Mohammad Yamin: Cendekia Sawahlunto

Ia sarjana hukum, aktivis, sastrawan, penulis, tokoh politik, juga seorang negarawan. Namanya Mohammad Yamin, lahir di Sawahlunto, Sumatra Barat pada 23 Agustus. Yamin mendapatkan pendidikan pertamanya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Palembang, kemudian melanjutkannya ke Algemeene Middelbare School (AMS) Yogyakarta. Di AMS Yogyakarta, ia mulai mempelajari sejarah purbakala dan berbagai bahasa seperti Yunani, Latin, dan Kaei. Setelah tamat, ia berniat melanjutkan pendidikan ke Leiden, namun tidak jadi dikarenakan ayahnya meninggal dunia. Ia kemudian menjalani kuliah di Recht Hogeschool (RHS), Sekolah Tinggi Hukum Hindia Belanda yang kemudian menjadi Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Yamin berhasil memperoleh gelar Meester in de Rechten (Sarjana Hukum) pada tahun 1932.

Sewaktu muda, Mohammad Yamin giat dan menonjol dalam pergerakan politik, antara lain: ketua Jong Sumatranen Bond (1926- 1928), ketua Indonesia Muda (1928), dan turut mencetuskan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 di Batavia. Dalam kegiatan kepartaian, ia seorang tokoh Partindo (1932-1938), Gerindo dan kemudian Perpindo. Ia termasuk dalam anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda) 1938-1942.

Semasa pendudukan Jepang (1942-1945), Mohammad Yamin bertugas pada Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA), sebuah organisasi nasionalis yang disokong oleh pemerintah Jepang. Ia adalah salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam sidang BPUPKI, Yamin berpendapat agar hak asasi manusia dimasukkan ke dalam konstitusi negara. Ia juga mengusulkan agar wilayah Indonesia pasca kemerdekaan mencakup Sarawak, Sabah, Semenanjung Malaya, Timor Portugis, serta semua wilayah bekas Hindia Belanda.

Setelah kemerdekaan, Mohammad Yamin kerap dilantik untuk mengisi jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan. Ia dipercaya sebagai penasihat delegasi Indonesia ke Konferensi Meja Bundar (1949), Menteri Kehakiman (1951), Menteri Penerangan, ketua Dewan Perancang Nasional (Depemas), anggota DPR-RIS yang kemudian menjadi DPR-RI (sejak 1950), anggota DPR-RI dan Badan Konstituante hasil pemilihan umum 1955, anggota DPRGR dan MPRS setelah Dekrit Presiden 1959, penasihat Lembaga Pembinaan Hukum Nasional, anggota Dewan Pertahanan Nasional, anggota Staf Pembantu Panglima Besar Komando Tertinggi Operasi Ekonomi Seluruh Indonesia, anggota Panitia Pembina Jiwa Revolusi, dan ketua Dewan Pengawas LKBN Antara (1961-1962).

ebagai penulis, buku karyanya banyak yang mengandung unsur sejarah dan kenegaraan. Beberapa karya tersebut antara lain: Naskah Persiapan Undang-undang Dasar (1960; 3 jilid), Ketatanegaraan Majapahit (7 jilid), Sang Merah Putih 6000 tahun; Tanah Air (kumpulan puisi, 1922), Ken Arok dan Ken Dedes (drama, 1934), Tan Malaka (1945), Sapta Dharma (1950), Proklamasi dan Konstitusi Republik Indonesia (1951), Kebudayaan Asia Afrika (1955), Konstitusi Indonesia dalam Gelanggang Demokrasi (1956). Selain menulis sendiri, ia sempat menerjemahkan karya Rabindranath Tagore dan Shakespeare.

Mohammad Yamin meninggal dunia di Jakarta pada 17 Oktober 1962 dan dikebumikan di Talawi, Kabupaten Sawahlunto, Sumatra Barat. Mendapat anugerah Bintang Mahaputera Republik Indonesia dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1973.

Sumber: Ensiklopedi Pahlawan Nasional

0 Response to "Mohammad Yamin: Cendekia Sawahlunto"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel