Showing posts with label Perlawanan Imperialisme. Show all posts
Showing posts with label Perlawanan Imperialisme. Show all posts

Tuesday, April 11, 2017

Pendidikan Barat Bagi Pergerakan Nasional

Hollands-Inlandse School, Cilegon, 1934

Untuk menggambarkan hasil dari sistem pendidikan barat yang dibawa oleh Pemerintahan Hindia belanda sebagai konsekuensi diberlakukannya “ Politk Etis “ diseluruh wilayah Hindia Belanda. Kita harus mengetahui terlebih dahulu latar belakang Politk Etis itu sendiri, yang merupakan hasil dari dorongan kaum Humanisme Belanda di parlemen Kerajaan Belanda. Hingga akhirnya itu disetujui oleh Ratu Belanda, Ratu Wilhemina.

***

Sebuah Harapan Akan Pendidikan
Foto: rosemild
Pemberlakuan Politik Etis terutama dibidang edukasi, yang merupakan satu dari tiga poin politik etis (edukasi, irigasi, transmigrasi) perlulah kita analisis secara kritis. Bahwa tidaklah mungkin alasan tersebut semata-mata hanya disimbolisasikan selama ini yaitu “balas budi”.

Jika kita melihat tuntutan parlemen belanda terhadap pihak kerajaan untuk diberlakukannya Politik Etis ini sebetulnya sunguh mulia karena dilatar belakangi oleh tulis Van Deventer yaitu Een Ereschuld (hutang kehormatan) pada tahun 1899.

Dan yang perlu kita ketahui disini adalah bahwa sebetulnya kaum Liberal Belanda seolah diam tapi menyetujui akan usulan Van Deventer tersebut. Hal ini dirasa dengan berlakunya pendidikan di Hindia Belanda akan mengurangi ongkos produksi dalam permasalahan gaji pegawai perusahaan-perusahaan perkebunan di Hindia Belanda saat itu. Lah kok seperti itu ?

Alasannya adalah bahwa rakyat pribumi selama ini hanya bekerja pada sektor buruh rendah yang tidak kompetitif dan produktif. Meskipun pasca berlakunya Politik Pintu Terbuka yang ditandai oleh pemberlakuannya UU Agraria 1870. Hal tersebut tidak menambah kesejahteraan rakyat meskipun mereka memiliki tanah mereka, hal itu berlaku karena mereka diwajibkan menyewakan tanahnya selama 70 tahun dengan bayaran yang kecil, sehingga mereka tidak dapat memenuhi kehidupan sehari-hari dan harus bekerja sebagai buruh.

Ini lah momen yang dimanfaatkan kaum liberal di Hindia Belanda untuk menggantikan pekerja-pekerja eropa yang meminta mahal dalam kepegawaian dengan diganti dengan tenaga pribumi hasil politik etis yang dianggap produktif dan kompetiti, namun bisa dibayar dengan harga yang murah. Hal ini awalnya dapat dirasakan atas hasil lulusan OSVIA yang bekerja kepada pemerintah.

Realitas Kaum Pribumi 

Petani di Karang Tengah, Jawa Barat, 1895. Foto: Tempo/Dok. Tropenmuseum

Namun realitas yang diharapkan sangatlah berbeda. Pemberlakuan politik etis tidaklah sesuai yang diharapkan. Edukasi yang diharapkan harus dibayar dengan biaya yang cukup mahal, karena meskipun pemerintah membiarkan orang pribumi untuk bersekolah, tetapi biaya sekolah yang dibebankan tidaklah dapat mereka sanggupi.

Dalam suatu kesempatan pada kuliah rutin Sejarah Indonesia, Dr. Muhammad Iskandar, M.Hum. Sejarawan Universitas Indonesia mengatakan, “ Banyak warga pribumi yang tidak dapat bersekolah atau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (selain sekolah rakyat).

Mahalnya biaya pendidikan yang dipatok sebesar 300 f (gulden) oleh Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu, sedangkan masyarakat pribumi pada saat itu hanya berpenghasilan rata-rata 7 f  yang dapat kita setarakan dengan hasil panen padi sejumlah 2,5 kwintal.

Hal tersebutlah yang dinilai bahwa tidak semua kalangan masyarakat pribumi dapat mengenyam pendidikan yang tinggi, bahkan untuk mengenyam pendidikan di sekolah rakyat (SR) pun sedikit.

Kebanyakan pribumi yang bersekolah di sekolah belanda ialah anak seorang bupati setempat. Alternatif lainnya adalah menyekolahkan anaknya di Australia karena biayanya yang murah, hanya kurang dari 50 f. Itupun masih banyak yang tidak sanggup.

Bumerang Bagi Belanda


Dengan demikian bahwa keinginan belanda untuk memperoleh tenaga kerja yang murah dan kompetitif sepertinya hanyalah hayalan tamak dan isapan jempol. Lagi-lagi belanda ingin memperoleh keuntungan, namun tak mau berkoran bahkan untuk masalah sekolah ini.

Hingga akhirnya dengan perlakuan belanda yang semacam ini justru menciptakan musuh jangka panjang, ketimbang pegawai murah yang diharapkan dalam penyelenggaraan politik pintu terbuka. Musuh tersebut merupakan golongan pribumi kaya yang selama ini merupakan bagian dari golongan pangrek praja (aparaatur pemerintahan) yang anaknya bersekolah di perguruan tinggi Belanda di Eropa. Kebanyakan golongan pelajar ini akan kembali ke Indonesia setelah selesai mengenyam pendidikan di Negeri Belanda dengan membawa ideologi-ideologi yang mereka kenal di Eropa untuk menjadi semangat perjuangan di Hindia Belanda.

Mereka membawa pemikiran-pemikiran ideologis yang menurut mereka tidak pernah dilakukan di Hindia Belanda, ideologi tersebut anatara lain : liberalisme, demokrasi, sosialisme, dan komunisme. Hingga akhirnya mereka akan mengenal arti nasionalisme kebangsaan untuk menuntut suatu kedaulatan yang selama ini mereka sadari dirampas pemerintah Hindia Belanda. Golongan-golongan tersebut dikenal dengan istilah kaum terpelajar terbagi menjadi dua, yaitu :
  • Elit Politik : golongan terpelajar yang mengerti sebuah pemikiran yang ideologi yang mencita-citakan sebuah kebebasan dari belenggu kekuasaan asing yang dalam mencapai tujuannya dengan cara “belajar” untuk mencerdaskan bangsa dan mengerti akan jati diri bangsa.
  • Elit Fungsional : golongan terpelajar yang menginginkan suatu posisi yang strategi dalam birokrasi Pemerintahan Hindia Belanda dan bekerja untuk menyelenggarakan pemerintahan Hinda Belanda dan bekerja untuk menyelenggarakan pemerintah sesuai dengan pemerintahan.
Salah satu bukti adanya rasa nasionalisme yang memang hanya secara parsial dalam usaha golongan terpelajar ini adalah berdirinya “budi utomo”,  kemudian Indisch Partjh, kemudian munculnya oragnisasi akademisi lain hingga akhirnya munculah Sumpah Pemuda 1928 sebagai lambing simbolik nasionalisasi pribumi.

Sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa rencana Belanda dalam penyelenggaraan pendidikan guna mendapatkan tenaga kerja murah cenderung menghasilkan musuh yang nyata. Meskipun tak dapat dipungkiri banyak pula pribumi yang memilih bekerja sebagai pegawai belanda, ketimbang memulai perjuangan.

Sumber :
  • Robert van Niel, Munculnya Elit Modern Indonesia. Diterjemahkan oleh Ny. Zahara Deliar Noer : PT Dunia Pustaka Jaya
  • Jawaban UAS Mata Kuliah Sejarah Indonesia. 2016. Imam Maulana (1606880232). Universitas Indonesia. 

Sunday, March 26, 2017

Romantika Lukisan Raden Saleh: Penangkapan Pangeran Diponegoro 1830

Lukisan "Penangkapan Pangeran Diponegoro" karya Raden Saleh (1857).

“ Dia ingin memperlihatkan kepada mata seluruh dunia bahawa orang Timur pun punya kesanggupan penuh andai kata duduk sebaris dengan orang-orang Barat itu. Maka pakaian kebangsaannya itu dipakai olehnya pada hari pertunjukan itu maksudnya agar orang- orang Barat itu mengerti bahawa “dia orang Indonesia”. Tidakkah menjadi hairan di waktu itu ejek, suara bisikan semulut demi semulut
dapat dipersaksikan sendiri. Baginya semua itu tidaklah diendahkan. Malah pandangan orang banyak yang memperhatikan dia seorang itu adalah menjadi kemegahan pada dirinya, sedang orang lain tidak begitu.” Ucap Adi Mas (1954) dalam tulisannya Lukisan Raden Saleh Menipu Barat.
***
Saat kita melihat lukisan tersebut, kita akan disuguhkan pada suasana dramatisme pada Masa De Java Oorlog (Perang Jawa) 1825-1830 M. Di kutip dari pembicaraan Mas Dr. Bondan Kanumoyoso, M.Hum dalam sebuah kelas Pengantar Sejarah saat berdiskusi mengenai Perang Jawa, beliau berkata bahwa “ Berjudul Perang Jawa karena merupakan sebuah perang yang terbesar dan melibatkan unsur besar manusia Jawa kurun waktu abad ke 19 tersebut.

Bukan antara orang Jawa dan Penguasa Kolonial Hindia Belanda secara khusus yang pada saat itu berperang, melainkan anatara orang jawa yang kontra dan orang jawa simpatisan kolonial yang terlibat pertempuran dengan sedikit orang kulit putih yang berjumlah sekitar 8000 orang terlibat didalam pertempuran sekitar 100.000 masyarakat Jawa pada waktu itu.”

Kita melihat sosok tersebut adalah Pangeran Diponegoro bisa juga disebut Herucokro, seorang pangeran Kesultanan Yogyakarta yang pada Perang Jawa berperan sebagai Tokoh Utama bersama Kyai Mojo dan Ali Sentot Baharsyah Prawirodirdjo yang tidak setuju atas campur tangan yang terlalu jauh oleh kolonial Hindia Belanda terhadap kehidupan kenegaraan Istana Kesultanan Yogyakarta, yang pada waktu ikut menentukan penerus kekuasaan Kesultanan Yogyakarta.

Selain itu atas perilaku kolonial yang membangun jalan raya melintasi makan leluhur Diponegoro. Hingga akhirnya meletusnya Perang Jawa yang melibatkan sebagian besar masyarakat jawa yang menganggap jika istana saja sudah dapat dikendalikan begitu dalam oleh kolonial, bagaimana dengan rakyat yang tidak memiliki kekuatan.

Adalah kemudian Raden Saleh Sjarief Boestaman, pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang mempionirkan seni modern Indonesia (saat itu Hindia Belanda). Lukisannya merupakan perpaduan Romantisisme yang sedang populer di Eropa saat itu dengan elemen-elemen yang menunjukkan latar belakang Jawa sang pelukis.

Raden Saleh terutama dikenang karena lukisan historisnya, Penangkapan Pangeran Diponegoro, pada gamabar diatas  yang menggambarkan peristiwa pengkhianatan pihak Belanda kepada Pangeran Diponegoro yang mengakhiri Perang Jawa pada 1830. Sang Pangeran terbujuk untuk datang ke Magelang untuk membicarakan gencatan senjata, namun pihak Belanda tidak memenuhi jaminan keselamatannya, dan Diponegoro pun ditangkap.
Berkas:Nicolaas Pieneman - The Submission of Prince Dipo Negoro to General De Kock.jpg
"Penyerahan Diri Diponegoro" karya Nicolaas Pieneman (1835). Foto: Rijksmuseum Amsterdam
Peristiwa tersebut telah dilukis oleh pelukis Belanda, Nicolaas Pieneman yang dikomisikan oleh Jenderal de Kock. Diduga Saleh melihat lukisan Pieneman tersebut saat ia tinggal di Eropa.  Seakan tidak setuju dengan gambaran Pieneman tentang Diponegoro. Saleh memberikan sejumlah perubahan signifikan pada lukisan versinya; Pieneman menggambarkan peristiwa tersebut dari sebelah kanan, Saleh dari kiri. 

Sementara Pieneman menggambarkan Diponegoro dengan wajah lesu dan pasrah, Saleh menggambarkan Diponegoro dengan raut tegas dan menahan amarah. Pieneman memberi judul lukisannya "Penyerahan Diri Diponegoro," sedangkan Saleh memberi judul "Penangkapan Diponegoro." Diketahui bahwa Saleh sengaja menggambar tokoh Belanda di lukisannya dengan kepala yang sedikit terlalu besar agar tampak lebih mengerikan
Perubahan-perubahan ini dipandang sebagai rasa nasionalisme pada diri Saleh akan tanah kelahirannya di Jawa. Hal ini juga dapat terlihat pada busana pengikut Diponegoro. Pieneman sendiri tidak pernah ke Hindia Belanda, dan karena itu ia menggambarkan pengikut Diponegoro seperti orang Arab.
edit/historia.co.id
Gambaran Saleh cenderung lebih akurat, dengan kain batik dan blangkon yang terlihat pada beberapa figur. Saleh juga menambahkan detil menarik, ia tidak melukiskan senjata apapun pada pengikut Diponegoro, bahkan keris Diponegoro pun tidak ada. Ini menunjukkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadhan, karena itu Pangeran dan pengikutnya datang dengan niat baik.

Hal yang lebih menarik adalah bahwa kita tahu bahwa Raden Saleh adalah orang pribumi yang mendapat perlakuan istimewa sebagai pribumi, beliau berteman dengan orang belanda dan pernah menjadi pelukis Istana Kerajaa Belanda.

Namun kita menemukan fakta yang mengungkapkan rasa nasionalisme Raden Salah sebagai orang Jawa tersebut, jika kita lihat ke dalam lukisan tersebut, terlihat sosok Raden Saleh di wajah para sosok pengikut Diponegoro dalam lukisan tersebut. Beliau seperti memposisikan dirinya sebagai pengikut dan berada dipihak Pangeran Diponegoro, sebuah makna yang terlihat sebagai sosok perlawanan.

Setelah selesai dilukis pada 1857, Saleh mempersembahkan lukisannya kepada Raja Willem III di Den Haag. Penangkapan Pangeran Diponegoro baru pulang ke Indonesia pada 1978. Kepulangan lukisan tersebut merupakan perwujudan janji kebudayaan antara Indonesia-Belanda pada 1969, tentang kategori pengembalian kebudayaan milik Indonesia yang diambil, dipinjam, dan dipindah tangan ke Belanda pada masa lampau.

Namun dari itu, lukisan Penangkapan tidak termasuk ketiga kategori tersebut, karena sejak awal Saleh memberikannya kepada Raja Belanda dan tidak pernah dimiliki Indonesia. Lukisan tersebut akhirnya diberikan sebagai hadiah dari Istana Kerajaan Belanda dan sekarang dipajang di Istana Negara,Jakarta.

Berkas:Carl Johann Baehr - Porträt des Raden Saleh Syarif Bustaman.jpg
Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880)

Sumber Kepustakaan :

Mas Adi.1954. Tajuk : Lukisan Raden Saleh Menipu Barat.  Terbit : 22 Juni 1954
National Geography. 2013. “Menelanjangi” Lukisan Karya Raden Saleh.
Bisnis.com.  2016. Ada Kode-kode Menarik di Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Thursday, January 5, 2017

Gerakan Petani dan Buruh Perkebunan Swasta 1870-1900

Gerakan Petani dan Buruh Perkebunan Swasta 1870-1900

Pada masa perkebunan Swasta (1870-1900), umumnya perlawanan dilakukan oleh mereka yang disebut kelas petani dan buruh perkebunan. Perlawanan ini dilakukan dilatarbelakangi oleh kesengsaraan orang Bumiputera yang harus kerja di perkebunan swasta atau pemerintah namun tidak mendapatkan hasil yang sesuai. Mereka umumnya merasa memiliki tanah tetapi tidak dapat menggunaknnya karena waktu sewa yang panjangnya sekitar 75 tahun. 

Banyak dari mereka merasa lebih nyaman pada masa Cultuurstelsel. Hal tersebut demikian karena meskipun mereka sengsara tetapi mereka masih mempunyai tanah untuk dikelola demi kebutuhan sehari-hari, bukan bekerja sebagai petani penggarap atau buruh yang penghasilannya tidak mencukupi. Selain itu pada masa ini kelas-kelas petani dan buruh ini terbuai oleh kesenangan-kesenangan yang ada di kawasan sekitar perkebunan seperti pelacuran, narkotika, miras, dan perjudian. Zaman ini disebut sebagai zaman 'edan'

Gerakan ini menjawab mengenai kondisi sosial buruh dan petani yang melakukan tuntutan kepada pengusaha. Hal ini bisa kita persepsikan seperti teori sosialisme vs kapitalisme. Gerakan-gerakan ini biasanya dilakukan dengan melakukan pemogokan, pembakaran aset, dan perampokan-perampokan perkebunan milik swasta atau pemetintah kolonial. Dan tak jarang pengusahanya terbunuh.

Bentuk Gerakan
  • Mesiahisme/Millenarisme : Gerakan yang percaya bahwa akan datang Ratu Adil yang akan mengusahakan kehidupan yang baru dan membawa kepaada masa keemasan.
  • Nativisme : Gerakan yang percaya bahwa keadaan buruk terjadi karena meninggalkan sistem budaya asli, sehingga untuk memperbaiki keadaan adalah dengan cara menghancurkan budaya yang berlaku (barat) dan kembali kepada budaya asli (tradisional).
  • Revivalisme : Gerakan yang percaya bahwa kesengsaraan itu disebabkan karena meninggalkan sistem leluhur (Majapahit), sehingga jika ingin sejahtera harus kembali menggunakan sistem tersebut.
  • Mahdiisme : Gerakan yang percaya akan datangnya Imam Mahdi yang akan datang dan memberantas semua musuh tuhan dan membawa mereka yang percaya ke dunia yang lebih sejahtera dan mati kelak akan masuk surge.
  • Sektarian : Gerakan memisahkan diri dari suatu kepercayaan karena dinilai tidak mampu mendatangkan kebahagiaan atau kesejahteraan.


Perang Diponegoro 1825-1830, Sebuah Perang Jawa

Masyarakat mengalami suatu dekadensi kebudayaan (kemunduran) terutama dikalangan bangsawan Istana. Bangsawan Istana yang condong merapat dan bersekutu dengan pemerintah kolonial membuat kekecewaan dikalangan masyarakat jawa. Hal ini masyarakat nilai sebagai ketidakmampuan Istana dalam melawan intervensi Belanda yang membuat masyarakat menjadi sengsara, sehingga akhirnya menimbulkan merosotnya kepercayaan masyarakat kepada Bangsawan yang berada di Istana Yogyakarta.

Perang Diponegoro
Lukisan Penangkapan Diponegoro 1825 karya Raden Salah yang sekarang ini menjadi koleksi Istana Negara RI
Namun meskipun demikian tidak semua kalangan bangsawan yang menyukai kedekatan Istana dengan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Mereka menilai bahwa kesultanan menglami kemuduran dengan bersekutu dengan Belanda. Merosotnya pemasukan kerajaan dan kekuasaan wilayah yang semakin sempit disertai oleh pajak tinggi yang harus ditanggung kerjaan menimbulkan perselisihan antara pangeran-pangeran di Istana. Salah satu pihak yang tidak setuju dengan kedekatan kerajaan dengan Belanda adalah Pangeran Diponegoro.

Perang Diponegoro ini sebenarnya diawali oleh sebab khusu yaitu ketika Pemerintah Hindia Belanda memasang patok-patok jalan sebagai rencana dari pembangunan jalan. Namun yang menjadi permasalahannya adalah bahwa lintasan jalan yang direncanakan untuk dibangun berada di atas makam leluhur Pangeran Diponegoro.

Kebijakan tersebut mengakibatkan Diponegoro untuk menyatakan perang terhadap pemerintah kolonial dan kerajaan Yogyakarta. Diponegoro kemudian membentuk suatu pemerintahan sendiri di daerah Selarong.

Diponegoro kemudian mengangkat dua penasehat. Kyai Mojo kemudian diangkat oleh Diponegoro menjadi pensehat Agama, Kyai Mojo merupakan ulama terkenal di Pulau Jawa, akibat bergabungnya Kyai Mojo. Banyak dukungan dari kalangan petani untuk bergabung ke dalam pihak Diponegoro.
Sentot Ali Baharsyah Prawiradirja kemudian diangkat menjadi penasihat Militer. Sentot dengan kemampuannya mempunyai pasukan untuk membantu peperangan. Dalam beberapa sumber dikatakan bahwa pasukan Sentot Ali merupakan tentara bayaran.

 Strategi Perang
  • Mengambil Goa Selarong sebagai markas dan melaksanakan perang gerilya
  • Merekrut banyak tentara dari kalangan petani dan menyerukan perang Jihad Fisabilillah
  • Melakukan pendekatan kepada masyarakat jawa bahwa Diponegoro merupakan Herucokro (Ratu Adil) yang akan memberikan kebebasan kepada masyarakat jawa.
Pada kurun waktu 1824-1827 perang melibatkan hampir semua kekuatan di Pulau Jawa, perang ini melibatkan pasukan Diponegoro melawan pasukan Belanda dan Kerajaan Yogyakarta, Pasukan Belanda terdiri dari sedikit orang Eropa dan banyak melibatkan orang Indonesia Timur (khususnya Maluku). Perang ini disebut juga sebagai Perang Jawa atau De Java Oorlog

Pasukan Diponegoro mengalami kemenangan dalam beberapa pertempuran melawan koalisi Belanda dan Kerajaan Yogyakarta. Hal ini karena besarnya dukungan masyarakat jawa terhadap Diponegoro. Masyarakat percaya bahwa memang Diponegoro merupakan  Ratu Adil yang muncul ditengah kesengsaraan masyarakat dan berani melawan penjajah untuk menciptakan masa keemasan bagi masyarakat jawa. Hal ini dikarenakan meskipun akulturasi jawa dan Islam telah berlangsung, akan tetapi masyarakat masih menyisakan keyakinan terhadap ramalan Jayabaya.

Perpecahan terjadi dalam internal kubu Diponegoro. Sentot Ali tidak setuju dengan serangkaian perang gerilya dilakukan pasukan, selain itu Kyai Mojo mempermasalahkan mengenai pengangkatan Diponegoro sebagai Ratu Adil, Kyai Mojo tidak suka dengan cara tersebut untuk melakukan perekrutan tentara di Jawa Tengah. Di sisi lain terjadi pengkhianatan dari Sentot ali yang berpaling ke kubu Pemerintah Kolonial dengan tawaran uang dan kemudian menarik pasukannya untuk bersiap dikirim melakukan perlawanan di Aceh.

Belanda kemudian menarik pasukannya di Aceh yang sudah digantikan posisinya oleh pasukan Sentot untuk membantu perlawanan dalam perang Diponegoro. Serangan-serang Diponegoro dapat terpatahkan karena kekurangan pasukan dan sebab Belanda berhasil melakukan pengintaian pasukan setelah sebelumnya banyak menyebarkan mata-mata.

Pasukan Belanda di bawah pimpinan Jenderal De Kock melakukan strategi benteng stelses. Strategi benteng stelses dilakukan dengan cara membangun banyak benteng ukuran sedang mengelilingi daerah kekuasaan Diponegoro. Benteng-benteng yang banyak tersebut dipersenjatai lengkap dengan di dalamnya terdapat beberapa pasukan dan logistik. Pembangunan benteng ini bertujuan menyempitkan ruang gerak pasukan gerilya Diponegoro.

Karena ruang geraknya yang sudah terhempit. Akhirnya Diponegoro mau untuk diajak berunding dan keluar dari tempat persembunyiannya.  Alih-alih berunding, justru Belanda menangkap Pangeran Diponegoro. penangkapan Pangeran Diponegoro diprakarsai oleh Letnan Jenderal de Kock pada 28 Maret 1830.

Pangeran Diponegoro kemudian diasingkan ke Makassar, Sulawesi, dimana ia menjalani sisa hidupnya disana sampai kematiannya pada tahun 1855

Perang Batak 1828-1907

Perang Batak 1828-1907

Pasca Perang Puputan, Belanda yang sudah menguasai Bali melakukan upaya militer lagi dengan meluaskan kekuasaannya ke Sumatera bagian Utara. Berdasarkan Treaty of Sumatera 1870 yang merupakan kesepakatan antara Belanda dengan Inggris bahwa Belanda dapat menganeksasi wiilayah Sumatera, sedangkan Inggris menganeksasi wilayah Singapura sampai Semenanjung Malaya.

Upaya aneksasi wilayah Sumatera bagian utara ini berhubungan dengan konsep Politik Pax Netherlandica yaitu pembulatan negeri jajahan. Jawa, Bali, Sulawesi, dan sebagaian Sumatera sudah belanda kuasai. Dengan menganeksasi Sumatera bagian utara maka Belanda dapat menguasai seluruh darata Sumatera hingga nanti tersisa wilayah Borneo (Kalimantan). 

Kemudian perang batak ini sebenarnya dilatarbelakangi oleh penolakan oleh Raja Batak Sisingamangaraja XII atas misi Zending (penyebaran agama protestan) yang dilakukan oleh pendeta-pendeta Belanda dan Jerman di wilayah batak yang telah dikuasai oleh Belanda. Hal ini bermula dari wilayah kekuasaan Sisingamangaraja XII yang mengecil karena wilayah Tapanuli dan Taruntung telah dikuasai oleh Belanda.

Sisingamangaraja XII kemudian berusaha melakukan perlawanan untuk mencegah kekuasaanya semakin mengecil oleh ekspansi Belanda. Raja Sisingamangaraja XIII kemudian menyerang kedudukan Belanda di Tarutung. Perang berlangsung selama tujuh tahun di daerah Tapanuli Utara, seperti di Bahal Batu, Siborong-borong, Balige Laguboti dan Lumban Julu. 

Kemudian untuk membalas serangan Sisingamangaraja XII, Belanda pada tahun 1894 melancarkan serangan balasa dengan menyeran Bakkara yang merupakan pusat kedudukan dan pemerintahan Kerajaan Batak. Serangan ini berujung pada mengungsinya raja ke Dairi Pakpak.

Pada tahun 1904, pasukan Belanda, dibawah pimpinan Van Daalen dari Aceh Tengah, melanjutkan gerakannya ke Tapanuli Utara, sedangkan di Medan didatangkan pasukan lain. Pada tahun 1907, Pasukan Marsose di bawah pimpinan Kapten Hans Christoffel berhasil menangkap Boru Sagala, istri Sisingamangaraja XII serta dua orang anaknya.

Sementara itu Sisingamangaraja XII dan para pengikutnya berhasil melarikan diri ke Hutan Simsim. Ia menolak tawaran untuk menyerah, dan dalam pertempuran tanggal 17 Juni 1907, Sisingamangaraja XII gugur bersama dengan putrinya Lopian dan dua orang putranya Sutan Nagari dan Patuan Anggi. Gugurnya Sisingamangaraja XII menandai berakhirnya Perang Tapanuli.

Perang Puputan 1848-1906

Perang Puputan 1848-1906

Perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda terjadi kembali pasca kemenangan Belanda pada Perang Paderi dan Perang Diponegoro yang membuat Belanda mempunyai kekuasaan secara utuh di Jawa dan Sumatera. 

Perlawanan ini terjadi di Bali pada 1948. Perlawanan ini berujung pada peperangan antara Pemerintah Hindia Belanda melawan kerajaan-kerajaan di lima wilayah di Bali. Kerjaaan tersebut antara lain : Klungkung, Buleleng, Karang Asem, Gianyar, dan Badung.

Hal yang latarbelakanginya adalah perselisihan mengenai Hak Tawan Karang yang dimiliki oleh raja-raja di Bali. Hak Tawan Karang merupakan hak bagi setiap raja untuk menawan kapal yang terdampar di wilayah pantai kerajaan mereka. 

Pada waktu itu Belanda melakukan ekspedisi militer untuk menaklukan Kerajaan Bulelng yang melakukan hak tawan karang terhadap kapal-kapal dagang milik Belanda yang terdampar di dermaga. Pada bulan Juni 1846 Belanda mengerahkan pasukan dan kapal tempurnya yang dipimpin oleh Jenderal Batavus van den Bosch. Pasukan tersebut terdiri dari 1.700 pasukan dan kemudian datang kembali ekspedisi kedua yang dipimpin oleh Jenderal Carel van der Wijck yang membawa 2.400 prajurit.

Orang bali pun menyiapkan pasukan sejumlah 16000 tentara, dari 16000 tentara sekitar 1600 dipersenatai senapan yang dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik. I Gusti Ketut Jelantik pun menyerukan Perang Puputan atau perang sampai darah titik penghabisan.

Pertempuran berlangsung sekitar 3 tahun terus menerus. Kemudian Belanda mengirim kembali ekspedisi militer pimpinan Mayor Jenderal Michies. Ekspedisi ini membawa sekita 5000 pasukan dari Sumatera. Pasukan ini kemudian berlabuh di Karang Asem dan menyerang Benteng Jagaraga milik Kerajaan Buleleng dan menyerang Kerajaan Badung.

Pertempuran di Benteng Jagaraga dimana terdapat Pasukan I Gusti Ketut Jelantik. Benteng dihujani dengan tembakan Meriam yang menyebabkan banyak korban tewas di pihak Buleleng. Pada 19 April 1840 Belanda berhasil menghancurkan seluruh kekuatan Buleleng dan menewaskan seluruh pasukannya termasuk I Gusti Ketut Jelantik.

Perang Padri 1821-1837


Dilatarbelakangi oleh perselisihan antara kaum adat dan kaum Padri di Minangkabau. Kaum Pedri sendiri merupakan sekolompok ulama yang baru kembali dari Timur Tengah dan kembali untuk memurnikan ajaran Islam di daerah Minangkabau. Peran ini didasari oleh konflik antara kaum adat dan kaum padre mengenai masalah penerapan syariat di Tanah Minang. 

Kaum Padri berusaha untuk menghilangkan unsur adat karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Unsur Adat tersebut antara lain kebiasaan seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat, minuman keras, tembakau, sirih, dan juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan, serta longgarnya pelaksanaan kewajiban ritual formal agama Islam. Kaum Padri ini sendiri yang melakukan hal tersebut merupakan suatu aliran dalam Islam. Kaum Padri sendiri beraliran Islam Wahabi (Fundamentalis).
Perang Padri sendiri terbagi menjadi tiga periode :
  1. 1821-1825 : Perang antara Koalisi Belanda dan Kaum Adat melawan Kaum Padri
  2. 1825-1830 : Masa genjatan senjata (Perjanjian Manasang)
  3. 1830-1837 : Perang Antara Koalisi Kaum Adat dan Padri melawan Belanda.

1821-1825 : Kaum adat bekerja sama dengan Belanda dalam usaha mengalahkan kaum padri. Namun dalam kerja sama ini, kaum adat meminta diadakannya sebuah perjanjian. Perjanjian tersebut adalah bahwa jika koalisi dapat memenangkan peperangan dengan kaum padri. 

Maka Belanda tidak diperkenankan untuk melakukan ekspansi ke wilayah Sumatera Utara, Belanda hanya boleh melakukan ekspansi ke wilayah Sumatera bagian tengah dan timur. Perjanjian ini pun disetujui oleh Belanda yang kemudian perjajiannya ini dikenal sebagai Treaty of Sumatera.

1825-1830 : Terjadi genjatan senjata. Hal ini dilakukan oleh Belanda mengingat sedang pecahnya perang Diponegoro yang melibatkan konflik besar di seluruh jawa. Belanda melakukan mediasi dengan kaum padri untuk melakukan genjatan senjata agar menciptakan suasana damai. 

Oleh sebab itu Belanda melalui residennya di Padang mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat "Perjanjian Masang" pada tanggal 15 November 1825. Hal ini dimaklumi karena disaat bersamaan Pemerintah Hindia Belanda juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropa dan Jawa seperti Perang Diponegoro.

1830-1837 : Setelah berakhirnya perang Diponegoro dan pulihnya kekuatan Belanda di Jawa, Pemerintah Hindia Belanda mencoba kembali untuk menundukan Kaum Padri. Hal ini sangat didasari oleh keinginan kuat untuk penguasaan penanaman kopi yang sedang meluas di kawasan pedalaman Minangkabau (darek).

Melihat maksud dan tujuan Belanda yang terselubung. Kaum Adat kemudian mengundurkan diri dari koalisi dan beralih bergabung bersama Kaum Padri untuk melawan Belanda. Kaum Adat menilai bahwa Belanda tidak akan mematuhi perjanjian yang pernah dibuat dan akan melakukan ekspansi pula ke Sumatera Barat.

Sementara ketika Letnan Kolonel Elout melakukan berbagai serangan terhadap Kaum Padri antara tahun 1831–1832, ia memperoleh tambahan kekuatan dari pasukan Sentot Ali Prawiradirja, salah seorang panglima pasukan Pangeran Diponegoro yang telah berkhianat dan bekerja pada Pemerintah Hindia Belanda setelah usai perang di Jawa.

Pada bulan Juli 1832, dari Jakarta dikirim pasukan infantri dalam jumlah besar di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ferdinand P. Vermeulen Krieger, untuk mempercepat penyelesaian peperangan. Dengan tambahan pasukan tersebut pada bulan Oktober 1832.

Koalisi Kaum Padri dan Adat melakukan perlawanan dengan bergrilya. Namun selama petempuran yang berlangsung bertahun-tahun. Pasukan koalisi kewalahan dan mengalami kondisi pertempuran yang melambat. uanku Imam Bonjol terus mencoba mengadakan konsolidasi terhadap seluruh pasukannya yang telah bercerai-berai dan lemah, namun karena telah lebih 10 tahun bertempur melawan Belanda secara terus menerus, ternyata hanya sedikit saja yang tinggal dan masih siap untuk bertempur kembali.

Dalam kondisi seperti ini, tiba-tiba datang surat tawaran dari Residen Francis di Padang untuk mengajak berunding. Kemudian Tuanku Imam Bonjol menyatakan kesediaannya melakukan perundingan.

Tuanku Imam Bonjol diminta untuk datang dan berundiing tanpa membawa senjata. Tapi hal itu cuma jebakan Belanda untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol, peristiwa itu terjadi di bulan Oktober 1837 dan kemudian Tuanku Imam Bonjol dalam kondisi sakit langsung dibawa ke Bukittinggi kemudian terus dibawa ke Padang. 
Pengasingan ini dilakukan bertahap dan berpindah-pindah hingga pada saatnya Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Manado. Di Manado ia mengalami pengasingan selama 27 tahun sebelum akhirnya meninggal 8 November 1864.