Showing posts with label Sejarah Umum-10. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Umum-10. Show all posts

Friday, March 31, 2017

Budi Utomo: Organisasi Awal Pencarian Jati Diri Bangsa

Pergerakan nasional bangsa Indonesia diyakini oleh sebagian besar bangsa Indonesia berawal sejak tahun 1908. Banyak sejarawan yang mengemukakan perjuangan sebelum 1908 adalah perjuangan yang bersifat keadaerahan dan antara golongan yang memiliki tujuannya masing-masing. 

Berdirinya organisasi Budi Utomo pada 1908 dijadikan sebagai tonggak awal pergerakan nasional, meskipun beberapa sejarawan mengungkapkan pada tahun 1905 mahasiswa bumiputera yang bersekolah di Hindia Belanda telah mendirikan Indische Vereeniging.
Budi Utomo Sebagai Organisasi Awal Pencarian Jati Diri Bangsa
Mahasiswa STOVIA 1916 (Foto: Arsip Nasional RI)
Namun karena Budi Utomo berdiri di Hindia Belanda, dapat dimaklumi bahwa Budi Utomo lebih santer dan dekat dalam persoalan perjuangan di masyarakat Bumiputera di Hindia Belanda ketimbang Indische Vereeniging di negeri Belanda.

Pada masa awal pergerakan nasional. Nama Indonesia belum muncul sebagai suatu identitas nasional. Istilah Bumiputera atau Indiche merupakan simbol yang dari masyarakat pribumi Hindia Belanda, bahkan nama Bumiputera masih dijadikan suatu simbol utama dibandingkan Indonesia sejak Budi Utomo berdiri. Masa pada tahun 1908 dapat kita katakana sebagai masa pencarian jati diri bangsa.

Budi Utomo Sebagai Organisasi Awal Pencarian Jati Diri Bangsa

Berdirinya Budi Utomo diawali oleh kampanye dr. Wahidin Soedirohoesodo keliling Jawa. Pada saat di Batavia ia berbicara di depan mahasiswa STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) di Hindia Belanda mengenai kebutuhan adanya Studie Fonds (beasiswa) untuk masyarakat Bumiputera agar bisa bersekolah, kampanye dr. Wahidin berorientasi mengenai pemerataan pendidikan masyarakat Bumiputera.

Kampanye ini menggugah mahasiswa STOVIA di Batavia yang dipimpin oleh Soetomo untuk mendirikan Budi Utomo. Pendirian Budi Utomo didasari oleh tergugahnya mahasiswa STOVIA terhadap kampanye dr. Wahidin.

Budi Utomo oleh pemerintah kolonial disebut sebagai Het Schome Stroven, seperti bunga mekar ditengah masyarakat yang terbelakang, titik cerah dari masyarakat terjajah. 

Budi Utomo pasca pendiriannya 20 Mei 1908. Budi Utomo terus berkembang dan mempunyai redaksi surat kabar (koran) yang bernama Darmo Kondo yang menyiarkan program-program yang dikemukakan Budi Utomo.

Namun agak disayangkan bahwa Budi Utomo dalam menjalankan programnya masih memusat pada budaya jawa, hal ini dikarenakan Budi Utomo dalam pendanaannya masih dibiayai oleh priyayi-priyayi jawa.dari kalangan keraton. 

Perpecahan terjadi ditubuh Budi Utomo, ketika Budi Utomo mengadakan kongres II. Perpecahan mengakibatkan dua kubu di dalam Budi Utomo, keduanya memiliki pandangan yang berbeda dalam tujuan dan orientasi ke depan organisasi. Golongan tersebut antara lain sebagai berikut :
  • Golongan Konservatif : golongan ini menginginkan Budi Utomo berfokus pada pengembangan budaya jawa dan pendidikan, serta keanggotaan bersifat ekslusif untuk kalangan priyayi jawa dan madura.
  • Golongan Moderat : golongan ini menginginkan Budi Utomo memiliki orientasi yang besar merangkul semua golongan dan tidak bersifat kedaerahan, serta keanggotaannya bersifat terbuka bukan sebatas untuk kalangan priyayi jawa dan madura.
Golongan moderat ini kemudian dipimpin oleh dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, Soeryadi Soerja Diningrat (Ki Hajar Dewantara) dan Douwes Dekker mendirikan Indiche Partij yang lebih berorientasi pada politik.

Budi Utomo merupakan organiasi modern pertama yang lahira dari pemikiran orang-orang Bumiputera. Ada kesadaran bahwa orang Bumiputera melakukan emansipasi dari masyarakat tertindas ke masyarakat mandiri, meskipun organisasi ini bersifat eksklusif. 

Organisasi ini diijinkan berdiri oleh pemerintah kolonial karena bersifat kooperatif dengan pemerintah dan tidak pernah mengkritik atau ikut campur mengenai kebijakan yang dilakukan Pemerintah Hinda Belanda.

Monday, January 2, 2017

Organisasi Pergerakan Nasional Indonesia

Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional

Pergerakan nasional Indonesia memunculkan organisasi pergerakan yang berkemang dikalangan Hindia Belanda. Organisasi-organisasi tersebut memiliki landasan dan sikap yang berbeda dalam mengambil peran di pergerakan nasional. Secara umum organisasi-organisasi tersebut dapat dibabakan ke dalam beberapa masa berdasarkan corak pergerakannya, sebagai berikut :
  • Masa awal pergerakan nasional (1908 - 1920) berdiri organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij.
  • Masa radikal/nonkooperasi (1920 - 1930), berdiri organisasi seperti Partai Komunis Indonesia (PKI), Perhimpunan Indonesia (PI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI).
  • Masa moderat/kooperasi (1930 - 1942), berdiri organisasi seperti Parindra, Partindo, dan Gapi. Di samping itu juga berdiri organisasi keagamaan, organisasi pemuda, dan organisasi perempuan.

Organisasi-oraganisasi Pergerakan Nasional Indonesia

1. Budi Utomo (BU)
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional
Kader Budi Utomo. Foto: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculture
Pada awal abad ke-20 sudah banyak mahasiswa di kota-kota besar terutama di Pulau Jawa. Sekolah kedokteran bernama STOVIA (School tot Opleideing van Inlandsche Aartsen) terdapat di Jakarta. Para tokoh mahasiswa kedokteran sepakat untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia dengan memajukan pendidikan rakyat.

Pada tanggal 20 Mei 1908 sebuah organisasi bernama Budi Utomo dibentuk di Jakarta. Ketua Budi Utomo adalah dr Sutomo, dan tonggak berdirinya Budi Utomo pada tanggal 20 Mei 1908 dikenang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Tokoh lain pendiri Budi Utomo adalah Gunawan, Cipto Mangunkusumo, dan R.T. Ario Tirtokusumo.

Pada mulanya Budi Utomo bukanlah sebuah partai politik. Tujuan utamanya adalah kemajuan bagi Hindia Belanda. Hal ini terlihat dari tujuan yang hendak dicapai yaitu perbaikan pelajaran di sekolah-sekolah, mendirikan badan wakaf yang mengumpulkan tunjangan untuk kepentingan belanja anak-anak bersekolah, membuka sekolah pertanian, memajukan teknik dan industri, menghidupkan kembali seni dan kebudayaan bumi putera, dan menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan dalam rangka mencapai kehidupan rakyat yang layak.

Dalam perkembangannya, di tubuh Budi Utomo muncul dua aliran berikut.
  • Pihak kanan, berkehendak supaya keanggotaan dibatasi pada golongan terpelajar saja, tidak bergerak dalam lapangan politik dan hanya membatasi pada pelajaran sekolah saja.
  • Pihak kiri, yang jumlahnya lebih kecil terdiri dari kaum muda berkeinginan ke arah gerakan kebangsaan yang demokratis, lebih memerhatikan nasib rakyat yang menderita.
Adanya dua aliran dalam tubuh Budi Utomo menyebabkan terjadinya perpecahan. Dr. Cipto Mangunkusumo yang mewakili kaum muda keluar dari keanggotaan. Akibatnya gerak Budi Utomo semakin lamban.

Berikut ini ada beberapa faktor yang menyebabkan semakin lambannya Budi Utomo :
  1. Budi Utomo cenderung memajukan pendidikan untuk kalangan priyayi daripada penduduk umumnya.
  2. Lebih mementingkan pemerintah kolonial Belanda daripada kepentingan rakyat Indonesia.
  3. Menonjolnya kaum priyayi yang lebih mengutamakan jabatan menyebabkan kaum terpelajar tersisih. Ketika meletus Perang Dunia I tahun 1914, Budi Utomo mulai terjun dalam bidang politik.
  4. Pada tahun 1935 Budi Utomo mengadakan fusi ke dalam Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak itu BU terus mengalami kemerosotan dan mundur dari arena politik.

2. Sarekat Islam (SI)
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional
Potret bersama rapat Sarekat Islam di Kaliwungu. Hadir para anggota dari Kaliwungu, Peterongan, dan Mlaten, serta anggota Asosiasi Staf Kereta Api dan Trem (VSTP), Semarang. Foto: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen
Pada mulanya Sarekat Islam adalah sebuah perkumpulan para pedagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. 

Garis yang diambil oleh SDI adalah kooperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam. Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak memiliki anggota yang cukup banyak.

Oleh karena itu agar memiliki anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya, maka pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat Islam). Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh beberapa tokoh SDI seperti H.O.S Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim. Sarekat Islam berkembang pesat karena bermotivasi agama Islam. Latar belakang ekonomi berdirinya Sarekat Islam adalah: 
  1. Perlawanan terhadap para pedagang perantara (penyalur) oleh orang Cina,
  2. Isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya untuk menunjukkan kekuatannya
  3. Membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera.

Tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan anggaran dasarnya adalah:
  • Mengembangkan jiwa berdagang,
  • Memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami kesukaran,
  • Memajukan pengajaran den semua yang mempercepat naiknya
  • Derajat bumi putera,
  • Menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam,
  • Tidak bergerak dalam bidang politik, dan
  • Menggalang persatuan umat Islam hingga saling tolong menolong.
Pada tanggal 29 Maret 1913, para pemimpin SI mengadakan pertemuan dengan Gubernur Jenderal Idenburg untuk memperjuangkan SI berbadan hukum. Jawaban dari Idenburg pada tanggal 29 Maret 1913, yaitu SI di bawah pimpinan H.O.S Cokroaminoto tidak diberi badan hukum.

Ironisnya yang mendapat pengakuan pemerintah colonial Belanda (Gubernur Jenderal Idenburg) justru cabang-cabang SI yang ada di daerah. Ini suatu taktik pemerintah colonial Belanda dalam memecah belah persatuan SI. Bayangan perpecahan muncul dari pandangan yang berbeda antara H.O.S Cokroaminoto dengan Semaun mengenai kapitalisme. 

Menurut Semaun yang memiliki pandangan sosialis, bergandeng dengan kapitalis adalah haram. Dalam kongres SI yang dilaksanakan tahun 1921, ditetapkan adanya disiplin partai rangkap anggota. Setiap anggota SI tidak boleh merangkap sebagai anggota organisasi lain terutama yang beraliran komunis. Akhirnya SI pecah menjadi dua yaitu SI Putih dan SI Merah.
  • SI Putih, yang tetap berlandaskan nasionalisme dan Islam. Dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, dan Suryopranoto yang berpusat di Yogyakarta.
  • SI Merah, yang berhaluan sosialisme kiri (komunis). Dipimpin oleh Semaun, yang berpusat di Semarang. Dalam kongresnya di Madiun, SI Putih berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Kemudian pada tahun 1927 berubah lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Sementara itu, SI Sosialis/Komunis berganti nama menjadi Sarekat Rakyat (SR) yang merupakan pendukung kuat Partai Komunis Indonesia (PKI).

3. Indische Partij (IP)
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional
Trio Indische Partij dari kiri Suwardi Suryaningrat, dr. Cipto Mangunkusumo, dan E.F.E. Douwes DekkerFoto: Tempo
Indische Partij adalah partai politik pertama di Indonesia.  menunjukkan para pendiri Indische Partij yang terkenal dengan sebutan tiga serangkai E.F.E. Douwes Dekker (Danudirjo Setiabudi), R.M. Suwardi Suryaningrat, dan dr. Cipto Mangunkusumo. Indische Partij dideklarasikan tanggal 25 Desember 1912.

Tujuan Indische Partij sangat jelas, yakni mengembangkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia. Keanggotaannya pun terbuka bagi semua golongan tanpa memandang suku, agama, dan ras.

Pada tahun 1913 terdapat persiapan pelaksanaan perayaan 100 tahun pembebasan Belanda dari kekuasaan Perancis. Belanda meminta rakyat Indonesia untuk turut memperingati hari tersebut. Para tokoh Indische Partij menentang rencana tersebut. 

Suwardi Suryaningrat menulis artikel yang dimuat dalam harian De Expres, dengan judul Als Ik een Nederlander was (Seandainya aku orang Belanda). Suwardi mengecam Belanda, bagaimana mungkin bangsa terjajah (Indonesia) disuruh merayakan kemerdekaan penjajah. Pemerintah Belanda marah dengan sikap para tokoh Indische Partij. Akhirnya Douwes Dekker, Tjipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat ditangkap dan dibuang ke Belanda.

4. Perhimpunan Indonesia
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional
Anggota Indische Vereeniging. Foto: Tempo

Pada tahun 1908 di Belanda berdiri sebuah organisasi yang bernama Indische Vereeniging. Pelopor pembentukan organisasi ini adalah Sutan Kasayangan Soripada dan RM Noto Suroto. Para mahasiswa lain yang terlibat dalam organisasi ini adalah R. Pandji Sosrokartono, Gondowinoto, Notodiningrat, Abdul Rivai, Radjiman Wediodipuro (Wediodiningrat), dan Brentel.

Tujuan dibentuknya Indische Vereeniging adalah  Indonesia merdeka, memperoleh suatu pemerintahan Indonesia yang bertanggung jawab kepada seluruh rakyat. Kedatangan tokoh-tokoh Indische Partij seperti Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat, sangat mempengaruhi perkembangan Indische Vereeniging. 

Masuk konsep “Hindia Bebas” dari Belanda, dalam pembentukan negara Hindia yang diperintah oleh rakyatnya sendiri. Perasaan anti-kolonialisme semakin menonjol setelah ada seruan Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson tentang kebebasan dalam menentukan nasib sendiri pada negara-negara terjajah (The Right of Self Determination).

5. Partai Komunis Indonesia (PKI)
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional
PKI pada tahun 1923. Foto: Indonesian Old Image
Partai Komunis Indonesia (PKI) secara resmi berdiri pada tanggal 23 Mei 1920. Berdirinya PKI tidak terlepas dari ajaran Marxis yang dibawa oleh Sneevliet. Ia bersama teman-temannya seperti Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma, mendirikan Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) di Semarang pada tanggal 4 Mei 1914. Tokoh-tokoh Indonesia yang bergabung dalam ISDV antara lain Darsono, Semaun, Alimin, dan lain-lain.

PKI terus berupaya mendapatkan pengaruh dalam masyarakat. Salah satu upaya yang ditempuhnya adalah melakukan infiltrasi dalam tubuh Sarekat Islam. Organisasi PKI makin kuat ketika pada bulan Februari 1923 Darsono kembali dari Moskow. Ditambah dengan tokoh-tokoh Alimin dan Musso, maka peranan politik PKI semakin luas.

Pada tanggal 13 November 1926, Partai Komunis Indonesia mengadakan pemberontakan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pemberontakan ini sangat sia-sia karena massa sama sekali tidak siap di samping organisasinya masih kacau. 

PKI telah mengorbankan ribuan orang yang termakan hasutan untuk ikut serta dalam pemberontakan. Dampak buruk lainnya yang menimpa para pejuang pergerakan di tanah air adalah berupa pengekangan dan penindasan yang luar biasa dari pemerintah Belanda sehingga sama sekali tidak punya ruang gerak. Walaupun PKI dinyatakan sebagai partai terlarang tetapi secara ilegal mereka masih melakukan kegiatan politiknya. Semaun, Darsono, dan Alimin meneruskan propaganda untuk tetap memperjuangkan aksi revolusioner di Indonesia.

6. Partai Nasional Indonesia (PNI)
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional
Pendiri Partai Nasional Indonesia. Foto: Musem Sumpah Pemuda
Berdirinya partai-partai dalam pergerakan nasional banyak berawal dari studie club. Salah satunya adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai Nasional Indonesia (PNI) yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 tidak terlepas dari keberadaan Algemeene Studie Club. 

Lahirnya PNI juga dilatarbelakangi oleh situasi sosio politik yang kompleks. Pemberontakan PKI pada tahun 1926 membangkitkan semangatuntuk menyusun kekuatan baru dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda. Rapat pendirian partai ini dihadiri Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo. Pada awal berdirinya, PNI berkembang sangat pesat karena didorong oleh faktor-faktor berikut.
  1. Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan massa.
  2. PKI sebagai partai massa telah dilarang.
  3. Propagandanya menarik dan mempunyai orator ulung yang bernama Ir. Soekarno (Bung Karno).
  4. Untuk mengobarkan semangat perjuangan nasional, Bung Karno mengeluarkan Trilogi sebagai pegangan perjuangan PNI. Trilogi tersebut mencakup kesadaran nasional, kemauan nasional, dan perbuatan nasional.
Tujuan PNI adalah mencapai Indonesia merdeka. Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI menggunakan tiga asas yaitu self help (berjuang dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy, sikapnya terhadap pemerintah juga antipati dan nonkooperasi. Dasar perjuangannya adalah marhaenisme.

7. Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI)
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional
Anggota PPPKI. Foto: Museum Dewantara Kirti Griya
PPPKI dibentuk di Bandung pada tanggal 17 - 18 Desember 1927. Beranggotakan organisasi-organisasi seperti Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII), Budi Utomo (BU), PNI, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi, dan Kaum Studi Indonesia. Tujuan dibentuknya PPPKI yaitu:
  1. Menghindari segala perselisihan di antara anggota-anggotanya;
  2. Menyatukan organisasi, arah, serta cara beraksi dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia
  3. Mengembangkan persatuan kebangsaan Indonesia.
Pembentukan organisasi PPPKI sebagai ide persatuan sejak awal mengandung benih-benih kelemahan dan keretakan. Berikut ini ada beberapa faktor yang menyebabkan keretakan tersebut.
  • Masing-masing anggota lebih mementingkan loyalitas pada masing-masing kelompoknya.
  • Kurangnya kontrol pusat terhadap aktivitas lokal.
  • Perbedaan gaya perjuangan di antara organisasi-organisasi anggota PPKI tersebut.

8. Partai Indonesia (Partindo)

Ketika Ir. Soekarno yang menjadi tokoh dalam PNI ditangkap pada tahun 1929, maka PNI pecah menjadi dua yaitu Partindo dan PNI Baru. Partindo didirikan oleh Sartono pada tahun 1929. 

Sejak awal berdirinya Partindo memiliki banyak anggota dan terjun dalam aksi-aksi politik menuju Indonesia Merdeka. Dasar Partindo sama dengan PNI yaitu nasional. Tujuannya adalah mencapai Indonesia merdeka. Asasnya pun juga sama yaitu self help dan nonkooperasi.

Partindo semakin kuat setelah Ir. Soekarno bergabung ke dalamnya pada tahun 1932, setelah dibebaskan dari penjara. Namun, karena kegiatan-kegiatannya yang sangat radikal menyebabkan pemerintah melakukan pengawasan yang cukup ketat. Karena tidak bisa berkembang, maka tahun 1936 Partindo bubar.

9. Partai Indonesia Raya (Parindra)
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional
Parindra. Foto: Koleksi Museum Nasional
 Partai Indonesia Raya (Parindra). Parindra didirikan di kota Solo oleh dr. Sutomo pada tanggal 26 Desember 1935. Parindra merupakan fusi dan Budi Utomo dan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Tujuan Parindra adalah mencapai Indonesia Raya. Asas politik Parindra adalah insidental, artinya tidak berpegang pada asas kooperasi maupun nonkooperasi.

Sikapnya terhadap pemerintah tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi, jadi luwes. Tokoh-tokoh Parindra yang terkenal dalam membela kepentingan rakyat di volksraad adalah Moh. Husni Thamrin.

Parindra berjuang agar wakil-wakil volksraad semakin bertambah sehingga suara yang berhubungan dengan upaya mencapai Indonesia merdeka semakin diperhatikan oleh pemerintah Belanda. Perjuangan Parindra dalam volksraad cukup berhasil, terbukti pemerintah Belanda mengganti istilah inlandeer menjadi Indonesier.

10. Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional
Moh.Yamin Pendiri Gerindo.Foto: Tempo
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) didirikan di Jakarta pada tanggal 24 Mei 1937 oleh orang-orang bekas Partindo. Tokoh-tokohnya antara lain Sartono, Sanusi Pane, dan Moh. Yamin. Dasar dan tujuannya adalah nasional dan mencapai Indonesia Merdeka. Gerindo juga menganut asas incidental yang sama dengan Parindra. Tujuan Gerindo antara lain:
  • Mencapai Indonesia Merdeka,
  • Memperkokoh ekonomi Indonesia,
  • Mengangkat kesejahteraan kaum buruh, dan
  • Memberi bantuan bagi kaum pengangguran.

11. Gabungan Politik Indonesia (Gapi)
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional

Pada tanggal 15 Juli 1936, partai-partai politik dengan dipelopori oleh Sutardjo Kartohadikusumo mengajukan usul atau petisi, yaitu permohonan supaya diselenggarakan suatu musyawarah antara wakilwakil Indonesia dan negara Belanda di mana anggotanya mempunyai hak yang sama.

Tujuannya adalah untuk menyusun suatu rencana pemberian kepada Indonesia suatu pemerintah yang berdiri sendiri. Namun usul tersebut ditolak oleh pemerintah kolonial Belanda. Adanya kekecewaan terhadap keputusan pemerintah Belanda tersebut, atas prakarsa Moh. Husni Thamrin pada tanggal 21 Mei 1939, dibentuklah Gabungan Politik Indonesia (Gapi). Berikut ini ada beberapa alasan yang mendorong terbentuknya Gapi.
  1. Kegagalan petisi Sutarjo. Petisi ini berisi permohonan agar diadakan musyawarah antara wakil-wakil Indonesia dan Belanda. Tujuannya adalah agar bangsa Indonesia diberi pemerintahan yang berdiri sendiri.
  2. Kepentingan internasional akibat timbulnya fasisme.
  3. Sikap pemerintah yang kurang memerhatikan kepentingan bangsa Indonesia.
Tujuan Gapi adalah menuntut pemerintah Belanda agar Indonesia mempunyai parlemen sendiri, sehingga Gapi mempunyai semboyan Indonesia Berparlemen. Tuntutan Indonesia Berparlemen terus diperjuangkan dengan gigih. Akhirnya pemerintah Belanda membentuk komisi yang dikenal dengan nama Komisi Visman karena diketuai oleh Dr. F.H.Visman. Tugas komisi ini adalah menyelidiki dan mem-pelajari perubahan-perubahan ketatanegaraan.

Namun, setelah melakukan penelitian, Komisi Visman mengeluarkan kesimpulan yang mengecewakan bangsa Indonesia. Menurut komisi tersebut, sebagian besar rakyat Indonesia berkeinginan hidup dalam ikatan Kerajaan Belanda. Gapi menolak keputusan tersebut, sebab dianggap hanya rekayasa Belanda dan bertentangan dengan keinginan rakyat Indonesia.

12. Organisasi Keagamaan
Berkas:Flag of Nahdlatul Ulama.jpg
Bendera Organisasi Islam Nahdlatul Ulama. Foto: NU.or.id
Muhammadiyah adalah organisasi Islam modern yang didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 oleh K.H. Ahmad Dahlan. Muhammadiyah berarti umat Muhammad atau pengikut Muhammad. Dengan nama ini memiliki harapan dapat mencontoh segala jejak perjuangan dan pengabdian Nabi Muhammad.
Di samping Muhammadiyah, gerakan keagamaan lain yang memiliki andil bagi kemajuan bangsa antara lain, berikut ini.
  1. Jong Islamienten Bond, berdiri tanggal 1 Januari 1925 di Jakarta.
  2. Nahdlatul Ulama (NU), berdiri pada tanggal 31 Januari 1926 di Surabaya, Jawa Timur.
  3. Nahdlatul Wathan, berdiri tahun 1932 di Pacor, Lombok Timur.

13. Organisasi Pemuda dan Wanita
Kegiatan di Van Deventer School Bandung (Sekolah Keutamaan Istri) di Bandung. Foto: kumeokmemehdipacok
Perkumpulan pemuda yang pertama berdiri adalah Tri Koro Dharmo. Organisasi ini berdiri pada tanggal 7 Maret 1915 di Jakarta atas petunjuk Budi Utomo. Diprakarsai oleh dr. Satiman Wirjosandjojo, Kadarman, dan Sunardi. Mereka mufakat untuk mendirikan organisasi kepemudaan yang anggotanya berasal dari siswa sekolah menengah di Jawa dan Madura. Perkumpulan ini diberi nama Tri Koro Dharmo yang berarti tiga tujuan mulia (sakti, budhi, bakti).

Organisasi kepemudaan lainnya yang bersifat kedaerahan banyak bermunculan seperti Pasundan, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Celebes, Timorees Ver Bond, PPPI (Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia), Pemuda Indonesia, Jong Islamienten Bond, kepanduan, dan sebagainya.

Di samping gerakan para pemuda, kaum wanita juga tidak mau ketinggalan. Pergerakan wanita dipelopori oleh R.A.Kartini dari Jepara dengan mendirikan Sekolah Kartini. Perkumpulan wanita yang didirikan sebelum tahun 1920 antara lain Putri Mardika yang didirikan atas bantuan Budi Utomo. Perkumpulan ini bertujuan untuk memajukan pengajaran terhadap anak-anak perempuan dengan cara memberi penerangan dan bantuan dana, mempertinggi sikap yang merdeka, dan melenyapkan tindakan malu-malu yang melampaui batas.

Perkumpulan Kautamaan Istri didirikan pada tahun 1913 di Tasikmalaya, lalu pada tahun 1916 di Sumedang, Cianjur, dan tahun 1917 di Ciamis, menyusul di Cicurug
tahun 1918. Tokoh Kautamaan Istri yang terkenal adalah Raden Dewi Sartika.

Di Yogyakarta pada tahun 1912 didirikan perkumpulan wanita yang benafaskan Islam dengan nama Sopa Tresna, yang kemudian pada tahun 1914 menjadi bagian wanita dari Muhammadiyah dengan nama Aisyah. Di Yogyakarta selain Aisyah juga ada perkumpulan wanita yang bernama Wanito Utomo, yang mulai memasukkan perempuan ke dalam kegiatan dasar pekerjaan ke arah emansipasi.

Di samping R.A.Kartini dan Dewi Sartika, masih terdapat seorang tokoh wanita yaitu Ibu Maria Walanda Maramis dari Minahasa. Beliau mendirikan perkumpulan yang bernama Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) pada tahun 1917. PIKAT dalam kegiatannya mendirikan Sekolah Kepandaian Putri.

14. PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia)
Organisas-Organisasi Pergerakan Nasional
Suasana saat Kongres Pemuda I. Foto: Coreter
Sumpah pemuda, tidak dapat lepas dari organisasi kepemudaan yang bernama PPPI (Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia) yang didirikan pada tahun 1926. PPPI mendapat dukungan dari sejumlah organisasi kepemudaan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Minahasa, Jong Batak, dan Jong Islamienten Bond dengan penuh keyakinan ingin mencapai tujuannya yaitu persatuan Indonesia. 

Para pemuda ini menginginkan suatu upaya penyatuan peletakan dasar untuk kemerdekaan dengan menentang ketidakadilan yang dialami selama masa penjajahan.

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia

Merujuk pada pergerakan nasional, maka terlebih dahulu kita harus mengerti perkembangan masyarakat dan lingkungannya. Pada awal pergerakan nasional Indonesia antara 1900-1928 kehidupan masyarakat Bumiputera mengalami perubahan sosial terutama mereka yang menetap di wilayah perkotaan seperti Surabaya, Bandung, Semarang, dan Batavia. Batavia sendiri tumbuh menjadi kota metropolitan dengan serangkaian kemajuan teknologi, seperti telepon, mobil, dan listrik.

Arus informasi menjadi salah satu pendorong pergerakan nasional, elite terpelajar yang muncul sebagai dampak dari penerapan politik etis. Mereka yang belajar di sekolah-sekolah pemerintah atau partikelir (swasta) di perkotaan atau di Eropa menerima informasi yang Bergama dari penjuru dunia. Elite terpelajar inilah yang mempunyai cita-cita kemerdekaan yang mereka dapatkan dari hasil belajar di sekolah, mereka mengenal ideologi-ideologi dan filsafat yang membawa mereka untuk berpikir terbuka.

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia
Pelajar Bumiputera di Belanda (Foto/Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)
Kondisi masyarakat masih terpecah atas tiga golongan : Eropa, Timur Asing dan Bumiputera. Masyarakat Bumiputera masih mengalami ketertimpangan dalam pelbagai hal meskipun telah dilakukannya politik etis. Pendidikan yang merupakan konsep dari trias etika masih belum berjalan maksimal. Pemerintah kolonial tidak serta merta memberikan pendidikan yang berjenjang kepada masyarakat. Hal ini sebagai antisipasi agar masyarakat Bumiputera tidak mendapatkan pendidikan yang cukup tinggi karena dikhawatirkan melakukan pemberontakan. Pemerintah hanya mengedepankan masyarakat sekadar bisa baca, tulis, dan hitung, meskipun angka buta huruf masih tinggi. Masyarakat dalam pendidikannya tidak diperkenalkan pada pendidikan politik dan filsafat yang dapat memunculkan benih-benih pemberontakan.

Meskipun serangkaian tindakan dilakukan oleh pemerintah dengan membatasi ruang gerak pendidikan. Kenyataannya masyarakat bumiputera mengalami kemajuan secara mobilitas sosial. Hal ini dapat terjadi karena para elite terpelajar yang mengenyam pendidikan di perkotaan dan negeri Belanda tidak serta mereta menelan mentah-mentah pendidikan untuk dirinya sendiri. 

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia
Bp. Soerjoadipoetro tengah mengajar di Taman Siswa Bandung.(Foto/Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen) 
Banyak dari mereka yang mengabdikan diri dengan mengajar dan mendirikan sekolah-sekolah partikelir (swasta) yang digratiskan atau berbiaya murah, sehingga masyarakat jelata dapat menikmati pendidikan, sekolah ini oleh Pemerintah Hindia Belanda disebut sebagai sekolah liar. Arus informasi pun tidak dapat dibendung pemerintah, hal ini karena ‘pers’ tengah berkembang dengan cukup besar di perkotaan-perkotaan besar. Media cetak seperti koran berkembang luas di masyarakat.

Faktor Pendorong Pergerakan Nasional

Modernisasi menjadi faktor internal pendorong lahirnya pergerakan nasional. Meskipun telepon dan surat kabar belum menyeluruh di seluruh wilayah jajahan, namun transportasi berupa kereta api menjadi alat integrasi antar wilayah di pulau Jawa. 

Integrasi transportasi inilah yang menyebabkan arus urbanisasi masyarakat pedesaan sehingga mobilitas sosial dapat menyebar ke masyarakat desa.
Golongan terpelajar sebagai promotor pergerakan nasional banyak mendapatkan ilham dari perjalanannya ke wilayah-wilayah di pulau Jawa. Ketimpangan yang terjadi dipelbagai wilayah membuat golongan terpelajar sadar akan adanya penderitaan yang meluas dikalangan masyarakat bumiputera. Hal ini berbeda dengan apa yang mereka pelajari di Eropa mengenai HAM, Demokrasi, Sosialisme, dan Liberalisme.

Raasa senasib dan sepenanggungan muncul dikalangan elite pelajar yang melihat adanya kesengsaraan yang ditimbulkan oleh praktik kolonialisme yang dilakukan pemerintah kolonial. Pelajaran sejarah yang mereka dapatkan menimbulkan kesadaran persatuan dan kesatuan secara nasional untuk melawan koloniialisme. 

Mereka menganggap bahwa persatuan kedaerahan yang menyebabkan perpecahan  dan tidak adanya persatuan dalam melawan penjajahan adalah sebab kemerdekaan tidak dapat diwujudkan. Atas kesadaran sejarah maka golongan terpelajar merencanakan sebuah pergerakan nasional yang menyatukan seluruh elemen pergerakan bangsa yang terbebas dari identitas kedaerahan.

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia
Kemenangan Jepang atas perubutan Port Arthut dari Rusia 1905 (Foto/Library of Congress)
Kemenangan Jepang dalam perang melawan Rusia pada 1905 memberikan dampak yang meluas terhadap perjuangan nasional bangsa-bangsa di Asia. Bangsa-bangsa di Asia yang tengah melakukan pergerakan nasional seperti di Turki, Mesir, India, Filipina dan Indonesia mendapatkan dampak psikologis terhadap semangat perjuangan nasionalisme. Mereka bangsa-bangsa Asia memiliki optimisme bahwa bangsa Asia dapat mengalahkan bangsa Eropa yang telah ratusan tahun menancapkan kolonialisme dan Imperialisme.

Pan-Islamisme yang berkembang di Mesir dan Timur tengah memberikan pemahaman ideologi Islam sebagai semangat perjuangan orang-orang Islam di Malaya dan Indonesia untuk menyatukan kekuatan sesama Islam dengan melakukan perjuangan dengan semangat jihat mengusir penjajahan.

Di Indonesia elite perjuangan yang tergabung dalam kelompok-kelompok perjuangan menyiapkan konsep perjuangan nasional. 

Pergerakan Nasional Sebagai Langkah Kebangkitan Nasional Indonesia
Pelajar STOVIA penggagas Budi Otomo (collection of geheimniser)
Mereka yang berjuang dengan berbagai keyakianan dan pemahaman politik seperti demokrasi, liberalisme, dan sosialisme untuk bersatu membentuk suatu identitas berdasarkan perjuangan nasional. Nasionalisme dikalangan pemuda yang kemudian berkembang dengan pendirian Organisasi Budi Utomo 1908 sebagai permulaan perjuangan nasional, meskipun banyak kalangan yang menilai bahwa Budi Utomo tidak terbuka secara umum dan hanya untuk golongan priyayi, namun sejarah nasional Indonesia mencatatkan bahwa pergerakan nasional diawali pada 1908 hingga akhirnya mencapai suatu konsesus pergerakan pemuda nasional yang berujung pada dicetuskannya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Referensi :
  • Dr. Muhamad Hisyam, Prof. Dr. I Ketut Ardhana.2008. Indonesia Dalam Arus Sejarah Jilid 5. PT Ichtiar Baru van Hoeve
  • Sartono Kartodirdjo. 1993. Pengantar Sejarah Indonesia Baru : Sejarah Pergerakan Nasional Jilid 2 "Dari Kolonialisme Sampai Nasionalisme". Gramedia Pustaka Utama

Saturday, December 31, 2016

Politik Etis 1899-1901 dan Pelaksanannya

Pada rentan tahun 1899-1901 di Negeri Belanda terdapat isu yang berkembang di parlemen Belanda, pada saat itu parlemen dikuasai oleh golongan Humanis. Isu ini membahas mengenai evaluasi kebijakan Pintu Terbuka (open door policy) yang dilakukan di Hindia Belanda. Parlemen mengkritisi mengenasi kebijakan Pemerintah Hindia Belanda diseberang lautan yang dinilai menyengsarakan rakyat koloni dan tidak sejalan dengan tujuan kebijakan perkebunan swasta yang diterapkan sejak tahun 1800.

Friday, September 23, 2016

Kalau Saya Seorang Belanda (Als ik eens Nederlander was)



Pada tahun 1913, pemerintah kolonial Belanda berencana membuat pesta besar-besaran untuk memperingati lepasnya ‘negeri kincir angin’ itu dari penjajahan Perancis ( Hari Kemerdekaan ke 100 tahun Belanda dari Prancis ). Ironisnya, pesta besar itu akan digelar di Hindia-Belanda, negeri yang masih dijajah oleh Belanda. Lebih parah lagi, untuk membiayai pesta itu, pemerintah kolonial mau menarik ‘uang’ dari Rakyat.

Menanggapi rencana itu, Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara menulis karangan berjudul “Als ik een Nederlander was" (Seandainya saya seorang Belanda). Tulisan itu dimuat surat kabar  De Express pada 13 Juni 1913. Tulisan itu sangat tajam mengeritik dan menyindir kolonialis Belanda. 

Lantaran tulisan itulah Soewardi ditangkap dan dibuang ke negeri Belanda bersama dua serangkai lainnya, Cipto Mangunkusumo dan Setiabudi Danudirdja/Dowes Deker. Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).

Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. 

Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Demikian ini adalah artikel berjudul Als ik een Nederlander was (Seandainya saya seorang Belanda) yang ditulis oleh Soewardi tersebut:

Foto: Getty Images


Kalau Saya Seorang Belanda (Als ik eens Nederlander was)

Oleh: Soewardi Soerjaningrat

Dalam berbagai karangan di surat-surat kabar banyak sekali dipropandakan untuk mengadakan suatu pesta besar disini, di Hindia: pesta perayaan 100 tahun kemerdekaan Nederland. Penduduk negeri ini tidak boleh lengah saja, bahwa pada bulan November yang akan datang genaplah seratus tahun, bahwa Nederland menjadi suatu kerajaan dan tanah Nederland menjadi suatu negara yang merdeka, sekalipun dengan begitu ia di belakang sekali dalam barisan negara-negara.

Ditinjau dari segi yang patut sudah sepantasnya kejadian nasional yang bersejarah itu dirayakan dengan sebuah pesta. Bukankah itu menandakan kecintaan orang Belanda kepada tanah airnya, tanda setianya kepada tanah yang pernah dihiasi oleh nenek-moyangnya dengan perbuatan-perbuatan pahlawan? perayaan itu akan menggambarkan perasaan bangga mereka , bahw seratus tahun yang lalu Nederland berhasil melemparkan tekanan penjajahan dari bahunya dan ia sendiri menjadi suatu bangsa yang merdeka.

Saya mudah menangkap rasa gembira yang keluar dari hati patriot Belanda masa sekarang, yang dapat merayakan jubileum semacam itu. Karena saya juga seorang patriot, dan seperti juga dengan orang Belanda yang benar-benar mencintai tanah airnya, begitu pula saya cinta pada tanah air saya, lebih dari yang dapat saya katakan.

Alangkah gembiranya, alangkah senangnya, dapat merayakan suatu hari nasional yang begitu besar artinya. Saya ingin, dapat kiranya sebentar menjadi seorang Belanda, bukan seorang “Staatsblad-Nederlander”, tetapi seorang putra Nederland Besar yang tulen, sama sekali bebas dari cacat-cacat asing. Alangkah gembiranya aku, apabila nanti di bulan November datang hari yang sebegitu lama ditunggu-tunggu., hari perayaan kemerdekaan. Kegembiraan hatiku akan meluap-luap melihat bendera Belanda berkibar sesenang-senangnya dengan secarik Oranje di atasnya. Suaraku akan parau ikut serta menyanyikan lagu “wilhelmus” dan “wien Neerlands Bloed”, apabila nanti musik mulai berbunyi. 

Saya akan menjadi sombong karena segala pernyataan itu, saya akan memuji Tuhan dalam gereja Kristen bagi segala kebaikan-Nya, saya akan meminta, memohon ke langit yang tinggi supaya Nederland kekal kekuasaannya, juga ditanah jajahan ini, supaya mungkin bagi kita mempertahankan kebesaran kita dengan kekuasaan yang besar ini di belakang kita. Saya akan meminta bantuan uang kepada semua orang Belanda di Insulinda ini, bukan saja untuk perayaan, tetapi juga untuk biaya rencana kapal perang Clijn, yang berusaha segiat-giatnya guna mempertahankan kemerdekaan Nederland, saya akan……ya saya tak tahu lagi apa yang akan saya perbuat seterusnya, jika saya seorang Belanda, karena saya akan sanggup berbuat apa saja, dugaan saya.

Tetapi tidak, sungguh tidak! Apabila saya seorang Belanda, saya tidak akan sanggup berbuat segala-galanya. memang saya berkehendak supaya pesta kemerdekaan yang akan datang itu diorganisasi seluas-seluasnya, tetapi saya tidak mau kalau bumiputra negeri ini ikut serta merayakan, saya akan melarang mereka ikut riang gembira pada pesta-pesta itu, malahan saya ingin sekali memagari tempat-tempat keramaian itu, supaya tak ada seorang bumiputra pun dapat melihat kegembiraan kita yang meluap-luap pada peringatan hari kemerdekaan itu.

Di situlah terletak, menurut saya, suatu hal yang tidak pantas, satu perbuatan yang tidak tahu malu, tidak senonoh, apabila kita—saya masih seorang Belanda umpamanya–orang-orang bumiputra disuruh ikut bergembira dalam merayakan kemerdekaan kita. Kita, pertama, akan melukai perasaan kehormatan mereka, karena kita disini di atas tanah air mereka yang kita kuasai memperingati kemerdekaan kita sendiri. Kita sekarang beriang-riang gembira, karena seratus tahun yang lalu kita terlepas dari kekuasaan asing; dan semuanya ini akan terjadi di bawah pandangan mereka yang masih berdiri di bawah kekuasaan kita. 

Apakah kita tidak harus memikirkan, bahwa budak-budak yang sial itu juga ingin mencapai suatu ketika, yang mereka seperti kita sekarang dapat mengadakan suatu pesta yang serupa? Atau apakah kita menyangka, bahwa kita dengan politik kita yang lama terus-menerus menindas semangat yang hidup sudah membunuh segala perasaan kemanusiaan dalam jiwa bumputera? Kalau begitu kita akan menipu diri sendiri, karena bangsa-bangsa yang sebiadab-biadabnya pun menyumpahi tiap-tiap bentuk penjajahan. Apabila saya seorang belanda, saya tidak akan mengadakan pesta kemerdekaan dalam suatu negeri sedangkan kita menahan kemerdekaan bangsanya.

Sejalan dengan pendapat ini bukan saja tidak adil melainkan juga tidak pantas apabila bumiputra disuruh menyumbangkan uang untuk keperluan dana pesta itu. Sudahlah mereka dihina dengan maksud mengadakan perayaan kemerdekaan Nederland itu, sekarang dompet mereka dikosongkan pula. Itulah suatu penghinaan moril dan pemerasan uang!

Apakah yang akan dicapai dengan pesta perayaan itu disini, di Hindia? Apabila itu maksudnya menyatakan kegembiraan nasional maka tidak bijaksana perayaan itu diadakan disini, di negeri yang terjajah. Orang akan menyakiti hati rakyatnya. Atau apakah dengan itu maksudnya mempertunjukkan kebesaran dalam arti politik? Terutama dalam masa sekarang ini, masa bangsa Hindia sedang membentuk diri sendiri dan masih berada pada permulaan bangun tidur, adalah suatu kesalahan sikap memberi contoh kepada bangsa itu, bagaimana kiranya ia harus merayakan kemerdekaannya. 

Orang menusuk dengan cara begitu hawa nafsunya, dengan tidak sengaja dibangunkan perasaan kemerdekaannya, harapannya akan kemerdekaan yang akan datang dengan tidak sengaja disorakkan kepada bangsa itu: “ Kau manusia lihatlah betapa kami merayakan kemerdekaan kami; cintailah kemerdekaan, karena senang sekali perasaan menjadi suatu bangsa yang merdeka, bebas dari segala penjajahan.”

Apabila bulan November tahun ini telah lewat, kaum penjajah Belanda telah membuat suatu percobaan politik yang berbahaya. Resiko ada pada mereka. Saya tak mau memikul tanggung jawab itu, sekalipun saya seorang Belanda.

Kalau saya sorang Belanda, sekarang pada saat ini, saya akan memprotes tentang maksud perayaan itu. Saya akan menulis dalam segala surat kabar bahwa itu salah, saya akan menasihati sesama kaum penjajah, bahwa berbahaya di waktu sekarang mengadakan pesta kemerdekaan, saya akan mendesak kepada segala orang Belanda supaya jangan melukai perasaan bangsa Hindia Belanda yang mulai bangun dan sadar itu agar supaya ia jangan sampai naik darah. Sungguh, saya akan memprotes dengan segala tenaga yang ada pada saya.

Tetapi………saya ini bukan orang Belanda, saya cuma putra negeri tropika ini yang berkulit warna sawo, seorang bumiputra jajahan Belanda ini, dan karena itu saya tidakan akan memprotes.

Karena, kalau saya memprotes, orang akan marah pada saya. Saya akan dipersalahkan menghasut bangsa Belanda, yang memerintah disini di negeri saya dan menjauhkan mereka itu dari saya. Dan itu saya tidak mau, itu tidak boleh saya perbuat. Apabila saya orang Belanda, bukankah saya tidak mau menghina bangsa bumiputra?

Juga orang akan menuduh saya kurang ajar terhadap Sri Ratu, raja kita yang dihormati, dan itu tidak dapat diampuni, sebab saya rakyatnya yang selalu harus setia kepada beliau.

Dan karena itu saya tidak memprotes!

Sebaliknya, saya akan ikut merayakan.

Apabila nanti diadakan pemungutan biaya, saya akan memberi sumbangan, sekalipun karena itu saya akan mengurangi belanja rumah tangga sampai separo. Kewajiban saya sebagai seorang bumiputra jajahan Belanda ini, ialah untuk ikut serta menyemarakkan hari kemerdekaan Nederland, negeri tuan kita. Saya akan meminta kepada oorang-orang sebangsa saya, orang-orang sesama rakyat kerajaan Nederland, untuk ikut serta dalam pesta itu, sebab sekalipun pesta ini semata-mata berarti bagi Nederland, kita akan mendapat di situ kesempatan yang sebaik-baiknya untuk menyatakan kesetiaan kita dan kehormatan kita kepada Nederland. Dengan begitu kita akan mengadakan “demonstrasi kesetiaan.” Syukurlah, saya bukan seorang Belanda.

Sekarang, lepas dari segala ironi.

Seperti telah saya katakan pada permulaan karangan ini, perayaan 100 tahun kemerdekaan Nederland tersebut menunjukkan besarnya kesetiaan kepada tanah air, dalam hal ini dari pihak orang Belanda. Bolehlah mereka gembira pada perayaan nasional mereka itu. Yang menjadi keberatan bagi saya dan banyak lagi orang yang setanah air dengan saya ialah terutama bahwa sekarang bumiputra lagi yang akan membayar bagi suatu hal yang bukan hal mereka. 

Apakah yang akan dibawakan oleh pesta yang kami ikuti menyelenggarakan? Tidak sedikit juga, kecuali peringatan bagi kami, bahwa kami bukan suatu bangsa yang merdeka dan bahwa “Nederland tidak akan menganugerahi kami dengan kemerdekaan”– pendek kata tidak selama Tuan Idenburg menjadi walinegara, dan lagi–ganjil benar–ajaran yang kita peroleh dari pesta-pesta itu, bahwa merupakan kewajiban bagi tiap-tiap orang untuk mewakili bangsanya sebaik-baiknya pada hari perayaan kemerdekaan.

Saya pun lebih setuju dengan pendapat yang baru-baru ini untuk pertama kali dibentangkan dalam surat kabar bumiputra “Kaoem Moeda” dan dalam “ De Express” untuk membentuk di Bandung, tempat datangnya bermula cita-cita mengadakan perayaan dan tempat duduk pusat komite, suatu komisi terdiri dari beberapa orang bumiputra yang terpelajar; pada hari perayaan itu badan tersebut akan mengirimkan kawat ucapan selamat kepada Ratu, yang di dalamnya juga dianjurkan mencabut pasal 111 R.R dan segera mengadakan suatu Parlemen Hindia.

Hasil dari permohonan itu–apalagi bagian yang kemudian–saya tidak perbincangkan disini; artinya itu saja sudah merupakan suatu nilai yang besar bagi kita. Bukankahh permintaan itu saja sudah mengandung suatu proses, bahwa kita tidak diberi hak dan tetap tidak diperkenankan untuk membicarakan hal-hal politik, bahwa dengan perkataan lain kita dalam daerah ini tidak diberi kebebasan sama sekali? Suatu bangsa yang cinta merdeka seperti bangsa Belanda yang sekarang akan merayakan kemerdekaannya, tentu akan mengabulkan permintaan itu.

Tentang mengadakan parlemen, di situ tersimpul sejelas-jelasnya keinginan yang besar untuk tidak boleh tidak ikut serta mengeluarkan suara. Itu sangat perlu. Dimana ternyata sejelas-jelasnya dari cara bangunanya bangsa Hindia, bahwa emansipasi–proses kemerdekaan– itu cepat sekali jalannya, disitu dapat dipikirkan kemungkinan bahwa bangsa ini, yang sekarang terjajah, suatu masa akan lebih besar dari tuannya. 

Bagaimana nanti, apabila 40 juta manusia yang benar-benar bangun menuntut pertanggungjawaban kepada seratus orang yang duduk dalam De tweede kamer yang disebut Dewan Perwakilan Rakyat? Apakah orang pada akhirnya akan menyerah, kalau krisis sudah ada?

Rasanya janggal terdengar, bahwa komite tersebut akan meminta suatu parlemen. Selagi pemerintah hanya perlahan-lahan bekerja untuk mengadakan suatu perwakilan kolonial, di mana paling bagus beberapa orang saja diangkat oleh pemerintah sebagai apa yang dikatakan wakil kita di dalam apa yang disebut koloniale raad itu–lihat misalnya gemeenteraden–disana datang komite berlari-lari kencang dengan suatu usul yang hebat, tidak lebih dan tidak kurang suatu Parlemen Hindia.

Tampaknya maksud komite hanya memajukan protes di dalam suatu permintaan yang sekarang tidak dapat diperkenankan, dan tidak mengharapkan hasilnya. Ajaib memang adanya, bahwa tepat pada hari orang Belanda merayakan kemerdekaannya, komite datang kepada Ratu dengan permohonan untuk melenyapkan kekuasaan absolut Belanda atas suatu bangsa yang 40 juta orang jumlahnya.

Lihatlah, sekarang sudah, betapa pengaruh cita-cita perayaan itu.

Tidak, sekali-kali tidak, kalau saya seorang Belanda, saya tidak akan merayakan jubileum seperti itu disini dalam suatu negeri yang kita jajah. Beri dahulu bangsa yang terjajah itu kemerdekaannya, barulah merayakan kemerdekaan itu sendiri.