Soekarno: Indonesia Menggugat!

Di masa mudanya, ia “singa podium” yang garang dan tidak kenal takut terhadap pemerintah kolonial. Ia produk kolonial, tapi benci kolonialisme. Di tanah Hindia [Indonesia] berulangkali ia serukan persatuan kaum pergerakan pribumi. Ia menulis Naar Het Bruine Front [Menuju Pembentukan Front Sawo Matang]. Ia optimis kaum pribumi yang disebutnya kaum Sawo Matang akan bersatu. Karena sangat garang, banyak orang khawatir. Tjipto Mangunkusumo yang terbuang di Bandanaira menulis surat kepadanya, setahun berselang sahabatnya Muhammad Hatta menulis surat yang sama. Mereka khawatir ia akan ditangkap Belanda. Ia tetap tidak bergeming dan hasilnya ia benar-benar ditangkap Belanda, disidang dan masuk penjara.

Akan tetapi, dimasa inilah ia dengan begitu gagahnya menggugat: “tiap-tiap machluk, tiap-tiap ummat, tiap-tiap bangsa, tidak boleh tidak, pasti achirnya berbangkit, pasti achirnya bangun, pasti achirnya menggerakkan tenaganja, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan tjelakanya diri teraniaja oleh suatu daja angkara murka!”. Ia seorang yang tidak pernah surut melawan kolonialisme hingga akhir hayatnya.

Soekarno lahir pada hari Kamis Pon dengan nama Koesno Sosrodihardjo dari pasangan Ida Ayu Rai Srimben [Singaraja Bali] dengan Raden Soekemi Sosrodihardjo [Probolinggo Jawa Timur]. Dua minggu sebelum Koesno lahir, gunung Kelud meletus dahsyat. Mitos Jawa mengabarkan bahwa gunung meletus menjadi tanda hadirnya pemimpin besar. Seperti legenda lahirnya prabu Airlangga yang disertai letusan gunung Kampud [nama kuno gunung Kelud] di abad 10 Masehi, juga catatan Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama yang menyebut letusan gunung yang sama saat Hayam Wuruk lahir di kedaton Majapahit tahun 1334.

Awalnya Soekarno kecil diasuh kakeknya, Raden Hardjokromo, di Tulung Agung dan bersekolah di Inlandische School, sekolah rendah untuk pribumi lalu sekolah di Eerste Inlandse School, ayahnya menjadi kepala sekolah. Pada Juni 1911, ia dipindahkan ke Europeesche Lagere School [ELS] Mojokerto dan ditempatkan di kelas III. Selepas lulus, tepatnya pada Juni 1916, ia masuk HBS [Hogere Burger School] Surabaya dan indekost di rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII no 29/31. Sejak itu, ia mulai mengenal pergerakan Indonesia. Ia sering ikut berdiskusi dengan tokoh-tokoh SI, ikut rapat-rapat SI, ikut menulis di koran SI Oetoesan Hindia, dan ikut tergabung dalam perkumpulan Tri Koro Dharmo [TKD]. Pada Juni 1921, ia lulus HBS dan berselang sebulan kemudian ia sudah masuk sekolah angkatan kedua THS Bandung di Dago. Hanya berselang beberapa bulan ia memutuskan berhenti karena harus kembali ke Surabaya untuk membantu keluarga Tjokroaminoto, saat pemimpin SI itu ditahan pemerintah Belanda. Setahun kemudian, ia telah kembali ke Bandung dan meneruskan pendidikannya.

Di Bandung, kegiatan politik Soekarno semakin pesat. Ia mendirikan Algemene Studie Club pada 1925 di Bandung dengan majalahnya Soeloeh Indonesia Moeda. Pada 1927, setahun selepas jadi insinyur, ia ikut mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia, setahun kemudian namanya diganti menjadi Partai Nasional Indonesia [PNI] dan ia akhirnya menjadi ketuanya. Kegiatan politiknya dalam ranah pergerakan, menjadi radikal, membawa konsekuensi yang pahit. Pada 1929, ia ditangkap Pemerintah Hindia Belanda di Yogyakarta, dibawa ke Bandung untuk diadili dan dijatuhi hukuman 4 tahun [sejak 1930] di penjara Sukamiskin. Di masa pengadilan inilah Soekarno menulis pledoi terkenalnya setebal 170 halaman yang bertajuk Indonesia Menggugat.

Pada 1931, atas tekanan publik, Gubernur Jenderal de Graeff, membebaskan Soekarno. Ia segera masuk Partindo [Partai Indonesia] dan segera menjadi ketuanya. Ia aktif kembali dalam dunia pergerakan dan pada 1933, ia ditangkap kembali oleh pemerintah kolonial. Kali ini ia dihukum buang ke Endeh Flores. Di pulau itu, ia banyak menghabiskan waktu untuk menulis dan mementaskan 12 naskah drama. Serta seperti kisah Budha Gautama dibawah pohon Bodhi, Soekarno juga banyak merenung di bawah pohon Sukun bercabang lima. Di bawah Artocarpus communis [nama latin Sukun] itulah, ia mendapat pencerahan tentang konsep Pancasila. Akibat Malaria, Soekarno dipindahkan ke Bengkulu pada 1937. Di kota ini, ia segera bertemu dengan tokoh-tokoh pergerakan lokal. Ia lalu menjadi ketua Majelis Pengajaran Muhammadiyah cabang Bengkulu.

Sejak Soekarno membaca novel Te Great Pacif c War gubahan Charles Hector Bywater, ia percaya bahwa perang Pasifk akan terjadi. Nyatanya Jepang masuk Hindia Belanda pada 1942 dan ia segera dicari Jepang. Soekarno menjadi tokoh yang tidak bisa disangkal kemampuannya dan ia masih menjadi tokoh terkenal di Jawa. maka segera Soekarno dibebaskan dan dikawal oleh Kenpetei [polisi militer Jepang] dari Sumatra menuju Jakarta. Pada 1943, ia diangkat menjadi ketua Pusat Tenaga Rakyat [Putera] dan lembaga ini pada 1944 dirombak menjadi Djawa Hookokai [Kebangkitan Rakyat Jawa], Soekarno tetap ketua. Ia kemudian juga menjadi ketua Tjuo Sangi In [Badan Penasihat Pemerintah tentara Jepang di Jawa].

Pada 29 April 1945, dibentuklah BPUPKI dimana Soekarno duduk menjadi salah satu anggotanya. Dalam sebuah sidang, 1 Juni 1945, Soekarno mengucapkan pidatonya tentang dasar negara, Pancasila. Lembaga ini dibubarkan dan diganti dengan PPKI pada 7 Agustus 1945, Soekarno menjadi ketuanya. Tiga hari kemudian, ia diundang ke Dalat [Saigon ] untuk bertemu marsekal Terauchi membicarakan kemerdekaan. Selepas kembali ke tanah air, Soekarno bersama Hatta diculik pemuda ke Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945. Keesokan harinya, 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan dibacakan.

Sehari kemudian, PPKI segera bersidang dan mengangkat Soekarno menjadi presiden RI didampingi Hatta yang menjadi wakilnya. Sejak itu, ia menjadi pemimpin Indonesia, sejak ibu kota berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta, dari sistem pemerintahan presidensil hingga parlementer, atau hingga bentuk negara dari kesatuan hingga federal [RIS] selepas KMB.

Sejak tahun 1955, kondisi Indonesia telah mulai stabil. Soekarno tetap menjadi presiden yang disegani. Ia membuat gerakan non Blok serta pemrakarsai konferensi Asia Afrika di Bandung. Ia juga segera menerapkan sistem politik Demokrasi Terpimpin sejak tahun 1959. Ia segera mengeluarkan dekrit presiden 5 Juli 1959 yang mengembalikan fungsi UUD 1945 serta membubarkan dewan konstituante.

Semenjak peristiwa 1 Oktober 1965, Soekarno telah kehilangan kendali politik. Angkatan darat telah memimpin kendali keamanan dan juga politik negara. Semenjak keluarnya surat perintah 11 Maret 1966, Soekarno secara de facto tidak lagi sebagai pemimpin negara. Pada 20 Februari 1967, Soekarno menandatangani Surat Pernyataan Penyerahan Kekuasaan di Istana Merdeka. Dengan demikian secara resmi, ia tidak lagi menjabat presiden RI. Tiga tahun berselang, pada jam tujuh pagi, dalam usia 69 tahun, Soekarno meninggal dunia di RSPAD Gatot Subroto. Jenazahnya kemudian diterbangkan ke Jawa Timur untuk dimakamkan di Blitar. Atas jasa-jasanya dalam perjuangan bangsa dan proklamasi kemerdekaan, pemerintah memberikan dua gelar kepada Soekarno. Pertama, gelar Pahlawan Proklamator pada 1986. Kedua, gelar Pahlawan Nasional pada 2012.

Sumber: Ensiklopedi Pahlawan Nasional

0 Response to "Soekarno: Indonesia Menggugat!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel