Showing posts with label Sosial Budaya. Show all posts
Showing posts with label Sosial Budaya. Show all posts

Lirik Lagu Mars Madjulah Sukarelawan


Bulat semangat, tekad kita
Barisan Sukarelawan Indonesia
Berpegang sangkur siap bertempur
Tiap tantangan kita lawan pantang mundur, (hey!)

Awas Imperialis durhaka
pasukan rakyat kita kuat perkasa
Ini dadaku mana dadamu
Kamu menyerang kita ganyang jadi abu

Ayolah kawan buruh tani, pemuda dan angkatan kita
Maju melawan siap senjata dan cukupkan sandang pangan
Pastilah menang, pastilah menang , pasti menang Revolusi '45 (2x)


Tinjauan Historis dan Yuridis Pancasila


Akhir-Akhir ini banyak yang membicarakan bahkan ada yang mulai mempersoalkan kembali posisi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara kita. Diskursus dan situasi tersebut tentu akan menjadi tidak terkendali dan menciptakan dikotomi di tengah-tengah masyarakat jika pemahaman masing-masing pihak hanya berdasar pada sudut pandang pribadi, kelompok, maupun golongan, dan mengabaikan proses pembentukan Pancasila sebagai dasar negara oleh para Pembentuk Negara.

Upaya pendikotomian tersebut hendak memutus rangkaian proses kelahiran Pancasila dan menciptakan opini seolah-olah Pancasila 1 Juni merupakan milik kelompok Soekarnois, Piagam Jakarta milik kelompok Islam, dan 18 Agustus milik rakyat Indonesia pada umumnya. Sehingga setiap ada wacana Pancasila 1 Juni dianggap sebagai romantisme sejarah dan hanya milik kelompok tertentu.

Pendikotomian dan stigma romantisme sejarah tersebut tentu tidak tepat bila diuji pada fakta-fakta sejarah proses kelahiran Pancasila sebagai dasar negara. Penulis telah meneliti fakta-fakta historis dan yuridis sejarah proses kelahiran Pancasila dan telah mempertanggungjawabkan secara akademis melalui disertasi doktoral di Universitas Diponegoro.

Dua dari sembilan penguji desertasi tersebut adalah Ketua dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, yakni Arief Hidayat dan Mahfud MD.

Merujuk pada fakta-fakta sejarah yang telah penulis teliti maka pendikotomian tersebut tidak mendapatkan kebenaran sejarah. Kenapa demikian?

Pertama, Pancasila yang disampaikan Soekarno sebagai anggota resmi BPUPK (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan) melalui pidato tanpa teks pada 1 Juni 1945 merupakan jawaban terhadap pertanyaan Radjiman Wedyodiningrat selaku ketua BPUPK tentang apa dasarnya bila Indonesia merdeka kelak. Soekarno adalah pencetus pertama Pancasila Dasar Negara dan pembicara terakhir dari 40 orang yang menyatakan pendapat (A.B. Kusuma, 2009 : 16).

Kedua, setelah Soekarno selesai menyampaikan pidatonya, pidato Pancasila tersebut diterima secara aklamasi oleh seluruh anggota BPUPK. Menurut kesaksian Panitia Lima, hal tersebut terjadi dikarenakan Pidato Pancasila Soekarno satu-satunya yang tegas mengusulkan filosofische grondslag untuk negara yang akan dibentuk. Panitia Lima terbentuk atas anjuran Presiden Soeharto pada tahun 1975 untuk meneliti sejarah kelahiran Pancasila. Panitia Lima tersebut terdiri dari lima orang tokoh pendiri bangsa yakni Mohammad Hatta, Ahmad Subardjo Djojoadisurjo, A.A. Maramis, Mr. Sunario, dan Mr. Abdul Gafar Pringgodigdo. (Panitia Lima, 1980 : 25 dan 60).

Dengan diterimanya Pancasila 1 Juni 1945 sebagai dasar falsafah negara secara aklamasi oleh BPUPK, maka Pancasila 1 Juni 1945 telah menjadi keputusan BPUPK yang bersifat mengikat, tidak lagi sebatas pendapat pribadi Soekarno. Bahkan pidato steno-grafisch verslag tersebut, oleh Panitia Kecil yang dibentuk BPUPK dijadikan sebagai bahan baku untuk menghasilkan rumusan final Pancasila.

Pengakuan Pancasila 1 Juni juga ditegaskan Notonegoro yang menyatakan bahwa pengakuan Pancasila 1 Juni bukan terletak pada bentuk formal yang urut-urutan sila-silanya berbeda dengan sila-sila Pancasila yang terdapat dalam Pembukan UUD 1945, tetapi terletak dalam asas dan pengertiannya yang tetap sebagai dasar falsafah negara (Notonegoro, 1988 : 8).

Sehingga tepatlah kebijakan Pemerintahan Jokowi yang telah menetapan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahirnya Pancasila melalui Keppres nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahirnya Pancasila. Keppres tersebut menempatkan kembali sejarah proses kelahiran Pancasila berdasarkan fakta sejarah tanpa bermaksud mengganti rumusan final sila-sila Pancasila.

Terbitnya Keppres tersebut juga berarti negara telah menyatakan eksistensinya sekaligus memberikan kepastian bagi seluruh rakyat Indonesia bahwa dokumen yang dapat dipelajari dan dipahami sebagai tafsir otentik sila-sila Pancasila menurut Pembentuk Negara terletak pada Pidato Soekarno 1 Juni 1945.

Ketiga, Panitia Sembilan pada sidang tanggal 22 Juni 1945 menghasilkan rumusan yang kita kenal sebagai Piagam Jakarta. Sejarah mencatat, Panitia Sembilan yang diketuai Soekarno terbentuk atas inisiatif dan prakarsa Soekarno.

Inisiatif dan prakarsa tersebut dilakukan Soekarno atas penghormatan dan keinginan menjaga keseimbangan antara Kelompok Kebangsaan dan Kelompok Islam karena komposisi Panitia Delapan yang dibentuk BPUPK tidak proporsional.

Kelompok Islam hanya diwakili dua orang yakni Ki Bagoes HadiKoesoemoe dan KH. Wachid Hasjim, sedangkan Kelompok Kebangsaan diwakili enam orang yakni Soekarno selaku ketua, Mohammad Hatta, Muh. Yamin, A.A. Maramis, R. Otto Iskandardinata, dan M.S Kartohadikoesoemoe.

Sehingga Soekarno membentuk Panitia Sembilan yang komposisinya lebih proporsional terdiri dari empat orang kelompok Kebangsaan yakni Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Muh. Yamin, A. Soebadrjo dan empat orang kelompok Islam yakni K.H. Wachid Hasjim, H. Agus Salim, K.H. Kahar Muzakkir, dan R. Abikoesno Tjokrosoejoso, serta Soekarno berdiri di tengah sebagai ketua Panitia Sembilan.

Hal itu sesuai dengan janji Soekarno pada saat Pidato 1 Juni 1945 ketika menjelaskan faham atau sila demokrasi musyawarah mufakat. Soekarno mengatakan di awal penjelasannya, "Kalau saudara-saudara membuka saya punya dada, dan akan melihat saya punya hati. Tuan-tuan akan dapati tidak lain tidak bukan hati Islam. Dan hati Islam Bung karno ini, ingin membela Islam dalam badan permusyawaratan. Dengan cara musyawarah mufakat, kita perbaiki segala hal, juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan dan permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat." (Pidato Soekarno, 1 Juni 1945).

Keempat, rumusan teks final Pancasila oleh PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada tanggal 18 Agustus 1945 juga diketuai oleh Soekarno. Dan sidang PPKI tanggal 18 Agustus sama sekali tidak pernah menetapkan Pancasila sebagai Dasar Negara. Karena PPKI hanya menghasilkan dua keputusan yakni mengesahkan UUD 1945 dan mengangkat Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia untuk pertama kalinya.

Perubahan sila Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya dalam Piagam Jakarta menjadi Ketuhan Yang Maha Esa oleh PPKI pada 18 Agustus 1945, diakui oleh Mohammad Hatta di dalam bukunya 'Memoir Mohammad Hatta' menyatakan, "Pada pagi hari menjelang dibukanya rapat PPKI, Hatta mendekati tokoh-tokoh Islam agar bersedia mengganti kalimat "Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya" dalam rancangan Piagam Jakarta dengan kalimat "Ketuhanan Yang Maha Esa". Alasannya, demi menjaga persatuan bangsa.

Menurut Azyumardi Azra dalam orasi ilmiahnya di acara Sarwono Memorial Lecture, LIPI tanggal 20 Agustus 2015, mengatakan, "dari proses penerimaan Pancasila, jelas terlihat para pemimpin Islam pada saat itu lebih mementingkan kerukunan dan integrasi nasional daripada
kepentingan Islam atau umat Islam belaka."

Kelima, kedudukan Pancasila bukan terletak di dalam Pembukaan UUD 1945 karena kedudukan hukum Pancasila terletak di atas dan menguasai UUD bukan sejajar apalagi menjadi sub bagian dalam UUD. Mengingat sistematika UUD 1945 sesuai Pasal II Aturan Tambahan UUD NRI 1945, menyatakan bahwa Pembukaan adalah bagian dari UUD NRI 1945. Hal tersebut diadopsi juga oleh UU nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Di samping itu, MK telah mengeluarkan putusan judicial review nomor 100/PUU-XI/2013 tentang pengujian UU nomor 2 tahun 2011 tentang Partai Politik terkait Pancasila bukan pilar yang sejajar dengan UUD.

Sedangkan, yang terdapat dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 adalah rumusan sila-sila Pancasila, sementara pengertian akan falsafah dasar yang terkandung dalam sila-sila Pancasila tersebut, terletak pada isi pidato Soekarno tanggal 1 Juni 1945.

Pandangan tersebut memiliki pijakan teoritis sesuai dengan teori Stufenbautheorie Hans Kelsen yang menjelaskan bahwa norma hukum itu berjenjang-jenjang dan berlapis-lapis dalam susunan yang hierarkis, di mana norma yang lebih rendah berlaku, bersumber, dan berdasar pada norma yang lebih tinggi lagi, demikian seterusnya pada akhirnya ini berhenti pada norma yang paling tinggi yang disebut norma dasar (grundnorm).

Pancasila sebagai grundnorm ditentukan oleh Pembentuk Negara untuk pertama kalinya sebagai penjelmaan kehendak rakyat melalui Pembentuk Negara. Grundnorm bersifat tetap dan tidak berubah-ubah.

Di sisi lain, jika kita menempatkan kedudukan hukum Pancasila terletak di Pembukaan UUD 1945, hal itu berarti Pancasila sebagai dasar negara telah beberapa kali mengalami perubahan. Karena pada saat Negara Indonesia menggunakan UUD RIS 1949 dan UUDS 1950, rumusan sila-sila Pancasila telah berubah dan berbeda dari yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945.

Berdasarkan rangkaian fakta sejarah tersebut tergambar dengan jelas bahwa Pancasila bangsa Indonesia hanya ada satu, yaitu sejak kelahirannya tanggal 1 Juni 1945, berkembang menjadi Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945 hingga teks final tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI sebagai satu-kesatuan proses sejarah lahirnya Pancasila sebagai Dasar Negara. Dalam
ketiga proses rumusan Pancasila tersebut tidak dapat dipungkiri causa prima-nya adalah Soekarno.

Di sisi lain, Pancasila sebagai ideologi dinamis dapat berkembang sesuai dengan konteks zaman serta terbuka untuk didiskusikan oleh setiap anak bangsa. Namun, falsafah dasarnya tetap berpedoman sesuai dengan maksud Pembentuk Negara.

Selanjutnya, demi menjaga kebenaran sejarah, sudah saatnya seluruh rakyat Indonesia bewust atas sejarah bangsa. Sehingga bangsa Indonesia dapat lebih mantap mengarungi gelombang samudera kehidupan menuju cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945. -Harian Sejarah

Penulis : Ahmad Basarah | Politisi
Editor : Tri Wahono (Kompas.com)
Penulis merupakan Doktor Ilmu Hukum Universitas Diponegoro. Ketua Fraksi PDI Perjuangan MPR RI. Ketua Badan Sosialisaai MPR RI. Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan. Ketua Umum DPP Persatuan Alumni GMNI. Pendiri dan Sekretaris Dewan Penasehat Baithul Muslimin Indonesia. Wakil Ketua Lazis PBNU
Sumber : Nasional Kompas.com. Tinjauan Historis dan Yuridis Pancasila. 15 Januari 2017

Melihat Tradisi Budaya China Peranakan di Cirebon

Kelenteng Talang Cirebon
China Peranakan? Masih aneh mendengar istilah tersebut. Istilah “Peranakan” paling sering digunakan di kalangan etnis Tionghoa bagi orang keturunan Tionghoa, di Singapura dan Malaysia orang keturunan Tionghoa ini dikenal sebagai Tionghoa Selat (土生華人; karena domisili mereka di Negeri-Negeri Selat), namun ada juga masyarakat Peranakan lain yang relatif kecil, seperti India Hindu Peranakan (Chetti), India Muslim Peranakan (Jawi Peranakan atau Jawi “Pekan”).

Biasanya di Cirebon Istilah China Peranakan di kategorikan dalam China Benteng. Entah karena itu biasa saya dengar dan alami sebagai salah satu China Peranakan dengan di panggil seperti itu.

Selanjutnya sebagai informasi awal, kelompok cina peranakan merupakan kelompok etnis yang dalam perkembangannya sudah mengalami percampuran perkawinan, dengan orang Melayu, Eropa, Amerika atau suku bangsa non-Cina. Umumnya kaum Cina peranakan sudah tidak lagi menganut agama yang dianut nenek moyang mereka, banyak yang sudah mengikuti agama pasangannya. Namun, kaum Cina peranakan tetap kuat memegang teguh budaya leluhur mereka.Bahkan, di hari raya mereka, mereka melalukan tradisi yang hampir sama dengan orang Indonesia kebanyakan yaitu sungkeman.

Beberapa hal menarik yang menjadi catatan saya selama mendengarkan penjelasan langsung dari salah satu keturunan Cina peranakan di Kota Cirebon, Jawa Barat, yaitu :

  1. Kaum Cina peranakan menganut sistem yang sama dengan suku Minang, yaitu matrilineal. Matrilineal adalah suatu adat masyarakat yang mengatur alur keturunan berasal dari pihak ibu. Kata ini seringkali disamakan dengan matriarkhat atau matriarkhi, meskipun pada dasarnya artinya berbeda. Matrilineal berasal dari dua kata bahasa Latin, yaitu mater yang berarti ibu, dan linea yang berarti garis. Jadi, matrilineal berarti mengikuti garis keturunan yang ditarik dari pihak ibu.
  2. Panggilan China Cirebon, Ooh (Laki-Laki) Taci (Perempuan), Jika Nama Kamu Mei-Mei maka di Panggil Taci Mei-Mei Kalo Nama Anak Laki-Laki Ong Tang Maka Biasanya di Panggil Ooh Ong.
  3. Peran ibu sangat dominan dalam pendidikan anak, sehingga berdasarkan informasi yang disampaikan narasumber, anak laki-laki terkadang cenderung menjadi agak feminim karena kuat dan dominannya peran ibu. Karena Saking Dekatnya Menjadikan Laki-Laki China ini Tidak Lepas dari Keluarga
  4. Anak Laki-Laki Tertua Mendapatkan Warisan Mengurus Keluarga walaupun Memiliki Rumah yang Kecil, Orang Tua di Urus oleh Oleh Keluarga, Hal Yang Sangat Baik Bukan.
  5. Kaum Cina peranakan merupakan kelompok yang sangat tekun, ulet dan pekerja keras. Sehingga ketika mereka menekuni suatu bidang pekerjaan mereka akan menjadi ahli di bidang tersebut.
  6. Pada kaum Cina peranakan jaman dulu, keperawanan menjadi harga mati bagi seorang wanita yang ingin menikah. Jika pada hari pernikahan diketahui si wanita sudah tidak perawan maka dia akan dikembalikan ke orang tuanya. Dan orang tua Cina peranakan sekarang berusaha tetap mempertahankan tradisi ini kepada anak perempuan mereka, walaupun mungkin anak perempuannya sudah tinggal terpisah.
  7. Model kain yang digunakan oleh wanita Cina peranakan Cirebon sama dengan motif kain batik Solo, Pekalongan, bahkan ada songket Palembang dan songket Minang. Bahkan Batik Trusmi Cirebon, Memiliki Sejarah timbulnya motif megamendung berdasarkan buku dan literatur yang ada selalu mengarah pada sejarah kedatangan bangsa China ke wilayah Cirebon. Hal ini tidak mengherankan karena pelabuhan Muara Jati di Cirebon merupakan tempat persinggahan para pendatang dari dalam dan luar negeri. Tercatat jelas dalam sejarah, bahwa Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam di wilayah Cirebon pada abad ke-16, menikahi Ratu Ong Tien dari China. Beberapa benda seni yang dibawa dari China seperti keramik, piring dan kain berhiaskan bentuk awan.

Dalam faham Taoisme, bentuk awan melambangkan dunia atas. Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan). Konsep mengenai awan juga berpengaruh di dunia kesenirupaan Islam pada abad ke-16, yang digunakan kaum Sufi untuk ungkapan dunia besar atau alam bebas.

Dari China Benteng, Peranakan Sampai China Menteng

Cirebon memang salah satu kota besar di Indonesia. Pada zaman dahulu sejak kira-kira setengah abad yang lalu masuknya seorang Tionghoa ke dalam agama Islam dipandang suatu hal yang sangat menarik perhatian dan jadi perbincangan dimana-mana. Di sebut sebagai saudara baru, meskipun dari masyarakat Tionghoa sendiri dipandang bahwa yang masuk agama Islam itu telah turun jadi “in lander” yaitu sebutan yang bermakna rendah martabatnya yang selalu dialamatkan negeri sendiri. Demikian besar pengaruh perasaaan diri itu, apalagi karena sebutan sebagai mu’alaf yang diberikan kepada orang yang baru masuk Islam itu.

Padahal kalimat mu’alaf tersebut dalam Al Qur’an sendiri mu’alaf adalah orang yang dirangkul hatinya dan disamakan derajatnya dengan orang Islam lainnya, tegak sama tinggi dan duduk sama rendah.

Sebenarnya orang-orang Belanda datang ke Indonesia mereka telah menjumpai adanya orang-orang Tionghoa yang beragama Islam. Pada selanjutnya istilah itu berkembang dan mengalami perubahan arti, tidak lagi bagi orang Tionghoa yang bergama Islam, tetapi orang singkeh yang baru datang dari negeri tiongkok yang sama halnya seperti lainya, sedangkan orang tinghoa yang beragama Islam disebut “peranakan” dan justru digunakan bagi orang Tionghoa yang lahir dari seorang ibu pribumi atau blasteran Tionghoa.

Saia Sendiri Termasuk Salah Satu China Benteng (China Peranakan), Benteng disini Berarti “Tanggul” Yah Rumahku terletak di belakang Sungai Cisanggarung Yang Terkenal karena Membelah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Losari Kecamatan Yang Terbagi Dua Menjadi Kecamatan di Sebelah Timur Masuk Kota Brebes dan Sebelah Barat termasuk Kota Cirebon.

Kaum Tionghoa dinilai kalangan yang punya kemampuan finansial yang mumpuni. Di Cirebon bahkan juga di daerah lain, terutama dari sisi pelaku ekonomi, memang kebanyakan keturunan Tionghoa yang dinilai sukses. Memang tidak ada data konkret dan pasti mengenai seberapa banyak jumlah pelaku usaha yang berasal dari warga keturunan satu ini. Namun secara kasat mata posisinya mendominasi hampir disetiap jenis perdagangan.

Jika milirik jumlah penduduk Kota Cirebon yang kini berada pada angka 200-an ribu jiwa, sekitar 25 ribu jiwa berasal dari kalangan Tionghoa. Pekerjaan mereka juga beraneka ragam, mulai dari perdagangan atau istilahnya tauke (pengusaha keturunan Cina) sampai menjadi anggota Legislatif di kota udang. Ini membuktikan peran warga Tionghoa sangat besar dalam upaya percepatan pembangunan di Cirebon. Geliat kehidupan perekonomian menjadi lebih hidup dan berkembang dari tahun ke tahun.

Begitupun dari sisi sosial dan bermasyarakat, hampir tidak ada pemisah antara warga pribumi dengan warga keturunan Tionghoa. Mereka dapat hidup rukun, saling membantu satu sama lain. Ini dapat terwujud karena sebagian warga Tionghoa sudah menganggap jika Cirebon menjadi tanah kehidupan mereka, karena di Cirebonlah mereka dapat merambah rejeki dengan bidang pekerjaan masing-masing.

Hubungan perdagangan antara negeri Cina dan Indonesia sudah sejak lama berlangsung. Pedagang Cina datang ke kota pelabuhan di pantai utara Jawa untuk menukar lada dari Sumatera dengan sutera dan porselin dari Cina. Diantara pedagang-pedagang itu sudah banyak beragama Islam. Orang-orang tersebut kebanyakan dari propinsi Kuantung, Chang Chou, Chuan Choudan daerah Islam lainnya yang berada di Cina.

Semula mereka tidak beristri, yang kemudain banyak dari mereka beristrikan wanita pribumi. Dari sini sudah dapat dilihat bahwa adanya asimilasi atau perkawinan campuran. Dari perkawinan campuran tersebut dapat dibedakan dalam banyak hal, orang-orang Tionghoa Muslim yang terdapat di daerah Jawa barat khususnya di daerah Cirebon telah banyak perubahan yang secara luas. Didalam kehidupannya telah menyerupai orang pribumi asli, yang telah lupa akan bahasa asalnya, dan bahkan dalam ciri fisiknya sering juga sudah menyerupai orang Indonesia asli.



Tulisan Baihaqi Zai dalam bhq.web.id

  • Dari China Benteng, Peranakan Sampai China Menteng. 2012
  • Mengenal Tradisi Budaya China Peranakan Cirebon. 2014


Seppuku, Ritual Kehormatan atau Hukuman?

Seppuku yang memiliki arti, “potong perut”, di Barat dikenal dengan “harakiri” merupakan ritual bunuh diri yang dilakukan prajurit samurai Jepang. Seppuku adalah bagian dari kode kehormatan bushido, dan dilakukan secara sukarela oleh samurai yang menginginkan mati terhormat daripada tertangkap musuh (dan disiksa), atau sebagai bentuk hukuman mati untuk samurai yang telah melakukan pelanggaran serius, atau dilakukan berdasarkan perbuatan lain yang memalukan.

Seppuku sendiri dilakukan dengan cara menusukan sebuah pedang atau pisau (?) pendek yang disebut “Tantō” pada area perut, mengiris hingga perut terbuka, dan menggerakan pedang dari kiri kekanan atau sebaliknya, terkadang membentuk “huruf z.” Bentuk seppuku yang paling umum dilakukan laki-laki adalah merobek perut, dan setelah samurai tersebut selesai merobek perutnya, ia menengadahkan kepala sebagai isyarat agar kepalanya segera dipancung oleh seorang rekan (Kaishakunin) yang berada di belakangnya, dan bertugas sebagai pendamping samurai dalam ritual seppuku. Seorang samurai juga dapat menghunuskan pedangnya menembuh lehernya untuk mengakhiri Seppuku.
Seppuku dilakukan dengan disaksikan oleh orang-orang. Foto: Pinterest
Seppuku pertama kali dilakukan pada abad ke-12 sebagai cara bagi seorang samurai untuk mencapai kematian yang terhormat. Seppuku dilakukan untuk menghindari penangkapan musuh ketika kalah di medan perang. Seorang samurai lebih memilih bunuh diri ketimbang menjadi tawanan, mengaku kalah, atau disiksa oleh lawan. Seppuku juga dilakukan sebagai ungkapan kekecewaan, kesedihan, protes atau kehilangan atas pemimpin yang dihormatinya.

Seppuku dimaksudkan sebagai pemulihan kehormatan seorang samurai, mereka yang bukan termasuk kelas samurai tidak pernah diperintahkan atau diharapkan untuk melaksanakan Seppuku. Samurai juga umumnya melakukan tindakan seppuku hanya kalau diizinkan oleh tuannya.

Pada abad ke-15, Seppuku menjadi bentuk umum hukuman bagi seorang samurai yang melakukan kejahatan. Seppuku dinilai sebagai tindakan ekstrim dan pengorbanan diri sebagai seorang samurai yang menjunjung bushido (kode prajurit). Dalam Seppuku dikenal juga seorang perempuan yang disebut “jigai” yang dilibatkan dalam Seppuku seorang samurai. Jigai akan membantuk tenggorokan seorang samurai dengan pisau kecil yang disebut “Tantō.”
tanto
Pisau yang digunakan untuk untuk melakukan Seppuku. Foto: Pinterest
Pada akhir abad ke-19, ritual Seppuku mulai menurun dilakukan seiring dengan istilah samurai yang mulai meredup. Meskipun demikian ritual Seppuku tidak pernah hilang. Pada 1912, seorang jenderal Jepang, Jenderal Nogi Meresuke melakukan Seppuku sebagai bentuk kesetian terhadap mendiang Kaisar Meiji. Pada detik-detik kekalahan Jepang pada Perang Dunia II
Prajurit Jepang melakukan Seppuku pasca kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Foto: Pinterest
Banyak tentara Jepang melakukan Seppuku sebagai simbolis menolak mengakui kekalahan dari Sekutu. Banyak diantaranya memilih demikian ketimbang menjadi tawanan Sekutu atau dihukum mati sebagai penjahat perang.

Yukio Mishima melakukan Seppuku pada tahun 1970. Foto: Pinterest

Pada masa kontemporer abad ke 20. Pada tahun 1970, Yukio Mishima, seorang nobelis terkenal Jepang yang pernah tiga kali menjadi nominasi Nobel Kesusastraan melakuukan Seppuku. Hal itu dia lakukan setelah gagal memimpin kudeta terhadap pemerintah Jepang.

Berikut video yang menayangkan seperti apa ritual sekutu :


Dibalik Cap Sikureung, Segel Sultan Aceh



Cab Sikureung merupakan cap atau segel Sultan-sultan Aceh. Cap Sikureung merupakan "Cap" resmi Kesultanan Aceh yang digunakan oleh Sultan dan Sultanaah Aceng dalam mengesahkan mandat atau sebuah perintah. Cap resmi kesultanan, yang didalam bahasa Aceh disebut Cab Sikureung (Cap Sembilan). Pemberian nama ini didasarkan kepada bentuk stempel itu sendiri yang mencantumkan nama sembilan orang Sultan dan nama Sultan yang sedang memerintah itu sendiri terdapat di tengah-tengah.

Pada Segel-segel Sultan Aceh, 3 tempat diperuntukkan kepada Raja-raja yang memerintah dari dinasti sebelumnya. Lima tempat diperuntukkan pada Raja-raja keluarga sendiri, dan yang satu dari yang 5 adalah Raja pendiri dan Dinastinya.

Dan yang terletak ditengah-tengah yaitu Sultan atau Sultanah (Ratu) yang sedang memerintah.

Cab Sikureung (Kulit luar) bermakna 9 Sultan :

1. Paling Atas
Sultan Ahmad Syah, yakni Raja pertama Dinasti Aceh-Bugis yang terakhir, 1723-1735, adalah Sultan yang ke-XX, sebelum tahun 1723 disebut  dengan gelar Maharadja Lela (Melayu)

2. Kanan Atas
Sultan Djauhan Syah, yakni Putera Raja sebelumnya, 1735-1760, adalah Sultan ke-XXI, bergelar Raja Muda

3. Paling Kanan
Sultan Mahmud Syah, yakni Muhammad atau Mahmoud Syah I, Cucu Sultan Ahmad Syah, 1760-1763, adalah Sultan ke-XXII

4. Kanan Bawah
Sultan Djauhar 'Alam, yakni Cicit laki-laki Sultan Ahmad Syah, 1795-1824, adalah Sultan ke-XXVII

5. Paling Bawah
Sultan Manshur Syah, yakni Putera Djauhar Alam, sekitar 1857-1870, adalah Sultan ke-XXVIII

6. Kiri Bawah
Sultan Said-al-Mukamal, yakni Alauddin al-Qahhar, 1530-1557, adalah Sultan Aceh ke-III

7. Paling Kiri
Sultan Meukuta Alam, yakni Sultan Iskandar Muda, 1607-1636, adalah Sultan Aceh ke-XI

8. Kiri Atas
Sultan Sultan Tadjul 'Alam, yakni Ratu Safiatuddin, Sultan wanita pertama Aceh, 1641-1675, adalah Sultan ke-XIII (Puteri Iskandar Muda)

9. Tengah
Waffaa-Allah Paduka Seri Sultan Alauddin muhammad Daud Syah Djohan Berdaulat zil-Allah fil'Alam, yakni adalah Sultan Muhammad Daud Syah, 1879-1903, Sultan Aceh yang terakhir.

Perlu diketahui bahwa bentuk stempel sendiri tentu berbeda – berbeda antara satu sultan dengan sultan yang lainnya, namun makna yang terkandung dalam Cap Sikureung tetap sama.

Cap sikureung, stempel kerajaan Aceh Darussalam
Stempel STA Muhammad Daud Syah II pada surat tgl 22 Muharram 1315 h/26 Juni 1897 kepada Sultan Abdul Hamid Turki Usmany

Cap sikureung, stempel kerajaan Aceh Darussalam
Stempel STA Riayat Syah Sayyidil Mukammal

Komunis Di Sana Sini

Komunis Di Sana Sini

Sudah kita ketahui belakangan ini kata-kata komunis begitu mudah keluar dari mulut-mulut pengikut atau simpatisan dari habib tertentu. Sampai-sampai karena  sangking takutnya dengan komunis uang kertas pun disalahkan karena mengandung komunisme di lambangnya. Bisa dibilang habib itu  menganut hyper komunisphobia. Kaum-kaumnya pun tidak ketinggalan apa pun yang berbentuk menyerupai lambang komunis akan dibilang komunis, lawan politik dituduh komunis, bahkan  pemerintah Jokowi dituduh komunis. 

Kalau bicara tentang tuduhan komunis, saya mengingat bahwasannya ini adalah cara-cara Orde Baru  mencap yang anti terhadapnya. Terkadang kaum ini membingungkan, mereka cap komunis sana sini tapi mereka  sebenarnya tidak tau apa-apa tentang PKI itu sendiri. Tuduhan mereka  tidak lebih karena kebencian semata. Terutama pada pemerintah.

Bagaimana bisa dituduh komunis? Wong  antek-antek Orde Baru pun bercokol  di  Pemerintahan. Sebagaimana diketahui bahwasanyaa  orang orde baru membenci komunisme. Pengusutan pembantai tragedi pasca G30S pun tidak  terealisasi hingga saat ini di pemerintahan  Jokowi. Padahal dia waktu itu berjanji akan menuntaskan kasus HAM masa lalu. Namun  itu semua dihalangi oleh unsur pemerintahan yang lalu. Mereka tidak ingin mengungkap sejarah kelam bangsa, dimana  terjadi pembunuhan jutaan anak bangsa ditangan saudara sendiri. Saya tentunya  bukan pembela PKI, sayaa berhaluan politik bersebrangan dengan PKI. Namun kalau urusan kemanusian hati saya tergerak akan hal itu.

Mengapa kita begitu takut akan komunisme? Padahal sistem Komunisme sudah gagal dan masuk liang lahat sejarah bersama pencetusnya Uni Soviet. Negara seperti Cina yang notabennya komunis tidak menjalankan komunis secara utuh, bahkan ekonomi mereka bercorak “Kapitalisme Negara”, Vietnam pun juga sama menganut paham ekonomi kapitalisme meskipun saya tidak tau kapitalisme apa yang dianutnya, Korea Utara lah yang masih dibilang penganut komunisme  yang kuat hingga saat ini. 

Tapi kita bisa lihat Korea Utara keadaannya menyedihkan kontras sekali dengan saudaranya di Selatan Korea. Lantas mengapa mereka bilang “Hati-hati bangkitnya PKI”? Padahal beberapa tahun lalu  ada anak yang ditangkap oleh aparatur negara karenaa menggunakan  kaus berlambang komunisme. Harusan jika mereka bilang pemerintah Jokowi adalah Komunis, anak itu harusnya dipelihara bukan ditangkap.

Komunisme tidak akan bangkit karena masih ada TAP MPR XXV mustahil Komunis bangkit. Lagipula siapa yang menganut sistem usang yang sudah gagal  dalam sejarah. Terkadang kaum ini sangat lucu. Selain melempar tuduhan komunis mereka juga mencap sebagai syiah, yahudi, kapitalis. Wong ini lah yang disebut gagal paham, maklumlah kaum ini kesehariannya hanya mengunyah nasi bungkus dan berdemo menuntut ahok sang penista agama menurut mereka. 

Padahal bagi orang terdidik Kapitalis dan Komunis saja sudah  bersebrangan. Syiah dan Yahudi pun berbeda ajaran. Tuduhan melempar penyataan komunis adalah  perbuatan tidak etis hanya di lakukan oleh para panasbung dan habibnya. Bagi anda yang merasa terdidik ada baiknya anda mengkaji ulang apa itu komunisme sendiri? Sejarah PKI itu seperti apa? Apa saja yang telah diperbuat PKI selama ini di bumi  nusantara? Mengapa orde baru membenci sekali komunisme?. Anda yang merasa terdidik jangan asal ikut-ikutan  Anda tidak boleh mempunyai keyakinan buta, sifat seorang terdidik adalah sifat keterbukaan.  Membaca adalah kunci untuk mengetahui semua yang terjadi di masa lalu.  Yang disebut orang terdidik “Orang yang mampu berpikir jernih mendahulukan nalarnya dibandingkan kebenciannya”.


Salam sejahtera bagi semua mahluk di semesta (Candide)

Sistem Pembangunan Monumen: Warisan Budaya Kerajaan Agraris di Jawa



...Monument Construction System: Cultural Heritage of Agricultural Kingdoms in Java


Kerajaan agraris sudah tentu merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah panjang Indonesia. Hasil bumi yang membawa kerajaan-kerajaan ini menjadi jaya juga adalah hal yang membuat nama mereka terkenal hingga ke Eropa. Di samping kerajaan maritim yang sungguh tersohor, kerajaan agraris adalah permata yang tersembunyi di antara rimbunnya pepohonan. Posisi mereka yang berada di hinterland membuat mereka terlindung dari pengaruh asing. Salah satu wilayah terpenting dalam perkembangan kerajaan agraris ini sudah tentu adalah Pulau Jawa. Sejak masa kerajaan-kerajaan yang pertama, Jawa telah dikenal sebagai penghasil padi yang termasyur.

Selain hal-hal fisik seperti hasil bumi, kerajaan agraris juga sudah tentu terkenal akan kepercayaan mereka. Ketergantungan pada tanah sebagai hal yang paling penting dalam kehidupan ekonomi membuat mereka mengenal banyak junjungan yang melindungi kesuburan tanah. Hingga sekarang, pengaruh itu masih terasa dalam banyak aspek kebudayaan Jawa. 

Dapat disebutkan di antara junjungan yang dipuja itu: Vashudara (Dewi Sri), Prtivi (Dewi Pertiwi) hingga kepercayaan akan Kanjeng Ratu Kidul. Junjungan ini sebagian besarnya tentu adalah sosok wanita, karena sosok wanita dianggap dekat dengan kesuburan. Kepercayaan mereka ini tentu nantinya akan sangat berpengaruh pada berbagai bidang kehidupan masyarakat agraris.

Ada satu ciri dari masyarakat agraris yang masih menjadi bahan pertentangan ahli-ahli agraris di dunia: masyarakat agraris hampir selalu meninggalkan peninggalan yang monumental. Warisan budaya masyarakat agraris Jawa menunjukkan adanya dukungan yang penuh atas pendapat di atas. Di wilayah Indonesia modern, kiranya pulau Jawa mewakili bukti yang paling penting dalam sejarah kebudayaan masyarakat agraris ini. 

Kompleks Candi Prambanan (Foto: indoglobaltours.com)
Mataram misalnya, meninggalkan produk budaya yang tidak dapat dibantah: Borobudur dan kompleks candi Prambanan hingga sederetan candi dan tempat pemujaan lain di wilayah dataran rendah hingga dataran tinggi. Bila melihat kerajaan lain yang sezaman dengan Mataram dan berorientasi pada kemaritiman seperti Sriwijaya, tidak dapat kita temukan produk budaya yang se-monumental Borobudur atau kompleks candi Prambanan. Hal ini menunjukkan bahwa memang ada faktor penunjang yang istimewa dalam kehidupan dan pengorganisasian masyarakat agraris.

Faktor penunjang yang istimewa ini kiranya dapat kita lihat mulai dari aspek yang paling dekat dengan kebutuhan masyarakat agraris. Masyarakat agraris membutuhkan teknologi yang mendukung usaha mereka, dalam hal pertanian mereka membutuhkan pengairan sehingga mereka menciptakan sistem irigasi. Terlepas apakah mereka mengadopsinya dari kebudayaan lain atau menciptakannya. Dalam pembuatan sistem irigasi ini dibutuhkan sistem pemerintahan yang birokratis-patrimonial sehingga dapat diorganisasikan pembangunan sistem irigasi ituSistem ini adalah sistem birokrasi yang berpusat pada satu pemimpin untuk memberikan komando dan semua loyalitas mengalir pada pemimpin ini. 

Sistem yang demikian memungkin satu kekuatan atau penguasa untuk memberikan komando tanpa gangguan dari adanya komando lain semacam tuan tanah dan kekuatan lainnya. Dengan demikian, pengorganisasian yang rumit dalam pembangunan sistem irigasi dapat dilakukan tanpa adanya dualisme komando.

Hal ini juga berlaku pada kasus pembangunan monumen-monumen besar seperti Borobudur, Mendut dan Sewu. Dari sini kita dapat melihat bahwa pada masa itu dari tingkat terendah sampai tingkat tertinggi sudah ada organisasi sederhana yang bersendikan sistem patrimonial karena dalam pembangunan monumen besar itu dibutuhkan interaksi bidang teknik, ekonomi dan pemerintahan. Hal ini hanya mungkin tercapai bila pengorganisasian yang dilakukan penguasa berjalan baik.  Hal yang pada masa ini saja demikian rumit, dapat direalisasikan dengan baik oleh masyarakat agraris kala itu. 

Selain menjadi bukti yang menggembirakan bahwa ada suatu sistem yang telah begitu sukses untuk membangun monument hebat dalam masyarakat kala itu, sistem ini agaknya juga sangat sukses dalam membuat masyarakat berlaku in-order. Hal yang pada masa kini agaknya susah diwujudkan.

Pengorganisasian yang baik dalam sistem kemasyarakatan agraris ini bisa dijelaskan dengan kenyataan bahwa dalam pengusahaan pertanian ada jeda waktu yang cukup lama selama masa penanaman dan masa panen. Waktu jeda itu digunakan untuk pengorganisasian sehingga masyarakat yang pada masa jeda itu tidak melakukan banyak aktivitas mengembangkan kehidupan mereka di bidang lain yaitu budaya.  

Hal ini menyebabkan masyarakat agraris memiliki banyak sekali produk budaya yang tidak terlihat pada masyarakat maritim. Selain digunakan untuk pengorganisasian masyarakat, masa jeda ini juga dipergunakan secara politis dan militer sebagai masa yang paling tepat dalam kampanye militer atau penaklukan. Kerajaan agraris begitu sibuk ketika masa penanaman dan masa panen. Hal ini menghambat kampanye militer karena sebagian besar pasukan yang dimiliki kerajaan agraris berasal dari rakyat mereka. 

Tidak heran bahwa mereka terlihat sebagai sepasukan petani yang dipersenjatai. Namun, kekuatan mereka pada masa itu tidak kalah hebat dengan pasukan lain karena kecintaan yang kuat pada sosok penguasa. Hal ini sekali lagi dikarenakan sistem sosial yang begitu kuat.

Di sisi lain, pembangunan monumen-monumen yang hebat itu tidak pula terlepas dari faktor geografis. Pada masa Mataram contohnya, pembangunan monumen Borobudur dan monumen lainnya itu dilakukan sepanjang aliran sungai yang lagi-lagi mengukuhkan posisi sungai sebagai hal yang penting dalam masyarakat agraris. 

Dalam pembahasan mengenai ini baik pula kita melihat bahwa ada kemiripan geografis antara Jawa bagian tengah dan India yaitu lembah Progo-Elo yang mirip dengan Gangga-Yamuna. Stutterheim mengemukakan ada enam pokok kesesuaian antara lembah Gangga-Yamuna dan Progo-Elo: Tukmas sebagai sumber sungai Elo merupakan tiruan Kunjarakunjadesa sumber Sungai Gangga, lembah Progo-Elo menggantikan Lembah Gangga-Yamuna untuk Jawa bagian tengah, lokasi desa Progowati di dekat pertemuan sungai Progo-Elo mencerminkan lokasi kota Prayoga, lokasi monumen Borobudur mirip dengan lokasi stupa besar kuno Bharut, lokasi desa Canggal mirip dengan lokasi kota Kaci di tepi sungai Gangga, nama Yogyakarta (Ngayogya) di Timur hilir sugai Progo, berasosiasi dengan kota Ayodya di mana raja Rama bertakhta. 

Khusus pembangunan Borobudur misalnya: haruslah dekat dengan daerah sungai karena menurut pendapat Nieuwenkamp, Borobudur itu seharusnya berdiri di atas sebuah telaga. Telaga itu tentu mengambil air dari sungai yang dialirkan kepadanya. Borobudur diproyeksikan sebagai bangunan berbentuk teratai untuk menghormati Boddhisattva Maitreya yang pada waktu itu masih menghuni alam Tusita

Maitreya nantinya akan datang ke dunia sebagai Buddha pengganti Sakyamuni (Siddharta Gautama). Terlepas dari itu, Nieuwenkamp menggambarkan dalam Algemeen Handelsblad bahwa di sekitaran Borobudur terdapat hamparan sawah yang luas sehingga mengukuhkan posisi Mataram sebagai sebuah kerajaan agraris. 

Jika kita menilik kebudayaan yang berkaitan dengan tarian, dapat pula kita kaitkan dengan faktor spiritual. Seperti yang telah disinggung sebelumnya bahwa masyarakat agraris sangat terikat dengan sosok junjungan wanita untuk memberikan kesuburan pada tanah yang mereka olah, mereka juga sangat terikat dengan simbol-simbol lain yang mereka anggap mampu menunjang produktivitas pertanian mereka dari sisi spiritual. 

Tari Bedaya Ketawang (Foto: ytrisenibudaya)
Tarian-tarian yang berkembang di dalam masyarakat agraris adalah simbol penghormatan kepada junjungan yang memberikan kesuburan itu. Seperti Bedaya Ketawang dari Kasunanan Surakarta untuk menghormati Kanjeng Ratu Kidul.

PenulisC. Reinhart | Peneliti Sejarah Agraris dan Buddha (Mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia)

Sumber :

Chandrasekaran, B, K. Annadurai dan E. Somasundaram. 2010. A Textbook of Agronomy. New Delhi: New Age International Ltd.
Daldjoeni, N. 1984. Geografi Kesejarahan Jilid 2. Bandung: Penerbit Alumni.
__________. 1995. Geografi Kesejarahan Jilid 1. Bandung: Penerbit Alumni.
Djoened, Marwati dan Nugroho Notosusanto (ed.). 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 1. Jakarta: Balai Pustaka.
__________. 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 2. Jakarta: Balai Pustaka.
__________. 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 3. Jakarta: Balai Pustaka.      
Geertz, Clifford. 1976. Involusi Pertanian. Jakarta: Bhratara K. A.
Iskandar, Mohammad. Masyarakat dan Kerajaan Agraris. Wawancara oleh C. Reinhart pada 29 September 2016 di Gedung 3 FIB UI.
Kern, H. 1922. Het oud-Javaansche lofdicht Nagarakertagama van prapantja (1365 AD). Weltevreden: Drukkerij Volkslectuur.
Leur, J. C. Van. 1960. Indonesian Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History. Bandung: Sumur Bandung.
Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya, Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
__________. 1996. Nusa Jawa: Silang Budaya, Batas-Batas Pembaratan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Muljana, Slamet. 2006. Nagara Kretagama: Tafsir Sejarah. Yogyakarta: LKIS.
Nieuwenkamp, W. O. J. Borobodoer en omgeving. Algeemen Handelsblad Den Haag, 2 Mei 1937.
PaEni, Mukhlis (ed). 2009. Sejarah Kebudayaan Indonesia: Sistem Teknologi. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Reid, Anthony. 1993. Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, Volume 2. New Haven: Yale University.
Ricklefs, M. C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: Serambi.
Vlekke, H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.