman karena mereka harus sanggup membantu polisi dalam memeriksa perkara penganiayaan dan pembunuhan.

Seiring dengan itu, Wewenang dokter Jawa ditambah dari yang biasanya hanya bisa menjadi matri cacar kini bisa menjadi dokter privat dengan pengawasan pemerintah. Selulusnya dari sekolah, mereka dilengkapi dengan tas berisi obat, gaji fl. 30 sebulan, tiap 5 tahun naik fl. 5, sampai maksimum fl. 50. Pada awalnya para dokter Jawa ini belum diakui sebagai bagian dari kelompok elit. Mereka baru boleh memakai payung pada tahun 1882.

Dikarenakan kekhawatiran atas kesiapan lulusan menghadapi keadaan lapangan, pada tahun 1864 kewenangan penjalanan praktek dokter oleh dokter Jawa dicabut dan mereka kembali hanya bisa bekerja sebagai mantri cacar seperti sebelumnya. Salah satu direktur sekolah , J.J.W.E. van Riemsdijk mengkritik langkah tersebut sehingga pada tahun 1975 diadakan perubahan besar. Lama pendidikan menjadi 7 tahun, termasuk dua tahun persiapan dimana siswa diajar bahasa Belanda yang akan menjadi bahasa pengantar selama 5 tahun pendidikan selanjutnya. Pada tahun 1889 masa persiapan ditambah menjadi tiga tahun.

Yang diterima menjadi murid maksimal 100 orang, umur antara 14 sampai 18 tahun yang telah tamat sekolah Melayu pemerintah. Jumlah guru pun ditambah terus untuk memenuhi kebutuhan. Pada umumnya banyak guru ini mengeluh banyak siswa yang belum memahami bahasa Belanda yang dijadikan pengantar, sehingga selama empat tahun (1876-1880) 40% murid yang diterima dikeluarkan karena tidak sanggup mengikuti pelajaran. Dengan demikian sejak tahun 1890 hanya tamatan sekolah dasar Belanda (Europesche Lagere School) yang diterima sebagai siswa. Aturan ini berlaku hingga tahun 1915.
Untuk mendukung pendidikan praktek, diadakan poliklinik buat sakit mata dan penyakit lainnya. Semua pasien ditolong tanpa dipungut bayaran. Setahun kemudian disediakan rumah sakit militer di beberapa tempat untuk merawat orang miskin. Waktu itu turut diadakan pengajaran pemeriksaan perempuan pelacur karena pemeriksaan itu merupakan salah satu tugas penting seorang dokter Jawa.
Berkat peran Dr. H.F. Roll, sekolah dokter Jawa mengalami perkembangan signifikan. Kemampuan penerimaan siswa ditambah dari 84  menjadi 150 orang. Berkat bantuan 3 pengusaha dari Deli, P.W. Jansen, J. Nieuhuis, dan H.C. van den Houert yang menyumbang fl. 178.000, sebuah gedung baru di Hospitaalweg (sekarang Jl. Dr. Abdul Rachman Saleh 26) dapat dibangun dan baru resmi digunakan tahun 1902.

Dalam sistem yang baru, Karena murid baru merupakan tamatan sekolah Belanda, maka bagian persiapan diperpendek lagi menjadi 2 tahun. Ilmu kebidanan dan dokter kehakiman mulai dijadikan sebagai bahan ujian akhir. Direktur sekolah dipisahkan dari pimpinan labotarium kedokteran, sehingga dapat mencurahkan pikiran dan tenaganya kepada pendidikan saja. Pada tahun 1903, syarat masuk diperketat melalui diadakannya ujian saringan masuk.

Dengan dibukanya sekolah Dokter Jawa kepada seluruh kandidat siswa dari seluruh Hindia Belanda, maka nama sekolah diubah menjadi School Tot Opleiding Van Indische Artsen (STOVIA). Gelar mereka pun tidak lagi Dokter Jawa melaikan Inlandsch Arts (Dokter Bumiputera). Ia berwenang mempraktikan ilmu kedokteran termasuk kebidanan. Gaji awalnya ditetapkan fl. 150 sebulan, tiap 3 tahun ditambah sampai fl. 250. Mereka wajib bekerja di dinas pemerintah selama 10 tahun, kalau tidak ia bersama orang tua atau walinya wajib mengembalikan biaya pendidikan selama 9 tahun kepada pemerintah sebanyak fl. 5800, kecuali kalau berhenti karena sakit badaniah ataupun jiwa. Tidak semua menyambut aturan ini, Akibatnya jumlah murid baru menurun drastis dan tidak mencapai target 30 orang.

Image
Suasana kelas di gedung lama di Hospitaalweg (Sumber : Gedenkboek STOVIA)
STOVIA sebagai lembaga pendidikan 9 tahun baru menghasilkan Inlandsch Arts pada tahun 1909. Di masa itu, J. Noordhoek sebagai Direktur pengganti H.F. Roll mendesak pembangunan gedung STOVIA yang baru di samping rumah sakit besar di Salemba. Pembangunan juga dilakukan untuk memenuhi kekurangan dokter yang dialami Hindia Belanda, terutama setelah pada tahun 1911 terjadi wabah pes di beberapa daerah, salah satunya di Malang.

Dari tahun ke tahun organisasi STOVIA terus mengalami pembaruan. Praktikum dan alat pendukungnya diperbanyak. Jumlah guru spesialis dan pembantunya ditingkatkan terus, seraya dibebaskan dari tugas kemiliteran. Gelar Inlandsch Arts diubah menjadi Indisch Arts (Dokter Hindia). Lama pendidikan pun ditingkatkan menjadi 10 tahun lamanya. Di Surabaya, sekolah dokter kedua dibangun dengan nama Nederlands Indische Artsen School (N.I.A.S.). Sekolah ini memiliki sistem yang sama dengan STOVIA.

Akhir tahun 1919 Rumah Sakit yang baru selesai dibangun, namanya Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting, di bawah pimpinan Dr. Hulskoff. Rumah sakit ini digunakan sebagai tempat praktik siswa STOVIA. Pada tanggal 5 Juli 1920 seluruh pendidikan dipindahkan ke Salemba 6, satu bangunan yang sangat modern saat itu. Tiap mata pelajaran memiliki ruangan kuliah dan kerja tersendiri yang cukup luas. Pada tahun 1925 Gedung STOVIA yang lama tidak lagi dimanfaatkan untuk kegiatan pembelajaran Sekolah Kedokteran Bumiputera namun menjadi pendidikan untuk MULO (Setingkat SMP) dan AMS (setingkat SMA) dan Sekolah Asisten Apoteker.

Selama tahun 1923-1924 Indisch Arts yang pertama lulus menyelesaikan pendidikan 10 tahun. Selama itu anak yang baru masuk pada bagian persiapan tidak lagi diwajibkan mengikuti kontrak kerja setelah lulus kepada pemerintah. Buat mereka yang kurang mampu akan disediakan beasiswa. Sistem kontrak hanya dipertahankan buat mereka di bagian kedokteran. Itupun bisa dilepaskan setiap waktu asal lulusan bisa mengembalikan biaya yang dikeluarkan buatnya, ditambah bunga yang wajar.

***

Sebagai lanjutan pertumbuhan pendidikan dokter, Pemerintah Hindia Belanda telah mempertimbangkan pendirian Perguruan Tinggi kedokteran (Geneeskundige Hogeschool). Dibentuklah panitia yang akan mempelajari soal ini. Tapi karena periode sekolah tinggi tersebut merupakan episode tersendiri dan tidak dimuat dalam buku Gedenkboek STOVIA, lebih baik tidak kubahas dulu untuk saat ini.

Demikian sepotong sejarah Pendidikan Dokter pada 75 tahun pertama pendiriannya. Aku yakin masih banyak informasi yang tidak kutulis di sini, semoga nanti setelah kukunjungi Museumnya bisa kubagi lebih banyak mengenai sejarahnya. Doakan saja supaya aku bisa cepat mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional ya…

Image
Pemberkatan peralatan operasi oleh pemuka agama (Sumber : Gedenkboek STOVIA)
Image
Gedung medis di Salemba (Sumber : Gedenkboek STOVIA)
Image
Rancangan gedung STOVIA oleh Van Hoytema (Sumber : Gedenkboek STOVIA)
Image
Belajar anatomi (Sumber : Gedenkboek STOVIA)
Tulisan oleh Santi J. N.

Aku bukan seorang penulis, malahan boleh dibilang aku adalah seorang penulis yang buruk. Aku pembaca yang lapar, namun terlalu “lumpuh” untuk menulis. Maafkan segala keterbatasanku dalam menumpahkan pikiran  ke bentuk tulisan. 

73

Aku bukan  sastrawan  dan bukan pula  sejarawan. Semua posting dalam blog ini tidak lain hanyalah sekadar upayaku untuk menunaikan tanggung jawab sebagai seorang pembaca buku yang baik. Semoga semua tulisan bisa menjadi tambahan informasi untuk teman-teman sesama penggemar buku atau sejarah. Ini adalah penebusan dosaku, semoga aku diberi kekuatan oleh Tuhan untuk tetap bisa berbagi.

Dapatkan tulisan menarik tentang sejarah di Blog Santi J. N. di www.santijehannanda.com

Romantika Lukisan Raden Saleh: Penangkapan Pangeran Diponegoro 1830

Lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro" karya Raden Saleh (1857).

“ Dia ingin memperlihatkan kepada mata seluruh dunia bahawa orang Timur pun punya kesanggupan penuh andai kata duduk sebaris dengan orang-orang Barat itu. Maka pakaian kebangsaannya itu dipakai olehnya pada hari pertunjukan itu maksudnya agar orang- orang Barat itu mengerti bahawa “dia orang Indonesia”. Tidakkah menjadi hairan di waktu itu ejek, suara bisikan semulut demi semulut
dapat dipersaksikan sendiri. Baginya semua itu tidaklah diendahkan. Malah pandangan orang banyak yang memperhatikan dia seorang itu adalah menjadi kemegahan pada dirinya, sedang orang lain tidak begitu.” Ucap Adi Mas (1954) dalam tulisannya Lukisan Raden Saleh Menipu Barat.
***
Saat kita melihat lukisan tersebut, kita akan disuguhkan pada suasana dramatisme pada Masa De Java Oorlog (Perang Jawa) 1825-1830 M. Di kutip dari pembicaraan Mas Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum dalam sebuah kelas Pengantar Sejarah saat berdiskusi mengenai Perang Jawa, beliau berkata bahwa “ Berjudul Perang Jawa karena merupakan sebuah perang yang terbesar dan melibatkan unsur besar manusia Jawa kurun waktu abad ke 19 tersebut.

Bukan antara orang Jawa dan Penguasa Kolonial Hindia Belanda secara khusus yang pada saat itu berperang, melainkan anatara orang jawa yang kontra dan orang jawa simpatisan kolonial yang terlibat pertempuran dengan sedikit orang kulit putih yang berjumlah sekitar 8000 orang terlibat didalam pertempuran sekitar 100.000 masyarakat Jawa pada waktu itu.”

Kita melihat sosok tersebut adalah Pangeran Diponegoro bisa juga disebut Herucokro, seorang pangeran Kesultanan Yogyakarta yang pada Perang Jawa berperan sebagai Tokoh Utama bersama Kyai Mojo dan Ali Sentot Baharsyah Prawirodirdjo yang tidak setuju atas campur tangan yang terlalu jauh oleh kolonial Hindia Belanda terhadap kehidupan kenegaraan Istana Kesultanan Yogyakarta, yang pada waktu ikut menentukan penerus kekuasaan Kesultanan Yogyakarta.

Selain itu atas perilaku kolonial yang membangun jalan raya melintasi makan leluhur Diponegoro. Hingga akhirnya meletusnya Perang Jawa yang melibatkan sebagian besar masyarakat jawa yang menganggap jika istana saja sudah dapat dikendalikan begitu dalam oleh kolonial, bagaimana dengan rakyat yang tidak memiliki kekuatan.

Adalah kemudian Raden Saleh Sjarief Boestaman, pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang mempionirkan seni modern Indonesia (saat itu Hindia Belanda). Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang sedang populer di Eropa saat itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar belakang Jawa sang pelukis.

Raden Saleh terutama dikenang karena lukisan historisnya, Penangkapan Pangeran Diponegoro, pada gamabar diatas  yang menggambarkan peristiwa pengkhianatan pihak Belanda kepada Pangeran Diponegoro yang mengakhiri Perang Jawa pada 1830. Sang Pangeran terbujuk untuk datang ke Magelang untuk membicarakan gencatan senjata, namun pihak Belanda tidak memenuhi jaminan keselamatannya, dan Diponegoro pun ditangkap.
Berkas:Nicolaas Pieneman - The Submission of Prince Dipo Negoro to General De Kock.jpg
"Penyerahan Diri Diponegoro" karya Nicolaas Pieneman (1835). Foto: Rijksmuseum Amsterdam
Peristiwa tersebut telah dilukis oleh pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman yang dikomisikan oleh Jenderal de Kock. Diduga Saleh melihat lukisan Pieneman tersebut saat ia tinggal di Eropa.  Seakan tidak setuju dengan gambaran Pieneman tentang Diponegoro. Saleh memberikan sejumlah perubahan signifikan pada lukisan versinya; Pieneman menggambarkan peristiwa tersebut dari sebelah kanan, Saleh dari kiri. 

Sementara Pieneman menggambarkan Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, Saleh menggambarkan Diponegoro dengan raut tegas dan menahan amarah. Pieneman memberi judul lukisannya "Penyerahan Diri Diponegoro," sedangkan Saleh memberi judul "Penangkapan Diponegoro." Diketahui bahwa Saleh sengaja menggambar tokoh Belanda di lukisannya dengan kepala yang sedikit terlalu besar agar tampak lebih mengerikan
Perubahan-perubahan ini dipandang sebagai rasa nasionalisme pada diri Saleh akan tanah kelahirannya di Jawa. Hal ini juga dapat terlihat pada busana pengikut Diponegoro. Pieneman sendiri tidak pernah ke Hindia Belanda, dan karena itu ia menggambarkan pengikut Diponegoro seperti orang Arab.
edit/historia.co.id
Gambaran Saleh cenderung lebih akurat, dengan kain batik dan blangkon yang terlihat pada beberapa figur. Saleh juga menambahkan detil menarik, ia tidak melukiskan senjata apapun pada pengikut Diponegoro, bahkan keris Diponegoro pun tidak ada. Ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena itu Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik.

Hal yang lebih menarik adalah bahwa kita tahu bahwa Raden Saleh adalah orang pribumi yang mendapat perlakuan istimewa sebagai pribumi, beliau berteman dengan orang belanda dan pernah menjadi pelukis Istana Kerajaa Belanda.

Namun kita menemukan fakta yang mengungkapkan rasa nasionalisme Raden Salah sebagai orang Jawa tersebut, jika kita lihat ke dalam lukisan tersebut, terlihat sosok Raden Saleh di wajah para sosok pengikut Diponegoro dalam lukisan tersebut. Beliau seperti memposisikan dirinya sebagai pengikut dan berada dipihak Pangeran Diponegoro, sebuah makna yang terlihat sebagai sosok perlawanan.

Setelah selesai dilukis pada 1857, Saleh mempersembahkan lukisannya kepada Raja Willem III di Den Haag. Penangkapan Pangeran Diponegoro baru pulang ke Indonesia pada 1978. Kepulangan lukisan tersebut merupakan perwujudan janji kebudayaan antara Indonesia-Belanda pada 1969, tentang kategori pengembalian kebudayaan milik Indonesia yang diambil, dipinjam, dan dipindah tangan ke Belanda pada masa lampau.

Namun dari itu, lukisan Penangkapan tidak termasuk ketiga kategori tersebut, karena sejak awal Saleh memberikannya kepada Raja Belanda dan tidak pernah dimiliki Indonesia. Lukisan tersebut akhirnya diberikan sebagai hadiah dari Istana Kerajaan Belanda dan sekarang dipajang di Istana Negara,Jakarta.

Berkas:Carl Johann Baehr - Porträt des Raden Saleh Syarif Bustaman.jpg
Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880)

Sumber Kepustakaan :

Mas Adi.1954. Tajuk : Lukisan Raden Saleh Menipu Barat.  Terbit : 22 Juni 1954
National Geography. 2013. “Menelanjangi” Lukisan Karya Raden Saleh.
Bisnis.com.  2016. Ada Kode-kode Menarik di Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Pedagang Asongan Masa Kolonial Belanda



Pelarangan, penggusuran bahkan pengusiran para pedagang asongan di beberapa stasiun kereta api menjadi topik berita beberapa waktu yang lalu. Ketika stasiun kereta api mulai menampilkan wajah modernitasnya dengan menjaga ketertiban dan keteraturannya maka sesuatu yang dianggap mengganggu harus disingkirkan. Pedagang asongan mungkin sesuatu yang dianggap mengganggu dan harus diusir, dilarang untuk berjualan di stasiun kereta api. 

Dan digantikan dengan “franchise-franchise” modern yang lebih teratur dan tentunya memiliki pemasukan-pemasukan bagi stasiun yang menguntungkan. Bahkan diberlakukan juga bagi stasiun-stasiun yang memberangkatkan kereta kelas Ekonomi. Atau bisa juga dalam bisnis hal ini untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarakat pengguna jasa kereta api terhadap gangguan dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh para pedagang, pengamen, dan para pengais rejeki lainnya di stasiun maupun di dalam kereta api.  Tentunya hal ini menjadi pro dan kontra dalam masyarakat.