Ekspedisi Pasukan Salib

Di bawah tekanan bahaya yang merugikan dunia Islam, seperti keterpecahan negara Islam serta kaum muslimin yang saling berebut kekuasaan dan saling membunuh, dunia Islam juga diserang dari Barat dan Timur. Dari Barat, kaum Salib Eropa melancarkan serangannya berkali-kali. Penyebab kaum Salib menyerang adalah tindakan yang dilakukan Dinasti Buwaih. Dari Timur, pasukan Mongolia, yaitu bangsa Tartar, berhasil menguasai negeri-negeri Islam di antara dua sungai dan terus bergerak menuju Iran, Irak, dan Asia Kecil. Mereka terakhir masuk ke Suriah, lalu mengancam Mesir. Dinasti Ayyubiyah dan setelahnya, Dinasti Mameluk, berhasil menangkis serangan pasukan Salib dalam Perang Hithin dan Ain Jalut.

Perang Salib

Perang Salib berlangsung selama dua ratus tahun dan terbagi dalam tujuh ekspedisi.

Ekspedisi Salib Pertama

Ekspedisi pertama dilancarkan banyak pihak yang tidak tertata dan tidak bersatu. Mayoritas pasukan ini berasal dari Prancis karena seruan berasal dari seorang Paus yang berkebangsaan Prancis. Itu sebabnya kaum muslimin menyebut pasukan Salib dengan pasukan Prancis, yakni pasukan yang berkebangsaan Prancis. Pasukan itu dipimpin beberapa orang panglima dari Prancis. Mereka membawa pasukan itu lewat jalur darat, melewati Konstantinopel. Di daerah Anadhul, mereka bertemu dengan Dinasti Saljuk Romawi. Mereka berhasil memusnahkan mayoritas Saljuk, kemudian meneruskan langkah ke perbatasan Anadhul Timur dan Suriah. Setelah itu, pasukan Salib dipecah menjadi tiga bagian. Yang pertama menuju Timur dan menduduki kota Raha pada tahun 492 Hijriah dan mendirikan Dinasti Salib di bawah pimpinan Baldwin I. Bagian kedua menuju Selatan dan memasuki wilayah S
uriah menuju pantai Laut Tengah dan menduduki Antakia pada tahun 492 serta mendirikan Dinasti Salib di bawah pimpinan Bohemond II. Mereka kemudian bergerak menuju Baitul Maqdis, mendudukinya tahun 493 Hijriah/1099 Masehi, dan mengepungnya secara rapat. Kekuatan Dinasti Fathimiyah tidak mampu menandingi pasukan Salib. Mereka menyerah. Kota suci itu dimasuki Nasrani pada tanggal 15 Juli 1099 Masehi. Mereka melakukan pembantaian terhadap penduduk kota suci itu yang terdiri atas muslimin, Yahudi, dan Kristen ortodoks. Para ahli sejarah mengakui bahwa perbuatan pasukan Salib ini sangat mengerikan. Ahli sejarah wanita Jerman berkata dalam bukunya mengenai perang Salib, “Pembantaian yang dilakukan pasukan Salib ketika menguasai kota Al-Quds termasuk kejahatan terbesar dalam sejarah.” Di kota suci itu, pasukan Salib mendirikan kerajaan Salib di bawah pimpinan Gubernur Laoren Godfrey. Pada tahun 1100 Masehi, dia mengepung kota Akka, lalu terkena sebuah anak panah dan terbunuh. Dia digantikan saudaranya, Baldwin.

Ekspedisi Salib Kedua

Pada tahun 539 Hijriah/1144 Masehi, Imaduddin Zanki, penguasa Mosul, menyerang kota Raha untuk merebutnya dari pasukan Salib. Karena itu, kaum Nasrani membuat ekspedisi kedua di bawah pimpinan Raja Jerman Konrat III dan Raja Prancis Luis IX. Namun, mereka kembali dengan tangan hampa dan gagal merebut Damaskus setelah mengepungnya.

Ekspedisi Salib Ketiga

Pada tahun 583 Hijriah/1188 Masehi, An-Nashir Shalahuddin al-Ayubi menyerang Baitul Maqdis untuk merebutnya dari tangan pasukan Salib setelah Perang Hitin. Lalu, terjadilah ekspedisi pasukan Salib ketiga di bawah pimpinan Frederick Barbaros I, Raja Jerman, Philip Agust, Raja Prancis, dan Richard “Lion Heart”, Raja Inggris. Frederick melalui jalan darat dan melewati Konstantinopel sampai Anadhul. Namun, raja itu tenggelam saat menyeberangi Sungai Kilikia sehingga pasukannya kocar-kacir. Sementara itu, Philip Agust kembali ke Prancis setelah jatuh sakit. Raja Richard akhirnya melakukan perjanjian damai dengan Shalahuddin al-Ayubi.

Ekspedisi Salib Keempat

Pada tahun 598 Hijriah/1202 Masehi, serangan Salib dilakukan di bawah pimpinan beberapa gubernur Prancis, di antaranya Baldwin IX (Gubernur Flanders), Tabu III (Gubernur Sambani), Luis (Gubernur Balo), dan masih banyak lagi. Tujuan penyerangan mereka adalah Mesir. Gubenurgubernur itu mengadakan perjanjian dengan para pemilik senapan bahwa mereka akan dipindahkan ke Iskandariyahh. Ketika Shalahuddin al-Ayyubi mengetahui kesepakatan itu, dia pun memberikan fasilitas yang lebih kepada para pemilik senapan sehingga para pemimpin Salib berpindah ke Konstantinopel. Mereka menguasai kota itu dan mendirikan Dinasti Latiniyah dan menunjuk Baldwin IX sebagai raja. Sang raja lalu mengumumkan aliran Katolik. Dinasti tersebut berdiri sampai tahun 658 Hijriah/1260 Masehi dan tidak mencapai tujuan pasukan Salib.

Ekspedisi Salib Kelima

Ekspedisi ini terjadi pada tahun 615 Hijriah/1219 Masehi di bawah pimpinan Jan De Barman, Raja Baitul Maqdis. Mereka bergerak menuju Mesir, lalu menguasai kota Dimyat, namun kemudian direbut kembali oleh penduduk Mesir dan mengusir mereka dari Mesir.

Ekspedisi Salib Keenam

Ekspedisi ini dipersiapkan Raja Frederick II dari Jerman. Dia membawa pasukannya pada tahun 625 Hijriah/1228 Masehi ke Suriah lewat jalur laut. Raja Mesir, Al-Kamil, meminta bantuan kepada Raja Frederick untuk merebut Damaskus dari tangan saudaranya, Raja Isa. Syaratnya, Raja Al-Kamil menyerahkan Baitul Maqdis kepada Frederick. Frederick bersama pasukannya sampai di Akka ketika Raja Isa telah meninggal dunia dan digantikan anaknya, Raja Al-Manshur Dawud. Dawud kemudian berdamai dengan pamannya, Raja Al-Kamil, dan menyerahkan Damaskus kepada sang paman. Al-Kamil mengganti Damaskus dengan Sharkhad, Syaubik, dan Karak. Dengan serah terima tersebut, Frederick pun berhak menerima upah, yaitu menguasai Al-Quds. Dia memasuki kota suci itu dan menyatakan diri sebagai penguasanya, lalu kembali ke negeri asal. Dengan demikian, ekspedisi Salib yang dipimpinnya berakhir tanpa terjadi peperangan.

Ekspedisi Salib Ketujuh

Ekspedisi ini disponsori Raja Prancis yang bernama Louis IX yang bergelar Lauraah bersama orang suci. Louis IX membawa pasukannya bergerak ke Mesir. Dia berpendapat bahwa merebut Baitul Maqdis lewat Mesir lebih mudah daripada merebutnya dari Suriah. Louis IX mengerahkan pasukan lautnya ke Mesir pada tahun 646 Hijriah/1249 Masehi dan berhasil menduduki kota Dimyat. Dia lalu menuju Al-Manshurah untuk mengepungnya. Namun, dalam peperangan yang terjadi antara Louis IX dengan penduduk Mesir pada akhir periode Raja Saleh Najmuddin Ayyub dan istrinya Syajarah Durr, raja Prancis itu malah tertawan dan penduduk Mesir memenangi pertempuran. Bahkan, beberapa panglima ekspedisi juga ikut tertawan. Kemudian, Louis IX dilepaskan setelah memberikan tebusan yang besar.

Setelah ekspedisi ketujuh ini, ekspedisi Salib terhadap negeri Suriah terhenti. Meski demikian, pasukan Salib masih menduduki sebagian wilayah dan benteng Suriah, sampai datangnya angkatan laut Dinasti Mameluk. Malik adh-Dhahir Bebrass alBandaqari dan sesudahnya, Raja Qalawun, bersama pasukannya berhasil mengusir pasukan Salib dari Suriah. Suriah merdeka dari pasukan Salib setelah dikuasai lebih dari dua ratus tahun.


0 Response to "Ekspedisi Pasukan Salib"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel