Perang Dunia II: Keadaan Inggris dan Kebijakan Politik Luar Negeri AS


Pada fase awal Perang Dunia II, Amerika Serikat tidak terlibat dalam arena pertempuran langsung di Eropa atau pun di Asia Pasifik. Ketika itu pertempuran di Eropa mampu dimenangkan oleh Jerman dibawah Adolf Hitler. Adolf Hitler sendiri berkeinginan menguasai eropa dan mengaturnya, dibawahDrittes Reich yang ia impikan. Ketika perang tersebut pecah pada bulan September 1939, Presiden Franklin D.Roosvelt tetap berusaha netral sesuai dengan Neutrality Act. Memasuki era 1930-an, Pemerintah Amerika Serikat pada waktu itu memberlakukan produk hukum yang mencegah Amerika Serikat terlibat dalam perang asing kembali. Hal ini sebenarnya didasarkan peristiwa Perang Dunia I dimana Amerika Serikat didorong masuk perang oleh para pebisnis demi kepentingan bisnis dan ekonomi mereka di Eropa. Hal ini membuat orang Amerika Serikat trauma akan perang dan mengisolasi diri secara politik.

Pada 31 Agustus 1935, Kongres mengeluarkan Undang-Undang Netralitas pertama yang melarang ekspor “senjata, amunisi, dan alat perang” dari Amerika Serikat ke negara-negara asing yang sedang berperang dan mewajibkan pabrik senjata di Amerika Serikat untuk mengajukan lisensi ekspor. Warga Amerika yang bepergian di zona perang juga telah diperingatkan, mereka tahu bahwa mereka melakukannya dengan resiko mereka sendiri. Presiden Franklin D. Roosevelt awalnya menentang undang-undang, tetapi mengalah dalam menghadapi opini Kongres dan publik yang kuat. Pada 29 Februari 1936, Kongres memperbarui Undang-Undang sampai Mei 1937 dan melarang orang Amerika dari memberikan pinjaman kepada negara-negara yang berperang.

Semakin menguatkan gerakan fasisme di Eropa membuat Roosevelt semakin khawatir, ini diakibatkan oleh negara-negara penganut fasisme tersebut bersifat ekspansif dan dengan mudah mengokupasi wilayah disekitarnya. Hal ini terlihat jelas ketika Jerman dibawah Nazi dengan mudah menganeksasi wilayah cekoslavakia tanpa perlawanan pada bulan maret 1939. Dia awalnya berkeinginan kuat untuk membantu negara-negara Eropa Barat untuk urusan logistik perang dengan merevisi Neutrality Act, namun usaha yang ia lakukan terjegal dan tidak disetujui oleh kongres. Pada bulan September 1939 Perang Dunia pun pecah, Roosevelt tetap berusaha mempertahankan netralitasnya.

Perang Dunia II semakin memanas, mesin-mesin perang Nazi mulai melumat negara-negara eropa disekitarnya. Awal November kongres Amerika Serikat menyetujui dan melonggarkan aturan sebelumnya yang mana menginzinkan penjualan senjata kepada pihak yang beperang dengan cara bayar dan bawah. Dengan hilangnya penghalang netralitas, pesanan manufaktur dari luar negeri meningkat cepat akibat adanya Perang Dunia II. Ini terlihat dimana kontrak pesawat sebelumnya hanya ratusan pesanan, lalu meningkat menjadi ribuan, Konsep cash and carry menginzinkan negara-negara yang berperang khususnya eropa dan Inggris membeli kebutuhan perang secara tunai, lalu mengangkut hasil pembeliannya tersebut dengan kapalnya masing-masing. Hal ini tentu tidaklah mudah karena pengangkutan barang dari Amerika ke negaranya masing-masing mempunyai reksiko besar, dimana jalur atlantik sebagai jalur utama pengiriman logistik banyak armada tempur kapal selam Jerman (U-boat) yang siap menembaki kapal-kapal pengangkut logistik tersebut.

Memasuki tahun 1940 Nazi Jerman bersama sekutunya semakin kuat dan mampu menyapu daerah Eropa Barat. Puncaknya terjadi pada 10 Juni 1940, dimana Prancis yang merupakan salah satu negara yang kuat di Eropa mampu ditaklukan oleh Nazi Jerman. Bisa dibilang situasi eropa barat pada waktu itu mencekam. Hanya tersisa Inggris sendirian yang diseberang lautan yang mampu bertahan dengan segala cara dari serangan Nazi Jerman. Nazi Jerman dengan mati-matian berusaha menaklukan Inggris salah satunya dengan mengadakan operasi Operation Sealion. Angkatan Udara Jerman ( Luftwaffe) dikerahkan untuk memborbadir tanah Inggris, mengincar instalasi penting seperti militer dan pabrik-pabrik yang berkaitan dengan kebutuhan perang. Kenyataannya Angkatan Udara Inggris ( Royal Air Force) mampu menghalau serangan tersebut dan membalikan keadaan yang membuat kerugian besar bagi Luftwaffe. Selain itu Inggris juga harus menghadapi pertempuran di Front Afrika yang menghadapi Italia-Jerman.

0 Response to "Perang Dunia II: Keadaan Inggris dan Kebijakan Politik Luar Negeri AS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel