Kemalangan Suku Pribumi Amerika

Seperti juga di timur, perluasan kepada dataran-dataran dan pegunungan oleh para penambang, peternak dan para penetap membawa pertikaian yang meningkat dengan para suku asli di wilayah Barat. Banyak suku asli Amerika – dari suku Utes di Great Basin sampai ke suku Nez Perces di Idaho – berperang melawan orang kulit putih sesekali waktu. Namun suku Sioux di dataran Utara dan Apache di barat daya yang memberikan perlawanan paling signifikan terhadap kemajuan perbatasan. Dipimpin oleh pemimpin-pemimpin cerdik seperti red Cloud dan Crazy horse, suku Sioux khususnya, sangat mahir pada pertempuran cepat di atas kuda. Para Apache juga sama mahirnya dan sangat sulit ditangkap, bertempur pada medan tempur mereka di padang-padang gurun dan lembah-lembah.

Pertikaian dengan para Indian dataran semakin memburuk setelah kejadian membuat Dakota (bagian dari negara suku Sioux), yang mengumumkan perang melawan pemerintahan Amerika Serikat karena keluhan yang tidak kunjung ditanggapi, membunuh lima penduduk kulit putih. Pemberontakan dan peperangan terus berlanjut selama Perang Saudara. Pada 1876 perang besar terakhir suku Sioux meletus, ketika perebutan emas di Dakota memasuki wilayah Black hills. Pasukan tentara seharusnya menjaga agar para penambang tidak memasuki daerah berburu suku Sioux, namun dengan ogah-ogahan melindungi tanah suku Sioux. Namun ketika mereka diperintahkan untuk bertindak atas sekelompok suku Sioux yang berburu memasuki sedikit daerah kekuasaan mereka, mereka bergerak dengan sangat cepat dan ganas.
source: westernexpansionvalerie.weebly.com
Pada 1876, setelah beberapa pertempuran kecil, kolonel George Custer, dengan sepasukan kecil pasukan pejalan kakinya bertemu dengan pasukan besar suku Sioux dan para sekutunya di Sungai Little Bighorn. Custer dan pasukannya dihancurkan total. Namun, perlawanan para suku asli Amerika tidak lama kemudian berhasil ditekan. kemudian, pada 1890, ritual tarian hantu di penampungan Sioux bagian utara di Wounded knee, Dakota Selatan, berujung pada pemberontakan dan pertempuran akhir yang tragis yang membawa kematian kepada hampir 300 pria, wanita, dan anak-anak Sioux

jauh sebelum ini, kehidupan para Indian dataran telah dihancurkan oleh populasi orang kulit putih yang berkembang, kedatangan perusahaan kereta api dan pembantaian bantengbanteng, hampir dipunahkan dalam satu dekade setelah 1870 oleh perburuan liar para pendatang. Perang Apache di barat daya terus berlangsung sampai pada 1886, pemimpin terakhir mereka, Geronimo, tertangkap.

kebijakan pemerintah sejak adminitrasi monroe sebenarnya telah berfokus pada pemindahan para suku asli keluar jangkauan para pendatang kulit putih. Namun dengan tidak terhindarkan, kawasan perlindungan para Indian menjadi semakin kecil dan semakin padat. Beberapa warga Amerika mulai memprotes perlakuan pemerintah terhadap suku Indian. helen hunt jackson, sebagai contohnya, menulis buku berjudul A Century of Dishonor (1881), yang mendramatisir kemalangan mereka dan membuka hati nurani negeri itu. Banyak tokoh reformasi percaya bahwa suku-suku asli seharusnya dibaurkan dengan kebudayaan yang dominan. Pemerintahan federal bahkan membangun sekolah di Carlisle, Pennsylvania, dalam usahanya untuk menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan orang kulit putih kepada kaum muda suku Indian. (Di sekolah inilah jim thorpe, yang sering dianggap sebagai atlit terbaik yang pernah dilahirkan Amerika Serikat, memperolehkan kemahsyurannya di awal abad ke-20.)

Pada 1887 Undang-undang Dawes (Pembagian Umum) memutarbalikkan kebijakan pemerintah atas suku pribumi Amerika, memampukan presiden untuk membagi-bagi tanah suku Indian dan membagi-bagi 65 hektar tanah kepada masing-masing kepala keluarga. tanah yang dibagi tersebut dipercayakan kepada pemerintah selama 25 tahun, dan setelah itu pemilik tanah berhak atas kepemilikan penuh dan kewarganegaraan. tanah yang dibagikan, ditawarkan kepada para pendatang untuk dijual. kebijakan ini, sekalipun berniat baik, ternyata membawa bencana, karena mengijinkan perampasan lebih banyak akan tanah para suku pribumi Amerika. Dan lagi, serangan terhadap organisasi suku masyarakat asli menyebabkan lebih banyak lagi kekacauan kepada budaya tradisional. Pada 1934 kebijakan Amerika Serikat diputarbalikkan kembali dengan Undang-undang pengorganisiran kembali para Indian, yang mencoba untuk melindungi kehidupan kebudayaan Indian di daerah-daerah perlindungan.

0 Response to "Kemalangan Suku Pribumi Amerika"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel