Perempuan-perempuan Aceh dan Hindia Belanda

Perempuan-perempuan Aceh dan Hindia Belanda

Dalam mempertahankan sesuatu pendirian yang merupakan kepentingan nasional dan agama, para perempuan Aceh baik di belakang layar maupun secara terang-terangan telah memimpin perlawanan yang tidak kalah hebatnya dengan kaum pria. Para perempuan Aceh berjuang atas dasar sabilu’llah (jalan Allah). Para perempuan Aceh tidak mengenal lelah, menolak semua kompromi, dan tidak akan mengkhianati kodratnya sebagai seorang perempuan. Kegagahan mereka telah terkenal bahkan telah diakui oleh pihak luar, seperti diungkapkan oleh H.C Zentgraff:

“… perannya di dalam peperangan sampai sekarang pun sukar untuk di nilai dan biasanya aktif sekali. Wanita Aceh, gagah berani, adalah penjelmaan dendam kesumat terhadap kita yang tidak ada taranya serta tak mengenal damai. Jika ia turut bertempur, maka tugas itu  dilaksanakannya dengan suatu energi yang tidak kenal maut dan biasanya mengalahkan prianya. Ia adalah pengemban dendam yang membara yang sampai-sampai ke liang kubur atau dihadapan maut pun masih berani meludah ke muka si ‘kaphe’ (kafir) ….”
                                    
Ketabahan dan kegigihan perempuan Aceh dalam menghadapi pertempuran diungkapkan lebih lanjut oleh Zentgraff. Istri Teungku Mahyidin di Tiro misalnya, pada saat pertempuran tahun 1910 ia ditawan oleh Belanda dalam keadaan luka parah. Sesakit apapun ia tidak mengerang atau mengeluh. Bahkan ketika salah satu opsir Belanda, Schmidt mendekatinya dengan membawa segelas air minum dan menanyakan apakah lukanya mau di balut dalam bahasa Aceh, ia membuang muka dan mengatakan : bek kamet kaphe budok! ( jangan kau pegang aku, kafir kusta)4. Istri Teungku Mahyidin di Tiro lebih memilih kematian daripada harus hidup di tangan seorang kaphe : seekor anjing kafir.


Teungku Fakinah

Perempuan-perempuan Aceh dan Hindia Belanda

Teungku Fakinah adalah perempuan Aceh yang menjadi panglima perang, ulama besar, dan sebagai pendidik islam yang semenjak sebelum perang telah membangun pesantren. Teungku Fakinah adalah panglima perang yang ditakuti dan disegani musuh. Setelah kembali dari medan perang, ia menjadi ulama dan pendidik islam yang bekerja keras untuk membangun kembali pesantrennya yang telah hancur selama berlangsungnya peperangan. Fakinah mempunyai suami seorang ulama yang bernama Teungku Ahmad. Mereka berdua mengajar pada Pusat Pendidikan Islam Dayah Lam Pucok, merupakan pusat pendidikan yang dibangun oleh kedua orang tua Fakinah. Semenjak Fakinah mengajar di sana, maka murid yang belajar did ayah Lam Pucok tidak hanya pria saja melainkan juga kaum perempuan. Fakinah juga mengadakan perubahan kurikulum, dimana di dayah selain di ajarkan pendidikan bahasa Arab dan berbagai ilmu agama serta umum, juga di ajarkan kerajinan tangan bagi pelajar perempuan.

Teugku Fakinah memimpin Kuta Cot Weu, sebagai benteng dari balang wanita. Benteng tersebut juga sekaligus menjadi markas dari Sukey Fakinah. Di samping kaum pria yang menjadi penasehat dari Sukey Fakinah, terdapat juga beberapa perempuan yang duduk di staf Sukey seperti Cutpo Fatimah Blang Preh, Nyak Raniah Lam Urit, Cutpo Habi, Cutpo Nyakcut, dan Cut Puteh. Fakinah mengerahkan tenaga anak buahnya untuk memasang pagar, menggali parit, dan memasang ranjau. Beberapa benteng lainnya seperti Kuta Lamsayun, Kuta Cot Bakgarot, Kuta Bakbale di buat untuk berjaga-jaga karena Pasukan Belanda telah gagal melakukan serangan ke Aceh. Kedudukan Belanda yang sudah sangat terjepit, mereka meminta bantuan tentara dari Batavia untuk mematahkan perjuangan rakyat Aceh. Benteng-benteng Sukey Fakinah di daerah Lam Krak tidak luput dari serangan Belanda. Sampai akhirnya Fakinah bersama pasukannya pindah ke Tangse dan membangun tempat pendidikan yang bersifat darurat. Dalam kesempatan ini Fakinah masih menyempatkan diri untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak yang ikut bersamanya.

Pada tahun 1911, Teungku Fakinah turun dari daerah gerilya menuju kampungnya di daerah Lam Krak. Ia membangun kembali dayahnya yang telah hancur. Dalam waktu singkat dayah Lamdiran berkembang menjadi Pusat Pendidikan Islam yang besar dan penting bagi dunia pendidikan memajukan putera-puteri Aceh. Fakinah ternyata juga mampu memimpin rakyat, untuk memperbaiki kampung-kampung, sawah, ladang, pasar-pasar yang telah porak poranda akibat peperangan. Bersama rakyat, Fakinah membangun ateung seunabat (jalan) yang cukup panjang, sampai sekarang jalan tersebut masih dikenal dengan nama Ateung Teungku Faki (Jalan Teungku Faki).

Diantara murid-murid perempuan Fakinah ada beberapa yang mengikuti jejaknya menjadi ulama dan mengajar didayah-dayah seperti Teungku Fatimah Batee Linteung, Teungku Sa’idah Lamjane, Teungku Fatimah Ulee Tutue, dan Teungku Hawa Lamdilip.

Pocut Meuligo

Pada saat Belanda hendak memasuki Samalanga, seorang pemimpin perempuan pewaris kerajaan Samalanga bernama Pocut Meuligo yang masih remaja belia berhasil mempertahankan wilayahnya. Pocut Meuligo sangat tegas kepada setiap pria yang mangkir dari kewajiban perang. Pocut Meuligo dikenal sebagai srikandi dari Samalanga dan termasuk dalam deretan perempuan pejuang. Jenderal Van der Heijden yang menjadi korban keberanian dan kegagahan pasukan pimpinan Pocut Meuligo dan harus kehilangan satu mata kirinya yang tertembak oleh pejuang Samalanga. 

Keberanian Pocut Meuligo bahkan ditulis oleh seorang kapten Belanda yang bernama Schumacher bahwa Pocut Meuligo sangat membenci Belanda. Memberi hukuman yang berat jika rakyatnya mangkir dari perang. Pengaruh perempuan ini tidak hanya di Samalanga, Pocut Meuligo juga sering mengirim bantuan dana, logistik, dan senjata ke Aceh Besar. Dan ketika Belanda berusaha keras memaksa agar Samalanga mengakui pemerintahan Belanda, Pocut Meuligo menjawabnya dengan melakukan penembakan dan perompakan kapal-kapal Belanda.

Gubernur Jenderal Belanda Kolonel Karel van der Heijden merancang serangan ke Samalanga. Pasukan Aceh pun siap menanti kedatangan pasukan Belanda di Kiran dan Kuala Tambora. Sebuah hutan yang telah dipasang ranjau, satu batalion Belanda ditumpas dengan mudah hanya dengan 40 pejuang Aceh. Pasukan Meuligo kembali memperkuat benteng Batee Llie yang terletak di sebuah bukit tak jauh dari Samalanga. Benteng ini telah dipasang ranjau, duri, kawat dan berbagai perangkap lainnya. Tiga batalion Belanda dibawah pimpinan Kapten Kauffman dibekali pelontar meriam dan 900 buah meriam. Pada perang kali ini, Kolonel van der Heijden tertembak mata sebelah kirinya sehingga diberi gelar Jenderal Mata Satu oleh orang Aceh.

Lagi-lagi dengan 900 prajurit bersenjata lengkap Van der Heijden memimpin serangan ke Samalanga. Namun usahanya gagal total. Tahun 1904, Van der Heijden kembali mengerahkan pasukan meriamnya. Usahanya kali ini mengakhiri perlawanan pejuang Samalanga selama lebih dari tiga puluh tahun melawan Belanda. Lamanya Samalanga bertahan dari serangan Belanda tidak terlepas dari peranan Pocut Meuligo yang tak kenal putus asa memimpin dan memompa semangat juang rakyatnya dengan tetap berpegang teguh pada kekuatan Allah SWT.

Dalam perjalanan sejarah Aceh selanjutnya, kegagalan srikandi-srikandi di Aceh diteruskan oleh srikandi-srikandi muda dalam berbagai kesempatan. Penanaman pendidikan islam yang kuat pada masa lalu, mengakibatkan mereka pun sekarang giat memasuki berbagai organisasi Islam yang ada seperti SEPIA (Serikat Pemuda Islam Aceh) yang di pimpin oleh Said Abubakar, A. Hasjmy, Thamrin Amin, A.Jalil Amin, Muh. Ali Piyeung, dll. 

Kongres ke-II yang berlangsung di Montasie pada tanggal 30 Juni- 4 Juli 1939, dalam kongres tersebut nama SEPIA diubah menjadi PERAMIINDO (Pergerakan Angkatan Muda Islam Indonesia).  PERAMIINDO bersama-sama Kepanduan Islam membentuk Gerakan Fajar dan seluruh anggotanya baik laki-laki  maupun perempuan ikut aktif dalam Gerakan Fajar serta melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Hindia Belanda di Aceh pada awal tahun 1942.- Harian Sejarah

Referensi
  • Kartono, Sartono dkk. 1997. Denyut Nadi Revolusi Indonesia: Peran Wanita dalam Revolusi Indonesia: Sebuah Renungan Sejarah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  • Nurliana, Nana dkk. 1986. Peranan Wanita Indonesia di Masa Perang Kemerdekaan 1945-1950. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisonal Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.
  • Poesponegoro, Marwati Djoened dan Notosusanto, Nugroho. 2011. Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI : Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia (1942-1998). Jakarta : Balai Pustaka.
  • Subadio, Maria Ulfah dan Ihromi, T.O. 1986. Peranan dan Kedudukan Wanita Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
  • Syahrul, Pocut Haslinda. 2008. Perempuan Aceh dalam Lintas Sejarah Abad VIII-XXI. Aceh : Pelita Hidup Insani.




Penulis : Lisnawati - Mahasiswa Sejarah UI 

0 Response to "Perempuan-perempuan Aceh dan Hindia Belanda "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel