Kematian Sutan Sjahrir, Mengenang Sosok Bung Kecil Revolusioner

Sutan Sjahrir, lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat pada 5 Maret 1909. Merupakan seorang intelektual muda, perintis gerakan kepemudaan Indonesia, dan revolusioner kemerdekaan Indonesia. Bersama dengan Soekarno dan Hatta, ia bertiga dikenal sebagai Tiga Serangkai pelopor kemerdekaan Indonesia. Ia juga dikenal dengan sapaan Bung Kecil.

Sjahrir bersama dengan Soekarno dan Moh. Hatta. Foto: Getty Images
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945). Sutan Sjahrir adalah tokoh pergerakan nasional yang tidak ingin kooperatif dengan Jepang. Sjahrir bersama dengan pemuda pergerakan lainnya melakukan perjuangan secara under ground (bawah tanah). Sjahrir juga merupakan bagian dari pergerakan pemuda Menteng 31 dan menjadi bagian dari Tiga Serangkai Menteng 31: Sukarni, Chaerul Saleh dan Sutan Sjahrir.
Sjahrir berkampanye untuk PSI saat Pemilu 1950. Foto: Getty Images
Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pasca kemerdekaan Indonesia. Hal ini untuk alternatif gerakan Sosialis selain PKI. Partai Sosialis Indonesia (PSI) sendiri menolak gagasan negara Uni Soviet. Menurutnya pengertian sosialisme adalah menjunjung tinggi derajat kemanusiaan, dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap manusia.

Pada tahun 1950-an, PSI melalui salah seorang anggotanya, Soemitro Djojohadikusumo, memberi penekanan pada program pembangunan daerah, industri kecil, dan koperasi. Akan tetapi, karena Soemitro mendukung PRRI, PSI dianggap turut serta melawan pemerintah. Pada bulan Agustus 1960, PSI bersama Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno atas pertimbangan Mahkamah Agung melalui Penetapan Presiden No. 7/1960. Sjahrir dan tokoh-tokoh PSI lainnya kemudian dijebloskan ke dalam penjaran dan berstatus tahanan politik.

Sjahrir ditangkap dan dipenjarakan tanpa diadili sampai menderita stroke akibat tekanan darah tinggi. Setelah itu Sjahrir diizinkan untuk berobat ke Zürich Swiss, salah seorang kawan dekat yang pernah menjabat wakil ketua PSI Sugondo Djojopuspito mengantarkannya di Bandara Kemayoran dan Syahrir memeluk Sugondo dengan air mata. Sjahrir akhirnya meninggal di Swiss pada tanggal 9 April 1966.

Hingga akhir hidup Sjahrir selalui didampingi oleh Istrinya, Poppy. Poppy adalah istri yang selalu setia mendampinginya. Termasuk di detik-detik akhir hidup Sjahrir saat dia menjadi tawanan politik dan menjalani perawatan di Zurich, Swiss. Poppy selalu melihat cetakan wajah Sutan Sjahrir dari waktu ke waktu sambil menangis. Kesedihan mendalam atas kepergian suaminya tidak hanya terlihat dari kebiasaan itu, Poppy juga tidak pernah memakai perhiasan dan merias wajahnya sampai akhir hayatnya.

Sjahrir meninggal dalam pengasingan sebagai tawanan politik dan dimakamkan di TMP KalibataJakarta. Presiden Soekarno kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 9 April 1966 melalui Keppres nomor 76 tahun 1966.



Referensi

Rudolf Mrazek. 1996. Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia. Jakarta, Yayasan Obor Indonesia
H. Rosihan Anwar. 1980. Mengenang Sjahrir. Jakarta, Gramedia
______________. 2010. Sutan Sjahrir: Demokrat Sejati, Pejuang Kemanusiaan 1906-1966. Jakarta, Gramedia

0 Response to "Kematian Sutan Sjahrir, Mengenang Sosok Bung Kecil Revolusioner"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel