Masuknya Bangsa Eropa ke Kerajaan Tidore

Sultan kedua Tidore yaitu Almansur yang naik takhta pada tahun 1512 kemudian ia menetapkan Mareku sebagai pusat pemerintahan. Almansur adalah Sultan yang pertama menerima kedatangan bangsa Spanyol di Tidore, Spanyol tiba di Tidore pada tanggal 8 November 1521, turut serta dalam rombongan kapal armada Magellan, Pigafetta, seorang etnolog dan sejarawan Italia. Kedatangan Spanyol ke Tidore adalah untuk mengajak kerajaan Tidore beraliansi secara strategis sebagai jawaban atas aliansi yang dibangun oleh Ternate dan Portugis sebemnya.

Untuk mendukung kemajuan perdagangan di Tidore dengan tangan terbuka, ditambah lagi melihat kerajaan Ternate yang terlebih dahulu bekerja sama dengan Bangsa Portugis maka tidak ada kecurigaan sama sekali akan adanya tindakan buruk dari bangsa Spanyol mengakibatkan Sultan Almansur memberikan tempat spesial bagi Spanyol untuk melakukan perdagangan di Tidore. Waktu awal datang bangsa Spanyol menukar sepotong kain merah dengan cengkih satu bahar (550 pon), 50 pasang gunting dengan satu bokor cengkih, tiga buah gong dengan dua bokor cengkih. Dengan cepat cengkih di seluruh Tidore ludes, sehingga memaksa sultan Almansur harus mencari remaph-rempah di tempat lain seperti Moti, Makian dan Bacan. Demikianlah awal mula kerjasama antara Tidore dan Spanyol, hubungan perdaganganpun semakin berkembang, tidak hanya di bidang perekonomian tetapi juga sampai bidang militer

Pada tahun 1524 mulai terjadi persaingan ekonomi berupa penguasaan wilayah perdagangan rempah-rempah antara pasukan kerajaan Ternate dan Tidore, saat itu pasukan gabungan Ternate dan Portugis yang berjumlah 600 orang menyerbu kerajaan Tidore dan berhasil masuk ke ibukota Mareku. Hal yang menarik adalah dalam penyerangan tersebut meskipun serangan gabungan antara Ternate dan Portugis berhasil mencapai ibukota Tidore, mereka tidak dapat menguasai Tidore sepenuhnya dan berhasil dipukul mundur beberapa waktu kemudian. Berselang dua tahun berikutnya pada tahun 1526 Sultan Almansur wafat tanpa meninggalkan pengganti. Kegagalan serangan dan perselisihan antara Ternate dengan bantuan dari Portugis dan Tidore dengan bantuan dari Spanyol berujung dilakukannya perjanjian Zaragosa antara Raja Portugis, John III dan Raja Spanyol, Charles V pada tahun 1529. Dengan isi bahwa Portugis harus mengganti imbalan sebesar 350.000 ducats pada Spanyol maka Charles V sebagai raja Spanyol kala itu bersedia melepaskan klaimnya atas Maluku, namun setelah disepakatinya perjanjian tersebut tidak serta merta membuat seluruh armada Spanyol keluar dari Maluku.

Putera bungsu Sultan Almansur, Amiruddin Iskandar Zulkarnaen, dilantik sebagai Sultan Tidore Pada tahun yang sama saat Perjanjian Zaragosa disepakati, dengan dibantu oleh Kaicil Rade seorang bangsawan tinggi Kesultanan Tidore sebagai Mangkubumi. Dimasanya terjadi tribulasi, pada saat Gubernur Portugis di Ternate, Antonio Galvao, memutuskan untuk kembali meyerang Tidore, hal ini tentunya menghianati perjanjian Zaragosa yang telah disepakati oleh kedua raja Portugis maupun Spanyol. Dalam penyerangan itu pasukan Portugis mendapatkan kemenangan atas Tidore pada tanggal 21 Desember 1536 dan mengakibatkan Tidore harus menjual seluruh rempah-rempahnya kepada Portugis dengan imbalan Portugis akan meninggalkan Tidore.

Sultan Amiruddin Iskandar Zulkarnaen wafat pada tahun 1547 dan digantikan oleh Sultan Saifuddin, dalam perjalanan tongkat estafet kesultanan berikutnya berturut-turut Kie Mansur, Iskandar Gani dan Gapi Baguna hingga tahun 1599. Pada era tersebut tidak terjadi sesuatu yang luar biasa di Kesultanan Tidore, kecuali pada tahun 1578 Portugis membangun Benteng “Dos Reis Mogos” di Tidore. Namun demikian benteng tersebut tidak mencampuri urusan internal kesultanan. Kejadian penting lainnya yang patut dicatat adalah terjadinya uniikasi kekuatan Portugis dan Spanyol di Maluku di bawah pimpinan Raja Spanyol pada tahun 1580. Sehingga demikian semua benteng Portugis dan Spanyol di seluruh kepulauan Maluku dapat digunakan oleh kedua belah pihak. Uniikasi ini sebenarnya didahului oleh kejadian sebelumnya pada tanggal 26 Desember 1575, yaitu Sultan Babullah, Sultan Ternate terbesar berhasil menaklukan benteng Portugis-Gamlamo di Ternate oleh. Menyerahnya Gubernur Portugis terakhir di Maluku, Nuno Pareira de Lacerda, menunjukkan berakhirnya kekuasaan Portugis di Nusantara. Kondisi yang lemah dan terdesak inilah yang mengakibatkan mau tidak mau armada perang Portugis harus membentuk persekutuan dengan Spanyol di kepulauan Maluku.

Pada tanggal 26 Maret 1606, Don Pedro da Cunha Gubernur Jenderal Spanyol di Manila, mulai membaca gerakgerik VOC-Belanda yang mencoba memperluas wilayah dagangnya hingga Maluku. Mulai merasa terancam dengan kehadiran armada dagang VOC-Belanda di Maluku, ditambah bahwa VOC-Belanda mulai menjalin kerjasama dengan Kesultanan Ternate untuk memperkuat posisinya dalam kancah perdagangan di Maluku maka Don Pedro da Cunha memimpin pasukan untuk menggempur Benteng Gamlamo tempat yang menjadi basis kekuatan VOC-Belanda di Ternate, penyerangan yang dilakukan Spanyol tentu saja dengan bantuan dari Tidore bekas kerajaan yang pernah menjadi aliansinya, pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Mole Majimu kerajaan Tidore dengan senang hati membantu Spanyol dalam mengusir VOC-Belanda di Ternate. Spanyol berhasil menguasai Benteng Gamlamo di Ternate, tetapi tidak lama setelah itu VOC Belanda berhasil pula membuat benteng yang kemudian disebut sebagai “Fort Oranje” pada tahun 1607 di sebelah timur laut Benteng Gamlamo serta membangun garis demarkasi militer dengan Spanyol. Dan sebagai Gubernur Belanda pertama di Kepulauan Maluku diangkatlah Paulus van Carden.

pada tahun 1663 Gubernur Jenderal Spanyol yang berada Manila, Manrique de Lara, membutuhkan semua kekuatan untuk mempertahankan Manila dari serangan bajak laut Cina, Coxeng. secara mengejutkan Spanyol bahkan menarik seluruh kekuatannya dari Ternate, Tidore dan Siau yang berada di Sulawesi Utara ke Filipina. Gubernur Spanyol di Maluku, Don Francisco de Atienza Ibanez, Nampak juga meninggalkan kepulauan Maluku pada bulan Juni 1663. Maka berakhirlah kekuasaan Spanyol di Kepulauan Maluku. Ketika itu kerajaan Tidore diperintah oleh Sultan Tidore ke 12 yaitu Sultan Saifudin, Dengan tiadanya dukungan militer dari Spanyol, otomatis kekuatan Tidore melemah dan akhirnya VOC-Belanda menjadi kekuatan militer terbesar satu-satunya di kepulauan yang kaya dengan rempah-rempah itu.

Menghindari kerusakan dan kerugian yang lebih besar pada akhirnya Sultan Saifudin melakukan perjanjian dengan Laksamana Speelman dari VOC-Belanda pada tanggal 13 Maret 1667 yang mana isinya adalah :

1. VOC mengakui hak-hak dan kedaulatan Kesultanan Tidore atas Kepulauan Raja Empat dan Papua daratan
2. Kesultanan Tidore memberikan hak monopoli perdagangan rempah-rempah dalam wilayahnya kepada VOC.

Batavia kemudian mengeluarkan Ordinansi untuk Tidore yang membatasi produksi cengkeh dan pala hanya pada Kepulauan Banda dan Ambon. Di luar wilayah ini semua pohon rempah diperintahkan untuk dibasmi. Pohon-pohon rempah yang ‘berlebih’ ditebang untuk mengurangi produksi rempah sampai seperempat dari masa sebelum VOC-Belanda memegang kendali perdagangan atas Maluku.

Apa yang dilakukan oleh VOC-Belanda tersebut, yaitu memusnahkan atau eradikasi pohon-pohon cengkih di Kepulauan Maluku, disebut sebagai “Hongi Tochten”. “Hongi Tochten” dilakukan akibat banyaknya penyelundup yang memasarkan cengkih ke Eropa sehingga harga cengkih menjadi turun drastis. “Hongi Tochten” ini sebenarnya sudah pernah diterapkan pada Kesultanan Ternate pada tahun 1652 kemudian disusul oleh Tidore beberapa waktu berikutnya setelah Tidore mengakui kekuatan ekonomi-militer Belanda di Maluku. Dengan memberikan imbalan tertentu (recognitie penningen) pada kerajaan oleh VOC akibat operasi ini.

Kesultanan Tidore semakin melemah sepeninggal Sultan Saifudin. Banyaknya pertentangan dan pemberontakan di kalangan istana, dengan kondisi kerajaan yang lemah menyebabkan Belanda dengan begitu mudah mencaplok sebagian besar wilayah kerajaan Tidore. Puncak dari kekacauan ini terjadi hingga pemerintahan Sultan Kamaluddin (1784- 1797), dimana sejarawan mencatat bahwa Sultan Kamaluddin memiliki perangai yang kurang baik sehingga mengakibatkan terjadinya banyak kerusuhan baik diluar dan didalam istana. Namun demikian lambat laun situasi mulai berubah ketika Tidore memiliki Sultan Nuku, seorang Sultan yang akan menjadikan kerajaan Tidore bangkit dari keterpurukan dan menjadikan kerajaan Tidore menjadi kerajaan terbesar di Maluku.

Pada tahun 1780, Sultan Nuku membuat gebrakan dengan memproklamasikan dirinya sebagai Sultan dari kerajaan Tidore dan menyatakan bahwa kesultanan-nya sebagai wilayah yang merdeka lepas dari kekuasaan VOC-Belanda. Kesultanan Tidore yang dimaksudkan olehnya meliputi semua wilayah Tidore yang utuh yaitu : Halmahera Tengah dan Timur, Makian, Kayoa, Kepulauan Raja Ampat, Papua Daratan, Seram Timur, Kepulauan Keing, Geser, Seram Laut, Kepulauan Garang, Watubela dan Tor.

Penghujung abad ke-18 dan permulaan abad ke-19 adalah era keemasan Tidore di bawah Nuku. Setelah berjuang beberapa tahun, Sultan Nuku memperoleh kemenangan yang gemilang dengan berhasil membebaskan Kesultanan Tidore dari kekuasaan Belanda dan mengembalikan pamornya. Pada titik ini bahkan kebesaran Sultan Nuku dapat dibandingkan dengan keagungan Sultan Babullah yang telah mengusir Portugis dari Ternate.

Kemenangan-kemenangan yang diraih Sultan Nuku atas VOC-Belanda juga tidak lepas dari kondisi politik yang terjadi di Eropa terlebih negeri Belanda. Pada tahun 1794, Napoleon Bonaparte menyerbu Belanda yang mengakibatkan Raja Willem V mengungsi ke Inggris. Selama menetap di Inggris, ia mengeluarkan instruksi ke seluruh Gubernur Jenderal daerah jajahannya agar menyerahkan daerahnya ke Inggris supaya tidak jatuh ke tangan Perancis. Tahun 1796, Inggris menduduki daerah-daerah yang dikuasai oleh Belanda. Ditambah dengan bubarnya VOC pada Desember 1799, maka hal ini semakin memperlemah kedudukan Belanda di Kepulauan Maluku dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh Sultan Nuku untuk merebut kembali kekuasaan yang diambil oleh VOC-Belanda.

Pada tanggal 14 November 1805, akhirnya Tidore kehilangan seorang sultan yang pada masa hidupnya dikenal sebagai “Jou Barakati” atau di kalangan orang Inggris disapa dengan “Lord of Forrtune”. Wafatnya Sultan Nuku dalam usia 67 tahun tidak hanya membawa kesedihan bagi rakyat Malaku, tetapi juga memberikan kedukaan bagi rakyat Tobelo, Galela dan Lolada yang telah bergabung ke dalam barisan Nuku sejak awal perjuangannya.

Hal yang diingat oleh rakyat Malaku, Tobelo, Galela dan Lolada tentang Sultan Nuku adalah sifatnya yang memiliki kecerdasan dan karisma yang kuat, Sultan Nuku juga terkenal akan keberanian dan kekuatan batinnya. Sultan Nuku-lah seorang Sultan dari kerajaan Tidore yang berhasil mentransformasi masa lalu Maluku yang kelam ke dalam era baru yang didalamnya terdapat kemauan dan kemampuan untuk bangkit dan melepaskan diri dari segala bentuk keterikatan, ketidakbebasan dan penindasan.

sumber: Ensiklopedia Kerajaan Islam di Indonesia oleh Binuko Amarseto

0 Response to "Masuknya Bangsa Eropa ke Kerajaan Tidore"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel