Partisipasi dan Peran serta Ulama di Kerajaan Aceh

Ulama di masa kerajaan Aceh mempunyai posisi yang sangat terhormat. Hal ini dapat diterima karena kerajaan yang berpusat di Banda Aceh itu memakai Islam sebagai landasan Negara dan geraknya, disamping itu adanya perhatian yang serius dari para raja yang berkuasa di Aceh dalam memandang betapa pentingnya ulama dan ilmu yang dimilikinya, ulama dinilai mampu menjadi tokoh untuk mengendalikan atau sebagai media kontrol jalannya pemerintahan yang Baidatun thayyibatim wa Rabbun Ghaifir serta mendapat ridla-Nya. Pengangkatan ulama menjadi kontrol masyarakat ini merujuk dari hadits Nabi yang menyatakan bahwa “ Terdapat dua golongan yang apabila keduanya baik maka menjadi baik pula manusia, akan tetapi apabila keduanya rusak maka rusaklah manusia, mereka itulah ulama dan umara’ (pemerintah) ”

Suatu bukti lain yang menunjukkan bahwa kerajaan memberikan perhatian yang lebih terhadap keberadaan para ulama adalah dengan ditempatkannya ulama pada teras kerajaan; baik menjabat sebagai Mangkubumi atau pejabat lainnya. Hal ini dapat dilihat dari sederetan nama pahlawan-pahlawan Nasional yang berasal dari Propinsi Aceh, seperti Habib Abdurrahman, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Mutia, Panglima Polim, Cik Di Tiro, mereka secara keseluruhan adalah pejabat-pejabat teras kerajaan, ada yang sebagai Mangkubumi seperti Habib Abdurrahman, sebagai Kepala sagi Hulubalang Besar seperti Teuku Umar dan sebagainya.

Bahkan ada anggapan bahwa sampai terdapat suatu wilayah di Aceh yang secara khusus diserahkan pengelolaan dan penguasaannya kepada ulama, yaitu Masjid Raya dan sekitarnya. Di wilayah tersebut Sultan tidak memerintah langsung tetapi kekuasaan dilimpahkan kepada Hakim tertinggi kerajaan Teuku Kadli Malikul Adil dan Panglima Masjid Raja. Ini menunjukkan betapa besar perhatian kerajaan terhadap keberadaan ulama dalam pemerintahan. Indikasi lain yang bisa kita jadikan titik pandang untuk melihat betapa penting peran ulama di Aceh Darussalam. ├»alah adanya lembaga-lembaga yang sengaja diberi restu oleh sultan untuk menghimpun para ulama dalam mendiskusikan berbagai masalah keagamaan, hal ini ditandai dengan didirikannya Balai Jama’ah Himpunan Ulama dan Balai Setia Hukama’.

Dari uaraian di atas, maka jelaslah bahwa peranan dan partisipasi ulama sangat besar dalam sistem pemerintahan kerajaan Aceh sehingga wajar apabila di Aceh mendapatkan julukkan sebagai kota Serambi Mekkah, dan melahirkan ulamaulama besar dengan berbagai karya ilmiahnya yang berbobot, seperti: Hamzah Fansuri, Nurrddin ar-Raniri, Syamsuddin asSumantrani dan Abdur Rauf as-Singkili.

1 Response to "Partisipasi dan Peran serta Ulama di Kerajaan Aceh"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel