Sejarah Perbudakan di Amerika


Perbudakan di Amerika berawal ketika para budak Afrika pertama kali dibawa ke koloni Amerika Utara di Jamestown, Virginia, pada tahun 1619, untuk membantu dalam produksi tanaman yang menguntungkan seperti tembakau. Perbudakan dipraktekkan di seluruh koloni Amerika di abad 17 dan 18, dan budak Afrika-Amerika membantu membangun fondasi ekonomi bangsa yang baru. Penemuan gin (alat pemisah biji kapas) kapas tahun 1793 memantapkan pentingnya pusat perbudakan bagi perekonomian Selatan.

Pada pertengahan abad ke-19, ekspansi ke barat Amerika, bersama dengan gerakan penghapusan hak tumbuh di Utara, memicu perdebatan besar atas perbudakan yang akan memicu Perang Sipil Amerika (1861-1865). Meskipun kemenangan Uni membebaskan 4 juta bangsa dari perbudakan, warisan perbudakan terus mempengaruhi sejarah Amerika, dari tahun-tahun penuh gejolak Rekonstruksi (1865-1877) dengan gerakan hak-hak sipil yang muncul pada tahun 1960, satu abad setelah emansipasi.

Latar Belakang Perbudakan di Amerika

Pada awal abad ke-17, pemukim Eropa di Amerika Utara beralih ke budak Afrika karena lebih murah sebagai tenaga kerja dan lebih banyak dari pada pegawai orang Eropa miskin. Setelah 1619, ketika sebuah kapal Belanda membawa 20 orang Afrika di koloni Inggris dari Jamestown, Virginia, menyebarkan perbudakan di seluruh koloni Amerika.

Meskipun tidak mungkin untuk memberikan angka yang akurat, beberapa sejarawan telah memperkirakan bahwa enam sampai tujuh juta budak yang diimpor ke Dunia Baru pada abad ke-18.


Pada abad 17 dan 18, budak kulit hitam bekerja terutama pada perkebunan tembakau, beras dan nila di pantai selatan. Setelah Revolusi Amerika (1775-1783), banyak Kolonis (khususnya di Utara, di mana perbudakan adalah relatif tidak penting untuk perekonomian) mulai mengaitkan penindasan budak hitam terhadap penindasan Inggris terhadap mereka, dan menyerukan penghapusan perbudakan ini.

Setelah perang dengan Inggris berakhir. Konstitusi AS yang baru secara diam-diam mengakui lembaga, menghitung setiap budak tiga-perlima dari orang untuk tujuan perpajakan dan perwakilan di Kongres. Hal yang dapat diketahui bahwa AS ingin membentuk landasan terhadap perbudakan dengan memberikan setiap hak dan pelayanan.

Pentingnya Mesin Pemisah Kapas

Pada akhir abad ke-18, dengan lahan yang digunakan untuk menanam tembakau nyaris habis, Koloni bagian selatan menghadapi krisis ekonomi, dan pertumbuhan atas perbudakan di Amerika kian meragukan. Sekitar waktu yang sama, mekanisasi industri tekstil di Inggris menyebabkan permintaan besar kapas kepada Amerika, hasil panen koloni selatan yang produksinya sayangnya dibatasi oleh sulitnya memisahkan benih dari serat kapas mentah dengan tangan.

Pada 1793, seorang Yankee (penduduk dari bagian timur laut Amerika Serikat) yang berprofesi sebagai guru muda bernama Eli Whitney menemukan gin kapas (mesin pemisah kapas), perangkat mekanik sederhana yang efisien memisahkan benih dari kapas. perangkat nya kemudian digunakan secara luas, dan dalam beberapa tahun, Amerika bagian selatan dapat memproduksi tembakau dan kapas dengan skala besar. Hal ini yang menyebabkan kebutuhan akan tenaga budak sebagai tenaga kerja meningkat.

Perbudakan itu sendiri tidak pernah tersebar luas di bagian Utara, meskipun banyak pengusaha di kawasan itu tumbuh menjadi kaya dengan perdagangan budak dan investasi di perkebunan selatan.

Antara 1774 dan 1804, semua negara bagian utara menghapus perbudakan, tapi yang disebut “lembaga khusus” tetap benar-benar penting untuk Selatan. Meskipun Kongres AS melarang perdagangan budak Afrika pada tahun 1808, perdagangan dalam negeri berkembang, dan populasi budak di AS hampir tiga kali lipat dalam 50 tahun ke depan. Pada 1860 budak hitam di Amerika mencapai hampir 4 juta, dengan lebih dari setengah hidup di negara-negara penghasil kapas di Selatan.

Budak dan Pemilik Budak

Budak di Amerika yang merupakan Selatan sekitar sepertiga dari penduduk selatan. Kebanyakan budak hidup di peternakan besar atau perkebunan kecil. Pemilik budak berusaha untuk membuat budak mereka sepenuhnya tergantung pada mereka, dan sistem yang membatasi kehidupan mereka. Mereka dilarang belajar membaca dan menulis, dan perilaku dan gerak mereka dibatasi.


Peta wilayah yang menunjukkan teritorial dan negara bagian Amerika Serikat yang memperbolehkan atau melarang perbudakan, sejak 1789–1861. Gambar: Kenmayer 

Banyak budak yang dijadikan pelampiasan seksual. Bagi mereka yang berperilaku baik akan mendapatkan perlakuan yang baik pula, sementara bagi budak pemberontak akan secara brutal dihukum. Sebuah hirarki yang ketat di antara budak, dari budak di sebuah rumah mewah hingga budak yang menjadi tanaga kerja kaasar.

Pembentukan hierarki tersebut turut memicu mereka dan cenderung mengorganisasikan melawan tuan mereka. Perkawinan antara budak tidak memiliki dasar hukum, tetapi budak mereka diperbolehkan menikah dan membesarkan keluarga mereka.

Pemberontakan oleh budak pernah terjadi selama sistem perbudakan berlaku di Amerika. Salah satunya yang dilakukan oleh Gabriel Prosser di Richmond (1800) dan Denmark Vesey di Charleston (1822). Pemberontakan yang paling menakutkan terjadi pada Agustus 1831 yang dipimpin oleh Nat Turner di Southampton, Virginia. Pada saat itu kelompok Turnur yang berjumlah sekitar 75 orang kulit hitam membunuh sekitar 60 orang kulit putih.


Pemberontakan-pemberontakan tersebut membuat kubu-kubu pendukung perbudakan menilai bahwa budak-budak tersebut barbar dan beretika rendah sehingga membutuhkan lembaga perbudakan untuk mendisplinkan mereka.

Pemberontakan yang terjadi membuat negara-negara bagian selatan AS memperkuat aturan perbudakan dengan membatasi pendidikan, kebebasan berkumpul. Berbeda di bagian utara AS, penindasan perbudakan di selatan semakin mengobarkan gerakan persamaan hak dan penghapusan perbudakan.

Kebangkitan Gerakan Penghapusan Perbudakan

Dari tahun 1830 sampai 1860, gerakan penghapusan perbudakan merembak di bagian utara AS. Gerakan ini dipimpin oleh orang kulit hitam merdeka seperti Fredrick Douglass dan orang kulit puih seperti William William Lloyd Garrison, pendiri surat kabar radikal pembebasan, dan Harriet Beecher Stowe yang menerbitkan novel yang populer, "Uncle Tom’s Cabin" (1852).


Sementara itu banyak akitivis penentang perbudakan meyakini bahwa penjualan budak adalah perbuatan dosa, dan mereka yang condong kepada non-agama, menyatakan bahwa penjualan budak merupakan tindakan regresif, tidak efisien, dan memiliki nilai ekonomi yang kecil.

Kebebasan orang kulit hitam di utara AS mendorong para budak dari selatan untuk melarikan diri ke utara melalui jaringan persembunyian sejak awal tahun 1780an. Jaringan ini dikenal sebagai Underground Railroad (kereta api bawah tanah) berhasil meloloskan pelarian sekitar 40.000 sampai 100.000 budak menuju utara menikmati kebebasan.

Perdebatan Perbudakan di Amerika

Pertumbuhan dan ledakan ekspansi Amerika ke arah barat pada abad ke-19 memberikan dampak pada perkembangan konflik atas perbudakan di Amerika. Pada tahun 1820 terjadi perdebatan yang pahit mengenai hak pemerintah federal membatas perbudakan.

Pada tahun 1850 kemudian dinegoisasiikan mengenai aturan mengenai perbudakan. Sementara semua negara bagian setiapnya memiliki perundang-undangan mengenai budak sendiri, banyak konsep-konsep serupa yang dimiliki semua negara bagian budak. Menurut perundang-undangan budak, mengajari seorang budak membaca atau menulis adalah tindakan melanggar hukum, meskipun hal ini sering terjadi karena anak-anak sering mengajari satu sama lain.

Walau perundang-undangan budak memiliki banyak ciri khas umum, setiap negara bagian memiliki perundang-undangan atau variasi yang cocok dengan hukum di tempat tersebut. Sebagai contoh, di Alabama, budak-budak tidak diperbolehkan meninggalkan pekarangan majikan mereka tanpa izin tertulis, para budak juga tidak diperbolehkan berdagang barang antar sesama. Di Virginia, budak-budak tidak diperbolehkan berminum di tempat umum dalam radius satu mil (1,6 kilometer) dari tempat majikannya berada atau selama ada pertemuan di tempat-tempat umum.

Di Ohio seorang budak yang telah diemansipasikan dilarang kembali negara bagian di mana ia telah diperbudak. Di negara bagian budak mana pun juga, para budak tidak diperbolehkan membawa senjata api.

Perundang-undangan untuk Distrik Columbia mendefinisikan seorang budak sebagai "seorang manusia, yang kebebasannya telah diambil untuk seumur hidupnya, dan merupakan hal milik seorang lainnya."

Perang Sipil dan Emansipasi 
Negara selatan mencapai titik puncaknya pada tahun berikutnya, ketika kandidat Partai Republik Abraham Lincoln terpilih sebagai presiden. Dalam waktu tiga bulan, tujuh negara bagian selatan telah memisahkan diri untuk membentuk Konfederasi Serikat; empat akan mengikuti setelah Perang Sipil (1861-1865) dimulai. Meskipun pandangan anti perbudakan Lincoln yang mapan, tujuan perang  pada awalnya tidak untuk menghapuskan perbudakan, namun untuk melestarikan Amerika Serikat sebagai bangsa.


Penghapusan perbudakan kemudian menjadi tujuan dalam perang sipil, kebutuhan militar dan tumbuh sentimen anti perbudakan di Utara, serta emansipasi orang Afrika-Amerika. Banyak orang kulit hitam kemudian bergabung dengan pasukan Uni Amerika untuk berperang dengan wilayah selatan. Lima hari pasca kemenangan Pemerintahan Uni Amerika pada September 1862, Lincoln mengeluarkan Proklamasi Emansipasi dan pada 1 Januari 1863 menetapkan penghapusan perbudakan di seluruh negara bagian AS.

Dengan berlakunya ketetapan anti perbudakan di AS. Sekitar 3 juta budak kulit hitam di wilayah-wilayah pemberontakan terhadap pemerintah di bebaskan. Sekitar 186.000 tentara hitam yang awalnya membantu mengatasi pemberontakan kemudian bergabung resmi dengan tentara AS.

Peperangan sipil yang berakhir pada 1865 mengakibatkan 38.000 orang kulit hitam tergenggut nyawanya. Jumlah korban tewas keseluruhan sekitar 620.000 dari populasi AS pada waktu itu sekitar 35 juta. Hal ini mencatatatkan sebagai konflik paling berdarah dalam sejarah Amerika.

Periode Pasca Meninggalkan Perbudakan

Pada amandemen ke-13 pada konstitusi AS akhir tahun 1865, secara jelas menghapuskan perbudakan, meskipun masih menjadi ketidakpastian membebaskan secara penuh perbudakan pasca perang di wilayah selatan dan tantangan pasca Periode Rekonstruksi (1865-1877). Pada amandemen konstitusi ke-14, para budak akan dibebaskan dan akan menerima hak-hak kewarganegaraan dan “perlindungan yang sama”sebagai warga AS.

Meskipun konstitusi menjamin persamaan derajat orang kulit hitam dalam pelbagai bidang kehidupan, termasuk kehidupan politik Amerika. Kekecewaan tetap terjadi dikalangan orang kulit hitam. Supermasi kulit putih tetap terjadi di beberapa negara bagian AS, seperti masih berkembangnya organisasi rasi seperti Ku Klux Klan yang pernah berjaya di selatan pada 1877.

Se-abad kemudian, perlawanan terhadap rasisme dan diskriminasi di AS menyebabkan gerakan-gerakan persamaan hak-hak sipil pada tahun 1960-an mencapat keuntungan secara politiik dan sosial.


Salah satu tokoh persamaan hak, Martin Luther King Jr. merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam perjuangan persamaan hak di Amerika Serikat. Ia memperjuangkan kesetaraan ras yang saat itu sangat sulit didapatkan. Selain memperjuangkan kesetaraan ras, ia juga dikenal sebagai tokoh kulit hitam yang paling berpengaruh dalam perjuangan kesetaraan ras sepanjang sejarah Amerika Serikat.

0 Response to "Sejarah Perbudakan di Amerika"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel