Istri-Istri Bung Karno, Para Wanita yang Terjerat Cinta (Bagian 1)


Soekarno merupakan Presiden Pertama Indonesia. Selain dikaruniai bakat dalam mengolah kata-kata dan menyihir massa, ia juga diberkati paras yang rupawan. Tak pelak ini yang membuat banyak wanita jatuh dalam pelukannya. Berikut ini adalah wanita-wanita yang terjerat hatinya oleh Bung Karno, bapak proklamasi Indonesia.

1. Siti Oetari

Utari-istri-pertama-bk.jpg
Siti Oetari, sumber : id.wikipedia.org
Siti Oetari merupakan putri sulung H.O.S Tjokroaminoto. Saat itu Soekarno merupakan salah satu penghuni kos di rumah Tjokroaminoto di Surabaya. Perjumpaannya yang bertahun-tahun di rumah Tjokroaminoto mungkin merupakan alasan mereka bisa saling jatuh hati. Tjokroaminoto mulai melihat bahwa Bung Karno menaruh hati pada puterinya, dan bisa ditebak bahwa pernikahan antara kedua insan ini bakal dilangsungkan.

Tahun 1921 adalah saat kedua manusia belia yang dimabuk cinta ini menyatukan hubungan dalam biduk rumah tangga. Bung Karno saat itu masih berumur 20 tahun dan Oetari baru berusia 16 tahun. Sayangnya hubungan mereka berakhir singkat, tahun 1923 kedua insan ini menyatakan perceraiannya.

2. Inggit Garnasih

Hasil gambar untuk inggit garnasih dan soekarno
Bung Karno dan Inggit Garnasih. sumber:sukarno.org
Setelah lulus dari HBS di Surabaya, Bung Karno melanjutkan pendidikan di Technische Hooge School (THS) Bandung. Pertemuannya Sukarno dan Inggit bermula dari hubungan antara anak kos dan induk semang. Lama kelamaan Sukarno menaruh hati dengan Inggit, begitu pula sebaliknya. Kedekatan mereka diperparah dengan mulai renggangnya hubungan Sukarno dengan Oetari istrinya.

Hubungan Bung Karno dan Inggit mulai beranjak lebih jauh. Mereka menjadi lebih sering mengobrol dan terlihat mesra. Rumah tangga Inggit dengan suaminya mulai tidak harmonis. Haji Sanusi selaku sang suami mulai merasakan ada yang lain antara hubungan Sukarno dan Inggit. Ia lalu menceraikan Inggit dan merelakannya pergi ke pangkuan Sukarno. 

Pernikahan Sukarno dan Inggit terhitung lama. Tercatat pernikahan yang dilangsungkan tahun 1923 tersebut bertahan hingga hampir 20 tahun lamanya. Inggit berperan besar dalam menyokong langkah Sukarno membawa Indonesia menuju kemerdekaan. Meski demikian, pernikahan tersebut harus kandas tahun 1942.

3. Fatmawati

Hasil gambar untuk fatmawati dan soekarno
Sukarno dan Keluarga Kecil. Foto:historia.id
Sepak terjang Sukarno dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia semakin mengkhawatirkan. Terbukti dirinya diasingkan ke Bengkulu tahun 1938 oleh Belanda. Kepergian Sukarno ke tanah Bengkulu memulai kisah cinta baru. Ia yang berangkat bersama Inggit memulai kontaknya dengan Fatmawati puteri seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu.

Hubungan mereka awalnya biasa saja. Fatmawati merupakan teman dari anak angkat Sukarno yakni Ratna Juami. Keduanya bersekolah di tempat yang sama di Bengkulu. Seperti kisah dengan istri sebelumnya, hubungan Sukarno dan Fatmawati semakin dekat. Mereka akhirnya menikah pada 1 Juni 1943. Pernikahan ketiga Sukarno ternyata juga kandas pada 1954 dengan membuahkan 5 buah hati.

Diolah dari berbagai sumber

Read More

Mengenal Boko Haram, Kelompok Radikal Nigeria


Selama ini mungkin Anda mengetahui sedikit tentang Boko Haram. Berita yang kadang santer terdengar bahwa kelompok tersebut menculik dan membombardir warga Nigeria. Mari kita menelisik bagaimana organisasi hitam ini bisa lahir dan berkembang di Nigeria.

Boko Haram: Sebutan yang Melenceng dari Nama Asli

Secara literal Boko Haram berasal dari bahasa Hausa yaitu “Penolakan terhadap pendidikan barat”. Boko memiliki arti dasar yaitu palsu sedangkan haram berarti terlarang. Jadi menurut mereka Boko Haram ditransliterasikan sebagai “Haramnya pengaruh kebarat-baratan atau kebudyaan barat adalah sebuah kenistaan”. Organisasi ini menyebar dari Nigeria, Chad dan sebagian Kamerun.

Sebenarnya nama asli organisasi Boko Haram adalah Jama’atu Ahlis Sunna Lidda’awati wal-Jihad, artinya adalah “ Jamaah yang melestarikan cara-cara kehidupan nabi dan jihad”. Cukup jauh bukan antara penyebutan warga local dan nama asli. Hal ini karena penolakan mereka secara literal dan terang-terangan dalam terror menentang hal-hal berbau barat dan peradabannya.

Menurut sumber-sumber local, Boko Haram mulai melancarkan aksinya yang dimotori oleh seorang tokoh radikal yaitu Mohammed Yusuf tahun 2002. Ia mencita-citakan Nigeria yang sepenuhnya berlandaskan hokum Islam tanpa campur tangan Inggris yang dianggap menjauhkan negara tersebut dari nilai-nilai Islam.

Boko Haram memiliki jaringan sekolah Islam yang kebanyakan muridnya adalah siswa miskin di penjuru Nigeria dan sekitar. Sekolah tersebut bukannya mendidik anak-anak menjadi penerus bangsa Nigeria, malahan menjadi ladang perekrutan militan mereka.

Teror Menantang Pemerintah

Pemerintah Nigeria mulai gerah dengan aksi Boko Haram dan pada operasi militer yang menyapu bersih sebagian anggota Boko Haram. Mohammed Yusuf sebagai pemimpin bereaksi keras dengan mendeklarasikan menentang pemerintah. Akhirnya terjadi baku tembak antara pemerintah dengan Boko Haram yang berlangsung selama lima hari.

Operasi tersebut membuahkan hasil, Yusuf tertangkap dan dibawa ke kantor polisi. Dalam penangkapannya pihak kepolisian merilis bahwa ia mencoba kabur dan polisi mengambil langkah tegas menembak mati sang pemimpin Boko Haram.

Tahun 2010, Boko Haram “bangkit” dengan menyerang dalam penjara sebagai aksi balas dendam atas kematian Yusuf. Aksi ini dimotori wakil pemimpin Boko Haram yaitu Abubakar Shekau yang menggantikan Yusuf sebagai pemimpin Boko Haram.

Serangkaian aksi terror mewarnai Nigeria. Boko Haram diketahui sebagai otak penyerangan bom bunuh diri di markas PBB di ibukota Abuja tahun 2011. Organisasi ini dikenal berafiliasi dengan ISIS setelah kemunculannya di Irak dan Suriah.


Read More

Indonesia Dalam Perang Asimetrik


Perang Asimetrik merupakan perang yang memiliki suatu pola yang berbeda dengan pola peperangan yang secara umum kita kenal. Perang Asimetrik dilakukan bukan secara militer; mengerahkan pasukan; menggunakan alutsista atau menginvasi suatu negara.

Perang Asimetrik dilakukan secara nirmiliter (tanpa kekuatan militer), jangkauan area perangpun lebih luas dari perang militer, dan dapat dilakukan tanpa mendeklarasikan perang atau mengerahkan pasukan. Aspek yang dapat dijangkaupun bukan hanya sekadar militer atau politik.

Lebih luas lagi Perang Asimetrik memiliki daya untuk mempengaruhi segala aspek kehidupan. Prinsip yang digunakan dalam Perang Asimetrik adalah menggunakan sumber daya seminimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Sasaran Perang Asimetrik
  • Belokan sistem suatu negara
  • Melemahkan ideology serta pola pikir masyarakat secara masif
  • Menghancurkan ketahanan pangan dan kekuatan pertahanan dengan mempengaruhi gaya hidup masyarakat
  • Menciptakan suatu ketergantungan suatu negara terhadap negara lain

Jenis Perang Asimetrik
  • Proxy War – Konfik antara dua negara atau lebih dimana negara yang bertikan tidak turun secara langsung. Melainkan melibatkan negara lain untuk berperang satu sama lain dibawah pengaruh negara yang berkonfik.
  • Information Warfare – Tindakan dengan menjaga, serta melindungi integeritas sistem informasi sendiri dari gangguan upaya perusakan oleh lawan.
  • Hybrid Warfare – Suatu strategi militer dalam mengkombinasikan taktik perang konvensional, irregular, dan Perang Cyber.
Perang Asimetrik yang pernah terjadi di Indonesia
  • Pemberontakan PRRI/PERSEMSTA 1957-1961 – Tertembaknya pesawat Amerika Serikat ( CIA/Allen Pope) dalam konflik PERSEMESTA disinyalir membuka keterlibatan Amerika Serikat dalam pemberontakan PERSEMESTA kepada NKRI
  • Lepasnya Timor-Timor 1999 – Refrendum kemerdekaan provinsi Timor-Timor yang ditunggangi kepentikan politik Australia di Timor-Timor yang menyebabkan lepasnya Timor-Timor akibat kekalahan Indonesia di Mahkamah Internasional
  • Gerakan Aceh Merdeka 1975-2005 – Upaya suplai senjata, pelatihan militer, dan penyandang dana sebagai perbekalan mendukung GAM yang dilakukan oleh negara lain (beberapa yang terungkap adalah Afgahnistan)

Peningkatan Kewaspadaan Indonesia

 Peta Persebaran Pangkalan Militer AS di Asia Tenggara. Foto: Jalur Militer

Indonesia diharapkan dapat mawas diri dalam menghadapi ancaman Perang Asimetik ini. Perlu disadari bahwa sekarang ini Indonesia berposisi sebagai negara penghasil bahan baku, selain menjadikan potensi pertahanan pangan, Indonesia bisa menjadi target pendudukan, jika suatu saat terjadi perang. Saat ini, negara yang menjadi ancaman kedaulatan bangsa adalah Amerika Serikat.

"Terdapat sekitar 15 pangkalan militer Amerika Serikat yang mengelilingi Indonesia. Pangkalan militer tersebut terletak di negara yang memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat di kawasan Asia Tenggara: Singapura, Papua New Guini, Thailand, Malaysia, Australia, Jepang."

Seperti yang kita ketahui pada masa pendudukan Jepang (1942-1945). Jepang menduduki Indonesia sebagai upaya untuk memanfaatkan SDAnya untuk mendukung keperluan Perang Asia Timur Raya, pasca dijatuhkannya embargo minyak oleh Amerika Serikat kepada Jepang. Indonesia diperas habis-habisan oleh Jepang untuk memenuhi kebutuhan peperangan, misalnya untuk memenuhi kebutuhan minyak mentah, minyak jarak, dan pemenuhan kebutuhan beras untuk pangan pasukan Jepang (karena Jepang menjadikan nasi sebagai makanan pokok).

Hal tersebut pula dilakukan oleh Nazi Jerman dalam upaya menyerang Uni Soviet pada Perang Dunia II (1939-1945). Dalam upaya menaklukan kota Moskow yang merupakan ibukota Uni Soviet. Jerman terlebih dahulu menaklukan Kota Kiev dan Ukraina yang menjadi pemasok gandum di Jerman, dan itulah yang dibutuhkan oleh Jerman untuk memenuhi kebutuhan pangan pasukan yang saat itu terjebak dimusim dingin saat peperangan.

Oleh karena itu kita sebagai bangsa Indonesia perlu waspada terhadap upaya penghancuran dari dalam. Moral dan kehidupan masyarakat kita tengah diuji saat ini. Maraknya tontonan yang tak pantas meracuni pola pikir generasi penerus bangsa.

Hal ini terus menjadi sumber kekhawatiran kita akan generasi yang mempertahankan kemerdekaan kita. Jangan sampai Indonesia terseret kedalam kehancuran yang disebabkan oleh ketidakmampuan bangsa Indonesia sendiri dalam menangkal arus globalisasi yang turut berperan didalam Perang Asimetrik ini.


Daftar Pustaka

Arreguin-Toft, I. (2001). A Theory of Asymmetric Conflict. In “How The Weak Win Wars : A Theory of Asymmetric Conflict, International (p. 21).
Darwanto, H. (2015, 12 26). Perang Asimetris Untuk Hancurkan Nasionalisme dan Ideologi.
Dr. Ir. Yono Reksoprodjo, D. (2016, 10 01). Perang Asimetrik Menwa UI.
Kecskemeti. (1958). Strategic Surrender. London: Oxford University Press.
Manoppo, A. (2014). PERAN PEMUDA DALAM MENGHADAPI PERANG MODERN "PROXY WAR". Buku Letjen TNI Gatot Nurmantyo (Pangkostrad) .
Pranoto, M. A. (2015, 04 16). Mengenal Perang Asimetris: Sifat, Bentuk, Pola dan Sumbernya.



Read More

Mengapa Turki Memisahkan Agama dan Negara Menurut Bung Karno


"Tulisan Bung Karno ini ditulis sebelumnya di Panji Islam Tahun 1940. Dimuat kembali dalam buku Soekarno: Islam Sontoloyo terbitan SEGA ARSY (2008)."

Artikel saya yang sekarang ini haruslah dianggap oleh pembaca sebagai bahan-pertimbangan sahaja ditentang soal baik-buruknya, benar­-salahnya, agama dipisahkan dari negara. Dalam “Panji Islam” no. 13, bagian ke-III dari saya punya uraian tentang “Memudakan Pengertian Islam”, saya telah ajak pembaca-pembaca meninjau sebentar ke negeri Turki itu. Sesudah P.I. no. 13 itu melayang kekalangan publik, maka saya dari sana-sini, antaranya dari seorang sahabat karib di kota Jakarta, saya mendapat permintaan akan menulis lebih banyak tentang soal agama dan negara di negeri Turki itu dan tulisan saya yang sekarang ini haruslah dianggap sebagai memenuhi permintaan-permintaan itu. Sudah barang tentu saya punya sumbangan bahan ini hanya mengenai pokok-pokoknya sahaja, sebab saya musti ingat, bahwa ruangan P.I. yang disediakan buat saya adalah terbatas, dan… saya tak boleh menjemukan pembaca.

Memang sebenarnya siapa yang ingin mengetahui hal ini lebih luas, harus­lah ia membaca buku-buku tentang Turki-modern itu banyak-banyak: pidato-pidato di majelis perwakilan, pidato-pidatonya Kamal Ataturk, biographinya-biographinya Kamal Ataturk, kitab-kitab tulisannya Halide Edib Hanoum, tulisan-tulisannya Zia Keuk Alp, bukunya Stephen Ronart “Turkey today”, bukunya Klinghardt “Angora Konstantinoper, Frances Woodsman “Moslem women enter a new world”, Harold Armstrong “Tur­key in travail”, dan lain-lain sebagainya. Pada penutupnya kitab Halide Edib Hanoum “Turkey faces west” adalah disebutkan nama 41 buah kitab, yang oleh beliau sendiri sangat dipujikan membacanya.

Hanya dengan baca banyak-banyak kitab yang tersebut di atas inilah kita, yang tidak ada kesempatan datang sendiri di negeri Turki buat menga­dakan penyelidikan yang dalam, dapat menyusun satu “gambar” yang adil tentang hal-hal yang mengenai agama dan negara di sana itu. Sayang saya sendiri tiada cukup syarat-syarat untuk membeli semua kitab-kitab yang terpenting, dan perpustakaanpun di Bengkulu tidak ada. Siapakah di antara pemuda-pemuda Indonesia di Jakarta, yang saban hari bisa ke­luar masuk perpustakaan di Gedung Gajah itu, suka memperkaya per­pustakaan Indonesia dengan sebuah verhandeling obyektif tentang hal ini?

Sebab, sebenarnya, orang yang tidak datang menyelidiki sendiri keadaan di Turki itu, atau tidak membuat studi sendiri yang luas dan dalam dari kitab-kitab yang mengenai Turki itu, tidak mempunyailah hak untuk membicarakan soal Turki itu di muka umum. Dan lebih dari itu: ia tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan vonnis atas negeri Turki itu di muka umum. Saya sendiripun, yang di dalam prive-bibliotheek saya, kalau saya jumlah-jumlahkan, tidak ada lebih dari duapuluh kitab yang dapat mem­beli bahan kepada saya atas Turki-modern itu, merasa juga tidak mempunyai hak untuk mengemukakan saya punya pendapat tentang Turki­ modern itu. Apa yang saya sajikan di sini kepada pembaca, oleh karena­nya, tali lebihlah daripada “sumbangan materiaal”, “sumbangan bahan untuk difikirkan” sahaja.

Sebab, – o, begitu mudah orang jatuh kepada fitnah terhadap ke­pada Turki-muda itu. Orang maki-makikan dia, orang kutuk-kutukkan dia, orang tuduh-tuduhkan dia barang yang bukan-bukan, zonder (bahasa belanda: "tanpa") melihat keadaan dengan mata sendiri, zonder mempelajari lebih dulu kitab-kitab yang beraneka warna, zonder pengetahuan dari segala keadaan-keadaan di Turki-muda itu. Orang mengatakan ia menghapuskan agama, padahal ia tidak menghapuskan agama. Orang mengatakan pemimpin-pemimpin Turki-muda semuanya benci, mereka tak sedia mengorbankan jiwanya buat membela kepentingan agama.

Orang mengatakan Islam di Turki sekarang semakin mati, padahal beberapa penyelidik yang obyektif, seperti Captain Armstrong, mengatakan, bahwa Islam di Turki sekarang menun­jukkan beberapa “sifat-sifat yang segar”.

Orang mengatakan bahwa Turki sekarang anti Islam, padahal seorang seperti Frances Woodsman, yang telah menyelidiki Turki sekarang itu, berkata: “Turki modern adalah anti-kolot, anti soal-soal lahir dalam hal ibadat, tetapi tidak anti agama. Islam sebagai kepercayaan persoon tidaklah dihapuskan, sembahyang-sembahyang di mesjid tidak diberhentikan, aturan-aturan agamapun tidak dihapuskan.”

Orang mengatakan bahwa Turki ini tidak mau menyokong agama, karena memisahkan agama itu dari sokongannya negara, padahal Halide Edib Hanoum, sebagai dulu sudah pernah saya sitir, adalah berkata bahwa agama itu perlu dimer­dekakan dari asuhannya negara, supaya menjadi subur. “Kalau Islam terancam bahaya kehilangan pengaruhnya di atas rakyat Turki, maka itu bukanlah karena tidak diurus oleh pemerintah, tetapi ialah justru karena diurus oleh pemerintah. Ummat Islam terikat kaki-tangannya dengan rantai kepada politiknya pemerintah. Hak ini adalah satu halangan yang besar sekali buat kesuburan Islam di Turki. Dan bukan sahaja di Turki, tetapi di mana-mana sahaja, di mana pemerintah campur tangan di dalam urusan agama, di situ menjadilah ia satu halangan-besar yang tak dapat dinyahkan.”

Begitu pula saya sudah mensitir perkataan menteri kehakiman Mahmud Essad Bey, yang mengatakan agama itu perlu dimerdekakan dari belenggunya pemerintah, agar menjadi subur: “Manakala agama dipakai buat memerintah, ia selalu dipakai sebagai alat penghukum di tangannya raja-raja, orang-orang zalim dan orang-orang tangan besi. Manakala zaman modern memisahkan urusan dunia daripada urusan spirituil, maka ia adalah menyelamatkan dunia dari banyak kebencanaan, dan ia mem­berikan kepada agama itu satu singgasana yang maha-kuat di dalam :kalbu­nya kaum yang percaya.” Dan bukan lain dari Kamal Ataturk sendirilah yang berkata:

“Saya merdekakan Islam dari ikatannya negara, agar supaya , agama Islam bukan tinggal agama memutarkan tasbih di dalam mesjid saha­ja, tetapi menjadilah satu gerakan yang membawa kepada per­joangan.”

Ya, memang barangkali sudah bolehkah dikatakan secara adil, bahwa maksud-maksud pemimpin-pemimpin Turki-muda itu, bukanlah maksud-­maksud-jahat akan menindas agama Islam, merugikan agama Islam, mendurhakai agama Islam, – tetapi ialah justru akan menyuburkan agama Islam itu, atau setidak-tidaknya memerdekakan agama Islam itu dari ikatan-ikatan yang menghalangi ia punya kesuburan, yakni ikatan‑ikatannya negara, ikatan-ikatannya pemerintah, ikatan-ikatannya pemegang kekuasaan yang zalim dan sempit fikiran.

Dan sebaliknyapun, maka ke­merdekaan agama dari ikatan negara itu berarti juga kemerdekaan negara lari ikatan anggapan-anggapan agama yang jumud, yakni kemerdekaan negara dari hukum-hukum tradisi dan faham-faham-Islam-kolot yang se­5enarnya bertentangan dengan jiwanya Islam sejati, tetapi nyata selalu menjadi rintangan bagi gerak-geriknya negara ke arah kemajuan dan kemoderenan. Islam dipisahkan dari negara, agar supaja Islam menjadi merdeka, dan negarapun menjadi merdeka. Agar supaya Islam berjalan sendiri. Agar supaya Islam subur, dan negarapun subur pula.

Pada saat yang mati-hidupnya bangsa Turki tergantung kepada kekuatan negara, maka Kamal Ataturk tidak mau sesuatu tindakan negara yang amat perlu, tidak dapat dijalankan oleh karena ulama-ulama atau Sheik-ul-Islam mengatakan makruh, atau haram, atau bagaimanapun juga. Pada saat yang bangsa Turki itu hendak dihantam hancur-lebur) oleh musuh-musuhnya, manakala ia tidak mempunyai alat kenegaraan yang maha-kuat dan senjata yang maha-modern, maka ia tidak mau ia punya usaha “mengharimaukan” negara itu dihalang-halangi oleh faham-faham Islam, pada hal sebenarnya bukan faham-Islam.

Pada saat yang mati-­hidupnya bangsa Turki itu tergantung kepada satu benang sutera, tergan­tung kepada cepatnya usaha memperkokohkan dan mempersenjatakan negara, maka ia tidak mau mendapat pengalaman seperti pengalaman Ibnu Saud, yang tidak dapat mendirikan tiang radio atau mengadakan elek­trifikasi, karena rintangan-rintangan kaum jumud, yang selalu mencap makruh kepada , semua barang-barang-dunia yang baru, mencap haram kepada semua barang-barang yang belum tentu haram.

“Saya merdekakan Islam dari negara, agar Islam bisa kuat, dan saya merdekakan negara dari agama, agar negara bisa kuat”, – inilah di dalam satu-dua patah kata sahaja sarinya tindakan Kamal Ataturk itu. Sebagai saya katakan di dalam P.I. no. 13 itu, maka sebenarnya hanya sejarah sa­hajalah di kelak kemudian hari dapat membuktikan benar atau salahnya tindakan Kamal Ataturk itu.

Kita boleh memperdebatkan hal ini sampai merah kita punya muka, kita boleh mendatangkan alasan satu gudang banyaknya bahwa Kamal Ataturk menyimpang dari Islam atau tidak me­nyimpang dari Islam, kita boleh bongkar semua sejarah Islam buat mem­buktikan kedurhakaan Kamal atau kebijaksanaan Kamal, boleh pro, boleh kontra, boleh mengutuk, boleh memuji, boleh marah, boleh ber­sukacita,- tetapi hanya sejarahlah sahaja yang nanti dapat menjadi hakim yang sebenar-benarnya di dalam soal ini. Tidak bedanya hal ini dengan misalnya soal siapakah yang benar: Stalin-kah atau Trotsky-kah?

Stalin-kah, yang beranggapan bahwa buat keperluan komunisme-sedunia perlu diperkokoh lebih dulu satu-satunya benteng komunisme yang telah ada, yakni Sovyet Rusia? Ataukah Trotsky, yang mengatakan, bahwa buat keperluan komunisme-sedunia itu, perlu dari sekarang dikerjakan dan diikhtiarkan revolusi dunia. Di dalam hal Stalin-Trotsky inipun kaum komunis boleh berdebat-debatan satu sama lain sampai pecah mereka punya urat-urat-muka, tetapi hanya sejarahlah nanti yang dengan fakta­-fakta dapat menunjukkan, siapa yang benar, siapa yang salah, siapa yang durhaka, siapa yang setia kepada warisan Leninisme.

Selengkapnya dapat dibaca di buku Soekarno: Islam Sontoloyo terbitan SEGA ARSY (2008)
Read More

Morgenthau Plan, Rencana Pembagian Jerman

Henry Morgenthau dan President Roosevelt

Rencana Morgenthau atau Morgenthau Plan (Dalam bahasa Jerman: Morgenthau-plan), pertama diajukan oleh Henry Morgenthau, Jr., Sekretaris kebendaharaan AS dalam memorandum Program untuk Jerman pasca-penyerahan, dengan advokasi bahwa okupasi Sekutu di Jerman pasca-Perang Dunia 2 dapat menghilangkan kemampuan Jerman untuk memulai perang lagi, dengan mengeliminasi industri armamen dan industri-industri lain yang menjadi dasar kekuatan militer, termasuk penghilangan atau penghancuran semua pabrik dan alat-alat industri di Ruhr.
File:Germany 1949 Status.PNG
Batas politik pasca-Perang Dunia II Jerman (1949). Jerman Barat ditampilkan dalam warna biru, Jerman Timur ditampilkan dalam warna merah, yang Saar Protektorat di bawah kendali ekonomi Perancis ditampilkan dalam warna hijau. Ruhr Area, industri mesin Jerman Barat, ditampilkan dalam coklat seperti itu di bawah kendali Otoritas Internasional untuk Ruhr. Pra-perang Jerman wilayah timur dari garis Oder-Neisse ditampilkan dalam warna abu-abu, seperti yang ditugaskan / dianeksasi ke Polandia dan Uni Soviet. Berlin Barat ditunjukkan dengan warna kuning seperti itu, secara resmi di bawah pendudukan oleh Sekutu sampai tahun 1990.
Di Jerman yang terokupasi, pemikiran dibalik rencana Morgenthau pertama muncul di direktif okupasi JCS 1607 AS dan pada Rencana-rencana industri sekutu untuk Jerman (Allied Industrial Plans for Germany) yang ditujukan pada pembubaran Industri.

Namun dibandingkan rencana Morgenthau, JCS 1607 mengandung beberapa “jalan keluar”yang membatasi segala aksi militer dan mencegah penghancuran tambang dan pabrik-pabrik dalam skala besar, memberikan kebijakan kepada gubernur militer dan para lawan dari Morgenthau di Departmen Perang.

Pada 1947, JCS 1607 digantikan oleh JCS 1779, yang ditujukan untuk mengembalikan Jerman yang “stabil dan produktif”, dan tidak lama setelahnya diikuti oleh Marshall Plan.

Memorandum Morgenthau

“Jerman adalah masalah kita” (“Germany is our problem”)

Memorandum orisinilnya, yang ditulis sekitar Januari dan awal September 1944, ditandatangani pada Morgenthau dengan judul “Saran program pasca-penyerahan Jerman” telah diawetkan di Perpustakaan Presidensil Franklin D. Roosevelt dan Museum.

Teks ini bisa dilihat secara online. Ketentuan-ketentuan utama dari Morgenthau Plan dapat diringkas sebagai berikut:

1. Demilitarisasi Jerman: Seharusnya menjadi tujuan utama dari Sekutu untuk menyelesaikan demiliterisasi komplit Jerman dalam periode yang sesingkat mungkin setelah Jerman menyerah. Ini berarti sepenuhnya melucuti persenjataan tentara dan rakyat Jerman (termasuk menghilangkan dan menghancurkan semua materi perang), Destruksi total dari industri armamen Jerman, dan penghilangan atau penghancuran dari industri penting lain yang menjadi dasar kekuatan militer.

2. Pembagian Wilayah Jerman:
  • Polandia mendapat bagian Prussia Timur yang tidak masuk wilayah Uni Soviet dan porsi selatan Silesia.
  • Perancis mendapat wilayah Saar dan wilayah-wilayah berdekatan yang dibatasi sungai Rhine dan Moslle.
  • Dibuat Zona Internasional yang terdiri dari Ruhr dan area-area industri disekitarnya.
  • Sisanya dibagi menjadi dua negara independen yang berotonomi, (1) Negara Jerman Selatan yang terdiri dari Bavaria, Württemberg, Baden, dan beberapa area kecil dan (2) Negara Jerman Utara yang terdiri dari Prussia, Saxony, Thuringia, dan beberapa wilayah kecil lain. 
  • Harus dibentuk sebuah persatuan diantara Negara Jerman Selatan dan Austria, dengan batas wilayah yang akan dikembalikan sesuai dengan batas wilayah sebelum 1938.
  • Area Ruhr: (Area Industrial, termasuk Rhineland, Kanal Kiel, dan semua wilayah Jerman di utara Kanal Kiel.)
  • Disini terletak jantung dari kekuatan industri Jerman, kawah dari peperangan. Area ini tidak hanya harus dipindahkan dari segala industri yang ada tapi juga dilemahkan dan dikontrol sehingga tidak bisa lagi menjadi area industrial di masa depan.
  • Dalam periode yang pendek, jika mungkin tidak lebih dari 6 bulan setelah selesainya pertikaian, semua pabrik dan peralatan industri yang belum dihancurkan melalui aksi militer harus secara penuh dipindahkan dari area atau secara penuh dihancurkan. Segala peralatan tambang akan dipindahkan dari daerah tambang dan tambangnya sendiri dihancurkan.
    • Telah diantisipasi bahwa pengupasan area ini akan dicapai melalui tiga tahap:
      • Pasukan militer segera menghancurkan segala pabrik dan peralatan industri yang tak bisa dipindahkan.
      • Pemindahan pabrik dan peralatan oleh anggota-anggota PBB sebagai restitusi dan reparasi.
      • Segala pabrik dan peralatan yang tidak dibindahkan dalam periode yang disebutkan, misalnya 6 bulan, akan dihancurkan secara sepenuhnya atau dibongkar dan dialokasikan kepada PBB
  • Semua orang di area harus dibuat mengerti bahwa area Ruhr tidak diperbolehkan untuk menjadi area industri lagi. Semua orang dan keluarganya yang memiliki bakat-bakat spesia atau teratih secara teknis akan diyakinkan untuk pindah secara permanen dari area Ruhr, dan harus disebar seluas mungkin.
  • Area Ruhr dibuat menjadi zona internasional yang diperintah oleh organisasi keamanan internasional yang didirikan oleh PBB. Dalam memerintahkan zona internasional, organisasi tersebut akan dikendalikan dan dipantau oleh kebijakan-kebijakan yang mendukung tujuan-tujuan yang telah disebutkan sebelumnya.
  • Restitusi dan Reparasi: Reparasi dalam bentuk pembayaran dan pengiriman yang berulang seharusnya tidak menuntut. Restitusi dan Reparasi akan terpengaruh dengan transfer dari sumber kekayaan dan wilayah Jerman yang masih ada:
    • Dengan restitusi dari properti yang dirampas oleh Jerman di wilayah yang diokupasi oleh Jerman.
    • Transfer Wilayah Jerman dan hak privat Jerman dalam properti industri yang terletak di negara-negara lain yang diokupasi Jerman untuk negara-negara tersebut, dan juga untuk organisasi internasional dibawah program partisi.
    • Pemindahan dan distribusi pabrik dan peralatan industri pada negara-negara yang hancur karena perang, dan terletak di dalam zona internaional dan negara-negara Jerman Utara dan Selatan.
    • Dengan kerja paksa untuk orang Jerman diluar Jerman; dan
    • Penyitaan seluruh aset Jerman diluar Jerman.



Read More

Perjalanan Hidup Adolf Hitler, Kekecewaan dan Kebencian


Adolf Hitler adalah seorang yang dikenal sebagai orang yang vokal di depan umum dan mampu mendogmatis semua pendengar hingga menyetujui semua perkataannya. Hitler juga dikenal sebagai orang dibalik pemusnahan etnis yahudi selama Perang Dunia II.
Membicarakan soal Hitler dan apa yang dilakukannya pada masa lalu. Akan lebih baik kita memahami proses panjang hidupnya. Dari seorang anak-anak hingga menjadi seorang Adolf Hitler yang dikenal sebagai der Führer.

1Masa Kecil Adolf Hitler



https://badabingbadabambadaboom.files.wordpress.com/2011/05/young-hitler1.jpg?w=300
 
 
Adolf Hitler dilahirkan pada tanggal 20 April 1889 di Gasthofzum Pommer. Hitler merupakan anak keempat dari enam bersaudara. Ayahnya yang seorang petani bernama Alois Hitler dan Ibunya bernama Klara Hitler née Pölzl.
Ketiga saudara Hitler yang bernama Gustav, Ida, dan Otto meninggal saat mereka masih bayi. Suatu ketika, Hitler dan keluarganya harus pindah dari kota kelahirannya menuju Passau, Jerman saat usia Hitler masih tiga tahun.
Kemudian, di tahun 1894 keluarganya pindah lagi ke Leonding dan pada Juni 1895. Alois bersama anak-anaknya menetap di sebuah lahan kecil di Hafeld, tempat di mana dia bertani dan beternak.
www.kumpulanmisteri.com

Waktu itu, Hitler muda bersekolah di kota Fischlham. Akan tetapi, perpindahan mereka menuju Hafeld menjadi awal munculnya konflik antara ayah dan anak, alasannya utamanya karena Adolf Hitler menolak untuk mematuhi segala peraturan yang terlalu ketat di sekolahnya.
Setelah itu, di tahun 1897, Hitler dan keluarganya pindah ke Lambarch dikarenakan usaha pertanian sang ayah mengalami kegagalan.
Di kota ini, Hitler yang berusia delapan tahun mengikuti les menyanyi dan mengikuti grup paduan suara di gereja, bahkan Hitler sempat memiliki keinginan untuk menjadi pendeta saat itu.
Tidak berhenti di Lambarch, keluarga Hitler pun kembali pindah dan menetap di kota Leonding pada tahun 1898. Di kota ini pula, Hitler harus kehilangan adiknya yang bernama Edmund karena penyakit cacar di tahun 1900.
Kematian adik yang dikasihinya ini membuat kehidupan seorang Adolf Hitler berubah. Sebelumnya, Hitler merupakan orang yang percaya diri, pintar, dan mudah bergaul.
Akan tetapi, usai kematian adiknya, Hitler menjadi seorang yang menarik diri dari lingkungan, murung, seringkali cemberut, dan bertengkar dengan ayah maupun gurunya.
Lambat laun, pekerjaan sang ayah mengalami kemajuan, Alois menjadi seorang yang sukses dengan bekerja di biro bea cukai, sehingga Alois ingin anaknya mengikuti langkah kesuksesan yang didapat. Akan tetapi, Hitler menolak untuk mengikuti keinginan ayahnya itu.
Hitler yang bercita-cita menjadi seorang seniman ingin masuk ke SMA klasik, sedangkan ayahnya justru mengirim Hitler ke Realschule di Linz pada tahun 1900. Hitler benar-benar menolak keputusan Alois, sehingga Hitler tidak menunjukkan prestasi yang baik di sekolah.
Sampailah suatu ketika, Hitler ditinggal oleh Alois karena kematiannya yang mendadak pada tahun 1903. Semakin buruklah prestasi Hitler di sekolah.
Kemudian, di tahun 1904 Hitler melanjutkan sekolah di Realshule di Steyr, saat masuk ke sekolah ini, prestasi dan perilaku Hitler membaik. Sehingga, di tahun 1905 Hitler dapat lulus ujian susulan dan ujian akhir.

2Masa Remaja Adolf Hitler



http://www.thefamouspeople.com/profiles/images/adolf-hitler-34.jpg

 Hitler yang telah memasuki usia remaja menjalani kehidupan di Wina dengan mendapat tunjangan anak yatim dan bantuan dari ibunya. Awalnya Hitler menjadi seorang buruh biasa, kemudian meneruskan hidupnya menjadi seorang pelukis yang menjual lukisan cat air.
Akan tetapi, saat Hitler ingin meneruskan pendidikannya, Akademi Seni Rupa Wina menolaknya sebanyak dua kali di tahun 1907 dan 1908 dengan alasan Hitler tidak cocok untuk melukis. (baca juga: Sisi Lain Adolf Hitler, Sang Pelukis Ulung)
Kemudian, direktur akademi memberi saran kepada Hitler agar belajar tentang arsitekstur, tapi ia tak memenuhi sarat akademik.


Di tahun 1907, ibu Hitler meninggal dunia pada usia 47 tahun. Kemudian Hitler pun tinggal di tempat penampungan tunawisama karena ia telah kehabisan uang seusai ditolak dari akademi untuk kedua kalinya.
Pada tahun 1910 pun ia menetap di rumah pekerja miskin, di mana tempat itu penuh dengan prasangka agama dan rasisme.

3Perang Dunia I dan Perang Dunia II




Hitler merupakan penduduk kota Munich yang dengan sukarela berdinas menjadi Angkatan Darat Bayern ketika Perang Dunia I dimulai.
Hitler ditugaskan untuk menjadi pengirim berita di Perancis dan Belgia. Hingga ia mendapat penghargaan Iron CrossSecond Class di tahun 1914 atas keberaniannya.
Hitler pun pernah berdinas di kantor pusat, di tempat inilah ia mengembangkan bakat seninya dengan menggambar kartun dan instruksi untuk surat kabar angkatan darat.
sejarahperang.wordpress.com

Di tahun 1916, saat pertempuran Somme, ia mengalami luka di bagian betis kiri karena ledakan granat di parit tempat pengirim berita. Hitler pun dirawat selama dua bulan di Rumah Sakit Palang Merah.
Kemudian, pada tahun 1918 Hitler sempat mengalami buta sementara akibat serangan gas mustar hingga mendapat perawatan di Rumah Sakit Pasewalk. Di tempat inilah ia mengetahui Jerman mengalami kekalahan.
Setelah berakhirnya Perang Dunia I, Hitler kembali ke Munich dan mencoba untuk tetap bertahan di angkatan darat selama mungkin. Hingga pada tahun 1919, ia dipilih untuk menjadi agen intelijen sebagai komando mata-mata di Reichswehr.
sejarahperang.wordpress.com

Bekerja menjadi agen intilijen, Hitler pun mendapat tugas untuk mempengaruhi tentara-tentara yang lain dan menyusup ke Partai Pekerja Jerman (DAP).
Ketika mengawasi aktivitas DAP, Hitler pun tertarik pada pemikiran sang pendiri partai, Anton Drexler. Seorang Drexler menyukai pemerintahan yang kuat, versosialisme non-Yahudi dan solidaritas yang tinggi pada masyarakat.
Drexler yang sempat melihat Hitler berpidato merasa terpukau dan mengundangnya untuk bergabung dengan DAP. Kemudian Hitler pun menerima ajakan itu dan menjadi anggota partai ke-55.
Hingga akhirnya Hitler pun keluar dari angkatan darat dan mulai membangun bendera DAP yang kemudian berganti nama menjadi Partai Pekerja Jerman Sosialis Nasional (NSDAP).
Dengan berbagai lika-liku yang dialami selama bergabung dengan NSDAP, di mana ia pernah dipenjara dan mulai membangun lagi NSDAP, Hitler akhirnya pun akhirnya menyulut Perang Dunia II.

Pada tanggal 1 September 1939 dengan memerintahkan tentara Jerman agar menyerang Polandia dengan alasan karena klaimnya terhadap Kota Bebas Danziq dan hak Jerman atas jalan ekstrateritorial melintasi koridor Polandia ditolak.
Perang yang besar pun tak terelakkan. Kemudian Perancis dan Britania Raya pun turut menyatakan perang melawan Jerman pada tanggal 3 September 1939.
Hingga pada tahun 1941 pasukan Jerman dan sekutu dari Eropa mampu menduduki sebagian besar Eropa dan Afrika Utara.
Akan tetapi sampai di tahun 1943, Jerman harus bertahan dan mengalami serangkaian kekalahan dalam pertempuran.

4Kematian Adolf Hitler





Setelah diketahui bahwa Jerman mengalami kekalahan dalam perang, dikabarkan Hitler pun bunuh diri setelah sebelumnya menikahi sang kekasih yang bernama Eva Braun. Hitler meninggal di tanggal 30 April 1945 di Berlin, Jerman.
Namun, kepastian meninggalnya Hitler masih menjadi misteri hingga saat ini. Banyak yang mengatakan bahwa Hitler tidak bunuh diri, melainkan melarikan diri. Sampai beberapa isu bahwa Hitler meninggal di Indonesia.

Dipublikasikan pertama kali oleh Fitri Maulida di TandaTagar.com
Read More

Tahun-Tahun Terakhir Kekuasaan Hitler dan Nazi


Sejak pendaratan D-Day pada 6 Juni 1944 untuk mempercepat kehancuran Reich Ketiga pada 8 Mei 1945. Akhir dari Jerman kian nampak untuk ditentukan. Jerman yang awalnya superior dalam berbagai pertempuran di Front Barat dan menguasai beberapa wilayah di Eropa serta membalas kehinaan atas perjanjian Versailes dengan menduduki Perancis.

Semua kemudian berbalik sejak kekalahan di Front Timur dalam usaha menaklukan Uni Soviet. Pertempuran di Stalingard menjadi bumerang bagi Jerman dengan memancing Tentara Merah bergabung dengan Sekutu untuk melawan Jerman. Berikut ini merupakan video dokumenter selama 40 menit recolor yang menggambarkan kehancuran Jerman dan ambisi Hitler.


Read More

Film Dokumenter Berwarna Nazi dan Sepak Terjang Hitler


Nazi, atau secara resmi Nasional Sosialisme (Jerman: Nationalsozialismus), merujuk pada sebuah ideologi totalitarian Partai Nazi (Partai Pekerja Nasional-Sosialis Jerman, Jerman: Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei atau NSDAP) di bawah kepemimpinan Adolf Hitler. 

Kata ini juga merujuk pada kebijakan yang dianut oleh pemerintahan Jerman pada tahun 1933-1945, sebuah periode yang kemudian dikenal sebagai Jerman Nazi atau Reich Ketiga. Kata Nazi jadi merupakan singkatan Nasional Sosialisme atau Nationalsozialismus di bahasa Jerman. Sampai hari ini orang-orang yang berhaluan ekstrem kanan dan rasisme sering disebut sebagai Neonazi (neo = "baru" dalam bahasa Yunani).




Read More

Medan Het Parijs van Sumatra, Medan Paris di Sumatra

“Mak, ini bukan ecek-ecek lagi.

Sekarang ini kita sudah berada di Paris.

Khan Medan sudah disebut-sebut sebagai

Parijs van Sumatra.

Ayo Mak, cobalah baret ini.”

(Joesoef 2005:11)

" Ketika Medan tumbuh menjadi kota yang makmur, terbuktilah apa yang kerap diucapkan oleh Dr. H Van Der Veen, guru ilmu bumi yang ucapannya sering diajarkan kepada anak-anak sekolah Sumatra: Molukken is het verleden, Java is het heden en Sumatra is de toekomst, Maluku adalah masa lalu, Jawa adalah masa sekarang, dan Sumatra adalah masa depan. "
- Chairil Anwar

***

Sepenggal kenangan Daoed Joesoef, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 1978-1983 tentang tren baret Perancis di Medan tahun 1930-an sedikit-banyak menguak romantisme seputar Parijs van Sumatra. Parijs van Sumatra? Ya tentu saja! Dahulu, Medan adalah Paris-nya Sumatera!

Paris? Ya, Paris ibukota Perancis, metropolis yang menjadi ‘kiblat’ kebudayaan modern dan mercu tanda revolusi. Coup d’etat dan slogan legendaris: Liberté, Égalité, Fraternité ou la mort lahir dan berpengaruh signifikan pada pemikiran dan gerakan kelompok revolusioner di seluruh dunia berasal dari kota ini.

Medan pun demikian, menjadi mercu tanda kemakmuran dan representasi keajaiban ekonomi perkebunan sekaligus revolusi. Segala hal tentang tata kelola perkebunan masa kini berasal dari kawasan yang secara resmi bernama Sumatra Oostkust (SOK) ini. Revolusi yang berlangsung begitu rumit pun berlangsung di kawasan ini.

Kawasan yang lebih sering disebut Deli ini adalah Cultuurgebied atau sabuk perkebunan Sumatera. Dari kawasan ini tuan-tuan kebon meraup laba dari tembakau, karet, kelapa sawit dan sejumlah tanaman lain. Tidak keliru jika kemudian kawasan ini didaulat sebagai The Jewel in the Dutch Imperial Crown.

Onze koloniën! begitulah Deli diucapkan dengan bangga. Kebanggaan ini membuat kenangan akan cengkeh, pala dari Maluku atau kopi, teh dan indigo dari Jawa seolah-olah terlupakan. Kenangan itu digantikan oleh cerita tentang daun tembakau pembungkus cerutu dari Deli.

Kebanggaan para tuan kebon akan pencapaian mereka di Deli -barangkali- turut mengilhami lahirnya ungkapan romantik ‘Molukken is het verleden, Java is het heden en Sumatra is de toekomst’ bahwa Maluku adalah masa lalu, Jawa masa kini dan Sumatera adalah masa depan.

Medan pun sangat lekat dengan ‘keajaiban’ itu. Dari sebuah kampung berpenduduk 200 jiwa pada 1823, kota yang dirintis sejak 1869 ini menjelma menjadi kota yang benar-benar baru. Saking barunya, sejarah kota baru ini seolah-olah terlepas dari kisah Kampung Medan Puteri di tempuran Sungai Deli dan Babura.

Lahir dan berkembang di tangan tuan kebon yang mendaku Deliaan membuat Medan identik dengan mereka. Deliaan, seperti gambaran A. Reid, menciptakan tradisi yang dibangun di atas kesenangan, kemewahan dan keangkuhan yang tiada tara jika dibandingkan dengan orang Belanda lain di luar daerah ini.

Deliaan alias Belanda-Deli mendedikasikan hidup mereka untuk menumpuk harta dari tantieme dan pesta. Generasi pertama Deliaan dikenal karena sifat kasarnya, pemabuk, kurang adat dan benci pada birokrasi. Mereka merasa lebih pantas menghormati Direktur Deli Mij. ketimbang Gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Deliaan menjadi représentation collectives yang membentuk citra kota dan orang di Medan. Medan dikenal sebagai kota yang keras dan demikian pula dengan Ourang Medan, dikenal keras, lepas, temperamental, hiperbolis, sarkastis, solider dan karena semua pembawaan itu -secara anekdotal- tersebut juga kisah jenakanya.

Keinginan dan kebanggaan Deliaan pada Medan, membentuk dan memperlihatkan cara bertindak orang Medan kepada publik. Citra inilah yang dinamakan représentation collectives itu. Citra ini secara langsung maupun tidak, menentukan arah perkembangan sosiologis di kota Medan, setuju atau tidaknya setiap individu.

Parijs van Sumatra begitulah Medan ditahbiskan. Bukan karena Medan mirip kota Paris melainkan karena Deliaan merasa kisah tentang Paris yang romantik, etos dan gelora Paris itu menjiwai perasaan, semangat, keberanian serta kerja keras mereka pada kota yang mereka bangun dengan uang mereka sendiri.

Inilah alasan mengapa sosok Deliaan seolah-olah memancar dari setiap sudut kota Medan. Gedung-gedung bercorak Art deco yang bercat putih, ragam monumen, taman, jalanan serta simbolisasi di ruang publik kota Medan pasti terkait dengan perkebunan tembakau, citra Eropa dan kebanggaan diri sebagai Deliaan.

Kebencian Deliaan pada birokrasi pemerintah ditambah kisah membara tentang perseteruan tradisional antara Belanda dan Inggris di Eropa berperan mengarahkan Deliaan memilih Paris sebagai julukan untuk kota cantik yang mereka bina ketimbang Amsterdam atau London.

Hasrat mengimbangi Georgetown di Pulau Pinang dan Singapura yang menjadi proxy Inggris memacu para Deliaan menaiktarafkan derajat agar Medan lebih tinggi atau setidaknya sejajar dengan dua kota pulau itu. Oleh sebab itu segala yang menjadi tren di Eropa diimpor utuh dan menjadi bagian utama dari budaya baru perkotaan.

Baret Perancis yang dikenang Joesoef serta sejumlah tren yang melanda Eropa dalam kadar yang kurang-lebih sama berlangsung juga di Medan. Hobi baru pun bermunculan; menonton opera, ke bioskop, mengikuti mode, pakansi atau membaca roman picisan bertema percintaan dan detektif. Semuanya, setali tiga uang dengan hobi orang Eropa pada waktu sama.

Seperti Paris, keterbukaan, kebebasan dan kemeriahan menjadi ciri utama Medan. Sensus 1930 menunjukkan pertumbuhan dan komposisi penduduk yang dinamis. Para pendatang yang berasal dari pelbagai latar belakang ikut melahirkan budaya perkotaan serta beragam kemeriahan lewat suratkabar yang memantulkan semangat nasionalisme yang sedang dikungkung.

Kebebasan pun berlangsung demikian. Pesta-pesta untuk tuan-tuan kebon, pesta lepas-sambut kedatangan pejabat pemerintah, jamuan makan, pacuan kuda, passer malam besar, pesta lelang, pawai, ronggeng dan beragam kegiatan yang bertujuan memamerkan apa saja yang dapat ditunjukkan sebagai sebuah pencapaian kerap digelar di Medan.

Sejarah dan tata ruang kota Medan menjadi daya tarik tersendiri bagi para pendatang Eropa. Sejarah kota ini -terlepas dari paradoks di balik sejarahnya- adalah epos tuan kebon sedangkan kota seluas 288 hektar (1874) yang dirancang, dibangun dan dipelihara sangat baik dipandang sebagai mahakarya tuan-tuan kebon Tembakau Deli.

Kesan tentang Medan itu dikenang bangga oleh H. Blink ‘Medan sebagai pusat perkebunan dijiwai oleh semangat kemajuan, keberanian dan kerja keras. Sejarah dan orang-orang di sana diresapi oleh semangat itu. Di sini orang tidak suka kelambanan, mereka harus aktif. Penduduk Medan bersifat internasional dan yang terutama adalah unsur Barat’.

L. Couperus pun demikian, ia menegaskan kebanggaan Blink pada kota Medan yang sudah menjadi destinasi wisata baru bagi pelancong Eropa. ‘Kota ini (Medan) muncul berkat kehidupan perkebunan yang luar biasa sibuknya. Medan merupakan kota yang betul-betul unik di Hindia Belanda; modern, bergaya Eropa serta bernuansa Inggris’.

Pada  bagian lain, Couperus juga menuliskan betapa pengalaman dan suasana di Medan membekas padanya. ‘kita tidak akan menemukan kota lain yang sama baiknya dengan Medan, baik di Sumatera maupun Jawa’. Begitulah nukilan tentang Medan masa itu. Oleh karena itu pastilah bukan tanpa alasan jika Parijs van Sumatra jadi julukan kota ini.

Sebagai Paris-nya Sumatra, Medan dikenang sebagai kota yang asri dengan gedung-gedung segar berwarna putih di tengah petak-petak rumput hijau dan segar pula. Jalanan kota terlihat selalu bersih, disirami setiap pagi dan sore hari. Malam hari, sudut-sudut utama kota terlihat terang disinari lampu gas yang memendar ketika malam semakin dingin.

Medan tidak dibangun seluas perkebunan yang melingkungi kota itu namun kota ini menjadi salah satu pusat dari berbagai jejaring terkemuka. Medan menjadi daerah tujuan para perantau dan petualang dari Hindia Belanda, Asia dan Eropa meskipun dari sisi lain Medan dan Sumatera Timur -oleh Jan Breman- disamakan dengan Wild Wild West.

Penguatan birokrasi pemerintah kolonial menyusul penghentian kebijakan berlandaskan Pax Neerlandica di buitengewesten, Medan pun tak luput dari proses itu. Medan dijadikan salah satu pusat administrasi kolonial, swasta asing, profesional atau politisi. Mereka menjadikan Medan sebagai pusat kegiatan baru atau membuka cabang kantor mereka.

Tercatat, J. van den Brand, advokat yang membongkar kekejaman tuan kebon lewat dua brosur bertajuk De Millioenen uit Deli membuka kantor di Medan. Demikian pula dengan perusahaan asing sekelas Harrisons & Crossfields, Fraser & Neave atau partai politik seperti Parindra, National Indische Partij (NIP), Permi, Muhammadiyah dan salah satu organ Nazi memiliki cabang di kota ini! Itulah Medan! Kota yang dirintiskembangkan dengan peran minimal Batavia. Satu hal lain yang jarang disinggung ialah kota ini baru mempunyai Burgermeester (walikota) definitif pada tahun 1919, kira-kira 50 tahun sesudah masa rintisan! Daniel Baron Mackay, nama penjabatnya. Jadi, siapakah yang ‘berkuasa’ di Medan sebelum tahun itu?

Seperti Paris, Medan sesudah Perang Dunia II terlihat dengan wajah yang berbeda. Perang menjadikan Medan serta sejumlah kota seperti berhenti berkembang. Revolusi yang lahir sesudah itu menjungkirbalikkan keadaan dan segala tatanan lama. Proses ini menenggelamkan citra Medan sebagai salah satu kota terkemuka di Hindia Belanda.

Medan menjadi simbol revolusi meskipun revolusi sosial yang disebutkan dalam sejarah tidak berlangsung di kota ini. Medan pun tidak pernah dikuasai kaum revolusioner selama perang kemerdekaan. Kenangan tentang Medan selama revolusi adalah kenangan tentang pertempuran hebat di kawasan yang diberi tanda Fixed Boundaries Medan Area oleh Sekutu.

Sesudah penyerahan kedaulatan, julukan Paris van Sumatra masih terdengar meskipun samar-samar hingga penghujung tahun 1950-an. Indonesianisasi -konsep yang dikenalkan J.O. Sutter- mendorong pemerintah menghilangkan ciri/simbol kolonial dari ruang publik di Medan; pada umumnya mengganti nama hingga dapat menampilkan ciri sebagai kota Indonesia.

Kenangan akan Parijs van Sumatra adalah sebuah fakta sosial yang merekam jejak perubahan dan kesinambungan mentalitas masyarakat Medan. Oleh sebab itu, apapun kenangan tentang Medan di masa lalu adalah rujukan untuk menata kota sebagai karya terbesar manusia dalam evolusi peradaban untuk mencapai otonomi diri melalui ekstrapolasi.

Kini Paris-nya Sumatera itu perlina. Tiada lagi yang mencari inspirasi akan kenangan akan Paris di kota ini seperti dilakukan M.H. Székely-Lulofs, Tan Malaka, Lily Clerkx, Hamka atau Emil W. Aulia. Juga (mungkin) tidak akan ada lagi yang pernah mengucapkan Paris Je t’aime untuk Medan atau Medan ik houd van jou! Semua tinggal romantisme.

Tulisan: NASRUL HAMDANI, S.S,. Pertama kali dipublikasikan di kebudayaan.kemdikbud.go.id (dengan sedikit pengubahan)



Read More

Konferensi Yalta, Kesepatan Tiga Kekuatan Besar


Menjelang kehancuran Poros pada Perang Dunia II. Presiden AS, Franklin D. Roosevelt, Pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin, dan PM Inggris, Winston Churchill mengadakan pembicaraan di Taheran, Iran pada bulan Desember 1943. Pertemuan tersebut kemudian dikenal sebagai Konferensi Taheran 1943 dengan sandi "EUREKA." Ketiga pemimpin negara besar tersebut dikenal luas sebagai The Big Tree.

Hal yang terpenting atas penyelenggaraan konferensi ini adalah membuat perencanaan strategi terakhir dalam peperangan melawan Nazi Jerman dan bertempur terus melawan Jepang. Dan secara bersamaan mengakui kemerdekaan Iran.

"Ketiga negara menyadari bahwa perang telah mengakibatkan kesulitan ekonomi bagi Iran, dan mereka menyetujui akan melanjutkan tersedianya bantuan ekonomi bagi pemerintahan Iran sepanjang dimungkinkan, dengan memperhatikan beratnya beban kebutuhan di antara mereka yang disebabkan oleh operasi militer diseluruh dunia, dan kebutuhan transportasi, bahan baku, suplai bahan makanan untuk penduduk sipil" (Deklarasi dari tiga kekuatan dunia mengenai Iran, 1 Desember 1943)."

Kesimpulan Konferensi Taheran 1943:

  1. Disepakati bahwa kaum partisan Yugoslavia harus diberikan dukungan perbekalan dan peralatan dan juga oleh komando operasi.
  2. Disepakati bahwa sangat diperlukan sekali bergabungnya Turki sebelum akhir tahun sebagai sekutu dalam peperangan.
  3. Apabila Turki bergabung dalam peperangan maka Uni Soviet harus memberikan dukungannya.
  4. Dicatatkan pada 30 November bahwa Perang Normandia akan dilangsungkan pada sekitar bulan Mei 1944, sehubungan dengan pelaksanaan operasi melawan selatan Perancis.
  5. Disepakati bahwa staf militer dari Tiga Kekuatan harus senantiasa berhubungan satu sama lainnya.
  6. Inggris dan Amerika berjanji kepada Stalin bahwa mereka akan mengirimkan pasukan ke wilayah Eropa Barat. Disepakati pula bahwa pasukan tersebut akan tiba disana pada musim semi pada tahun 1944.
  7. Atas desakan Stalin, perbatasan sebelum perang Polandia ditetapkan disepanjang sungai Oder dan Neisse dan garis demarkasi Batas Curzon.
  8. Untuk sementara disetujui pula adanya suatu Perserikatan Bangsa-bangsa.
  9. Uni Soviet menyetujui untuk membiayai perang melawan Jepang setelah Jerman menyerah.


Deklarasi Tiga Kekuatan dalam Konferensi Yalta

Deklarasi dari Tiga Kekuatan pada tanggal 1 December 1943 "Kami, Presiden Amerika, Perdana Menteri Inggris, dan Pemimpin Uni Soviet, telah bertemu selama empat hari di ibukota dari sekutu kami, Iran dan telah menetapkan arah serta menegaskan kebijakan kami."

Sekutu pada akhirnya memutuskan bahwa untuk mengalahkan Jerman, Amerika Serikat dan Inggris akan menyerang Jerman melalui wilayah Balkan. Hal ini dilakukan untuk melindungi kepentingan Inggris di Laut Tengah bagian timur apabila dilakukan serangan langsung ke Jerman.

Sementara itu, pasukan Uni Soviet bertugas membebaskan Eropa Timur dari Jerman. Soviet berhasil mematahkan perlawanan Jerman di Eropa Timur. Bahkan Uni Soviet berhasil menguasai Polandia, Bulgaria, Rumania, Hungaria, Yugoslavia, dan Cekoslowakia.

Atas keberhasilan Uni Soviet tersebut justru membuat Roosevelt mulai mengkhawatirkan terhadap langkah-langkah Soviet tersebut.

Pada tanggal 4 sampai 11 Februari 1945, di Semenanjung Krim Yalta di selenggarakan konferensi yang dihadiri oleh para pemimpin tiga besar negara Sekutu. Pertemuan tersebut dikenal dengan Konferensi Yalta. Konferensi Yalta menghasilkan kesepakatan utama, yaitu sebagai berikut :

  1. Rencana penyerahan tanpa syarat Jerman. Pendudukan Jerman akan dikuasai Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Uni Soviet.
  2. Rencana konferensi pembentukan PBB di San Fransisco pada tanggal 25 April 1945.
  3. Rencana Uni Soviet memaklumkan perang terhadap Jepang setelah kekalahan Jerman dengan kompensasi pemberian wilayah Sakhalin Selatan, Kepulauan Kuril, serta pengembalian Potr Arthur dan Dairen kepada status semula pada tahun 1904. Sedangkan jalan kereta api Manchuria akan dikuasai bersama oleh Cina dan Uni Soviet.

Untuk masalah Polandia dan negara-negara di Eropa Timur, para pemimpin tiga negara besar masih berusaha mencari kompromi dalam Konferensi Yalta.

Para pemimpin tersebut terutama Inggris dan Amerika Serikat berharap pemerintahan negara-negara di Eropa Timur harus dipilih secara bebas, kecuali yang sudah mendukung dan didukung Uni Soviet.

Kompromi mengenai negara-negara di Eropa timur itu ternyata gagal. Bahkan sebelum Konferensi Yalta berlangsung wilayah Polandia dan Bulgaria telah dikuasai Uni Soviet. Dengan demikian seperti yang dikhawatirkan oleh F. Roosevelt, seluruh kawasan Eropa Timur sudah berada dalam kendali Uni Soviet.

Di Amerika Serikat sendiri terjadi pergantian pemimpin. Presiden Franklin Delano Roosevelt meninggal pada 12 April 1945 dan diganti oleh Harry S. Truman yang berkarakter lebih keras. Pada waktu diadakan Konferensi Postdam pada tanggal 2 Agustus 1945, masalah Eropa Timur diungkit kembali oleh Truman.

Perdana Menteri Britania Raya (Clement Richard Attlee), Presiden Amerika Serikat (Harry S. Truman) dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet (Iosif Stalin) bertemu untuk mendiskusikan perihal Jerman pada bulan Juli 1945 mengenai apa yang akan terjadi padanya setelah Perang Dunia II. Foto: World War Archive
Konferensi Postdam dianggap sebagai asal mula terjadinya perang dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Presiden Harry S. Truman menghendaki agar diselenggarakan pemilu bebas di seluruh negara di kawasan Eropa Timur. Namun keinginan tersebut ditolak oleh Stalin dengan menyatakan bahwa pemerintahan yang dibentuk melalui pemilu di Eropa Timur akan membentuk pemerintahan yang Anti-Uni Soviet.

Pemerintah Amerika Serikat sebenarnya telah berusaha menekan Uni Soviet untuk dengan cara menghentikan bantuan ekonominya sebelum Konferensi Postdam dilaksanakan, namun ternyata gagal. Kebuntuan masalah Eropa Timur setelah Konferensi Postdam menyebabkan Amerika Serikat mulai bersikap keras.

Pada Oktober 1945, Presiden Truman menyatakan bahwa pemerintah AS tidak akan mengakui suatu pemerintahan yang dibentuk dengan paksaan tanpa mendengar keinginan rakyatnya.

Dalam ketegangan tersebut, Inggris mendukung Amerika Serikat. Hal ini tidaklah mengherankan karena terdapat persamaan ideologi di antara keduanya menjadikan kedua negara tersebut saling membantu. Dan yang paling mencuat adalah bahwa persahabatan antara Uni Soviet dengan AS dan Inggris memang diperkirakan hanyalah sementara.

Sesuai doktrin Komunis Internasional (Komintern), bahwa Komunisme dapat berdamai untuk sementara dengan Kapitalisme untuk melawan Fasisme, selanjutnya? Kembali seperti cita-cita semula. Artinya memang Uni Soviet tidak menghendaki persahabatan yang berkelanjutan dengan negara Kapitalis semacam AS dan Inggris.

Mantan Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill dalam kunjungannya ke Amerika Serikat menyatakan bahwa Uni Soviet tengah merentangkan Iron Curtain (tirai besi) di sepanjang daratan Eropa dengan membagi Jerman dan Eropa dalam dua kubu yang berlawanan.

File:Iron Curtain map.svg
Tirai Besi digambarkan dengan garis hitam. Negara anggota Pakta Warsawa ditandai denganwarna merah; negara anggota NATO ditandai dengan warna biru; sedangkan negara netral berwarnaabu-abu. Titik hitam adalah Berlin. Yugoslavia, meskipun dipimpin komunis, namun tetap independen dari kedua kubu. Komunis Albania memutus hubungan dengan Uni Soviet awal 1960-an, dan menggabungkan diri dengan China setelah Perpecahan Sino-Soviet, diwarnai arsir abu-abu.
Konsep Tirai Besi sendiri melambangkan batas-batas ideologi dan fisik yang membagi Eropa ke dalam dua wilayah terpisah dari akhir Perang Dunia II pada 1945 hingga akhir Perang Dingin pada 1991. Di tiap sisi Tirai Besi, negara-negara membangun sekutu-sekutu militer dan ekonomi internasional masing-masing. Tirai Besi mengambil bentuk pertahanan perbatasan antara negara-negara Eropa Barat dan Eropa Timur, terutama Tembok Berlin, yang berperan sebagai penggambaran Tirai secara keseluruhan


Read More