Perang Korea (1950 – 1953), Perang Mandat Pertama


Banyak penduduk sipil yang dipaksa membawa perbekalan melintasi garis paralel ke-38 selama Perang Korea tewas oleh serangan udara. Tercatat dari 600.000 warga Korea yang kehilangan nyawa selama perang, 85 persen diantaranya adalah warga sipil. Foto:  Imperial War Museums

Harian SejarahPerang Korea atau Korean War merupakan sebuah konflik yang melibat dua buah negara merdeka di Semenanjung Korea, sebuah konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan yang terjadi sejak 25 Juni 1950 sampai 27 Juli 1953. Perang ini juga disebut "perang yang dimandatkan" (bahasa Inggris: proxy war) antara Amerika Serikat bersama sekutu PBB-nya dengan komunis Republik Rakyat Tiongkok yang bekerjasama dengan Uni Soviet.

Peserta perang utama adalah Korea Utara dan Korea Selatan. Sekutu utama Korea Selatan adalah Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Britania Raya, meskipun banyak negara lain mengirimkan tentara di bawah bendera PBB. Sekutu Korea Utara, seperti Republik Rakyat Tiongkok menyediakan kekuatan militer, sementara Uni Soviet yang menyediakan penasihat perang, pilot pesawat, dan juga persenjataan untuk pasukan Tiongkok dan Korea Utara.

Kekuatan Front Korea Selatan

  • Korea Selatan: 590.911
  • Amerika Serikat: 480.000
  • Britania Raya: 63.000
  • Kanada: 26.79
  • Australia: 17.000
  • Filipina: 7.000
  • Turki: 5.455
  • Kolombia: 4.314
  • Belanda: 3.972
  • Perancis: 3.421
  • Selandia Baru: 1.389
  • Thailand: 1.294
  • Ethiopia: 1.271
  • Yunani: 1.263
  • Belgia: 900
  • Afrika Selatan: 826
  • Luksemburg: 44
    • Total: 941.356–1.139,518

Kekuatan Front Korea Utara
  • Korea Utara: 260.000
  • RRT: 780.000
  • Uni Soviet: 26.000
    • Total: 1.066.000
-Data: bbc.co.uk & veterans.gc.ca

Korea sebelum Perang Dunia II

Korea atau Chason dalam bahasa Korea adalah sebuah wilayah berupa semenanjung yang berada di Asia Timur. Sejak tahun 1593 Korea yang merupakan bagian dari Cina sudah menjadi target ekspansi Jepang. Namun, Ketika Perang Cina–Jepang (1894–1895) berakhir, Jepang makin intensif menggempur pertahanan Korea dan meningkatkan pengaruhnya. 

Pada tahun 1910 Jepang berhasil menguasai wilayah Korea secara penuh. Seperti halnya bentuk kolonialisme yang lain, Jepang juga melakukan eksploitasi besar-besaran terhadap Korea. Semua sumber daya Korea dimanfaatkan untuk kepentingan Jepang, salah satunya selain permasalahan eksploitasi sumber daya alam adalah Jugun Ianfu yang merupakan sekelompok wanita yang diorganisir untuk menjadi wanita pemuas seks tentara Jepang yang diperkirakan wanita Korea yang menjadi korban sekitar kurang lebih 25.000 orang.


Imperialisme Jepang rasa kebangsaan kepada orang Korea. Pada tanggal 1 Maret 1919 tiga puluh tiga prajurit Korea berkumpul di Taman Pagoda, Seoul untuk memroklamasikan kemerdekaannya. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Pergerakan Kemerdekaan Samit (1 Maret). Gerakan kemerdekaan seperti itu tentu saja tidak dikehendaki oleh pemerintah pendudukan Jepang karena gerakan tersebut jelas-jelas menghendaki keluarnya Jepang dari wilayah Korea. 

Menghadapi keadaan itu, Jepang berusaha menggagalkan perlawanan tersebut. Meskipun gerakan itu mengalami kegagalan, rakyat Korea telah terilhami dan membangkitkan semangat kebangsaan. Puncaknya, bangsa Korea berani melakukan perlawanan bersenjata seperti yang terjadi di Korea. Rakyat Korea juga berhasil mendirikan pemerintahan sementara di Shanghai.

Korea Setelah Perang Dunia II

Berkas:Korean dmz map.png

Ketika Jepang menyerah kepada sekutu pada Perang Dunia II, pasukan Sekutu yang terdiri atas Amerika Serikat dan Uni Soviet segera menduduki Korea. Dengan alas an melucuti sisa-sisa kekuatan tentara Jepang yang berada di Utara, Uni Soviet mulai melancarkan serangan dan menduduki wilayah itu pada tanggal 12 Agustus 1945. Sementara itu, pasukan Amerika Serikat baru mendarat di Korea bagian selatan pada bulan September 1945.

Wilayah Semenanjung Korea diduduki dua negara adidaya, Amerika Serikat di selatan dan Uni Soviet di utara. Garis lintang 38° menjadi batas wilayah yang mereka duduki. Pasukan Amerika Serikat sejak tahun 1948 secara bertahap mulai menarik pasukannya. Hanya para penasihat militer dalam jumlah kecil yang ditinggalkan di tempat itu.


Pemerintahan Republik Korea (Selatan) berdiri pada tanggal 15 Agustus 1948. Pusat pemerintahannya ditempatkan di Seoul. Presiden pertama Republik Korea adalah Dr. Syngman Rhee. Uni Soviet ternyata berbuat sama terhadap wilayah yang didudukinya di utara. Uni Soviet membentuk sebuah negara Republik Demokratik Rakyat Korea (Korea Utara) pada tanggal 1 Mei 1948. Uni Soviet mengangkat Kim Il Sung sebagai presidennya. Uni Soviet baru meninggalkan Korea Utara setelah menandatangani perjanjian tentang pemberian bantuan ekonomi, militer, dan teknologi pada negara satelitnya itu.

Korea Selatan bangkit sebagai Negara industri baru dan hampir setara dengan jepan, berkat bantuan AS untuk membendung komunis. Disamping itu rakyatnya memiliki disiplin kerja yang sangat tinggi da nggaran militer tidak diutamakan, sebab adanya perjanjian kerjasama militer AS dengan Korea Selatan. Sampai sekarang terdapat 5.000 pasukan As di Korea Selatan (1997).

Sebaliknya Korea Utara lebih mengutamakan pelaksanaan ideologi komunis sehingga anggaran belanja untuk militer lebih besar serta upaya unutk membuat senjata nuklir walaupun belum berhasil. Akibatnya kesejahteraan rakyat sangat kurang diperhatikan dibandingkan dengan pengklutusan pimpinannya Kim II Sung dengan banyaknya monument tokoh tersebut. Jadi pemerintahan merupakan diktator komunis perorangan, apalagi setelah Kim II Sung meninggal yang menjadi presiden dan juga ketua partai anaknya (1995).

Korea Utara juga menjalin hubungan diplomatik dengan Cina. Terbentuknya Pemerintahan Korea Utara semakin memanaskan konstelasi politik dan militer di Asia, hal ini dikarenakan kian nampak pengaruh komunisme di Asia. Korea Utara diyakini dapat menjadi sekutu yang loyal terhadap Cina dan Rusia, hal ini karena Korea Utara berbatasan wilayah yang tidak terlalu jauh dengan Cina dan Uni Soviet sehingga mudah untuk diarahkan.

Awal Pertempuran

Suasana tegang mulai terasa di Semenanjung Korea, setelah pihak Utara mulai memprovokasi dengan berbagai pelanggaran di perbatasan pada sekitar tahun 1949. Dengan alasan untuk menyatukan kembali Korea pada tanggal 25 Juli 1950 tentara Korea Utara melintasi garis demarkasi dan menyerbu Korea Selatan. Tentara Korea Selatan karena persenjataannya tidak memadai tidak berhasil menghalau tentara Korea Utara.

Atas agresi Korea Utara itu, Korea Selatan mengadukan masalah itu ke Dewan Keamanan PBB. Sebagai solusinya, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang intinya memerintahkan pihak Korea Utara menarik pasukannya hingga garis lintang 38°. Selain itu, Dewan Keamanan PBB juga meminta bantuan anggota PBB untuk memberi bantuan militer ke Korea.

Untuk itu, segera dibentuk pasukan PBB yang berasal dari enam belas negara anggota. Amerika Serikat mendapat mandat Dewan Keamanan PBB untuk memimpin pasukan PBB ke Korea. Sebagai komandan pasukan PBB dipilih Jenderal Douglas Mac Arthur. Pasukan PBB berhasil mendesak pasukan Korea Utara bahkan melewati garis lintang 38°.

Pasukan PBB:
  1. Korea Selatan
  2. Australia
  3. Belgia
  4. Kanada
  5. Kolombia
  6. Ethiopia
  7. Perancis
  8. Yunani
  9. Belanda
  10. Selandia Baru
  11. Filipina
  12. Afrika Selatan
  13. Thailand
  14. Turki
  15. Britania Raya
  16. Amerika Serikat

Berkas:Welcome Celebration for Red Army in Pyongyang2.JPG
Penyambutan Tentara Merah di Pyongyang pada 14 Oktober 1945. Foto: Wikipedia/published by Shinkan Sha

Pada tanggal 19 Oktober 1950 pasukan PBB berhasil menduduki Pyongyang, ibu kota Korea Utara. Langkah itu dilakukan pasukan PBB karena menurut Mac Arthur keamanan di Semenanjung Korea akan terjadi apabila dua negara itu disatukan. Cina yang menjalin hubungan diplomatik dan ideologi dengan Korea Utara tidak menerima tindakan pasukan PBB tersebut. Di akhir bulan, pasukan PBB menahan 135,000 tawanan perang; dan mereka melihat adanya perpecahan di tentara Korea Utara.

Jenderal MacArthur dan beberapa politisi Amerika sempat mengusulkan untuk menyerang Komunis Tiongkok untuk menghancurkan depot Tentara Rakyat China yang memasok kebutuhan perang Korea Utara, namun Presiden Truman tidak setuju, dan memerintahkan Jenderal MacArthur tidak melewati perbatasan Tiongkok-Korea.

Cina berpendapat bahwa itu hanya strategi Amerika Serikat saja untuk memperluas pengaruhnya di Korea. Oleh karena tidak menerima tindakan pasukan PBB, Cina mengirimkan pasukannya dan membantu pertahanan pasukan Korea Utara. Pada tanggal 4 Januari 1951 pasukan PBB terdesak pasukan gabungan Cina–Korea Utara. Bahkan, ibu kota Korea Selatan, Seoul jatuh ke tangan pasukan gabungan. 

Atas peristiwa yang mengejutkan tersebut, Dewan Keamanan PBB kembali bersidang. Dewan Keamanan PBB mengambil keputusan bahwa tindakan Cina membantu Korea Utara adalah salah dan sebagai konsekuensinya dijalankan embargo ekonomi terhadap negara tersebut. Pada tanggal 12 Maret 1951 pasukan PBB yang telah mengonsolidasikan diri berhasil merebut kembali kota Seoul, Korea Selatan.

Kelemahan militer terbesar Korea Utara, meskipun didukung oleh 135.000 tentara, adalah ketidakmampuan untuk mengangkut perlengkapan yang sangat dibutuhkan untuk mengikuti perkembangan invasi ke selatan. Korea Utara tidak memiliki sistem distribusi perbekalan yang memadai, Korea Selatan memiliki tentara dengan senjata lebih inferior serta jumlah tentara yang hanya berkisar 65.000 orang.

Gencatan Senjata

Gencatan senjata antara Korea Utara dan Korea Selatan terjadi setelah Uni Soviet turut campur tangan. Kesepakatan perdamaian tercapai pada tanggal 27 Juli 1953. Pada hari itu, ditandatangani Persetujuan P’an Munjom yang menegaskan adanya dua Korea seperti yang kita kenal sekarang. Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun 1950–1953 telah menghancurkan segala sumber daya Korea. Jutaan orang kehilangan tempat tinggal dan terpisah dari keluarga mereka. Kerusakan itu makin menyedihkan. Oleh karena itu merupakan perang saudara sesama Korea dan meninggalkan luka yang masih terasa hingga sekarang.

Selain itu pada 4 Oktober 2007, para pemimpin dari Utara dan Selatan bergandengan tangan untuk mengadakan rapat puncak yang membicarakan pernyataan penghentian perang secara resmi dan mengukuhkan kembali prinsip non-agresi. 

Sebagian orang merujuk Perang Korea sebagai “Forgotten War” karena terjadi antara dua konflik berdarah berskala lebih besar yaitu Perang Dunia II dan Perang Vietnam. Banyak penduduk sipil yang dipaksa membawa perbekalan melintasi garis paralel ke-38 selama Perang Korea tewas oleh serangan udara. Tercatat dari 600.000 warga Korea yang kehilangan nyawa selama perang, 85 persen diantaranya adalah warga sipil. 

Korban tewas: 
  • AS: 36.940 terbunuh, 
  • China:100.000—1.500.000 terbunuh; kebanyakan sumber memperkirakan 400.000 orang yang terbunuh; 
  • Korea Utara: 214,000–520,000; kebanyakan sumber memperkirakan 500.000 orang yang terbunuh. Korea Selatan: 
  • Rakyat sipil: 245.000—415.000 terbunuh; Total rakyat sipil yang tewas antara 1.500.000—3.000.000; kebanyakan sumber memperkirakan 2.000.000 orang tewas

0 Response to "Perang Korea (1950 – 1953), Perang Mandat Pertama"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Bawah Artikel