Jejak Rusia Di Hindia Belanda


Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, negara barat mulai menunjukan supermasi untuk dapat menjadi kekuatan yang bersar di Asia Timur. sementara itu Jepang tengah mereformasi negaranya menjadi sebuah negara yang modern dan membangun kekuatan yang cukup besar. Lokasi Jepang mendorongnya untuk memusatkan perhatian pada Dinasti Choson Korea dan Dinasti Qing di Tiongkok utara, sehingga membuat negara itu bersaingan dengan tetangganya, Rusia. Kemudia terjadilah perang Tiongkop-Jepang yang disebabkan oleh ambisi Jepang untuk menduduki Semenanjung Korea

Memasuki abad ke-20, situasi politik di Asia Timur memanas. Manchuaria menjadi target untuk menunjukan hegemoni Jepang dan Rusia di Asia Timur. Rusia sudah mengontrol Manchuria sejak tahun 1898 serta membangun jaringan rel kereta api dan membentengi kota pelabuhan Port Arthur (sekarang bernama Lushun). Sementara Semenanjung Korea setelah berhasil dikontrol oleh Kekaisaran Jepang pmengalahkan Tiongkok dalam Perang Sino-Jepang Pertama (1894 – 1895).

Rusia Di Hindua Belanda

Pada 13 November 1902, kapal perang Pobeda dan Retvizan, serta kapal penjelajah Bogatyr, Diana, dan Pallada dikirim dari Laut Baltik ke Port Arthur untuk mempertegas ambisi Rusia di Manchuria. Kapal-kapal ini harus berhenti beberapa kali di beberapa pelabuhan untuk mengisi bahan bakar batu bara, salah satunya di Pelabuhan Sabang, Aceh, ujung utara Pulau Sumatra.

Pelabuhan Sabang, yang terletak di Pulau Weh, letaknya strategis sebagai pintu masuk pelayaran dan perdagangan di Sumatra dan Selat Malaka. Dibuka pada tahun 1883 oleh firma De Lange & Co., pelabuhan ini awalnya digunakan sebagai pangkalan batu bara untuk Angkatan Laut Hindia Belanda. Sabang kian berkembang setelah dikelola oleh perusahaan Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) pada tahun 1895.

Foto Pelabuhan Sabang pada 1904. Terlihat sebuah kapal Rusia sedang berlabuh dan mengisi bahan bakar. Foto diambil dari memoar Hein van Dugteren, bendahara Serikat Buruh Belanda, NVV, yang menjadi saksi mata kehadiran kapal-kapal Rusia di Hindia Belanda selama Perang Rusia-Jepang/vakbondshistorie.nl


Pada Maret 1903 Armada Kapal Rusia berlabuh di Sabang untuk memenuhi kebutuhan batu bara, seperti dilaporkan koran Bataviaasch nieuwsblad tanggal 31 Maret 1903. Mereka berlayar kembali dan sampai di Port Arthur pada 4 Mei 1903 dan bergabung dengan kapal-kapal dari Vladivostok untuk membentuk Armada Timur Jauh.

Reaksi Jepang dan Pecah Pertempuran

Jepang menganggap hal tersebut sebagai bentuk provokasi hingga akhirnya Jepang mendeklarasikan perang pada 8 Februari 1904. Armada Kapal Perang Jepang kemudian memblokade Port Arthur. Pada 15 Oktober 1904 Tsar Nikolay II yang geram melihar posisi Rusia yang kian terdesak memerintahkan Armada Baltik di Eropa yang dipimpin Laksamana Madya Zinovy Rozhestvensky untuk berangkat ke Port Arthur dan membantu Armada Timur Jauh melawan Angkatan Laut Jepang.

Namun, kedatangan Armada Baltik yang akan melewati Sabang membuat Jepang cemas. Jepang memberi peringatan keras agar Hindia Belanda tidak membuka Sabang bagi Armada Baltik, atau Jepang akan mempertanyakan netralitas Hindia Belanda.

Dalam pertempuran ini pasukan-pasukan Jepang menyerang sebuah posisi Rusia setelah mereka menyeberangi sungai itu tanpa menghadapi perlawanan. Ini adalah sebuah pertempuran besar pertama dari perang ini di daratan. Pasukan-pasukan Jepang bergerak maju dan mendarat di beberapa titik di pantai Manchuria, serta melakukan sejumlah pertempuran hingga memukul balik pasukan-pasukan Rusia ke Port Arthur. Pertempuran-pertempuran ini, termasuk Pertempuran Nanshan pada 25 Mei, ditandai oleh kekalahan besar Jepang dalam penyerangan kepada sejumlah posisi kuat Rusia, tetapi tentara Rusia tetap bersikap pasif dan tidak melakukan serangan balasan.

Sebagai jawaban terhadap strategi Jepang yang memberikan kemenangan cepat untuk menguasai Manchuria, Rusia melakukan tindakan-tindakan penghalang untuk memperoleh cukup waktu untuk menunggu tibanya pasukan-pasukan tambahan yang datang melalui jalan kereta api Trans-Siberia yang panjang. Pada 1 Mei, pecahlah Pertempuran Sungai Yalu.

Di laut, perang ini sama brutalnya. Setelah penyerangan pada 8 Februari terhadap Port Arthur, pasukan Jepang berusaha mencegah pasukan Rusia menggunakan pelabuhan itu.

Netralnya Hindia Belanda

“Asia bagian utara bukan hanya tempat Jepang akan memperluas wilayahnya, Asia Tenggara juga masuk ke dalam penglihatan mereka. Formosa (Filipina) akan menjadi jembatan ke Hindia Belanda, yang kekayaan sumber daya alamnya bukan lagi sebuah rahasia bagi Jepang,” tulis Kees van Dijk dalam The Netherlands Indies and the Great War, 1914 – 1918.

Karena alasan itulah, meski bersikap netral, beberapa pihak di Hindia Belanda pada dasarnya bersimpati kepada Rusia, salah satunya adalah kaum pedagang Eropa. Selama tahun 1904, NHM di Sabang diam-diam meneken kontrak dengan Angkatan Laut Rusia untuk memasok batu bara bagi kapal-kapal Rusia, bahkan meminta kantor-kantor mereka di Surabaya dan Makassar untuk melakukan hal yang sama.

Menurut hukum internasional, netralitas tersebut membuat pelabuhan-pelabuhan di Hindia Belanda kini tertutup bagi kapal-kapal perang Rusia dan Jepang selama keduanya berada dalam status perang.

Masalahnya, Hindia Belanda tidak memiliki angkatan laut yang cukup kuat untuk menghalau Armada Baltik jika mereka memaksa untuk mengisi bahan bakar di Sabang. Beruntung, Armada Baltik tidak menimbulkan masalah ketika melewati Hindia Belanda — lebih tepatnya karena angkatan laut Hindia Belanda sama sekali tidak berhasil mendeteksi kapal-kapal perang Rusia tersebut.

Sumber :

  •  Rahardian Rundjan. 13 September 2016.Jejak Kapal-kapal Perang Rusia di Hindia Belanda pada Perang Rusia-Jepang. Indonesia RBTH.  
  • Nish, Ian (1985). The Origins of the Russo-Japanese War
  • Russo-Japanese War research society


0 Response to "Jejak Rusia Di Hindia Belanda"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Bawah Artikel