Showing posts with label Soekarno. Show all posts
Showing posts with label Soekarno. Show all posts

Tuesday, April 18, 2017

Inilah Salam Nasional Bangsa Indonesia


“Tangan kanan naik setinggi telinga. Jari lima bersatu. Apakah artinya itu? Negara kita telah merdeka. Suara mengguntur mengucapkan Salam Nasional: Merdeka!” 

Kutipan tersebut merupakan tata cara bagaimana melakukan Salam Nasional, "Salam Merdeka." Salam Merdeka sendiri kini jarang terdengar dalam aktifitas keseharian masyarakat Indonesia yang kalut dalam era globalisasi dunia. Salam Merdeka kini tak ubahnya pekik yang kini identik dengan salam partai-partai politik nasionalis.

Salam "Merdeka" sendiri merupakan Salam Nasional bangsa Indonesia setelah keberhasilan bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Bukan hanya sekedar salam, Salam Merdeka ini sudah ditetapkan sebagai Salam Nasional sesuai dengan putusan Maklumat Pemerintah Republik Indonesia tanggal 31 Agustus 1945, meskipun demikian Salam Nasional ini secara resmi berlaku sejak 1 September 1945.
Bung Karno mengucap "Salam Merdeka" kepada rakyat. Foto: Istimewa
Bung Karno lah yang mempopulerkan "Salam Merdeka" ini. Dalam perjalanannya menyampaikan berita kemerdekaan Indonesia, Bung Karno kerap kali membakar semangat rakyat dengan pekik "Merdeka!" Selain semboyan seperti “Sekali Merdeka Tetap Merdeka” atau “Merdeka atau Mati.”

Pada 4 September 1955 di Surabaya, Bung Karno menjelaskan filosofi dibalik Salam Nasional itu. 

"Pekik merdeka, saudara-saudara, adalah “pekik pengikat”. Dan bukan saja pekik pengikat, melainkan adalah cetusan daripada bangsa yang berkuasa sendiri, dengan tiada ikatan imprealisme dengan tiada ikatan penjajahan sedikit pun. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, terutama sekali fase revolusi nasional kita sekarang ini, fase revolusi nasional belum selesai, jangan lupa kepada pekik merdeka! Tiap-tiap kali kita berjumpa satu sama lain, pekikkanlah pekik “merdeka!"
Bung Karno sedang mengajarkan Salam Nasional kepada anak-anak, Yogyakarta, 1947. Foto: Istimewa
Dalam autobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Presiden Soekarno menjelaskan ketetapan Salam Merdeka tersebut. "Aku menetapkan supaya setiap warga negara Republik memberi salam kepada orang lain dengan mengangkat tangan, membuka lebar kelima jarinya sebagai pencerminan lima dasar negara dan meneriakkan, merdeka!"

Bung Karno mengaku terinspirasi dari Nabi Muhammad. "Sebagaimana Nabi Besar Muhammad s.a.w, memperkenalkan salam untuk mempersatukan umatnya, kami pun menciptakan satu salam kebangsaan bagi bangsa Indonesia," jelas Bung Karno dalam autobiografinya.

Pasca kejatuhan Presiden Soekarno tahun 1966 dan berkuasanya rezim Orde Baru Soeharto, Salam Nasional ini tidak pernah diucapkan lagi. Proses depolitisasi dan desukarnoisme menyebabkan segala hal yang berhubungan dengan Soekarno terlupakan dan ditutupi oleh Orde Baru. Kini masyarakat umum menganggap bahwa Salam Nasional ini identik dengan slogan partai politik PNI, PDIP serta partai nasionalis lainnya.

Akan tetapi meskipun tidak dipraktekan lagi pada masa Orde Baru, Salam Nasional ini masih sah secara yuridis. Hal ini berkaitan karena tidak adanya presiden Indonesia setelah Soekarno yang mencabut Maklumat Pemerintah Republik Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 tersebut.

Untuk memperkenalkan salam merdeka ke seluruh penjuru tanah air, pemerintah pernah membuat film dokumenter. Filmnya dibuat oleh sineas Kotot Soekardi.

Berikut cuplikan videonya :


Wednesday, March 22, 2017

Mengapa Turki Memisahkan Agama dan Negara Menurut Bung Karno


"Tulisan Bung Karno ini ditulis sebelumnya di Panji Islam Tahun 1940. Dimuat kembali dalam buku Soekarno: Islam Sontoloyo terbitan SEGA ARSY (2008)."

Artikel saya yang sekarang ini haruslah dianggap oleh pembaca sebagai bahan-pertimbangan sahaja ditentang soal baik-buruknya, benar­-salahnya, agama dipisahkan dari negara. Dalam “Panji Islam” no. 13, bagian ke-III dari saya punya uraian tentang “Memudakan Pengertian Islam”, saya telah ajak pembaca-pembaca meninjau sebentar ke negeri Turki itu. Sesudah P.I. no. 13 itu melayang kekalangan publik, maka saya dari sana-sini, antaranya dari seorang sahabat karib di kota Jakarta, saya mendapat permintaan akan menulis lebih banyak tentang soal agama dan negara di negeri Turki itu dan tulisan saya yang sekarang ini haruslah dianggap sebagai memenuhi permintaan-permintaan itu. Sudah barang tentu saya punya sumbangan bahan ini hanya mengenai pokok-pokoknya sahaja, sebab saya musti ingat, bahwa ruangan P.I. yang disediakan buat saya adalah terbatas, dan… saya tak boleh menjemukan pembaca.

Memang sebenarnya siapa yang ingin mengetahui hal ini lebih luas, harus­lah ia membaca buku-buku tentang Turki-modern itu banyak-banyak: pidato-pidato di majelis perwakilan, pidato-pidatonya Kamal Ataturk, biographinya-biographinya Kamal Ataturk, kitab-kitab tulisannya Halide Edib Hanoum, tulisan-tulisannya Zia Keuk Alp, bukunya Stephen Ronart “Turkey today”, bukunya Klinghardt “Angora Konstantinoper, Frances Woodsman “Moslem women enter a new world”, Harold Armstrong “Tur­key in travail”, dan lain-lain sebagainya. Pada penutupnya kitab Halide Edib Hanoum “Turkey faces west” adalah disebutkan nama 41 buah kitab, yang oleh beliau sendiri sangat dipujikan membacanya.

Hanya dengan baca banyak-banyak kitab yang tersebut di atas inilah kita, yang tidak ada kesempatan datang sendiri di negeri Turki buat menga­dakan penyelidikan yang dalam, dapat menyusun satu “gambar” yang adil tentang hal-hal yang mengenai agama dan negara di sana itu. Sayang saya sendiri tiada cukup syarat-syarat untuk membeli semua kitab-kitab yang terpenting, dan perpustakaanpun di Bengkulu tidak ada. Siapakah di antara pemuda-pemuda Indonesia di Jakarta, yang saban hari bisa ke­luar masuk perpustakaan di Gedung Gajah itu, suka memperkaya per­pustakaan Indonesia dengan sebuah verhandeling obyektif tentang hal ini?

Sebab, sebenarnya, orang yang tidak datang menyelidiki sendiri keadaan di Turki itu, atau tidak membuat studi sendiri yang luas dan dalam dari kitab-kitab yang mengenai Turki itu, tidak mempunyailah hak untuk membicarakan soal Turki itu di muka umum. Dan lebih dari itu: ia tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan vonnis atas negeri Turki itu di muka umum. Saya sendiripun, yang di dalam prive-bibliotheek saya, kalau saya jumlah-jumlahkan, tidak ada lebih dari duapuluh kitab yang dapat mem­beli bahan kepada saya atas Turki-modern itu, merasa juga tidak mempunyai hak untuk mengemukakan saya punya pendapat tentang Turki­ modern itu. Apa yang saya sajikan di sini kepada pembaca, oleh karena­nya, tali lebihlah daripada “sumbangan materiaal”, “sumbangan bahan untuk difikirkan” sahaja.

Sebab, – o, begitu mudah orang jatuh kepada fitnah terhadap ke­pada Turki-muda itu. Orang maki-makikan dia, orang kutuk-kutukkan dia, orang tuduh-tuduhkan dia barang yang bukan-bukan, zonder (bahasa belanda: "tanpa") melihat keadaan dengan mata sendiri, zonder mempelajari lebih dulu kitab-kitab yang beraneka warna, zonder pengetahuan dari segala keadaan-keadaan di Turki-muda itu. Orang mengatakan ia menghapuskan agama, padahal ia tidak menghapuskan agama. Orang mengatakan pemimpin-pemimpin Turki-muda semuanya benci, mereka tak sedia mengorbankan jiwanya buat membela kepentingan agama.

Orang mengatakan Islam di Turki sekarang semakin mati, padahal beberapa penyelidik yang obyektif, seperti Captain Armstrong, mengatakan, bahwa Islam di Turki sekarang menun­jukkan beberapa “sifat-sifat yang segar”.

Orang mengatakan bahwa Turki sekarang anti Islam, padahal seorang seperti Frances Woodsman, yang telah menyelidiki Turki sekarang itu, berkata: “Turki modern adalah anti-kolot, anti soal-soal lahir dalam hal ibadat, tetapi tidak anti agama. Islam sebagai kepercayaan persoon tidaklah dihapuskan, sembahyang-sembahyang di mesjid tidak diberhentikan, aturan-aturan agamapun tidak dihapuskan.”

Orang mengatakan bahwa Turki ini tidak mau menyokong agama, karena memisahkan agama itu dari sokongannya negara, padahal Halide Edib Hanoum, sebagai dulu sudah pernah saya sitir, adalah berkata bahwa agama itu perlu dimer­dekakan dari asuhannya negara, supaya menjadi subur. “Kalau Islam terancam bahaya kehilangan pengaruhnya di atas rakyat Turki, maka itu bukanlah karena tidak diurus oleh pemerintah, tetapi ialah justru karena diurus oleh pemerintah. Ummat Islam terikat kaki-tangannya dengan rantai kepada politiknya pemerintah. Hak ini adalah satu halangan yang besar sekali buat kesuburan Islam di Turki. Dan bukan sahaja di Turki, tetapi di mana-mana sahaja, di mana pemerintah campur tangan di dalam urusan agama, di situ menjadilah ia satu halangan-besar yang tak dapat dinyahkan.”

Begitu pula saya sudah mensitir perkataan menteri kehakiman Mahmud Essad Bey, yang mengatakan agama itu perlu dimerdekakan dari belenggunya pemerintah, agar menjadi subur: “Manakala agama dipakai buat memerintah, ia selalu dipakai sebagai alat penghukum di tangannya raja-raja, orang-orang zalim dan orang-orang tangan besi. Manakala zaman modern memisahkan urusan dunia daripada urusan spirituil, maka ia adalah menyelamatkan dunia dari banyak kebencanaan, dan ia mem­berikan kepada agama itu satu singgasana yang maha-kuat di dalam :kalbu­nya kaum yang percaya.” Dan bukan lain dari Kamal Ataturk sendirilah yang berkata:

“Saya merdekakan Islam dari ikatannya negara, agar supaya , agama Islam bukan tinggal agama memutarkan tasbih di dalam mesjid saha­ja, tetapi menjadilah satu gerakan yang membawa kepada per­joangan.”

Ya, memang barangkali sudah bolehkah dikatakan secara adil, bahwa maksud-maksud pemimpin-pemimpin Turki-muda itu, bukanlah maksud-­maksud-jahat akan menindas agama Islam, merugikan agama Islam, mendurhakai agama Islam, – tetapi ialah justru akan menyuburkan agama Islam itu, atau setidak-tidaknya memerdekakan agama Islam itu dari ikatan-ikatan yang menghalangi ia punya kesuburan, yakni ikatan‑ikatannya negara, ikatan-ikatannya pemerintah, ikatan-ikatannya pemegang kekuasaan yang zalim dan sempit fikiran.

Dan sebaliknyapun, maka ke­merdekaan agama dari ikatan negara itu berarti juga kemerdekaan negara lari ikatan anggapan-anggapan agama yang jumud, yakni kemerdekaan negara dari hukum-hukum tradisi dan faham-faham-Islam-kolot yang se­5enarnya bertentangan dengan jiwanya Islam sejati, tetapi nyata selalu menjadi rintangan bagi gerak-geriknya negara ke arah kemajuan dan kemoderenan. Islam dipisahkan dari negara, agar supaja Islam menjadi merdeka, dan negarapun menjadi merdeka. Agar supaya Islam berjalan sendiri. Agar supaya Islam subur, dan negarapun subur pula.

Pada saat yang mati-hidupnya bangsa Turki tergantung kepada kekuatan negara, maka Kamal Ataturk tidak mau sesuatu tindakan negara yang amat perlu, tidak dapat dijalankan oleh karena ulama-ulama atau Sheik-ul-Islam mengatakan makruh, atau haram, atau bagaimanapun juga. Pada saat yang bangsa Turki itu hendak dihantam hancur-lebur) oleh musuh-musuhnya, manakala ia tidak mempunyai alat kenegaraan yang maha-kuat dan senjata yang maha-modern, maka ia tidak mau ia punya usaha “mengharimaukan” negara itu dihalang-halangi oleh faham-faham Islam, pada hal sebenarnya bukan faham-Islam.

Pada saat yang mati-­hidupnya bangsa Turki itu tergantung kepada satu benang sutera, tergan­tung kepada cepatnya usaha memperkokohkan dan mempersenjatakan negara, maka ia tidak mau mendapat pengalaman seperti pengalaman Ibnu Saud, yang tidak dapat mendirikan tiang radio atau mengadakan elek­trifikasi, karena rintangan-rintangan kaum jumud, yang selalu mencap makruh kepada , semua barang-barang-dunia yang baru, mencap haram kepada semua barang-barang yang belum tentu haram.

“Saya merdekakan Islam dari negara, agar Islam bisa kuat, dan saya merdekakan negara dari agama, agar negara bisa kuat”, – inilah di dalam satu-dua patah kata sahaja sarinya tindakan Kamal Ataturk itu. Sebagai saya katakan di dalam P.I. no. 13 itu, maka sebenarnya hanya sejarah sa­hajalah di kelak kemudian hari dapat membuktikan benar atau salahnya tindakan Kamal Ataturk itu.

Kita boleh memperdebatkan hal ini sampai merah kita punya muka, kita boleh mendatangkan alasan satu gudang banyaknya bahwa Kamal Ataturk menyimpang dari Islam atau tidak me­nyimpang dari Islam, kita boleh bongkar semua sejarah Islam buat mem­buktikan kedurhakaan Kamal atau kebijaksanaan Kamal, boleh pro, boleh kontra, boleh mengutuk, boleh memuji, boleh marah, boleh ber­sukacita,- tetapi hanya sejarahlah sahaja yang nanti dapat menjadi hakim yang sebenar-benarnya di dalam soal ini. Tidak bedanya hal ini dengan misalnya soal siapakah yang benar: Stalin-kah atau Trotsky-kah?

Stalin-kah, yang beranggapan bahwa buat keperluan komunisme-sedunia perlu diperkokoh lebih dulu satu-satunya benteng komunisme yang telah ada, yakni Sovyet Rusia? Ataukah Trotsky, yang mengatakan, bahwa buat keperluan komunisme-sedunia itu, perlu dari sekarang dikerjakan dan diikhtiarkan revolusi dunia. Di dalam hal Stalin-Trotsky inipun kaum komunis boleh berdebat-debatan satu sama lain sampai pecah mereka punya urat-urat-muka, tetapi hanya sejarahlah nanti yang dengan fakta­-fakta dapat menunjukkan, siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang durhaka, siapa yang setia kepada warisan Leninisme.

Selengkapnya dapat dibaca di buku Soekarno: Islam Sontoloyo terbitan SEGA ARSY (2008)

Saturday, January 7, 2017

Perceraian Soekarno dan Fatmawati

Perpisahan Soekarno dan Fatmawati

Kisah cinta Bung Karno – Fatmawati begitu dramatis. Usai menjalani pengasingan di Bengkulu, Bung Karno kembali ke Jakarta. Akan tetapi, sejatinya, hati Sukarno tertinggal di sana. Hati Sukarno tertambat pada seorang gadis belia bernama Fatmawati. Setelah melalui lika-liku pertengkaran dahsyat yang berakhir dengan kesepakatan perceraian Bung Karno – Inggit Ganarsih, akhirnya berhasil pula Sukarno menikahi Fatmawati, melalui pernikahan “kawat” yang unik (lihat postingan terdahulu).

Perjalanan sepasang merpati penuh cinta ini, akhirnya dikaruniai lima orang putra-putri: Guntur, Mega, Rachma, Sukma, dan Guruh. Belum genap mereka mengarungi bahtera rumah tangga, Sukarno tak kuasa menahan gejolak cintanya kepada wanita lain bernama Hartini.  Inilah pangkal sebab terjadinya perpisahan yang dramatis antara Sukarno dan Fatmawati.

Bagaimana Bung Karno menjelaskan ihwal perpisahan itu? Adalah sebuah misteri, sampai ketika salah seorang ajudan dekatnya, Bambang Widjanarko, pada suatu sore di tahun 1962, memberanikan diri mempertanyakan hal itu. Bambang adalah salah satu ajudan yang diketahui sangat dekat hubungannya dengan putra-putri Presiden. Demi melihat hubungan anak-anak dengan ayahnya, tanpa seorang ibu di antara mereka, Bambang sering merasa nelangsa.

“Ada apa Mbang,” Bung Karno bertanya.

“Mohon Bapak jangan marah, saya ingin membicarakan adik-adik tercinta, putra-putri Bapak.”

“Ya, Mbang, ada apa dengan anak-anak?”

“Begini Pak, sudah dua tahun saya menjadi ajudan Bapak. Setiap hari saya melihat dan bergaul dengan putra-putri Bapak, saya juga amat menyayangi dan mencintai mereka. Mungkin segala keperluan lahiriah sudah cukup mereka peroleh, tapi menurut saya ada sesuatu yang amat mereka butuhkan, mereka dambakan siang-malam, yakni adanya seorang ibu yang mendampingi dan mengasihi mereka siang-malam. Karena itu, bila Bapak berkenan demi kebahagiaan anak-anak, apakah tidak lebih baik bila Bapak meminta Ibu Fat kembali ke Istana?

Wajah Bung Karno seketika berubah menjadi kelam, dan matanya tajam menatap Bambang, ajudannya. Tentu saja, hal itu membuat Bambang kecut, campur aduk antara takut dan menyesal telah lancang mencampuri urusan rumah tangga Bung Karno. Rumah tangga Presiden, Panglima Tertinggi, Pemimpin Besar Revolusi.

Yang terjadi selanjutnya adalah, Bung Karno diam barang semenit-dua. Setelah itu, senyum tipis tersungging di bibir Bung Karno seraya berkata, “Bambang, jangan takut, aku tidak marah kepadamu. Mari duduk, akan aku ceritakan kepadamu.”

BK-guntur-megaDengan kaki lemas dan menahan malu, Bambang akhirnya duduk mendengar uraian Bung Karno….. “Mbang, pertama percayalah bahwa aku tidak marah kepadamu. Aku mengerti betul maksudmu didasari kehendak baik demi anak-anakku sendiri yang juga kau sayangi. Engkau seorang muda yang penuh idealisme dan selalu berusaha mencapai itu menurut norma-norma yang kau pelajari dan kau ketahui. Itu baik, tetap mungkin masih banyak juga yang belum kau mengerti.”

“Bambang… menurut hukum agama Islam, seorang istri mempunyai kewajiban antara lain harus mengikuti suami dan berada di rumah suami. Istana Merdeka ini adalah rumahku, aku tidak mempunyai rumah lain, dan aku tidak pernah mengusir Ibu Fat dari Istana ini. Ibu Fat sendiri yang pergi meninggalkan rumahku, rumah suaminya. Aku juga tidak pernah melarang Ibu Fat untuk datang atau kembali ke sini, atau melarang menengok serta berada dengan anak-anak. Ibu Fat bebas untuk datang dan berada di Istana ini…. Mbang…, adalah kurang tepat bila aku meminta Ibu Fat untuk kembali, aku tidak pernah mengusirnya.”

Selanjutnya, Bung Karno juga menceritakan saat-saat indah mereka di Bengkulu, zaman penjajahan Jepang. Juga saat-saat kebersamaan di Yogyakarta, dan sebagainya. Banyak hal yang telah terjadi di antara keduanya, dan itu menyadarkan siapa pun tentang betapa kompleksnya kehidupan manusia. Dan itu semua makin membuat Bambang tertunduk makin dalam. Ia merasa malu telah berani memberi nasihat Bung Karno tanpa berpikir panjang.

Akhirnya, BK menutp uraiannya dengan berkata, “Bambang, biarlah orang-orang, termasuk anak-anakku, menyalahkan diriku; aku toh seorang laki-laki. Tetapi anak-anakku wajib mencintai dan terus menghormati serta menghargai ibunya. Semua kesalahan biar ada padaku. Dan, Bambang, terima kasih atas perhatianmu pada anak-anakku. Merskipun bukan merupakan tugas pokok, tolong… turutlah juga mengawasi anak-anakku itu.”

Mendengar uraian penutup Bung Karno, tak terasa  air mata mengalir pelan di pipi Bambang Widjanarko. Seketika, Bambang berdiri, memberi hormat dan meninggalkan Bung Karno sendiri dalam kamarnya. Sejak itu, hati kecilnya bersumpah, ia tidak akan pernah lagi mencampuri urusan rumah tangga Bung Karno.- Harian Sejarah

Perpisahan Soekarno dan Fatmawati
(Foto: Roso Daras Blog)

Pertama kali dipublikasikan pada 15 Juni 20019 oleh Bung Roso Daras
Bung Roso Sendiri adalah seorang Jurnalis ternama di Negeri ini, Beliau sudah banyak menulis berbagai buku-buku dan karya-karya yang lainnya, salah satunya adalah buku tentang mantan Presiden Sukarno. Salah satu bukunya yang paling banyak diburu oleh Soekarnois adalah Total Bung Karno (2013). 

Bung Roso pun memiliki blog yang membahas mengenai seluk beluk Bung Karno : Roso Daras