Sejarah Peristiwa Mihnah

Pada masa dinasti Abbasiyah, Muta’zilah jauh lebih berkembangan dibandingkan pada masa sebelumnya. Karena pada masa tersebut, Mu’tazilah menjadi garda terdepan pemerintah ketika terjadi serangan yang dilakukan oleh orang non Islam terhadap islam itu sendiri. Sehingga pada puncaknya Mu’tazilah dijadikan ideolog resmi pada dinasti Abbasiyah dalam beberapa kekuasaan tertentu.

Meskipun pada awalnya studi filsafat bukan menjadi bagian awal dari sejarah Mu’tazilah, melainkan hanya sebagai alat saja. Namun lama kelamaan, filsafat itu sendiri mulai mempunyai pengaruh lebih jauh dalam sejarah mereka nanti. Filsafat itu sendiri menimbulkan revolusi pemikiran bagi kalangan Mu’tazilah dan mewarnai jalannya sejarah peradaban islam itu sendiri. Lama kelamaan Mu’tazilah mulai melakukan kajian lebih dalam lagi terhadap filsafat serta mereka mulai mencintai filsafat sebagaimana nanti mereka akan dijuluki sebagai golongan filsuf islam.

Pada masa pemerintahan Abu Ja’far al Mansur seorang khalifah dari dinasti Abbasiyah, Mu’tazilah mulai menonjolkan diri. Al Manshur sendiri merupakan khalifah yang cinta ilmu pengetahuan dan menggunakan akalnya untuk memecahkan masalah, serta ia juga mempunyai sahabat bernama Amr Ibnu Ubaid yang merupakan seorang tokoh penting Mu’tazilah. Pada masa ini keran kebebasan dibuka seluas-luasnya bagi Mu’tazilah(Ahmad Zaeny, 2011:100).

Pada masa pemerintahan selanjutnya, Harun Al Rasyid, Mutazilah mulai memasuki istana dengan mendidik anak-anak dari khalifah. Pada puncaknya ia berkembang pada masa pemerintahan Al Ma’mun seorang khalifah yang terkenal sebagai pribadi yang cerdas serta cinta ilmu pengetahuan. Salah satu keputusannya yang terkenal adalah dengan memindahkan ibu kota pemerintahan dari Al Hasyimiyah Kuffah ke Baghdad. Baghdad secara otomatis menjadi pusat segala kegiatan pemerintahan, masyarakat, serta pusat pengetahuan besar pada masa tersebut.

Pada masa pemerintahan Al-Ma’mun, Mu’tazilah mendapatkan kedudukan yang tinggi sampai nanti pada puncaknya menjadi ideologi resmi negara. Al-Ma’mun sebagai seorang pemikir suka mengadakan majelis besar untuk membahas filsafat dan ilmu pengetahuan yang ada. Beliau menjadikan istananya, sebagai tempat bertemunya pemikir-pemikir ahli dari semua aliran yang ada. Al-Ma’mun bisa dikatakan seorang yang fanatik terhadap aliran Mu’tazilah. Sampai nanti pada puncaknya, ia menggunakan kekuasaannya untuk memaksa rakyatnya mengikuti aliran kepercayaan yang dianutnya dengan melakukan Mihnah.

Kata Mihnah berasal dari kata bahasa Arab yang artinya mencoba, menguji. Sedangkan mihnah dalam konteks aliran Mu’tazilah adalah pengujian keyakinan terhadap para ahli fiqh dan ahli Hadits tentang kemahlukan Al Qur’an, serta sangsi hukum yang harus mereka terima sehubung dengan keyakinan mereka tersebut. Mihnah terjadi pada tahun 218 H, yang dilatar belakangi dengan pendapat bahwa Al Qur’an itu adalah mahluk atau ciptaaan.

Sebagai dikatakan diatas, bahwa kaum Mu’tazilah berpendapat bahwa Al Qur’an yang dalam istilah teologi disebut dengan kalam Allah, bukan qadim atau kekal, akan tetapi hadits dalam artian baharu dan diciptakan Tuhan. An Nazzam memberikan penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan kalam atau sabda Tuhan. Kalam adalah suara yang tersusun dari huruf-huruf dan dapat didengar. Suara bersifat baharu bukan bersifat kekal adalah ciptaaan Tuhan. Inilah yang dimaksud kaum Mu’tazilah dengan Al Qur’an adalah diciptakan dan bukan kekal.

Al-Ma’mun mengumpulkan para ulama untuk mengakui bahwa paham yang ia pegang selama ini benar. Dibawah ancaman pedang para ulama mengakui bahwasannya paham Al-Ma’mun adalah benar. Al-Ma’mun memakai para pernyataan ulama yang dibawah ancaman pedang tersebut sebagai legitimasi kepada rakyatnya, bahwasannya paham yang ia pegang merupakan benar dan tidak perlu adanya pertentangan lagi. Ulama yang tidak mengakui dan menyangkal kebenaran yang ia bawa maka ulama tersebut akan dihukum. Salah satu ulama yang terkenal pada waktu itu adalah Ahmad bin Hanbal.
Imam Hambali

Sebelum kematiannya dan akhir kekuasaannya, Al-Ma’mun menulis wasiat kepada penggantinya Al-Mu’tashin agar tetap terus mempertahankan tradisi Mihnah. Karena dibesarkan disuasana yang berbeda, Al Mu’tashin lebih menyukai kemiliteran dibanding militer. Namun bagaimanapun Al Mu’tashin terus mempertahankan tradisi tersebut sebagai wasiat dan Mu’tazilah tetap mendapatkan tempat yang utama di kalangan istana.

Pemberian hukuman tetap terjadi bagi siapa saja yang membangkan. Penguasa selanjutnya Al Watsiq, tetap melaksanakan tradisi mihnah, ia juga berani menghukum orang-orang yang tidak sepaham, sama seperti para pendahulunya.  Baru pada masa Al Mutawakil yang bukan penganut Mu’tazilah tidak melakukan tradisi mihnah lagi. Pada puncaknya, ia membebaskan Ahmad Ibnu Hambal.

Dengan meyakini ajaran Mu’tazilah, Al-Makmun beserta penguasa-penguasa setelah itu memproklamirkan bahwa ajaran Al-Qur’an adalah mahluk, dan merupakan kebenaran yang tidak bisa disanggah lagi. Jika menyanggah paham penguasa, maka hukuman siap-siap menimpa bagi yang menolak paham penguasa.  Perbuatan ini sendiri sebenarnya mencoreng nama Mu’tazilah sebagai sebuah gerakan pemikiran rasional dan filosofis yang harusnya menghindari jalan pemaksaan dan kekerasan. Tindakan yang dilakukan Al-Ma’mun beserta penerusnya bisa dikatakan mencoreng nama Mu’tazilah itu sendiri dengan kekerasan dan pemaksaan yang dilakukan.

Sumber:

  • Ahmad Zaeny. 2011. Idiologi dan Politik Kekuasan Kaum Mu’tazilah. Jurnal TAPIs Vol.7 No.13 Juli-Desember.
  • Jumal Ahmad. 2017. Muktazilah: Penamaan, Sejarah dan Lima Prinsip Dasar(Ushul Al-Khamsah). UIN Jakarta.
Bourbon Semoga situs ini bermanfaat bagi anda. salam hangat dari saya

0 Response to "Sejarah Peristiwa Mihnah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel