Pertentangan Golongan Filsuf Muslim dan Ulama Tradisional


Dunia Islam memasuki konflik politik internal berdarah pasca meninggalnya Utsman bin Affan , Ali Bin Abi Thalib, dan Hussein bin Ali. Pasca kematian tokoh penting tersebut,  Lahir dua golongan besar yaitu golongan Khawarij dan Murjiah yang mana nanti bertransformasi sebagai Mu’tazilah.  Golongan Mu’tazilah jauh lebih berkembang dibandingkan Khawarij. Golongan inilai yang menjadi salah satu tokoh utama dalam era keemasan Islam. Di era ini, dunia Islam mulai mengkaji filsafat yunani, mengembangkan pengetahuan, dan menciptakan berbagai penemuan.

Lukisan karya YahyĆ” al-Wasiti, Baghdad 1237 tentang situasi studi di bawah dinasi Abbisiyah | sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Islamic_Golden_Age


Golongan Mu’tazilah di Masa Dinasti Umayah dan Abasiyah

Pada masa Dinasti Ummayah, golongan Mu’tazilah dibiarkan karena mereka dianggap tidak membahayakan pemerintah yang berkuasa. Awalnya sendiri fokus pengkajian kaum Mu’tazilah tidak pada filsafat namun pada hal teologi yaitu berbicara tentang dosa besar yang dilakukan oleh seoarang muslim. Bagi khawarij seorang muslim yang melakukan dosa besar sudah bukan muslim lagi. Namun bagi kaum Mu’tazilah seorang muslim yang melakukan dosa besar dia tetap seorang muslim. Pandangan tersebut didasari karena konflik berkepanjangan dalam tubuh umat islam.

Dibukanya keran kebebasan untuk belajar serta dikuasainya Alexandria membuat kaum Mu’tazilah mulai melakukan pengkajian filsafat yunani kuno. Masuknya filsafat dalam tubuh Mutazilah membuat pandangan mereka terhadap teologi menjadi rasionalistik dan bersandar pada akal. Salah satu pandangan mereka yang terkenal adalah pandangan kehendak bebas. Mu’tazilah percaya bahwasannya manusia mempunyai kehendak bebas dan tanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya. Mu’tazilah menganggap bahwa peranan Tuhan tak lebih dari pemberi balasan terhadap perbuatan manusia dengan adanya pemberian pahala atas kebaikan dan dosa atas kejahatan yang dilakukannya. Mu’tazilah sendiri melakukan kajian filsafat lebih mendalam lagi sebagaimana nantinya mereka akan dijuluki sebagai golongan filsuf dari islam.

Runtuhnya Dinasti Ummayah, dan digantikan oleh Dinasti Abbasiyah membuat Mu’tazilah mendapatkan ruang hidup dan posisi yang lebih baik. Mu’tazilah mendapatkan posisi di istana. Mu’tazilah mendidik anak-anak penguasa Harun Al Rasyid. Memasuki masa pemerintahan Al Ma’mun seorang khilafah yang terkenal cinta akan ilmu pengetahuan menjadikan ideologi Mu’tazilah sebagai ideologi resmi negara. Ia meneruskan usaha ayahnya membesarkan perpustakaan baitul hikmah. Namun terjadi penyelewangan besar, ia memaksa rakyatnya untuk mengikuti kepercayaannya dengan melakukan Mihnah. Salah satu tokoh ulama yang terkenal akibat menentang Mihnah adalah Ahmad bin Hanbal yang dipenjarakan dalam waktu lama.

Pertentangan dengan Ulama Tradisional 

Pertengahan abad ke 11 merupakan suatu masa dimana kaum muslim berada pada tiga proyek budaya besar, yang dikerjakan oleh ulama-teolog, filsuf-ilmuan, dan kaum mistik-sufi untuk menafsirkan hukum islam secara penuh, mengungkapkan rahasia pola dan prinsip alam semesta, dan mengembangkan teknik untuk mencapai kesatuan dengan Allah . Ketiganya selain berbeda seringkali saling bersinggungan. Salah satu pertentangan yang paling terkenal adalah pertentangan Al-Ghazali yang mewakili para Ulama dengan kalangan Mu’tazilah. Al-Ghazali mengkritik pemikiran filsafati mereka.

Al-Ghazali sendiri membagi para golongan filsuf tersebut menjadi tiga kelompok, yang masing-masing memiliki corak pemikrian yang tidak sama. Namun, kesemuanya tidak luput dari tanda kekufuran. Berikut adalah golongan yang dikritik oleh Al-Ghazali:
1. Filsuf Materialis (al Dhariyyun) Mereka merupakan golongan atheis yang melakukan pengkajian ilmu alam secara mendalam. Akibat pengkajian itu mereka  menentang adanya Allah, mereka berpendapat bahwasannya alam semeseta bersifat kekal dan tercipta dengan sendirinya.
2. Filsuf Naturalis (Thabi’iyyun) Mereka merupakan golongan yang melakukan pengkajian ilmu pengetahuan mendalam juga sama seperti golongan pertama. Mereka banyak menemukan keajaiban alam dan mengakui bahwasannya keberadaan Tuhan itu ada, namun demikian, mereka tetap menyangkal adanya kehidupan kembali pasca kematian fisik.
3. Filsuf Teis (al-IlahiIyyun) Mereka ini adalah filsuf seperti yang terinspirasi pemikiran Sokrates, Plato, dan Aristoteles.  Salah satu tokoh terkenal golongan ini adalah al-Farabi  dan Ibnu Sina. Ibnu Sina sendiri berangkat dari pemikiran Aristoteles. Pandangan Aristoteles yang paling terkenal adalah Tuhan tidak bersifat harfiah yang berarti Tuhan tidak pernah berubah, tidak pernah berakhir, dan bersifat abadi. Hal ini mempengaruhi pemikiran para golongan al-Ilahiyun.

 Pada masa itu  beberapa ulama mengembangkan teologi untuk bersaing dengan Mu’tazilah. Mahzab Asy’ariyah bersikeras bahwa iman tidak akan pernah bisa didasarkan pada akal, melainkan hanya pada wahyu. Bagi teolog Asy’ariyah akal hanya mendukung wahyu Tuhan. Kaum Asyari’ah terus mendebat Mu’tazilah namun kemudian hanya dibuat bingung karena kaum Mu’tazilah menguasai trik berdebat seperti orang Yunani, yaitu logika dan retorika. Al-Ghazali yang merupakan ulama, bergabung dengan golongan Asy’ariyah dan mencoba untuk mengalahkan orang-orang Mu’tazilah. Ia melawan mereka menggunakan trik yang sama, yaitu berdebat dengan logika dan retorika. Ya, untuk melawan mereka Al Ghazali belajar logika dan filsafat Yunani.

Al-Ghazali Kemudian menulis buku yang berjudul (Maqashid al-Falasifah). Pada intinya, buku itu mengatakan bahwa orang Yunani itu keliru, buku itu juga berbicara banyak tentang Aristoteles. Al Ghazali kemudian menulis buku lanjutan yang berjudul (Tahafut al-Falasifah) atau Ketidaklogisan Para Filsuf. Disini, Al-Ghazali menuliskan dua puluh premis yang  menjadi sandaran Filsafat Yunani dan Greko Islami, kemudian menggunakan metode silogisme untuk membongkarnyanya.  Salah satu tesisnya adalah tentang hukum sebab akibat antara fenomena material. Menurut Al Ghazali hubungan itu tidak pernah ada, “api menyebabkan kapas terbakar, karena api selalu ada saat kapas terbakar. Menurut Al-Ghazali hal itu salah jika disebut kausalitas, karena Allah yang menyebabkan kapas itu terbakar, api hanya kebetulan ada disitu.

Pandangan Mu’tazilah lainnya yang ditentang oleh Al-Ghazali adalah tentang eksistensi alam semesta dan Tuhah. Pada filsuf bersepakat bahwasannya alam semesta ini qadim(tiada permulaan) dan selalu ada bersama Tuhan, secara temporal terjadi bersamaan dengan adanya sebab akibat keberadaan Tuhan. Bisa dianalogikan seperti cahaya matahari dengan mataharinya.    Untuk menjawab argumentasi para filsuf tersebut, al-Ghazali menyatakan bahwa alam ini adalah baru dan terwujud karena iradat dan qadim. Perwujudan dan ketiadaannya dikehendaki sesuai dengan zaman yang ditentukan.

     Selanjutnya Al Ghazali mengemukakan bahwa jika dikatakan alam ini qadim, maka berarti alam tidak diciptakan. Padahal yang tidak diciptakan hanya Allah. Jika demikian, maka alam juga Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Hal ini membawa kepada paham syirik (politheisme),  yang tentunya bertentangan dengan ajaran utama Islam yaitu Tauhid. Hal ini yang menjadi dasar pernyataan Al Ghazali bahwa para filsuf ini menyimpan kekufuran. Setelah itu pandangan filsuf yang ditentang oleh Al-Ghazali adalah tentang kebangkitan jasmani diakhirat. Kaum filsuf mengingkari adanya kebangkitan jasmani di akhirat, kembalinya roh ke dalam tubuh (materi), dan keberadaan surga dan neraka secara fisik. Bagi kaum filsuf setelah kematian manusia, jiwanya akan kekal, jika seseorang yang berkelakuan baik semasa hidupnya maka ia akan merasakan kebahagian. Sedangkan bagi yang melakukan dosa, maka jiwanya akan merasakan kepedihan. Simbol-simbol yang ditampilkan tentang keberadaan surga dan neraka bagi kaum filsuf tidak lebih dari simbol untuk orang awam. Pada intinya kebahagian yang nanti didapatkan di akhirat adalah kebahagian spiritual bukan kesenangan fisik. Sedangkan bagi Al-Ghazali hal itu bertentangan dengan sifat Tuhan yang maha kuasa atas segala hal. Baginya kemahakuasaan Tuhan adalah Tuhan mampu menciptakan segala sesuatu dari situasi ketiadaan. Hal itulah, yang mampu membuat Tuhan membangkitkan dan mengumpulkan kembali tubuh atau tulang yang berserakan baik  dalam keadaan baik atau pun hancur yang berada di dunia ke dalam bentuk semula.

 Namun al Ghazali tidak menyangkal bahwa Ilmu-ilmu seperti Matematika dan Logika dapat mengantarkan pada kesimpulan yang benar, tetapi jika hal itu bertentangan dengan wahyu maka itu salah. Semua kebenaran dapat diperoleh dari wahyu. Tulisannya mendapat balasan dari Ibn Rusyd, Ia menulis buku berjudul (Tahafut al-Tahafut) ketidaklogisan dari ketidaklogisan. Namun Perdebatan tersebut dimenangkan oleh Al Ghazali dan setelah itu semangat anak muda untuk mempelajari Filsafat yunani mulai turun dan lambat laun  pengetahuanpun karam.


Sumber:
1. Ansyari, Tsamim. 2009.  Dari puncak bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam. Jakarta:Penerbit Zaman.
2. Muliati. Al-Ghazali Dan Kritiknya Terhadap Filosof .Jurnal Aqidah-Ta Vol. II No. 2 Thn. 2016
3. Muhaya, Abdul.  Wahdat Al-‘Ulum Menurut Imam Al-Ghazali. Penelitian Individual, Fakultas Ushuluddin, Institut Agama Islam Negeri(Iain Walisongo Semarang.  2014

0 Response to "Pertentangan Golongan Filsuf Muslim dan Ulama Tradisional"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel