Showing posts with label Perang Dunia II. Show all posts
Showing posts with label Perang Dunia II. Show all posts

Bentuk Propaganda Nazi Jerman


Harian Sejarah - Propaganda merupakan cara yang lazim digunakan oleh berbegai negara dalam era Perang Dunia I dan II. Propaganda menjadi suatu kebutuhan bagi suatu negara dalam menjalankan roda perangnya. Mobilisasi masa merupakan tujuan dari propaganda itu sendiri. Selain mobilisasi masa, rasa tenang dan aman yang tercipta oleh suatu kebohongan besar juga menjadi agenda dari propaganda itu sendiri.

Banyak negara melakukan propaganda untuk menenangkan warganya yang bertujuan agar tidak mengetahui keadaan negaranya yang terancam oleh agresi militer atau lainnya. Selain itu propaganda yang tadi saya katakan untuk membolisasi masa bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan militer dan SDM lainnya yang pada erap perang dunia ditujukan semata-mata untuk kepentikan peperangan.

Negara-negara seperti Uni Soviet, AS, Inggris, Prancis, dan Jerman menggunakan propaganda yang begitu masif. Mereka menggunakannya baik untuk kepentingan dalam negeri: mobilisasi masa, atau kepentingan melawan musuh: meneror atau menurunkan moral pasukan musuh.

Disini kita akan membahas mengenai cara dan pelaksanaan propaganda yang dilakukan oleh Nazi Jerman.

POSTER SEBAGAI MEDIA PROPAGANDA

Seorang anggota patriotik Pemuda Hitler berpose dengan bendera partai Nazi. Disitu tertera keterangan, "Pelajar Jerman siap berjuang untuk Fuhrer."

Asal-usul historis dari propaganda Nazi dapat ditelusuri kembali melalui Adolf Hitler dan Mein Kampf, di mana ia merumuskan dua bab yang menganalisis pentingnya propaganda dan praktiknya. Sementara Mein Kampf itu sendiri adalah sebuah karya propaganda, Hitler berbicara tentang tujuan propaganda dalam mengindoktrinasi masyarakat dan pentingnya memastikan propagasi sebuah propaganda.

"Tugas pertama propagandis adalah untuk menang atas orang-orang yang selanjutnya dapat diambil ke dalam organisasi. dan tugas pertama dari organisasi ini adalah untuk memilih dan melatih orang-orang yang (berpotensi) mampu membawakan propaganda. Tugas kedua organisasi ini mengganggu tatanan yang ada dan dengan demikian memberikan ruang untuk melakukan penetrasi ajaran baru yang mewakili, sedangkan penyelenggara harus berjuang untuk tujuan mengamankan kekuasaan, sehingga sebuah doktrin pada akhirnya akan menang."
Kumpulan Poster Propaganda Nazi Jerman. Foto: Pinterest

Tidak ada yang lebih relevan daripada berdirinya Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda (Kementerian Reich untuk Pencerahan Publik dan Propaganda), yang dikenal dengan inisial Jerman-nya sebagai RMVP. Di bawah arahan dari RMVP, Partai Nazi lebih efektif untuk menterjemahkan gagasan ideologis mereka dalam acara narasi yang selalu digambarkan seorang yang baik melawan skenario dan tatapan jahat mereka (orang-orang yang tidak diinginkan). Mudah diakses dan dipahami oleh khalayak massa.

Segera setelah Hitler diangkat sebagai Kanselir Jerman pada tanggal 30 Januari 1933, Nazi dengan terang-terangan memulai penghancuran sistematis terhadap kebebasan pers, dimulai dengan pengusiran siapa pun yang tidak taat pada garis kebijakan partai dalam kegiatan jurnalistik. Hal ini dilakukan melalui kombinasi kekuatan, penangkapan politik, dan pengasingan. Selama beberapa bulan ke depan, beberapa surat kabar yang “baik” terkonsolidasi atau shut-down di bawah nama nasionalisme. 

Pada tanggal 4 Oktober, 1933, Kepala Pers Reich Otto Dietrich membantu merumuskan dan meluluskan Hukum Kontrol Editorial, yang menempatkan semua pers yang tersisa di bawah kendali pemerintah, dan melarang setiap "non-Arya" yang tidak diinginkan dalam partisipasi atas kegiatan jurnalistik.

Dengan memanfaatkan stereotip yang ada dan sentimen dari orang-orang Jerman, propaganda Nazi berusaha untuk menargetkan orang-orang yang dianggap baik musuh atau tidak layak menjadi warga Jerman —Yahudi, Gipsi (Roma dan Sinti), homoseksual, komunis dan pembangkang politik lainnya, dan orang-orang Jerman yang dipandang sebagai inferior dan merugikan (seperti orang-orang cacat mental atau fisik)— Selain itu, tema-tema ini juga digunakan dalam argumen untuk Lebensraum, atau ruang hidup, sebuah rencana besar ekspansionisme Jerman untuk membantu menciptakan kekuatan dan kebesaran Jerman Raya.

Mengingat iklim politik dan ekonomi di Jerman pada waktu itu, yang dikombinasikan dengan penghinaan dan ketidakadilan akibat Perjanjian Versailles, penduduk Jerman sudah matang untuk menerima propaganda tersebut. Karena itu, mesin propaganda Nazi berusaha untuk memenuhi tujuan lain dari partai, dan terfokus pada beberapa tema favorit yang hiperbola.


Salah satu tema paling awal partai Nazi adalah pendewaan Hitler dengan menggambarkan Hitler sebagai seorang mesianis (juru selamat). Sedangkan representasi terbaik dari ini adalah film karya Leni Riefenstahl, "Triumph des Willens" atau "Triumph of the Will", dan tema ini juga cukup lazim di media lain, termasuk media cetak dan poster.

Jika penggambaran sosok Hitler sebagai mesianis adalah upaya penyederhanaan yang berlebihan untuk memanipulasi bagaimana massa Jerman dapat menerima Hitler, propaganda Nazi terhadap Yahudi (serta kaum Bolshevik dan tak diinginkan lainnya) adalah jauh lebih eksplisit.

Ada dua jenis utama dari penggambaran orang-orang Yahudi yang aneh dalam kontras, namun untuk mencapai tujuan yang sama. Yahudi digambarkan sebagai sosok yang kumuh, bermartabat rendah, buruk rupa, kotor, seringkali diasosiakan sebagai hama, atau mereka digambarkan sebagai sosok yang serakah, gemuk, dan elemen tidak menyenangkan yang memihak musuh.

Berikutnya, hal ini akan menciptakan lingkungan yang menolak bukti yang bertentangan dengan paradigma, yaitu keunggulan "Arya" dan keberhasilan mereka, dan penduduk Yahudi yang inferior dan beban atas semua kegagalannya. Kita dapat melihat elemen stimulan untuk memperoleh Efek Kereta Musik (Bandwagon Effect) dalam "Kami vs Mereka", penggambaran yang tidak menyenangkan setelah melihat karikatur Yahudi, kadang-kadang dikaitkan dengan Bolshevik dan/atau Inggris/Amerika.

Sebagaimana dalam Mein Kampf, Nazi merasa jauh lebih kuat dengan kemenangan doktrin, mengharuskan mobilisasi massa dalam upaya mendukung kesuksesan doktrin. Mudah bagi Nazi terhadap musuh-musuhnya yang berhasil dijebak dan didefinisikan untuk mengerahkan massa. Mengingat ketidakadilan perjanjian Versailles dan ekonomi yang penuh gejolak, Nazi menggunakan mesin propaganda mereka untuk menggalang "Arya" sebagai keluarga Jerman untuk mendukung Nazi

RELI NUREMBERG


Mulai tahun 1933, demonstrasi Nazi diadakan setiap tahun dengan tujuan di Nuremberg. Pertemuan militer ini akan melibatkan ratusan ribu Nazi, termasuk anggota partai, angkatan bersenjata dan kelompok pemuda. The Nuremberg Rallies memiliki sejumlah fitur: Nazi mengenakan pakaian militer lengkap; tentara berbaris dilengkapi drum dan bendera partai; prosesi obor; pidato oleh Hitler dan pejabat terkemuka Nazi lainnya. 

Demonstrasi tersebut dapat dilihat sebagai propaganda yang bertujuan untuk menunjukkan kepada orang-orang Jerman bahwa negara mereka berkuasa, memerintah dan berada di bawah kendali penuh Nazi.

FILM DI JERMAN


Triumph of the Will (bahasa Jerman: Triumph des Willens) adalah sebuah film propaganda Jerman (1935) yang disutradarai, diproduksi, disunting, dan ditulis oleh Leni Riefenstahl. Film tersebut menampilkan Kongres Partai Nazi (1934) di Nuremberg, yang dihadiri oleh lebih dari 700,000 pendukung Nazi.

Hitlerjunge Quex: Ein Film vom Opfergeist der deutschen Jugend (Hitler Youth Quex) adalah film Jerman (1933) yang disutradarai oleh Hans Steinhoff, berdasarkan novel Quelle Hitler (Hitlerjunge Quex, 1932). Film ini ditampilkan di Amerika dengan judul Our Flag Leads Us Forward.

Heini Völker adalah seorang remaja laki-laki. Rekan-rekannya memberinya julukan "Quex" (Quicksilver). Dia hidup dalam kemiskinan di Berlin, di sebuah apartemen satu kamar. Ayahnya adalah pendukung luar biasa Partai Komunis yang mengirimkan anaknya dalam kegiatan berkemah pada akhir pekan bersama Kelompok Pemuda Komunis. Sementara di sana Quex mendapati pesta pora Komunis yang tidak disiplin sehingga tidak menyenangkan. 

Ada yang merokok, minum, dan menari larut malam. Makanan disajikan dengan memotong hunks dari roti dan melemparkannya ke orang-orang yang terdesak karena kelaparan. Anak laki-laki dan perempuan memainkan sebuah permainan di mana mereka bergantian saling menjatuhkan dan menampar satu sama lain di bagian pribadi mereka. Quex melarikan diri dan di bagian lain taman tersebut Quex menemukan sekelompok Pemuda Hitler berkemah di tepi danau. Dia memata-matai mereka dari kejauhan.

Pemuda Hitler bekerja sama untuk membuat api dan memasak makan malam. Mereka menyanyikan lagu-lagu patriotik, mendengarkan pidato, dan berteriak serentak mendukung "Jerman Bangkit". Tidak satupun dari mereka yang merokok atau minum. Di pagi hari mereka bangun lebih awal dan lari ke danau untuk berenang bersama sebelum sarapan pagi. Kesehatan, kebersihan, kerja tim dan nasionalisme patriotik adalah gambar yang diproyeksikan.

Ketika Quex kembali ke rumahnya menyanyikan salah satu lagu Pemuda Hitler, ayahnya, seorang Komunis yang bersemangat, memukulnya dan menandatanganinya untuk menjadi anggota Partai Komunis. Namun, Quex menginformasikan kepada Pemuda Hitler bahwa Komunis Muda berencana untuk menyergap mereka selama sebuah demonstrasi dengan menggunakan senapan dan dinamit. 

Dia menjadi seorang paria bagi Komunis, dan pahlawan bagi Pemuda Hitler. Ibunya yang putus asa mencoba membunuh anaknya dan dirinya sendiri dengan memadamkan lampu pilot dan membiarkan gas di apartemen satu kamar mereka pada malam hari. Ibunya mati terbunuh sedangkan Quex bertahan. Ayahnya, hancur oleh apa yang terjadi, mulai bertanya-tanya apakah anaknya benar, Sosialisme Nasional mungkin lebih baik untuk Jerman daripada Komunisme.

Karakter yang berulang dalam film ini adalah pemain jalanan Komunis. Temanya adalah bahwa "bagi beberapa orang, semuanya berjalan dengan baik ... tapi bagi George mereka tidak pernah melakukannya." Pesannya adalah bahwa kehidupan di Jerman dapat memperbaiki orang lain, tapi bagi orang yang bekerja, George, hidup tidak akan baik kecuali jika dia bergabung dengan Partai Komunis. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi motif bagi pemain jalanan Komunis menusuk Quex sampai mati di sudut jalan di Berlin pada malam hari, dan Quex secara anumerta menjadi pahlawan gerakan Nazi.

KORAN DER STURMER


Der Sturmer adalah surat kabar mingguan berbentuk tabloid yang diterbitkan oleh Julius Streicher, pejabat terkemuka di partai Nazi mulai pada tahun 1923 hingga akhir Perang Dunia II. Der Sturmer membawakan materi secara eksplisit terhadap Yahudi disertai karikatur untuk menggencarkan propaganda anti-Katolik, anti-monarki, anti-komunis. 

Der Stürmer sering memberi gambaran bagaimana mengidentifikasi orang Yahudi. Artikel ini seringkali menyertakan kartun politik rasis, termasuk karikatur anti-Semit. Selain penggambaran grafis, artikel ini terfokus pada ketakutan imajiner, pembedaan dan perbedaan perilaku yang dirasakan antara orang Yahudi dan warga Jerman lainnya.

Surat kabar ini dimulai di Nuremberg sebagai tempat dimana Adolf Hitler mulai membangun kontrol dan kekuasaannya. Salinan pertama Der Sturmer diterbitkan pada 20 April 1923 dan semakin tumbuh dari waktu ke waktu. 

Pada awal 1933, Streicher menyerukan pemusnahan orang-orang Yahudi melalui Der Sturmer. Selama perang, Streicher secara teratur menerbitkan artikel bertajuk penghancuran dan pemusnahan ras Yahudi. Aktivitas penerbitan dan ceramahnya merupakan bagian utama dari bukti yang diajukan kepadanya. 

Intinya, jaksa mengambil kesimpulan atas peran Streicher dalam menghasut orang-orang Jerman untuk membasmi orang-orang Yahudi dan menjadikannya aksesori untuk pembunuhan , dan karena itu bersalah seperti halnya orang-orang yang benar-benar melakukan pembunuhan tersebut. Jaksa juga memperkenalkan bukti bahwa Streicher melanjutkan artikel dan pidatonnya saat dia sadar bahwa orang-orang Yahudi sedang disembelih. Setelah perang, dia dihukum gantung karena melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. 

Der Stürmer terkenal karena karikatur antisemitnya yang efektif, yang menggambarkan orang-orang Yahudi sebagai karakter buruk rupa dengan tubuh yang tidak berbentuk. Dalam propagandanya, Streicher menggunakan stereotip Abad Pertengahan, misalnya, bahwa orang Yahudi membunuh anak-anak, mengorbankan mereka dan meminum darah mereka.

Sebagian besar gambar ini adalah hasil karya Philipp Rupprecht —dikenal sebagai Fips— yang merupakan salah satu kartunis anti-Semit yang terkenal di Reich Ketiga. Melalui adaptasi dan penggabungan hampir semua stereotip, mitos dan tradisi anti-Semit yang ada, serangan virulen Rupprecht ditujukan terutama pada dehumanisasi dan demonisasi orang-orang Yahudi. 

Di bagian bawah halaman judul selalu diselipkan moto "Die Juden sind unser Unglück!" ("Orang-orang Yahudi adalah malapetaka kita!"), Diciptakan oleh Heinrich von Treitschke pada tahun 1880-an. Dalam papan nama itu tertulis moto "Deutsches Wochenblatt zum Kampfe um die Wahrheit" (Koran Mingguan Jerman dalam Perjuangan untuk Kebenaran).

Sebagian besar pembacanya adalah orang muda dan orang-orang dari lapisan bawah masyarakat Jerman. Salinan Der Stürmer ditampilkan dalam kasus-kasus yang menonjol di seluruh Reich. Begitu juga dengan periklanan publikasi, kasus-kasus ini juga memungkinkan artikelnya menjangkau pembaca yang tidak memiliki waktu luang untuk membeli dan membaca koran harian secara mendalam.

Hermann Göring melarang Der Stürmer di semua departemennya, dan Baldur von Schirach melarangnya sebagai upaya pendidikan lebih lanjut di hostel Pemuda Hitler dan fasilitas pendidikan lainnya oleh "Reichsbefehl" (Perintah Reich). Göring memendam kebencian yang sangat kuat, terutama setelah menerbitkan sebuah artikel yang mencemarkan nama baik Göring, yang menyatakan bahwa putrinya Edda telah hamil melalui inseminasi buatan. 

Hanya melalui intervensi Hitler, Streicher dapat terhindar dari hukuman apapun. Namun, pejabat senior Nazi lainnya, termasuk Heinrich Himmler (kepala SS), Robert Ley (kepala Front Perburuhan Jerman), dan  Max Amann (pemilik Zentral Verlag (Central Press), terdiri dari 80% Pers Jerman pada tahun 1942), mendukung publikasi tersebut, dan pernyataan mereka sering dipublikasikan di koran.


Penulis Anggoro Prasetyo - Mahasiswa Sejarah UI. Dapat dihubungi di 088211800912
Koleksi Foto: Anggoro Prasetyo
Editor: Imam Maulana

White Rose, Pirates Edelweiss, dan Gerakan Pemuda Anti Nazi


Harian Sejarah - Gerakan White Rose mungkin yang paling terkenal di antara gerakan perlawanan sipil yang berkembang di Jerman di bawah rezim Nazi. Namun beberapa anggotanya harus membayar harga yang mengerikan untuk pendirian mereka melawan sistem tersebut.

Gerakan White Rose terdiri dari mahasiswa Universitas Munich. Anggota yang paling terkenal adalah Hans dan Sophie Scholl. Anggota White Rose secara sembunyi-sembunyi membagikan selebaran anti-Nazi dan anti-perang dan di tengah upaya mereka yang semakin gencar, mereka ditangkap Nazi Jerman adalah negara kepolisian. Entah itu benar atau tidak, orang percaya bahwa informan ada dimana-mana.

Untuk menjaga kerahasiaan, keanggotaan gerakan White Rose sangat kecil sehingga lebih mudah untuk menghasilkan selebaran anti-perang yang juga dianggap anti-Nazi. Apa yang ada di dalamnya sangat berbahaya. Jika mereka ditangkap, mereka akan dikenai tuduhan pengkhianatan dengan konsekuensi yang tak terelakkan. Itulah sebabnya kelompok tersebut harus dijaga sangat kecil — setiap orang saling mengenal dan masing-masing yakin akan kesetiaan semua orang dalam kelompok tersebut.

Grafiti yang digambar oleh White Rose. Foto: Koleksi Anggoro. P

White Rose aktif antara bulan Juni 1942 dan Februari 1943. Pada waktu itu mereka membuat enam selebaran anti-perang dan anti-Nazi yang disebarkan di depan umum. Anggotanya juga terlibat dalam kampanye graffiti di Munich.

Salah satu selebaran yang berjudul "Perlawanan Pasif terhadap Sosialisme Nasional" menyatakan:
"Banyak, mungkin sebagian besar pembaca dari selebaran ini tidak melihat dengan jelas bagaimana mereka bisa mempraktikkan oposisi yang efektif. Mereka tidak melihat ada jalan yang terbuka untuk mereka. Kami ingin mencoba menunjukkan kepada mereka bahwa setiap orang berada dalam posisi untuk berkontribusi pada penggulingan sistem. 

Hal itu bisa dilakukan hanya dengan kerja sama antara banyak orang yang yakin dan energik — orang-orang yang setuju dengan cara yang harus mereka gunakan. Kami tidak memiliki banyak pilihan mengenai sarana. Satu-satunya yang tersedia adalah resistansi pasif. Makna dan tujuan perlawanan pasif adalah menggulingkan Sosialisme Nasional, dan dalam perjuangan ini kita tidak boleh mundur dari segala arah, apapun tindakannya, apapun sifatnya. 

Kemenangan fasis Jerman dalam perang ini akan memiliki konsekuensi mengerikan yang tak terukur. Kami tidak bisa memberikan cetak biru untuk tindakannya kepada setiap orang, kami hanya bisa menyarankannya secara umum.

Sabotase di pabrik persenjataan dan industri perang, di semua pertemuan, demonstrasi dan organisasi Partai Sosialis Nasional ............... Oleh karena semua kenalan Anda tentang keputusasaan perang ini .................. dan mendesak mereka untuk bersikap pasif."

Selebaran lainnya disebut "Kepada Sesama Pejuang dalam Perlawanan", yang ditulis pada bulan Februari 1943, setelah kekalahan Jerman di Stalingrad.

"Hari perhitungan telah datang - perhitungan kaum muda Jerman terhadap tirani paling kejam yang harus dipaksakan oleh orang-orang kita. Kami tumbuh dalam keadaan di mana semua kebebasan berekspresi dan berpendapat ditekan tanpa ampun. Pemuda Hitler, SA, SS. Semuanya telah mencoba untuk memberi obat kepada kami, untuk membuat resimen kami pada tahun-tahun paling menjanjikan dalam kehidupan kami. 

Bagi kami hanya ada satu slogan: bertarung melawan partai. Nama Jerman tidak terhormat sepanjang masa jika pemuda Jerman pada akhirnya tidak bangkit, membalas dendam, menghancurkan para penyiksa. Mahasiswa! Orang-orang Jerman melihat kita. "

Hari terakhir Sophie. Foto: Koleksi Anggoro. P

Saat brosur dibuka di Universitas Munich, Hans dan Sophie Scholl ditangkap oleh Gestapo. Mereka telah membagikan banyak selebaran White Rose yang mereka bawa. Namun, Sophie dan Hans menyadari bahwa mereka tidak membagikan semuanya. 

Karena begitu banyak masalah yang harus ditanggung untuk menghasilkan selebaran ini, mereka akan memastikan bahwa semuanya terdistribusikan. Mereka terlihat melemparkan selebaran di sekitar atrium universitas oleh seorang penjaga bernama Jakob Schmid dan melaporkan hal ini pada Gestapo. Hal ini terjadi pada 18 Februari 1943. Scholl secara harfiah membawa semua bukti yang dibutuhkan oleh Gestapo.

Baik Hans dan Sophie mengakui tanggung jawab penuh mereka dalam upaya untuk mengakhiri segala bentuk interogasi yang mungkin dapat memaksa mereka membeberkan anggota gerakan lainnya. Namun, Gestapo menolak untuk percaya bahwa hanya dua orang yang terlibat dan setelah diinterogasi lebih lanjut, mereka mendapatkan nama semua orang yang terlibat yang kemudian ditangkap.

Sophie, Hans dan Christoph Probst adalah orang pertama yang dibawa ke hadapan Pengadilan Rakyat pada tanggal 22 Februari 1943. Pengadilan Rakyat didirikan pada tanggal 24 April 1934 untuk mengadili kasus-kasus yang dianggap sebagai pelanggaran politik terhadap rezim Nazi.

Bagaimanapun, persidangan ini tidak lain dirancang untuk menjatuhkan dan mempermalukan. Mungkin dengan harapan penghinaan publik semacam itu akan menunda orang lain yang mungkin berpikir dengan cara yang sama sebagaimana mereka yang seolah dijatuhi kutukan. Ketiganya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati dengan dipancung. Eksekusi dilangsungkan pada hari yang sama.

Percobaan lebih lanjut terjadi pada tanggal 19 April dan 13 Juli 1943 ketika anggota White Rose lainnya dibawa ke hadapan Pengadilan Rakyat. Tidak semuanya dieksekusi. Uji coba ketiga (13 Juli) tidak dipimpin oleh Roland Freisler yang terkenal dan saksi utama —juga diadili (Gisela Schertling)— menarik bukti bahwa dia telah memberikannya saat diinterogasi. Akibatnya, hakim membebaskan semua orang yang diadili hari itu dengan pengecualian satu, Josef Soehngen, yang diberi hukuman enam bulan penjara.

Sebelum Perang Dunia II di Eropa berakhir, selebaran terakhir yang diproduksi oleh White Rose diselundupkan keluar dari Jerman dan diserahkan kepada Sekutu yang sedang maju. Mereka mencetak jutaan salinannya dan menjatuhkannya ke seluruh negeri.


Berikut tokoh-tokoh penting dalam gerakan rahasia White Rose: Hans Scholl, Sophie Scholl, Professor Dr. Kurt Huber, Christoph Probst, Alexander Schmorell, Willi Graff

WHITE ROSE Kelompok mahasiswa anti-Nazi yang terbentuk di Munich pada tahun 1942. Tidak seperti para konspirator yang terlibat dalam Plot 20 Juli (1944) atau peserta di kelompok pemuda seperti Edelweiss Pirates, para anggota White Rose menganjurkan perlawanan tanpa kekerasan sebagai alat untuk melawan rezim Nazi.

Tiga anggota pendiri kelompok tersebut —Hans Scholl, Willi Graf, dan Alexander Schmorell— adalah mahasiswa kedokteran di Universitas Munich. Sementara di Front Timur, trio tersebut mengamati pembunuhan warga sipil Yahudi oleh pasukan SS. 

Ketika mereka kembali ke Munich, ketiganya bergabung dengan siswa lain —termasuk saudara perempuan Hans Sophie— untuk mendiskusikan perlawanan mereka terhadap rezim Nazi. Dengan menggabungkan idealisme muda dengan pengetahuan yang mengesankan tentang sastra Jerman dan ajaran agama Kristen, para siswa menerbitkan kepercayaan mereka dalam serangkaian selebaran dengan nama "The White Rose" (dan kemudian sebagai "Leaflet of the Resistance").

Selebaran pertama, yang diterbitkan pada bulan Juni 1942, dikutip secara bebas dari karya Friedrich Schiller dan Johann Wolfgang von Goethe, dan menganjurkan perlawanan pasif terhadap usaha perang Nazi. Esai White Rose pertama diakhiri dengan pernyataan tersebut, "Jangan lupa bahwa setiap negara layak mendapatkan pemerintah yang dihadapinya." 

Dengan menggunakan alamat yang diperoleh dari sebuah buku telepon, selebaran dikirimkan ke individu di seluruh Munich. Lima selebaran selanjutnya menyusul selama delapan bulan ke depan, dan Gestapo semakin khawatir dengan potensi ancaman yang ditimbulkannya. Pada awal 1943, anggota White Rose menyebarkan selebaran dengan tangan, dan mereka memulai kampanye grafiti anti-Nazi, melukis "Kebebasan" dan "Turunkan Hitler" di bangunan-bangunan di seluruh Munich.

Makam Hans Scholl dan Sophie Scholl

Tindakan tersebut meningkatkan risiko yang dihadapi oleh mahasiswa, dan pada tanggal 18 Februari 1943, seorang anggota partai Nazi mengamati Hans dan Sophie melemparkan selebaran dari gedung kelas Universitas Munich. Mereka ditangkap hari itu juga, dan sebuah penyelidikan berhasil Christoph Probst, seorang mahasiswa kedokteran Universitas Munich, di White Rose. Scholls dan Probst dengan cepat diadili, dan ketiganya dipancung pada tanggal 22 Februari 1943.

Pada bulan-bulan berikutnya, puluhan lainnya dipenjara karena keterkaitan mereka (nyata atau imajiner mereka) dengan White Rose, dan beberapa diantaranya, termasuk Graf dan Schmorell, dieksekusi.

Pirates Edelweiss. Foto: Koleksi Anggoro. P

PIRATES EDELWEISS (Bahasa Jerman: Edelweißpiraten) adalah kelompok pemuda yang menentang peraturan Nazi. Pirates Edelweiss terutama menentang cara Pemuda Hitler yang telah mengambil alih kehidupan kaum muda di Jerman. Sulit untuk memberikan tanggal pasti kapan Pirates Edelweiss pertama kali dimulai namun pada tahun 1936 keanggotaan gerakan Pemuda Hitler dijadikan wajib dan sejarawan cenderung menggunakan tanggal ini sebagai awal dari 'Pirates'. 

Perompak Edelweiss bukanlah gerakan yang spesifik, melainkan sebuah asosiasi dari sejumlah gerakan pemuda yang berkembang di Jerman Barat sebagai tanggapan terhadap resimen Nazi menilai pemuda. Perompak Edelweiss secara diametris berlawanan dengan gerakan Pemuda Hitler, yang dijalankan dengan jalur kuasi-militer. Mereka bebas mengekspresikan apa yang mereka pikirkan. Sementara anak laki-laki dan perempuan dipisahkan secara ketat dalam gerakan Pemuda Hitler, Edelweiss Pirates mendorong hal yang sebaliknya.

Sebagian besar kota di Jerman Barat memiliki beberapa bentuk kelompok Edelweiss Pirates, meskipun beberapa tidak menggunakan judulnya. Di Köln (Cologne), misalnya, mereka dikenal sebagai 'Navajos'. Beberapa sifat menghubungkan semua kelompok. Ada keberatan umum terhadap cara Nazi yang ingin mengendalikan kehidupan para pemuda di Jerman. Anggota Pirates Edelweiss akan memiliki pendidikan yang dikendalikan oleh Nazi saat mereka di sekolah (wajib belajar berakhir pada usia 14). 

Di bawah 14 tahun, waktu malam yang mereka miliki secara efektif juga dikendalikan. Jika seseorang berusia 13 tahun pada saat Hitler menjadi kanselir pada bulan Januari 1933, mereka akan mengalami satu tahun silabus pendidikan Nazi dengan semua yang terkait dengannya sebelum mereka dapat meninggalkan sekolah. Pada tahun 1937, ketika berusia 17 tahun — usia wajib militer. 

Sejak orang tersebut meninggalkan sekolah hingga saat ini, seorang pemuda akan menerima surat panggilan mereka, karena akan ada upaya Nazi untuk mengendalikan kehidupan orang tersebut. Meskipun merupakan persepsi umum bahwa setiap orang berada di bawah kendali Nazi dan bahwa polisi rahasia memiliki informan di mana-mana, jelas bahwa kota-kota besar memang memiliki bagian komunitas pemuda yang tidak puas. Orang-orang muda inilah yang membentuk kelompok Edelweiss Pirate. Pada dasarnya, mereka anti-otoritas dan tidak konformis.

Mereka juga menawarkan cara hidup di luar rezim Nazi yang mencekik. Anggota Pirates Edelweiss menentang pembatasan pergerakan dengan melakukan hiking dan berkemah. Sementara dalam perjalanan ini mereka memiliki cukup kebebasan untuk menyanyikan lagu yang dilarang oleh lagu blues atau jazz Nazi — terutama 'merosot' yang telah disaring dari Perancis. Mereka bisa saja membuka diskusi mengenai topik-topik yang dilarang di kota-kota dan informan mana yang pasti bisa didengar.

Antara tahun 1936 dan September 1939, pihak berwenang Nazi melihat Pirates Edelweiss sedikit lebih dari sekadar iritasi berskala kecil. Namun, sikap berubah selama Perang Dunia II ketika pihak berwenang percaya bahwa Pirates Edelweiss bertanggung jawab untuk mengumpulkan selebaran propaganda anti-Nazi yang dijatuhkan oleh Komando Bomber Inggris pada awal perang dan memasangnya melalui surat-surat. Hal ini dipandang lebih dari sekadar iritasi; dan itu digolongkan sebagai subversi yang terang-terangan.

Pada bulan Juli 1943 , pemimpin Partai Nazi di Dusseldorf menghubungi Gestapo dengan pandangan mereka terhadap kelompok Edelweiss setempat. Surat tersebut menyatakan bahwa "geng" itu "memberat bebannya" dan bahwa "riff-raff" mewakili "bahaya bagi orang muda lainnya". Diklaim bahwa kelompok kota tertentu ini memiliki rentang usia 12 sampai 17 dan anggota tentara yang terkait dengan mereka saat mereka cuti. Para pemimpin kota Dusseldorf juga percaya bahwa kelompok Edelweiss setempat bertanggung jawab atas grafiti anti-Hitler dan anti-perang di kereta bawah tanah. Namun, jelas dinyatakan bahwa ini hanya kecurigaan.

Bahkan saat itu, hukuman bagi orang-orang yang tertangkap tidak begitu drastis seperti yang diperkirakan selama perlakuan Nazi Jerman terhadap orang-orang subversif dewasa. Pihak berwenang tahu bahwa anggota Pirates Edelweiss membanggakan diri pada penampilan mereka dalam artian sangat non-militeristik. 

Hukuman standar bagi siapa pun yang tertangkap adalah membuat kepala mereka dicukur sehingga penampilan mereka yang lebih bohemian berubah menjadi model tentara. Namun, aktivitas Pirates tidak membuat dirinya senang dengan Heinrich Himmler yang mengharuskan semua orang Jerman untuk taat sepenuhnya. Dia memerintahkan sebuah tindakan keras terhadap semua pemuda yang tampaknya gagal dalam kesetiaan total mereka terhadap Hitler dan negara Nazi.

Dalam sebuah surat dari Himmler kepada Reinhard Heydrich (Januari 1942), Kepala SS menulis bahwa pendekatan setengah terukur terhadap kelompok pemuda mana pun yang gagal menunjukkan kesetiaan total tidak dapat diterima dan bahwa anggota kelompok semacam itu harus ditangani sesuai dengan itu. Himmler mengatakan kepada Heydrich bahwa kamp kerja tidak sesuai. Mereka harus dikirim ke kamp konsentrasi selama antara "2 sampai 3 tahun". Himmler tidak membedakan antara pemuda dan "gadis tak berharga".

"Di sana pemuda pertama-tama harus diberi gejolak dan kemudian menjalani latihan berat dan mulai bekerja. Harus dijelaskan bahwa mereka tidak akan pernah diizinkan untuk kembali ke studi mereka. Kita harus menyelidiki berapa banyak dorongan yang mereka dapatkan dari orang tua mereka. Jika mereka mendorong mereka, maka mereka juga harus dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi dan harta benda mereka disita.” (Hitler's Germany oleh Jane Jenkins).

Himmler juga menasihati Heydrich bahwa dia harus turun tangan "secara brutal" untuk menghentikan penyebaran lebih lanjut kelompok pemuda yang tidak puas. Seiring perang berlanjut dan posisi Nazi menjadi lebih genting, Himmler memerintahkan tindakan keras yang lebih brutal. Pada November 1944, tiga belas pemuda digantung di Cologne dan enam di antaranya pernah menjadi anggota Pirates Edelweiss.

Tulisan oleh Anggoro Prasetyo - Mahasiswa Sejarah UI. Dapat dihubungi di 088211800912

Operasi Vengeance: Operasi Pembunuhan Otak Dibalik Pearl Harbor

Puing P-38 Lightning yang terlibat Operasi Vengeance. Foto: sofrep.com

Pada tanggal 14 April 1943, intelijen angkatan laut berhasil memecahkan kode lainnya. Pesannya dimulai: "Pada tanggal 18 April CINC Combined Fleet akan mengunjungi RXZ, R-, dan RXP sesuai dengan jadwal berikut. . . "Adm. Isokoru Yamamoto sedang merencanakan kunjungan inspeksi pangkalan Jepang di Kepulauan Solomon bagian atas.

Informasi tersebut langsung dikeluarkan dari Panglima Tertinggi CINCPAC Adm. Chester W. Nimitz kepada Sekretaris Angkatan Laut Frank Knox dan kabar tersebut kemudian diteruskan kepada Presiden Roosevelt. Kabarnya, tanggapan presiden adalah, "Get Yamamoto." Terlepas dari apakah presiden benar-benar mengucapkan kata-kata itu, perintahnya juga diberikan: bunuh dalang di balik serangan Pearl Harbor.

Ironisnya, ia yang menjadi target balas dendam Amerika telah berulang kali mempertaruhkan hidupnya untuk menentang perang dengan Amerika. Ia melihat betapa lemahnya industri Jepang dibandingkan dengan Inggris dan Amerika.

Isoroku Yamamoto. Foto: Pinterest

Ketika ditanya oleh Perdana Menteri Pangeran Fumimaro Konoye bagaimana perang antara Jepang dan Amerika akan berlanjut, Yamamoto menjawab bahwa dia akan "berlari tanpa arah selama enam bulan atau satu tahun, tapi setelah itu saya sama sekali tidak percaya diri." Pada 18 September 1941, dalam sebuah pertemuan dengan teman sekelasnya dari kota asalnya Nagaoka, Yamamoto berkata,

"Adalah suatu kesalahan untuk menganggap orang Amerika sebagai orang yang mencintai dan lemah. ... Ingatlah bahwa industri Amerika jauh lebih maju daripada kita, dan tidak seperti kita mereka memiliki semua minyak yang mereka inginkan. Jepang tidak bisa mengalahkan Amerika Serikat. Karena itu kita seharusnya tidak melawan Amerika Serikat."

Tapi ketika pemerintahnya memutuskan untuk berperang, Yamamoto mengesampingkan perasaan pribadinya dan bersumpah untuk melakukan semua yang dia bisa untuk meraih kemenangan. Yamamoto sedang bermain catur dengan Kapten Yasuji Watanabe, seorang anggota stafnya, ketika mereka mendengar kabar radio tentang serangan Pearl Harbor dan deklarasi perang Jepang disampaikan sesudahnya.

Dia berkata, "Sayang sekali, Watanabe. Jika saya mati sebelum Anda, katakan pada Kaisar bahwa angkatan laut tidak merencanakannya sejak awal. "

Sebuah deret kemenangan Jepang yang mengejutkan menyusul. Kemudian, hampir enam bulan sehari setelah Pearl Harbor, armada Kekaisaran Jepang dikalahkan di Midway. Ketika kampanye Guadalcanal yang melelahkan berakhir pada awal 1943, Yamamoto melihat tulisan tangan di dinding.

Dalam sebuah surat kepada seorang teman di bulan Maret, dia menulis, "Saya merasa bahwa hidup saya harus selesai dalam seratus hari berikutnya." Dia menuju ke selatan untuk mengawasi tahap operasi berikutnya. Diluncurkan pada tanggal 1 April 1943, Operasi I-Go adalah serangan balik armada gabungan Jepang untuk menghentikan kemajuan Amerika di Solomon dan New Guinea.

Pada tanggal 13 April Yamamoto, yang sekarang bermarkas pusat di Rabaul, memutuskan bahwa dia perlu melakukan inspeksi atas pangkalan Jepang di Solomon bagian atas. Pada tanggal 16 April, setelah menerima tanpa berdebat dengan para pilot (yang membesar-besarkan) atas laporan terkait kapal-kapal yang ditenggelamkan atau pesawat terbang yang ditembak jatuh, Yamamoto harus menunda serangan tersebut sambil menuntaskan inspeksinya.

Peluang Nimitz untuk dapat mencegat Yamamoto harus didasarkan pada ketepatan waktu. Untung baginya, karena musuhnya dikenal sebagai pribadi yang disiplin terhadap waktu. Meskipun rute Yamamoto berada di luar jangkauan pesawat tempur angkatan laut, namun di dalam pesawat Angkatan Udara AS P-38Gs baru-baru ini dikirim ke Guadalkanal.

Pada tanggal 17 April, Komandan Skuadron 339 Mayor John Mitchell USAAF diminta untuk membantu Vice Adm. Marc Mitscher dan komandan senior lainnya dalam merencanakan serangan tersebut. Pencegatan akan terjadi di pulau Bougainville. Sebuah perjalanan sepanjang 1.000 mil sesuai rencana, dengan rute bundaran sekitar 600 mil dari selatan.

Ilustrasi P38. Foto: USNI Blog

Delapan belas P-38 (enam belas untuk serangan dan dua suku cadang) dipilih dan dilengkapi dengan tank drop khusus. Sekelompok kecil yang terdiri dari sebuah pesawat "pembunuh" dan dikawal empat pesawat tempur lainnya yang dipimpin oleh Kapten Thomas G. Lanphier, Jr. akan menyerang dua pengebom Betty yang membawa Yamamoto dan stafnya sementara yang lainnya menyerang pengawalnya.


Pukul 07.25 pada tanggal 18 April, memperingati tahun pertama Doolittle Raid, P-38 mulai lepas landas. Pukul 9:34, mereka tiba di titik penyergapan, dan tepat waktu, berhasil menemukan target mereka. Lanphier dan Letnan Satu Rex T. Barber dalam formasi kelompok pembunuh mulai menyerang Betty dan pengawal langsung sementara pesawat lainnya menyerang pengawal lainnya. Kedua pengebom ditembak jatuh dan mereka harus kehilangan satu P-38 dan pilotnya, Letnan Satu Raymond K. Hine.

Peta Operasi Vengeance. Foto: Getty Images

Sesaat sebelum tengah hari, saat P-38 yang kembali bersiap untuk mendarat di Lapangan Henderson, Lanphier memberi radio, "Bajingan itu tidak akan mendikte persyaratan damai apapun di Gedung Putih." Yamamoto telah meninggal. Pernyataan Lanphier, ketika ia berhenti dalam diam, mengatakan salah menafsirkan kata-kata Yamamoto.


Apa yang Yamamoto maksudkan adalah bahwa kemenangan militer melawan Amerika dengan memenangkan satu pertempuran, atau bahkan banyak pertempuran, tidak mungkin terjadi. Setiap pilot yang berpartisipasi dalam serangan tersebut menerima Salib Angkatan Laut. Sebuah kontroversi muncul mengenai siapa yang benar-benar menembak jatuh pesawat Yamamoto, dengan Lanphier dan Barber, yang menuai perdebatan di antara mereka.


Penulis: Anggoro Prasetyo
Editor: Imam Maulana

Pada Hari Ini, Paris di Bom oleh Jerman Pada Tahun 1940


Harian Sejarah - Pada hari ini pada tahun 1940, angkatan udara Jerman membom Paris, menewaskan 254 orang, kebanyakan dari mereka warga sipil.

Sebagai upaya untuk mengancurkan kekuatan ekonomi dan militer Perancis, pada 6 Mei 1940 Jerman melakukan pemboman terhadap ibukota Perancis ini. Akibat yang ditimbulkan menewaskan ratusan korban yang kebanyakan warga sipil seperti anak-anak sekolah dan ibu rumah tangga. Serangan ini ditujukan untuk melemahkan moral pasukan Perancis dan kekuatan Sekutu pada umumnya.

Perancis kemudian melakukan serangkaian kebijakan untuk menenangkan moral negara ini. Salah satunnya pelarangan kepada pejabat untuk tidak melarikan diri dari Paris yang dikeluarkan oleh Menteri Dalam Negeri. Ancaman dan hukuman berat akan menimpa mereka yang melanggar.

Pasukan Jerman memasuki Perancis pada tahun 1940

Terlepas dari kenyataan bahwa Pasukan Ekspedisi Inggris hampir menyelesaikan evakuasi di Dunkirk, dan bahwa Perancis hampir hancur oleh Jerman dan diduduki hingga tahun 1944.

Kabinet Perang Inggris diberitahu bahwa raja Norwegia, Haakon, telah menyatakan keyakinan sepenuhnya bahwa Sekutu akan menang pada akhirnya dan mengembalikan keadaan.

Sang raja, setelah membuat ramalannya, lalu melarikan diri dari Norwegia ke Inggris, negaranya sekarang berada di bawah pendudukan Jerman. Dan memang benar, pada akhir peperangan 1944-1945, Jerman mengalami pukulan yang menyakitkan. Banyak kotanya dihancurkan oleh koalisi Sekutu dan ibukota berhasil di masuki, dihujani bom, dan dipermalukan.


Lompat Kodok Amerika Serikat dalam Perang Pasifik

Douglas MacArthur dengan pasukanAmerika di suatu tempat di Pasifik Selatan, akhir 1943. Foto: Pinterest

Harian SejarahMenyusul kemenangan yang menggemparkan di Midway, Amerika Serikat untuk pertama kalinya berhasil memanfaatkan kesempatan tersebut di Pasifik. Pada bulan Agustus 1942, pasukan darat Amerika Serikat dalam jumlah besar mendarat di Guadalkanal, Kepulauan Solomon dalam upaya melindungi jalur komunikasi yang menghubungkan Amerika Serikat dan Australia melalui Pasifik Barat Daya.

Peta yang menggambarkan garis waktu Perang Pasifik. Foto: Anggoro

Kekalahan awal angkatan laut dikarenakan Jepang memotong jalur persediaan Amerika Serikat dengan penuh resiko dan selama berminggu-minggu Amerika Serikat harus bertahan di Pulau Malarial hanya dengan kuku jari mereka. Setelah beberapa kali pertempuran laut yang melelahkan, pasukan Jepang dievakuasi dari Guadalkanal pada bulan Februari 1943. Jepang harus kehilangan 20.000 personilnya yang jika dibandingkan dengan 1,700 Amerika Serikat menunjukkan rasio korban lebih dari sepuluh banding satu.

Sementara itu, pasukan Amerika Serikat dan Australia di bawah Jenderal MacArthur terus bertahan dengan berani di ujung tenggara New Guinea, memberikan kekuatan defensif yang kuat untuk melindungi Australia. Skala perang secara bertahap dimulai dengan angkatan laut Amerika Serikat, termasuk kapal selam yang menimbulkan kerugian mematikan terhadap kapal pengangkut personil dan logistik Jepang.

Douglas Macarthur dan pasukannya di New Guinea selama Perang Dunia ke-2. Foto: Pinterest

Penaklukan pantai utara New Guinea tuntas pada bulan Agustus 1944 setelah Jenderal MacArthur bertempur menuju ke arah barat menyusuri daerah hutan tropis yang kerap dijuluki “Hutan Neraka”. Kemenangan yang diunggulkan ini adalah pijakan pertama memulai perjalanan yang panjang menuju pembebasan Filipina

Angkatan Laut Amerika Serikat yang didukung pasukan darat dan marinir kemudian terlibat dalam “meat-grinder fighting”. Sementara itu telah terjadi "leaffrogging” (lompat kodok) atas pulau-pulau yang dikuasai Jepang di Pasifik. Strategi model lama yang mendiktekan tentara Amerika Serikat ketika mereka akan melintasi Tokyo.

Mereka harus mengurangi pos terdepan musuh yang diperkuat di sisi mereka. Taktik ini akan menyeret musuh dalam pertumpahan darah untuk jangka waktu yang panjang dan kekuatan musuh (yang bersembunyi) akan dipaksa mempersiapkan diri untuk bertempur hingga titik darah penghabisan. Strategi baru “island-hopping” akan memintas pos-pos terkuat Jepang, menduduki pulau-pulau terdekat, mendirikan lapangan terbang, dan kemudian menetralisir basis musuh di samping bombardemen masif.

Keberhasilan yang brilian mengantarkan serangan Amerika Serikat terhadap benteng Jepang di Pasifik, di mana Laksamana Chester Nimitz dengan terampil mengkoordinasikan usaha angkatan laut, udara, dan darat. Pada Mei dan Agustus 1943, Attu dan Kiska di Aleutians direbut kembali. Pada November 1943, "Bloody Tarawa" dan Makin, keduanya di Kepulauan Gilbert, jatuh setelah perlawanan berani mati. Pos terdepan di Kepulauan Marshall berhasil dilumpuhkan setelah melalui pertempuran yang brutal pada Januari dan Februari 1944.

Sebuah F6F Hellcat bersiap-siap untuk tinggal landas ke Marianas. Foto: microworks.net

Sedangkan kemenangan yang terbilang berharga adalah di Marianas, termasuk Amerika Serikat menaklukkan Guam. Dari basis di Marianas, B-29 Amerika Serikat baru dapat melakukan misi penyergapan melalui jalur pulang-pergi atas pulau-pulau Jepang. Serangan terhadap Marianas dibuka pada 19 Juni 1944, yang oleh pilot Amerika Serikat menamakannya "Great Mariana Turkey Shoot” Kombinasi keunggulan tempur "Hellcat" Amerika Serikat yang baru dikembangkan ditambah teknologi baru yang merupakan inovasi senjata anti-pesawat berhasil menghancurkan hampir 250 pesawat Jepang, dengan kerugian hanya 29 pesawat Amerika Serikat.

Keesokan harinya, armada laut Amerika Serikat berhasil menenggelamkan beberapa kapal induk Jepang dalam Pertempuran Laut Filipina. Angkatan Laut Jepang tidak pernah pulih dari kerugian besar baik pesawat terbang, pilot, dan juga kapal.

Setelah perlawanan fanatik, termasuk bunuh diri massal oleh tentara Jepang yang masih hidup dan warga sipil dari "Suicide Cliff" di Saipan, pulau-pulau besar di Marianas jatuh ke tangan Amerika Serikat pada Juli dan Agustus 1944. Dengan mengandalkan kapal-kapal induk yang tidak mudah tenggelam, pengeboman virtual round-the-dock dapat dilakukan pada November 1944.

Tulisan oleh Anggoro Prasetyo - Mahasiswa Sejarah UI. Dapat dihubungi di 088211800912


Operasi Barbarossa, Kegagalan Jerman Menguasai Uni Soviet




Operasi ini dimulai pada 22 Juni 1941 ketika Hitler memerintahkan tentara Jerman menyerbu Uni Soviet. Tiga juta tentara serta tiga ribu tank dikerahkan demi menggempur Soviet. Operasi ini merupakan salah peristiwa terpenting dalam Perang Dunia II.

Dengan mengerahkan kekuatan terbaik pasukannya, mereka meremehkan pihak lawan dan kondisi alam. Mereka kebetulan juga tidak mempersiapkan perbekalan dengan baik. Hitler tidak belajar mengenai kesalahan tokoh sebelumnya yang berupaya menguasai Soviet.

Saat awal operasi berlangsung, tentara Jerman unggul dan berhasil menembus pertahanan Soviet. Panzer-panzer yang dikerahkan menyerbu kota Minsk dan Smolenks. Tank-tank juga berhasil menempuh dua pertiga jarak menuju Moskow dan Leningrad. Upaya mereka hampir berhasil, namun karena perbekalan yang terputus pihak Soviet mulai bisa melawan Jerman.

Cuaca yang ekstrim juga menjadi factor pembantu Soviet. Badai salju yang ekstrem menerjang tentara Jerman. Salju yang turun di bulan November membuat medan semakin sulit dilalui oleh tank dan panzer Jerman. Seragam militer Jerman yang tidak didesain menghadapi cuaca ekstrem Soviet membuat banyak tentara mati kedinginan. Para jenderal Nazi kemudian menyarankan agar upaya 
penyerangan Soviet dihentikan saja.

Hitler pun tidak bergeming dan terus memerintahkan tentara Jerman terus maju menggempur. Namun serangan balasan Soviet membuat pihak Jerman kesulitan. Usaha Jerman di ambang kegagalan dan pada Maret 1942 akhirnya operasi ini dihentikan oleh Jerman. 

Anda bisa menyaksikan penjelasan bagaimana Operasi Barbarosa dalam tayangan yang kami sediakan. 


D-Day: Maut Menjemput Di Normandia

Pasukan Amerika menyerang pantai Normandia, Prancis, pada tanggal 6 Juni 1944. Foto: CNN.com

Tanggal 6 Juni 1944 tercatat dalam sejarah sebagai D-Day. Tidak jelas bagaimana istilah itu menyelusup ke dalam catatan sejarah. Tapi yang pasti, 6 Juni adalah hari penentuan. Dengan pendaratan besar-besaran tentara sekutu di Normandia, terbentuklah Front kedua melawan Hitler dan Nazi Jerman. D-Day menandai arus balik yang mempercepat keruntuhan Nazi di Eropa.

Operasi "Overlord"

File:NormandySupply edit.jpg
Pasukan Sekutu bersiap di pantai untuk melakukan serangan di Normandia, Perancis dalam "Operasi Overlord". Foto: MIckStephenson/Wikipedia

Begitulah nama samaran operasi militer di Normandia. Pasukan sekutu juga menciptakan nama fiktif buat menyamarkan lokasi pendaratan di pantai utara Perancis: "Utah", "Omaha", "Gold", "Sword" und "Juno". Sebanyak 14 negara terlibat dalam operasi raksasa tersebut. Selain AS, Inggris, Polandia, Kanada dan Perancis, Yunani, Rep. Ceko dan Australia ikut serta dalam pasukan sekutu

Otak Serangan

Eisenhower berbicara dengan pasukan payung Angkatan Darat A.S. di Inggris sebelum mereka dikerahkan untuk mendarat di belakang garis musuh pada D-Day. Foto: CNN.com

Komandan militer tentara sekutu di Eropa Utara pada saat itu adalah Jendral Dwight D. Eisenhower. Ia kemudian terpilih sebagai presiden ke-34 Amerika Serikat. Sebelum di Normandia, Eisenhower pernah memimpin pendaratan sekutu di Sicilia dan daratan Italia.

Serangan Fajar pada 6-6-1944

Pendaratan pasukan Sekutu di pantai utara Perancis dalam Operasi Overlord. Foto: ddaybattletours.com

Sesaat sebelum digelarnya operasi "Overlord," langit Normandia didera badai dan hujan tak berkesudahan. Ironisnya cuaca buruk memaksa pimpinan tentara sekutu menggeser jadwal invasi menjadi sehari lebih lambat. Barulah ketika fajar meninggi pada 6 Juni 1944, tentara sekutu mengawali operasi pendaratan terbesar dalam sejarah militer.

Komando Bunuh Diri

German troops man an MG-34 somewhere along the coast of France,
Pasukan Jerman dengan sebuah MG-34 di suatu tempat di sepanjang pantai Prancis yang membentang sepanjang "Tembok Antlantik" yang dikonstruksi oleh Marsekal Erwin Rommel tahun 1944. Foto: militaryhistorynow.com

Sekitar 160.000 serdadu mendarat di Normandia pada D-Day. Di lima garis pantai pasukan sekutu menyerbu apa yang dikenal sebagai "Tembok Atlantik," yang dijadikan tempat berlindung oleh serdadu Jerman. Tanpa perlindungan apapun, pasukan sekutu merayap di pantai dengan diberondong oleh senapan mesin milik tentara Jerman.

Pasukan Terjun Payung

Pasukan Terjun Payung Sekutu meramaikan D-Day dengan mendarat di garis belakang pertahanan Jerman. Foto: Pinterest

Sejarah mencatat pasukan terjung payung sebagai pahlawan perang. Kenyataannya sedikit yang berhasil selamat dari operasi mematikan itu. Sebelum pendaratan, ratusan serdadu diterjunkan tengah malam ke tengah kawasan musuh buat merebut pos-pos penting. Sebagian tidak cuma mewarnai wajah dengan cat kamuflase, mereka juga memangkas rambut ala Iroquois untuk mengejutkan musuh.

Api dari Darat dan Udara

Kekuatan Udara menjadi kekuatan yang begitu besar untuk melumpuhkan pertehanan Jerman di belakang garis pantai. Foto: Daily Mail

Sebelum pendaratan, pasukan sekutu terlebih dahulu membombardir pantai Normandia. Sementara di daratan, pasukan terjun payung merebut pos-pos penting pasukan Jerman. Lalu sekitar 1000 kapal perang dan lebih dari 4200 kapal pengangkut pasukan mendekat ke pantai utara Perancis. Ribuan pesawat tempur dan tank diturunkan untuk membantu. Hujan bom juga meluluhlantakkan desa-desa di pesisir.

Raksasa Logistik

Logistik yang diperlukan untuk operasi D-Day cukup besar dan hal ini dipersiapkan khusus di pelabuhan utara Inggris. Foto: Pinterest

Operasi pendaratan di Normandia juga melibatkan pengiriman logistik secara besar-besaran. Untuk itu pasukan sekutu harus membangun dua pelabuhan besar untuk kapal barang. Sebagian besar bagian konstruksi telah dirampungkan di Inggris dan dirakit di pantai Normandia. Pada gambar ini tampak pelabuhan Mulberry di Colleville sesaat setelah invasi Normadia.

Manuver Tipuan

Manuver Tipuan. Foto: CNN.com

Operasi "Overlord" antara lain berhasil karena militer Jerman dikejutkan oleh pendaratan di Normandia. Hingga detik-detik terakhir pasukan sekutu aktif menggelar kontra intelijen dan menyebar kabar palsu bahwa operasi pendaratan akan digelar di Calais, yang terletak di timur laut. Selain itu jadwal pendaratan juga berbeda jauh dari yang rencana asli sekutu.

Pemimpin Nazi di Tengah Liburan

Marsekal Erwin Rommel saat meninjau benteng pantai yang disebut "Tembok Atlantik" pada tahun 1944. Foto: Pinterest

Informasi palsu yang disebarkan tentara Sekutu terkait jadwal dan lokasi pendaratan mampu membuat pemimpin Nazi lengah dan mengambil liburan di Paris atau ke Jerman. Termasuk di antaranya Panglima Militer, Marsekal Erwin Rommel yang berplesir ke selatan Jerman untuk menemani isterinya yang tengah berulang tahun ke-50. Rommel adalah sosok dibalik pembuatan "Tembok Atlantik" di Normandia.

Arogansi Hitler

Saat penyerangan besar di Normandia, Hitler tengah tertidur karena mengira situasi terkendali. Foto: Pinterest

Pada 6 Juni, Adolf Hitler sedang berlibur di Obersalzberg. Mingguan Jerman, Der Spiegel, melaporkan kepada  Hitler pada jam 10:0 kabar dari Normandia. Saat penyeragan di Normandia, Hitler tengah tertidur dan tidak seorangpun berani membangunkan sang "Führer." Hitler kemudian dikabarkan berteriak senang: "Kabar ini tidak bisa lebih baik lagi," akhirnya pasukan Inggris berada di tempat, "di mana mereka bisa kita kalahkan!"

Sebelas Bulan Berdarah

Pertempuran ini menghabiskan waktu sekitar sebelas bulan. Foto: dailymail.co.uk

Kendati pendaratan sekutu di Normandia menandai arah balik di Perang Dunia II, baru sebelas bulan kemudian Nazi Jerman bisa ditaklukkan. Sebagian besar serdadu yang terlibat dalam pendaratan di Normandia, kemudian dikirim ke Asia Pasifik untuk melanjutkan perang melawan Jepang. Di sana, perang berlanjut hingga September 1945.

Pahlawan Dalam Sejarah

Ratusan ribu pasukan tewas dalam peperangan selama sebelas bulan. Foto: wikispaces.com

Sekitar 57.000 pasukan sekutu tewas selama operasi "Overlord," selain itu juga tercatat 155.000 luka-luka dan 18.000 hilang atau menjadi desertir. Di lain pihak, Jerman kehilangan 200.000 tentara. Hingga kini pendaratan di Normandia masih diperingati oleh sekutu. Selain kepala negara dan pemerintahan, kelompok veteran dari seluruh negara ikut serta dalam upacara tahunan tersebut.
Penulis: Sarah Judith HofmaPahlawan dalam Sejarah