Marsinah dan Api Perjuangan Buruh Indonesia

Aksi memperingati 22 tahun tanpa keadilan "Malam Marah Marsinah" di Jakarta. Foto: Liputan6

Harian Sejarah - Topik mengenai buruh di Indonesia tiap tahun begitu mengahangat. Hal yang paling umum adalah upaya buruh untuk meminta kenaikan upah setiap tahun. Hal itu dilakukan dengan melakukan demonstrasi terhadap pemerintah, yang menjadi ritual tahunan seperti pada Hari Buruh Internasional setiap 1 Mei.

Di Indonesia, isu perburuhan tampaknya baru meluas terkabarkan setelah mencuat sosok bernama Marsinah. Fakta Sejarah mengenai perjuangannya mengangkat harkat buruh di pabrik tempatnya kerja, yang berakhir dengan kematian.

Berita mengenai Marsinah dituturkan Harian Kompas mulai pada edisi 27 Mei 1993, dengan YLBHI sebagai narasumber utama. Marsinah menjadi simbol perlawanan, simbol dari para buruh yang menuntut keadilan kepada para perusahaan yang tidak mau menuruti ketetapan upah minimum.

Mengenai masalah buruh, pergolakan yang terjadi mengangkat isu mengenai pekerja kantoran yang dianggap naif dan tak mengenal identitas mereka. Mereka dianggap sebagai golongan yang nyinyir kepada para pekerja pabrik yang mereka anggap pekerja rendahan, tetapi turut menikmati hasil tuntutan kaum buruh terhadap upah minimum.

Padahal tak ada perbedaan status antara pekerja kantoran dengan buruh pabrik, karena upaha mereka sama-sama diatur oleh upah minimum yang terus diperjuangkan kesesuaiannya oleh kaum buruh.

Pada masa Reformasi, kaum buruh turut serta bagi rampungnya ketentuan jaminan sosial bagi para tenaga kerja yang terkodinir oleh Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS), melalui BPJS Ketenagakerjaan. Pada tahun 2010, sekitar 150.000 buruh buruh turun ke jalan menuntut dirampungkannya jaminan sosial tersebut.

BPJS merupakan amanat lanjutan dari Sistem Jaminan Sosial Nasional yang diteken Pemerintah pada 2004. Di belakang semua proses itu, ada aksi-aksi buruh yang terus menjaga gelombang perbaikan kesejahteraan.

Satu lagi hasil yang juga datang dari aksi para buruh, 1 Mei menambah satu lagi jadwal libur nasional. Ditetapkan pada Juli 2013 lewat Peraturan Presiden, hari libur ini sayangnya sempat terasa sebagai upaya Pemerintah meredam kenyinyiran kelas menengah saja.

Mereka golongan nyinyir seperti pekerja kantoran yang merasa terganggu karena kemacetan yang disebabkan oleh demonstrasi kaum buruh harusnya patut sadar. Bahwa cuti kerja, kenaikan penghasilan mereka setiap tahunnya semua adalah berkat aspirasi yang naik kepermukaan yang disuarakan oleh kaum buruh!

Seperti untaian lirik dalam lagu Internasionale, bahwa kaum yang lapar dan hina, akan mendapatkan kemuliaan yang besar, tentunya dengan kerja keras dan berani kencangkan suara!

Dikutip dari Kompas.com, merujuk ke ujaran Jawa, “jer basuki mawa bea”, setiap usaha butuh pengorbanan. Nah, kalau sekiranya lagi ada di posisi terlalu nyaman untuk beranjak memperjuangkan nasib sendiri boro-boro punya orang banyak, tak perlu juga nyinyir tanpa arah, bukan? Terlebih lagi bila ternyata ikut menikmati upaya orang lain....

Batavia 1681: Gambaran Kemegahan dan Kekejaman Heeren dan Vrouwen VOC di Tanah Jawa

Batavia 1681: Picture of VOC Heeren’s and Vrouwen’s Grandeur and Cruelty in the Javanese Land

Harian Sejarah - Replika Kapal Batavia yang menggambarkan kapal kongsi dagang Belanda (VOC) yang berlayar pada abad 17 –mengingatkan kita pada masa-masa awal masuknya kolonialisme di Nusantara.

Mungkin cukup naif jika menyebut bahwa Indonesia telah dijajah selama kurang lebih tiga setengah abad dan hal itu, sepertinya tidak benar. Kunjungan pertama kongsi dagang Belanda yang terkesan sombong pada sekitaran abad ke-16 dan ke-17 tidak dapat diakui sebagai kekuasaan penuh pada daerah-daerah Nusantara. 

Kunjungan mereka yang hanya mencapai Banten tidak mungkin diartikan sebagai penguasaan juga terhadap Maluku dan kepulauan rempah-rempah lainnya. Kendati demikian, kekejaman orang-orang yang tergabung dalam kongsi dagang Hindia Timur Belanda itu ternyata sudah menampakkan wujudnya pada sekitaran abad ke-17 –saat mereka sudah memiliki Batavia sebagai pusat kamar dagang mereka. 

VOC –menurut register-register mereka, ingin membuat Batavia seperti kota-kota mereka di daratan Eropa. Untuk membuatnya stabil dari luapan banjir dan menjadi kota yang sehat, pembangunan hadir di mana-mana. Beberapa tahun saja sejak mereka mendapatkan Batavia, kota itu sudah berubah menjadi kota dagang megah yang berisi pejabat-pejabat kongsi dagang dan budak-budaknya. Pada sekitaran 1681, kunjungan Jean Baptise Tavernier –seorang Prancis, menunjukkan pada kita tentang bagaimana orang-orang kaya baru Belanda itu berkelakuan di pusat dagang baru mereka. 

Menurut Tavernier, kekayaan berlimpah-limpah yang datang dari penguasaan baru mereka di tanah Jawa dan hubungan dagang mereka yang seringkali disertai intervensi politik pada daerah-daerah penghasil rempah membuat para pejabat ini sukses meraup untung. Kesuksesan yang luar biasa dalam waktu singkat itu kemudian diikuti oleh sifat tamak dan kesombongan yang mengalahkan para aristokrat di Negeri Belanda sendiri. 

Hal-hal ini secara tidak langsung didukung dan dikuatkan oleh negeri induk dengan memberikan jenderal-jenderal Hindia mereka harta dan pasukan untuk menjamin kemegahan armada-armada ‘dagang’ Belanda. Kendati mengirimkan modal dan dukungan yang luar biasa, jarang ada pejabat di Negeri Belanda yang mengetahui tindak kesewenang-wenangan dan kengerian luar biasa yang terjadi di Batavia serta sepanjang  perjalanan menuju ke sana. 

Dimulai dari perjalanan megah dari pelabuhan-pelabuhan sebelah barat Amsterdam, kapal-kapal Hindia mengarungi samudera dan menambatkan talinya di pelabuhan utara Batavia. Ketika sampai di Batavia ini, kekejaman dimulai. Serdadu-serdadu yang baru datang akan diminta bertarung satu sama lain oleh Mayor Batavia, hal ini demi mengetahui kekuatan prajurit. Mereka yang menang akan tinggal di Batavia sebagai ajudan-ajudan jenderal, namun mereka yang kalah akan dikirim jauh ke pulau-pulau berbenteng yang kondisinya jelas jauh sekali dari Batavia. Batavia yang dipenuhi kekayaan dan kuda-kuda Arab serta Persia yang senantiasa mengawal pejabat-pejabat itu ke mana-mana. 

Tavernier sendiri menyaksikan dengan mata kepalanya tentang bagaimana kemegahan dan kekayaan yang dipamerkan oleh para heeren (Bahasa Belanda: tuan-tuan) dan vrouwen (Bahasa Belanda: nyonya-nyonya) Batavia itu. Kereta yang membawa mereka keluar rumah ditarik oleh paling tidak enam ekor kuda dan enam prajurit tombak dengan pakaian yang bagus. 

Belum lagi iring-iringan yang mengekor di belakang mereka terdiri dari sepasukan infantri dan lain-lainnya. Kemegahan ini memang berguna bagi mereka untuk mendapat posisi bagus dalam perundingan dagang, namun juga terkadang memberikan kesan membuang sia-sia kekayaan kongsi dagang. 

Salah satu kisah kekejaman tuan-tuan Belanda itu malahan datang dari gubernur jenderalnya sendiri –Heer Maetsuyker. Gubernur jenderal itu tidak memiliki anak dari perkawinannya selama bertahun-tahun dengan istrinya sehingga membuatnya ingin mendatangkan keponakannya dari Negeri Belanda. Karena kekuasannya yang besar, dikirimlah pesan pada mayor kota tempat keponakan gadisnya itu tinggal untuk kemudian memintanya datang ke Hindia. Setelah pencarian sulit yang dilakukan, ditemukanlah gadis sederhana penjual kubis itu dan disuruhlah pergi ke Hindia menumpang sebuah kapal yang dipimpin seorang laksamana muda. 

Mengetahui betapa berharganya gadis yang menumpang kapalnya itu, laksamana muda menjaganya dengan sepenuh hati demi mendapatkan hatinya dan posisi bagus di samping gubernur jenderal Hindia. Dikarenakan mudahnya gadis itu terkena mabuk laut, laksamana muda tidak pernah meninggalkan kamar gadis itu dan terus menungguinya di samping ranjang. Pun demikian, tidak ada yang tahu bahwa laksamana muda itu juga menemaninya di atas ranjang. Hingga sebelum sampai di Hindia, hamil jugalah gadis itu. 

Sesampainya di Batavia, keponakan perempuan itu disambut dengan pawai dan dielu-elukan. Namun demikian, kekecewaan pun datang juga ketika Heer Maetsuyker mengetahui bahwa kehamilan keponakannya adalah akibat hubungannya dengan laksamana muda. Menyayangkan bahwa ia telah hamil, pernikahan pun dilaksanakan dan anak itu pun dilahirkan. 

Namun, seminggu kemudian, datanglah obat racun dari istana gubernur jenderal untuk keponakan perempuan itu hingga membuatnya tewas. Hal ini dilakukan untuk menjaga kehormatan gubernur jendral itu agar tak memiliki menantu dari kelas rendahan. 

Beda dengan cerita-cerita dari istana gubernur jendral, kisah nyonya-nyonya Batavia lebih mengerikan lagi. Nyonya-nyonya itu berasal dari kelas rendahan di Negeri Belanda yang dikirim ke Batavia untuk mendapatkan pasangan. Setelah menikah dengan pejabat-pejabat VOC yang kaya raya dengan budak-budaknya yang banyak, nyonya-nyonya itu kesombongannya bahkan melebihi putri-putri kerajaan. 

Lebih-lebih lagi, nyonya-nyonya itu merasa sangat pintar sehingga mengira bahwa nafsu-nafsu terlarang dan perselingkuhan mereka tidak dapat terbongkar –kecuali dengan kekuatan supranatural dan Tuhan. Namun sayang, nafsu mereka itu kadang pula tidak dapat dijaga dengan baik hingga membuat mereka menggunakan kekuasaan mereka untuk berselingkuh dan memuaskan diri. 

Perselingkuhan yang sering kali terjadi bukan antara nyonya-nyonya itu dan perwira muda yang berkulit putih dan tampan, namun yang lebih sering adalah dengan budak-budak belian mereka yang kekar dan berkulit gelap. 

Tavernier mengisahkan bahwa pada perjalannya itu ia menyaksikan perselingkuhan seorang istri sekretaris rumah sakit Batavia yang sebenarnya sungguh tampan. Karena tidak mendapat keturunan dari suaminya, nyonya sekretaris itu pun berselingkuh dengan seorang budaknya yang kekar namun berkulit amat gelap. 

Perselingkuhan itu membuahkan kehamilan yang nantinya justru akan membahayakan rahasianya. Awalnya, sekretaris rumah sakit itu amat senang sehingga mempersiapkan kelahiran dengan amat mewah. Namun, ketika tiba saat kelahiran, kegembiraan itu berubah seketika menjadi kedukaan –ternyata anaknya itu amat gelap kulitnya. Hanya berkat mulut para budak wanita sekretaris itulah perselingkuhan ini kemudian terbongkar. Akhir ceritanya, hanya karena intervensi gubernur jenderal saja, maka kasus ini dapat diatasi dengan hukuman seumur hidup pada budak pria yang menghamili nyonya sekretaris itu. 

Kekejaman yang dilakukan para nyonya Batavia juga tertuju pada budak wanita mereka. Pernah suatu kali seorang nyonya mendapati budak wanitanya tersenyum pada tuannya. Hal ini sebenarnya berawal dari tugas yang diberikan nyonya itu kepada budak wanitanya untuk membantu memakaikan jubah ketika suaminya hendak keluar rumah. Tanpa sengaja, mata suami dan budak wanita itu kemudian bertemu dan budak wanita itu pun tersenyum. Melihat hal ini, nyonya itu menjadi sangat murka dan berpikir bahwa suaminya telah berselingkuh dengan budak itu. 

Setelah suaminya pergi, diikatnya budak wanita itu di meja makan dan dipotong-potonglah tubuh budak itu hingga tidak berdayalah ia. Setelah kehilangan banyak darah, nyonya itu bahkan punya pikiran untuk memasak daging budak itu dan menyajikannya ke suaminya. 

Hanya karena ancaman budak wanita yang lain saja, pemikiran mengerikan itu diurungkan. Budak lainnya mengancam akan melaporkan hal ini ke mayor. Beberapa saat setelahnya, meninggalah budak wanita yang sudah berdarah-darah itu dan kasus ini pun tidak terbongkar hingga waktu yang lama. Setelah terbongkar pun tidak ada teguran bagi si majikan perempuan. 

Di rumah-rumah yang lain, seorang nyonya akan menghukum budak wanitanya dengan menenggelamkan wajahnya ke baskom penuh air mendidih jika budak wanita itu bergurau dengan pria yang bekerja di rumah itu. Hukuman-hukuman yang dilakukan para majikan ini sudah biasa terlihat di rumah-rumah Batavia pada masa itu. 

Hal yang mencengangkan juga terlihat saat seorang budak kehilangan barang pribadinya (biasanya kain selimut) dan justru dihukum karenanya. Demikianlah, pejabat dan orang-orang yang tinggal di Batavia ini mendapat kekuasaan dan dominasi atas budak mereka sehingga bahkan orang-orang negeri induk yang datang ke sana memberikan komentar tentang betapa mengagumkannya penghormatan yang diberikan oleh orang-orang pribumi terhadap para heer dan vrouw yang tinggal di Hindia. 

Demikian itu adalah gambaran kengerian yang terjadi di balik kemegahan Batavia. Kota Batavia adalah kota ajaib yang mampu mengangkat derajat sosial orang-orang buangan Negeri Belanda. Hal-hal yang demikian ini seringkali terjadi di luar pengetahuan negeri induk. Tidak mungkin hal yang demikian dikirimkan sebagai laporan resmi seorang gubernur jenderal. Hanya melalui sumber lain seperti surat-surat dan catatan Tavernier ini saja lah kita mampu melihat kengerian Batavia di tahun 1681. 

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Djoened, Marwati dan Nugroho Notosusanto (ed.). 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Dorléans, Bernard. 2016. Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad XVI sampai dengan abad XX. Jakarta: KPG.
Tavernier, Jean Baptiste. 1681. Kisah Perilaku Orang Belanda di Asia terhadap Rakyat Mereka maupun Orang Asing guna Mendukung Perdagangan. Tanpa kota: Tanpa penerbit. 
_______. 1681. Fin pitoyable d’un riche marchand de Hambourg qui dans sa disgrace s’etait enrole pour simple soldat au service de la Compagnie. Tanpa kota: Tanpa penerbit.
Vlekke, H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.

Bentuk Propaganda Nazi Jerman


Harian Sejarah - Propaganda merupakan cara yang lazim digunakan oleh berbegai negara dalam era Perang Dunia I dan II. Propaganda menjadi suatu kebutuhan bagi suatu negara dalam menjalankan roda perangnya. Mobilisasi masa merupakan tujuan dari propaganda itu sendiri. Selain mobilisasi masa, rasa tenang dan aman yang tercipta oleh suatu kebohongan besar juga menjadi agenda dari propaganda itu sendiri.

Banyak negara melakukan propaganda untuk menenangkan warganya yang bertujuan agar tidak mengetahui keadaan negaranya yang terancam oleh agresi militer atau lainnya. Selain itu propaganda yang tadi saya katakan untuk membolisasi masa bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan militer dan SDM lainnya yang pada erap perang dunia ditujukan semata-mata untuk kepentikan peperangan.

Negara-negara seperti Uni Soviet, AS, Inggris, Prancis, dan Jerman menggunakan propaganda yang begitu masif. Mereka menggunakannya baik untuk kepentingan dalam negeri: mobilisasi masa, atau kepentingan melawan musuh: meneror atau menurunkan moral pasukan musuh.

Disini kita akan membahas mengenai cara dan pelaksanaan propaganda yang dilakukan oleh Nazi Jerman.

POSTER SEBAGAI MEDIA PROPAGANDA

Seorang anggota patriotik Pemuda Hitler berpose dengan bendera partai Nazi. Disitu tertera keterangan, "Pelajar Jerman siap berjuang untuk Fuhrer."

Asal-usul historis dari propaganda Nazi dapat ditelusuri kembali melalui Adolf Hitler dan Mein Kampf, di mana ia merumuskan dua bab yang menganalisis pentingnya propaganda dan praktiknya. Sementara Mein Kampf itu sendiri adalah sebuah karya propaganda, Hitler berbicara tentang tujuan propaganda dalam mengindoktrinasi masyarakat dan pentingnya memastikan propagasi sebuah propaganda.

"Tugas pertama propagandis adalah untuk menang atas orang-orang yang selanjutnya dapat diambil ke dalam organisasi. dan tugas pertama dari organisasi ini adalah untuk memilih dan melatih orang-orang yang (berpotensi) mampu membawakan propaganda. Tugas kedua organisasi ini mengganggu tatanan yang ada dan dengan demikian memberikan ruang untuk melakukan penetrasi ajaran baru yang mewakili, sedangkan penyelenggara harus berjuang untuk tujuan mengamankan kekuasaan, sehingga sebuah doktrin pada akhirnya akan menang."
Kumpulan Poster Propaganda Nazi Jerman. Foto: Pinterest

Tidak ada yang lebih relevan daripada berdirinya Reichsministerium für Volksaufklärung und Propaganda (Kementerian Reich untuk Pencerahan Publik dan Propaganda), yang dikenal dengan inisial Jerman-nya sebagai RMVP. Di bawah arahan dari RMVP, Partai Nazi lebih efektif untuk menterjemahkan gagasan ideologis mereka dalam acara narasi yang selalu digambarkan seorang yang baik melawan skenario dan tatapan jahat mereka (orang-orang yang tidak diinginkan). Mudah diakses dan dipahami oleh khalayak massa.

Segera setelah Hitler diangkat sebagai Kanselir Jerman pada tanggal 30 Januari 1933, Nazi dengan terang-terangan memulai penghancuran sistematis terhadap kebebasan pers, dimulai dengan pengusiran siapa pun yang tidak taat pada garis kebijakan partai dalam kegiatan jurnalistik. Hal ini dilakukan melalui kombinasi kekuatan, penangkapan politik, dan pengasingan. Selama beberapa bulan ke depan, beberapa surat kabar yang “baik” terkonsolidasi atau shut-down di bawah nama nasionalisme. 

Pada tanggal 4 Oktober, 1933, Kepala Pers Reich Otto Dietrich membantu merumuskan dan meluluskan Hukum Kontrol Editorial, yang menempatkan semua pers yang tersisa di bawah kendali pemerintah, dan melarang setiap "non-Arya" yang tidak diinginkan dalam partisipasi atas kegiatan jurnalistik.

Dengan memanfaatkan stereotip yang ada dan sentimen dari orang-orang Jerman, propaganda Nazi berusaha untuk menargetkan orang-orang yang dianggap baik musuh atau tidak layak menjadi warga Jerman —Yahudi, Gipsi (Roma dan Sinti), homoseksual, komunis dan pembangkang politik lainnya, dan orang-orang Jerman yang dipandang sebagai inferior dan merugikan (seperti orang-orang cacat mental atau fisik)— Selain itu, tema-tema ini juga digunakan dalam argumen untuk Lebensraum, atau ruang hidup, sebuah rencana besar ekspansionisme Jerman untuk membantu menciptakan kekuatan dan kebesaran Jerman Raya.

Mengingat iklim politik dan ekonomi di Jerman pada waktu itu, yang dikombinasikan dengan penghinaan dan ketidakadilan akibat Perjanjian Versailles, penduduk Jerman sudah matang untuk menerima propaganda tersebut. Karena itu, mesin propaganda Nazi berusaha untuk memenuhi tujuan lain dari partai, dan terfokus pada beberapa tema favorit yang hiperbola.


Salah satu tema paling awal partai Nazi adalah pendewaan Hitler dengan menggambarkan Hitler sebagai seorang mesianis (juru selamat). Sedangkan representasi terbaik dari ini adalah film karya Leni Riefenstahl, "Triumph des Willens" atau "Triumph of the Will", dan tema ini juga cukup lazim di media lain, termasuk media cetak dan poster.

Jika penggambaran sosok Hitler sebagai mesianis adalah upaya penyederhanaan yang berlebihan untuk memanipulasi bagaimana massa Jerman dapat menerima Hitler, propaganda Nazi terhadap Yahudi (serta kaum Bolshevik dan tak diinginkan lainnya) adalah jauh lebih eksplisit.

Ada dua jenis utama dari penggambaran orang-orang Yahudi yang aneh dalam kontras, namun untuk mencapai tujuan yang sama. Yahudi digambarkan sebagai sosok yang kumuh, bermartabat rendah, buruk rupa, kotor, seringkali diasosiakan sebagai hama, atau mereka digambarkan sebagai sosok yang serakah, gemuk, dan elemen tidak menyenangkan yang memihak musuh.

Berikutnya, hal ini akan menciptakan lingkungan yang menolak bukti yang bertentangan dengan paradigma, yaitu keunggulan "Arya" dan keberhasilan mereka, dan penduduk Yahudi yang inferior dan beban atas semua kegagalannya. Kita dapat melihat elemen stimulan untuk memperoleh Efek Kereta Musik (Bandwagon Effect) dalam "Kami vs Mereka", penggambaran yang tidak menyenangkan setelah melihat karikatur Yahudi, kadang-kadang dikaitkan dengan Bolshevik dan/atau Inggris/Amerika.

Sebagaimana dalam Mein Kampf, Nazi merasa jauh lebih kuat dengan kemenangan doktrin, mengharuskan mobilisasi massa dalam upaya mendukung kesuksesan doktrin. Mudah bagi Nazi terhadap musuh-musuhnya yang berhasil dijebak dan didefinisikan untuk mengerahkan massa. Mengingat ketidakadilan perjanjian Versailles dan ekonomi yang penuh gejolak, Nazi menggunakan mesin propaganda mereka untuk menggalang "Arya" sebagai keluarga Jerman untuk mendukung Nazi

RELI NUREMBERG


Mulai tahun 1933, demonstrasi Nazi diadakan setiap tahun dengan tujuan di Nuremberg. Pertemuan militer ini akan melibatkan ratusan ribu Nazi, termasuk anggota partai, angkatan bersenjata dan kelompok pemuda. The Nuremberg Rallies memiliki sejumlah fitur: Nazi mengenakan pakaian militer lengkap; tentara berbaris dilengkapi drum dan bendera partai; prosesi obor; pidato oleh Hitler dan pejabat terkemuka Nazi lainnya. 

Demonstrasi tersebut dapat dilihat sebagai propaganda yang bertujuan untuk menunjukkan kepada orang-orang Jerman bahwa negara mereka berkuasa, memerintah dan berada di bawah kendali penuh Nazi.

FILM DI JERMAN


Triumph of the Will (bahasa Jerman: Triumph des Willens) adalah sebuah film propaganda Jerman (1935) yang disutradarai, diproduksi, disunting, dan ditulis oleh Leni Riefenstahl. Film tersebut menampilkan Kongres Partai Nazi (1934) di Nuremberg, yang dihadiri oleh lebih dari 700,000 pendukung Nazi.

Hitlerjunge Quex: Ein Film vom Opfergeist der deutschen Jugend (Hitler Youth Quex) adalah film Jerman (1933) yang disutradarai oleh Hans Steinhoff, berdasarkan novel Quelle Hitler (Hitlerjunge Quex, 1932). Film ini ditampilkan di Amerika dengan judul Our Flag Leads Us Forward.

Heini Völker adalah seorang remaja laki-laki. Rekan-rekannya memberinya julukan "Quex" (Quicksilver). Dia hidup dalam kemiskinan di Berlin, di sebuah apartemen satu kamar. Ayahnya adalah pendukung luar biasa Partai Komunis yang mengirimkan anaknya dalam kegiatan berkemah pada akhir pekan bersama Kelompok Pemuda Komunis. Sementara di sana Quex mendapati pesta pora Komunis yang tidak disiplin sehingga tidak menyenangkan. 

Ada yang merokok, minum, dan menari larut malam. Makanan disajikan dengan memotong hunks dari roti dan melemparkannya ke orang-orang yang terdesak karena kelaparan. Anak laki-laki dan perempuan memainkan sebuah permainan di mana mereka bergantian saling menjatuhkan dan menampar satu sama lain di bagian pribadi mereka. Quex melarikan diri dan di bagian lain taman tersebut Quex menemukan sekelompok Pemuda Hitler berkemah di tepi danau. Dia memata-matai mereka dari kejauhan.

Pemuda Hitler bekerja sama untuk membuat api dan memasak makan malam. Mereka menyanyikan lagu-lagu patriotik, mendengarkan pidato, dan berteriak serentak mendukung "Jerman Bangkit". Tidak satupun dari mereka yang merokok atau minum. Di pagi hari mereka bangun lebih awal dan lari ke danau untuk berenang bersama sebelum sarapan pagi. Kesehatan, kebersihan, kerja tim dan nasionalisme patriotik adalah gambar yang diproyeksikan.

Ketika Quex kembali ke rumahnya menyanyikan salah satu lagu Pemuda Hitler, ayahnya, seorang Komunis yang bersemangat, memukulnya dan menandatanganinya untuk menjadi anggota Partai Komunis. Namun, Quex menginformasikan kepada Pemuda Hitler bahwa Komunis Muda berencana untuk menyergap mereka selama sebuah demonstrasi dengan menggunakan senapan dan dinamit. 

Dia menjadi seorang paria bagi Komunis, dan pahlawan bagi Pemuda Hitler. Ibunya yang putus asa mencoba membunuh anaknya dan dirinya sendiri dengan memadamkan lampu pilot dan membiarkan gas di apartemen satu kamar mereka pada malam hari. Ibunya mati terbunuh sedangkan Quex bertahan. Ayahnya, hancur oleh apa yang terjadi, mulai bertanya-tanya apakah anaknya benar, Sosialisme Nasional mungkin lebih baik untuk Jerman daripada Komunisme.

Karakter yang berulang dalam film ini adalah pemain jalanan Komunis. Temanya adalah bahwa "bagi beberapa orang, semuanya berjalan dengan baik ... tapi bagi George mereka tidak pernah melakukannya." Pesannya adalah bahwa kehidupan di Jerman dapat memperbaiki orang lain, tapi bagi orang yang bekerja, George, hidup tidak akan baik kecuali jika dia bergabung dengan Partai Komunis. Hal inilah yang pada akhirnya menjadi motif bagi pemain jalanan Komunis menusuk Quex sampai mati di sudut jalan di Berlin pada malam hari, dan Quex secara anumerta menjadi pahlawan gerakan Nazi.

KORAN DER STURMER


Der Sturmer adalah surat kabar mingguan berbentuk tabloid yang diterbitkan oleh Julius Streicher, pejabat terkemuka di partai Nazi mulai pada tahun 1923 hingga akhir Perang Dunia II. Der Sturmer membawakan materi secara eksplisit terhadap Yahudi disertai karikatur untuk menggencarkan propaganda anti-Katolik, anti-monarki, anti-komunis. 

Der Stürmer sering memberi gambaran bagaimana mengidentifikasi orang Yahudi. Artikel ini seringkali menyertakan kartun politik rasis, termasuk karikatur anti-Semit. Selain penggambaran grafis, artikel ini terfokus pada ketakutan imajiner, pembedaan dan perbedaan perilaku yang dirasakan antara orang Yahudi dan warga Jerman lainnya.

Surat kabar ini dimulai di Nuremberg sebagai tempat dimana Adolf Hitler mulai membangun kontrol dan kekuasaannya. Salinan pertama Der Sturmer diterbitkan pada 20 April 1923 dan semakin tumbuh dari waktu ke waktu. 

Pada awal 1933, Streicher menyerukan pemusnahan orang-orang Yahudi melalui Der Sturmer. Selama perang, Streicher secara teratur menerbitkan artikel bertajuk penghancuran dan pemusnahan ras Yahudi. Aktivitas penerbitan dan ceramahnya merupakan bagian utama dari bukti yang diajukan kepadanya. 

Intinya, jaksa mengambil kesimpulan atas peran Streicher dalam menghasut orang-orang Jerman untuk membasmi orang-orang Yahudi dan menjadikannya aksesori untuk pembunuhan , dan karena itu bersalah seperti halnya orang-orang yang benar-benar melakukan pembunuhan tersebut. Jaksa juga memperkenalkan bukti bahwa Streicher melanjutkan artikel dan pidatonnya saat dia sadar bahwa orang-orang Yahudi sedang disembelih. Setelah perang, dia dihukum gantung karena melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. 

Der Stürmer terkenal karena karikatur antisemitnya yang efektif, yang menggambarkan orang-orang Yahudi sebagai karakter buruk rupa dengan tubuh yang tidak berbentuk. Dalam propagandanya, Streicher menggunakan stereotip Abad Pertengahan, misalnya, bahwa orang Yahudi membunuh anak-anak, mengorbankan mereka dan meminum darah mereka.

Sebagian besar gambar ini adalah hasil karya Philipp Rupprecht —dikenal sebagai Fips— yang merupakan salah satu kartunis anti-Semit yang terkenal di Reich Ketiga. Melalui adaptasi dan penggabungan hampir semua stereotip, mitos dan tradisi anti-Semit yang ada, serangan virulen Rupprecht ditujukan terutama pada dehumanisasi dan demonisasi orang-orang Yahudi. 

Di bagian bawah halaman judul selalu diselipkan moto "Die Juden sind unser Unglück!" ("Orang-orang Yahudi adalah malapetaka kita!"), Diciptakan oleh Heinrich von Treitschke pada tahun 1880-an. Dalam papan nama itu tertulis moto "Deutsches Wochenblatt zum Kampfe um die Wahrheit" (Koran Mingguan Jerman dalam Perjuangan untuk Kebenaran).

Sebagian besar pembacanya adalah orang muda dan orang-orang dari lapisan bawah masyarakat Jerman. Salinan Der Stürmer ditampilkan dalam kasus-kasus yang menonjol di seluruh Reich. Begitu juga dengan periklanan publikasi, kasus-kasus ini juga memungkinkan artikelnya menjangkau pembaca yang tidak memiliki waktu luang untuk membeli dan membaca koran harian secara mendalam.

Hermann Göring melarang Der Stürmer di semua departemennya, dan Baldur von Schirach melarangnya sebagai upaya pendidikan lebih lanjut di hostel Pemuda Hitler dan fasilitas pendidikan lainnya oleh "Reichsbefehl" (Perintah Reich). Göring memendam kebencian yang sangat kuat, terutama setelah menerbitkan sebuah artikel yang mencemarkan nama baik Göring, yang menyatakan bahwa putrinya Edda telah hamil melalui inseminasi buatan. 

Hanya melalui intervensi Hitler, Streicher dapat terhindar dari hukuman apapun. Namun, pejabat senior Nazi lainnya, termasuk Heinrich Himmler (kepala SS), Robert Ley (kepala Front Perburuhan Jerman), dan  Max Amann (pemilik Zentral Verlag (Central Press), terdiri dari 80% Pers Jerman pada tahun 1942), mendukung publikasi tersebut, dan pernyataan mereka sering dipublikasikan di koran.


Penulis Anggoro Prasetyo - Mahasiswa Sejarah UI. Dapat dihubungi di 088211800912
Koleksi Foto: Anggoro Prasetyo
Editor: Imam Maulana

Swingjugend pecinta jazz dan swing Era Nazi Jerman


Harian Sejarah - Swingjugend adalah sekelompok pecinta jazz dan swing di Jerman pada tahun 1930an, terutama di Hamburg dan Berlin. Mereka terdiri dari anak laki-laki yang berusia 14 sampai 21 tahun dan perempuan di sekolah menengah atas, kebanyakan dari mereka adalah siswa kelas menengah atau atas, juga beberapa pekerja magang. 

Mereka mengagumi cara hidup Inggris dan Amerika, mendefinisikan diri mereka melalui musik swing dan menentang ideologi Nasional-Sosialis, terutama yang digaungkan oleh Pemuda Hitler (Jerman: Hitlerjugend). Nama Swingjugend adalah parodi dari banyak kelompok pemuda yang diorganisir oleh Nazi, seperti Hitlerjugend. Kaum muda juga menyebut diri mereka sebagai Swings atau Swingheinis ("Swingity"); Anggota mereka seringkali disebut "Swing-Boy", "Swing-Girl" atau "Old-Hot-Boy".

Selama rezim Nazi , semua pemuda Arya di Jerman (usia 10 sampai 17 tahun) didorong untuk bergabung dengan Pemuda Hitler (HJ) dan Liga Pemudi Jerman (BDM). Pemimpin organisasi ini menyadari bahwa mereka harus menawarkan atraksi tarian di bidang sosial untuk merekrut anggota baru. Alih-alih mengadopsi tarian swing populer (karena dipandang merosot dan terkait dengan "jazz terkutuk"), mereka beralih ke tarian komunitas Jerman yang baru. 

Hal ini terbukti tidak berhasil, karena alih-alih merangkul hiburan Remaja Hitler, gadis-gadis dan anak laki-laki kota memadati tarian swing. Hal ini dapat dijumpai terutama di kota Hamburg. Remaja ini dikenal sebagai Swing-Heinis, sebuah nama yang disebut pihak berwenang. Swingjugend menjuluki Pemuda Hitler sebagai "Pemuda Homo" sementara Liga Pemudi Jerman disebut "Kasur Tentara." 

Swingjugend menggunakan kecintaan mereka akan music swing dan jazz untuk menciptakan budaya subkultur mereka dengan seorang mantan Swing Kid Frederich Ritzel yang mengatakan dalam sebuah wawancara pada tahun 1985: "Segala sesuatu untuk kita adalah dunia yang sangat merindukan, kehidupan Barat, demokrasi - segalanya terhubung - dan terhubung melalui jazz."


Swing Kids menari-nari di tempat pribadi, klub, ruang sewaan, dan yang lebih penting lagi, Café Heinze. Remaja ini berpakaian sedikit berbeda dari yang lain yang menentang swing  Sebagai contoh, anak laki-laki menambahkan sedikit corak Inggris pada pakaian mereka dengan topi homburg, menata rambut mereka, dan menempelkan pin Union Jack pada jaket mereka. 

Selain itu, sebagai cerminan Anglophilia mereka, "anak laki-laki Swing" suka membawa payung apapun cuacanya dan pipa. Anak perempuan memakai rok pendek, lipstik dan cat kuku bekas pakai, dan rambut panjang yang terurai ke bawah, bukan menggunakan kain kuas atau gulungan bergaya Jerman. 

Kegembiraan gadis Swing "untuk mengenakan model rambut mereka yang melengkung dan untuk merias dengan banyak make-up adalah penolakan terhadap selera dan mode rezim Nazi seperti di Third Reich," tampilan alami "tanpa make up dan rambut yang dikepang adalah gaya yang disukai wanita karena rasanya lebih "Jermanik."


Musik jazz menyinggung ideologi Nazi, karena sering dilakukan oleh orang kulit hitam dan sejumlah musisi Yahudi. Mereka menyebutnya "Musik Negro" (bahasa Jerman: Negermusik), "musik yang merosot" -digabungkan secara paralel dengan "seni merosot" (bahasa Jerman: entartete Kunst). Selain itu, teks lagu menentang ideologi Nazi, mempromosikan permisif seksual atau cinta kebebasan. Meskipun demikian, tidak semua jazz dilarang di Jerman pada saat itu. 

Swing Kids mendefinisikan budaya kontra, yang ditunjukkan dengan pakaian dan musik mereka. Perilakunya, yang digambarkan oleh banyak Nazi, sangat bertentangan dengan militerisme spartan yang oleh rezim dikembangkan di masa mudanya. 

Mereka menyelenggarakan festival tari dan kontes dan mengundang band-band jazz. Peristiwa ini merupakan kesempatan untuk mengejek Nazi, militer dan Hitlerjugend- yang terkenal dengan" Swing Heil! ", Mengejek Sieg Heil yang terkenal itu. Swing Kids mengenakan model rambut panjang dan topi, membawa payung dan bertemu di kafe atau klub. Mereka mengembangkan sebuah jargon yang kebanyakan bercorak anglicisms.

Swingjugend adalah Anglophiles hebat yang lebih suka mendengarkan "musik Inggris" (yaitu swing Amerika dan musik jazz) dan suka berpakaian dengan "gaya Inggris". 

Meskipun mereka bukan oposisi politik yang terorganisir, seluruh budaya Swing Kids berkembang menjadi penolakan keras terhadap tatanan sipil dan budaya Sosialisme Nasional.

Anggota Swingjugend menentang Jerman dan polisi, partai dan kebijakannya, dinas kerja dan militer Hitlerjugend, dan menentang, atau setidaknya acuh tak acuh terhadap perang yang sedang berlangsung. Mereka melihat mekanisme Sosialisme Nasional sebagai "kewajiban massal". Petualangan terbesar sepanjang masa membuat mereka acuh tak acuh; Sebaliknya, mereka merindukan segala sesuatu yang bukan dalam nuansa Jerman, tetapi Inggris.

Dari tahun 1941, represi kekerasan oleh Gestapo dan Hitlerjugend membentuk semangat politik pemuda Swing. Juga, dengan perintah polisi, orang-orang di bawah 21 dilarang pergi ke bar dansa, yang mendorong gerakan tersebut untuk mencari kelangsungan hidupnya dalam keadaan sembunyi-sembunyi.


Resimentasi ketat budaya pemuda di Nazi Jerman melalui Pemuda Hitler menyebabkan munculnya beberapa gerakan protes bawah tanah, di mana remaja lebih mampu menyuarakan kemerdekaan mereka. Ada gerombolan jalanan (Meuten), pemuda kelas pekerja yang meminjam unsur tradisi sosialis dan komunis untuk identitas mereka sendiri, dan ada sedikit kelompok yang memiliki motivasi politik, seperti Edelweiss Pirates (Jerman: Edelweißpiraten), yang menentang norma Hitlerjugend. Kelompok ketiga, yang terdiri dari kalangan menengah ke atas, mendasarkan demonstrasi mereka pada preferensi musik mereka, menolak musik völkisch yang disebarkan oleh partai untuk jazz Amerika, terutama swing.

Swing Kids of Hamburg berhasil mengadakan kontak dengan gerakan perlawanan terkenal lainnya, ketika tiga anggota White Rose (Jerman: Weiße Rose) mengembangkan simpati untuk Swing Kids. Tidak ditemukan kerjasama formal, meskipun kontak ini kemudian digunakan oleh Volksgerichtshof (Pengadilan Rakyat) untuk menuduh beberapa Swing Kids melakukan propaganda anarkis dan sabotase angkatan bersenjata. Pengadilan yang konsekuen, hukuman mati dan eksekusi berhasil dihindari pada akhir perang.

Pada 18 Agustus 1941, dalam operasi polisi yang brutal, lebih dari 300 Swingjugend ditangkap. Upaya melawan mereka dilakukan mulai dari memotong rambut mereka dan mengirim mereka kembali ke sekolah dalam pengawasan ketat, hingga mendeportasi para pemimpin ke kamp konsentrasi. Anak-anak diseret ke kamp konsentrasi Moringen sementara anak-anak dikirim ke Ravensbruck. 

Penangkapan massal ini mendorong kaum muda untuk melanjutkan kesadaran politik dan oposisi mereka terhadap Sosialisme Nasional. Mereka mulai menyebarkan propaganda anti-fasis. Pada bulan Januari 1943, Günter Discher, sebagai salah satu pemimpin kelompok Swing Kids, dideportasi ke kamp konsentrasi pemuda Moringen .



Penulis Anggoro Prasetyo - Mahasiswa Sejarah UI. Dapat dihubungi di 088211800912
Koleksi Foto: Anggoro Prasetyo
Editor: Imam Maulana

Persentuhan Awal Prancis dan Kelautan Nusantara

Het White Huis (Gedung Putih) dibangun oleh Daendels, hari ini gedung ini difungsikan sebagai Kantor Kementerian Keuangan Indonesia merupakan pemerintahan Pemerintah Kolonial Republik Bataaf dibawah komando Prancis pada abad 19.

Harian Sejarah - Di kala mata orang-orang modern tertuju pada sejarah panjang kolonial Belanda, ternyata orang-orang Prancis sudah masuk dalam kehidupan kelautan Nusantara pada sekitaran abad ke-16. Masa ini sama tuanya dengan masa-masa awal Belanda mencengkeramkan hegemoninya di kepulauan Nusantara. Persentuhan itu dimulai dari perjalanan awal kapal-kapal Prancis yang bertolak dari pelabuhan Normandi, Prancis. Pelayaran awal orang-orang Prancis ini merupakan pelayaran yang pertama sejak ditemukannya jalur pelayaran melalui Samudera Pasifik pada 1519 oleh Magellan. 

Kapal-kapal yang bertolak dari Honfleur, Normandi ini dipimpin oleh seorang kapten bernama Verrazane. Verrazane yang optimis dengan ekspedisinya ini mengambil jalan untuk menyusuri Samudera Pasifik, namun sayang tidak beruntung menemukan Tanjung Magellan. Kapten kapal ini kemudian meneruskan perjalanannya melalui bagian selatan Samudera Atlantik barat dan berakhir di Samudera Hindia. 

Pada titik yang gemilang ini, ternyata kondisi awak kapal tidak segemilang pencapaian Verrazane. Dengan kondisi yang serba tidak menguntungkan, awak kapal kemudian memutuskan untuk memberontak sehingga membuat perjalanan hanya dilanjutkan dengan satu kapal lain yang sebelumnya dipimpin Pierre Caunay. 

Pada 1527, satu kapal yang tersisa ini melihat bibir pantai Sumatra. Kapal-kapal ini kemudian berhasil berlabuh di pelabuhan besar Aceh yang pada masanya merupakan bandar dagang besar di Asia. Pertemuan awal penduduk Nusantara dengan orang-orang Prancis ini tidak berlangsung dengan mulus. Para pelaut Prancis tidak mendapat sambutan hangat dan bahkan harus mengalami pertempuran hebat yang menewaskan kapten kapal. Dengan gugurnya pimpinan ekspedisi, pelaut-pelaut ini memutuskan untuk kembali ke negeri mereka tanpa melanjutkan ekspedisi ke pulau penghasil rempah-rempah di timur. 

Dalam perjalannya ke Prancis, kapal ini kemudian terdampar di Madagaskar dan awak kapalnya melanjutkan perjalanan dengan rakit hingga ke Mozambik –hanya untuk kemudian ditangkap oleh orang-orang Portugis. Verrazane yang berhasil selamat dan kembali ke Prancis merancang satu perjalanan lagi untuk mendapatkan kembali orang-orangnya yang terdampar. Verrazane menyewa satu kapal bernama La Marie du Bon Secours di bawah pimpinan kapten De Fumay. Kapal ini kemudian mencapai Tanjung Harapan, lagi-lagi hanya untuk ditangkap oleh orang-orang Portugis yang merampas harta benda yang dimuat kapal itu. 

French and Nusantara’s Marine Initial Contact. Foto: tentanghijau.id

Persentuhan selanjutnya orang Prancis dengan orang-orang Nusantara lagi-lagi kembali diawali dari pelabuhan Prancis –kali ini di bawah pimpinan Jean dan Raoul Parmentier. Perjalanan ini disponsori oleh Jean Ango, seorang juragan kapal yang juga membiayai perjalanan Verrazane pada masa sebelumnya. Jean Ango mempunyai ambisi kuat untuk menjalin hubungan dagang langsung dengan kepulauan rempah-rempah di Hindia Timur. Perjalanan ini dilangsungkan dengan dua kapal –La Penseé dan Le Sacre yang lebih besar dari kapal-kapal yang dibawa oleh Verrazane. 

Pada tahun 1529, kapal-kapal ini bertolak dari pelabuhan Dieppe dan berhasil mencapai Madagaskar pada tahun yang sama. Kedua kapal ini kemudian melanjutkan perjalanan hingga berhasil menyentuh bibir pantai barat Sumatra pada Oktober 1529 dan kembali ke Prancis dalam keadaan yang sempurna. Dalam perjalanan dagangnya ini, Parmentier bersaudara melihat adanya harapan hubungan dagang dengan orang-orang pribumi Nusantara. Hal ini diindikasikan dari adanya niat baik untuk bertukar hadiah dan makan malam bersama. Pertemuan yang bersahabat ini terjadi di Pulau Tiku, sebuah pulau di dekat Padang yang pada masa itu dikuasai raja bernama Meligica-Saga.

Dari persentuhan awal ini, kita dapat mengenal pandangan Prancis terhadap penduduk Nusantara. Pelaut Prancis mendeskripsikan Tiku sebagai kampung nelayan miskin dengan gubug-gubug dan perkakas makan kasar. Mereka juga menyebut bahwa penduduk di sana berkulit gelap dengan air muka yang mencemaskan. Seluruh penduduk di sana bertelanjang kaki dan memakai pakaian dari kain katun berwarna merah, coklat atau biru tua. 

Seorang kepala desa akan menyampirkan sarong di bahunya dan memakai gelang emas yang berat, ia juga membawa kris yang bertahtakan emas. Penduduknya secara umum mengenakan ikat kepala atau topi jerami sebagai penutup kepala mereka. 

Dari sisi pandang pelaut Prancis, orang-orang lokal yang mereka temui tampak kotor kecuali para pejabatnya. Mereka juga memberi kita catatan tentang senjata yang digunakan penduduk lokal berupa: busur, panah, tombak dan sumpit yang digunakan untuk meniupkan panah-panah beracun, persenjataan itu juga diperlengkapi dengan tameng tebal dari kulit gajah atau kulit banteng dan kulit ular atau kulit ikan. 

Pandangan lain yang ditinggalkan para pelaut Prancis itu juga adalah tentang wanita-wanita Nusantara –khususnya Melayu, yang mendapat reputasi sebagai wanita-wanita yang cantik dan menarik. Pelaut Prancis mengakui bahwa wanita-wanita di Sumatra yang mereka temui memang sesuai dengan reputasi mereka, namun wanita-wanita itu tidak barbar dan justru harus menjaga kesucian mereka. Pelacuran seperti yang sudah dikenal di negeri-negeri barat tidak berlaku di Sumatra. 

Hukuman-hukuman akan dijatuhkan bagi mereka-mereka yang tidak mematuhi adat. Hal ini membuat penduduk di Tiku dan Sumatra bersikap jujur satu sama lain. Namun, hal ini tidak berlaku dalam hubungan mereka dengan orang asing. 

Dari sisi pandang Prancis, wanita-wanita Tiku sangat bertanggung jawab atas berbagai macam pekerjaan rumah hingga urusan bercocok tanam. Urusan wanita sangat banyak sedangkan prianya hanya duduk-duduk dan bertaruh dalam permainan sabung ayam. Hal ini dikemukakan oleh Crignon yang segera mendapat dukungan dari pelaut yang datang ke sana setelahnya. Makanan di Tiku dianggap membosankan karena hanya terdiri dari nasi dan ikan, ayam hanya muncul pada perayaan-perayaan. Namun begitu, daerah ini sangat kaya akan hasil buah-buahan. Selain itu, aneka satwa tropis dapat ditemukan di sana.

Hasil dari persentuhan yang kedua ini tidak menunjukkan adanya keberhasilan dalam hal kesepakatan dagang. Orang-orang di Tiku tidak mau berkompromi sehingga meninggalkan orang Prancis untuk pada akhirnya harus angkat kaki dari pulau itu. Para pelaut kemudian bertolak dari Tiku dengan sedikit dagangan merica dan berhasil sampai di Dieppe pada Juli 1530. 

Demikian, dengan adanya catatan perjalanan awal Prancis ini, kita dapat melihat pandangan yang lain daripada pandangan kolonial. Pandangan Prancis tentu saja terlepas dari adanya kepentingan politik yang mengikat orang-orang kolonial Belanda hingga Inggris yang pernah menguasai Nusantara. Dengan adanya pandangan barat yang tidak memiliki kepentingan politik kolonial ini, dapat ditarik kesimpulan yang lebih objektif tentang keadaan masyarakat Nusantara pada abad-abad pertengahan.

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Djoened, Marwati dan Nugroho Notosusanto (ed.). 2010. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 3. Jakarta: Balai Pustaka.
Dorléans, Bernard. 2016. Orang Indonesia & Orang Prancis dari Abad XVI sampai dengan abad XX. Jakarta: KPG.
Reid, Anthony. 1993. Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680, Volume 2. New Haven: Yale University.
Vlekke, H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.

Penjelasan Singkat Sistem Politik Inggris Raya

Parlemen Rendah Inggris Raya. Foto: appgdrones.org.uk

Harian Sejarah - Sistem politik Inggris Raya (The British Political System) adalah salah satu sistem politik modern yang paling tua di dunia. Parlemennya disebut sebagai The Mother of Parliament yang mengindikasikan bahwa sistem politik parlemennya merupakan role-model banyak negara demokrasi modern di seluruh dunia. Inggris Raya –negara industri modern itu, secara politik dijalankan oleh dua badan besar yang disebut Parlemen Nasional dan pemerintah. 

Parlemen Nasional merupakan badan legislatif yang mewakili setiap konstituensi –daerah perwakilan di Inggris. Parlemen Nasional ini terdiri dari House of Commons (parlemen rendah) dan House of Lords (parlemen tinggi). Pada tahun 2017, Parlemen rendah terdiri dari total 650 anggota parlemen yang kesemuanya mewakili konstituensi yang berbeda-beda.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam memahami sistem politik Inggris Raya adalah sistem kewilayahannya. Apa yang disebut sebagai Inggris berbeda dengan Britania Raya, pun juga berbeda dengan United Kingdom. United Kingdom adalah keseluruhan wilayah yang biasa kita sebut sebagai ‘Inggris’, wilayah ini terdiri dari daerah England atau Inggris, Wales, Scotland dan Northern Ireland. Kata Inggris yang kita anggap berarti sama dengan United Kingdom ternyata tidak benar-benar mencakup keseluruhan wilayahnya. 

Berbeda pula dengan Britania Raya yang merujuk pada daerah-daerah di British Isles yaitu England, Wales dan Scotland. Sedangkan, kata Inggris sendiri sebenarnya hanya merujuk pada England yang merupakan ‘negara bagian’ di selatan kepulauan Britania. Demikian pula, perlu diketahui bahwa bagian selatan Irlandia tidak termasuk dalam wilayah Inggris Raya, mengingat mereka merupakan sebuah republik terpisah yang mempunyai sistem politik tersendiri. 

Untuk memudahkan pemahaman, dalam penulisan ini, digunakan kata ‘Inggris Raya’ untuk merujuk pada United Kingdom. Pemahaman terhadap hal ini sangatlah penting mengingat sistem politik Inggris Raya yang mengenal wilayah konstituensi. Wilayah konstituensi ini sendiri tersebar di seluruh bagian Inggris Raya, bukan hanya Inggris. 

Wilayah konstituensi ini memegang peranan penting, karena di wilayah-wilayah inilah dilaksanakan pemilihan umum. Jika kita tinggal dan menjadi warga negara di Inggris Raya, kita akan mendapatkan hak pilih untuk mengikuti pemilihan umum di satu konstituensi ketika sudah mencapai usia dewasa. Dalam pemilihan umum ini, pada umumnya semua partai akan mengirimkan kandidat untuk menjadi perwakilan di parlemen. 

Kandidat-kandidat akan dipilih pada pemilihan umum di satu konstituensi. Biasanya akan ada sekitar lima atau lebih kandidat dari partai politik yang berbeda-beda. Pemilihan umum di Inggris Raya secara umum akan dilaksanakan setiap lima tahun –namun pada tahun 2017 dilaksanakan pemilihan umum untuk memastikan perimbangan kekuatan di parlemen.

Kandidat yang datang dari partai yang berbeda ini menjelaskan bahwa ada beberapa aliran pemikiran politik yang berbeda di Inggris. 650 anggota parlemen yang sedang menjabat pada awal 2017 ini berasal dari lima partai politik yang berbeda: Green Party, Labour Party, Liberal Democrat Party, Conservative Party dan United Kingdom Independence Party. Sesuai dengan urutannya, partai-partai ini diawali dengan sayap kiri hingga diakhiri dengan sayap kanan. 

Dalam kaitannya, dapat kita lihat bahwa Green Party merupakan partai yang paling left-winged di antara kesemuanya, disusul dengan Labour yang masih berada di sayap kiri, kemudian dengan Democrat yang berada di tengah dan selanjutnya Conservative yang cukup kanan dan UKIP  yang paling right-winged. Setiap partai juga memiliki warna yang identik dengannya: Green identik dengan warna hijau, Labour dengan warna merah, Democrat dengan warna kuning, Conservative dengan warna biru dan UKIP dengan warna ungu. 

Posisi partai-partai ini dalam kompas politik juga sangat mempengaruhi kebijakan yang mereka perkenalkan ketika menjabat. Partai-partai di sayap kiri akan lebih sosialis dalam pemikiran dan tindakan mereka, demikian pula partai di sayap kanan akan berbeda. 

Meskipun begitu, sesuai dengan kepentingan nasional, partai-partai ini juga sangat mungkin mengubah ciri kebijakannya saat diperlukan. Labour beberapa tahun sebelum ini misalnya, cukup mengambil kebijakan sayap kanan untuk mengatasi berbagai permasalahan. Demikian pula, tindakan individu dalam partai juga dapat saja berbeda dengan pemikiran partai. 

Selain berasal dari partai-partai yang telah disebutkan di atas, ada pula partai-partai nasional (National Party) misalnya Scottish National Party atau SNP. Demikian pula, ada yang disebut sebagai kandidat independen, yang terdiri dari orang-orang yang cukup populer untuk dipilih tanpa perlu bergabung dengan salah satu partai politik. 

Selain itu, ada pula sebuah partai politik unik yang tidak mempunyai kursi di parlemen, namun memiliki beberapa kandidat yang terpilih sebagai pemerintah lokal: Official Monster Raving Loony Party  -yang terdiri dari orang-orang eksentrik dengan pakaian yang luar biasa aneh dan berwarna-warni. 

Partai Politik ini muncul pada tahun 1963 dan didirikan oleh Screaming Lord Sutch, berawal dari pemikiran bahwa “bila tidak ada kandidat dari partai politik lain yang disukai, pilihlah Loony Party”. Hal ini dilakukan sebagai bentuk protes ketika tidak ada kandidat dari partai politik lain yang cukup baik, setiap suara untuk mereka disebut sebagai protest vote. Beberapa dari kandidat partai kemudian memenangi pemilihan umum lokal dan bahkan menjadi mayor. 

Dalam kaitannya dengan perimbangan kekuatan di parlemen, dapat kita ketahui bahwa pemerintah dibentuk dari perimbangan kekuatan itu. Partai yang memiliki mayoritas kursi di parlemen akan membentuk pemerintah. Dalam tahun 2017 ini, partai yang memiliki mayoritas itu adalah Conservative yang kemudian membentuk kabinet pemerintahannya di bawah perdana menteri Theresa May. 

Secara umum, ketua partai akan menduduki posisi perdana menteri ketika partai yang dipimpinnya memenangkan pemilihan umum dan mendapat perolehan suara terbesar di parlemen. Sedangkan rivalnya yang tidak mendapat cukup mayoritas kursi akan menduduki kursi oposisi dan membentuk kabinet bayangan. Kabinet bayangan ini dibentuk sebagai pengawas kebijakan pemerintah. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Leader of the Opposition akan mengawasi dengan baik Perdana Menteri, demikian pula Shadow Education Secretary akan mengeluarkan kritik terhadap Education Secretary

Semua hal ini akan dikemukakan dalam debat terbuka maupun tertutup di House of Commons yang merupakan salah satu bagian parlemen di Inggris Raya yang berkedudukan di Westminster. Di dalam debat-debat inilah pihak pemerintah akan memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang datang dari seluruh anggota parlemen, dan dalam waktu yang sama juga mempertahankan kebijakan yang telah dirancang oleh mereka sebelum akhirnya menjadi kebijakan lebih lanjut yang akan diperkenalkan ke publik. 

Hal ini dilakukan di parlemen mengingat sistem demokrasi yang meletakkan pemerintah di satu sisi dan pengawas pemerintah di sisi lain yang mengawasi dan dalam waktu-waktu tertentu juga harus menghentikan kebijakan. Praktik semacam ini mungkin terlihat sangat agresif, namun demikianlah bagaimana sistem politik di Inggris Raya berjalan –supaya setiap suara didengar di parlemen.

Lalu, ada pertanyaan yang mungkin tersisa dari penjelasan tentang mayoritas suara. Pertanyaan tentang apa yang terjadi bila tidak satu pun partai yang mendapat mayoritas suara pada pemilihan umum. Bila hal ini terjadi, partai dengan suara terbanyak biasanya akan membentuk koalisi. Hal ini terjadi pada tahun 2010 di mana konservatif memenangi pemilihan umum, namun tidak mendapat mayoritas kursi. 

Dengan demikian, partai konservatif membentuk koalisi dengan Liberal Democrat dan membentuk kabinet pemerintah bersama dengan mereka. Demikian pula, ini adalah hal yang direncanakan Labour pada tahun-tahun ini dengan membentuk koalisi bersama beberapa partai untuk mempersiapkan pertempuran pada pemilihan umum berikutnya. Pada tahun 2017 ini, Partai Konservatif memiliki sedikit mayoritas kursi sehingga mereka dapat menjalankan pemerintahan, meskipun dengan serangan dari berbagai sisinya.

Demikian, sistem politik nasional juga dibantu oleh sistem politik lokal yang terdiri dari council yang dipimpin oleh seorang councillor. Dalam ranah yang lebih besar, kita juga mengenal ward yang terdiri dari bebera council dan dipimpin oleh seorang mayor. Di London sendiri, terdapat lebih dari tiga puluh council dan merupakan satu ward tersendiri yang dipimpin oleh seorang Mayor of London yang berkedudukan di London Assembly. Demikianlah sistem politik Inggris Raya yang mempertahankan Inggris selama berabad-abad hingga tetap mempertahankan posisinya sebagai negara besar di tengah aksi Brexit yang mereka lakukan demi memisahkan diri dari Uni Eropa. 


Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Childs, David. 2012. Britain since 1945: A Political History. London: Penguin.
Butler, David. 1995. British General Election since 1945. London: Tanpa Penerbit.
Gill. 2017. Introduction to the British Politics. London: Engvids. 

White Rose, Pirates Edelweiss, dan Gerakan Pemuda Anti Nazi


Harian Sejarah - Gerakan White Rose mungkin yang paling terkenal di antara gerakan perlawanan sipil yang berkembang di Jerman di bawah rezim Nazi. Namun beberapa anggotanya harus membayar harga yang mengerikan untuk pendirian mereka melawan sistem tersebut.

Gerakan White Rose terdiri dari mahasiswa Universitas Munich. Anggota yang paling terkenal adalah Hans dan Sophie Scholl. Anggota White Rose secara sembunyi-sembunyi membagikan selebaran anti-Nazi dan anti-perang dan di tengah upaya mereka yang semakin gencar, mereka ditangkap Nazi Jerman adalah negara kepolisian. Entah itu benar atau tidak, orang percaya bahwa informan ada dimana-mana.

Untuk menjaga kerahasiaan, keanggotaan gerakan White Rose sangat kecil sehingga lebih mudah untuk menghasilkan selebaran anti-perang yang juga dianggap anti-Nazi. Apa yang ada di dalamnya sangat berbahaya. Jika mereka ditangkap, mereka akan dikenai tuduhan pengkhianatan dengan konsekuensi yang tak terelakkan. Itulah sebabnya kelompok tersebut harus dijaga sangat kecil — setiap orang saling mengenal dan masing-masing yakin akan kesetiaan semua orang dalam kelompok tersebut.

Grafiti yang digambar oleh White Rose. Foto: Koleksi Anggoro. P

White Rose aktif antara bulan Juni 1942 dan Februari 1943. Pada waktu itu mereka membuat enam selebaran anti-perang dan anti-Nazi yang disebarkan di depan umum. Anggotanya juga terlibat dalam kampanye graffiti di Munich.

Salah satu selebaran yang berjudul "Perlawanan Pasif terhadap Sosialisme Nasional" menyatakan:
"Banyak, mungkin sebagian besar pembaca dari selebaran ini tidak melihat dengan jelas bagaimana mereka bisa mempraktikkan oposisi yang efektif. Mereka tidak melihat ada jalan yang terbuka untuk mereka. Kami ingin mencoba menunjukkan kepada mereka bahwa setiap orang berada dalam posisi untuk berkontribusi pada penggulingan sistem. 

Hal itu bisa dilakukan hanya dengan kerja sama antara banyak orang yang yakin dan energik — orang-orang yang setuju dengan cara yang harus mereka gunakan. Kami tidak memiliki banyak pilihan mengenai sarana. Satu-satunya yang tersedia adalah resistansi pasif. Makna dan tujuan perlawanan pasif adalah menggulingkan Sosialisme Nasional, dan dalam perjuangan ini kita tidak boleh mundur dari segala arah, apapun tindakannya, apapun sifatnya. 

Kemenangan fasis Jerman dalam perang ini akan memiliki konsekuensi mengerikan yang tak terukur. Kami tidak bisa memberikan cetak biru untuk tindakannya kepada setiap orang, kami hanya bisa menyarankannya secara umum.

Sabotase di pabrik persenjataan dan industri perang, di semua pertemuan, demonstrasi dan organisasi Partai Sosialis Nasional ............... Oleh karena semua kenalan Anda tentang keputusasaan perang ini .................. dan mendesak mereka untuk bersikap pasif."

Selebaran lainnya disebut "Kepada Sesama Pejuang dalam Perlawanan", yang ditulis pada bulan Februari 1943, setelah kekalahan Jerman di Stalingrad.

"Hari perhitungan telah datang - perhitungan kaum muda Jerman terhadap tirani paling kejam yang harus dipaksakan oleh orang-orang kita. Kami tumbuh dalam keadaan di mana semua kebebasan berekspresi dan berpendapat ditekan tanpa ampun. Pemuda Hitler, SA, SS. Semuanya telah mencoba untuk memberi obat kepada kami, untuk membuat resimen kami pada tahun-tahun paling menjanjikan dalam kehidupan kami. 

Bagi kami hanya ada satu slogan: bertarung melawan partai. Nama Jerman tidak terhormat sepanjang masa jika pemuda Jerman pada akhirnya tidak bangkit, membalas dendam, menghancurkan para penyiksa. Mahasiswa! Orang-orang Jerman melihat kita. "

Hari terakhir Sophie. Foto: Koleksi Anggoro. P

Saat brosur dibuka di Universitas Munich, Hans dan Sophie Scholl ditangkap oleh Gestapo. Mereka telah membagikan banyak selebaran White Rose yang mereka bawa. Namun, Sophie dan Hans menyadari bahwa mereka tidak membagikan semuanya. 

Karena begitu banyak masalah yang harus ditanggung untuk menghasilkan selebaran ini, mereka akan memastikan bahwa semuanya terdistribusikan. Mereka terlihat melemparkan selebaran di sekitar atrium universitas oleh seorang penjaga bernama Jakob Schmid dan melaporkan hal ini pada Gestapo. Hal ini terjadi pada 18 Februari 1943. Scholl secara harfiah membawa semua bukti yang dibutuhkan oleh Gestapo.

Baik Hans dan Sophie mengakui tanggung jawab penuh mereka dalam upaya untuk mengakhiri segala bentuk interogasi yang mungkin dapat memaksa mereka membeberkan anggota gerakan lainnya. Namun, Gestapo menolak untuk percaya bahwa hanya dua orang yang terlibat dan setelah diinterogasi lebih lanjut, mereka mendapatkan nama semua orang yang terlibat yang kemudian ditangkap.

Sophie, Hans dan Christoph Probst adalah orang pertama yang dibawa ke hadapan Pengadilan Rakyat pada tanggal 22 Februari 1943. Pengadilan Rakyat didirikan pada tanggal 24 April 1934 untuk mengadili kasus-kasus yang dianggap sebagai pelanggaran politik terhadap rezim Nazi.

Bagaimanapun, persidangan ini tidak lain dirancang untuk menjatuhkan dan mempermalukan. Mungkin dengan harapan penghinaan publik semacam itu akan menunda orang lain yang mungkin berpikir dengan cara yang sama sebagaimana mereka yang seolah dijatuhi kutukan. Ketiganya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman mati dengan dipancung. Eksekusi dilangsungkan pada hari yang sama.

Percobaan lebih lanjut terjadi pada tanggal 19 April dan 13 Juli 1943 ketika anggota White Rose lainnya dibawa ke hadapan Pengadilan Rakyat. Tidak semuanya dieksekusi. Uji coba ketiga (13 Juli) tidak dipimpin oleh Roland Freisler yang terkenal dan saksi utama —juga diadili (Gisela Schertling)— menarik bukti bahwa dia telah memberikannya saat diinterogasi. Akibatnya, hakim membebaskan semua orang yang diadili hari itu dengan pengecualian satu, Josef Soehngen, yang diberi hukuman enam bulan penjara.

Sebelum Perang Dunia II di Eropa berakhir, selebaran terakhir yang diproduksi oleh White Rose diselundupkan keluar dari Jerman dan diserahkan kepada Sekutu yang sedang maju. Mereka mencetak jutaan salinannya dan menjatuhkannya ke seluruh negeri.


Berikut tokoh-tokoh penting dalam gerakan rahasia White Rose: Hans Scholl, Sophie Scholl, Professor Dr. Kurt Huber, Christoph Probst, Alexander Schmorell, Willi Graff

WHITE ROSE Kelompok mahasiswa anti-Nazi yang terbentuk di Munich pada tahun 1942. Tidak seperti para konspirator yang terlibat dalam Plot 20 Juli (1944) atau peserta di kelompok pemuda seperti Edelweiss Pirates, para anggota White Rose menganjurkan perlawanan tanpa kekerasan sebagai alat untuk melawan rezim Nazi.

Tiga anggota pendiri kelompok tersebut —Hans Scholl, Willi Graf, dan Alexander Schmorell— adalah mahasiswa kedokteran di Universitas Munich. Sementara di Front Timur, trio tersebut mengamati pembunuhan warga sipil Yahudi oleh pasukan SS. 

Ketika mereka kembali ke Munich, ketiganya bergabung dengan siswa lain —termasuk saudara perempuan Hans Sophie— untuk mendiskusikan perlawanan mereka terhadap rezim Nazi. Dengan menggabungkan idealisme muda dengan pengetahuan yang mengesankan tentang sastra Jerman dan ajaran agama Kristen, para siswa menerbitkan kepercayaan mereka dalam serangkaian selebaran dengan nama "The White Rose" (dan kemudian sebagai "Leaflet of the Resistance").

Selebaran pertama, yang diterbitkan pada bulan Juni 1942, dikutip secara bebas dari karya Friedrich Schiller dan Johann Wolfgang von Goethe, dan menganjurkan perlawanan pasif terhadap usaha perang Nazi. Esai White Rose pertama diakhiri dengan pernyataan tersebut, "Jangan lupa bahwa setiap negara layak mendapatkan pemerintah yang dihadapinya." 

Dengan menggunakan alamat yang diperoleh dari sebuah buku telepon, selebaran dikirimkan ke individu di seluruh Munich. Lima selebaran selanjutnya menyusul selama delapan bulan ke depan, dan Gestapo semakin khawatir dengan potensi ancaman yang ditimbulkannya. Pada awal 1943, anggota White Rose menyebarkan selebaran dengan tangan, dan mereka memulai kampanye grafiti anti-Nazi, melukis "Kebebasan" dan "Turunkan Hitler" di bangunan-bangunan di seluruh Munich.

Makam Hans Scholl dan Sophie Scholl

Tindakan tersebut meningkatkan risiko yang dihadapi oleh mahasiswa, dan pada tanggal 18 Februari 1943, seorang anggota partai Nazi mengamati Hans dan Sophie melemparkan selebaran dari gedung kelas Universitas Munich. Mereka ditangkap hari itu juga, dan sebuah penyelidikan berhasil Christoph Probst, seorang mahasiswa kedokteran Universitas Munich, di White Rose. Scholls dan Probst dengan cepat diadili, dan ketiganya dipancung pada tanggal 22 Februari 1943.

Pada bulan-bulan berikutnya, puluhan lainnya dipenjara karena keterkaitan mereka (nyata atau imajiner mereka) dengan White Rose, dan beberapa diantaranya, termasuk Graf dan Schmorell, dieksekusi.

Pirates Edelweiss. Foto: Koleksi Anggoro. P

PIRATES EDELWEISS (Bahasa Jerman: Edelweißpiraten) adalah kelompok pemuda yang menentang peraturan Nazi. Pirates Edelweiss terutama menentang cara Pemuda Hitler yang telah mengambil alih kehidupan kaum muda di Jerman. Sulit untuk memberikan tanggal pasti kapan Pirates Edelweiss pertama kali dimulai namun pada tahun 1936 keanggotaan gerakan Pemuda Hitler dijadikan wajib dan sejarawan cenderung menggunakan tanggal ini sebagai awal dari 'Pirates'. 

Perompak Edelweiss bukanlah gerakan yang spesifik, melainkan sebuah asosiasi dari sejumlah gerakan pemuda yang berkembang di Jerman Barat sebagai tanggapan terhadap resimen Nazi menilai pemuda. Perompak Edelweiss secara diametris berlawanan dengan gerakan Pemuda Hitler, yang dijalankan dengan jalur kuasi-militer. Mereka bebas mengekspresikan apa yang mereka pikirkan. Sementara anak laki-laki dan perempuan dipisahkan secara ketat dalam gerakan Pemuda Hitler, Edelweiss Pirates mendorong hal yang sebaliknya.

Sebagian besar kota di Jerman Barat memiliki beberapa bentuk kelompok Edelweiss Pirates, meskipun beberapa tidak menggunakan judulnya. Di Köln (Cologne), misalnya, mereka dikenal sebagai 'Navajos'. Beberapa sifat menghubungkan semua kelompok. Ada keberatan umum terhadap cara Nazi yang ingin mengendalikan kehidupan para pemuda di Jerman. Anggota Pirates Edelweiss akan memiliki pendidikan yang dikendalikan oleh Nazi saat mereka di sekolah (wajib belajar berakhir pada usia 14). 

Di bawah 14 tahun, waktu malam yang mereka miliki secara efektif juga dikendalikan. Jika seseorang berusia 13 tahun pada saat Hitler menjadi kanselir pada bulan Januari 1933, mereka akan mengalami satu tahun silabus pendidikan Nazi dengan semua yang terkait dengannya sebelum mereka dapat meninggalkan sekolah. Pada tahun 1937, ketika berusia 17 tahun — usia wajib militer. 

Sejak orang tersebut meninggalkan sekolah hingga saat ini, seorang pemuda akan menerima surat panggilan mereka, karena akan ada upaya Nazi untuk mengendalikan kehidupan orang tersebut. Meskipun merupakan persepsi umum bahwa setiap orang berada di bawah kendali Nazi dan bahwa polisi rahasia memiliki informan di mana-mana, jelas bahwa kota-kota besar memang memiliki bagian komunitas pemuda yang tidak puas. Orang-orang muda inilah yang membentuk kelompok Edelweiss Pirate. Pada dasarnya, mereka anti-otoritas dan tidak konformis.

Mereka juga menawarkan cara hidup di luar rezim Nazi yang mencekik. Anggota Pirates Edelweiss menentang pembatasan pergerakan dengan melakukan hiking dan berkemah. Sementara dalam perjalanan ini mereka memiliki cukup kebebasan untuk menyanyikan lagu yang dilarang oleh lagu blues atau jazz Nazi — terutama 'merosot' yang telah disaring dari Perancis. Mereka bisa saja membuka diskusi mengenai topik-topik yang dilarang di kota-kota dan informan mana yang pasti bisa didengar.

Antara tahun 1936 dan September 1939, pihak berwenang Nazi melihat Pirates Edelweiss sedikit lebih dari sekadar iritasi berskala kecil. Namun, sikap berubah selama Perang Dunia II ketika pihak berwenang percaya bahwa Pirates Edelweiss bertanggung jawab untuk mengumpulkan selebaran propaganda anti-Nazi yang dijatuhkan oleh Komando Bomber Inggris pada awal perang dan memasangnya melalui surat-surat. Hal ini dipandang lebih dari sekadar iritasi; dan itu digolongkan sebagai subversi yang terang-terangan.

Pada bulan Juli 1943 , pemimpin Partai Nazi di Dusseldorf menghubungi Gestapo dengan pandangan mereka terhadap kelompok Edelweiss setempat. Surat tersebut menyatakan bahwa "geng" itu "memberat bebannya" dan bahwa "riff-raff" mewakili "bahaya bagi orang muda lainnya". Diklaim bahwa kelompok kota tertentu ini memiliki rentang usia 12 sampai 17 dan anggota tentara yang terkait dengan mereka saat mereka cuti. Para pemimpin kota Dusseldorf juga percaya bahwa kelompok Edelweiss setempat bertanggung jawab atas grafiti anti-Hitler dan anti-perang di kereta bawah tanah. Namun, jelas dinyatakan bahwa ini hanya kecurigaan.

Bahkan saat itu, hukuman bagi orang-orang yang tertangkap tidak begitu drastis seperti yang diperkirakan selama perlakuan Nazi Jerman terhadap orang-orang subversif dewasa. Pihak berwenang tahu bahwa anggota Pirates Edelweiss membanggakan diri pada penampilan mereka dalam artian sangat non-militeristik. 

Hukuman standar bagi siapa pun yang tertangkap adalah membuat kepala mereka dicukur sehingga penampilan mereka yang lebih bohemian berubah menjadi model tentara. Namun, aktivitas Pirates tidak membuat dirinya senang dengan Heinrich Himmler yang mengharuskan semua orang Jerman untuk taat sepenuhnya. Dia memerintahkan sebuah tindakan keras terhadap semua pemuda yang tampaknya gagal dalam kesetiaan total mereka terhadap Hitler dan negara Nazi.

Dalam sebuah surat dari Himmler kepada Reinhard Heydrich (Januari 1942), Kepala SS menulis bahwa pendekatan setengah terukur terhadap kelompok pemuda mana pun yang gagal menunjukkan kesetiaan total tidak dapat diterima dan bahwa anggota kelompok semacam itu harus ditangani sesuai dengan itu. Himmler mengatakan kepada Heydrich bahwa kamp kerja tidak sesuai. Mereka harus dikirim ke kamp konsentrasi selama antara "2 sampai 3 tahun". Himmler tidak membedakan antara pemuda dan "gadis tak berharga".

"Di sana pemuda pertama-tama harus diberi gejolak dan kemudian menjalani latihan berat dan mulai bekerja. Harus dijelaskan bahwa mereka tidak akan pernah diizinkan untuk kembali ke studi mereka. Kita harus menyelidiki berapa banyak dorongan yang mereka dapatkan dari orang tua mereka. Jika mereka mendorong mereka, maka mereka juga harus dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi dan harta benda mereka disita.” (Hitler's Germany oleh Jane Jenkins).

Himmler juga menasihati Heydrich bahwa dia harus turun tangan "secara brutal" untuk menghentikan penyebaran lebih lanjut kelompok pemuda yang tidak puas. Seiring perang berlanjut dan posisi Nazi menjadi lebih genting, Himmler memerintahkan tindakan keras yang lebih brutal. Pada November 1944, tiga belas pemuda digantung di Cologne dan enam di antaranya pernah menjadi anggota Pirates Edelweiss.

Tulisan oleh Anggoro Prasetyo - Mahasiswa Sejarah UI. Dapat dihubungi di 088211800912