Showing posts with label Sosial Budaya. Show all posts
Showing posts with label Sosial Budaya. Show all posts

Saturday, January 28, 2017

Dari Mana Asal Orang Bali ?


Penduduk yang kini menghuni Bali dulu berasal dari dua golongan. Yang pertama adalah orang Bali asli  atau dikenal dengan nama Bali Aga dan yang kedua adalah pendatang dari Jawa atau lebih dikenal sebagai Bali Majapahit.

Bali Aga sekarang dapat dilihat di Desa Trunyan. Jika ada kematian orang-orang di desa ini menaruh mayat di bawah pohon ”Taru Menyan”. Menurut kepercayaan masyarakat setempat bau mayat dihilangkan oleh aroma yang keluar dari pohon itu.

Desa Tenganan juga termasuk desa Bali Aga. Penduduk desa ini dikenal oleh masyarakat luas karena mempunyai hasil kerajinan kain tenun Pegeringsingan. Pewarna alami dari daun-daunan menyebabkan kain tenun tradisional ini sangat indah. Tenunan khas masyarakat Bali ini banyak dicari dan harganya mahal.

Bali Majapahit adalah keturunan pendatang dari Jawa. Pada saat Kerajaan Majapahit jatuh karena perang saudara, banyak pengikut-pengikut setia sang raja yang melarikan diri ke arah timur menyeberangi perairan Selat Bali.

Di samping alamnya yang indah, Bali memiliki pesona budaya yang kuat untuk menarik minat para turis. Banyak tamu yang berkunjung ke Bali terutama terpikat dengan tradisi dan adat istiadat yang dipegang teguh oleh rakyat Bali

Di Bali orang-orang Majapahit ini meneruskan tradisi leluhur. Berbagai upacara adat yang bercampur dengan ajaran keagamaan dipertahankan secara ketat. Tempat-tempat ibadah seperti pura, sanggah, merajan dibangun  dengan megah.

Di kemudian hari kebudayaan Bali tersohor di seluruh dunia berkat kunjungan wisatawan yang kian meningkat. Sebagian besar penduduk Bali adalah keturunan Bali Majapahit dan perkembangan aneka seni dan budaya yang menyertainya menjadi santapan dan hiburan bagi pelancong-pelancong dari negeri asing yang berkunjung.

Penulis : I Wayan Budiartawan

Penulis merupakan Pengajar dan Peneliti di ITB 1992 – 1997 sekarang aktif sebagai penulis internet sejak tahun 2011. Riwayat Pendidikan : S1 ITB 1987-1992 dan Kursus Mentor Graphics di Singapura, Amerika Serikat transit di Jepang 1992 – 1993. Penulis dapat di hubungi di 082250815282

Tuesday, January 24, 2017

Si Bener, Cerita Rakyat Betawi

Tersebutlah seorang laki-iaki, si Bener namanya. Tiada lain kerja si Bener hanyalah mengail. Setiap hari ia mengail dilaut. Mata kailnya jarum sedang, umpannya bekatul. Karena itu ia tak pernah berhasil mendapatkan ikan. Malah ikan-ikan di laut menjadi kian banyak, sebab setiap hari memakan bekatul umpan kail Si Bener.

Raja ikan di dasar lautan mengetahui hal itu. Maka sang raja mengumpulkan seluruh rakyatnya. Kepada para ikan raja itu berkata,"Hai rakyatku, kita harus menyayangi Si Bener, sebab setiap hari kita diberinya makan". "Akur-akuur". Seru ikan-ikan itu senang. "Hai raja" , ujar cucu! "Umurku sudah amat tua. Tak guna lagi hidup. Aku ingin membuktikan nyawaku kepada Si Bener". "Na baguslah jika demikian", sahut Raja ikan, "Ini telanlah"' Raja ikan membeiikan intan sebesar kepala.

Cucut menelan intan itu. Lalu ikan itu berenang ke pantai. Kail si Bener yang terapung-apung digigit oleh cucut itu. Tentu saja si Bener terkejut. Bertahun-tahun baru kali itu kailnya mengena.

Segera si Bener menarik pancingnya. Makin terkejut laki-laki itu. Baru pertama seumur hidupnya ia melihat cucut sebesar itu. Senang bukan main hati pengail itu.

Dari kejauhan tampak sebuah kapal. Segera si Bener berseru-seru. Seruannya terdengar oleh Matros. Lalu disampaikan kepada nakhoda. Nakhoda kemudian memerintahkan juru mudi menghentikan kapal.

Nakhoda turun dengan sekoci. Ia menanyai si Bener, "Hai nelayan, apa hajatmu hingga menghentikan kami?"

"Wahai tuan nakhoda", sahut Si Bener, "Sudilah tuan menyampaikan ikan ini sebagai persembahan hamba kepada raja negeri seberang".

"Baiklah akan aku sampaikan persembahan ini" .

Nakhoda pun meneruskan perjalanannya. Saat singgah di negeri seberang, ia pun menghadap baginda. Ikan cucut dari Si Bener dipersembahkannya.

"Hmm, hanya seekor ikan" , Sabda Baginda setelah nakhoda pergi, "Sudah bau pula". Baginda menekan perut ikan itu dengan tongkatnya. Keluarlah sebutir intan sebesar kepala. Sungguh terkejut baginda. Lekas intan itu diambilnya.

"Intan sebesar ini kubeli dengan negaraku pun tak akan terbeli", pikir sang raja, "Jika demikian layaknya kuberi sedikit imbalan pada pemilik ikan bau itu".

Nakhoda yang baru saja akan bertolak segera dipanggil. Kepadanya baginda menitipkan sepeti uang emas untuk diserahkan kepada Si Bener.

Nakhoda pun kembali berlayar. Saat itu singgah di dusun Si Bener diserahkannya peti uang itu. Bukan main suka citanya Si Bener.

Dengan uang yang dimilikinya, Si Bener membeli sebuah rumah besar, ternak, sawah dan kebun. Kini hidup Si Bener menjadi senang.

Perihal kekayaan Si Bener terdengar oleh raja. Timbul rasa dengkinya. Baginda pun memanggil laki-laki itu. Ia ingin merebut harta kekayaan pengail itu.

Saat Si Bener berdatang sembah, bersabdalah sang raja "Hai Bener, karena kau hidup di atas tanahku, kau harus patuh pada perintahku".

"Ampun beribu ampun wahai paduka", sembah Si Bener, "Segala titah duli sah alam akan hamba junjung tinggi".

"Bagus jika demikian", baginda meneruskan, "Salah satu kapalku yang mengangkut selaksa jarum telah tenggelam, kini ambilkanlah jarum-jarum di dasar lautan itu. Jika ada yang kurang, kupancung kepalamu".

"Daulat wahai paduka", sembah Si Bener, "Titah paduka akan hamba laksanakan".

Selesai berucap demikian, pergilah Si Bener ke pantai. Hatinya kecut. Samudera demikian luas dan dalam. Bagaimana mungkin ia menemukan selaksa jarum di dalamnya.

Tiba-tiba muncul Si raja ikan. "Hai pengail", ujar raja ikan", "Mengapa kau tampak murung?"

"Hamba dititahkan baginda mencari selaksa jarum di laut", sahut Si Bener. "Bagaimana mungkin hamba dapat melakukannya?"

"Sudahlah laki-laki pengail. Serahkan saja perihal itu padaku".

Raja ikan memanggil seluruh rakyatnya. Ia memerintahkan para ikan untuk memunguti selaksa jarum di lautan. Hanya separuh ikan telah kembali. Semuanya membawa jarum.

Telah terkumpul selaksa jarum milik raja. Si Bener pun mempersembahkan jarum-jarum itu. Bukan main tercengangnya baginda
raja.

"Hai Bener", sabda Baginda, "Aku lupa satu hal. Kapalku yang tenggelam itu juga membawa pedang wulung. Kini ambillah pedang itu. Jika kau gagal, kepalamu sebagai gantinya".

Kembali Si Bener ke pantai. Ia berpikir, raja tentu memiliki niat buruk. Jika tidak tentu ia tak akan menitahkan hal-hal yang mustahil kepadanya.

Selagi Si Bener berpikir, kembali muncul raja ikan. "Hai pengail", tegur si raja ikan, "Mengapa lagi kau murung?"

"Baginda menitahkan hamba mengambil pedang wulung", jawab Si Bener.

"Pedang wulung itu milik raja buaya", ujar Raja ikan "Jahat bener rajamu, ia menginginkan sesuatu yang bukan miliknya. Tapi baiklah, akan kupanggil raja buaya".

Tak berapa lama raja buaya pun muncul, "Hai raja ikan, aku sudah mendengar percakapan kalian. Jika raja manusia itu menginginkan pedangku, datanglah ke muara esok hari".

Perkataan raja buaya disampaikan kepada baginda raja. Esoknya baginda pergi ke muara. Duduklah ia menunggu kedatangan raja buaya.

Raja buaya pun muncul. Ia tak membawa pedang yang dijanjikannya. Ia memakan raja lalim itu. Ikan-ikan dan para penghuni air bersorak-sorai.

Raja telah tiada. Kini tinggalah patih. Patih memutuskan untuk mengangkat Si Bener menjadi raja. Rakyat pun senang. Si Bener memerintah dengan adil dan bijaksana.



Referensi : Dinas Kebudayaan dan Permuseuman, Cerita Rakyat Betawi, 2004

Sumber : Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta


First Published by Jakaarta.go.id

Monday, January 23, 2017

Pramuka Sebagai Pencegah Anak Terkena Doktrin Radikal

Dalam kegiatannya seorang Pramuka akan dikenalkan dengan toleransi dan pluralisme karena Pramuka menekankan pada ajaran taqwa terhadap Tuhan YME juga, sehingga anak anda juga tida terjerumus paham Atheis.
Harian SejarahBeberapa waktu ini kita tak jarang melihat anak-anak yang berpikiran kritis namun dangkal. Kritis disini maksud saya bertingkah seolah dia paling benar, namun dengan pemahaman yang keliru. Hal ini wajar saja karena ada beberapa orang tua, atau mungkin kesalahan anak itu sendiri sehingga terjerumus ke dalam perkumpulan yang salah.
Mengenai soal pembelajaran agama, alangkah baiknya jika kita sebagai orang tua, kakak, atau orang terdekat berusaha merekomendasikan tempat yang mengajarkan agama dengan damai, penekanan pada akhlak dan moral, dan yang terpenting adalah cinta tanah air. Karena dengan begitu dia akan terjauh dari paham-paham sempit dan radikal.
Tentu saja demikian karena jika kita melihat ditelevisi atau dimanapun mengenai anak-anak Taliban atau ISIS, sungguh menyedihkan bukan. Terutama kalua kita melihat di dalam negeri Indonesia, tak jarang anak-anak mendapatkan pemahaman yang salah karena diajak demo dan lain segala macamnya oleh orang tuanya, atau dengan gurunya. Ini tidak baik mengenal bahwa anak-anak harus mendapatkan pemahaman yang ceria, bermain, dan welas asih karena dengan begitu anak-anak akan tumbuh dengan pribadi yang sabar, jujur, dan berwibawa santun.
Saya menawarkan Gerakan Pramuka sebagai solusi bagi anak-anak anda agar mendapatkan pembelajaran yang efektif mengenai sikap, moral, dan patriotism. Pramuka pembelajarannya berjenjang, dari tingkat SD, SMP, SMA, Perguruan Tinggi, bahkan dewasa. Pembelajaran di Pramuka menekankan pada sikap dan moral manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur, riang dan gembira, serta berjiwa Pancasila. Bisa dilihat dari Dasa Dharma Pramuka sebagai patokan dari sikap seorang Pramuka dalam berbuat dan berperilaku,
Dasa Dharma Pramuka
Pramuka itu:
  1. Takwa kepada Tuhan yang Maha Esa
  2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia
  3. Patriot yang sopan dan kesatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin, terampil dan gembira
  7. Hemat, cermat dan bersahaja
  8. Disiplin, berani dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran, perkataan maupun perbuatan. 

Selain itu Pramuka dikenal sebagai “Manusia Pancasila” sesuai dengan bait lagu dalam Hymne Pramuka,.. Kami Pramuka Indonesia, Manusia Pancasila, Satya Ku, Ku Dharmakan, Dharma, Ku Baktikan, Agar Jaya Indonesia….
Dalam kegiatannya seorang Pramuka akan dikenalkan dengan toleransi dan pluralisme karena Pramuka menekankan pada ajaran taqwa terhadap Tuhan YME juga, sehingga anak anda juga tida terjerumus paham Atheis.
Pemerintah Indonesia pun menyadari demikian, dengan pemberlakuan Pramuka menjadi ESKUL wajib di setiap jenjang sekolah, maka Pramuka akan intens menggembleng anak-anak atau adik-adik kita menjauhi paham-paham yang radikan atau mengedepankan kekerasan. Pramuka dengan semangat mudanya lebih mengedepankan musyawarah dan welas kasih dalam segala penyelesaian permasalahan.
Anak-anak dapat terkena radikalisme karena salah mendapatkan pembelajaran, khususnya jika dia mengikuti suatu perkumpulan agama tertentu, saya sarankan agar anak-anak kita tidak disekolahkan di sekolah-sekolah Islam yang mempunyai rekam jejak buruk dalam radikalisme.
Saya menyarankan agar disekolahkan di Madrasah Negeri milik pemerintah karena biasanya guru-guru dan elemen sekolah lebih mengedepankan nasionalisme dan Islam yang moderat. Kemudian biasanya di Sekolah Islam miliki pemerintah atau Milik NU, ESKUL Pramuka merupakan organisasi favorit karena ya memang Pramuka dengan Islam itu bahkan dengan agama-agama lain cenderung klop, serta ajarannya itu menyenangkan dengan pendekatan ke alam dan nasionalisme.
Jadi ayo kita ikut sertakan anak-anak kita bergabung bersama dengan Pramuka, karena Pramuka sudah ada sejak 1961 dan membuat kita-kita ini yang sudah tua bisa berpikiran jernih, nasionalis, Islam yang moderat, lalu apakah anak kita harus radikal? Jangan! Makanya ikut sertakan anak-anak dan adik kita menjadi seorang Pramuka.

Mengenal Newroz, Hari Raya Bangsa Kurdi


Foto: kurdishinstitute.be

" Tanpa api dan pancaran kasih
Tanpa Sang Pencipta dan kekuatan-Nya
Kami tak akan bisa bersatu Cahaya adalah milik kami dan
kegelapan adalah kepunyaan sang malam
Api ini membanjiri dan membersihkan hati kami
Hatiku kembali lagi pulih
Lalu inilah Newroz, kembali bersama tahun baru
Ketika pancaran dian kembali lagi "

Harian Sejarah - Apa ini? Mungkin kalian bertanya sembari membacanya. Sebenarnya ini bukan syair buatan saya, walaupun saya sedikit baper puitis, tapi biarkanlah berlalu J. Ini adalah syair dari Suku Kurdi yang berkisah kegembiraan bangsa Kurdi menyambut Newroz. Apa lagi itu Newroz? Apa itu suku Kurdi?

Suku Kurdi,terkenal akan kecantikan wanita mereka. Mereka merupakan salah satu suku yang berada di Asia Kecil (Turki) hingga wilayah Timur Tengah. Terdapat salah satu tradisi unik yang mereka miliki, yaitu tradisi Newroz.

Apa itu Newroz?
(Foto: Independent Kurdistan Journalism)
Newroz atau Nawroz, mengacu kepada perayaan tahun baru penduduk Mesopotamia pada masa lalu. Dalam legenda suku Kurdi, hari raya Newroz menggambarkan kisah pembebasan rakyat Kurdi dari seoarng tiran kejam, serta digambarkan sebagai cara alternative suku Kurdi untuk mengekspresikan dukungan mereka terhadap sesuatu.

Perayaan tersebut bertepatan dengan saat equinox (saat dimana matahari berada lurus dengan bumi) tanggal 24 Maret setiap tahunnya.

Festival tersebut sekarang punya tempat yang spesial, khususnya tentang identitas mayoritas orang Kurdi, khususnya di Irak, Turki, dan Suriah. Walaupun sebenarnya festival ini dirayakan secara beragam, tapi secara umum orang-orang berkumpul bersama untuk merayakan datangnya musim semi, dengan memakai baju beraneka warna dan bersama-sama menari.

Mitos Legenda Newroz
(Foto: Wikimedia)
Awal musim semi sudah dirayakan semenjak zaman neolitikum di wilayah Asia Minor. Tahukah Anda jika legenda ini berakar pada sebuah legenda Irak. Diceritakan dahulu kala, Zahak adalah raja Assiria jahat yang telah menaklukkan bangsa Kurdi, diceritakan bertampang seram, bahkan terdapat ular di pundaknya.

Selama dipimpin oleh Zahak yang jahat, musim semi bahkan enggan mampir di Kurdistan selama seribu tahun, bukan main lamanya. Ia juga menyuruh mengorbankan dua pemuda untuk dimakan otaknya setiap hari untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakannya. Namun penjaga berkata lain, hanya seorang yang dikorbankan dan persembahan kepada sang raja jahatpun ia campur dengan otak kambing setiap harinya untuk mengurangi korban.

Karena penderitaan yang dirasakan, muncullah gerakan pemberontakan melawan Raja Zahak, dan aksi tersebut direncanakan oleh seorang pendeta bernama Fereydun .

Pemberontakan ini dipimpin oleh  Kaveh, seorang pandai besi yang kehilangan enam anak laki-laki sebagai tumbal. Orang yang harusnya menjadi tumbal itulah yang kemudian dilatih dan akhirnya membunuh dan menghancurkan istana raja Zahak. Selanjutnya bisa ditebak, musim semi kembali bersinar di langit Kurdistan dan dirayakanlah Upacara Newroz tersebut.

Tanggal 20 Maret merupakan hari dikalahkannya Zahak oleh bala tentara Kaveh. Newroz kini digunakan bangsa Kurdi untuk mengingat bahwasannya mereka bangsa yang kuat dan berbeda. Cahaya api menjadi symbol kebebasan mereka. Telah menjadi tradisi melompati api saat Newroz tiba.

Tahun 1930-an seorang sastrawan Kurdi, Taufik Abdullah, menginginkan kelahiran kembali tradisi Newroz, cerita baru tentang Kaveh. Ia menghubungkan mitos tersebut dimana orang Kurdi merasa ditekan, lalu membuat tradisi Newroz menjadi ajang pengokoh bagi bangsa Kurdi. Tapi perlu dicatat bahwa bangsa Kurdi merayakan Newroz jauh sebelum saat ini, serta kata Newroz mengacu pada sebuah syair Kurdi dari abad 16 Masehi.

Newroz dan Kehidupan Politik Suku Kurdi
(Foto: thekurdishproject.org)
Ikatan Kurdi dengan Newroz kembali menguat semenjak tahun 1950-an ketika bangsa Kurdi di arab dan Turki mulai mengadaptasinya sebagai tradisi. Sebagai rasa solidaritas dengan bangsa KUrdi di Turki, kelahiran kembali tradisi Newroz menjadi lebih meriah dan kerap kali dipolitisasi karena menjadi lambang kebangkitan Kurdi.

Di Kurdi barat seperti Irak, Iran dan Negara arab lain, Newroz dirayakan secara bebas, tapi hal tersebut berbanding terbalik di Turki karena dianggap sebagai symbol pemberontakan kepada pemerintah. Barulah pada tahun 2000, pemerintah melegalkan perayaan musim semi, yakni hari “Nevruz” dan pemerintah mengklaimnya sebagai hari libur nasional.

Di beberapa kota seperti Anatolia, Istanbul dan Ankara diadakan tradisi melompati api ungun. Sebelum hari Newroz dilegalkan, partai Buruh Kurdistan, telah membuat penyerangan untuk mencari pemberitaan terhadap hal tersebut, mengakibatkan aksi represif tentara Turki yang menahan ribuan pendukung  partai tersebut.

Di suriah perayaan ini begitu meriah, terbukti dengan semaraknya perayaan Newroz. Perayaan ini juga dirayakan bangsa Kurdi di seluruh dunia seperti di Australia, Fillandia, bahkan di kota London perayaan Newroz dihadiri dua puluh lima ribu orang pada tahun 2006.


Sunday, January 22, 2017

Yakinlah, Pancasila Tak Bertentangan dengan Islam

Kiai As'ad Syamsul Arifin (pahlawan nasional), katanya, mencoba meyakinkan publik Islam dengan menyatakan bahwa mengamalkan Pancasila merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam.
Gerakan anti-Pancasila sedang merebak. Para “juru kampanye”nya dengan terus terang menyatakan penolakannya. Bagi mereka, Pancasila adalah thogut dan umat Islam wajib mengingkari thogut itu. Hal tersebut disampaikan wakil ketua Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama  (LBMNU) KH Abdul Moqsit Ghozali pada akun Facebooknya.

Namun, lanjutnya, gerakan ini tak banyak mendapatkan simpati publik. Penolakan terhadap mereka terjadi di mana-mana. NU dan Muhammadiyah sebagai organisasi arus utama terus melakukan pembelaan terhadap Pancasila sebagai dasar negara.

Sebagaimana diketahui, Munas Alim Ulama NU (Munas NU) tahun 1983 di Situbondo memutuskan memantapkan Pancasila sebagai asas organisasi, penjabarannya dalam Anggaran Dasar serta deklarasi hubungan Pancasila dan Islam. Dan satu tahun kemudian, pada Muktamar NU yang ke-27 tahun 1984 di Situbondo diputuskan NU menerima asas tunggal Pancasila. 

“Tiga tiga tahun lalu, Kiai Achmad Siddiq (Rais ‘Amm PBNU) telah menyatakan, Pancasila dan Islam adalah dua hal yang dapat sejalan dan saling menunjang. Keduanya tidak bertentangan dan tidak boleh dipertentangakan. Keduanya tidak harus dipilih salah satu dengan sekaligus membuang yang lain,” terangnya.

Kiai As'ad Syamsul Arifin (pahlawan nasional), katanya, mencoba meyakinkan publik Islam dengan menyatakan bahwa mengamalkan Pancasila merupakan suatu kewajiban bagi umat Islam.

Menurutnya, pernyataan Kiai As'ad dan Kiai Achmad Siddiq puluhan tahun lalu itu kian relevan di tengah kegamangan politik ideologis yang menimpa sebagian umat Islam Indonesia sekarang. “Maka, yakinlah! wahai umat Islam bahwa Pancasila tak bertentangan dengan Islam,” tegasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Friday, January 20, 2017

Perkuat Gerakan Pramuka Sebagai Wadah Pembentukan Karakter Bangsa


Harian Sejarah - Negara Indonesia adalah negara kepulauan, dan bangsa Indonesia terbentuk dari ratusan suku bangsa dengan bahasa, adat istiadat, kepercayaan dan agama yang berbeda. Negara dan bangsa yang seperti ini hanya dapat dipertahankan, jika seluruh masyarakat Indonesia bersatu mempertahankan persatuan dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tekad seperti ini harus ditanamkan sejak usia muda.salah satu wadah yang dapat menguatkan mental nasionalisme adalah Gerakan pramuka

Semua kegiatan yang adakan oleh Gerakan Pramuka memiliki  unsur kepemimpinan, kerjasama, ketrampilan, kompetisi, dan kepedulian baik pada Sang Pencipta, pada sesama maupun pada alam dan lingkungan, Unsur-unsur ini menyatu dan berkesinambungan untuk membentuk karakter generasi bangsa Indonesia yang mempunyai mental nasionalisme tinggi. 

Oleh karena itu,  yang merupakan tugas Gerakan Pramuka saat ini adalah menjadi dambaan semua pihak agar  Gerakan Pramuka dapat menggalang sikap dan semangat persaudaraan dan persahabatan diantara sesama anggota Pramuka, sebagai bekal memupuk jiwa dan semangat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara seperti yang telah tertuang dalam visi Gerakan Pramuka yakni “Gerakan Pramuka sebagai wadah pilihan utama dan solusi handal masalah-masalah kaum”.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Gerakan Pramuka sebagai wadah pembentukan karakter generasi bangsa terus mengembangkan berbagai langkah-langkah strategis dan kegiatan kepramukaan yang dapat membangun keharmonisan, kerukunan dan kesetiakawanan bahkan kasih sayang diantara sesama kaum muda. Langkah strategis yang dapat di kembangkan antara lain :
  1. Memantapkan Sistem Among sebagai landasan Metode Kepramukaan.
  2. Mengembangkan permainan edukatif, yang rekreatif, menantang, menarik dan bermanfaat sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan kaum muda serta kebutuhan masyarakat.
  3. Mengembangkan model-model permainan serta mensosialisasikan permainan tersebut di dalam media cetak dan media elektronik.
  4. Menjadikan Bumi Perkemahan sebagai kampus Gerakan Pramuka


Apabila langkah-langkah strategis yang diuraikan diatas diterapkan dalam Mengupayakan Gerakan pramuka  sebagai ujung tombak organisasi yang dapat berfungsi sebagai wadah pembentukan karakter generasi bangsa, maka yang kita harapkan dapat terwujud. 

Selain langkah strategis tersebut hal lain  yang dapat dilakukan dalam kepramukaan adalah Kecermatan dalam memilih materi pendidikan yang tepat dan penerapan Metode Kepramukaan yang akurat,hal tersebut menjadi kunci penting dalam menjamin tercapainya tujuan pendidikan kepramukaan yang berdampak positif terhadap peningkatan semangat bela negara, patriot pembangunan, dan perekat bangsa bagi generasi muda.

contoh yang tepat dalam pemilihan materi dan metode kegiatan yang tepat seperti dilaksanakannya program Pramuka Peduli yang pada saat ini telah menjadi bagian dari program kepanduan dunia. Untuk Indonesia, pelaksanaan program Pramuka Peduli dinilai sangat relevan. Banyak anggota masyarakat yang kehidupannya masih jauh dari memuaskan dan Indonesia merupakan negara rawan bencana, yang masih memerlukan banyak bantuan. 

Bagi Gerakan Pramuka pelaksanaan program Pramuka Peduli juga merupakan pembelajaran yang baik bagi generasi bangsa  sekaligus dapat meningkatkan citra Gerakan Pramuka. Untuk memaksimalkan gerakan Pramuka sebagai wadah pembentukan karakter   dapat dilakukan dengan lebih memantapkan penghayatan dan pengamalan nilai-nilai yang tercantum dalam Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka, yaitu nilai-nilai luhur yang menjunjung tinggi keimanan, kejujuran, cinta tanah air, kasih sayang sesama manusia, tolong menolong, gotong royong, bertanggung jawab, displin, hormat kepada orang tua, sederhana, suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan.

 Keberhasilan mengamalkan Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka tidak hanya  penting bagi Gerakan Pramuka, tetapi juga bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka adalah nilai-nilai dasar yang harus dimiliki oleh segenap anggota, yang apabila telah terpatri dalam hati dan sanubari, akan berperan besar dalam membentuk karakter masyarakat, bangsa ,dan negara yang didambakan pada masa depan.

Sehingga Trisatya dan Dasa Darma dapat diamalkan secara sungguh-sungguh. Inti dari Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka adalah semangat, tekad, kode etik termasuk pesan-pesan moral dan spiritual. Tekad, semangat, kode etik serta pesan-pesan tersebut bukan hanya harus dijunjung tinggi, melainkan harus dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari baik secara pribadi maupun secara bersama-sama dalam satu kelompok. 

Oleh: Kak Tonci Yason Rafael | Pramuka.or.id

Saturday, January 14, 2017

Karakter Tionghoa Menghadapi Era Globalisasi


...Sebuah Tinjauan terhadap Pengajaran Karakter di Keluarga Tionghoa Tulungagung

Tionghoa’s Character Challenges the Globalization Era
A Review of Character Teaching in Tionghoa’s Family in Tulungagung

Memasuki era globalisasi di mana dunia tempat kita berpijak tidak lagi saling berjauhan antara satu dan lainnya, semua negara di belahan dunia dihadapkan pada dua pilihan: saling bersaing atau saling bekerjasama. Tidak jarang kedua pilihan harus diambil secara bersamaan. Dalam menghadapi hubungan yang tak terhindarkan ini, masyarakat Indonesia tentu haruslah mengambil sikap yang benar dan menyikapi ini dengan tepat. Terutama pada generasi muda yang nantinya akan menjadi ujung tombak penikmat globalisasi. Generasi muda sebagai penerus bangsa haruslah mengerti bagaimana cara bersikap sehingga menguntungkan bangsa dan negara di masa yang akan datang. Tetapi, kenyataan agaknya berkata sedikit berbeda.

Tidak sedikit generasi muda Indonesia yang menempatkan dirinya secara kurang tepat dalam percaturan sosial-budaya masa modern ini. Beberapa di antaranya bersikap kurang menghargai budaya dan cenderung memiliki pemikiran atau perencanaan jangka pendek. Hal ini tentu tidak sepenuhnya salah, namun melihat kondisi yang akan segera menyapa Indonesia kurang dari satu dekade mendatang –pasar bebas Asia dan Dunia, hal ini tentu perlu lebih diperbaiki lagi. Banyak kasus penyimpangan non-kriminal hingga kriminal yang terjadi di kalangan generasi muda. Hal ini membuat penulis terdorong untuk mengungkapkan sebuah tinjauan singkat mengenai pengajaran karakter. Sebagai generasi muda Indonesia, hendaknya mampu menjaga diri dari perilaku yang mengkhianati dasar-dasar sejarah kita. Di mana masyarakat Indonesia terkenal sebagai insan yang ramah dan mengundang hormat asing. 

Jika boleh melakukan sedikit studi banding ke Tiongkok (Republik Rakyat Cina) yang baru saja dideklarasikan kemerdekaannya pada tanggal 1 Oktober 1949. Sekarang Tiongkok telah menjadi raksasa ekonomi dan teknologi yang menyaingi negara adikuasa Amerika Serikat. Padahal dari segi sumber daya alam, Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah luar biasa dari Tiongkok. Kemudian bolehlah kita bertanya “Apa yang membuat Tiongkok dapat maju sedemikian cepat?”

Untuk menjawab pertanyaan itu secara mendalam, rekan-rekan ahli ekonomi dan hubungan internasional barangkali lebih piawai dalam menjawab hal-hal yang berkaitan dengan teknisnya. Namun secara sekilas, dapat kita lihat bahwa sumber daya manusia (SDM) agaknya merupakan kunci yang berperan penting dalam kesuksesan Tiongkok. Tiongkok kiranya mampu mendidik SDM sehingga menghasilkan output yang baik secara intelejensi, emosi, maupun sosial. Hal ini memang tidak ditunjukkan di semua wilayah di Tiongkok, namun tanpa adanya SDM yang mendukung ini, tak mungkin Tiongkok akan mengalami kesuksesan dengan cepat. 

Melihat sisi sejarah, Tiongkok memiliki sumber yang kaya akan filosofi dan ajaran adat yang selalu diajarkan turun temurun. Hal ini yang membuat ciri masyarakat keturunan Tiongkok di negeri-negeri di luar Tiongkok menjadi kental dan tak tergoyahkan. Ajaran adat yang tradisional ini kemudian mendapat tempat dan diterima oleh setiap generasi sehingga terpelihara hingga sekarang. 

Dengan jawaban tersebut, sebenarnya Indonesia tidak kalah kaya akan filosofi dan adat. Bahkan melalui berbagai karya modern yang mengangkat ajaran-ajaran kuno, kita dapat melihat betapa kita telah melupakan hal yang seharusnya kita warisi sebagai masyarakat Indonesia. Memiliki wilayah yang luas dengan budaya yang beragam harusnya menjadikan kita pewaris yang sah atas budaya setiap jengkal tanah yang sekarang bernama Indonesia. Permasalahan yang muncul adalah pada tingkat penerimaan generasi berikutnya. Pewarisan budaya itu agaknya mendapat hambatan yang cukup serius. Pandangan sebagian generasi muda terhadap budaya yang luhur dapat digambarkan melalui kata “kuno”. Inilah yang berusaha diubah melalui penulisan esai-esai semacam ini. 

Hidup selama bertahun-tahun untuk mempelajari budaya, filosofi dan struktur keluarga Tionghoa yang ada di Jawa Timur membuat penulis sadar bahwa budaya Tionghoa ini bukanlah sebuah budaya asing yang dimiliki Tiongkok. Secara historis, memang benar adanya bahwa akar dari budaya ini dibawa dari Tiongkok. Namun, mempelajari lebih dalam lagi, dapat kita rasakan aroma budaya lokal sekitaran keluarga-keluarga ini hidup, ikut membentuk budaya baru yang akhirnya menghidupkan budaya Tionghoa dan bukan budaya Tiongkok. Berangkat dari pemikiran ini, budaya Tionghoa merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang sah kita klaim sebagai milik Indonesia modern. Kita sebagai generasi yang masih hidup adalah pewaris sah kebudayaan ini sejauh kita menyandang kewarganegaraan Indonesia. Menyadari hal itu, ada beberapa prinsip hidup yang digunakan anggota-anggota keluarga senior untuk mendidik keturunan mereka yang akan dikemukakan oleh penulis.

Melalui wawancara dengan seorang kepala keluarga Tionghoa di Tulungagung, Tn. Tio Bo Hien (Hindarto), penulis dapat merumuskan prinsip hidup tersebut. Hien merupakan menantu dari seorang ketua Zhong Hua Xue Xiao (Sekolah Tionghoa) di Tulungagung, Jawa Timur periode 1960an, Ong Biauw Djwan, yang juga pendiri kelompok pementasan Wayang Wong Tionghoa, Sasana Mulya. Dalam pembentukan karakter itu, diperlukan lima dasar kendali pribadi yang menjadi dasar karakter manusia. Hal ini selalu diajarkan turun temurun dalam keluarga di lingkungan Tulungagung.

Pertama adalah kesabaran, Seorang manusia yang berkarakter haruslah memiliki kesabaran dan menghindari emosi yang meledak-ledak. Hien melanjutkan, ekspresi emosi itu adalah hal yang wajar, namun harus terkontrol agar menciptakan kondisi yang baik antar sesama. Kesabaran akan mengajarkan kepada kita untuk berpikir secara logis dalam situasi apapun. Hal yang oleh dia disebut dalam Bahasa Jawa sebagai katos ini dapat mempertahankan hubungan baik antar manusia dan rasa kepercayaan yang tinggi dari orang lain. Penghormatan juga akan datang sebagai efek dari kepercayaan. Orang sabar, katanya, akan dipandang baik di kalangan masyarakat. Penghormatan terhadap orang yang sabra ini tidak akan terbatas pada golongan etnis yang sama, namun juga dari semua kalangan. Ia melanjutkan, bahwa kesabaran dapat diterapkan secara universal. Setelah melalui wawancara yang panjang, Hien mengatakan bahwa ia mempelajari prinsip kantos ini dari ibu dan proses belajar terhadap budaya Jawa. 

Kedua adalah kesadaran. Kesadaran berarti pengetahuan yang cukup dalam melakukan sesuatu atau mengambil keputusan. Sadar akan risiko atau efek yang akan terjadi dari suatu hal yang dilakukan. Kesadaran, menurut Hien, adalah hal yang penting karena ini merupakan suatu bentuk dasar dari tanggung jawab. Semua orang yang melakukan hal dengan kesadaran boleh jadi menyesal di masa depan, namun tidak akan menyalahkan orang lain. Insan yang sadar itu akan melakukan introspeksi dan memperbaiki diri alih-alih mencari pembenaran. Kesadaran adalah ciri yang menarik dari insan yang baik. Melalui prinsip ini, tidak dibenarkanlah kita untuk melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan efek sampingnya. Dalam mengambil keputusan ataupun tindakan, manusia harus mempunyai kesadaran akan apa yang dilakukan. 

Ketiga adalah penalaran. Nalar pikiran adalah kelanjutan dari kesadaran. Manusia dalam melakukan hal dan memutuskan suatu keputusan harus memiliki nalar yang baik. Pemikiran yang jauh dan perencanaan yang matang. Segala hal harus dipikirkan baik atau buruknya. Selain itu, risiko yang mungkin terjadi juga adalah perhatian utama yang harus ada dalam setiap keputusan. Hal ini adalah prinsip utama seorang Tionghoa ketika berbisnis: memiliki penalaran matang akan kondisi ekonomi dan risiko kedepannya. Lebih baik menghindari hal buruk daripada memperbaikinya, namun tidak pula perbaikan hidup disalahkan. Sekali salah langkah, maka hidup tidak akan bisa diulang lagi. Manusia harus memikirkan sesuatu hal sebelum melakukannya, demikian kata Hien. 

Keempat adalah introspeksi diri. Manusia memiliki dorongan untuk menyalahkan orang lain ketika hal buruk terjadi. Seperti pada pembahasan beberapa paragraf sebelumnya, kebiasaan ini agaknya harus kita hindari dalam rangka menjadi insan yang lebih baik. Sebelum menimpakan kesalah kita pada orang lain, baiknya kita melihat diri kita. Hien mengatakan bahwa manusia yang paling baik sekalipun mempunyai kesalahan, hal ini tidak bisa dihindari karena sudah menjadi kodrat manusia. Bentuk terimakasih kita karena sudah diberi kehidupan adalah dengan meminimalisir kesalahan, namun jika sudah terjadi, haruslah diperbaiki. Bukan dilemparkan ke orang lain yang berada di sekitar kita. Namun beliau mengingatkan, janganlah kita lupa pula pada pintu maaf yang ada jauh di dalam hati kita. Jika ada orang membuat kesalahan pada kita, haruslah kita maafkan dengan harapan orang itu akan memperbaiki hidupnya. 

Kelima dan yang terakhir adalah disiplin dan jujur. Kedua hal ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Merupakan sebuah kunci utama agar dapat melakukan keempat prinsip terdahulu secara berkelanjutan. Masyarakat Tionghoa modern terkenal dengan kedisiplinan yang tinggi serta kejujuran yang juga mengikutinya. Untuk ikut membentuk karakter masyarakat Indonesia yang baik, kedisiplinan dan kejujuran juga merupakan kunci utama. Berkali-kali terdengar pertanyaan “mengapa orang Tionghoa bisa sukses dengan cepat?”, yang dijawab oleh Hien: tidak cepat. Menurut Hien, kesuksesan itu akarnya adalah kedisiplinan dan kejujuran yang telah dijalankan bergenerasi-generasi sebelumnya. Masa sekarang ini, karakternya sudah terbentuk sehingga menjadi terlihat cepat. Hal ini hanya dapat diajarkan ketika pendidikan itu diberikan terus menerus. Kejujuran dan kedisiplinan sangat krusial untuk menghindari korupsi. Hal ini juga harus dilakukan untuk menjaga imej bangsa yang luhur. 

Kelima hal tersebut merupakan prinsip hidup dan pembentukan karakter yang disampaikan turun temurun sebagai pegangan hidup Hien dan keluarga Tionghoa lain di Tulungagung. Merupakan harapan penulis agar kelima prinsip yang universal ini dapat diasosiasikan dengan kehidupan sehari-hari sehingga membentuk pribadi generasi muda Indonesia yang cerdas secara intelejensi, emosi dan sosial. Budaya Tionghoa ini bukanlah budaya asing, namun sudah menjadi warisan kita dan harus pula kita lestarikan seperti kita melestarikan budaya lokal lain di wilayah Indonesia. Menjalankan budaya ini tentu tidaklah mudah, harus bertahap dan reformatif. 

Dengan latar belakang kekayaan filosofi dan budaya yang dimiliki bangsa Indonesia, penulis yakin bahwa prinsip di atas dapat digunakan sebagai penguat pondasi norma dan nilai yang sudah ada di Indonesia. Dengan menerapkannya, tentu generasi muda akan lebih siap menghadapi era globaliasasi yang lebih luar biasa di tahun-tahun mendatang. Kita adalah pewaris yang sah budaya Indonesia yang beragam ini, haruslah kita mengangkat kepala kita dengan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia yang utuh. Dengan begitu kita kembalikan lagi kejayaan Indonesia yang berkarakter dan disegani dunia internasional. - Harian Sejarah

“Dedicated to the Honourable Interviewee: Mr. Tio Bo Hien
May your health be restored”
- C. Reinhart, Surabaya, 13th January 2016

Sumber :
  • Tio, Bo Hien. 2014. Wawancara tentang Karakter Utama yang Membuat Sukses Warga Tionghoa Tulungagung. Bertempat di Jalan Pahlawan, Tulungagung pada tanggal 2 Juni 2014.