Showing posts with label Sejarah Peradaban Kuno. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Peradaban Kuno. Show all posts

8 Hewan yang Dianggap Dewa oleh Orang Mesir Kuno


Harian Sejarah - Orang Mesir Kuno yang mendiami Lembah Sungai Nil memiliki pandangan tersendiri dalam bidang keagamaan. Agama Mesir Kuno dapat dikatakan terbentuk dari fenomena, permasalahan, dan pelbagai hal yang mereka anggap kultus. Agama Mesir kuno sering menganggap dewa memiliki ciri kebinatangan dan orang bahkan menyembah binatang tertentu.  Berikut ini 7 binatang yang memiliki status dewa di Mesir Kuno:

Baboon



Baboon adalah manifestasi dari tidak satu, tapi dua dewa Mesir. Yang pertama adalah Thoth, dewa menulis, dan yang lainnya adalah dewa muda bulan bernama Khonsu. Kedua dewa tersebut bertanggung jawab untuk menandai berlalunya waktu dan dikaitkan dengan bulan. Thoth digambarkan dalam bentuk babon yang bertengger di atas dari timbangan pintu masuk ke dunia bawah.

Kucing


Secara historis, kucing dianggap sebagai dewa Mesir Kuno. Kucing Mesir dianggap sebagai dewi yang dikenal dengan nama Bastet. Awalnya disembah sebagai pelindung, penggambaran yang menampilkan kepala singa betina, akhirnya ia dipandang sebagai dewi kesuburan.

Orang-orang Mesir mulai menggambarkannya Bastet sebagai kucing rumah. Bastet, bagaimanapun, bukanlah satu-satunya dewa Mesir yang digambarkan sebagai kucing. Bahkan ayah Bastet, Amun-Ra, digambarkan sebagai "The Great Cat of Necropolis."

Sapi



Sapi adalah hewan yang sangat suci di Mesir Kuno. Hathor adalah dewa yang berwujud sapi dan menjadi simbol dari ibu Firaun. Harthor diyakini membawa matahari melintasi langit dalam bentuk sapi.

Falcon

Falcon itu dikenal sebagai "pelindung" dan merupakan pennggambaran dewa Horus, anak Osiris dan Isis. Falcon adalah salah satu hewan paling awal dari mitologi Mesir Kuno.

Horus adalah pemain kunci dalam kisah Isis dan Osiris, serta ceritanya sendiri mengenai pertempuran antara dia dan Set yang membuat Osiris terbangun. Horus bisa dianggap sebagai dewa langit dan perang.

Ibis

Ibis adalah simbol pengetahuan dan kebijaksanaan. Ibis disimbolkan sebagai dewa Thot. Memang awal tadi kita mengenal Thoth berwujud Baboon, tapi kenyataannya dia lebih dikenal dengan kepala Ibis dibanding Baboon. Dewa Thot berkepala Ibis dianggap sebagai dewa yang memiliki peras berkaitan dengan pengaturan waktu dan musim. Dia juga berperan sebagai antara kekuatan baik dan jahat.

Serigala


Ketika kita mengingat serigala, hal yang pertama terlintas adalah dewa Anubis. Anubis digambarkan dengan kepala Serigala dan berperan sebagai raja dunia bawah (akherat). Serigala dianggap sebagai hewan pemandu arwah kematian. Hal ini dilihat dari kebiasaan serigala yang biasa mengeliling padang pasir yang berada kuburan dan piramida dibangun.

Kumbang Scarab


Orang-orang Mesir kuno menghargai beberapa jenis kumbang, salah satunya yang mereka amat puja adalah kumbang scarab. Kumbang scarab digambarkan sebagai wujud dari Dewa Khephir yang merupakan dewa matahari dan kehidupan. Dewa Khephir berperan sebagai pengatur matahari, ia memiliki tugas mengangkat matahari dari dunia bawah ke cakrawala timur.

Buaya


Sobek adalah dewa Mesir kuno dengan sifat kompleks dan cair. Sobek dilambangkan dengan buaya Nil dan diwakili dalam bentuknya dengan kepala buaya. Buaya sering dikaitkan dengan kekuatan firaun, kesuburan, dan kehebatan militer, namun juga berfungsi sebagai dewa pelindung dari bahaya yang dihadirkan oleh sungai Nil.


Penulis: Anggoro Prasetyo
Editor: Imam Maulana
Sumber: www.ancientfacts.net
Sumber Gambar: Pinterest

Sparta dan Athena, Siapa Pasukan yang Lebih Kuat?

Ilustrasi: Pinterest

Harian Sejarah - Sparta dan Athena memiliki banyak kesamaan dalam hal organisasi kemasyarakatan, struktur pemerintahan, penilaian, serta pandangan terhadap perempuan. Namun, dalam bidang militer dapat dikatakan mereka memiliki perbedaan yang unik. Inilah beberapa perbedaan kekuatan antara tentara Athena dan Sparta.

1. Fokus Utama Militer Sparta Berada di Angkatan Darat

Ilustrasi Tentara Sparta dalam Film "300". Foto: Onnit

Aspek paling khas dan otentik dari masyarakat Sparta adalah militernya. Dengan kata lain, seluruh kota-kota Sparta berfokus untuk memperkuat pasukan tentaranya. Dalam kehidupan masyarakat dikenal istilah "tentara darat" yang terdiri dari seluruh laki-leki sparta yang menjadi tentara terlatih yang dipersenjatai dengan tombak panjang, prisai, dan baju lapis baja yang dikenal sebagai hoplites. Sejak usia 7 tahun, anak-anak Sparta akan dilatih menjadi tentara dan mendapatkan pendidikan yang keras untuk memperkuat fisik dan mental merek.

Setiap hoplite harus melalui sistem pendidikan yang dikenal sebagai "agoge", yang melibatkan pelatihan di padang gurun atau di barak. Tak jarang mereka harus berhadapan dengan cuaca yang ekstrim atau bertarung dengan binatang buas sejak kecil. Hal tersebut menjadi suatu pembiasaan bagi masyarakat Sparta agar mengenal beratnya kehidupan. Hasil dari pendidikan tersebut membuat masyarakat Sparta memiliki kekuatan secara fisik dan mental, serta menjadi prajurit paling kuat di Yunani Kuno.

2. Athena Terkenal dengan Kehebatan Angkatan Lautnya

Berbeda dengan Sparta, orang Atena memusatkan perhatian pada pembangunan kekuatan angkatan laut. Selama tahun-tahun peperangan, dominasi Athena di laut terus berkembang. Kekuatan laut Athena tumbuh dengan cepat dalam jumlah armada kapal dan kekuatan pasukannya yang terkenal dalam menghadapi segala kondisi cuaca di  lautan. Kekuatan laut tersebut membuat Athena menjadi saingan terberat Sparta adu kekuatan militer.

Karena dominasi laut, Athena menguasai wilayah laut yang luas serta banyak "polis" Yunani (negara kota). Apa yang membedakan angkatan laut Athena dari Sparta dan lainnya adalah Triremes, sebuah kapal revolusioner saat itu. Trireme dianggap sebagai perkembangan kapal perang sebelumnya yang disebut dengan :"bireme." Trimes lebih efisien dan kuat di medan perang laut.

Ilustrasi Trireme Kapal Perang Kuno Athena. Sumber: Pinterest

Trireme terdiri dari 170 oarsmen, tentara, pelaut dan kapten. Karena keganasannya dalam pertempuran dan paruh (ujung lancip di depan kapal) serudukan perunggu di bagian depan, Trireme jauh di depan dalam kecepatan dan manuver dibandingkan dengan kapal lainnya.

3. Sparta Memiliki Helot

Helot sedang berkebun. Foto: Pinterest

Sparta memiliki masyarakat berbasis militer yang merupakan budak dari Messenia yang dikenal sebagai helots, yang harus dikendalikan dan dilatih oleh orang Sparta. Karena banyaknya helots, Orang Sparta harus mengawasi mereka secara teratur. Pengawasan dilakukan dengan teror oleh Sparta untuk memastikan tidak terjadi pemberontakan.

Untuk meneror tentara helot, orang-orang Sparta memiliki organisasi mereka sendiri yang dikenal sebagai "krypteia" yang akan melakukan pekerjaan sebagai polisi rahasia dan pasukan keamanan negara yang tujuannya adalah untuk meneror para budak helot.

Ketika sudah siap, terlatih, terorganisir dan taat, helots siap bertempur. Meskipun mereka dianggap sebagai prajurit rendahan karena status budak mereka, ada banyak catatan yang membuktikan bahwa helots merupakan pasukan yang hebat.

4. Kehebatan Teknologi Angkatan Laut Anthena

Ilustrasi Pertempuran Salamis. Foto: ancientfacts.net

Dibandingkan dengan Sparta hanya menguatkan kekuatan militer untuk pertahanan, Athena mengembangkan kekuatan militernya untuk merebut hegemoni di Mediterania dengan pengembangan teknologi dan pemanfaatan sumber daya alam. Pada puncaknya, Athena memiliki beberapa mesin militer paling canggih, terutama peralatan militer laut.

Dengan sokongan kapal perangnya, orang Atena berada dalam posisi terkuat untuk menguasai seluruh sumber daya di seluruh Mediterranian Timur. Terlebih lagi, kekuatan ekonomi Athehan yang memumpuni. Penguasaan sumber daya alam membuat Athena memiliki banyak persediaan kayu, yang memungkinkan mereka menghasilkan banyak armada kapal dan berkualitas tinggi.


Kekuatan Athenai dibuktikan ketika Panglima Perang Athena Themistocles meramalkan bahwa "kayu akan menyelamatkan kota Athena" ketika invasi Xerxes ke Yunani. Armada Angkatan Laut Athena berhasil mengalahkan armada Persia jumlahnya sangat besar dengan kekuatan kapal perang Athena yang kecil dalam segi jumlah dan ukuran dalam pertempuran di Teluk Salamis. Hal ini membuktikan betapa tak tersentuhnya angkatan laut Athena.

Perang Punisia, Antara Romawi Dan Kartago

Ilustrasi Perang Punisia dalam seri game Roman Empire. Foto: Pinterest

Harian Sejarah -Perang Punisia adalah perang antara Kartago dan Roma berlangsung sejumlah tiga kali dan berlangsung lebih dari satu abad, dimulai pada 264 SM. Dan berakhir dengan penghancuran Kartago di 146 SM. Pada saat Perang Punisia Pertama pecah, Roma telah menjadi kekuatan dominan di semenanjung Italia, sementara Kartago merupakan sebuah negara kota yang kuat di Afrika utara merupakan kekuatan maritim terkemuka di dunia.

Perang Punis Pertama terjadi pada 264 SM. Ketika Roma mencampuri perselisihan di pulau Sisilia yang dikendalikan oleh orang Kartago; Perang berakhir dengan kekuatan Roma yang mengendalikan Sisilia dan Corsica dan menandai perkembangan angkatan laut dan kekuatan darat Kekaisaran Romawi.

Dalam Perang Punis Kedua, Jenderal Besar Kartagi Hannibal menginvasi Italia dan mencetak kemenangan besar di Danau Trasimene dan Cannae sebelum akhirnya mengalami kekalahan di tangan Scipio Africanus di Roma pada tahun 202 SM. Menyebabkan dominasi Roma atas Mediterania barat dan sebagian besar Spanyol.

Dalam Perang Punis Ketiga, orang Romawi, yang dipimpin oleh Scipio Aemilianus, merebut dan menghancurkan kota Kartago pada tahun 146 SM, mengubah Afrika menjadi provinsi lain dari Kekaisaran Romawi yang perkasa.

Latar Belakang dan Perang Punisia I (264-241 S.M.)

Perang Punisia I. Foto: Pass the Garum

Pada tahun 265 SM orang Fenisia datang  dari pelabuhan Mediterania di Tirus (di tempat yang sekarang bernama Lebanon) mendirikan kota Kartago di pantai utara Afrika, tepat di utara Tunisia modern, sekitar 814 SM. Kartago adalah kota terkaya dan paling maju di wilayah ini, dan juga wilayahnya serta memiliki kekuatan angkatan laut yang mumpuni.

Kartago sering terlibat konflik dengan beberapa kekuatan disekitarnya, seperti Yunani. Namun secara historis Kartago memiliki hubungan yang baik dengan Roma, hal ini dibuktikan dengan beberapa perjanjian dagang yang disepakati antara Kartago dan Roma.

Pada 264 SM, Roma memutuskan untuk campur tangan dalam sebuah perselisihan di pantai barat pulau Sisilia yang melibatkan sebuah serangan oleh tentara dari kota Syracuse melawan kota Messina. Sementara itu disisi lain Kartagi mendukung Syracuse, sedangkan Roma mendukung Messina, dan perselisihan tersebut berujung menjadi konflik antara Kartago dengan Roma serta perebutan kontrol terhadap Sisilia.

Untuk menghadapi Angkatan Laut Kartago yang kuat, Romawi kemudian membangun seluruh armada lautnya selama 20 tahun. Angkatan Laut Romawi mencetak kemenangan pertama di laut atas Kartago pada tahun 260 Sm di Mylae. Dan kemenangan besar dalam Pertempuran Ecnomus di 256 SM.


Meskipun invasi ke Afrika Utara pada tahun yang sama berakhir dengan kekalahan, Roma menolak untuk menyerah dan melakukan kembali pertempuran laut pada tahun 241 SM dan memenangkannya. Dengan modernisasi angkatan lautnya, Romawi kemudian berhasil menjadikan Sisilia sebagai wilayah kekuasaan Romawi pertama di luar wilayah kekuasaan sebelumnya.


Perang Punisia Kedua (218-201 S.M.)

Lukisan oleh Giulio Romano yang menggambarkan kekuatan pasukan Hanibal. Foto: acidhistory

Selama dekade berikutnya, Roma mengambil alih kendali Corsica dan Sardinia juga, namun Kartago mampu membangun basis pengaruh baru di Spanyol pada tahun 237 SM, di bawah kepemimpinan Elizell Barca yang kuat dan, kemudian, putranya Hasdrubal.

Sebelum kematian Hasdrubal di tahun 221 SM, Hanibal yang masik kecil bersumpah atas nama keluarga untuk menghancurkan Roma ketika ia masih kecil. Setelah kematian Hasdrubal di tahun 221 SM, Hannibal memimpin pasukan Kartagi di Spanyol. Dua tahun kemudian, dia membawa pasukannya melintasi Sungai Ebro ke Saguntum, sebuah kota Iberia di bawah perlindungan Romawi, yang secara efektif mengumumkan perang terhadap Roma.

Perang Punis Kedua mencatatkan Hannibal dan pasukannya yang terdiri dari 90.000 infanteri, 12.000 kavaleri dan sejumlah gajah berbaris dari Spanyol melintasi Pegunungan Alpen dan ke Italia, di mana mereka mencetak serangkaian kemenangan atas pasukan Romawi di Ticinus, Trebia dan Trasimene.

Penyerbuan Hannibal terhadap Roma mencapai puncaknya di Cannae pada tahun 216 SM, di mana dia menggunakan kekuatan penuh kavalerinya untuk mengelilingi tentara Romawi dengan jumlah pasukan Kartago yang dua kali lebih besar dan menimbulkan korban yang besar di pihak Romawi.


Orang Romawi kemudian dapat membalikan keadaan, dan orang-orang Kartago kehilangan hegemoni di Italia saat Roma meraih kemenangan di Spanyol dan Afrika Utara di bawah Publius Cornelius Scipio. Pada tahun 203 SM, pasukan Hannibal terpaksa meninggalkan pertempuran di Italia untuk membela Afrika Utara, dan pada tahun berikutnya, tentara Scipio mengusir orang Kartago di Zama.

Kekalahan Hannibal dalam Perang Punis Kedua mengakhiri kekuasaan Kartagi di Mediterania barat, membuat Roma menguasai Spanyol dan menyisakan wilayah Kartago di Afrika Utara. Kartago juga terpaksa menyerahkan armadanya dan membayar ganti rugi perang yang cukup besar kepada Roma.


Perang Punisia Ketiga (149-146 S.M.)

Orang Romawi menghancurkan Kartago. Foto: crystalinks.com

Perang Punisia Ketiga, merupakan konflik yang bermula ketika Cato the Elder yang merupakan anggota dari Sentat Romawi berusaha meyakinkan parlemen bahwa Kartago merupakan sebuah ancaman bagi supermasi bagi kekuasaan Romawi meskipun tengah dalam keadaan lemah, sehingga menyerukan untuk memasukan Kartago dalam kekuasaan Romawi.

Pada tahun 149 SM, setelah Kartago melanggar perjanjiannya dengan Roma dengan mengumumkan perang melawan negara tetangga Numidia, Romawi mengirim tentara ke Afrika Utara, memulai Perang Punis Ketiga.

Kartago berhasil menahan pengepungan Romawi selama dua tahun hingga pada akhirya pasukan Romawi kemudian dipimpin oleh Jenderal Scipio Aemilianus yang bertanggung jawab atas kampanye militer diAfrika Utara di 147 SM.

Setelah memperkuat posisi Romawi di sekitar Kartagi, Aemilianus melancarkan serangan kuat ke sisi pelabuhan Kartago pada musim semi tahun 146 SM, memasuki kota tersebut dan menghancurkan rumah demi rumah sambil mendorong pasukan Kartago memasuki benteng mereka.

Setelah tujuh hari mengalami pertumpahan darah yang mengerikan, orang-orang Kartago kemudian menyerah. Kota Kartago pada akhirnya lenyap setelah bertahan selama 700 tahun. Sekitar 50.000 warga yang tersisa kemudian diperjualbelikan sebagai budak.

Pada tahun 146 SM, pasukan Romawi juga bergerak ke timur untuk mengalahkan Raja Philip V dari Makedonia dalam Perang Macedonia. Romawi kemudian menjadi kerajaan terbesar dengan kekuasaan terbentang dari pantai Atlantik Spanyol ke perbatasan antara Yunani dan Asia Kecil.


Orang Hyksos di Mesir Kuno

Orang Hyksos pertama kali muncul di Mesir pada tahun 1.800 SM, pada masa Dinasti Kesebelas, dan mulai naik ke tampuk kekuasaan pada Dinasti ke-13. Foto: Pinterest

Harian Sejarah - Kata "hyksos" berasal dari heka khasewet, yang berarti "penguasa asing", dan digunakan oleh orang Mesir untuk menggambarkan raja-raja di daerah sekitar Mesir. Karena ketidakstabilan dan kelaparan di daerah sekitar Mesir, Hyksos menyerang Mesir selama periode kedua, sekitar 1700 SM. Mereka membentuk Dinasti ke-15 dan memerintah Mesir selama lebih dari seratus tahun.

Hyksos merupakan nama yang diberikan oleh orang Mesir Kuno kepada bangsa yang datang dari timur yang menguasai Mesir. Mereka datang dari Asia yang memanfaatkan kekacauan politik dan ekonomi di Mesir dengan menginvasi Mesir. Secara budaya memang bangsa Hyksos kalah dengan bangsa Mesir, akan tetapi secara kemampuan militer dan persenjataan lebih unggul.

Meskipun pada akhirnya invasi ini berujung pada berdirinya pemerintahan orang Hyksos atas bangsa Mesir, orang Mesir kemudian mengadopsi teknologi dan mengambil manfaat dalam keunggulan teknologi bangsa Hyksos untuk kemajuan militer mesir di masa depan.

Siapa Hyksos itu?

Map of Lower Egypt
Daerah Mesir bagian utara yang dikuasai secara menyeluruh oleh Bangsa Hyksos. Foto: ancient-egypt-online.com

Meskipun tidak jelas dari mana asal Hyksos, mereka adalah orang Semitik yang juga dikenal sebagai orang Amori dan kadang-kadang disebut "Raja Gembala". Nama mereka mencerminkan asal usul Barat-Semit, dan kemungkinan besar mereka berhubungan dengan orang Ibrani. Orang Amori mengacu pada orang-orang yang tinggal di Suriah dan Turki selatan.

Setelah menyerang dan mengalahkan bagian-bagian Suriah yang sudah berada di bawah kendali Mesir, mereka mulai menyerang Mesir. Hyksos tidak pernah mendapatkan kendali penuh atas Mesir, hanya Mesir Hilir, yaitu wilayah paling utara di Mesir: Delta Nil yang subur, antara Mesir dan Laut Tengah. yang menutupi mulut Sungai Nil. Mereka memerintah dari ibu kota mereka, Avaris.

Invasi Hyksos

Hyksos entering Egypt
Lukisan yang menggambarkan orang Hyksos memasuki Mesir. Foto: ancient-egypt-online.com

Hyksos berhasil menyerang Mesir dengan sukses karena keahlian mereka dalam menggunakan senjata perunggu, busur komposit dan penggunaan kereta kuda selama invasi. Orang-orang Mesir menggambarkan penggulingan kekuasaan oleh orang Hyksos dengan cara yang barbar, meskipun penggulingan yang terjadi relatif cukup damai dan tanpa banyak menimbulkan kekacauan.

Kelaparan merupakan hal yang melatarbelakangi orang Hyksos menginvasi Mesir. Orang Hyksos menyusup secara perlahan dan berbaur dengan masyarakat Mesir sudah cukup lama, sebelum invasi besar dilakukan secara militan. Meskipun orang Hyksos berhasil menguasai Mesir, namun ketika mereka kemudian terusir kembali, tidak ditemukan catatan berarti mengenai tradisi yang ditinggalkan oleh orang Hyksos. Diyakini bahwa orang Hyksos tidak begitu mengatur kehidupan masyarakat Mesir, terutama soal keagamaan.

Aturan Hyksos di Mesir

Orang Hyksos mempertahankan pemerintahan Mesir bagian hilir selama 198 tahun. Salatis adalah "Raja Gembala" pertama yang memerintah. Salatis memiliki arti "Raja yang kuat." Salatis menguasai tanah di Delta Nil dan Mesir bagian hilir.

Meskipun Salatis memegang kekuasaan Mesir secara politis, akan tetapi para penguasa di Mesir tetap memegang kendali atas kota-kota mereka namun tetap mengakui kekuasaan Salatis dengan memberi penghargaan tahunan kepada para Salatis yang menjamin kemerdekaan mereka terus-menerus.

Penemuan Teknologi Orang Hyksos

Shadoof

Orang Hyksos adalah penemu dan pengrajin yang mengesankan. Salah satu perbaikan teknologi terpenting yang mereka bawa ke Mesir adalah shadoof. Shadoof  merevolusi teknik yang digunakan orang Mesir untuk bertani. shadoof adalah alat kayu yang terbuat dari tiang dengan ember kayu di salah satu ujungnya, dan berat di sisi lain.

Dengan menggunakan shadoof, orang Mesir kuno mampu mengumpulkan air di atas permukaan Sungai Nil dan untuk mengalihkan air ke kanal. Hal ini akhirnya berujung pada kemampuan orang Mesir kuno untuk menanam dan memanen dua jenis tanaman dalam setahun.

Perahu orang Mesir

Perbaikan besar lainnya yang diperkenalkan Hyksos ke dalam kehidupan kuno orang Mesir adalah kapal yang terintegrasi dengan Keels. Keels adalah pisau datar yang membuat kapal lebih layak untuk dilalui dengan membuatnya lebih stabil. Dengan membuat kapal yang lebih stabil, orang-orang Mesir kuno dapat meningkatkan perdagangan dengan Kepulauan Mediterania yang, pada gilirannya, mendorong ekonomi Mesir.

Salah satu kontribusi terbesar yang dibuat Hyksos pada budaya Mesir adalah pengarsipan dokumen. Apophis, raja Hyksos yang kelima, menuntut agar juru tulis menyalin teks Mesir untuk di arsipkan. Dia bertanggung jawab untuk mengarsipkan banyak dokumen.

Tersingkirnya Hyksos

Selama periode ketika Hyksos memerintah Mesir Hilir. Orang Mesir melihat banyak raja Mesir yang memerintah Mesir bagian hulu, namun mereka juga melihat saat yang damai dan sejahtera. Hal yang sama yang memungkinkan Hyksos untuk mengambil alih Mesir, juga membiarkan orang Mesir mengusir mereka dari Mesir.

Pengenalan senjata dan teknik militer yang lebih baik akhirnya digunakan melawan Hyksos. Selama "perang pembebasan", antara tahun 1570-1550 SM, Kamose dan Ahmose melawan Hyksos. Ahmose I, Firaun pertama Dinasti ke 18, menyelesaikan pengusiran Hyksos dari Mesir dan menyatukan Mesir Hulu dan Mesir Hilir untuk memulai Kerajaan Baru.

Fakta Mengenai Orang Hyksos

  • Para penguasa Hyksos tidak pernah sampai di Mesir selatan. Thebes, Abydos dan Thinis tetap tak tersentuh oleh orang Hyksos.
  • Raja-raja Hyksos berasimilasi dengan budaya Mesir, membiarkan orang-orang Mesir tetap menjalankan tradisi dan budaya mereka.
  • Orang Hyksos adalah pedagang, pelaut, perajin, dokter, pengrajin, pembuat anggur, dan lain-lain. Mereka mengenalkan semua keahlian mereka kepada orang Mesir.
  • Orang Hyksos terdiri dari beragam etnis
  • Dari ibu kota mereka, Avaris, raja-raja Hyksos mengembangkan aliansi dengan Kreta, Siprus, dan Anatolia.
  • Hyksos menyembah Seth, dewa Mesir yang dikenal jahat oleh sebagian orang Mesir.
  • Meskipun orang-orang Mesir kuno menggunakan hieroglif untuk bahasa mereka, namun orang Hyksos tidak menggunakannya selama memerintah Mesir.


Kehidupan Awal dan Kondisi Geografi Mesir Kuno

Selama berabad-abad, peradaban Mesir Kuno tampak misterius dan tak tergoyahkan, terbungkus dalam mitologi romantis. Source

Harian Sejarah - Kehidupan masyarakat Mesir Kuno secara menyeluruh mendiami sepanjang aliran Sungai Nil, sungai yang tercatat sebagai salah satu sungai terpanjang di Dunia. Secara geografis Mesir Kuno terdiri dari tiga bagian besar, yaitu bagian lembah di hulu sungai; bagian delta di hilir sungai; dan gurun yang membentang mengisolasi Mesir Kuno di bagian timur, barat, dan selatan.  Mesir Kuno berbatasan dengan Laut Tengah di sebelah utara dan Laut Merah di sebelah timur.

Di antara gurun-gurun yang mengisolasinya terdapat banyak oase-oase seperti: Kharga, Bahariya, Dunqul, dan Daqla. Keadaan iklim di daerah Mesir Kuno sama seperti halnya di daerah Afrika lainnya, kering dan jarang turun hujan. Kekeringan dapat dilihat dari timur, barat, dan selatan Mesir Kuno yang dikelilingi padang pasir.

Hujan turun dengan intesitas yang kecil dan jarang terjadi, membuat hanya sedikit jenis tumbuhan yang tumbuh di Mesir Kuno. Meskipun kekeringan menjadi hal yang biasa, namun tidak berdampak pada masyarakat Mesir Kuno, mereka hidup di Sungai Nil yang tidak pernah kehabisan air. Oleh karenanya Masyarakat Mesir Kuno dapat membangun pemukiman, ladang-ladang, berkebun anggur, dan berternak.

Semua itu disediakan oleh Sungai Nil. Hal ini seperti apa yang dikatakan oleh Herodotus, bahwa “Sungai Nil adalah berkat bagi Mesir Kuno, Peradaban Mesir Kuno ada karena mereka tinggal di Lembah Sungai Nil.”

Ilustrasi Penguasa Mesir Hulu dan Mesir Hilir. Gambar: Ferrebeekeeper

Peradaban Mesir Kuno pada awalnya dibentuk oleh dua kerajaan yang mendiami hulu dan hilir Sungai Nil. Mesir Hulu diperintah oleh seorang raja yang mengenakan mahkota putih di kepalanya, sehingga kerajaan ini kerap kali di sebut sebagai Kerajaan Putih yang meliputi kota-kota di bagian selatan.

Di hilir berdiri Kerajaan Merah (Mesir Kuno Hilir) yang dipimpin oleh seorang raja yang mengenakan mahkota merah berhias ular kobra yang melilitnya. Kerajaan Mesir Hilir merupakan gabungan dari kota-kota yang berkembang di utara, termasuk kota Heliopolis dan Buto sebagai kota yang paling berkembang.

Perkembangan Mesir Kuno terjadi pada tahun 3150 SM ketika kelompok-kelompok besar di hulu dan hilir disatukan oleh Nemes , penguasa dari hulu yang kemudian menjadi penguasa pertama Mesir Kuno yang terunifikasi dari utara sampai selatan.

Peta Mesir Kuno. Foto: egypt.mrdonn.org

Nemes menyatukan kedua kerajaan dengan jalan perang saudara, setelah berhasil menyatukan seluruh wilayah Mesir Kuno di sepanjang Sungai Nil, pusat kerajaan di pindahkan ke tengah antara Fayum  dan delta Sungai Nil. Ketika Nemes menguasai seluruh Mesir Kuno, ia menghancurkan pasukan dari hilir, namun tetap menjaga kegiatan pertanian dan kehidupan masyarakatnya tetap berjalan seperti biasanya.  Dari sinilah kehidupan Mesir Kuno terformalisasi menjadi suatu dinasti yang berlanjut hingga ratusan tahun kemudian.

Menes merayakan kemenangan dengan membangun sebuah ibu kota di Memphis, sebagai titik pusat kekaisaran yang baru. Kota tersebut didirikan 32 kilometer di sebelah selatan bagian delta paling hulu, dekat tempat bertemunya Mesir Kuno hilir dan hulu. Memphis menjadi kota terbesar di negeri itu. Memphis bertahan sebagai ibu kota Mesir Kuno, selama 400 tahun.

Daftar Rujukan:

Gombrich, Ernst. H. 2015. Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda. Tangerang Selatan: Marjin Kiri
Daldjoeni, N. 1995. Geografi Kesejarahan I Peradaban Dunia. Bandung: Penerbit Alumni
Bauer, Susan Wise. 2010. Sejarah Dunia Kuno: Dari Cerita-Cerita Tertua sampai Jatuhnya Roma. Terj. Aloysius Prasetya. Jakarta: Elex Media Komputindo
Holland, Julian. 2009. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya: Sejarah Dunia Jilid I. Terj. Nino Oktorino. Jakarta: Lentera Abadi
Casson, Lionel. 1972.  Mesir Kuno: Abad Besar Manusia. Terj. Murad. Jakarta: Tira Pustaka
Toynbee, Arnold. 2007. Sejarah Umat Manusia. Terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Kehidupan Masyarakat Mesir Kuno

Foto: theancientweb.com

Harian Sejarah - Bangsa Mesir Kuno hidup disepanjang tepi Sungai Nil yang mengalir kurang lebih sepanjang 6.400 kilometer. Pada awalnya Sungai Nil bukanlah tempat yang baik untuk bermukim dan melangsungkan kehidupan. Setiap tahun hujan dengan intensitas tinggi selalu menguyur pegunungan di sebelah selatan Mesir Kuno dan mengairi deras air dari hulu ke hilir Sungai Nil, keadaan ini membuat daerah aliran sungai di sekitar sungai sering terkena banjir rob. 

Sungai Nil dibentuk oleh dua sungai besar yang menyatu, yang bermata air di Ethiopia dan yang bersumber dari aliran di Uganda. Kedua sungai ini bersatu di Khartoum dan menjadi Nil yang sesungguhnya. Meskipun Herodotus mengatakan bahwa Sungai Nil adalah hadiah bagi bangsa Mesir Kuno , akan tetapi Herodotus juga mengatakan, “Jika Nil merendam tanah tersebut, seluruh Mesir Kuno menjadi lautan.” Banjir yang sedemikian rupa, menjadikan wilayah tersebut tidak berpenghuni.

Ketika Mesir Kuno pada saat itu belum layak huni, terdapat kehidupan di pesisir Laut Merah, mereka yang kelak menjadi pemukim pertama di Mesir Kuno. Mereka kemudian melakukan migrasi ke Sahara yang pada saat itu beriklim lembab. Iklim tersebut membuat Sahara pada waktu itu dapat di tumbuhi oleh rumput, tumbuh-tumbuhan, dan berair. Sekitar tahun 5000-4000 SM, terdapat perubahan pola iklim yang meyebabkan daratan Mesopotamia menjadi kering, sehingga berdampak juga pada wilayah Sahara. 

Lukisan yang menggambarkan kehidupan masyarakat Mesir Kuno. Foto: sharmsmile.com

Penduduk dari Sahara kemudian berpindah ke timur menuju lembah Sungai Nil yang terairi. Pengungsi tersebut kemudian mendirikan pemukiman pertama di lembah Sungai Nil dan menjadi orang pertama yang mendiami wilayah tersebut.

Untuk mengatasi banjir tahunan yang melanda daerah sekitar Sungai Nil, mereka menggali penampungan air untuk mengurai banjir. Penampungan ini juga berguna sebagai tempat penyimpanan cadangan air yang akan digunakan untuk mengairi ladang-ladang, pertanian, minum orang dan hewan ternak saat dilanda musing kering, hal ini dikarenakan musim pengujan tidak terjadi sepanjang tahun. 

Ketika musim hujan tiba dan membanjiri pemukiman, masyarakat Mesir Kuno menebang pohon palem untuk membuat perahu. Perahu tersebut digunakan orang Mesir Kuno untuk berpergian berlalu-lalang menyusuri rumah-rumah.

Penduduk Mesir Kuno terdiri dari tiga ras , yakni ras Mediteran, ras Negroid, dan ras Cromagnoid . Mereka membangun pemukiman di kedua tepi Sungai Nil sepanjang hulu dan hilir. Untuk bertahan hidup orang Mesir Kuno menanam biji-bijian, gandung, dan anggur ketika banjir surut dan membuat tanah di tepi sungai menjadi gembur. 

Berburu juga menjadi kehidupan orang Mesir Kuno, jenis-jenis ikan dan burung menjadi objek buruan. Mulai-mula orang Mesir Kuno berburu sapi liar dan kambing, namun kemudian menernaknya. Orang-orang Mesir Kuno mendapatkan semua kebutuhan pokoknya di Sungai Nil: binatang buruan, ikan, emas, tembaga, rama, dan papirus. 

Meskipun kebutuhan hidup mereka telahr terpenuhi, bangsa Mesir Kuno juga melakukan perdagangan untuk mendapatkan barang tersier yang mereka butuhkan. Orang Mesir Kuno berdagang ke barat untuk mendapatkan gading, ke timur untuk mendapatkan kerang, dan ke barat untuk mendapatkan batuan berharga sebagai perhiasan. 

Penggolongan Orang Mesir Kuno. Foto: www.nemo.nu

Kehidupan sosial bangsa Mesir Kuno cenderung teratur. Mereka mengenal pembagian tugas. Pembagian tugas ini yang kemudian mengakibatkan masyarakat Mesir Kuno terbagi atas tingkatan sosial (strata). Strata tertinggi yaitu diawali dari Fir’aun dan bangsawan, menengah mereka yang berprofesi sebagau para pedagang, petani, buruh perkotaan, sedangkan budak-budak merupakan tingkatan terendah. 

Stratifikasi Masyarakat Mesir Kuno. Foto: www.q-files.com

Stratifikasi sosial di Mesir Kuno dibangun berdasarkan pekerjaan yang mereka lakukan.  Meskipun sebagian besar masyarakat Mesir Kuno adalah petani, akan tetapi profesi tersebut bukan berada pada tingkatan tertinggi, Seniman dan pengrajin patung memunyai status yang lebih tinggi dari petani. Diatas keduanya juru tulis merupakan kelas tertinggi pada masyarakat Mesir Kuno, mereka menempati kelas yang disebut kulit putih, ditandai dengan linen berwarna putih yang menandai status mereka. 

Tidak diketahui kapan agama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mesir Kuno. Namun bangsa Mesir Kuno dapat disejajarkan dengan bangsa-bangsa lain dalam kehidupan zaman neolitikum. Bangsa-bangsa yang ada sadar bahwa mereka tidak dapat mengatur kekuatan-kekuatan yang diluar kekuatan jasmani mereka, seperti: mengatur musim kering atau hujan, menghalau terpaan angin, atau menghendaki pasang dan surutnya air laut. 

Keadaan ini pula yang mempengaruhi kepercayaan masyarakat Mesir Kuno. Mereka melihat agama sejauh pengaruh sungai dan kekuatan alam di sekitar mereka sebagai proyeksi kekuatan-kekuatan gaib yang mempengaruhi kehidupan mereka. Simbolisme tersebutkemudian muncul sebagai dampak dari proyeksi yang dilakukan masyarakat Mesir Kuno dari apa yang mereka lihat, seperti memproyeksikan burung sebagai kemampuan untuk terbang, singa sebagai lambang kekuatan, atau ular sebagai lambang  kecerdasan dan misterius. 

Ini pun berpengaruh pada dewa-dewa yang menjadi bagian dari kepercayaan politeisme bangsa Mesir Kuno. Dewa-dewa mereka digambarkan sesuai dengan apa yang mereka simbolisasikan, seperti Sekmet yang diwujudkan berbadan wanita berkepala singa, atau Sobek yang berbadan wanita berkepala buaya. Bangsa Mesir Kuno mengenal banyak dewa-dewi. Dewa-dewi tersebut terbagi atas dua bagian, yaitu dewa-dewi yang bersifat nasional, artinya disembah seluruh rakyat Mesir Kuno. Ada pula dewa-dewi yang bersifat lokal, artinya disembah rakyat Mesir Kuno dari kalangan tertentu dan di wilayah tertentu saja.  

Meskipun terbagi menjadi dua, secara umum masyarakat Mesir Kuno memuja dewa-dewa seperti: Amun: raja para dewa, Re: dewa matahari, Shu: dewa udara, Set: dewa gurun, badai, dan bencana, Osiris: dewa hakim di alam baka, Min: dewa kesuburan, Khonsu: dewa bulan, Anubis: dewa kematian, Ma’at: dewi keadilan dan kebenaran. 

Kepercayaan bangsa Mesir Kuno juga berpengaruh pada pandangan rakyat terhadap penguasanya, yaitu Firaun. Firaun dianggap sebagai keturunan dewa tertinggi. Hal ini lah yang membuat rakyat Mesir Kuno begitu memujanya. Orang Mesir Kuno kemudian membangun piramida yang diperuntukan untuk makam sang Firaun. Orang Mesir Kuno juga percaya dengan mengawetkan jasad Firaun, roh mereka akan tetap hidup bersama masyarakat Mesir Kuno seperti biasanya.  

Oleh karena itu di dalam piramida tersedia ruang-ruang berisi pakaian, beserta perhiasan dan barang yang disukai Firaun agar dapat dipergunakan oleh rohnya. Di dinding-dinding piramid juga terlukiskan peristiwa-peristiwa yang menggambarkan kehidupan semasa hidupnya.

Daftar Rujukan:

Gombrich, Ernst. H. 2015. Sejarah Dunia untuk Pembaca Muda. Tangerang Selatan: Marjin Kiri
Daldjoeni, N. 1995. Geografi Kesejarahan I Peradaban Dunia. Bandung: Penerbit Alumni
Bauer, Susan Wise. 2010. Sejarah Dunia Kuno: Dari Cerita-Cerita Tertua sampai Jatuhnya Roma. Terj. Aloysius Prasetya. Jakarta: Elex Media Komputindo
Holland, Julian. 2009. Ensiklopedia Sejarah dan Budaya: Sejarah Dunia Jilid I. Terj. Nino Oktorino. Jakarta: Lentera Abadi
Casson, Lionel. 1972.  Mesir Kuno: Abad Besar Manusia. Terj. Murad. Jakarta: Tira Pustaka
Toynbee, Arnold. 2007. Sejarah Umat Manusia. Terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Mumi dan Tradisi Pemakaman Mesir Kuno

Foto: bobviral.com

Harian Sejarah - Orang Mesir Kuno mengenal akhirat. Akan tetapi akhirat bukan lah seperti yang terlintas pada ajaran agama samawi. Menurut orang Mesir Kuno akhirat adalah kehidupan badaniah bukan penggantian berbentuk rohaniah. Jiwa meninggalkan badan pada saat kematian, tetapi menurut harapannya jiwa itu dapat kembali pada badan tadi. Oleh karena itu orang-orang Mesir sangat bernafsu untuk mengekalkan kehidupannya demi dirinya sesudah mati, dan mengejar tujuan akhirat secara lebih serius dibanding tujuan apa pun yang bisa diraih selama kehidupan di dunia.

Jejak-jejak perkembangan tradisi pemakaman bangsa Mesir memang kurang diketahui, bahkan perkembangan prosesi pemumian. Pengetahuan yang ada sekarang tentang proses itu (pembalseman, penggunaan minyak, garam, dll) sebagian besar berdasarkan tulisan Herodotus dan penyelidikan terhadap mumi sendiri.

Ilustrasi. Foto: www.chuchotezvous.ru

Ketika raja-raja Mesir dimakamkan, orang-orang Mesir belum pernah mem-balsam orang mati. Prosesi pemakaman pun masih sangat sederhana, yakni badan raja dibungkus kain, yang kadang kala direndam di cairan damar. Akan tetapi, metode itu sama sekali tidak dapat mengawetkan mayat. Metode pengawetan mayat terus berkembang hingga akhirnya menghasilkan suatu tradisi perawatan bagi jenazah orang-orang Mesir yang dinamakan dengan pemumian.

Setelah pemumian dilaksanakan, mumi dimasukkan makam (makam di dalam piramid untuk firaun) bersama dengan barang-barang yang diharapkan akan diperlukan oleh yang mati dalam kehidupan barunya . Barang tersebut biasanya berupa makanan, alas kaki, perhiasasan,  serta mahkota atau tongkat jika ia seorang firaun.

Pemakaman dengan model pemumian, membutuhkan biaya yang sangat mahal. Bahkan, mahalnya biaya untuk mengawetkan jenazah melebihi kebutuhan mereka untuk merias diri selama hidup. Pada zaman Mesir Kuno, hanya firaun yang berhak hidup di alam akhirat, sehingga pemumian hanya dilakukan untuk seorang firaun.

Akan tetapi pada masa kerajaan baru, 11 abad kemudian, kehidupan akhirat merupakan hak semua orang Mesir, akibatnya tradisi pemumian semakin banyak dilakukan. Biaya yang sangat mahal mengakibatkan tidak semua rakyat Mesir saat itu dapat melakukan tradisi pemakaman selayaknya, orang-orang miskin menggunakan kain kafan sebagai pengganti peti dan melakukan penguburan di bawah timbunan pasir.




Rujukan:

Bauer, Susan Wise. 2010. Sejarah Dunia Kuno: Dari Cerita-Cerita Tertua sampai Jatuhnya Roma. Terj. Aloysius Prasetya. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Toynbee, Arnold. 2007. Sejarah Umat Manusia. Terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.