Showing posts with label Sejarah Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Indonesia. Show all posts

Marsinah dan Api Perjuangan Buruh Indonesia

Aksi memperingati 22 tahun tanpa keadilan "Malam Marah Marsinah" di Jakarta. Foto: Liputan6

Harian Sejarah - Topik mengenai buruh di Indonesia tiap tahun begitu mengahangat. Hal yang paling umum adalah upaya buruh untuk meminta kenaikan upah setiap tahun. Hal itu dilakukan dengan melakukan demonstrasi terhadap pemerintah, yang menjadi ritual tahunan seperti pada Hari Buruh Internasional setiap 1 Mei.

Di Indonesia, isu perburuhan tampaknya baru meluas terkabarkan setelah mencuat sosok bernama Marsinah. Fakta Sejarah mengenai perjuangannya mengangkat harkat buruh di pabrik tempatnya kerja, yang berakhir dengan kematian.

Berita mengenai Marsinah dituturkan Harian Kompas mulai pada edisi 27 Mei 1993, dengan YLBHI sebagai narasumber utama. Marsinah menjadi simbol perlawanan, simbol dari para buruh yang menuntut keadilan kepada para perusahaan yang tidak mau menuruti ketetapan upah minimum.

Mengenai masalah buruh, pergolakan yang terjadi mengangkat isu mengenai pekerja kantoran yang dianggap naif dan tak mengenal identitas mereka. Mereka dianggap sebagai golongan yang nyinyir kepada para pekerja pabrik yang mereka anggap pekerja rendahan, tetapi turut menikmati hasil tuntutan kaum buruh terhadap upah minimum.

Padahal tak ada perbedaan status antara pekerja kantoran dengan buruh pabrik, karena upaha mereka sama-sama diatur oleh upah minimum yang terus diperjuangkan kesesuaiannya oleh kaum buruh.

Pada masa Reformasi, kaum buruh turut serta bagi rampungnya ketentuan jaminan sosial bagi para tenaga kerja yang terkodinir oleh Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS), melalui BPJS Ketenagakerjaan. Pada tahun 2010, sekitar 150.000 buruh buruh turun ke jalan menuntut dirampungkannya jaminan sosial tersebut.

BPJS merupakan amanat lanjutan dari Sistem Jaminan Sosial Nasional yang diteken Pemerintah pada 2004. Di belakang semua proses itu, ada aksi-aksi buruh yang terus menjaga gelombang perbaikan kesejahteraan.

Satu lagi hasil yang juga datang dari aksi para buruh, 1 Mei menambah satu lagi jadwal libur nasional. Ditetapkan pada Juli 2013 lewat Peraturan Presiden, hari libur ini sayangnya sempat terasa sebagai upaya Pemerintah meredam kenyinyiran kelas menengah saja.

Mereka golongan nyinyir seperti pekerja kantoran yang merasa terganggu karena kemacetan yang disebabkan oleh demonstrasi kaum buruh harusnya patut sadar. Bahwa cuti kerja, kenaikan penghasilan mereka setiap tahunnya semua adalah berkat aspirasi yang naik kepermukaan yang disuarakan oleh kaum buruh!

Seperti untaian lirik dalam lagu Internasionale, bahwa kaum yang lapar dan hina, akan mendapatkan kemuliaan yang besar, tentunya dengan kerja keras dan berani kencangkan suara!

Dikutip dari Kompas.com, merujuk ke ujaran Jawa, “jer basuki mawa bea”, setiap usaha butuh pengorbanan. Nah, kalau sekiranya lagi ada di posisi terlalu nyaman untuk beranjak memperjuangkan nasib sendiri boro-boro punya orang banyak, tak perlu juga nyinyir tanpa arah, bukan? Terlebih lagi bila ternyata ikut menikmati upaya orang lain....

Batavia 1681: Gambaran Kemegahan dan Kekejaman Heeren dan Vrouwen VOC di Tanah Jawa

Batavia 1681: Picture of VOC Heeren’s and Vrouwen’s Grandeur and Cruelty in the Javanese Land

Harian Sejarah - Replika Kapal Batavia yang menggambarkan kapal kongsi dagang Belanda (VOC) yang berlayar pada abad 17 –mengingatkan kita pada masa-masa awal masuknya kolonialisme di Nusantara.

Mungkin cukup naif jika menyebut bahwa Indonesia telah dijajah selama kurang lebih tiga setengah abad dan hal itu, sepertinya tidak benar. Kunjungan pertama kongsi dagang Belanda yang terkesan sombong pada sekitaran abad ke-16 dan ke-17 tidak dapat diakui sebagai kekuasaan penuh pada daerah-daerah Nusantara. 

Kunjungan mereka yang hanya mencapai Banten tidak mungkin diartikan sebagai penguasaan juga terhadap Maluku dan kepulauan rempah-rempah lainnya. Kendati demikian, kekejaman orang-orang yang tergabung dalam kongsi dagang Hindia Timur Belanda itu ternyata sudah menampakkan wujudnya pada sekitaran abad ke-17 –saat mereka sudah memiliki Batavia sebagai pusat kamar dagang mereka. 

VOC –menurut register-register mereka, ingin membuat Batavia seperti kota-kota mereka di daratan Eropa. Untuk membuatnya stabil dari luapan banjir dan menjadi kota yang sehat, pembangunan hadir di mana-mana. Beberapa tahun saja sejak mereka mendapatkan Batavia, kota itu sudah berubah menjadi kota dagang megah yang berisi pejabat-pejabat kongsi dagang dan budak-budaknya. Pada sekitaran 1681, kunjungan Jean Baptise Tavernier –seorang Prancis, menunjukkan pada kita tentang bagaimana orang-orang kaya baru Belanda itu berkelakuan di pusat dagang baru mereka. 

Menurut Tavernier, kekayaan berlimpah-limpah yang datang dari penguasaan baru mereka di tanah Jawa dan hubungan dagang mereka yang seringkali disertai intervensi politik pada daerah-daerah penghasil rempah membuat para pejabat ini sukses meraup untung. Kesuksesan yang luar biasa dalam waktu singkat itu kemudian diikuti oleh sifat tamak dan kesombongan yang mengalahkan para aristokrat di Negeri Belanda sendiri. 

Hal-hal ini secara tidak langsung didukung dan dikuatkan oleh negeri induk dengan memberikan jenderal-jenderal Hindia mereka harta dan pasukan untuk menjamin kemegahan armada-armada ‘dagang’ Belanda. Kendati mengirimkan modal dan dukungan yang luar biasa, jarang ada pejabat di Negeri Belanda yang mengetahui tindak kesewenang-wenangan dan kengerian luar biasa yang terjadi di Batavia serta sepanjang  perjalanan menuju ke sana. 

Dimulai dari perjalanan megah dari pelabuhan-pelabuhan sebelah barat Amsterdam, kapal-kapal Hindia mengarungi samudera dan menambatkan talinya di pelabuhan utara Batavia. Ketika sampai di Batavia ini, kekejaman dimulai. Serdadu-serdadu yang baru datang akan diminta bertarung satu sama lain oleh Mayor Batavia, hal ini demi mengetahui kekuatan prajurit. Mereka yang menang akan tinggal di Batavia sebagai ajudan-ajudan jenderal, namun mereka yang kalah akan dikirim jauh ke pulau-pulau berbenteng yang kondisinya jelas jauh sekali dari Batavia. Batavia yang dipenuhi kekayaan dan kuda-kuda Arab serta Persia yang senantiasa mengawal pejabat-pejabat itu ke mana-mana. 

Tavernier sendiri menyaksikan dengan mata kepalanya tentang bagaimana kemegahan dan kekayaan yang dipamerkan oleh para heeren (Bahasa Belanda: tuan-tuan) dan vrouwen (Bahasa Belanda: nyonya-nyonya) Batavia itu. Kereta yang membawa mereka keluar rumah ditarik oleh paling tidak enam ekor kuda dan enam prajurit tombak dengan pakaian yang bagus. 

Belum lagi iring-iringan yang mengekor di belakang mereka terdiri dari sepasukan infantri dan lain-lainnya. Kemegahan ini memang berguna bagi mereka untuk mendapat posisi bagus dalam perundingan dagang, namun juga terkadang memberikan kesan membuang sia-sia kekayaan kongsi dagang. 

Salah satu kisah kekejaman tuan-tuan Belanda itu malahan datang dari gubernur jenderalnya sendiri –Heer Maetsuyker. Gubernur jenderal itu tidak memiliki anak dari perkawinannya selama bertahun-tahun dengan istrinya sehingga membuatnya ingin mendatangkan keponakannya dari Negeri Belanda. Karena kekuasannya yang besar, dikirimlah pesan pada mayor kota tempat keponakan gadisnya itu tinggal untuk kemudian memintanya datang ke Hindia. Setelah pencarian sulit yang dilakukan, ditemukanlah gadis sederhana penjual kubis itu dan disuruhlah pergi ke Hindia menumpang sebuah kapal yang dipimpin seorang laksamana muda. 

Mengetahui betapa berharganya gadis yang menumpang kapalnya itu, laksamana muda menjaganya dengan sepenuh hati demi mendapatkan hatinya dan posisi bagus di samping gubernur jenderal Hindia. Dikarenakan mudahnya gadis itu terkena mabuk laut, laksamana muda tidak pernah meninggalkan kamar gadis itu dan terus menungguinya di samping ranjang. Pun demikian, tidak ada yang tahu bahwa laksamana muda itu juga menemaninya di atas ranjang. Hingga sebelum sampai di Hindia, hamil jugalah gadis itu. 

Sesampainya di Batavia, keponakan perempuan itu disambut dengan pawai dan dielu-elukan. Namun demikian, kekecewaan pun datang juga ketika Heer Maetsuyker mengetahui bahwa kehamilan keponakannya adalah akibat hubungannya dengan laksamana muda. Menyayangkan bahwa ia telah hamil, pernikahan pun dilaksanakan dan anak itu pun dilahirkan. 

Namun, seminggu kemudian, datanglah obat racun dari istana gubernur jenderal untuk keponakan perempuan itu hingga membuatnya tewas. Hal ini dilakukan untuk menjaga kehormatan gubernur jendral itu agar tak memiliki menantu dari kelas rendahan. 

Beda dengan cerita-cerita dari istana gubernur jendral, kisah nyonya-nyonya Batavia lebih mengerikan lagi. Nyonya-nyonya itu berasal dari kelas rendahan di Negeri Belanda yang dikirim ke Batavia untuk mendapatkan pasangan. Setelah menikah dengan pejabat-pejabat VOC yang kaya raya dengan budak-budaknya yang banyak, nyonya-nyonya itu kesombongannya bahkan melebihi putri-putri kerajaan. 

Lebih-lebih lagi, nyonya-nyonya itu merasa sangat pintar sehingga mengira bahwa nafsu-nafsu terlarang dan perselingkuhan mereka tidak dapat terbongkar –kecuali dengan kekuatan supranatural dan Tuhan. Namun sayang, nafsu mereka itu kadang pula tidak dapat dijaga dengan baik hingga membuat mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk berselingkuh dan memuaskan diri. 

Perselingkuhan yang sering kali terjadi bukan antara nyonya-nyonya itu dan perwira muda yang berkulit putih dan tampan, namun yang lebih sering adalah dengan budak-budak belian mereka yang kekar dan berkulit gelap. 

Tavernier mengisahkan bahwa pada perjalannya itu ia menyaksikan perselingkuhan seorang istri sekretaris rumah sakit Batavia yang sebenarnya sungguh tampan. Karena tidak mendapat keturunan dari suaminya, nyonya sekretaris itu pun berselingkuh dengan seorang budaknya yang kekar namun berkulit amat gelap. 

Perselingkuhan itu membuahkan kehamilan yang nantinya justru akan membahayakan rahasianya. Awalnya, sekretaris rumah sakit itu amat senang sehingga mempersiapkan kelahiran dengan amat mewah. Namun, ketika tiba saat kelahiran, kegembiraan itu berubah seketika menjadi kedukaan –ternyata anaknya itu amat gelap kulitnya. Hanya berkat mulut para budak wanita sekretaris itulah perselingkuhan ini kemudian terbongkar. Akhir ceritanya, hanya karena intervensi gubernur jenderal saja, maka kasus ini dapat diatasi dengan hukuman seumur hidup pada budak pria yang menghamili nyonya sekretaris itu. 

Kekejaman yang dilakukan para nyonya Batavia juga tertuju pada budak wanita mereka. Pernah suatu kali seorang nyonya mendapati budak wanitanya tersenyum pada tuannya. Hal ini sebenarnya berawal dari tugas yang diberikan nyonya itu kepada budak wanitanya untuk membantu memakaikan jubah ketika suaminya hendak keluar rumah. Tanpa sengaja, mata suami dan budak wanita itu kemudian bertemu dan budak wanita itu pun tersenyum. Melihat hal ini, nyonya itu menjadi sangat murka dan berpikir bahwa suaminya telah berselingkuh dengan budak itu. 

Setelah suaminya pergi, diikatnya budak wanita itu di meja makan dan dipotong-potonglah tubuh budak itu hingga tidak berdayalah ia. Setelah kehilangan banyak darah, nyonya itu bahkan punya pikiran untuk memasak daging budak itu dan menyajikannya ke suaminya. 

Hanya karena ancaman budak wanita yang lain saja, pemikiran mengerikan itu diurungkan. Budak lainnya mengancam akan melaporkan hal ini ke mayor. Beberapa saat setelahnya, meninggalah budak wanita yang sudah berdarah-darah itu dan kasus ini pun tidak terbongkar hingga waktu yang lama. Setelah terbongkar pun tidak ada teguran bagi si majikan perempuan. 

Di rumah-rumah yang lain, seorang nyonya akan menghukum budak wanitanya dengan menenggelamkan wajahnya ke baskom penuh air mendidih jika budak wanita itu bergurau dengan pria yang bekerja di rumah itu. Hukuman-hukuman yang dilakukan para majikan ini sudah biasa terlihat di rumah-rumah Batavia pada masa itu. 

Hal yang mencengangkan juga terlihat saat seorang budak kehilangan barang pribadinya (biasanya kain selimut) dan justru dihukum karenanya. Demikianlah, pejabat dan orang-orang yang tinggal di Batavia ini mendapat kekuasaan dan dominasi atas budak mereka sehingga bahkan orang-orang negeri induk yang datang ke sana memberikan komentar tentang betapa mengagumkannya penghormatan yang diberikan oleh orang-orang pribumi terhadap para heer dan vrouw yang tinggal di Hindia. 

Demikian itu adalah gambaran kengerian yang terjadi di balik kemegahan Batavia. Kota Batavia adalah kota ajaib yang mampu mengangkat derajat sosial orang-orang buangan Negeri Belanda. Hal-hal yang demikian ini seringkali terjadi di luar pengetahuan negeri induk. Tidak mungkin hal yang demikian dikirimkan sebagai laporan resmi seorang gubernur jenderal. Hanya melalui sumber lain seperti surat-surat dan catatan Tavernier ini saja lah kita mampu melihat kengerian Batavia di tahun 1681. 

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Djoened, Marwati dan Nugroho Notosusanto (ed.). 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Dorléans, Bernard. 2016. Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad XVI sampai dengan abad XX. Jakarta: KPG.
Tavernier, Jean Baptiste. 1681. Kisah Perilaku Orang Belanda di Asia terhadap Rakyat Mereka maupun Orang Asing guna Mendukung Perdagangan. Tanpa kota: Tanpa penerbit. 
_______. 1681. Fin pitoyable d’un riche marchand de Hambourg qui dans sa disgrace s’etait enrole pour simple soldat au service de la Compagnie. Tanpa kota: Tanpa penerbit.
Vlekke, H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.

Persentuhan Awal Prancis dan Kelautan Nusantara

Het White Huis (Gedung Putih) dibangun oleh Daendels, hari ini gedung ini difungsikan sebagai Kantor Kementerian Keuangan Indonesia merupakan pemerintahan Pemerintah Kolonial Republik Bataaf dibawah komando Prancis pada abad 19.

Harian Sejarah - Di kala mata orang-orang modern tertuju pada sejarah panjang kolonial Belanda, ternyata orang-orang Prancis sudah masuk dalam kehidupan kelautan Nusantara pada sekitaran abad ke-16. Masa ini sama tuanya dengan masa-masa awal Belanda mencengkeramkan hegemoninya di kepulauan Nusantara. Persentuhan itu dimulai dari perjalanan awal kapal-kapal Prancis yang bertolak dari pelabuhan Normandi, Prancis. Pelayaran awal orang-orang Prancis ini merupakan pelayaran yang pertama sejak ditemukannya jalur pelayaran melalui Samudera Pasifik pada 1519 oleh Magellan. 

Kapal-kapal yang bertolak dari Honfleur, Normandi ini dipimpin oleh seorang kapten bernama Verrazane. Verrazane yang optimis dengan ekspedisinya ini mengambil jalan untuk menyusuri Samudera Pasifik, namun sayang tidak beruntung menemukan Tanjung Magellan. Kapten kapal ini kemudian meneruskan perjalanannya melalui bagian selatan Samudera Atlantik barat dan berakhir di Samudera Hindia. 

Pada titik yang gemilang ini, ternyata kondisi awak kapal tidak segemilang pencapaian Verrazane. Dengan kondisi yang serba tidak menguntungkan, awak kapal kemudian memutuskan untuk memberontak sehingga membuat perjalanan hanya dilanjutkan dengan satu kapal lain yang sebelumnya dipimpin Pierre Caunay. 

Pada 1527, satu kapal yang tersisa ini melihat bibir pantai Sumatra. Kapal-kapal ini kemudian berhasil berlabuh di pelabuhan besar Aceh yang pada masanya merupakan bandar dagang besar di Asia. Pertemuan awal penduduk Nusantara dengan orang-orang Prancis ini tidak berlangsung dengan mulus. Para pelaut Prancis tidak mendapat sambutan hangat dan bahkan harus mengalami pertempuran hebat yang menewaskan kapten kapal. Dengan gugurnya pimpinan ekspedisi, pelaut-pelaut ini memutuskan untuk kembali ke negeri mereka tanpa melanjutkan ekspedisi ke pulau penghasil rempah-rempah di timur. 

Dalam perjalannya ke Prancis, kapal ini kemudian terdampar di Madagaskar dan awak kapalnya melanjutkan perjalanan dengan rakit hingga ke Mozambik –hanya untuk kemudian ditangkap oleh orang-orang Portugis. Verrazane yang berhasil selamat dan kembali ke Prancis merancang satu perjalanan lagi untuk mendapatkan kembali orang-orangnya yang terdampar. Verrazane menyewa satu kapal bernama La Marie du Bon Secours di bawah pimpinan kapten De Fumay. Kapal ini kemudian mencapai Tanjung Harapan, lagi-lagi hanya untuk ditangkap oleh orang-orang Portugis yang merampas harta benda yang dimuat kapal itu. 

French and Nusantara’s Marine Initial Contact. Foto: tentanghijau.id

Persentuhan selanjutnya orang Prancis dengan orang-orang Nusantara lagi-lagi kembali diawali dari pelabuhan Prancis –kali ini di bawah pimpinan Jean dan Raoul Parmentier. Perjalanan ini disponsori oleh Jean Ango, seorang juragan kapal yang juga membiayai perjalanan Verrazane pada masa sebelumnya. Jean Ango mempunyai ambisi kuat untuk menjalin hubungan dagang langsung dengan kepulauan rempah-rempah di Hindia Timur. Perjalanan ini dilangsungkan dengan dua kapal –La Penseé dan Le Sacre yang lebih besar dari kapal-kapal yang dibawa oleh Verrazane. 

Pada tahun 1529, kapal-kapal ini bertolak dari pelabuhan Dieppe dan berhasil mencapai Madagaskar pada tahun yang sama. Kedua kapal ini kemudian melanjutkan perjalanan hingga berhasil menyentuh bibir pantai barat Sumatra pada Oktober 1529 dan kembali ke Prancis dalam keadaan yang sempurna. Dalam perjalanan dagangnya ini, Parmentier bersaudara melihat adanya harapan hubungan dagang dengan orang-orang pribumi Nusantara. Hal ini diindikasikan dari adanya niat baik untuk bertukar hadiah dan makan malam bersama. Pertemuan yang bersahabat ini terjadi di Pulau Tiku, sebuah pulau di dekat Padang yang pada masa itu dikuasai raja bernama Meligica-Saga.

Dari persentuhan awal ini, kita dapat mengenal pandangan Prancis terhadap penduduk Nusantara. Pelaut Prancis mendeskripsikan Tiku sebagai kampung nelayan miskin dengan gubug-gubug dan perkakas makan kasar. Mereka juga menyebut bahwa penduduk di sana berkulit gelap dengan air muka yang mencemaskan. Seluruh penduduk di sana bertelanjang kaki dan memakai pakaian dari kain katun berwarna merah, coklat atau biru tua. 

Seorang kepala desa akan menyampirkan sarong di bahunya dan memakai gelang emas yang berat, ia juga membawa kris yang bertahtakan emas. Penduduknya secara umum mengenakan ikat kepala atau topi jerami sebagai penutup kepala mereka. 

Dari sisi pandang pelaut Prancis, orang-orang lokal yang mereka temui tampak kotor kecuali para pejabatnya. Mereka juga memberi kita catatan tentang senjata yang digunakan penduduk lokal berupa: busur, panah, tombak dan sumpit yang digunakan untuk meniupkan panah-panah beracun, persenjataan itu juga diperlengkapi dengan tameng tebal dari kulit gajah atau kulit banteng dan kulit ular atau kulit ikan. 

Pandangan lain yang ditinggalkan para pelaut Prancis itu juga adalah tentang wanita-wanita Nusantara –khususnya Melayu, yang mendapat reputasi sebagai wanita-wanita yang cantik dan menarik. Pelaut Prancis mengakui bahwa wanita-wanita di Sumatra yang mereka temui memang sesuai dengan reputasi mereka, namun wanita-wanita itu tidak barbar dan justru harus menjaga kesucian mereka. Pelacuran seperti yang sudah dikenal di negeri-negeri barat tidak berlaku di Sumatra. 

Hukuman-hukuman akan dijatuhkan bagi mereka-mereka yang tidak mematuhi adat. Hal ini membuat penduduk di Tiku dan Sumatra bersikap jujur satu sama lain. Namun, hal ini tidak berlaku dalam hubungan mereka dengan orang asing. 

Dari sisi pandang Prancis, wanita-wanita Tiku sangat bertanggung jawab atas berbagai macam pekerjaan rumah hingga urusan bercocok tanam. Urusan wanita sangat banyak sedangkan prianya hanya duduk-duduk dan bertaruh dalam permainan sabung ayam. Hal ini dikemukakan oleh Crignon yang segera mendapat dukungan dari pelaut yang datang ke sana setelahnya. Makanan di Tiku dianggap membosankan karena hanya terdiri dari nasi dan ikan, ayam hanya muncul pada perayaan-perayaan. Namun begitu, daerah ini sangat kaya akan hasil buah-buahan. Selain itu, aneka satwa tropis dapat ditemukan di sana.

Hasil dari persentuhan yang kedua ini tidak menunjukkan adanya keberhasilan dalam hal kesepakatan dagang. Orang-orang di Tiku tidak mau berkompromi sehingga meninggalkan orang Prancis untuk pada akhirnya harus angkat kaki dari pulau itu. Para pelaut kemudian bertolak dari Tiku dengan sedikit dagangan merica dan berhasil sampai di Dieppe pada Juli 1530. 

Demikian, dengan adanya catatan perjalanan awal Prancis ini, kita dapat melihat pandangan yang lain daripada pandangan kolonial. Pandangan Prancis tentu saja terlepas dari adanya kepentingan politik yang mengikat orang-orang kolonial Belanda hingga Inggris yang pernah menguasai Nusantara. Dengan adanya pandangan barat yang tidak memiliki kepentingan politik kolonial ini, dapat ditarik kesimpulan yang lebih objektif tentang keadaan masyarakat Nusantara pada abad-abad pertengahan.

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Djoened, Marwati dan Nugroho Notosusanto (ed.). 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Dorléans, Bernard. 2016. Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad XVI sampai dengan abad XX. Jakarta: KPG.
Reid, Anthony. 1993. Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, Volume 2. New Haven: Yale University.
Vlekke, H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.

Kedatangan Sekutu dan Belanda Pasca Kemerdekaan Indonesia

Pasukan Belanda menangkap pemuda Indonesia yang tergabung dalam kelompok militer di Malang, Jawa Timur pada Juli 1947. Foto: Instagram/galerisejarah

Harian SejarahSekutu membuat sebuah analogi bahawa setelah penyerahan Jepang kepada Sekutu tanpa syarat tanggal 14 Agustus 1945 mereka memiliki kemibali hak atas kekuasaan Jepang di berbagai wilayah, terutama wilayah yang sebelumnya merupakan jajahan negara-negara yang masuk dalam Sekutu. Belanda adalah salah satu negara yang berada di balik kelompok Sekutu.

kingsacademy.com
Tentara Sekutu di Indonesia. Foto: kingsacademy.com

Ketika Belanda kembali ke Indonesia setelah beberapa tahun belakangan menyerah kepada Jepang 8 Maret 1942 dan melarikan diri ke Australia kemudian menganggap bahwa Indonesia dalam masa vacuum of power atau kekosongan pemerintahan. Karena berusaha menancapkan kembali kekuasaan atas Indonesia seperti sebelum Indonesia direbut Jepang. Atau dengan kata lain, Belanda ingin menjajah kembali Indonesia.

Bagi Sekutu, setelah selesai PD II, maka negara-negara bekas jajahan Jepang merupakan tanggungjawab Sekutu. Sekutu memiliki tanggungjawab pelucutan senjata tentara Jepang, memulangkan tentara Jepang, dan melakukan normalisasi kondisi bekas jajahan Jepang.

Bayangan Belanda tentang Indonesia jauh dari kenyataan. Faktanya, rakyat Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan tidak dalam kekosongan pemerintahan. Kondisi ini tentu bertolak belakang dengan bayangan Belanda dan Sekutu. Karena itu, dapat diprediksi kejadian berikutnya, yakni pertentangan atau konflik antara Indonesia dan Sekutu maupun Belanda.

Sekutu kemudian masuk ke Indonesia melalui beberapa pintu wilayah Indonesia terutama daerah yang merupakan pusat pemerintahan pendudukan Jepang seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Setelah PD II, terjadi perundingan Belanda dengan Inggris di London yang menghasilkan Civil Affairs Agreement. Isinya tentang pengaturan penyerahan kembali Indonesia dari pihak Inggris kepada Belanda, khusus yang menyangkut daerah Sumatra, sebagai daerah yang berada di bawah pengawasan SEAC (South East Asia Command).

Di dalam perundingan itu dijelaskan langkah-langkah yang ditempuh sebagai berikut:

  1. Fase pertama, tentara Sekutu akan mengadakan operasi militer untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.
  2. Fase kedua, setelah keadaan normal, pejabat-pejabat NICA akan mengambil alih tanggung jawab koloni itu dari pihak Inggris yang mewakili Sekutu.


Setelah diketahui Jepang menyerah pada tanggal 15 Agustus1945, maka Belanda mendesak Inggris agar segera mensahkan hasil perundingan tersebut. Pada tanggal 24 Agustus 1945, hasil perundingan tersebut disahkan.

Berdasarkan persetujuan Potsdam, isi Civil Affairs Agreement diperluas. Inggris bertanggung jawab untuk seluruh Indonesia termasuk daerah yang berada di bawah pengawasan SWPAC (South West Pasific Areas Command).

Untuk melaksanakan isi Perjanjian Potsdam, maka pihak SWPAC di bawah Lord Louis Mountbatten di Singapura segera mengatur pendaratan tentara Sekutu di Indonesia. Kemudian pada tanggal 16 September 1945, wakil Mountbatten, yakni Laksamana Muda WR Patterson dengan menumpang Kapal Cumberland, mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. 

Tentara Belanda memasuki kembali wilayah Indonesia. Foto: Tropenmuseum

Dalam rombongan Patterson ikut serta Van Der Plass seorang Belanda yang mewakili H.J. Van Mook (Pemimpin NICA). Setelah informasi dan persiapan dipandang cukup, maka Louis Mountbatten membentuk pasukan komando khusus yang disebut AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indiers) di bawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison. Mereka tergabung di dalam pasukan tentara Inggris yang berkebangsaan India, yang sering disebut sebagai tentara Gurkha. 

Tugas tentara AFNEI sebagai berikut: 
  1. Menerima penyerahan kekuasaan tentara Jepang tanpa syarat.
  2. Membebaskan para tawanan perang dan interniran Sekutu.
  3. Melucuti dan mengumpulkan orang-orang Jepang untuk dipulangkan ke negerinya.
  4. Menegakkan dan mempertahankan keadaan damai, menciptakan ketertiban, dan keamanan, untuk kemudian diserahkan kepada pemerintahan sipil.
  5. Mengumpulkan keterangan tentang penjahat perang untuk kemudian diadili sesuai hukum yang berlaku.

Pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI mendarat di Jakarta pada tanggal 29 September 1945. Kekuatan pasukan AFNEI dibagi menjadi tiga divisi, yaitu sebagai berikut: 
  1. Divisi India 23 di bawah pimpinan Jenderal DC Hawthorn. Daerah tugasnya di Jawa bagian barat dan berpusat di Jakarta.
  2. Divisi India 5 di bawah komando Jenderal EC Mansergh bertugas di Jawa bagian timur dan berpusat di Surabaya.
  3. Divisi India 26 di bawah komando Jenderal HM Chambers, bertugas di Sumatra, pusatnya ada di Medan.

Kedatangan tentara Sekutu diboncengi NICA yang akan menegakkan kembali kekuatannya di Indonesia. Hal ini menimbulkan kecurigaan terhadap Sekutu dan bersikap anti Belanda.
Sementara Christison sebagai pemimpin AFNEI menyadari bahwa, untuk menjalankan tugasnya tidak mungkin tanpa bantuan pemerintah RI. 

Oleh karena itu, Christison bersedia berunding dengan pernerintah RI. Kemudian, Christison pada tanggal 1 Oktober 1945 mengeluarkan pernyataan pengakuan secara de facto tentang negara Indonesia. Namun, dalam kenyataannya pernyataan tersebut banyak dilanggarnya.


Kondisi Awal Indonesia Merdeka

Coretan di kota-kota merayakan kemerdekaan Indonesia. Foto: Pinterest

Harian SejarahKeadaan Indonesia pasca Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dapat dikatakan belum stabil. Kondisi politik di Indonesia masih dalam keadaan gonjang-ganjing dikarenakan masih banyaknya ketegangan, kekacauan, dan berbagai insiden masih terus terjadi. Hal ini disebabkan karena masih adanya sisa-sisa kekuatan Jepang yang setelah menyerah kepada Sekutu diwajibkan mempertahankan status quo.

Foto: Pinterest

Selain menghadapi sisa kekuatan Jepang, bangsa Indonesia harus berhadapan dengan tentara Inggris atas nama Sekutu, dan juga Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA) yang berhasil datang kembali ke Indonesia dengan membonceng Sekutu. NICA bertugas mengembalikan pemerintahan sipil dan hukum pemerintah kolonial Hindia Belanda

Meskipun struktur pemerintahan telah terbentuk dan alat kelengkapan negara juga sudah tersedia. seperti 12 Kementerian yang telah terbentuk, tetapi karena baru awal kemerdekaan tentu masih banyak kekurangan. PPKI yang keanggotaannya sudah disempurnakan berhasil mengadakan sidang untuk mengesahkan UUD dan memilih Presiden-Wakil Presiden. Bahkan untuk menjaga keamanan negara juga telah dibentuk TNI pada 18 Agustus 1945. Wilayah Indonesia juga kemudian dibagi atas 8 Provinsi.

12 Kementerian yang dibentuk pertama kali:

1. Mentri Dalam Negeri: R.A.A Wiranakusumah
2. Mentri Luar Negeri: Mr. Ahmad Soebardjo
3. Mentri Keuangan: Mr. A.A Maramis
4. Mentri Kehakiman: Prof. Mr. Dr. Soepomo
5. Mentri Kemakmuran: Ir. Surachman Cokroadisuryo
6. Mentri Keamanan Rakyat: Supriyadi
7. Mentri Kesehatan: Dr. Bantara Martoadmojo
8. Mentri Pengajaran: Ki Hajar Dewantara
9. Mentri Penerangan: Mr. Amir Syarifuddin
10. Mentri Sosial: Mr. Iwa Kusuma Sumantri
11. Mentri Pekerjaan Umum: Abikusno Cokrosuyoso
12. Mentri Perhubungan: Abikusno Cokrosuyoso

Provinsi awal kemerdekaan beserta Gubernurnya:

1. Sumatera Teuku dengan Gubernur Mohammad Hasaan
2. Jawa Barat dengan Gubernur Sutardjo Kartohadikusumo
3. Jawa Tengah dengan gubernur R. Panji Surono
4. Jawa Timur dengan gubernur R.M. Suryo
5. Sunda Kecil (Nusa Tenggara) dengan Gubernur Mr. I. Gusti Ketut Puja
6. Maluku dengan Gubernur Mr. J. Latuharhary
7. Sulawesi dengan Gubernur R. G.S.S.J. Ratulangi
8. Kalimantan dengan gubernur Ir. Pangeran Mohammad Noor

Inflasi yang besar berkembang sejalan dengan kondisi perekonomian Indonesia yang masih hancur-hancuran. Peredearan mata uang Jepang yang begitu besar namun memilii nilai tukar yang rendah memperparah keadaan. Permerintah RI sendiri tidak bisa melarang beredarnya mata uang Jepang atau mata uang asing lainnya, mengingat Indonesia sendiri belum memiliki mata uang sendiri.

Uang Ori pecahan 100. Foto: uang-kuno.com

Waktu itu berlaku tiga jenis mata uang: De Javaesche Bank, uang pemerintah Hindia Belanda, dan mata uang rupiah Jepang yang beredar di Indonesia. Bahkan setelah NICA datang ke Indonesia juga memberlakukan mata uang NICA. Kondisi perekonomian ini semakin parah karena adanya blokade yang dilakukan Belanda (NICA), sementara kas pemerintahan RI terbilang kosong.

Pada tanggal 4 Januari 1946 Ibu Kota RI pindah ke Yogyakarta setelah serangkaian teror dan ancaman dari Belanda terhadap pemerintahan republik. Pada 1 Oktober 1946, Indonesia mengeluarkan uang RI yang disebut ORI dan menyatakan bahwa uang NICA dinyatakan sebagai alat tukar yang tidak sah.

Struktur kehidupan masyarakat mulai mengalami perubahan, tidak ada lagi diskriminasi. Semua memiliki hak dan kewajiban yang sama. Sementara dalam hal pendidikan, pemerintah mulai menyelenggarakan pendidikan menyelenggarakan yang diselaraskan dengan alam kemerdekaan. Menteri Pendidikan dan Pengajaran juga sudah diangkat.


Pembantaian Etnis Cina pada Peristiwa Geger Pecinan 9 Oktober 1740

Ilusrasi: Pinterest

Harian Sejarah - Pada hari ini, negara kita tengah dirundung permasalahan mengenai rasialitas dan krisis toleransi. Menurut survei dari Wahid Foundation bertajuk "Potensi Intoleransi dan Radikalisme Sosial Keagamaan di Kalangan Muslim Indonesia" yang menghasilkan laporan mengenai kelompok yang dibenci oleh masyarakat Indonesia, meliputi mereka yang berlatarbelakang agama nonmuslim, kelompok tionghoa, komunis, dan selainnya.

Dari total 1.520 responden sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci. Dari jumlah 59,9 persen itu, sebanyak 92,2 persen tak setuju bila anggota kelompok yang mereka benci menjadi pejabat pemerintah di Indonesia. Dari apa yang dipaparkankita dapat mengetahui bahwa kebencian merupakan tolak ukur dari penilaian seseorang terhadap orang lain, sehingga dapat dikatakan segala penilaian bersifat subjektif, bukan objektif.

Di sini kita melihat bahwa akhir-akhir ini kebencian yang berujung pada tindak toleransi dan kebencian rasial ditujukan oleh mereka orang Indonesia keturunan Cina, atau Tionghoa. Kebencian terhadap orang Tionghoa sebenarnya bukanlah keadaan lama dalam realitas sosial masyarakat Indonesia. Setidaknya dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar ungkapan, "orang cina tuh" atau "anak orang cina" yang seolah memisahkan secara sosial budaya orang Indonesia keturunan Tionghoa dengan suku-suku lain di Indonesia.

Hal yang paling menjadi simbolisasi yang ditujukan kepada orang Tionghoa adalah tingkat ekonomi, sosial, dan etnisnya. Simbolisasi tersebut berujung pada stigma yang cenderung negatif dan menganggap orang Tionghoa menjadi sumber dari permasalahan ekonomi orang Indonesia lainnya, yang sering disimbolkan sebagai "pribumi."

Stigma ini kemudian berujung pada kebencian terhadap orang Tionghoa yang berakhir pada intimidasi berupa verbal atau pun fisik. Peristiwa yang terdekat terjadi sekitar 18 tahun yang lalu, ketika gelombang reformasi 1998 turut juga membawa dampak pada intimidasi kepada golongan Tionghoa berupa kekerasan fisik, penjarahan, dan isu yang santer berupa pemerkosaan terhadap wanita-wanita Tionghoa.

Hal ini sebetulnya juga terjadi pada untaian perjalanan sejarah Indonesia. Dan hal tersebut bukan hanya dilakukan oleh golongan masyarakat Indonesia yang dikatakan pribumi, melainkan oleh pihak kolonial Belanda. Sekiranya kita mengenal Peristiwa 9 Oktober 1740, yang merupakan kejadian pembantaian etnis Tionghoa yang dilakukan oleh pihak kolonial VOC.

Hal ini bermula ketika pada awal abad ke-18 terjadi penurunan perekonomian dunia sebagai imbas dari turunnya harga gula, hal ini juga turut mempengaruhi kehidupan Batavia. Kondisi tersebut menyebabkan banyak pengangguran di Batavia, sementara terjadi gelombang migrasi dari Cina yang memadati kota Batavia saat itu. Setidaknya telah ada 4.000 orang Cina bermukim di dalam tembok kota Batavia, sedangkan sekitar 10.000 orang berada di luar tembok kota.

Berkas:Adriaan Valckenier (1695-1751) by T.J. Rheen.jpg
Adriaan Valckenier (1695-1751). Foto: Rijksmuseum Amsterdam

Pemerintah VOC sendiri melakukan pengaturan terhadap masyarakat Tionghoa di Batavia. Salah satunya dengan menunjuk kapitan (pemimpin) yang akan mengatur komunitas masyarakat Tionghoa pada abad ke-17. Konflik kemudian muncul ketika gubernur jenderal saat itu, Adriaan Valckenier mengambil kebijakan untuk mengirimkan kelebihan pengangguran termasuk orang Tionghoa ke Sri Langka untuk mendirikan benteng dan kota persinggahan.

Namun isu kemudian berkembang bahwa banyak dari Orang Tionghoa yang dibunuh dalam perjalanan ke Sri Langka dengan diceburkan ke laut, sehingga menimbulkan kecemasan orang-orang Tonghoa lainnya di Batavia, dan kemudian menghimpun orang-orang Tonghoa di dalam dan luar tembok kota dan menyapkan senjata, serta mengancam untuk melakukan pemberontakan di Batavia.

Berkas:Chinezenmoord van stolk (2).jpg
Ilustrasi Geger Pecinan 1740. Foto: geni.com/Abraham Van Stolk

Ancaman tersebut kemudian dibalas dengan mengeluarkan surat perintah: bunuh dan bantai orang-orang Tionghoa. Para sedadu VOC kemudian melakukan penyerangan, pembakaran dan perampokan terhadap pemukiman-pemukiman Tionghoa di dalam dan luar tembok Batavia. Baik pria, wanita, dan anak-anak tak luput dalam peristiwa berdarah tersebut. Kekerasan dalam batas kota berlangsung dari 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740, sedangkan berbagai pertempuran kecil terjadi hingga akhir November tahun yang sama.

Dilansir dari National Geographic Indonesia, mengutip kisah seorang pelaku pembantain G.Bernhard Schwarzen, berkisah dalam bukunya Reise in Ost-Indien yang terbit pada 1751, " Tak tersisa lagi orang Cina di dalam tembok kota. Seluruh jalanan dan gang-gang dipenuhi mayat, kanal penuh dengan mayat, bahkan kaki kita tak akan basah ketika menyeberangi kanal jika melewati tumpukan mayat-mayat itu.”

Musemum Fatahilah, dulu Balai Kota Batavia tempat pembantain pada Peristiwa 9 Oktober 1740. Foto: Tempo

Dalam Peristiwa 9 Oktober 1740, diperkirakan sekitar 5.000 sampai 10.000. Beberapa diantaranya sebelumnya ditawan di di Stadhuis, Balai Kota Batavia (kini Museum Sejarah Jakarta). Mereka kemudian diarakan ke belakang halaman Balai Kota dan kemudian disembelih. Peristiwa berdarah tersebut kemudian dikenal dengan "Geger Pecinan"

Kejadian tersebut membuat banyak orang-orang Tionghoa melarikan diri dari Batavia dan menuju daerah lain seperti di Pantai Utara Jawa, seperti Banten dan Mataram, namun kedatangan mereka juga mendapatkan penolakan dari Kesultanan Banten dan Mataram.

Kawasan Glodok 1880. Foto: KITLV

Usai kejadian tersebut tidak ada orang Cina yang tinggal di dalam Batavia. Beberapa tahun kemudian orang-orang Cina diperbolehkan kembali tinggal di sekitar selatan Batavia, mendiami  daerah berawa yang dijadikan ladang tebu milik seorang Bali bernama Arya Glitok. Daerah tersebut kemudian menjadi daerah pecinaan yang dikenal sebagai Glodok, yang diambil dari nama orang Bali tersebut.

Soekarno Dikuasai oleh Komunis?

Soekarno sedang mengabadikan potret D.N. Aidit (Pemimpin Partai Komunis Indonesia) 1965. Foto: Brilio

Harian Sejarah - Soekarno dalam otobiografinya, Bung Karno, Penyambung Lida hRakyat Indonesia (1965) menjelaskan mengenai pribadinya. Sukarno dengan kata-katanya sendiri menjelaskan banyak hal, bahkan seputar komunisme dan dirinya.
.
“Soekarno adalah seorang individualis. Manusia yang congkak dengan suara batin yang menyala-nyala, manusia yang mengakui bahwa ia mencintai dirinya sendiri tidak mungkin menjadi satelit yang melekat pada bangsa lain. Soekarno tidak menghambakan diri pada dominasi kekuasaan manapun juga. Dia tidak mungkin menjadi boneka.”
.
“Bukankah Komunisme dan Soekarnoisme mempunyai perbedaan-perbedaan ideologis? Jadi aku tidak mungkin menjadi seorang Komunis!”
.
“Banyak orang komunis, yang tulang-belulangnya berserakan dalam kuburan-kuburan yang tak dikenal di Digul, adalah pejuang-pejuang kemerdekaan yang ulung. Sampai sekarang orang komunis tetap menjadi pejuang besar. Mereka senantiasa di belakang Soekarno. Apakah Barat menyarankan supaya aku menghancurkan mereka, sementara golongan kanan yang fanatik mencoba membunuhku?”
.
“Komunisme dapat diperangi dengan pikiran sehat, bukan dengan pikiran latah. Akan tetapi barat tidak mau tahu dengan adanya jalan tengah.”
.
Kepada Cindy Adams tersebut, Soekarno mengutip pertanyaan jurnalis Barat yang pernah ditujukan kepadanya: “Apakah tuan ingin dikuasai oleh Komunis?”
.
Soekarno pun menjawab: “Tidak… dan kami pun tidak ingin dikuasai oleh Tuan-tuan! Di pihak Rusia setidak-tidaknya, mereka tidak memaki-maki kami apabila kami tersenyum manis kepada Amerika! Akan tetapi, betapapun pandangan dunia luar, maka terhadap persoalan apakah aku akan dapat menjadi komunis atau tidak, jawabnya ialah Tidak. T-I-D-A-K!