Senjata Tradisional Yang Digunakan Pahlawan Indonesia Untuk Memperjuangkan Kemerdekaan

Senjata Tradisional Yang Digunakan Pahlawan Indonesia Untuk Memperjuangkan Kemerdekaan – Setelah 77 tahun kemerdekaan Indonesia, sejarah perebutan kekuasaan kaum kolonial tidak bisa dilupakan begitu saja. Peran para pahlawan dalam mengalahkan kolonialisme sangat besar karena mereka setia kepada negara dan militan. Perang kolonial pun tidak lepas dari penggunaan senjata. Karena pembatasan saat ini, masyarakat Indonesia memilih untuk menggunakan senjata tradisional.

Senjata Tradisional Yang Digunakan Pahlawan Indonesia Untuk Memperjuangkan Kemerdekaan

Perjalanan Kemerdekaan RI

hariansejarah.id – Ada berbagai senjata tradisional yang digunakan para pahlawan. Hal ini disebabkan kekayaan suku dan tradisi di seluruh nusantara.

Baca Juga : Tipuan Terbesar Dari Semuanya: Gerakan 30 September

Apa senjata tradisional andalan para pahlawan yang akhirnya mencapai kemerdekaan?

1. Bambu Runcing

Bambu Runcing kerap dianggap sebagai salah satu senjata tradisional yang populer. Senjata ini tergolong sederhana karena hanya membutuhkan bahan baku, yaitu bambu yang diruncingkan. Namun dampak berupa rasa sakit yang ditimbulkan bisa mengakibatkan kematian.

Belum ada sejarah pasti yang menunjukkan asal mula Bambu Runcing. Tetapi diketahui bahwa K.H. Subkhi selaku guru spiritual Jenderal Soedirman yang dikatakan pertama kali memperkenalkan Bambu Runcing. Sebelum digunakan, Bambu Runcing didoakan terlebih dahulu oleh K.H. Subkhi sehingga memiliki unsur magis. Akibat doa-doa yang dipanjatkan ini, diyakini sebagai penyebab keberhasilan perang melawan penjajah.

2. Sumpit

Jangan berpikir bahwa Sumpit yang dimaksud ialah alat makan dari Asia Timur. Sumpit disini adalah senjata tradisional Suku Dayak, Kalimantan Utara. Panjang Sumpit berkisar antara 1,5 sampai 2 meter. Dengan daya jangkau hingga 200 meter.

Sumpit kerap dianggap sebagai senjata ‘hantu’ karena kemunculannya yang cenderung tidak diketahui dan seketika lawan menjadi tumbang. Cara menggunakan Sumpit, yaitu dengan memasukkan anak Sumpit pada lubang Sumpit dan kemudian meniupnya. Keampuhan Sumpit terletak pada ujung anak Sumpit yang mengandung racun dari getah pohon iren atau pohon ipuh. Keunikan Sumpit di masa sekarang, tidak hanya digunakan untuk berburu, tetapi sebagai mahar atau mas kawin.

3. Belati

Di bagian timur, Indonesia juga memiliki senjata tradisional yaitu belati. Orang Papua menggunakan kaki kasuari yang ujungnya runcing dan dihiasi bulu. Bentuk belati yang indah sudah cukup untuk membingungkan lawan, tetapi rasa sakit yang ditimbulkannya saat ditusukkan ke tubuh sangat menyiksa.

Hiasan pada gagang belati tidak hanya terdiri dari bulu burung kasuari, tetapi juga terdapat ukiran, anyaman kulit kayu dan kerang. Belati pertama kali diperkenalkan oleh suku Asmat. Pada zaman kuno diyakini bahwa belati juga digunakan untuk ritual pengorbanan atau pembunuhan. Namun saat ini, ia telah mengubah perannya sebagai senjata bantu berburu.

4. Kurambiak

Kurambiak merupakan senjata tradisional yang berasal dari Suku Minangkabau, Sumatera Barat. Kurambiak nampak seperti versi mini dari Celurit khas Madura. Walaupun kecil, Kurambiak berhasil mengantarkan pahlawan memenangkan perlawanan.

Kurambiak juga dianggap memiliki bentuk seperti kuku macan dan sangat mudah dibawa. Nama senjata kebanggaan masyarakat Minangkabau ini semakin besar karena kemunculannya dalam film laga, The Raid. Hingga saat ini, Kurambiak telah merambah mancanegara seperti Filipina, Malaysia, serta beberapa negara di Benua Eropa.

5. Celurit

Celurit selalu identik dengan masyarakat Pulau Madura. Senjata tradisional yang memiliki pola bilah melengkung seperti bulan sabit ini, telah banyak membantu pahlawan menghadapi penjajahan. Celurit memiliki persamaan dengan Arit, hanya saja ukurannya lebih besar.

Saat ini, Celurit lebih banyak digunakan untuk keperluan bela diri Pencak Silat dan juga aktivitas pertanian. Orang Madura menganggap Celurit sebagai simbol kebanggaan dan kepercayaan diri. Apabila berkunjung ke rumah orang Madura asli, akan mudah dijumpai Celurit sebagai pajangan di dinding.

6. Golok

Golok menjadi senjata tradisional kebanggaan warga Jakarta, khususnya Suku Betawi. Golok terlihat seperti pisau dengan ukuran lebih besar. Pahlawan Kapten Pattimura dan Si Pitung dikenal menggunakan senjata ini untuk membuat penjajah bertekuk lutut.

Pada masa sekarang, Golok dipergunakan sebagai alat untuk seni bela diri. Selain itu, masih banyak masyarakat Suku Betawi yang menyimpan Golok di dalam rumah bahkan membawa kemana-mana dengan menyelipkan di pinggang. Golok juga dipakai sebagai alat untuk membantu berkebun ataupun urusan rumah tangga lainnya.

7. Rencong

Di Negeri Serambi Mekah, Aceh juga terdapat senjata tradisional dengan bentuk menyerupai perpaduan antara pisau dan keris. Rencong digunakan Cut Nyak Dhien, Cut Meutia, Teuku Umar, dan pahlawan lainnya untuk membuat para lawan menyerah.

Mata Rencong sedikit melengkung dengan gagang berbentuk seperti huruf ‘L’. Keseluruhan bodi Rencong memiliki panjang dengan kisaran 10 sampai 50 cm. Saat ini, rencong dijadikan sebagai jimat keselamatan atau benda pusaka oleh masyarakat lokal.

8. Keris

Hingga saat ini, Keris masih eksis di kalangan masyarakat Indonesia. Walaupun kerap dikaitkan dengan kegiatan berbau mistis, senjata tradisional yang berasal dari Jawa ini telah banyak membantu pahlawan menghadapi penjajah.

Orang Jawa menganggap Keris sebagai senjata dengan kekuatan magis nan sakral, sakti, dan juga suci. Bentuk matanya yang meliuk-liuk sengaja dibuat agar menyebabkan efek luka yang menyakitkan saat menembus kulit. Pada bagian gagangnya terdapat ukiran yang indah sehingga sekarang Keris menjadi pelengkap pakaian adat.

Itulah 8 senjata tradisional yang digunakan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan. Padahal, masih banyak senjata lainnya dari 34 provinsi di seluruh negara Indonesia. Kreativitas masa lalu bangsa Indonesia dalam pembuatan berbagai senjata tradisional harus diakui. Berkat mereka kita sekarang bisa merasa kemerdekaan.