Sunday, January 28, 2018

Buddhisme dan Homoseksualitas: Kebijaksanaan yang Tidak Ternoda


Harian SejarahDalam arus politik belakangan, homoseksualitas adalah hal yang cukup menjadi perbincangan di kalangan luas masyarakat Indonesia. Berawal dari keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia yang menolak untuk memperluas pasal tentang perzinahan, perbincangan lanjutan di berbagai forum kemudian diisi dengan pembahasan tentang homoseksualitas –ada yang mendukung keputusan MK, demikian tidak kurang yang kontra terhadapnya. 

Menjadi perhatian penulis ketika kemudian sekian banyak argumen yang muncul merujuk pada dasar ajaran agama-agama yang diakui Indonesia. “Semua agama di Indonesia menolak hubungan homoseksual”, demikian itulah kira-kira argumen yang muncul dalam forum-forum. 

Merujuk pada “semua agama” artinya membicarakan enam agama yang diakui Indonesia, yang artinya pula melibatkan Buddhisme di dalamnya. Untuk menghindari saling duga yang tidak berdasar, kemudian tulisan ini dibuat. Tulisan ini akan memberikan gambaran singkat tentang pandangan Buddhisme terhadap hubungan homoseksualitas dan meluruskan posisinya. Demikian, agar keseluruhan masyarakat Indonesia tidak terjebak dalam karma buruk kolektif dengan menggunakan Buddhisme untuk mengutuk perilaku homoseksual. 

Pandangan Buddhisme tentang hubungan homoseksual secara singkat menunjukkan sikap yang sama sekali tidak mengutuk atau menolaknya. Ajaran Buddhisme yang disusun melalui sidang pertama para Sangha hingga masa-masa selanjutnya memberikan gambaran bahwa hubungan homoseksual dipandang sama posisinya seperti hubungan lain yang di dalamnya mengandung daya tarik seksual. Dalam Buddhisme, semua daya tarik seksual diawali dari motivasi dan motivasi setiap orang –yang unik dan khusus, dihargai secara tinggi. Kecuali bila motivasi itu mencelakakan makhluk lain, baru kemudian dianggap sebagai sesuatu yang jahat. 

Dengan demikian, dengan pandangan Buddhis kemudian dapat ditanyakan apakah hubungan homoseksual atau orientasi seksual homoseks seseorang membahayakan orang lain? Apakah hubungan mereka menimbulkan korban? Ataukah hubungan mereka menyakiti makhluk lain? Bila kemudian jawabannya adalah hubungan mereka menyakiti makhluk lain, dalam pandangan Buddhis dapat dikatakan bahwa memang sebaiknya suatu hal tidak boleh menyakiti makhluk lain. Terkadang muncul pandangan bahwa perilaku homoseks dapat menular dan menyebar hingga menimbulkan "korban", lalu muncul pertanyaan selanjutnya tentang apakah anda akan berubah menjadi homoseks dengan melihat orang lain berperilaku demikian? 

Jika tidak, lalu itu berarti tidak bermasalah dan menimbulkan korban. Demikian, sekali lagi penulis tekankan bahwa Buddhisme tidak mengutuk perilaku homoseksual, kecuali itu menyakiti makhluk lain. Buddhisme memandang seorang homoseksual sebagai sebuah individu, dan ini artinya memandang heteroseksual, biseksual dan selibat dalam penghormatan yang sama dengan homoseksual. Ajahn Brahm, seorang tokoh Theravada, membabarkan bahwa sebagian besar umat Buddha di seluruh dunia modern belajar dari inspirasi bahwa Sang Buddha tentu tidak diskriminatif terhadap homoseksualitas. 

Ajaran-ajaran utama dari Buddhisme jelas menunjukkan bahwa kualitas seseorang tidak mengenai urusan apakah seorang berorientasi heteroseksual, homoseksual atau selibat yang kemudian dapat ditentukan sebagai hal yang baik atau buruk, tetapi justru mengenai bagaimana seseorang menggunakan orientasi seksual mereka untuk membuahkan karma baik atau buruk. Dengan demikian bila seorang homoseks berlaku cinta kasih dalam tutur kata dan perbuatan pada pasangan mereka, itu lebih baik dari seorang heteroseksual yang melakukan kekerasan pada pasangannya, demikian sebaliknya.

Menilik lagi lebih dalam intisari Buddhisme, dapat kita temukan tujuan sejati ajaran Buddha Sakyamuni (Siddharta Gautama), bahwa semua ajarannya adalah jalan untuk tujuan pencapaian pencerahan. Tujuan utama ini dapat kita kenali dalam Buddhisme sebagai pembebasan, terbebas dari alam samsara dan kemudian menjadi Buddha. Apakah kemudian homoseksualitas merupakan halangan mencapai tahapan Buddha? 

Hal itu ditinggalkan pada masing-masing individu. Manusia dengan orientasi heteroseksual dapat pula menemukan halangan dalam mencapai tahapan Buddha, demikian pula homoseksual, namun orientasi seksual mereka tidak diperhitungkan dalam pencapaian itu sendiri. Apa yang kemudian menjadi halangan adalah kemelekatan pada hal yang duniawi, demikian dapat disimpulkan bahwa seorang heteroseks yang melekat pada hal duniawi tidak lebih baik dari homoseks yang tidak melekat. Dalam usaha mencapai tahapan Buddha, Buddhisme sekali lagi tidak mendiskriminasi orientasi seksual termasuk homoseksual. 

Selain mencapai tahapan Buddha, ajaran Buddha juga bertujuan agar semua makhluk dapat terbebas dari kesengsaraan dan mencapai kebahagiaan. Dengan mengedepankan pandangan bahwa setiap kehidupan adalah unik dan khusus, dan dengan demikian menghargai pula seorang homoseksual yang memilih hidup untuk menjadi homoseks, Buddhisme tidak akan mengutuk perilaku itu bila dalam arti yang benar mereka menjalankan hidupnya tanpa menyakiti makhluk lain. Bila seseorang menjadi lebih bahagia dalam pilihannya untuk menjadi homoseks, lingkungannya juga hendaknya berharap untuk kebaikan dan kebahagiaannya. Demikian itulah ajaran Buddha. 

Pandangan yang selanjutnya pantas diberikan adalah tentang dosa. Buddhisme tidak melihat homoseksualitas sebagai dosa, bahkan istilah dosa itu sendiri diartikan secara berbeda dalam Buddhisme. Apa yang kira-kira dapat hampir disetarakan dengan istilah itu adalah karma buruk. Demikian itupun Buddhisme tidak melihat homoseksualitas sebagai karma buruk. 

Bahkan dalam penjelasan intelektual Buddhisme Tantrayana, Khenpo Sodargye, disebutkan bahwa perilaku homoseksual tidak akan menyebabkan suatu makhluk (manusia termasuk di dalamnya) untuk terjatuh ke dalam alam yang lebih rendah pada masa hidup berikutnya. Dengan demikian sekali lagi Buddhisme menunjukkan bahwa tidak ada sikap mengutuk dan menolak homoseksual dalam ajarannya. 

Selanjutnya penulis akan bicara tentang sila, yang akan dibahas melalui sudut pandang Buddhisme yang umum. Dalam pandangan Buddhisme umum ada yang disebut sebagai larangan terhadap sexual misconduct yang banyak diterjemahkan sebagai tindakan asusila. Tindakan sexual misconduct ini dalam pandangan Buddhis kemudian terjadi bila terdapat empat hal: orang yang tidak patut disetubuhi, niat untuk menyetubui, usaha untuk menyetubui dan keberhasilan menyetubui. Kita dapat melihat bahwa hal ini berlaku secara netral, jika kita pandang hal ini untuk diterapkan pada seorang heteroseks, dapat saja terjadi, demikian pula terhadap homoseks. 

Dengan demikian tidak ada jaminan bahwa kasus persetubuhan antara pria dan wanita tidak masuk dalam ranah sexual misconduct –demikian pula tidak ada jaminan bahwa hal demikian tidak berlaku pada hubungan homoseks. Buddhisme memang membedakan pria dan wanita secara jelas dalam hal kapasitas –untuk itu sila untuk Sangha pria berbeda dengan Sangha wanita, namun tidak memberikan pemikiran bahwa mereka harus selalu berpasangan. 

Mungkin kemudian muncul argumen lain bahwa dunia berjalan dengan sistem yang disebut sebagai keluarga –yang secara konvensional dipandang sebagai suami, istri dan keturunan mereka. Namun Buddhisme tidak melihat hal ini dalam batas pandang sesempit itu. Buddhisme lahir dari kumpulan Sangha yang tidak berkeluarga demikian pula kebudayaan dunia amat beragam sehingga tidak dapat digeneralisasi sebagai hasil dari sistem keluarga. 

Dengan demikian kehidupan setiap makhluk tidak dapat dipaksakan untuk mengikuti suatu penilaian yang dianggap umum dan digunakan untuk mendikte kehidupan seseorang –misalnya untuk memulai sebuah “keluarga” yang artinya didiktekan sebagai persatuan antara pria dan wanita yang bertugas menghasilkan keturunan. Suatu argumen yang muncul kemudian adalah bahwa hubungan heteroseks sesuai dengan alam dan dengan demikian memiliki perilaku yang berbeda –misal homoseksual, artinya adalah melawan alam dan dengan demikian melawan kehendak Yang Maha Kuasa. 

Master Zhao Hui dari Taiwan, kemudian mengatakan dalam satu pidatonya bahwa argumen ini secara langsung jatuh dalam jebakan naturalisme dalam filsafat, bahwa apa yang diberikan kepada kita oleh alam tidak selalu sempurna. Beliau memberikan contoh bahwa bila seorang anak lahir dalam kondisi cacat, namun dapat diperbaiki dalam operasi, apakah orang tuanya tidak ingin memperbaiki kecacatan anaknya? Dan demikian sama halnya melawan alam? Lalu mengapa alam kemudian tidak menghukum orang tuanya? 

Hukum alam, menurutnya, terkadang memberikan pada kita ketidakberuntungan dan kecacatan sehingga kita kemudian mempunyai pilihan untuk memperbaikinya. Ini adalah nilai dari kemanusiaan. Homoseksualitas tidak seperti sebuah kecacatan yang kemudian menghambat seseorang memperoleh kebahagiaan, tidak pula secara pasti menambah kemelekatan pada dunia yang menghambat jalan menuju pencapaian keBuddhaan. 

Melanjutkan pembahasan tentang sistem keluarga, Buddhisme tidak mempunyai standarisasi bahwa sebuah pernikahan memiliki tugas untuk menghasilkan keturunan. Pernikahan dalam Buddhisme dipandang melalui berbagai sudut pandang sehingga tidak hanya memiliki fungsi prokreasi. Dalam hal ini, Master Zhao Hui sekali lagi menyerukan agar tidak memahami pernikahan sebagai persatuan antara sperma dan sel telur. Persatuan antara dua individu akan menjadi amat baik bila dapat mendukung dua individu untuk berjuang mencapai kebenaran sejati dan pembebasan sejati. 

Buddhisme memberikan pilihan bagi individu yang ingin bersatu dengan individu lain, atau menjalani kehidupan selibat dan menjadi viharawan. Buddhisme juga memberikan pilihan individu untuk menikah atau tidak menikah dalam kultur yang mereka miliki, Buddhisme meninggalkan urusan seremonial pada masing-masing kultur sehingga tidak memaksa seseorang untuk terpaku pada seremonial Buddhis. 

Semua pilihan adalah unik dan khusus, semua kehidupan adalah unik dan khusus, semua motivasi adalah unik dan khusus, bila kesemuanya itu tidak mencelakakan makhluk lain, Buddhisme akan menghargainya. Perilaku yang tidak menciderai Dharma dan tidak menodai kebijaksaan, sekalipun itu adalah perilaku homoseksual tidak akan dikutuk dan dihujat oleh Buddhisme. 

Demikian itu pula Buddhisme hendaknya tidak dijadikan alat untuk menebarkan kebencian dan diskriminasi, yang akan membuat semua makhluk menjadi terjatuh dalam kesengsaraan lewat kebencian, kesedihan dan segala macam emosi negatif yang lainnya.

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Dalai Lama. 2014. Dalai Lama Interview on Larry King Now Ora TV 3rd of October 2014.
Ikeda, Daisaku. 1987. Buddhisme Seribu Tahun Pertama. Jakarta: Indira.
Master Zhao Hui. 2016. Public Hearing Session on the Proposed Same-Sex Marriage Bill 24th of November 2016 at the Parliament of Taiwan.
Powers, John. 1995. Introduction to Tibetan Buddhism. New York: Snow Lion Publications.
Sodargye, Khenpo. 2015. Intellectual Conversation with Professor Eyal Aviv 2nd of January 2015.
Tsongkhapa, Je. 2013. Maha-Bodhipatha-Krama (Lamrim Chenmo), Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan Jilid I. Bandung: Kadam Choeling.
_________. 2013. Maha-Bodhipatha-Krama (Lamrim Chenmo), Risalah Agung Tahapan Jalan Menuju Pencerahan Jilid II. Bandung: Kadam Choeling.

Wednesday, January 24, 2018

Masyarakat Indonesia di Masa Eeuwwisseling


Masyarakat Indonesia selalu menjadi topik bahasan yang menarik dalam sejarah. Sejarah selalu dapat menemukan topiknya dalam celah-celah kehidupan masyarakat Indonesia. Satu episode yang amat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah masa-masa eeuwisseling. Istilah ini adalah sebuah istilah bahasa Belanda untuk menyebut masa pergantian abad. 

Tentu tidak kita lupakan dari ingatan bahwa gerakan kebangsaan Indonesia berawal dari masa ini. Pergantian dari abad ke-19 menuju abad ke-20 menunjukkan suatu perubahan sifat perjuangan kebangsaan dari fisik menjadi diplomatik dan dari kedaerahan menjadi nasional. Organisasi pergerakan kebangsaan semacam Boedi Oetomo, Sarekat Islam dan lainnya mengambil tempat di sekitaran awal abad ke-20. 

Pada titik ini pula, catatan-catatan kolonial menampakkan bahwa tanda-tanda influensi Islam yang baru akan segera menerpa Indonesia dari Kairo dan Mekkah. Gerakan ini oleh kaum Eropa dipandang sebagai gerakan modernisme Islam –yang pada masa awalnya dibabarkan oleh Syekh Mohammed Abdoe di Kairo. 

Gerakan modernisme yang dibabarkannya itu mengandung tujuan untuk mengembalikan ajaran Islam pada Qur’an dan Hadist serta menginginkan suatu pemisahan dari ajaran-ajaran yang tidak bersumber dari dua sumber ajaran Islam itu. Sedangkan dari Mekkah, ajaran yang kira-kira serupa juga dibawa oleh murid-murid Syekh Achmad Khatib dari Minangkabau. Demikianlah ajaran yang demikian itu berkembang di kalangan masyarakat bumiputra melalui para peziarah (haji) dan siswa-siswa (santri) yang belajar ke Timur Tengah. 

Influensi dari ajaran-ajaran ini secara tidak langsung juga kemudian menjadi pemicu semangat pendirian organisasi-organisasi kebangsaan yang berlandaskan keagamaan –Islam pada khususnya. Keunggulan dari organisasi semacam ini adalah pada batasan keanggotaannya –Boedi Oetomo yang dipandang masih mengandung unsur kedaerahan tentu hanya terbatas pada kalangan etnis atau suku tertentu, namun organisasi keagamaan dapat menaungi bermacam-macam etnis dan suku. Aftermath yang didapatkan dari semangat Islam modern pada masa pergantian abad ini dapat kita lihat dalam catatan sejarah. 

Organisasi-organisasi Islam turut serta dalam perjuangan kebangsaan dan pembentukan Republik Indonesia –baik itu terbebas dari pemerintah Hindia Belanda maupun pendudukan Jepang. Dorongan semangat yang oleh penulis akan disebut sebagai semangat eeuwwisseling ini sudah tentu jelas wujudnya adalah dukungan bagi kebebasan bangsa Indonesia dari tekanan kolonialis dan imperialis. 

Tidak hanya terbatas pada golongan Islam, semangat eeuwwisseling juga kemudian terlihat pada golongan lainnya –di mana pendirian berbagai organisasi dengan berbagai macam basis menjadi amat terasa dan secara langsung membuat babak baru bagi pemerintah Hindia Belanda. 

Di samping penjelasan di atas, tidak pula dapat kita lupakan bahwa semangat eeuwwisseling itu tidak hanya terbatas pada masyarakat Indonesia. Wujud dari kondisi pergantian abad itu secara lebih besar dapat kita lihat pada pecahnya Perang Dunia Pertama –eeuwwisseling selain menjadi tanda tumbuhnya semangat kebangsaan juga adalah tanda zaman ketidakpastian. 

Perang Dunia Pertama adalah wujud nyata perkembangan militerisme, imperialisme dan nasionalisme berlebih yang berkembang di antara masyarakat dan pemimpin negara-negara agresor di masa itu. Perang itu kemudian menjadi salah satu perang paling merusak di dunia dengan korban lebih dari tiga puluh juta jiwa. 

Suatu refleksi kemudian dapat kita buat dari peristiwa-peristiwa pada masa pergantian abad, bahwa sudah tidak asing lagi bila ada suatu gerakan perubahan di masa pergantian abad lainnya. Hal ini barangkali yang terlihat di Indonesia pada masa belakangan. Suatu semangat keagamaan yang kiranya baru kemudian muncul dan menjadi massif. Semangat yang demikian itu dapat saja menjadi semangat eeuwwisseling yang baru. 

Namun, perlu pula kita kemudian merefleksikan lebih dalam lagi bahwa apakah semangat itu adalah semangat membangun negeri seperti yang ditunjukkan masyarakat Indonesia di masa kolonial Hindia Belanda atau semangat itu akan mewujud pada tindakan yang merusak seperti yang digambarkan oleh Perang Dunia Pertama. Tugas sejarah adalah untuk menumbuhkan rasa nasionalisme yang kuat dan mengakar dalam hati masyarakat, demikian juga memberikan pukulan telak bagi ancaman-ancaman kebangsaan yang barangkali muncul dari masyarakat itu sendiri. 

Refleksi ini kemudian harusnya menjadikan kita –insan yang terus menerus belajar sejarah bangsa ini, menjadi maklum dan tidak mengalami keterkejutan yang luar biasa dalam masa pergantian abad yang sedang kita alami bersama. Akankah masa pergantian abad ini menjadi penguat persatuan masyarakat Indonesia –seperti pada masa kolonial Hindia Belanda? atau justru meninggalkan luka yang tidak terlupakan seperti Perang Dunia Pertama?

Penulis : C.Reinhart dapat dihubungi di christopher.reinhart@ui.ac.id.
Editor: Imam Maulana

Referensi
Aveling, Harry (ed.). 1979. The Development of the Indonesian Society. St. Lucia: University of Queensland Press.
D. M. G. Koch. 1950. Om de Vrijheid: De Nationalistische Beweging in Indonesie. Jakarta: Pembangunan. 
De Jong, L. 1984. Het Koninkrijk Der Nederlanden in de Tweede Wereldoorlog. ‘s-Gravenhage: SDU Uitgeverij. 
Van Goor, J. 1994. De Nederlandse Kolonien, Geschiedenis van de Nederlandse Expansie, 1960-1975. ‘s-Gravenhage: SDU Uitgeverij. 
Vlekke, H. M. 2016. Nusantara: Sejarah Indonesia. Jakarta: KPG.


Sunday, October 29, 2017

SEMINAR DINAMIKA SEJARAH PERKOTAAN DI INDONESIA


History Fair UI 2017 tahun ini menggelar seminar yang bertema "Dinamika Sejarah Perkotaan di Indonesia" 🏙

Acara akan dilaksanakan pada:
📆 Senin, 30 Oktober 2017
⏰ 11.30-13.00 WIB
📍 Auditorium Gedung IX FIB UI
Pembicara:
Dr. Bondan Kanumoyoso M.Hum (Pengajar & Peneliti Departemen Sejarah FIB UI)
Dr. Tri Wahyuning M. Irsyam M.Si (Pengajar Luar Biasa Departemen Sejarah FIB UI)

Peserta akan mendapatkan:
Free snack (untuk 50 orang pertama) ✅
Free e-certificate ✅

CP Seminar📱:
Tommy Dwiguna (08818155956/Line: tommyddd)
______
History Fair UI 2017
#CintaiWarisanKotaNusantara
SKS UI 2017

Saturday, September 30, 2017

Penjelasan Singkat Peristiwa Gerakan 30 September 1965


Harian Sejarah - Gerakan 30 September 1965, atau disingkat G30S/PKI. Pihak Angkatan Darat menyebutnya sebagai Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau Gestok (Gerakan Satu Oktober). G30S/PKI merupakan suatu  peristiwa yang dikatakan sebagai suatu usaha kudeta oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Dalam usaha kudeta tersebut, turut menjadi korban tujuh perwira tinggi Angkatan Darat Indonesia, sebagai suatu usaha menyingkirkan pihak-pihak yang oleh PKI disebut sebagai Dewan Jenderal dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Ketujuh perwira tersebut terbunuh pada dini hari 1 Oktober 1965. Pembunuhan dipimpin oleh Letkol Untung simpatisan PKI dari Resimen Cakrabirawa.

Perwira AD yang terbunuh pada 1 Oktober 1965, yakni:
  • Letjen TNI Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi)
  • Mayjen TNI Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD bidang Administrasi)
  • Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan)
  • Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD bidang Intelijen)
  • Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD bidang Logistik)
  • Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat)
  • Lettu CZI Pierre Andreas Tendean (Ajudan Jenderal TNI Abdul Harris Nasution)

Adapun Jenderal TNI A.H Nasution sebagai salah satu sasaran berhasil selamat. Selamatnya Jenderal Nasution diikuti dengan tewasnya ajudannya, Lettu CZI Pierre A. Tendean dan putri Jenderal Nasution, Ade Irma Suryani.

Perwira Tinggi Militer yang menjadi korban G30S/PKI

Pasca mengalami penganiayaan dan pembunuhan, ketujuh perwira militer dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya dekat Lanud Halim Perdanakusuma. Mayat mereka ditemukan kemudian pada 3 Oktober 1965.

Beberapa orang lainnya juga turut menjadi korban:
  • Bripka Karel Satsuit Tubun (Pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena)
  • Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)
  • Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta)

Isu Dewan Jenderal

Isu Dewan Jenderal merupakan sebuah isu politik yang dipopulerkan oleh PKI melalui media-media sayap kirinya, seperti Harian Rakyat yang diketuai oleh Njoto, wakil Ketua CC PKI.

Ketika meletus peristiwa 30 September 1965, pada tanggal 1 Oktober dengan lugas dan lengkap Harian Rakyat memberitakan peristiwa tersebut.

Dewan Jenderal merupakan julukan yang ditujukan kepada beberapa petinggi Angkatan Darat Indonesia yang tidak puas terhadap kebijakan Presiden Soekarno. Menurut PKI, Dewan Jenderal berusaha untuk melakukan kudeta pada 5 Oktober 1965.

Isu sakitnya Bung Karno

Terdapat sebuah kabar yang berkembang mengenai kondisi kesehatan Presiden Sukarno pada tahun 1964. Berkaitan dengan kabar yang belum teruji ini, kemudian diangkat oleh PKI untuk memojokan Dewan Jenderal yang diisukan akan melakukan kudeta sebelum kematian Presiden Soekarno.

Kabar mengenai kesehatan Bung Karno sendiri didapatkan dari laporan tim medis presiden yang berasal dari Tiongkok.

Pembentukan Angkatan Ke-5 dan Konfrontasi Malaysia.

Pembentukan Angkatan Ke-5 merupakan sebuah gagasan yang mencuat menjelang kudeta 30 September 1965.

Ide pembentukan Angkatan Ke-5 berasal dari kesediaan Perdana Menteri Tiongkok, Zhou Enlai menjanjikan 100.000 pucuk senjata ringan secara gratis sebagai bentuk dukungan konfrontasi yang sedang dilakukan Indonesia .

PKI kemudian memberikan usulan kepada Presiden Soekarno untuk membentuk angkatan bersenjata diluar TNI dengan mempersenjatai buruh dan petani sebagai bentuk pertahanan dan peningkatan kekuatan sukarelawan guna mendukung Konfrontasi Malaysia. Ide ini mendapatkan penolakan dari beberapa petinggi Angkatan Darat. Menurut Angkatan Darat, pembentukan kesatuan baru diluar matra yang ada, dikhawatirkan menimbulkan permasalahan pertahanan nasional.

Angkatan Darat pada akhirnya menyetujui pembentukan Angkatan Ke-5 dengan syarat bahwa bukan hanya buruh dan petani, tetapi seluruh elemen masyarakat harus dipersenjatai.

PKI kemudian menuduh bahwa Angkatan  Darat kontra revolusi dan tidak mendukung penuh konfrontasi Malaysia.

Hal ini dapat diangggap benar karena menjelang tahun 1964, beberapa kalangan dari Angkatan Darat secara tertutup membuka komunikasi dengan Malaysia guna meredakan dan menyelesaikan konflik.

Pasca G30S/PKI

Pasca pembunuhan beberapa perwira TNI AD, PKI berusaha menguasai dua sarana komunikasi vital, yaitu studio RRI di Jalan Merdeka Barat dan Kantor Telekomunikasi yang terletak di Jalan Merdeka Selatan. 

Melalui RRI, PKI menyiarkan pengumuman tentang Gerakan 30 September yang ditujukan kepada para perwira tinggi anggota “Dewan Jenderal” yang akan mengadakan kudeta terhadap pemerintah yang sah. Diumumkan pula terbentuknya “Dewan Revolusi” yang diketuai oleh Letkol Untung Sutopo.

Reaksi masyarakat terhadap Gerakan 30 September 1965 cenderung negatif dan berbalik menuduh PKI sebagai dalang kudeta 1965. Mayjen. Soeharto kemudian memimpin upaya pencarian perwira korban G30S/PKI dan pembubaran PKI ketika menerima mandat Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar).

Beberapa bulan pasca peristiwa, semua anggota dan simpatisan PKI ditangkap dan terjadi pembunuhan oleh masa yang tergabung dalam militer, sipil dan kelompok Islam. Diketahui ratusan ribu buruh dan petani Indonesia mengalami persekusi, dibunuh atau dimasukkan ke kamp-kamp tahanan untuk disiksa dan diinterogasi. Pembunuhan-pembunuhan ini terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali. Menurut Soe Hok Gie, Bali menjadi tempat terbanyak korban pembunuhan.

Diperkirakan 500.000 sampai 2.000.000 orang anggota atau mereka yang dianggap simpatisan PKI terbunuh dalam pembersihan unsur-unsur komunisme dari tahun 1965-1966. Bahkan menurut Letnan Jenderal TNI Sarwo Edhie Wibowo selaku pemimpin gerakan pembersian komunis, korban tewas mencapai lebih kurang 3000.000 jiwa.

Peristiwa G30S/PKU turut menjadi sebab jatuhnya Presiden Soekarno dari kursi kepresidenan dan menyebabkan Mayjen Soeharto naik sebagai pejabat presiden dan kemudian presiden ke-2 Republik Indonesia yang disahkan oleh MPRS.

Pada 23 Februari 1967, Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan negara kepada Jenderal Soeharto selaku pengemban Tap MPRS No. IX tahun 1967. Kemudian pada 7-12 Maret 1967, MPRS menyelenggarakan Sidang istimewa di Jakarta. Dalam sidang tersebut, MPRS dengan ketetapan No. XXXIII/MPRS/1967 memutuskan untuk mencabut kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno. 

Pada tanggal 12 Maret 1967, Jenderal Soeharto diambil sumpahnya dan dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia. Sebelumnya, pada Sidang Umum MPRS pada 5 Juli 1966 telah disahkan Tap MPR No. XXV tahun 1966 oleh pimpinan MPRS, Jenderal A.H. Nasution (Ketua) dan Wakil Ketua Osa Maliki, M. Siregar, Subchan Z.E., dan Mashudi.

Tap MPR No. XXV tahun 1966 berisi:

Pembubaran Partai Komunis Indonesia dan menyatakan sebagai Organisasi terlarang di seluruh Indonesia dan Larangan setiap kegiatan untuk menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunisme/Marxisme-Leninisme.


Untuk mengenang peristiwa berdarah tersebut, setiap 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September (G30S/PKI). Hari berikutnya, 1 Oktober, ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila. Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya dibangun untuk mengingatkan peristiwa tersebut.

Gelar Pahlawan Revolusi disematkan kepada sejumlah perwira militer yang gugur dalam peristiwa kudeta G30S/PKI yang terjadi di Jakarta dan Yogyakarta pada tanggal 30 September 1965.

Thursday, September 28, 2017

Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo: Dari Kebangkitan Jawa menuju Kebangkitan Nasional

Kongres pertama Budi Utomo di Yogyakarta. Foto: KITLV

Dikirim oleh Ibrahim Ahmad Isa, Mahasiswa Ilmu Sejarah UI

Harian Sejarah - Tanggal 20 Mei 1908 merupakan tanggal berdirinya Boedi Oetomo dan menjadi Hari Kebangkitan Nasional. Namun masih banyak pro dan kontra mengenai penetapan tanggal berdirinya Boedi Oetomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional mengingat Boedi Oetomo yang merupakan organisasi “Kebangkitan Jawa”. Namun jika kita telusuri jejak pemikiran dua tokoh pendirinya, Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo, maka kita dapat melihat betapa Boedi Oetomo berperan penting dalam terciptanya gagasan “Kebangkitan Nasional.”

Wahidin Soedirohoesodo merupakan keturunan priyayi dan menjadi pribumi pertama yang bersekolah di sekolah dasar khusus untuk anak-anak Eropa (ELS). Dia memiliki cita-cita dan gagasan mengenai “Kebangkitan Jawa” dimana sudah saatnya rakyat Jawa bangkit dari “tidurnya” dan bangkit dari keterpurukan. Pemikirannya tersebut dipengaruhi oleh berbagai peristiwa di luar negeri seperti gerakan Pan-Islamisme, gerakan Turki Muda, reformasi Kwang-zu di Cina, dan kemenangan Jepang atas Rusia. 

Oleh karena itu, pada usia 48 tahun, ia menjadi Pemimpin Redaksi Retnodhoemilah. Melalui majalah tersebut, ia selalu memberitakan dan mengomentari dengan penuh simpati munculnya upaya masyarakat dalam mendorong kebangkitan Jawa ini terutama di bidang pendidikan dan kebudayaan. Namun, karena kurangnya sambutan dari masyarakat, ia mengundurkan diri dari Retnodhoemilah dan menghabiskan waktunya berkeliling Jawa dan bertemu psra pemuka seperti bupati kaya dan kaum priyayi kelas atas untuk mencari dukungan. Namun banyak yang menolak dan bahkan menganggap Wahidin sebagai mengganggu keamanan dan ketertiban.

Pada akhir tahun 1907, Wahidin diundang oleh siswa STOVIA Jakarta, Soetomo dan Soeradji, untuk mengemukakan gagasan dan cita-citanya di depan para siswa STOVIA. Melalui hal tersebut, Wahidin dan para siswa STOVIA sepakat untuk membentuk organisasi yang bernama Boedi Oetomo dengan Soetomo sebagai ketuanya. Berdirinya  Boedi Oetomo memang cukup menggemparkan mengingat Boedi Oetomo merupakan organisasi “Kebangkitan Jawa”. Namun, seiring berjalannya waktu, karena masalah pendanaan, kepemimpinan Boedi Oetomo jatuh ke tangan para priyayi tua yang kolot dan anti pembaruan. Hal tersebut membuat Soetomo menjadi lebih focus dalam menyelesaikan studinya.

Setelah Soetomo menyelesaikan studinya, ia ditempatkan di berbagai kota sebagai dokter. Hal tersebut membuat membuka wawasan baru bagi dirinya yang diajarkan oleh Wahidin mengenai “kebangkitan Jawa” menjadi “kebangkitan Indonesia”. Kemudian, dia melanjutkan studi ke Belanda dan disana ia menjadi anggota Perhimpunan Indonesia. 

Hal tersebut membuat wawasan nasionalismenya menjadi jelas dan rinci. Setelah kembali ke Tanah Air, belum ada organisasi yang menampung aspirasi gagasan dia mengingat banyaknya organisasi Islam dan kedaerahan. Oleh karena itu, para anggota Perhimpunan Indonesia tersebut membentuk suatu kelompok-kelompok studi di berbagai kota. Soetomo membentuk Kelompok Studi Indonesia di Surabaya pada 11 Juli 1924. Melalui kelompok-kelompok belajar ini, mereka menanamkan ideology nasionalisme Indonesia dan kesadaran kebangsaan Indonesia. 

Setelah bibit-bibit yang cukup kuat tersebut, mereka sepakat untuk membentuk partai politik yaitu Partai Nasional Indonesia (PNI). Namun Pemerintah Kolonial Belanda memberikan reaksi keras dengan menangkap para pemimpin PNI sehingga partai tersebut nyaris tak berfungsi. Dalam kondisi kekosongan tersebut, Soetomo memainkan peran dengan mengubah  Kelompok Studi Indonesia menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). 

Melalui PBI, ia membentuk partai politik baru yaitu Partai Indonesia Raya (Parindra) pada tahun 1935. Di bawah kepemimpinan Soetomo, Parindra menjadi kelompok Indonesia paling berpengaruh di Volksraad. Parindra juga memberikan bantuan-bantuan berharga kepada orang Indonesia di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan lain-lain. Namun, tak berlangsung lama, Soetomo meninggal dunia pada 30 Mei 1938 di Surabaya.

Dalam penjelasan tersebut, dapat dilihat perubahan pemikiran dari “kebangkitan Jawa” menjadi “kebangkitan nasional” menjadi benih yang kuat dalam mendorong pergerakan nasional dan penanaman ideologi nasionalisme Indonesia. Dan hal tersebut tidak terlepas dari peran dua tokohnya yaitu Wahidin Soedirohoesodo dan Soetomo.

Tindakan Intoleran dan Radikalisasi Agama di Yogyakarta

Deklarasi Anti Radikalisme di Yogyakarta (Sabtu/22 Juli/2017). Foto: ristekdikti.go.id

Dikirim oleh Anggalih Bayu Muh Kami, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UGM (0852339796078)

Harian SejarahThe Wahid Institute (kini Wahid Foundation) menobatkan Yogyakarta sebagai kota paling tak toleran nomor dua di Indonesia pada 2014. Dari total 154 kasus intoleransi serta pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dicatat Wahid Foundation sepanjang tahun itu, 21 peristiwa terjadi di Yogya. Setahun kemudian, 2015, peringkat Yogya sebagai kota intoleran turun ke nomor empat. Dari 190 pelanggaran yang dicatat Wahid Foundation, 10 terjadi di kota pelajar ini.  

Laporan ini sudah barang tentu sangat memprihatinkan. Tren peningkatan tindakan intoleransi justru terus terjadi. Sepanjang tahun 2015 hingga memasuki pertengahan tahun 2016, pelanggaran-pelanggaran bukan hanya pada Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB), melainkan pada kebebasan secara umum, berlangsung massif di Yogyakarta. 

Kendati demikian, ada pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi di Yogyakarta? Siapakah sebenarnya yang tidak toleran? Pemerintahnya, aparat Kepolisiannya, ormasnya, atau masyarakatnya? Bisakah tindakan yang dilakukan suatu kelompok ormas, lalu seluruh elemen masyarakat Yogya dikatakan tidak toleran? Mungkin jawabnya ya, karena masyarakat sipil di Yogyakarta dianggap diam dan dengan itu berarti membiarkan, dan mungkin membenarkan, tindakan tersebut. Bisakah asumsi demikian diterima? 

Jika tidak bisa, lalu mengapa mereka diam? Aparatus dan unsur pemaksa seperti apa yang bekerja, yang membuat masyarakat sipil diam tidak berkutik, atau secara tidak langsung, akhirnya terkesan mendukung tindakan intoleransi tersebut. Akhirnya apa yang dimaksud (in)toleransi oleh para aktor ini? 

Ancaman eksistensi toleransi di Yogyakarta muncul karena banyaknya perubahan sosial yang terjadi.  Menurut sejumlah penelitian terdahulu, Yogyakarta belakangan ini mengalami pergeseran watak masyarakatnya. Nilai-nilai toleran dan inklusif, sebagaimana tercermin dalam slogan Yogyakarta sebagai kota budaya, kota pelajar, dan kota toleransi, akhir-akhir ini mulai tergerus seiring terjadinya aksi-aksi intoleran dan juga aksi kekerasan di kota ini. 

Gerakan Islamisasi di Yogyakarta juga semakin tak terbendung seiring dengan infiltrasi gerakan Islam radikal ke masjid-masjid dan juga institusi-institusi pendidikan, seperti kampus dan juga sekolah. 

Gema militansi dan radikalisme agama di Yogyakarta terjadi seiring dengan derasnya arus Islamisasi di kota gudeg ini. Jargon “Menerapkan Islam secara ,” “Syariah sebagai solusi permasalahan moral dan sosial”, “Konspirasi Barat untuk menyerang Islam” disuarakan di berbagai masjid, sekolah dan kampus di Yogyakarta. 

Situasi ini selanjutnya membuka ruang bagi masuknya ideologi radikal yang menghendaki perubahan tatanan yang ada. Tatanan yang hendak diubah tidak melulu tatanan politik seperti pendirian khilafah, tapi juga tatanan tradisi lokal yang telah mengakar kuat selama berabadabad di Yogyakarta. Radikalisme agama ini tentu saja harus diwaspadai karena bisa memicu ekslusivisme dan keterasingan (alienasi) dari masyarakat sekitar. 

Banyak pakar gerakan sosial yang mencatat tentang pentingnya hubungan antara identitas kolektif, mobilisasi dan aktivisme dalam konteks radikalisasi agama. Hal-hal tersebut memproduksi solidaritas dan investasi moral yang di-share oleh para pelaku gerakan tentang berbagai isu. Perasaan akan identitas kolektif ini menempa hubungan antara mereka yang bersimpati (pengikut) dengan gerakan, dan disaat yang sama membuat mereka secara internal dan eksternal berbeda dengan yang lain, sebagai contoh berjenggot, berjubah besar, bercadar, belajar Islam, membaca majalah Islam dan sebagainya. 

Dalam bahasa rational choice theory, gerakan ini menyelesaikan masalah dengan mengembangkan program/kegiatan yang menawarkan insentif kolektif terhadap solidaritas grup dan komitmen terhadap tujuan moral. Ini akibat kuatnya jaringan interpersonal yang eksklusif dalam kelompok. Jaringan tersebut dapat dibangun melalui masjid tertentu, sekolah, pekerjaan dan visi idiologis yang memperkuat kesamaan identitas, menciptakan rasa kelompok (group feeling), solidaritas dan perbedaan sehingga membuat mobilisasi lebih mudah. 

Jaringan non formal (social network) ini sangat berguna bagi berbagai aktivitas kelompok radikal seperti memobilisasi supporter, mencari dana, mempromosikan simbol, menyebarkan propaganda dan mengorganisasi protes massa. 

Sejalan dengan menjamurnya ormas-ormas Islam pasca reformasi, pendidikan (tarbiyah) dianggap pintu efektif bagi penyebaran dakwah Islam. Kini, lahir ribuan pendidikan Islam terpadu (jenjang PAUD, TK hingga SLTA) yang didirikan oleh ormas-ormas Islam tertentu dari berbagai jenjang pendidikan. 

Ormas-ormas Islam itu memiliki ciri keagamaan tertentu yang ‘berbeda’ dengan yang lain. Ciri-ciri keagamaan yang mereka anut adalah: 
  1. Khas Islam Timur Tengah; 
  2. Leterlek dan harfiah dalam memahami Islam;
  3. Mengenalkan istilah-istilah baru yang bernuansa Arab seperti, ḥalaqah, dawrah, mabit dan seterusnya. 

Siswa/siswi sekolah menengah atas (SMA/SMK) digarap serius oleh ormas-ormas Islam yang bercirikan seperti di atas.  Momen dawrah, ḥalaqah dan mabit di satu sisi sangat positif dan membantu kerja guru agama untuk menanam akidah dan syariat Islam. Namun di sisi lain, model Islam yang diajarkan cenderung mendorong peserta didik untuk tidak toleran terhadap pihak lain. 


Ada tiga kasus intoleransi yang menjadi sorotan di Yogyakarta yaitu 
  1. Penutupan Pesantren Waria, 
  2. Pembubaran Pesantren Rausyan Fikr, dan 
  3. Penolakan Acara Paskah. Ketiganya dilakukan oleh kelompok yang sama, yaitu Front Jihad Islam (FJI) dan Forum Umat Islam (FUI). 

Pendirian FJI dideklarasikan oleh Abu Bakar Ba’asyir yang merupakan pendiri dan mantan ketua MMI. 

Di kasus pertama, alasan kelompok ini menutup pesantren waria adalah karena (1) Penegakkan hukum Allah, bahwa kodrat manusia hanya laki‐laki dan perempuan, (2) Tidak ada izin, (3) Meresahkan masyarakat. Pada konteks ini secara kultur radikalisme agama mengkonstruksi wacana negatif LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) melalui spanduk‐spanduk, media, broadcast  message yang kemudian direpresentasikan dan diperkuat oleh afirmasi dari para pejabat negara serta Perhimpunan Dokter Kesehatan Jiwa. 

Pada kasus kedua, Rausyan Fikr Institute dibubarkan karena dianggap Syiah dan oleh karena itu dianggap sesat. Kelompok ini menyebarkan wacananya melalui pendekatan kepada warga dan takmir masjid, serta spanduk‐spanduk “Bahaya Syiah”. Wacana itu menjadi semakin kuat ketika muncul stigmatisasi terhadap lingkungan di sekitar Rausyan Fikr Institute yang dilabeli sebagai “Kampung Syiah” sehingga warga sekitar yang awalnya toleran menjadi bersikap intoleran. 

Kelompok tersebut juga melakukan upaya struktural melalui pendekatannya kepada polisi dan tentara serta tuntutannya kepada MUI Yogyakarta untuk mengeluarkan fatwa sesat. Berbeda dengan kasus pertama dan kedua, intoleransi pada kasus ketiga bersifat lintas‐agama dan menggunakan kekerasan fisik. Pada 2014 FJI mengeroyok salah satu anggota Forum Lintas Iman yang mendukung diadakannya penyelenggaraan paskah yang melibatkan 13000 jemaat yang akan digelar di Gunung Kidul. FJI dan FUI menuduh acara tersebut sebagai upaya Kristenisasi. 

Jika membaca secara teliti peristiwa-peristiwa besar kekerasan yang disebabkan oleh agama, ditemukan paling tidak ada tiga peran yang menyebabkan kerentanan agama terhadap kekerasan. 

Pertama, adanya penafsiran agama dalam hubungannya dengan relasi sosial. Tafsiran ini selanjutnya menjadi dasar ideologis dari pemeluk agama dalam ruang sosial. Yakni, tatanan sosial ditafsirkan sedemikian sehingga berdasarkan kerangka religius tertentu. Tatanan masyarakat direpresentasikan sebagai kehendak Tuhan berdasakan hasil tafsirannya sendiri terhadap teks suci. 

Kedua, terbentuknya identitas kolektif keagamaan yang terintegrasi dengan identitas etnik. Ini dapat dilihat misalnya sada pengidentifikasian masyarakat Aceh sebagai masyarakat Muslim dan Batak adalah Kristen, Bugis Islam dan Toraja Kristen, Nusa Tenggara Barat Muslim dan Nusa Tenggara Timur Kristen, dan lain-lain.  Pengidentifikasian ini membawa pada sikap yang fanatik, karena pada saat yang sama memiliki dua alasan sekaligus. Rawannya, masyarakat yang mengidentifikasi diri dalam salah satu kelompok ini sulit menerima keberdaan orang lain. 

Ketiga, semakin kuatnya legitimasi moral dalam tatanan sosial. Berbeda dengan yang pertama, yang melihat tatanan sosial dalam kerangka tafsir teologis, pada bagian ini agama dilegitimasi dan direpresentasikan dalam suatu nilai yang sudah penuh. Mereka merasa tidak memerlukan lagi perangkat nilai lain yang datang dari luar, seperti nilai egaliter, kemanusiaan, keadilan, dan lain lain. 

Nilai-nilai seperti ini dipandangnya sebagai sesuatu yang baru, sehingga ditolak dan dipandang sebagai produk Barat yang kafir. Islam dipahami, bahkan, sebagai agama yang tidak memiliki keterkaitan dengan tradisi lain. 

Radikalisme agama dapat pula bersumber dari pembacaan yang salah terhadap sejarah agama yang dikombinasikan dengan idealisasi berlebihan terhadap doktrin agama pada masa tertentu. Ini terlihat dalam pandangan dan gerakan ortodoksi yang selalu eksis dihampir semua agama. Tema pokok dari sel ortodoksi ini adalah pemurnian agama— membersihkan agama dari pemahaman dan praktek keagamaan yang mereka pandang sebagai ‘sesuatu yang menyimpang’. 

Namun upaya pemurnian tersebut justru acapkali dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Dengan pemahaman dan praksis keagamaan seperti itu, kelompok dan sel radikal ini ‘menyempal’ (splinter) dari mainstream agama yang memegang ‘otoritas’ teologis. 

Untuk menyelesaikan masalah tersebut dapat diselesaikan dengan berbagai langkah. Upaya untuk menjaga keberagamam ditunjukan secara variatif, baik melalui kekuatan masyarakat sipil, nilai, program dan kebijakan. Meski dari beberapa hal tersebut ada yang terlaksana dan tidak. 

Perlu ada semangat dari masyarakat sipil semua golongan dan semua aspek untuk menyerukan perlawanan terhadap pelanggaran Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan yang telah terjadi secara masif baik secara terangterangan maupun lewat media lain yang lebih halus. Kekuatan masyarakat sipil untuk bersama melawan pelanggaran tersebut setidaknya memberi bukti bahwa masih banyak yang peduli untuk menciptakan negara Indonesia yang nyaman dan tenteram. Peran pemerintah sangat penting untuk menekan semakin maraknya pelanggaran KBB yang terjadi. 

Dengan masyarakat mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang mampu mengayomi semua umat beragama tanpa adanya diskriminasi dan keberpihakan pada satu pihak serta tidak adanya pembiaran dari pemerintah, hal itu akan semakin menekan tinggi pelanggaran KBB. Adanya ketegasan aparat penegak hukum dengan cara menuntaskan kasus pelanggaran terhadap KBB dan menindak dengan adil para pelakunya, akan membuat masyarakat merasa aman dan terlindungi tanpa perlu khawatir akan terjadinya lagi pembiaran pelanggaran KBB. 

Dalam ranah edukasi, pendidikan multikultural menjadi kunci penting mencegah radikalisasi. Dalam praktik pembelajaran multkultural sendiri setidaknya menjadikan murid bukan sekedar objek pendidikan, tetapi juga sebagai subjek pendidikan. 

Hal ini dikarenakan proses belajar mengajar disesuaikan dengan arah partumbuhan dan perkembangan anak. perbedaan bukan menjadi suatu halangan bagi para civitas akademika untuk saling berinteraksi dengan mengangkat nilai-nilai universal dalam agama, seperti halnya welas asih terhadap sesama, tenggang rasa, dan saling menghargai satu sama lain. 

Perdebatan masalah teologi justru akan mengarah pada sikap disintegrasi dan profanestik sempit sehingga berujung pada friksi–friksi yang nanti akan mengarah munculnya konflik. Konflik sesama siswa terlebih bagi mereka yang melakukan penonjolan identitas, baik dari segi kekayaan, fisik, maupun prestasi justru dilarang oleh pihak sekolah. Hal itu dilakukan karena semua itu justru akan merusak tatanan egaliter yang dibangun sekolah. 

Daftar Pustaka

Damanik, Caroline, 2 Mei 2017 ”Kasus Intoleransi, DI Yogyakarta Diminta Waspada. Kompas
Hasani, Ismail dan Bonar Tigor Naipospos. Ed. Dari Radikalisme Menuju Terorisme Studi Relasi Dan Transformasi Organisasi Islam Radikal Di Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta . Jakarta: Pustaka Masyarakat Setara, 2012.
Kusumadewi, Anggi, 2 Mei 2017 ” Yogyakarta, Kota yang Makin Tak Toleran,”CNN Indonesia
Nurudin,” Basis Nilai-Nilai Perdamaian: Sebuah Antitesis Radikalisme Agama di Kalangan Mahasiswa,” Jurnal Multikultural & Multireligius, Vol. 12, No.2, September – Desember 2013.
Radikalisme Islam Dan Upaya Deradikalisasi Paham Radikal,” Jurnal Walisongo, Volume 20, Nomor 1, Mei 2012.
Rumbaru, Musa dan Hasse J.,” Radikalisme Agama Legitimasi Tafsir Kekerasan di Ruang Publik,” Jurnal Al-Ulum, Volume 16 Number 2 December 2016.
Takwin, Bagus, dkk., Studi Tentang Toleransi Dan Radikalisme Di Indonesia Juni 2016 Pembelajaran Dari 4 Daerah Tasikmalaya, Jogjakarta, Bojonegoro Dan Kupang. Jakarta : International NGO Forum On Indonesia Development, 2016.


Tuesday, September 26, 2017

AL Ghazali, Tokoh Pembaharu Islam

Foto: edupost.id

Harian Sejarah - Imam Al Ghazali merupakan salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah peradaban Islam. Bukan hanya bagi kalangan internal muslim, namun reputasinya juga dikenal secara luas di dunia. Kisah perjalanan kehidupannya masih dipelajari dan dibahas dalam forum-forum ilmiah. Pada artikel ini kita akan membahas secara ringkas mengenai kehidupan Al Ghazali.

Kehidupan dan Masa Pencarian Jati Diri Imam Al Ghazali

Hasil gambar untuk nizam al mulk

Imam Al Ghazali lahir di wilayah Thus, Khurasan, atau yang sekarang dikenal sebagai Iran pada tahun 450 Hijriah atau 1058 Masehi. Beliau memiliki nama lengkap yakni Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i. Nama Hamid diberikan Karena salah satu anaknya bernama Hamid, sedangkan nama al Ghazali sendiri diberikan karena profesi ayahnya adalah seorang ghazal (pemintal bulu domba).

Ia berkesempatan mengenyam pendidikan di Nizamiyah di Baghdad di bidang hukum serta agama. Dalam masa Pendidikan itulah ia memiliki kedekatan hubungan hingga menjadi wazir (penasihat) bagi Nizam al-Mulk Isfahan in 1085. Lalu ia juga menjadi salah satu guru besar di Nizamiyah yang mengajari banyak cendikiawan muslim. Pekerjaan tersebut memberinya segalanya, harta, kedudukan dan kemudahan dunia. 

Hal-hal tersebut justru membuatnya bimbang dalam menjalani kehidupan. Saat berumur 35 tahun, ia melakukan sebuah pengembaraan demi melakukan tazkiyyatun nafs (penyucian diri) dengan memelajari banyak hal. Pengembaraannya ke Syria, Mesir, Jerusalem, Mekah dan Madinah membuahkan banyak hal. Ia menyadari bahwa terdapat banyak perbedaan dalam pandangan hidup dan pencarian jati diri manusia sebagai usaha mendekatkan diri kepada Tuhan. 

Setelah pengembaraannya berakhir, ia memutuskan untuk hidup sebagai seorang sufi serta mengajar perihal sufisme di kampung halamannya di Tus hingga wafat pada 1111 masehi.

Kritik Terhadap Filsafat Yunani Serta Sufisme Al-Ghazali

Hasil gambar untuk chemical of happiness al ghazali

Abad saat Al Ghazali lahir adalah masa dimana filsafat yunani jamak dipelajari pelbagai ilmuan saat itu. Filsafat tersebut menitikberatkan kepada pentingnya berlogika dan akal sehat. Logika tersebut dipandang sebagai Al Ghazali sebagai bentuk pengingkaran terhadap eksistensi dan kesempurnaan Tuhan. 

Para filsuf seperti Aristoteles, Al-Farabi dan Ibn Sina berpendapat bahwa tidak adanya keberadaan Tuhan serta tidak ketidakmampuan Tuhan mengetahui semua yang terjadi di dunia. Selain itu mereka juga menganggap bahwa tidak adanya hari dimana manusia akan dibangkitkan kembali pada hari kiamat. Lantas ia menantang pandangan para filsuf tersebut dan berujung pada kemenangan dialektika yang tertulis dalam buku Tahafut al Falasifa (Kesalahan para Filsuf). 

Hal tersebutlah yang membuat ilmunya sangat dikenal luas, terutama di bidang filsafat, agama dan sufisme. Dalam bidang filsafat ia mengembangkan perpaduan pemikiran filsafat modern dan Yunani klasik yang tidak menyalahi ajaran Islam.

Imam al Ghazali memiliki andil yang besar dalam pemahaman manusia kepada ajaran agama. Dalam bidang agama dan sufisme ia menekankan pentingnya menjadikan sufisme sebagai cara menggapai kembali kemurnian ajaran Islam.

Al Ghazali menjadikan sufisme terkoneksi dengan nilai-nilai kebaikan Islam karena memelajari cara mengenal Allah dan alam semesta, contohnya adalah salah satu pandangannya mengenai manusia yang terbentuk dari gabungan jiwa dan tubuh secara fisik dimana jiwa adalah pusat dari diri manusia. Ia juga berpendapat bahwa jiwa yang bersih akan menuntun kita mengenali Tuhan secara mendalam.

Al Ghazali tidak hanya memberikan perkembangan terhadap dunia Islam, namun juga memengaruhi ajaran Yahudi dan Kristen dalam pandangannya tentang kembali ke hal yang mendasar atau fundamental dalam kehidupan beragama.

Berikut ini adalah sebagian dari karya Imam Al-Ghazali:

1.  Bidang Teologi
a.  Al-Munqidh min adh-Dhalal (Penyelamat dari kesesatan)
b. Al-Iqtishad fi al-I`tiqad (Modernisasi dalam aqidah)
c. Al ikhtishos fi al ‘itishod (Kesederhanaan dalam beri’tiqod)

2.  Bidang Tasawuf
a.  Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama)
b.  Kimiya as-Sa'adah (Kimia Kebahagiaan)
c.  Misykah al-Anwar (The Niche of Lights / Lampu yang bersinar),

3.  Bidang Filsafat
a.  Maqasid al-Falasifah (Tujuan para filusuf),
b.  Tahafut al-Falasifah,

4 Bidang Fiqih
a.  Al-Mushtasfa min `Ilm al-Ushul
b.  Al mankhul minta’liqoh al ushul (Pilihan yang tersaing dari noda-noda ushul fiqih).
c.  Tahzib al ushul (Elaborasi terhadap ilmu ushul fiqiha).

5. Bidang Logika
a.  Mi`yar al-Ilm (The Standard Measure of Knowledge/ Kriteria ilmu-ilmu).
b.  al-Qistas al-Mustaqim (The Just Balance)
c.  Mihakk al-Nazar fi al-Manthiq (The Touchstone of Proof in Logic)

Saturday, September 16, 2017

Rabindranath Tagore Sastrawan Besar India

Rabindranath Tagore dan Einstein di kediamannya di Kaputh di pinggiran kota Berlin pada tanggal 14 Juli 1930. Foto: FullyIndia

Harian SejarahRabindranath Tagore merupakan salah satu manusia terbaik yang diciptakan oleh Tuhan di Dunia ini. Dia dapat disejajarkan bersama sastarawan besar sekelas Shakespeare, G.B Shaw dan Tolstoy, serta sastrawan hebat lainnya di Dunia.

Rabindranath Tagore lahir pada tanggal 7 Mei 1861 di keluarga Tagore di Jorasanko, Kolkata. Rabindranath adalah seorang penyair, seorang novelis, kritikus, penulis cerita pendek, filsuf, pendidik, ilmuwan dan pembaharu sosial. Dia banyak memberikan pengaruh besar terhadap karya satra dan perjuangan nasional India.

Rabindranath mendapatkan Nobel Satra Dunia bidang sastra pada tahun 1913 atas kontribusi besarnya terhadap pelbagai macam sastra India dan bahasa Benggali yang berengaruh terhadap karya sastra Dunia. Banyak puisi-puisinya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Rabindranath sejak muda menunjukan kejeniusannya dalam bidang sastra. Karya-karya puisinya banyak mengesankan senior-seniornya. Seniornya Matthew Arnold yang menganggap Rabindranath Tagore mampu belajar mandiri dan menemukan bakat tersembunyinya. Dia berhasil mengasah bakatnya menjadi suatu hal yang menakjubkan dalam pelabagai karya sastra Benggali.

Karya-karya Rabindranath Tagore mencakup puisi, musik, novel, drama, lukisan, cerpen, dll.

Beberapa judul novel, yaitu:
  • Shesher Kobita
  • Noukadubi
  • Chaturanga,
  • Gora
  • Ghare Baire,
  • Char Odhay

Gitanjali, karya Tagore berupa antologi puisi berhasil menyabet Nobel pada 1913. Nobel Sastra tersebut membuat ia menjadi orang India dan orang Asia pertama yang menerima Nobel Sastra Dunia. Ia juga menciptakan Lagu kebangsaan India, "Jana Gana Mana."

Pada masa kolonial Inggris di India, ia memberikan kontribusi dalam pembangunan pendidikan dengan mendirikan Universitas Visva Bharati di Santiniketan pada tahun 1902. 

Rabindranath Tagore meninggal pada 7 Agustus 1941. Hingga saat ini sosok sastrawan tersebut belum terganti. Pada hari ulang tahunnya yang ke-125 pada 1986, masyarakat India merayakan ulang tahunnya untuk mengenang jasanya atas kontribusinya yang mempengaruhi kesatuan nasional India yang terbentuk berdasarkan karya-karyanya dinilai memberikan nilai yang tinggi terhadap sastra India.

Rabindranath hanya bisa dibandingkan dengan Rabindranath sendiri. Dia dianggap sebagai tokoh terbesar dalam Kebangkitan Nasional India modern.  Rabindranath dipandang sebagai sumber keindahan, pengetahuan dan inspirasi dari semua pemikiran mulia dan gagasan hebat.


Friday, August 25, 2017

Terbunuhnya Trotsky 1940

Trotsky (kiri) bersama istrinya Natalia (kanan). Foto: BBC

Harian SejarahPada 21 Agustus 1940, menjadi salah satu titik peristiwa sejarah dalam perjalanan Uni Soviet dan komunisme dunia. Pada tanggal tersebut, salah satu pemimpin Revolusi Rusia 1917, Leon Trotsky terbunuh oleh seorang komunis Spanyol, Ramon Marcader. Trotsky terbunuh setelah tidak dapat diselamatkan karena mengalami benturan keras yang diakibatkan oleh pukulan kapak es batu. Trotsky dibawa ke rumah sakit dimana dia dioperasi tapi meninggal sehari kemudian karena kehilangan darah dan syok.

Leon Trotsky adalah salah satu pemimpin besar komunis Uni Soviet, ia digadang-gadang sebagai pewaris dari Lenin. Pertikaian dengan Stalin membuatnya dibuang, dikeluarkan dari partai, dan diasingkan ke luar negeri beberapa tahun setelah Lenin meninggal. Stalin yang dijuluki si tangan besi kerap kali mengirim agen rahasianya untuk membunuh Trotsky.

Pasca dikeluarkan dari partai dan diasingkan pada 1929. Dari luar negeri Trotsky tetap melakukan kegiatan politik untuk melawan dominasi Stalin. Hingga pada akhirnya lelaki keturunan Yahudi Ukraina itu harus tewas di usia 60 tahun setelah menetap selama 11 tahun di Meksiko.

Belakangan diketahui bahwa Ramon Marcader adalah utusan Stalin. Ia kemudian mendapatkan mendali pahlawan dari Uni Soviet setelah mendekam di penjara Meksiko selama 20 tahun.

Trotsky dikenal memiliki gagasan dan pandangan yang lebih keras dibanding Lenin. Dalam persoalan negara ia pernah melontarkan pemikiran mengenai militerisme para buruh sebagai bentuk pengabdian kepada negara dan membentuk kepribadian keras dan solid.


Thursday, August 24, 2017

Lirik Lagu Mars Madjulah Sukarelawan


Bulat semangat, tekad kita
Barisan Sukarelawan Indonesia
Berpegang sangkur siap bertempur
Tiap tantangan kita lawan pantang mundur, (hey!)

Awas Imperialis durhaka
pasukan rakyat kita kuat perkasa
Ini dadaku mana dadamu
Kamu menyerang kita ganyang jadi abu

Ayolah kawan buruh tani, pemuda dan angkatan kita
Maju melawan siap senjata dan cukupkan sandang pangan
Pastilah menang, pastilah menang , pasti menang Revolusi '45 (2x)