Loading...

Sejarah Berdirinya Kerajaan Tidore

Tidore merupakan salah satu pulau kecil yang terdapat di gugusan kepulauan Maluku Utara, yang lokasi persisnya berada di sebelah barat pantai pulau Halmahera. Sebelum Islam datang ke bumi Nusantara, pulau Tidore dikenal dengan nama Limau Duko atau Kie Duko yang berarti “pulau yang bergunung api.” Penamaan ini disesuaikan dengan kondisi topograi pulau Tidore yang memiliki gunung api—bahkan merupakan gunung tertinggi di gugusan kepulauan Maluku—yang oleh penduduk asli, gunung tersebut mereka namakan gunung Kie Marijang. Saat ini, gunung Marijang sudah tidak aktif lagi. Sedangkan untuk nama Tidore sendiri berasal dari gabungan dari tiga rangkaian kata bahasa Tidore, yaitu : To ado re (aku telah sampai).

Disebabkan karena letak geograisnya yang berada di antara pulau Sulawesi dan pulau Irian jaya, Kerajaan Tidore menjadi salah satu kerajaan besar yang berada di kepulauan Maluku sekaligus memiliki posisi yang sangat strategis dan penting dalam dunia perdagangan masa itu. Ditambah lagi bahwa kepulauan Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbesar sehingga di juluki sebagai “The Spicy Island.”

Pada saat itu, rempah-rempah menjadi komoditas utama dalam dunia perdagangan, sehingga setiap pedagang maupun bangsa-bangsa yang datang dan bertujuan ke sana akan melewati rute perdagangan tersebut. Para pedagang dari Arab dan India yang beragama Islam dan berperan dalam perdagangan internasional juga banyak yang berdagang dan menetap disana. Berwal dari situ, syiar agama Islam akhirnya sampai dan meluas di Maluku, seperti Ambon, Ternate, dan Tidore. Agama Islam yang masuk ke Kerajaan Tidore dibawa oleh Ciriliati, Raja Tidore yang kesembilan. Ciriliati atau Sultan Jamaluddin bersedia masuk Islam berkat dakwah Syekh Mansur dari Arab. Keadaan seperti ini, telah mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Kesultanan Tidore merupakan satu dari empat kerajaan besar yang berada di Maluku, tiga lainnya adalah Ternate, Jaijolo dan Bacan. Dari keempatnya, hanya Tidore dan Ternate-lah yang memiliki ketahanan politik, ekonomi dan militer. Keduanya pun bersifat ekspansionis, di mana Ternate menguasai wilayah barat Maluku sedangkan Tidore mengarah ke timur yang wilayahnya meliputi Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Maba, Patani, Seram Timur, Rarakit, Werinamatu, Ulisiwa, Kepulauan Raja Empat, Papua daratan dan sekitarnya. Sejak awal berdirinya hingga raja yang ke-4, letak pusat kerajaan Tidore belum bisa dipastikan berada di kota mana. Baru pada era Jou Kolano Balibunga, beberapa informasi mengenai pusat kerajaan Tidore mulai sedikit terkuak meski masih dalam perdebatan. Tempat yang menjadi pusat pemerintahan terdahulu Kerajaan Tidore tersebut adalah Balibunga. Namun para pemerhati sejarah berbeda pendapat dalam menentukan di mana sebenarnya letak Balibunga ini. Ada yang mengatakannya di Utara Tidore dan ada pula yang mengatakannya di daerah pedalaman Tidore selatan.

Pada tahun 1495 M, saat Kerjaan Tidore dipimpin oleh Sultan Ciriliati, letak pusat kerajaan berada di Gam Tina dan ketika Sultan Mansyur naik tahta pada tahun 1512 M, pusat kerajaan dipindahkan dengan mendirikan perkampungan baru di Rum Tidore Utara. Perpindahan posisi ibu kota baru ini berdekatan langsung dengan kerajaan Ternate dan hanya diapit oleh Tanjung Mafugogo dan pulau Maitara. Dengan keadaan laut yang indah dan tenang serta dekat dengan Kerajaan Ternate yang juga merupakan salah satu kerajaan besar, akhirnya lokasi ibukota yang baru ini cepat berkembang dan menjadi pelabuhan yang ramai.

Dalam sejarah kerajaan Tidore, tercatat sudah terjadi beberapa kali perpindahan ibukota karena sebab yang beraneka ragam. Tahun 1600 M misalnya, ibukota dipindahkan oleh Sultan ke 17 kerajaan Tidore yaitu Mole Majimu (Ala ud-din Syah) dari Rum ke Toloa di selatan Tidore. Perpindahan ini disebabkan karena meruncingnya hubungan dengan Ternate, sementara posisi ibukota sangat dekat, sehingga sangat rawan mendapat serangan. Pendapat lain menambahkan bahwa, perpindahan didorong oleh keinginan untuk berdakwah membina komunitas Kolano Toma Banga yang masih menjadi animis agar memeluk Islam. Perpindahan ibu kota yang terakhir adalah ke Limau Timore di masa Sultan ke 33 yaitu Sultan Saif ud-din (1857 – 1865). Limau Timore ini kemudian berganti nama menjadi Soa-Sio hingga saat ini.

Selain Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore juga merupakan salah satu Kerajaan besar di jazirah Maluku Utara yang berhasil mengembangkan kekuasaannya terutama ke wilayah selatan pulau Halmahera dan kawasan Papua bagian barat. Sejak 600 tahun yang lalu Kerajaan ini sudah mempunyai hubungan kekuasaan hingga sampai ke Irian Barat (Pesisir Tanah Papua). Waktu itu, yang memegang kendali kekuasaan pemerintahan di Kerajaan Tidore adalah Sultan Mansyur, Sultan Tidore yang ke 12.

Menurut (almarhum) Sultan Zainal Abidin “Alting” Syah (Sultan Tidore yang ke 36) yang dinobatkan di Tidore pada 27 Februari 1947 / 26 Rabiulawal 1366 H, bahwa Kerajaan Tidore terdiri dari 2 bagian, yaitu:

1. Nyili Gam 
a. Yade Soa-Sio se Sangadji se Gimelaha 
b. Nyili Gamtumdi 
c. Nyili Gamtufkange 
d. Nyili Lofo-Lofo 

2. Nyili Papua (Nyili Gulu-Gulu) 
a. Kolano Ngaruha (Raja Ampat) 
b. Papua Gam Sio 
c. Mavor Soa Raha 

Disebutkan dalam catatan beliau, bahwa bukan Irian Barat melainkan Papua. Kerajaan Tidore juga pernah menaklukkan pulau-pulau di sekitarnya seperti pulau Gebe, pulau Patani, Kepulauan Kei, Kepulauan Tanimbar, Sorong, Gorong, Maba, Weda dan Papua. Ketika Sultan Mansyur yang merupakan Sultan Tidore pernah mengadakan expedisi sampai ke pulau Halmahera bagian selatan sampai di “Papua” dan pulau-pulau sekitarnya dicatat dalam sebuah sejarah dengan menggunakan bahasa Tidore. Yang kurang lebih seperti ini.

Madero toma jaman yuke ia gena e jaman “Jou Kolano Mansyur” Jou Lamo yangu moju giraa2 maga i tigee Jou Kolano una Mantri una moi2 lantas wocatu idin te ona: Ni Kolano Jou Ngori ri nyinga magaro ngori totiya gam enareni, tiya Mantri moi2 yo holila se yojaga toma aman se dame madoya.

Ngori totagi tosari daerah ngone majoma karena daerah ngone enareni yokene foli, kembolau gira toma saat enarige ona jou Mantri moi-moi yo marimoi idin enarige, lantas Jou Kolano una rigee wotagi wopane oti isa toma Haleyora (Halmahera) wodae toma rimoi maronga Sisimaake wouci kagee lalu wotagi ine toma Akelamo lantas kagee wotomake jarita yowaje coba Jou Kolano mau hoda ngolo madomong kataa, gena e lebe laha Jou Kolano nowako koliho mote toma lolinga madomong kataa, gena e lebe laha Jou Kolano nowako koliho mote toma lolinga karena kagee seba foloi.

Lantas gaitigee Jou Kolano wowako sewolololi ino toma lolinga majiko wotagi ia toma Bobaneigo lantas gaitigee womaku tomake se Jou Kolano Ternate, “Jou Kolano Komala” Gira Jou Kolano ona ngamalofo rigee yo maku yamu rai se yo maku sawera sewowaje, Jou Kolano Ternate tagi turus ia toma Kao, Jou Kolano Tidore woterus toma Lolobata, Bicoli, Maba se Patani.

Lantas kagee Jou Kolano wolahi Kapita2 kagee toma Maba, Buli, Bicoli se Patani ona yomote una terus toma Gebe la supaya yohoda kiye mega yoru-ruru, yo bapo ino uwa, toma Gebe madulu se I ronga “Papua”.

Gira2 tigee ona Kapita moi2 yomote Jou Kolano ine toma Gebe lalu turus toma Salawati, Waigeo, Waigama, Misowol (Misol), terus ine toma Papua Gam Sio, se Mavor Soa-Raha. Raisi karehe Jou Kolano se ona Kapita ona rigee yowako rora tulu toma Salawati, wotia Kapita hamoi se woangkat una wodadi Kolano kagee, hamoi yali toma Waigeo, hamoi yali toma Waigama, se hamoi yali toma Masowol (Misol). Kapita-kapita ngaruha onarigee Jou Kolano woangkat ona yodai Kolano teuna ipai maalu gena e mangale Kolano Ona Ngaruha rigee ngapala Kapita Patani, ona ngaruha yoparentah yodo toma Papua Gam Sio se Mavor Soa Raha”.

Yang jika diterjemahan memiliki arti sebagai berikut :
“Bahwa pada masa dahulu kala, masa kekuasaan Sultan Tidore yang bernama “Mansyur“, dimana daerah kekuasaannya belum/tidak luas, maka beliau berikir, bahwa wilayah Kerajaan di Tidore pada masa itu memang terlalu kecil yakni hanya di pulau Tidore. Beliau menetapkan untuk keluar mencari daerah tambahan. Para Menteri beliau berhadap dan titah beliau, bahwa atas maunya sendiri bertolak nanti dari Tidore untuk maksud yang utama dan kepada Menteri2 beliau tinggalkan kerajaannya untuk dijalankan oleh para Menteri, menjaga agar supaya berada aman dan damai. Menteri bersatu dan menerima baik yang dititahkan.

Lalu dengan sebuah perahu biduk beliau beserta beberapa pengawal dan pengikutnya bertolak dari pulau Tidore ke Halmahera tengah dan selatan, tiba pada sebuah tempat namanya Sismaake. Di sana Beliau turun dan berjalan kaki ke Akelamo. Di Akelamo beliau mendapat keterangan/ceritera dan mendapat saran dari orang di Akelamo, katanya jika beliau hendak melihat lautan sebelah (lautan di teluk Kao Halmahera), maka sebaiknya beliau melewati jalan di Dodinga, karena di Dodinga sangat dekat dengan lautan sebelah. Sri Sultan Mansyur kembali dari Akelamo menuju Dodinga dan dari Dodinga berjalan kaki ke Bobaneigo.

Di Bobaneigo Sultan Ternate yang ke XVI bertemu dengan Sri Sultan Ternate Bernama “Komala“, Kedua Sultan tersebut kemudian saling bertanya dan akhirnya menyepakati untuk membagi pulau Halmahera menjadi dua wilayah kekuasaannya, dari Dodinga ke utara menjadi kekuasaan dari Sultan Ternate sedangkan wilayah dari Dodinga ke selatan Sultan Tidore yang menjadi penguasanya.

Pembagian kekuasaan di Halmahera ini menjadikan pulau Halmahera tepatnya di daerah Dodinga menjadi batas wilayah kultur antara kedua Kerajaan ini, bahkan masih bias dilihat dan ditemui sampai sekarang bakas pembagian tersebut, bahkan pembagian daerah dengan cara pembagian yang seperti Sultan Ternate dan Tidore lakukan sampai saat ini dijadikan dasar oleh Pemerintah untuk menetapkan batas wilayah Kabupaten sejak jaman Indonesia merdeka.

Kemudian dalam perjalanan selanjutnya Sultan Mansyur berkelana menuju kedaerah Lolobata, Bicoli, Maba, Buli dan Pulau Patani. Di sana Sultan Mansyur minta supaya Kapitan-kapitan dari Maba, Buli, Bicoli dan Patani turut dengan beliau ke pulau Gebe untuk menyelidiki pulau-pulau apa yang terapung di belakang pulau Gebe, dalam pengamatan Sultan Mansyur terlihat antara pulau yang satu dengan lain tidak berdekatan. Dalam hal ini yang dimaksudkan oleh Sultan Mansyur saat itu adalah pulau “Papua”.

Kapitan-kapitan yang diajak oleh Sultan Mansyur tersebut akhirnya turut dengan beliau ke Gebe, terus berlanjut ke Salawati, Waigeo, Waigama, Misowol hingga pada daerah yang disebut sebagai Papua Gam Sio (Negeri Sembilan di tanah Papua) dan Mavor Soa Raha Empat Soa/ Klan di Mavor). Sesudah berhasil sampai di pulau Papua tersebut Sultan Mansyur dan Kapitan-kapitannyanya kembali, singgah di Salawati, Waigeo, Waigama dan Misowol, dan disana Sultan Mansyur mengangkat keempat kapitan tadi menjadi Raja setempat yang bergelar seperti dirinya (Kolano), mereka berempat disebut sebagai “Raja Empat” sebuah raja yang masih dibawah naungan payung kekuasaan Sultan Mansyur Raja dari kerajaan Tidore yang mengangkat mereka menjadi raja, dengan pengertian tersebut, dikpahami bahwa mereka berempat menjadi Raja tetapi masih tunduk dan harus mendengar perintah dari Sultan Tidore. Kekuasaan ke-empat Raja itu sampai di daerah yang disekitarnya yang kemudian disebut Papua Gam Sio dan dearah Mavor Soa-Raha”.

Namun sumber/ referensi tentang pengangkatan raja empat bila dikaji lebih jauh dengan menggunakan Analisa Historiograi, maka masih terdapat beberapa kelemahan, diantaranya :

1. Tidak dijelaskan tahun berapa atau kurun waktunya kapan dari kejadian yang diuraikan dalam sumber ini. 
2. Tokoh sentral yang dijelaskan dalam sumber ini adalah “Sultan Mansyur”, namun dalam cerita ini Sultan Mansyur yang mana? Karena dalam silsilah kerajaan Tidore terdapat empat Sultan yang memakai nama Mansyur.

Terlepas dari itu semua, sejarah telah mencatat bahwa beberapa daerah diluar pulau Tidore, mulai dari Papua barat hingga pulau-pulau di selatan Pasiik pernah menjadi bagian dalam historis kerajaan Tidore.

Berikut ini adalah nama-nama Kolano / Sultan kerajaan Tidore yang diurutkan berdasarkan tahun berkuasa dalam pemerintahannya, penyusunan ini didasarkan dari beberapa sumber baik lokal maupun sumber asing yang menjadi referensi kajian kerajaan Tidore,

Dan silsilahhnya adalah sebagai berikut : 
1. (……… – ………) Kolano Sah Jati 
2. (……… – ………) Kolano Bosamuangi 
3. (……… – ………) Kolano Subu 
4. (……… – ………) Kolano Balibunga 
5. (……… – ………) Kolano Duku Madoya 
6. (1317 – ………) Kolano Kie Matiti 
7. (……… – ………) Kolano Sele 
8. (……… – ………) Kolano Metagena 
9. (1334 – 1372) Kolano Nur ud-din 
10. (1373 – …?…) Kolano Hasan Syah 
11. (1495 – 1512) Sultan Ciriliati alias Jamal ud-din 
12. (1512 – 1526) Sultan Mansyur 
13. (1529 – 1547) Sultan Amir ud-din Iskandar Zulkarnain 
14. (1547 – 1569) Sultan Kie Mansyur 
15. (1569 – 1586) Sultan Miri Tadu Iskandar Sani Amir ulMuzlimi, kawin dengan Boki Randan Gagalo, seorang puteri dari Sultan Babu’llah Datu Syah ibni Sultan Khair ul-Jamil. 
16. (1586 – 1599) Sultan Gapi Maguna alias Sultan Zainal Abidin Siraj ud-din alias Kaicil Siraj ul-Arain, yang kawin dengan Boki Filola pada tahun 1585 seorang puteri dari sultan Ternate Sultan Said ud-din Barakat Syah ibni al-Marhum Sultan Babullah Datu Syah.
17. (1599 – 1626) Sultan Mole Majimu alias Molemgini Jamal ud-din alias ‘Ala ud-din Syah 
18. (1626 – 1633) Sultan Ngora Malamo alias Sultan ‘Ala uddin ibni Sultan Jamal ud-din 
19. (1633 – 1653) Sultan Gorontalo alias Kaicil Sehe 
20. (1653 – 1657) Sultan Magiau alias Sultan Said ud-din ibni Sultan ‘Ala ud-din alias Kaicil Saidi 21. (1657 – 1689) Sultan Syaif ud-din alias Kaicili Goloino 
22. (1689 – 1700) Sultan Hamzah Fakhr ud-din ibni alMarhum Sultan Syaif ud-din 
23. (1700 – 1708) Sultan Abul Falal al-Mansyur 
24. (1708 – 1728) Sultan Hasan ud-din 
25. (1728 – 1756) Sultan Amir Muhid-din Bi-fallil-ajij alias Kaicil Bisalalihi 
26. (1756 – 1780) Sultan Jamal ud-din 
27. (1780 – 1784) Sultan Patra Alam 
28. (1784 – 1797) Sultan Kamal ud-din 
29. (1797 – 1805) Sultan Nuku alias Sultan Said-ul Jehad Muhammad al-Mabus Amir ud-din Syah alias Kaicil Paparangan alias Jou Barakati
30. (1805 – 1810) Sultan Mohammad Zain al-Abidin 
31. (1810 – 1822) Sultan Mohammad Tahir (Wafat : 17 November 1821) 
32. (1822 – 1856) Sultan Akhmad-ul Mansyur (Dinobatkan 19 April 1822, wafat 11 Juli 1856) 
33. (1857 – 1865) Sultan Akhmad Sai ud-din alias Khalifat ulMukarram Sayid-din Kaulaini ila Jaabatil Tidore alias Jou Kota (Dinobatkan April 1857) 
34. (1867 – 1894) Sultan Johar Alam (Dinobatkan Agustus 1867) 
35. (1894 – 1905) Sultan Akhmad Kawi ud-din Alting alias Kaicil Syahjoan, (Dinobatkan Juli 1849) Pada masa ini Keraton Tidore dibumihanguskan sebagai sikap protes terhadap kebijakan pihak Belanda yang merugikan Tidore). 
36. (1947 – …….) Sultan Zain al-Abidin “Alting” Syah (Dinobatkan di Tidore pada tgl. 27 Perbruari 1947, bertepatan dengan tgl. 26 Rabiulawal 1366-H). 
37. (Sekarang) Sultan Djafar “Dano Yunus” Syah, (Dinobatkan ————- hingga sekarang).

Sumber: Ensiklopedia Kerajaan Islam oleh Binuko Amarseto
Loading...

0 Response to "Sejarah Berdirinya Kerajaan Tidore"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel