Detik-Detik Kekalahan Hindia-Belanda dari Pasukan Jepang

Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), tentara kerajaan Belanda pada tahun 1938.
sumber: historia.id
Di dalam usahanya untuk membangun suatu imperium di Asia, Jepang telah meletuskan suatu perang di Pasifik. Salah satunya dengan cara melakukan pemboman ke pangkalan militer Amerilka di Pearl Harbor pada 7 Desember 1941. Presiden Amerika, Franklin Delano Roosevelt dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda Van Starkenborgh menandatangani pernyataan perang terhadap Jepang. Penandatanganan ini dikarenakan Hindia-Belanda atau Indonesia pada waktu itu termasuk blok sekutu front ABCD (America, British, China, Dutch), Sehingga penandatangani ini melibatkan Hindia-Belanda dalam perang melawan Jepang.

Antisipasi Pemerintah Hindia-Belanda dalam Menghadapi Serbuan Jepang

Sekitar tahun 1930-an, Jepang mengekspor berbagai macam barang ke Hindia-Belanda dan memperluas kegiatan intelejennya. Jepang mendapat simpati di hati rakyat Hindia-Belanda karena membawa barang murah dan pelayanan toko yang ramah. Pada tahun 1934 ekspor Jepang ke Hindia-Belanda mengalami lonjakan, Masyarakat Hindia-Belanda dibanjiri barang-barang dari Jepang.

Untuk merespon hal itu, pemerintah kolonial membuat larangan yang bersifat diskriminatif untuk melindungi industri mereka dari  barang-barang Jepang terutama tekstil, hal ini membuat saham Jepang menurun drastis. Amerika yang merupakan sekutu Belanda turut memberi respon, di tahun 1939 Amerika Serikat membatalkan perjanjian perdagangan dengan Jepang, melakukan embargo, dan membekukan aktiva Jepang.

Upaya-upaya pelemahan kekuatan Jepang di Asia Tenggara, khususnya Indonesia nampaknya tidak memudarkan ambisi Jepang. Pada tanggal 24 Juli 1941, Jepang melakukan invasi ke Indocina. Pada saat itu pemimpin Jepang juga mulai membicarakan tentang “pembebasan” Indonesia.  Jepang mendesak Belanda agar memperbolehkan memasuki Indonesia, namun perundingan ini mengalami kegagalan. Hingga pada tanggal 28 Juli 1941, pemeritah Hindia-Belanda memutuskan untuk menghentikan impor dari Jepang dan aktiva Jepang di Indonesia dibekukan oleh pemerintah Belanda di Batavia.

Dalam bidang politik, untuk menahan invasi Jepang, Belanda juga melakukan berbagai strategi. Salah satunya adalah menyingkirkan beberapa kaum“pengacau” yang potensial. Pada bulan Januari 1941, kepolisian menangkap Thamrin dan Douwes Dekker yang dianggap menjalin hubungan baik dengan Jepang, karena menjabat sebagai sekertaris kamar dagang Jepang.


Meletusnya pertempuran Jepang vs Belanda

Berbagai upaya non-militer yang dilakukan oleh Belanda untuk menghalau invasi Jepang seolah sia-sia. Dalam waktu yang sangat singkat angkatan perang Jepang telah merebut dan menduduki
hampir seluruh wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara. Pada tanggal 26 Desember 1941 Jepang berhasil menduduki dan menguasai pertahanan tentara Inggris di Hongkong. Beberapa bulan kemudian tepatmnya pada tanggal 16 Februari 1942, Singapura yang merupakan benteng
pertahanan Inggris/ Sekutu yang terkuat di Timur Jauh, jatuh ke tangan Angkatan perang negeri sakura. Jepang lalu meyerbu Indonesia dengan diawali serangan udara yang dilancarkan Jepang dari Davao pada 10 Januari 1942 dan kapal-kapan induk di Laut Cina Selatan. Serangan udara dilakukan oleh 700 pesawat tempur dengan 400 orang penerbang yang profesional. Kekuatan militer Belanda berjumlah sangat timpang, Belanda hanya memiliki 132 pesawat. Maka tak heran jika Belanda kewalahan dalam menghadapi serbuan Jepang.

Pada tanggal 11 Januari 1942, Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur dalam usahanya menguasai instalasi minyak. Pada kurun waktu 24 Januari 1842 hingga 10 Februari 1842 , kota Balikpapan, kota Pontianak, kota Samarinda, dan kota Banjarmasin berhasil dikuasai Jepang.Tujuan  Jepang selanjutnya adalah kota timur Indonesia, kesatuan udara Jepang kemudian menduduki Ambon, Morotai, Manado dengan waktu yang singkat. Penguasaan ini mayoritas dilakukan dengan cara pengeboman sarana penting kota dan serangan udara. Pasukan Jepang juga melancarkan serangan ke Sumatera, dengan jatuhnya Palembang maka pulau Jawa terbuka bagi tentara Jepang.

Dalam menghadapi serbuan Jepang, pernah dibentuk suatu komando gabungan oleh pihak sekutu yaitu American British Dutch Australian Command (ABDACOM) pada tanggal 15 Januari 1942 dibawah pimpinan Marsekal Sir Archibald Wavell, dengan markasnya di Lembang. ABDACOM ini berguna untuk mempertahankan kekuasaan Hindia-Belanda di pulau Jawa terhadap serangan laut Jepang, pasukan ini terlibat dalam pertempuran laut dengan armada Jepang pada 27 Februari 1942. Pada tanggal 27 Februari 1942 Belanda menyaksikan kehadiran kapal-kapal tempur Jepang. Sore harinya, kapal Jepang membuka tembakan sebagai tanda pertempuran laut Jawa telah dimulai.
Pertempuran ini memegang peranan penting, karena telah melumpuhkan hampir seluruh kekuatan Angkatan Laut Belanda. Belanda yang secara militer tidak sekuat Jepang akhirnya tidak dapat menahan gerakan pasukan Jepang yang telah berada di depan pantai Jawa. Untuk kesekian kalinya, Jepang unggul dalam berbagai pertempuran.

Batavia (Jakarta) yang selama masa kolonial menjadi pusat pemerintahan, segera dikosongkan. Pada tanggal 5 Maret 1942, Batavia dinyatakan sebagai kota terbuka yang tidak dipertahankan
lagi oleh belanda. Maka pada 8 Maret 1942, Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menyatakan menyerah secara resmi kepada Jepang. “Kita berhenti sampai disini. Sampai jumpa
di hari-hari yang lebih baik, hidup Ratu”, sepenggal kalimat yang berasal dari siaran terakhir radio NIROM sekaligus sebagai tanda bahwa pemerintahan Belanda di Indonesia telah berakhir.

Pada tanggal 8 Maret 1942, pihak Belanda di Jawa menyerah  secara resmi dan Gubernur Jenderal Van Starkenborgh ditawan oleh pihak Jepang,  berakhirlah kekuasaan Belanda di Indonesia.


Sumber:
1. M.C Ricklefs. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Yogyakarta: Gadjah Mada University Pers.
2. Onghokham. 1987. Runtuhnya Hindia Belanda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
3. Poesponegoro, Marwati Djoened. 2008. Sejarah Nasional Indonesia VI: Zaman Jepang dan Zaman Republik Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

0 Response to "Detik-Detik Kekalahan Hindia-Belanda dari Pasukan Jepang"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel