Loading...

Masuknya Kolonialisme Barat di Kesultanan Aceh

Selain serangan karena serangan Majapahit, yang menjadi penyebab runtuhnya Kerajaan Samudra Pasai adalah Kedatangan bangsa Eropa. Portugis menjadi Bangsa Eropa yang pertama kali tiba di Aceh. kedatangan Bangsa Portugis pertama kali dipimpin oleh Diogo Lopez de Sequeira di perairan Selat Malaka Pada 1508, kurang dari setahun setelah Sultan Ali Mughayat Syah menetapkan berdirinya Kesultanan Aceh Darussalam. De Sequeira bersama rombongan datang dengan empat buah kapal lengkap dengan persenjataan perang. Akan tetapi armada De Sequira tak mendapatkan hasil yang diinginkan karena terpaksa mundur akibat perlawanan dari laskar tentara Kesultanan Malaka.

Percobaan oleh armada Portugis selanjutnya pada Mei 1521. Namun percobaan yang ini pun tidak menunjukan hasil yang menggembirakan. Justru pemimpin armada Portugis pada saat itu Jorge de Britto yang tewas dalam pertempuran di perairan Aceh. Perlawanan dari pihak Aceh dipimpin sendiri oleh penguasa Kesultanan Aceh Darussalam yang pertama, Sultan Ali Mughayat Syah. Pihak Portugis pun tidak menyerah begitu saja. Untuk menghadapi Kesultanan Aceh Darussalam dan kehebatan Sultan Ali Mughayat Syah, Portugis membujuk Kerajaan Pedir dan Samudera Pasai untuk mendukungnya. Setelah dikalahkan oleh Kesultanan Aceh Darussalam, kemudian armada Portugis melarikan diri ke Kerajaan Pedir, akan tetapi dari pihak aceh tak mau berhenti sampai di situ, pasukan Aceh Darussalam tetap melakukan pengejaran dan akhirnya berhasil menguasai wilayah Kerajaan Pedir. Oleh sebab itu Portugis bersama Sultan Ahmad, Raja Kerajaan Pedir, melarikan diri menuju Samudera Pasai untuk mencari perlindungan. Pasukan Sultan Ali Mughayat Syah tetap melanjutkan pengejarannya dan berhasil menundukan perlawanan Pasai pada 1524. Dalam usaha pengusiran Portugis dari bumi Aceh, pasukan Sultan Mughayat Syah menggunakan sejumlah rampasan yang berupa alat-alat perang, termasuk meriam yang dulu dibawa oleh pihak Portugis dari Eropa.

Pasukan Aceh Darussalam tak hanya mampu mengusir Portugis yang telah kalah secara mengenaskan. Akan tetapi pihak Aceh Darussalam pun justru mandapatkan keuntungan yang besar, berkat barang-barang rampasan yang berupa alatalat perang, pasukan Aceh Darussalama menjadi lebih kuat. Sultan Ali Mughayat Syah memang dikenal sebagai sosok pemimpin yang pemberani dan penakluk yang handal. Selain berhasil mengusir Portugis serta menundukkan Kerajaan Pedir dan Samudera Pasai, Kesultanan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah, juga berhasil menaklukkan beberapa kerajaan lain seperti Kerajaan Haru, Kerajaan Deli, dan Kerajaan Daya.

Menurut catatan dari Barat yang ditulis oleh C.R. Boxer, mengungkapkan bahwa menjelang tahun 1530 armada perang Kesultanan Aceh Darussalam sudah mendapat kelengkapan perang yang cukup lengkap dan mutakhir. Bahkan, sejarawan Portugis sendiri, Fernao Loper de Costanheda, menyebut bahwa Sultan Aceh (Ali Mughayat Syah) lebih banyak memperoleh pasokan meriam dibandingkan dengan benteng Portugis di Malaka sendiri. Selain itu, menurut pejalan dari Barat lainnya, Veltman, Sultan Ali Mughayat Syah berhasil membawa lonceng besar yang kemudian diberi nama “Cakra Dunia”. Rampasan ini disebut-sebut sebagai rampasan yang paling berharga dari Samudera Pasai. Lonceng tersebut merupakan hadiah dari Laksamana Cheng Ho ketika panglima besar dari Kekaisaran Tiongkok itu berkunjung ke Pasai pada awal abad ke-15.

Kesultanan Aceh Darussalam dipimpin oleh Sultan Ali Mughayat Syah hanya sekitar 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi. meskipun masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun kerajaan Aceh yang besar dan kokoh. Sultan Ali Mughayat Syah juga meletakkan dasar-dasar politik luar negeri Kesultanan Aceh Darussalam, antara lain :

  • Mencukupi kebutuhan sendiri sehingga tidak tergantung pada pihak lain.
  • Menjalin persahabatan yang lebih erat dengan kerajaankerajaan Islam lain di nusantara
  • Bersikap waspada terhadap kolonialisme Barat.
  • Menerima bantuan tenaga ahli dari pihak luar.
  • Menjalankan dakwah Islam ke seluruh kawasan nusantara.
Sepeninggal Sultan Mughayat Syah, Sultan-Sultan penggantinya tetap menjalankan dasar-dasar kebijakan politik ini. Sebagai penerus tahta Kesultanan Aceh Darussalam, pemerintahan diserahkan kepada putra sulung almarhum Sultan Mughayat Syah yang bernama Salah ad-Din. Di bawah pemerintahan Sultan Salah ad-Din, Kesultanan Aceh Darussalam menyerang Malaka pada 1537 tetapi tidak berhasil.

Tahun 1539, kepemimpinan Kesultanan Aceh Darussalam dipegang oleh Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar anak bungsu Mughayat Syah, atau yang sering dikenal juga dengan nama Sultan Mansur Syah. Adik dari Salah ad-Din ini pelan tapi pasti mengukuhkan kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam dengan melakukan beberapa gebrakan. Tidak lama setelah naik tahta, pada tahun yang sama Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah alKahar menyerbu orang-orang Batak yang tinggal di pedalaman. Menurut Mendez Pinto, pengelana yang singgah di Aceh pada 1539, balatentara Kesultanan Aceh di bawah pimpinan Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar, terdiri atas laksar-laskar yang antara lain berasal dari Turki, Kambay, dan Malabar.

Hubungan pada era Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar Kesultanan Aceh Darussalam menjalin hubungan diplomatik yang kuat dengan kerajaan-kerajaan mancanegara. Pada 1569 Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar mengirimkan utusannya ke Istanbul untuk meminta bantuan meriam. Kesultanan Aceh Darussalam tidak hanya mendapat bantuan berupa meriam beserta ahli-ahli senjata yang dikirim oleh penguasa Turki, namun Turki juga mengirimkan pasukan perang untuk mendukung Aceh melawan Portugis. Bahkan, Sultan Turki juga memerintahkan Gubernur-Gubernur Yaman, Aden, serta Mekkah untuk membantu laskar Turki yang sedang bertolak menuju Aceh. Laksamana Turki, Kurt Oglu Hizir adalah pemimpin ekspedisi tersebut dengan tugas khusus menghancurkan musuh Aceh, mempertahankan agama Islam, dan merampas benteng-benteng kafir.

Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar tak hanya melawan kaum penjajah dari Barat namun juga melakukan penyerangan terhadap kerajaan-kerajaan lokal yang membantu Portugis. pada tahun 1547 dan 1568 Pasukan Aceh Darussalam menyerbu Kerajaan Malaka sebanyak dua kali, Pasukan Aceh Darussalam menawan Sultan Johor karena membantu Portugis. Pasukan Aceh Darussalam juga berhasil mengalahkan Kerajaan Haru (Sumatra Timur) pada 1564.

Untuk melegalkan kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam atas Kerajaan Haru, maka putra pertama Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar yang bernama Abdullah, diangkat sebagai pemegang pemerintahan Kerajaan Haru yang sudah menjadi bagian dari kekuasaan Kesultanan Aceh Darussalam. Dari berbagai peperangan besar yang terjadi antara Kesultanan Aceh Darussalam melawan Portugis telah memakan banyak korban dari kedua belah pihak. pada 16 Februari 1568 Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar kehilangan Sultan Abdullah yang memimpin bekas wilayah Kerajaan Haru dalam suatu pertempuran.

Pada 8 Jumadil Awal tahun 979 Hijriah atau 28 September 1571 Masehi Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar tutup usia. Namun karena Putra mahkota yang bernama Abdullah telah gugur dalam sebuah pertempuran melawan Portugis, maka dari itu yang menduduki tahta tertinggi Kesultanan Aceh Darussalam adalah anak kedua almarhum yang bergelar Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah atau yang juga sering dikenal dengan nama Ali Ri`ayat Syah. Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah merupakan sosok pemimpin yang pengasih dan penyayang rakyatnya. Namun Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah tetap berjuang meneruskan perjuangan ayahandanya mengusir kolonialis Portugis dari bumi Aceh.

Akan tetapi, kepemimpinan Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah tidak sehebat sang ayah meskipun dia sudah melalukan penyerangan ke Malaka hingga dua kali selama kurun 1573-1575. Ketahanan Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah semakin limbung ketika Aceh Darussalam menyerang Johor pada 1564, saat itu Sultan tertangkap dan menjadi tawanan perang. Sultan Husin Ibnu Sultan `Ala`uddin Ri`ayat Syah hanya memimpin Kesultanan Aceh Darussalam selama 7 tahun, dan kepemimpinannya berakhir ketika sang Sultan wafat pada 12 Rabi`ul Awal tahun 987 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 8 Juni 1578 dalam tahun Masehi.

Setelah Sultan Husin Ibnu Sultan Ala`uddin Ri`ayat Syah meninggal dunia , Kesultanan Aceh Darussalam berada dalam gerbang kejancuran. Kekuasaan dipercayakan kepada putranya, Sultan Muda, yang hanya memerintah Kesultanan selama 7 bulan. Karena ketika wafat Sultan Muda masih berusia belia dan belum memiliki keturunan, maka yang menjadi penggantinya ialah Sultan Sri Alam yang merupakan anak dari Sultan Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar, penguasa ke-4 Kesultanan Aceh Darussalam. Akan tetapi, Sultan Sri Alam, yang sebelumnya menjadi raja kecil di Pariaman (Sumatra Barat), ternyata Sultan Sri Alam tak mampu memipin Kesultanan, hanya 2 bulan memerintah, Sultan Sri Alam pun terbunuh.

Selanjutnya Sultan Zainal Abidin yang memegang tampuk Pemerintahan Kesultanan Aceh Darussalam. Pemimpin Kesultanan ini adalah cucu dari Sultan `Ala ad-Din Ri`ayat Syah al-Kahar atau anak dari Sultan Abdullah, pemimpin wilayah Haru yang tewas ketika pertempuran melawan Portugis. Namun nasibnya tak jauh berneda dengan penguasa sebelumnya, Sultan Zainal Abidin tidak memiliki kemampuan dalam memimpin Kesultanan Aceh Darussalam. Bahkan, Sultan ini merupakan sosok yang bengis, kejam, dan haus darah. Sultan Zainal Abidin tidak segan-segan membunuh demi memuaskan nafsu dan ambisinya. Sultan yang memerintah dengan tangan besi ini memimpin Kesultanan Aceh Darussalam selama 10 bulan sebelum tewas pada 5 Oktober 1579.

Setelah era kekejaman Sultan Zainal Abidin berakhir, penerus kepemimpinan Kesultanan Aceh Darussalam sempat bergeser dari garis darah yang mula-mula. Dikisahkan, pada sekitar tahun 1577 serangan Kesultanan Aceh Darussalam terhadap Kesultanan Perak berhasil menewaskan Sultan Ahmad sebagai pemimpin Kesultanan Perak. Sebagai bagian dari rampasan perang maka dibawalah Permaisuri Sultan Ahmad beserta 17 orang putra-putrinya ke Aceh. Putra tertua Sultan Ahmad, bernama Mansur, dikawinkan dengan seorang putri Sultan Aceh Darussalam yang bernama Ghana. Sekitar tahun 1579 Mansur dinobatkan menjadi pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam menggantikan Sultan Zainal Abidin, dengan gelar Sultan Ala al-Din Mansur Syah.

Sultan Sultan Mansur Syah bukan keturunan langsung dari sultan-sultan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Ia berasal dari etnis Melayu Perak. Mansur Syah adalah sosok yang alim, shaleh, adil, tapi juga keras dan tegas. Pada masa kepemimpinan Sultan Mansur Syah, kehidupan masyarakat yang bernuansa islami sangat terasa di Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan Mansur Syah juga mendatangkan guru-guru agama dan ulama ternama dari luar negeri untuk mendukung kebijakannya tersebut. Namun, kepemimpinan agamis Sultan Mansur Syah tidak serta merta menjadikan Aceh Darussalam lebih aman. Pada 12 Januari 1585, k Sultan Mansur Syah terbunuh ketika rombongan Kesultanan Aceh Darussalam dalam perjalanan pulang dari lawatannya ke Perak.

Gugurnya Sultan Mansur Syah menjadikan menentukan siapa yang berhak menjadi pemimpin Aceh Darussalam menjadi sangat rumit. Atas mufakat para pembesar (tokohtokoh adat dan kesultanan yang berpengaruh dan dihormati), maka Sultan Buyong dengan gelar Sultan Ali Ri`ayat Syah Putra yang merupakan anak dari penguasa Inderapura, Sultan Munawar Syah. Diputuskan bahwa yang berhak menduduki tahta Kesultanan Aceh Darussalam untuk menggantikan Sultan Mansur Syah.

Akan tetapi, kekuasaan pucuk pimpinan Kesultanan Aceh Darussalam inipun tidak berlangsung lama. Sultan Ali Ri`ayat Syah Putra meninggal dunia pada 1589 dalam suatu peristiwa pembunuhan. Raja Ayim, cucu Sultan Mansur Syah yang sebenarnya akan dijadikan pemimpin Aceh Darussalam sebelumnya, akan tetapi calon sultan muda ini juga tewas terbunuh.

Pemimpin Kesultanan Aceh Darussalam yang berikutnya adalah Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal Ibnu Sultan Firmansyah (1589-1604). Pada era Sultan Ala`udin Ri`ayat Syah Said Al-Mukammal berkuasa, dengan mulai masuknya Inggris dan Belanda maka kolonialisme barat semakin merasuk bumi nusantara. Tanggal 21 Juni 1595, armada dagang Belanda yang dipimpin de Houtman bersaudara, Cornelis dan Frederick, tiba di Aceh.

Cornelis memimpin kapal “De Leeuw” sementara Frederick bertindak sebagai kapten kapal “De Leeuwin”. Pada awalnya kedatangan orang-orang Belanda disambut hangat oleh penduduk Aceh. Akan tetapi Portugis merasa kedatangan orang orang belanda sebagai sebuah ancaman dalam perdangan. Pada akhirnya Portugis dapat dilenyapkan dari bumi Aceh Darussalam pada 1606 berkat keberhasilan serangan yang dipimpin oleh Perkasa Alam yang kelak menjadi Sultan Aceh Darussalam dan terkenal dengan dengan nama Sultan Iskandar Muda.
Loading...

0 Response to "Masuknya Kolonialisme Barat di Kesultanan Aceh"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel