Mumi dan Tradisi Pemakaman Mesir Kuno

Foto: bobviral.com

Orang Mesir Kuno mengenal akhirat. Akan tetapi akhirat bukan lah seperti yang terlintas pada ajaran agama samawi. Menurut orang Mesir Kuno akhirat adalah kehidupan badaniah bukan penggantian berbentuk rohaniah. Jiwa meninggalkan badan pada saat kematian, tetapi menurut harapannya jiwa itu dapat kembali pada badan tadi. Oleh karena itu orang-orang Mesir sangat bernafsu untuk mengekalkan kehidupannya demi dirinya sesudah mati, dan mengejar tujuan akhirat secara lebih serius dibanding tujuan apa pun yang bisa diraih selama kehidupan di dunia.

Jejak-jejak perkembangan tradisi pemakaman bangsa Mesir memang kurang diketahui, bahkan perkembangan prosesi pemumian. Pengetahuan yang ada sekarang tentang proses itu (pembalseman, penggunaan minyak, garam, dll) sebagian besar berdasarkan tulisan Herodotus dan penyelidikan terhadap mumi sendiri.
Ilustrasi. Foto: www.chuchotezvous.ru
Ketika raja-raja Mesir dimakamkan, orang-orang Mesir belum pernah mem-balsam orang mati. Prosesi pemakaman pun masih sangat sederhana, yakni badan raja dibungkus kain, yang kadang kala direndam di cairan damar. Akan tetapi, metode itu sama sekali tidak dapat mengawetkan mayat. Metode pengawetan mayat terus berkembang hingga akhirnya menghasilkan suatu tradisi perawatan bagi jenazah orang-orang Mesir yang dinamakan dengan pemumian.

Setelah pemumian dilaksanakan, mumi dimasukkan makam (makam di dalam piramid untuk firaun) bersama dengan barang-barang yang diharapkan akan diperlukan oleh yang mati dalam kehidupan barunya . Barang tersebut biasanya berupa makanan, alas kaki, perhiasasan,  serta mahkota atau tongkat jika ia seorang firaun.

Pemakaman dengan model pemumian, membutuhkan biaya yang sangat mahal. Bahkan, mahalnya biaya untuk mengawetkan jenazah melebihi kebutuhan mereka untuk merias diri selama hidup. Pada zaman Mesir Kuno, hanya firaun yang berhak hidup di alam akhirat, sehingga pemumian hanya dilakukan untuk seorang firaun.

Akan tetapi pada masa kerajaan baru, 11 abad kemudian, kehidupan akhirat merupakan hak semua orang Mesir, akibatnya tradisi pemumian semakin banyak dilakukan. Biaya yang sangat mahal mengakibatkan tidak semua rakyat Mesir saat itu dapat melakukan tradisi pemakaman selayaknya, orang-orang miskin menggunakan kain kafan sebagai pengganti peti dan melakukan penguburan di bawah timbunan pasir.



Rujukan:

Bauer, Susan Wise. 2010. Sejarah Dunia Kuno: Dari Cerita-Cerita Tertua sampai Jatuhnya Roma. Terj. Aloysius Prasetya. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Toynbee, Arnold. 2007. Sejarah Umat Manusia. Terj. Agung Prihantoro. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Read More

Kesultanan Demak dan Awal Islamisasi Jawa oleh Wali Songo

Bendera Kesultanan Demak (?). Foto: John McMeekin/crwflags.com

Harian Sejarah - Pada mulanya Agama Islam mulai tersebar di wilayah Asia Tenggara dan khususnya wilayah Indonesia sejak abad ke-12 atau 13. Inflistrasi dan perkembangan Islam di wilayah Indonesia berbeda-beda. Kerajaan Demak itu sendiri dahulunya merupakan sebuah daerah yang dikenal dengan nama bintoro yang merupakan daerah dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Wilayah Demak terletak di tepi selat dan diantara pegunungan Muria dan Jawa. Setelah Majapahit hancur maka Demak berdiri sebagai Kesultanan Islam yang pertama di Jawa.

Bintoro sebagai pusat kerajaan Demak terletak antara Bergola dan Jepara, di mana Bergola adalah pelabuhan yang penting pada masa berlangsungnya kerajaan Mataram (Wangsa Syailendra), sedangkan Jepara akhirnya berkembang sebagai pelabuhan yang penting bagi kerajaan Demak
Ketika Majapahit mengalami kemunduran sekitar abad ke 15 menjadi faktor yang mendukung untuk berkembangnya Kerajaan Islam di Jawa. besar kemungkinan bahwa pada abad XII di Jawa sudah ada orang Islam yang menetap. Karena sudah ada yang menyusuri pantai timur Sumatera dan Laut Jawa bagian Timur untuk melakukan jalur perdagangan.

Lokasi Kesultanan Demak. Foto: Pinterest

Para pelaut tersebut baik yang beragama Islam maupun tidak, dalam melakukan perjalanan di jalur perdagangan tersebut mereka banyak singgah di banyak tempat. Pusat-pusat permukiman di Pantai Utara Jawa ternyata sangat cocok untuk hal itu.

Kesultanan Demak didirikan oleh Raden Rahmat dari Ngampel Denta, nama tersebut diadopsi dari nama kampung di Surabaya. Menurut Cerita Jawa, ia berasal dari Cempa banyak yang mengira bahwa Cempa itu adalah suatu wilayah yang terdapat di Cina, namun mengenai lokasi yang benar akan hal itu masih diperdebatkan.

Ada yang mengatakan bahwa letak Cempa adalah Jempa yang merupakan salah satu wilayah yang terdapat di Aceh hal ini dilihat oleh rute perjalanan yang di tempuh orang suci yang ditempuh oleh Syekh Ibnu Maulana dari Tanah Arab ke Jawa. apabila Campa sama artinya dengan Jeumpa maka rute perjalanannya lebih masuk akal.
                               
Apabila peristiwa sejarah dan tahun-tahun kejadian tersebut mengenai Campa yaitu tempat Islam pertama berasal di Jawa, maka kita dapat menyusunnya seperti berikut. Seorang raja Majapahit atau seorang anggota keluarga raja menjelang abad ke 15 telah membawa gadis Islam keluarga baik-baik yang berasal dari Cempa ke istananya(sejak dahulu Majapahit memiliki hubungan yang baik dengan Cempa), lalu kemudian Wanita Islam itu meninggal pada 1448 dan dimakamkan secara Islam (Putri Campa).

Beberapa tahun sebelumnya, dua orang keluarga putri itu, yaitu kakak beradik meninggalkan Cempa dan melewat ke Jawa, mereka ini juga beragama Islam, ayah mereka orang barat yang kawin di Cempa dengan Wanita keturunan Bangsawan. Salah satu alasan kedua kakak-beradik itu pergi ke Jawa ialah karena ancaman orang Annam untuk menyerang Cempa.
File:Java-Map.jpg
Peta Jawa awal abad ke-18. Dari barat ke timur: Bantam (Banten), Xacatara (Jayakarta), Chirebon (Cirebon), Taggal (Tegal), Damo (Demak), Iapara (Jepara), Tubam (Tuban), Sodaio (Sedayu, sekarang dekat Gresik), dan Surubaya (Surabaya). Foto: Wikimedia
Lokasi kerajaan Demak yang strategis untuk perdagangan nasional, karena menghubungkan perdagangan antara Indonesia bagian Barat dengan Indonesia bagian Timur, serta keadaan Majapahit yang sudah hancur, maka Demak berkembang sebagai kerajaan besar di pulau Jawa, dengan rajanya yang pertama yaitu Raden Patah. Ia bergelar Sultan Alam Akbar al-Fatah (1500 – 1518). Pada masa pemerintahannya Demak memiliki peranan yang penting dalam rangka penyebaran agama Islam khususnya di pulau Jawa, karena Demak berhasil menggantikan peranan Malaka, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis 1511.

Kehadiran Portugis di Malaka merupakan ancaman bagi Demak di pulau Jawa. Untuk mengatasi keadaan tersebut maka pada tahun 1513 Demak melakukan penyerangan terhadap Portugis di Malaka, yang dipimpin oleh Adipati Unus atau terkenal dengan sebutan Pangeran Sebrang Lor.

Serangan Demak terhadap Portugis walaupun mengalami kegagalan namun Demak tetap berusaha membendung masuknya Portugis ke pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Adipati Unus (1518 – 1521), Demak melakukan blokade pengiriman beras ke Malaka sehingga Portugis kekurangan makanan.Puncak kebesaran Demak terjadi pada masa pemerintahan Sultan Trenggono (1521 – 1546), karena pada masa pemerintahannya Demak memiliki daerah kekuasaan yang luas dari Jawa Barat sampai Jawa Timur.

Peran Wali Songo
Wali Songo. Foto: kliping.co
Kata “wali” (Arab) antara lain berarti pembela, teman dekat dan pemimpin. Dalam pemakaiannya, wali biasanya diartikan sebagai orang yang dekat dengan Allah (Waliyullah). Sedangkan kata “songo” (Jawa) berarti Sembilan. Walisongo artinya sembilan wali, sebenarnya jumlahnya bukan hanya sembilan.

Jika ada seorang walisongo meninggal dunia atau kembali ke negeri seberang, maka akan digantikan anggota baru. Songo atau sembilan adalah angka keramat, angka yang dianggap paling tinggi. Dewan dakwah tersebut sengaja dinamakan walisongo untuk menarik simpati rakyat yang pada waktu masih belum mengerti apa sebenarnya agama Islam.

Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Setelah Syekh Maulana Malik Ibrahim wafat, maka Sunan Ampel diangkat sebagai sesepuh walisongo, sebagai mufti atau pemimpin agama Islam Nama asli Sunan Ampel adalah Raden Rahmat, sedangkan sebutan Sunan merupakan gelar kewaliannya, dan nama Ampel atau Ampel Denta, atau Ngampel Denta (menurut Babad Tanah Jawi versi Meinsme), itu dinisbahkan kepada tempat tinggalnya, sebuah tempat dekat Surabaya. Raden Rahmat diperkirakan lahir pada awal abad ke-15 di Campa, sebagai putra Raja Campa.

Sunan Ampel adalah penerus cita-cita dan perjuangan Maulana Malik Ibrahim. Ia memulai aktivitasnya dengan mendirikan pondok pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya yang sekaligus menjadi pusat penyebaran Islam yang pertama di Jawa. Di tempat inilah dididik pemuda-pemudi Islam sebagai kader yang terdidik, untuk kemudian disebarkan ke berbagai tempat di seluruh pulau Jawa.

Muridnya antara lain Raden Paku yang kemudian terkenal dengan sebutan Sunan Giri, Raden Patah yang kemudian menjadi sultan Pertama dari kerajaan Islam di Bintoro Demak, Raden Makdum Ibrahim yang dikenal dengan Sunan Bonang, Raden Kosim Syarifuddin yang dikenal dengan Sunan Drajat, Maulana Ishak yang pernah diutus ke daerah Blambangan untuk mengislamkan rakyat disana, dan banyak lagi mubalig yang mempunyai andil besar dalam islamisasi Pulau Jawa.

Sunan Ampel tercatat sebagai perancang kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa dengan ibukota di Bintoro, Demak. Dialah yang mengangkat Raden Fatah sebagai sultan pertama Demak, yang dipandang punya jasa paling besar dalam meletakkan peran politik umat Islam di nusantara.. Sunan Ampel juga yang pertama kali menciptakan Huruf Pegon atau tulisan Arab berbunyi bahasa Jawa. Dengan huruf pegon ini, beliau dapat menyampaikan ajaran-ajaran Islam kepada para muridnya. Hingga sekarang huruf pegon tetap dipakai sebagai bahan pelajaran agama Islam di kalangan pesantren.

Hasil didikan Sunan Ampel yang terkenal adalah falsafah Mo Limo atau tidak melakukan lima hal tercela, yaitu :

  1. Moh Main atau tidak mau berjudi
  2. Moh Ngombe atau tidak mau minum arak atau bermabuk-mabukan
  3. Moh Maling atau tidak mau mencuri
  4. Moh Madat atau tidak mau mengisap candu, ganja dan lain-lain
  5. Moh Madon atau tidak mau berzina

Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, berpandangan jauh, berpikiran tajam, intelek, serta berasal dari suku Jawa asli. Nama Kalijaga konon berasal dari rangkaian bahasa Arab qadi zaka yang berarti pelaksana dan membersihkan. Qadizaka yang kemudian menurut lidah dan ejaan menjadi Kalijaga berarti pemimpin atau pelaksana yang menegakkan kebersihan atau kesucian.. Jasanya bagi Demak cukup banyak. Pada waktu pendirian mesjid Demak, ia salah seorang wali yang berkewajiban menyediakan salah satu dari 4 tiang pokok (saka guru) yang menurut legenda, ia buat dari tatal (serpihanserpihan kayu sisa).

Ia juga menjadi penasehat umum raja-raja Demak, sejak Raden Patah sampai Sultan Trenggana. Dalam pemeritahan Demak, di samping sebagai ulama dan juru dakwah, Sunan Kalijaga juga penasihat Kesultanan Demak Bintoro, Ketika para wali memutuskan untuk mempergunakan pendekatan kultural terhadap masyarakat, termasuk di antaranya pemanfaatan wayang dan gamelan sebagai media dakwah, maka orang yang paling berjasa dalam hal ini adalah Sunan Kalijaga.. Sunan Kalijaga juga sangat berjasa dalam perkembangan wayang purwa atau wayang kulit yang bercorak Islami seperti sekarang ini. Ia mengarang aneka cerita wayang yang bernafaskan Islam, terutama mengenai etika. Kecintaan masyarakat terhadap wayang digunakannya sebagai sarana untuk menarik mereka untuk masuk Islam.

Sunan Muria (Raden Umar Said)

Sunan Muria adalah salah seorang wali songo yang banyak berjasa dalam menyiarkan agama Islam di pedesaan Pulau Jawa. Ia adalah putra Sunan Kalijaga. Nama aslinya Raden Umar Said atau Raden Said. Sedang nama kecilnya adalah Raden Prawoto, namun ia lebih terkenal dengan nama Sunan Muria karena pusat kegiatan dakwahnya dan makamnya terletak di Gunung Muria (18 km di sebelah utara kota Kudus sekarang).

Sunan Muria termasuk wali-wali yang memutuskan untuk memindahkan pesantren Ampel Denta (sepeninggal Sunan Ampel) ke Demak di bawah pimpinan Raden Patah. Ia sangat rajin berdakwah ke pelosok-pelosok desa dan gunung-gunung. Sarana dakwah yang dipakainya adalah melalui gamelan dan wayang serta kesenian Jawa lainnya.

Ciri khas Sunan Muria dalam upaya menyiarkan agama Islam adalah menjadikan desa-desa terpencil sebagai tempat operasinya. Ia lebih suka menyendiri dan bertempat tinggal di desa dan bergaul dengan rakyat biasa. Ia mendidik rakyat di sekitar Gunung Muria. Cara yang ditempuhnya dalam menyiarkan agama Islam adalah dengan mengadakan kursus-kursus bagi kaum pedagang, para nelayan dan rakyat biasa.. Makam Sunan Muria terletak di puncak gunung, banyak dikunjungi orang setiap hari sampai sekarang, terutama pada hari Jum’at Pahing.

Sunan Bonang

Sunan Bonang dianggap sebagai pencipta gending pertama dalam rangka mengembangkan ajaran Islam di pesisir utara Jawa Timur. Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Bonang selalu menyesuaikan diri dengan corak kebudayaan masyarakat Jawa yang sangat menggemari wayang serta musik gemelan. Mereka memanfaatkan pertunjukan tradisional itu sebagai media dakwah Islam, dengan menyisipkan nafas Islam ke dalamnya.

Syair lagu gamelan ciptaan para wali tersebut berisi pesan tauhid, sikap menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Setiap bait lagu diselingi dengan syahadatain (usapan dua kalimat syahadat), gamelan yang mengiringinya kini dikenal dengan istilah sekaten, yang berasal dari syahadatain. Sunan Bonang sendiri menciptakan lagu yang dikenal dengan tembang durma, sejenis macapat yang melukiskan usaha tegang, bengis dan penuh amarah.

Kegiatan dakwah Sunan Bonang dipusatkan di sekitar Jawa Timur, terutama daerah Tuban, dengan basis pesantren sebagai wadah mendidik kader. Dalam aktivitas dakwahnya, ia mengganti nama dewa-dewa dengan nama malaikat dalam Islam dengan maksud agar penganut Hindu dan Budha mudah diajak masuk agama Islam.

Sunan Drajat

Menurut silsilah, Sunan Drajat adalah putera Sunan Ampel dari isteri kedua bernama Dewi Candrawati. Sunan Drajat turut serta dalam musyawarah para wali untuk memutuskan siapa yang menggantikan Sunan Ampel untuk memimpin pesantren Ampel Denta, dan ketika para wali memutuskan untuk mengadakan pendekatan kultural pada masyarakat Jawa dalam menyiarkan agama Islam.

Sunan Drajat tidak ketinggalan untuk menciptakan tembang Jawa yang sampai saat ini masih dilantunkan. Hal yang paling menonjol dalam dakwah Sunan Drajat adalah perhatiannya yang sangat serius pada masalah-masalah sosial. Ia terkenal mempunyai jiwa sosial dan tema-tema dakwahnya selalu berorientasi pada kegotongroyongan. Ia selalu memberi pertolongan kepada masyarakat umum, menyantuni anak yatim dan fakir miskin sebagai suatu aktivitas sosial yang dianjurkan agama Islam

Penulis: Shinta Melinda. Mahasiswa Sejarah UI

Rujukan:

Tarwilah. (2006). Peranan Wali Songo dalam Pengembangan Dakwah Islam. Jurnal Kopetis Wilayah IX  Kalimantan vol 4 . No 9.
Zahra, F. (2014). Pengembangan Bahan Ajar Sejarah Pokok Bahasan Islamisasi Berbasis Peninggalan Sejarah Masjid Agung Demak. Indonesian Journal of History Education, 3(1).
Farida, U. (2016). Islamisasi Di Demak Abad XV M: Kolaborasi Dinamis Ulama-Umara Dalam Dakwah Islam Di Demak. AT-TABSYIR: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, 3(2), 299-318.
Falakhuddin, F. (2017). Dakwah Wali Songo Dan Islamisasi Di Jawa. Misykat Al-Anwar, 2(1), 292
Hak, N. (2016). Rekonstruksi Historiografi Islamisasi Dan Penggalian Nilai-Nilai Ajaran Sunan Kalijaga. Analisis Jurnal Studi Keislaman, 16 (1), 67-102.

Suryo, D. (2000, November). Tradisi Santri dalam Historiografi Jawa, Pengaruh Islam di Jawa. dalam Seminar Pengaruh Islam terhadap budaya Jawa, Jakarta.

Read More

Biografi Presiden Republik Indonesia


Harian Sejarah - Presiden Republik Indonesia adalah pemegang kekuasaan pemerintahan tertinggi dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selain sebagai kepala negara, presiden merupakan lambang negara. Lembaga Kepresidenan Indonesia dibentuk pada tahun 1945 oleh Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Pada tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), memilih Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia. Sebelum dilakukan amendemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945, presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR). Setelah itu dimulai pada Pemilu tahun 2004, presiden dipilih secara langsung oleh rakyat yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum. Berikut ini daftar biografi presiden Republik Indonesia:

1. Ir. Soekarno 1945-1966

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, lahir di Surabaya, Jawa Timur, 6 Juni 1901 dan meninggal di Jakarta, 21 Juni 1970. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibunya Ida Ayu Nyoman Rai. 

Semasa hidupnya, beliau mempunyai tiga istri dan dikaruniai delapan anak. Dari istri Fatmawati mempunyai anak Guntur, Megawati, Rachmawati, Sukmawati dan Guruh. Dari istri Hartini mempunyai Taufan dan Bayu, sedangkan dari istri Ratna Sari Dewi, wanita turunan Jepang bernama asli Naoko Nemoto mempunyai anak Kartika. Selanjutnya..

 2. Jenderal Soeharto 1966-1998

Soeharto adalah Presiden kedua Republik Indonesia. Beliau lahir di Kemusuk, Yogyakarta, tanggal 8 Juni 1921. Bapaknya bernama Kertosudiro seorang petani yang juga sebagai pembantu lurah dalam pengairan sawah desa, sedangkan ibunya bernama Sukirah. 

Soeharto masuk sekolah tatkala berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Soeharto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani. Selanjutnya..

 3. B.J Habibie 1998-1999

Presiden ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie lahir di Pare-Pare, Sulawesi Selatan, pada 25 Juni 1936. Beliau merupakan anak keempat dari delapan bersaudara, pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie yang menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962 ini dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal. Selanjutnya..

 4. K.H Abdurrahman Wahid 1999-2001

Abdurrahman Wahid yang akrab dipanggil Gus Dur menjabat Presiden RI ke-4 mulai 20 Oktober 1999 hingga 24 Juli 2001. Beliau lahir tanggal 4 Agustus 1940 di desa Denanyar, Jombang, Jawa Timur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya adalah seorang pendiri organisasi besar Nahdlatul Ulama, yang bernama KH. Wahid Hasyim. 

Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Dari perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Inayah Wulandari. Selanjutnya..

 5. Megawati Soekarnoputri 2001-2004

Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri lahir di Yogyakarta, 23 Januari 1947. Sebelum diangkat sebagai presiden, beliau adalah Wakil Presiden RI yang ke-8 dibawah pemerintahan Abdurrahman Wahid. 

Megawati adalah putri sulung dari Presiden RI pertama yang juga proklamator, Soekarno dan Fatmawati. Megawati, pada awalnya menikah dengan pilot Letnan Satu Penerbang TNI AU, Surendro dan dikaruniai dua anak lelaki bernama Mohammad Prananda dan Mohammad Rizki Pratama. Selanjutnya..

 6. Susilo Bambang Yudhoyono 2004-2014

Susilo Bambang Yudhoyono adalah presiden RI ke-6. Berbeda dengan presiden sebelumnya, beliau merupakan presiden pertama yang dipilih secara langsung oleh rakyat dalam proses Pemilu Presiden putaran II 20 September 2004. Lulusan terbaik AKABRI (1973) yang akrab disapa SBY ini lahir di Pacitan, Jawa Timur 9 September 1949. Istrinya bernama Kristiani Herawati, merupakan putri ketiga almarhum Jenderal (Purn) Sarwo Edhi Wibowo.

Beliau dikaruniai dua orang putra yakni Agus Harimurti Yudhoyono (mengikuti dan menyamai jejak dan prestasi SBY, lulus dari Akmil tahun 2000 dengan meraih penghargaan Bintang Adhi Makayasa) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lulusan terbaik SMA Taruna Nusantara, Magelang yang kemudian menekuni ilmu ekonomi). Selanjutnya..

7. Joko Widodo 2014-...

Sejak lahir pada 21 Juni 1961 di Rumah Sakit Brayat Minulyo, Joko Widodo tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kontrakan yang berlokasi di tepi sebuah sungai di Solo. Hidup mereka sangat sederhana. Ayah Jokowi yang sehari-hari menghidupi keluarga dengan berjualan kayu terpaksa membawa istri dan anak-anaknya hidup berpindah dari satu rumah sewa menuju rumah sewa lainnya.

Bahkan dengan kondisi tersebut, keluarga Joko Widodo harus rela digusur Pemerintah Kota Solo dari tempat tinggalnya di bantaran kali Pepe dan tinggal menumpang di kediaman seorang kerabat di daerah Gondang. Selanjutnya..
Read More

Masuknya Islam ke Maluku dan Moluku Kie Raha

Masjid Masohi, Maluku Timur. Foto: flickr.com

Harian Sejarah - Maluku merupakan kepulauan di Nusantara yang berabad-abad lampau menjadi tujuan dari orang-orang di seluruh dunia. Maluku kini memang tak bergitu terkenal seperti Bali atau Jakarta masa kini. Maluku terkenal dengan kopi, garam, dan udang. Di Maluku ketika Islam menjalar ke Nusantara sejak abad ke-13, tidak banyak sumber yang saya temukan mengenai tokoh atau catatan kaki perjalanan awal mulai Islam di Maluku.

Jafar Sadek merupakan seorang yang berasal dari Arab. Ia membangun rumah di bukit bernama Jore-jore, disana ada danau kecil bernama Ake Santosa. Suatu petang Jafar sadek melihat 7 bidadari sedang mandi dan ia lalu menyembunyikan selendang dari salah satu bidadari tersebut, maka salah satu dari bidadari tersebut tidak bisa pulang, Ia bernama Nur Sifa.

Menurut tulisan Abdullah Alawi, Jafar Sadek dan Empat Kesultanan Maluku (2016) diketahui bahwa Jafar Sadek merupakan tokoh yang menjadi legenda di masyarakat Maluku. Ia adalah seorang Arab yang datang ke Maluku yang kemudian menjadi leluhur empat kerajaan Islam, yaitu Jailolo, Tidore, Ternate, dan Bacan. Namun kembali menurutnya Jafar Sadek menurut apa yang dikatakan oleh de Graaf merupakan duta besar yang dikirim Kesultanan Mesir Dinasti Abasyiyah. Sumber lain mengatakan hal yang berbeda bahwa Jafar Sadek adalah Ja Tek Su, seorang muslim Cina yang menjadi mubaligh Islam di Jawa pada abad ke XV.

Dalam Hikayat Bacan, sebagaimana dikutip M.Adnan Amal, Jafar Sadek disebutkan datang tiba ke Maluku dengan tanpa alat apa pun. Dia datang dari laut. Kemudian penduduk mendatangi, mencium dan menyalaminya. Mereka gembira menyambut kedatangan Jafar Sadek. Penduduk kemudian mengaraknya keliling kampung mereka yang bernama Foramdiahi.

Jafar Sadek kemudian memperkenalkan agama Islam. Kemudian seluruh penduduk memeluk agama Islam.

Menurut Sejarah Bacan, dari hasil perkawinan dengan perempuan penduduk setempat, Jafar Sadek mendapatkan empat anak laki-laki dan empat anak perempuan. Empat anak laki-laki tersebut empat kerajaan Islam, yaitu Jailolo, Tidore, Ternate, dan Bacan. Kerajaan yang di kemudian hari menjadi benteng Islam dan tanah air dari penjajahan bangsa-bangsa Barat.

Moluku Kie Raha

Apa itu Moluku Kie RahaI? Itu meruapakan sebutan bagi 4 kesultanan yang ada di Maluku yang artinya adalah “Persekutuan empat Kesultanan,” yaitu

  1. Jailolo
  2. Bacan
  3. Ternate
  4. Tidore

“Luku” dalam bahasa Galela berarti dalam. Jika ditambahkan “ma” maka artinya menjadi dalam sekali. Dalam bahasa ternate “loko” berarti gunung.
Narasi Singkat Empat Kesultanan Maluku

1. Jailolo
Pemandangan Teluk Jailolo di Halmahera Barat dengan landmark "Jailolo City. Foto: tinooo
Kerajaan Jailolo belum pasti asal muasalnya terjadi, dari sumber sejarah yang terekam Jailolo adalah sebuah kerajaan di kepulauan Halmahera yang bisa berekspansi lewat perkawinan politik antara ratu Jailolo dan Raja Loloda. Jailolo terkenal dengan pemerintahannya yang kejam sehingga memunculkan exodus dari kerajaannya. 

Masyarakat yang melakukan migtasi ini lari kepulau-pulau kecil di luar Halmahera. Masyarakat ini lah yang pada akhirnya mendirikan kerajaan-kerajaan sendiri seperti Ternate, Tidore, dan Bacan.  

2. Ternate
Ternate pada awalnya merupakan pemukiman-pemukiman yang terdiri dari tiga kelompok besar. Banyak dari mereka yang menetap di pemukiman-pemukiman berasal dari Kerajaan Jailolo yang sebelumnya melakukan migrasi ke barat kepulauan Maluku. Mereka kemudian melakukan musyawarah untuk menunjuk penguasa yang perkembangannya akan menjadi raja dari Kerajaan Terntare.
Sida Arif, merupakan raja Ternate yang berhasil membuat Ternate sebagai pusat perdagangan dengan bangsa asing dan pedagang lainnya di Nusantara. Islam menjadi agama yang menyatu dalam kehidupan sosial dan negara sejak Ternate menjadi kesulatanan. Sultan pertama Ternate yang bernama Zainal Abidin meletakan dasar-dasar Islam di Ternate dan Maluku secara umum. Zainal Abidin kemudian mendirikan Jolebe (Departemen Agama) dan Kalem (Qadi) yang terdiri dari empat orang Imam dan delapan orang Khatib.

Ternate mengajak musyawarah kerajaan-kerajaan di Maluku untuk memeluk Islam. Musyawarah dilakukan sesuai tuntutan adat, bahwa jika satu kerajaan menemukan sesuatu hal yang baik, maka harus memberitahu kepada kerajaan-kerajaan lainnya. 

3. Tidore
Tidore pada awalnya merupakan pemukiman yang terletak di pegunungan Batu Cina, di sebelah selatan Dodinga. Sama seperti Ternate, Tidore juga tersohor keberadaannya di Dunia sebagai penghasil rempah-rempah. Ternate merupakan sebuah kerajaan tersohor di Maluku, sama seperti tiga kerajaan lainnya yaitu, Kerajaan Tidore, Kerajaan Bacan, Kerajaan Jailolo. Ternate terkenal dengan cengkehnya yang harum. Dalam politik, Ternate dan Tidore selalu bersaing ketat dalam perebutan Hegemoni di Maluku. Tidore mengarahkan ekspansinya ke arah timur. Sedangkan Ternate mengarahkannya ke arah utara dan barat.  
Islam berkembang di Tidore pada abad ke-19. Perdagangan rempah-rempah di Maluku selain diramaikan oleh orang Spanyol dan Portugis, juga diramaikan oleh orang-orang Arab, Persi dan juga orang Melayu yang berdatangan ke Tidore sejak abadke-5. Pedagang-pedagang Islam ini yang kemudian memperkenalkan Islam ketika berinteraksi dengan masyarakat lokal. 

Eksistensi Islam di Tidore kemudian berkembang ketika penguasa Tidore, Kolano Ciriati memeluk agama Islam beserta putran sulungnya yang kemudian berganti nama menjadi Sultan Jamaluddin. Selama masa kolonial VOC, Sultan Tidore, yaitu Sultan Nuku menjadi tokoh pahwalan perjuangan rakyat Tidore. Pada tahun 1780, Nuku memproklamasikan dirinya sebagai Sultan Tidore dan menyatakan kesultanannya sebagai sebuah negara merdeka yang lepas dari kekuasaan Belanda. 

4. Bacan

Bacan diketahui merupakan satu dari empat kerajaan di Maluku. Perkembangan Bacan berawal dari pemukiman yang heterogen, terdiri dari berbagai suku seperti, Makian, Galela, dan Tobelo. Tiap-tiap suku dikepalai oleh kepala suku masing-masing dan menggunakan bahasa suku masing-masing. Bahasa dan suku yang beragama membuat Bacan menjadi wilayah yang majemuk.  Islam berkembang dan menjadi identitas kerajaan sejak abad ke-16. Pada abad ke-16 Raja Bacan memeluk Islam. Sultan pertama Bacan adalah Zainulabidin. 

Ketika menjadi kesulatanan, Bacan seperti kesultanan lainnya kemudian mendirikan lembaga keagamaan dan mengkonstitusikan Islam dalam kehidupan politik. Bacan membentuk lembaga Sekretaris Kesultanan yang mendampingi Sultan dalam urusan pemerintahan. Ia menata administrasi kesultanan, terutama surat dari dan untuk kesultanan. 

Bangsa Eropa pertama kali melalui Portugis menanamkan pengaruh di Bacan pada abad ke-16. Portugis kemudian membangun benteng Fort yang kemudian kelak akan diambil alih oleh Belanda. Benteng Fort masih dapat dilihat sekarang ini. Ketika Belanda masuk ke Bacan, seperti dengan Tidore, Bacan dalam hal hubungan dengan Belanda merasa kurang diuntungkan. 

Kesultanan Bacan kemudian mengharuskan menyetujui perjanjian monopoli dengan Belanda dalam perdagangan cengkeh. Bacan memiliki pengaruh besar dalam perdagangan di Maluku. Bacan menjadi menjadi pusat distribusi pala dan cengkeh di Ternate, Tidore, Moti, dan Halmahera. 

Rujukan: 

Harun, Yahya. 1995. Kerajaan Islam di Nusantara Abad XVI dan XII. Yogyakarta: Kurnia Kalam Sejahtera
Nugroho Notosusanto, dkk. 2010. Sejarah Nasional Indonesia jilid III. Jakarta: Balai Pustaka
Hamka. 1981. Sejarah Umat Islam, Bulan Bintang. Jakarta. 
Departemen Pariwisata RI. 2012. Sejarah Masuknya Islam di Maluku. Ambon: BPSNT Ambon

Read More

Program Keluarga Berencana (KB) pada Masa Orde Baru

Pembukaan pameran visual Program Keluarga Berencana dihadiri oleh Presiden Soeharto di Bina Graha pada tahun 1973. Foto: Jakarta IPPHOS

Harian Sejarah - Gerakan Keluara Berencana (KB) yang kita kenal sekarang awalnya dipelopori oleh beberapa orang tokoh, baik di dalam maupun di luar negeri. Sejak saat itulah berdirilah perkumpulan-perkumpulan KB di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang mendirikan PKBI (perkumpulan keluarga berencana Indonesia) pada 23 Desember 1957.

Pekembangan awal KB di Indonesia :
  • Pada Januari 1967 diadakan simposium Kontrasepsi di Bandung yang diikuti oleh masyarakat luas melalui media massa
  • Pada Bulan Februari 1967 diadakan diadakan kongres PKBI pertama yang mengharapkan agar keluarga berencana sebagai program pemerintah segera dilaksanakan
  • Pada April 1967, Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin menganggap bahwa sudah waktunya kegiatan KB dilancarkan secara resmi di Jakarta dengan menyelenggarakan proyek keluarga berencana DKI Jakarta Raya
  • Tanggal 16 Agustus 1967 gerakan keluarga berencana di Indonesia memasuki era peralihan pidato pemimpin negara. Selama orde lama organisasi pergerakan dilakukan oleh tenaga sukarela dan beroperasi secara diam-diam karena kepala Negara waktu itu anti terhadap keluarga berencana maka dalam orde baru gerakan keluarga berencana diakui dan dimasukan dalam program pemerintah.
  • Pada Oktober 1968 berdiri Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) yang sifatnya semi pemerintah yang dalam tugasnya diawasi dan dibimbing oleh Mentri Negara Kesejahteraan Rakyat, merupakan kristalisasi dan kesungguhan pemerintah dalam kebijakan keluarga berencana.
Pemerintahan Soeharto pada tahun 1970 berupaya untuk menekan laju angka kelahiran dengan membentuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) guna mengajak masyarakat Indonesia untuk mengikuti program keluarga berencana di mana jumlah anak dibatasi maksimal dua saja. Program Keluarga Berencana (KB) dilakukan secara teknis menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah terjadinya pembuahan antara sel sperma dengan sel ovum. 

Masa-masa awal program KB masih belum bisa dijalankan dengan baik sebab terdapat penolakan dari sebagian masyarakat Indonesia saat itu. Namun setelah disebarkannya slogan-slogan propaganda dalam bentuk iklan-iklan di media massa secara intensif dan masif, pengikut program KB semakin meningkat. 

Dalam kurun waktu sekitar 16 tahun (1970-1986) data statistik menyatakan bahwa Jumlah peserta KB  dari 0,3 juta orang telah meningkat menjadi 15,3 juta. Implikasi dari banyaknya pengikut program KB itu sendiri adalah menciptakan hubungan positif antara tingkat pengikut program KB dengan peningkatan pembangunan nasional. 

Langkah Pemerintah Mengatasi Penolakan Sebagian Masyarakat (1970-1986)

Untuk menangani permasalahan berupa penolakan Program KB dari sebagian masyarakat indonesia, Pemerintahan Soeharto kala itu paham benar bahwa nilai daripada Program KB ini harus harus dikenalkan kepada masyarakat melalui pendekatan-pendekatan yang intensif. Oleh karena itu, kegiatan LKBN lebih berkonsentrasu pada pengadaan dialog-dialog dengan masyarakat luas, para pemuka agama, maupun kaum intelektual.

Pada era 1950-an gagasan tentang Keluarga Berencana (KB) menghadapi tantangan berat. Sebagian besar masyarakat dan akademisi cenderung melihat keluarga berencana sebagai upaya pembatasan kehamilan semata, yang pada masa itu dinilai sebagai suatu hal yang dianggap sebagai bentuk perampasan kemerdekaan yang baru saja mereka nikmati.

Di sisi lain, pada periode tersebut pemerintah belum menyadari manfaat keluarga berencana bagi peningkatan kualitas bangsa. Saat itu, hamil dan melahirkan ditanamkan sebagai tugas mulia perempuan untuk melahirkan jutaan generasi baru Indonesia yang akan mengelola sumber daya alam yang melimpah dan mengangkat citra Indonesia sebagai bangsa yang besar di mata dunia.

Propaganda Pemerintahan Melalui Media Massa (1970-1986)

Poster iklan lingkaran biru Keluarga Berencana (KB) di Jakarta, 1985. Foto: TEMPO/ Didik Budiarta

Wajib kita ketahui bahwa pada masa Orde Baru, media massa sendiri sengaja diatur oleh Pemerintahan Soeharto untuk memiliki fungsi ganda atau berwajah dua. Fungsi yang pertama dari media massa saat itu ialah menjadi industri yang mampu mendongkrak kemajuan iklim investasi ke arah yang lebih baik. Terbukti pada tahun 1970, berdatangan dengan cukup masif berbagai agensi percetakan asing yang tertarik untuk berinvestasi di Indonesia.

Dengan kata lain, Orde Baru dan Soeharto saat itu telah membentuk media massa sebagai penyokokong perekonomian negara. Wajah yang kedua atau fungsi kedua dari media massa saat itu ialah menjadi partner pemangunan bagi pemerintah. Dengan demikian media massa baik cetak maupun elektronik harus senantiasa mencukung program-program pemerintahan Orde Baru. Kontrol kuat dari pemerintah terhadap media massa saat itu dideklarasikan dengan slogan “Bebas, Bertanggungjawab|”, membuat semua aspek dari media massa berada di bawah pegawasan ketat dari Soeharto .

Bentuk pengawasan dan kontrol terhadap segala aktivitas surat kabar maupun penyiaran pada media elektornik baik radio maupun televisi, semuanya dilakukan di bawah kendali Departemen Penerangangan. Oleh karena itu, pemerintah melalui Departemen Penerangan tak akan segan mencabut Surat Izin Terbit (SIT) maupun Surat Izin Usah Penerbitan Pers (SIUPP) bagi surat kabar yang dinilai “bandel” dan tidak taat dengan aturan yang telah dibuat oleh Orde Baru . Pada Era 1970 an sendiri, siaran radio komersil maupun televisi nasional (TVRI) telah berhasil mengudara di berbagai kota besar di Indonesia.

Radio-Radio dan TVRI saat itu sangat loyal terhadap Departemen Penerangan sebagai wakil pemerintah dalam bidang pengawasan. Oleh karena itu pada periode 1966-1980 bertebaran slogan yang sarat akan propaganda Orde Baru. Slogan-slogan dapat terdapat di media massa saat itu dengan alasan  pemerintah yaitu untuk menjaga stabilitas nasional demi lancarnya pembangunan nasional. Dan secara teknis, slogan-slogan propaganda pada masa Orde Baru digunakan untuk menyebarkan, menginformasikan, mengintensifkan dan sebagai perpanjangan dari kebijakan-kebijakan pemerintah . Sudah barang tentu target utama dari slogan-slogan propaganda tersebut adalah masyarakat luas.

Slogan-slogan propaganda tersebut pada dasarnya dikeluarkan pemerintah tersebut adala slogan yang mampu mendukung kebijakan atau program yang sedang dijalankan oleh pemerintah. Maka slogan-slogan propaganda tersebut diklarifikasikan menjadi beberapa kelompok.

Salahsatunya adalah slogan propaganda pemerintah Orde Baru dengan konteks “Kesejahteraan Sosial” di mana KB merupakan salah satu anak programnya. “Dua Anak Cukup” merupakan slogan pemerintah Orde Baru dalam rangka program Keluarga Berencana Nasional . Slogan tersebut senantiasa didengungkan oleh BKKBN melalui berbagai cara agar masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam program KB guna mengurangi angka kelahiran tersebut. Juga masih untuk mengatasi permasalahan yang telah saya singgung pada pendahuluan di atas tentang adanya penolakan sebagian masyarakat Indonesia untuk menjalankan Program KB ini pemerintahan Soekarno mengeluarkan lagi satu slogan yang menghiasi media massa dengan begitu intensifnya: KB, Listrik dan Koran”.

Slogan tersebut dikenal juga sebagai Trio Pembaharuan masyarakat desa. Kembali penulis pertegas bahwa slogan-slogan tentang KB yang disebarkan secara intensif dan masif melalui berbagai macam media massa tersebut adalah sebagai upaya pemerintahan Soeharto agar  masyarakat dapat ikut seta menjalankan program KB seebagai solusi untuk menurunkan angka kelahiran guna tercapainya pembangunan nasional yang lebih baik.

Media Massa dan Suksesnya Program KB (1970-1986)

Logo Keluarga Berencana (KB) tahun 1970an. Foto: Pinterest

Dengan penyebaran slogan-slogan propaganda yang persuasif di media massa dengan masif dan intensif, pemerintahan Soeharto memetik hasil yang baik dalam hal keikutsertaan KB masyarakat pada saat itu. Dengan berjalannya waktu, makin banyak wanita dengan paritas  rendah yang memakai alat kontrasepsi. Di samping gejala “alamiah” tersebut program KB sendiri juga makin berkembang dan makin banyak penduduk yang mngenal dan mengetahui baik masalah kependudukan sedara umum maupun kegunaan keluarga berencana.

Hal ini membawa hasl makin banyak penduduk yang secara sukarela ingin memakai alat komtrasepsi termasuk mereka yang mempunyai paritas rendah. Semenjak mulai dilaksanakan, berkat slogan-slogan propaganda berupa iklan di berbagai media massa yang begitu intensif dan masif, program keluarga berencana telah menunjukkan keberhasilan yang mengesanan. Jumlah peserta KB yang pada tahun 1972 hanya 0,3 juta orang telah meningkat menjadi 15,3 juta pada 1986 . Pengetahuan tentang KB juga telah tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Program KB dan Pembangunan Nasional
Bersama Ibu Tien menyaksikan peserta KB di Posyandu di Kalimantan Timur tahun 1986. Foto: Jakarta IPPHOS
Terdapat hubungan yang positif antara pemakaian alat kontrasepsi dan proporsi sawah dengan irigasi. Artinya ini adalah indikasi yang menunjukan bahwa program KB yang berjalan dengan baik telah mendorong pembangunan nasional . Dan secara psikologis, penduduk yang memakai alat kontrasepsi juga akan merasakan adanya peningkatan kesejahteraan mereka sehingga tujuan kualitatif program KB untuk meningkatkan kesejahteraan Penduduk secara tidak langsung juga akan tercapai.



Rujukan Pustaka

Soeradji, Budi., dkk. 1987. Analisis Determinan Pemakaian Kontrasepsi dan Efisiensi Pelaksanaan Program Keluarga Berencana. Jakarta: Kerjasama Akademi Ilmu Statistik, Biro Pusat Statistik dan Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
BKKBN. 1996. Informasi Dasar Gerakan KB Pembangunan Keluarga Sejahtera. Jakarta: BKKBN.
Suparlan, B., 1990. Kamus Istikah KKB: Kependudukan dan Keluarga Berencana. Yogyakarta: Kanisius.
Gazali, Effendi. 2004. Communication of Politics and Politics of Communication in Indonesia: A study on Media Performance, Responbility and Accountability. Nijmegen: Doctoral Thesis Radboud University.
Alkatiri, Zeffry., dkk. 2010. National Integrations Slogans in Printed Mass Media in the Era of New Order Regime in Idonesia 1968-1998. Jakarta: International Journal for History Studies.
Mice, Lucy.,dkk. 2006. 35 years Commitment to Family Planning in Indonesia: BBKBN and USAID’s Historic Patnership. Bloomberg: Johns hopkins Bloomberg School of Public Health Center for Communication.


Tulisan Kiriman Yahya Ali Rabbani. Mahasiswa Sejarah UI.
Read More

Mandi, Kebiasaan yang Tabu di Eropa Abad Pertengahan


Harian Sejarah - Mandi merupakan kebiasaan yang umum saat ini, bahkan sudah menjadi kewajiban bagi kita. Biasanya mandi dilakukan untuk membersihkan tubuh dari kotoran yang menempel sepanjang hari dan sebagai sarana relaksasi. Namun pada abad pertengahan, mandi merupakan hal yang tabu di Eropa. Kebiasaaan ini berlanjut sepanjang abad pertengahan dan diadopsi oleh kebanyakan masyarakat era tersebut.

Sebelum abad pertengahan, pemandian umum jamak berada di eropa dan masyarakatnya biasa mandi secara teratur dalam pemandian umum tersebut. Awalnya pada abad ke 4-5 masehi para pendeta bahkan menyuruh warga untuk mandi demi kesehatan dan kebersihan, namun melarang pemandian umum yang mencampur wanita dan pria. Karena banyak penyalahgunaan pemandian umum, otoritas pendeta melarang pemandian umum pada abad pertengahan karena merasa fasilitas ini disalahgunakan sebagai sarana berhubungan intim yang menjerumuskan kepada dosa dan penyakit.

Larangan Untuk Mandi
Hasil gambar untuk medieval people never bath
Mandi di Abad Pertengahan. Foto: medievalists.net
Larangan gereja tersebut kemudian menyebar di kalangan warga eropa. Mereka percaya bahwa air dapat membawa penyakit melalui pori-pori kulit. Menurut ilmu medis saat itu mengatakan bahwa mandi bisa membawa penyakit dan mengakibatkan pori-pori kulit melebar sehingga orang lebih mudah terkena penyakit mematikan.

Masyarakat golongan bawah sangat memegang erat larangan gereja, mereka bahkan benar-benar tidak membersihkan diri mereka bahkan membatasi akses untuk mencuci tangan, wajah dan mulut. Mereka yakin bahwa dengan mencuci wajah akan mengakibatkan penyakit pilek hingga pengurangan daya pengelihatan.

Untuk para bangsawan, mereka hanya mandi beberapa kali dalam setahun. Catatan yang ditulis oleh seorang duta besar Rusia di Perancis bahkan mengatakan bahwa Kaisar Louis XIV memiliki bau seperti binatang liar. Hal ini karena beberapa penasihat kerajaan menyarankan beliau untuk tidak mandi selama mungkin demi menjaga kesehatan. Catatan tersebut menyatakan bahwa Louis XIV hanya mandi sebanyak dua kali sepanjang hidupnya. Ada juga catatan yang menyatakan bahwa Ratu Isabel I dari Spanyol hanya mandi sebanyak dua kali sepanjang hidupnya.

Untuk menyiasati bau badan karena tidak mandi, banyak bangsawan saat itu menggantikan mandi dengan menyeka tubuh mereka dengan parfum yang sangat banyak. Larangan untuk tidak mandi tersebut tetap dipatuhi hingga pertengahan abad ke 19 masehi.

Eropa Abad Pertengahan yang Kotor
Hasil gambar untuk great stench of london
Kota London yang kotor. Foto: howstuffworks.com
Kondisi Eropa abad pertengahan juga sangat jorok, di banyak kota berserakan kotoran dan bekas air kencing di sepanjang jalan. Jalan-jalan menjadi pembuangan limbah karena warga yang membuang kotoran ke jalanan. Orang-orang saat itu harus memakai penutup wajah agar tidak muntah karena bau yang menyengat. Kebiasaan lain yang sangat jorok adalah para tukang daging yang menyembelih hewan di jalanan dan membuang sisa daging dan darah ke jalanan. 

Peristiwa luar biasa akibat keadaan ini adalah peristiwa The Great Stench of 1858 di London yang akan dijelaskan secara mudah dalam video yang kami sediakan dari salah satu kanal youtube.


Read More

Demokrasi Semu Pemilu 1971

Presiden Soeharto dan Ibu Tien menuju tempat pemungutan suara pada Pemilu 1971, tanggal 5 Juli 1971. HENDRANTO/Arsip Kompas

Harian Sejarah - Empat tahun setelah resmi menggantikan Soekarno sebagai Presiden RI, Soeharto menggelar pemilu pada 5 Juli 1971. Hajatan politik nasional itu memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat provinsi dan kabupaten. Ini pemilu pertama pada masa Orde Baru.

Total ada 10 partai politik yang bertarung kali ini dan hanya delapan parpol yang meraih kursi. Muncul dua partai baru, yaitu Golongan Karya (Golkar) dan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi). Beberapa parpol pada Pemilu 1955 tak lagi ikut serta karena dibubarkan, seperti Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Partai Sosialis Indonesia (PSI), dan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pemilu menggunakan sistem proporsional dengan daftar tertutup dan semua kursi terbagi habis di setiap daerah pemilihan. Golkar menang dengan mengantongi 62,8 persen suara (236 kursi DPR). Disusul Nahdlatul Ulama (NU) dengan 18,6 persen suara (58 kursi), Parmusi dengan 5,3 persen suara (24 kursi), Partai Nasionalis Indonesia (PNI) dengan 6,9 persen suara (20 kursi), dan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dengan 2,3 persen suara (10 kursi).

Menurut sejarawan Anhar Gonggong, Golkar sudah diperkirakan bakal menang secara merata meski baru kali pertama ikut pemilu. Sekretariat Bersama Golkar dijadikan kendaraan politik Soeharto. Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dengan seluruh jaringannya, pegawai negeri sipil (PNS), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), serta birokrasi di semua tingkat menjadi alat untuk memobilisasi rakyat dari pusat sampai ke desa-desa agar memilih Golkar.

Soeharto dengan berbagai cara, kata Anhar, berusaha melemahkan kekuatan parpol besar lain sambil membesarkan Golkar. Soal nama, misalnya, tidak digunakan istilah ”partai”, tetapi ”golongan”. Padahal, dalam praktiknya, Golkar jelas-jelas partai politik. Mulai tumbuh gagasan Dwifungsi ABRI sebagai kekuatan militer sekaligus politik praktis penyokong Orde Baru.

Struktur panitia pemilu diduduki para pejabat pemerintahan, terutama dari Departemen Dalam Negeri. Saat hari pencoblosan, tempat pemungutan suara (TPS) dijaga
ketat polisi dan tentara. Saat itulah, mulai dikenal istilah ”seranga fajar”, yaitu pemberian uang kepada warga pada pagi hari sebelum datang ke TPS agar mencoblos partai pemerintah. Dengan semua manuver itu, walhasil Golkar pun menang telak.

Tujuan Pemilu 1971 sebenarnya baik, yaitu menciptakan kehidupan politik bangsa Indonesia yang demokratis setelah tragedi politik 30 September 1965. ”Sayangnya, pemilu direkayasa dengan cara-cara yang justru antidemokrasi. Berbagai aturan dan tata cara dimanipulasi untuk memenangkan Golkar sebagai mesin politik rezim Orde Baru. Inilah pseudo democracy atau demokrasi semu yang mengelabui rakyat,” kata Anhar, yang saat itu menjadi mahasiswa Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Dalam Pemilu 1971, beberapa partai masih memperoleh suara cukup lumayan karena mampu mempertahankan pendukung tradisionalnya. NU masih punya basis kuat di pedesaan, seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Kalimantan. Parmusi, yang seakan merupakan penjelmaan dari politik eksponen Masyumi, masih berakar di masyarakat Islam perkotaan.

Menang pada Pemilu 1955, NI justru anjlok suaranya pada 1971. Partai ini menerima tuduhan terkait PKI—yang dikambinghitamkan dalam Peristiwa 30 September 1965. Basis pendukung nasionalisnya, terutama di Jawa Timur, Bali, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara, digerogoti oleh Golkar.

Kemenangan Golkar dijadikan alat untuk melegitimasi rezim Orde Baru. Manuver politik demokrasi semu ala Pemilu 1971 lantas dikembangkan oleh Orde Baru untuk pemilu-pemilu berikutnya, bahkan dengan
cara-cara lebih frontal.

”Tak ada pemilu yang benar-benar demokratis selama Orde Baru. Semua sudah direkayasa dan tidak mencerminkan aspirasi rakyat yang sesungguhnya,” kata Anhar Gonggong.


Sumber: Kompas. 11 Januari 2014. Pemilu 1971, Demokrasi Semu
Read More

Sejarah Pemilu 1971

Presiden Soeharto dan Ibu Tien menuju tempat pemungutan suara pada Pemilu 1971, tanggal 5 Juli 1971. HENDRANTO/Arsip Kompas

Harian Sejarah - Ketika Jenderal Soeharto diangkat oleh MPRS menjadi pejabat Presiden menggantikan Soekarno dalam Sidang Istimewa MPRS 1967, ia juga tidak secepatnya menyelenggarakan Pemilu untuk mencari legitimasi kekuasaan transisi. Malah Ketetapan MPRS XI Tahun 1966 yang mengamanatkan agar Pemilu bisa diselenggarakan dalam tahun 1968, kemudian diubah lagi pada SI MPR 1967, oleh Jenderal Soeharto diubah lagi dengan menetapkan bahwa Pemilu akan diselenggarakan dalam tahun 1971.

Sebagai pejabat presiden, Soeharto tetap menggunakan MPRS dan DPR-GR bentukan Soekarno, hanya saja ia melakukan pembersihan lembaga tertinggi dan tinggi negara tersebut dari sejumlah anggota yang dianggap berbau Orde Lama.
Pada prakteknya, Pemilu kedua baru bisa diselenggarakan tanggal 5 Juli 1971, yang berarti setelah 4 tahun Soeharto berada di kursi kepresidenan. Pada waktu itu ketentuan tentang kepartaian (tanpa UU) kurang lebih sama dengan yang diterapkan Presiden Soekarno.

UU yang diadakan adalah UU tentang Pemilu dan susunan dan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD. Menjelang Pemilu 1971, pemerintah bersama DPR GR menyelesaikan UU No. 15 Tahun 1969 tentang Pemilu dan UU No. 16 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD. Penyelesaian UU itu sendiri memakan waktu hampir tiga tahun.

Hal yang sangat signifikan yang berbeda dengan Pemilu 1955 adalah bahwa para pejebat negara pada Pemilu 1971 diharuskan bersikap netral. Sedangkan pada Pemilu 1955 pejabat negara, termasuk perdana menteri yang berasal dari partai bisa ikut menjadi calon partai secara formal. Tetapi pada prakteknya pada Pemilu 1971 para pejabat pemerintah berpihak kepada salah satu peserta Pemilu, yaitu Golkar. Jadi sesungguhnya pemerintah pun merekayasa ketentuan-ketentuan yang menguntungkan Golkar seperti menetapkan seluruh pegawai negeri sipil harus menyalurkan aspirasinya kepada salah satu peserta Pemilu itu.

Dalam hubungannya dengan pembagian kursi, cara pembagian yang digunakan dalam Pemilu 1971 berbeda dengan Pemilu 1955. Dalam Pemilu 1971, yang menggunakan UU No. 15 Tahun 1969 sebagai dasar, semua kursi terbagi habis di setiap daerah pemilihan. Cara ini ternyata mampu menjadi mekanisme tidak langsung untuk mengurangi jumlah partai yang meraih kursi dibandingkan penggunaan sistem kombinasi. Tetapi, kelemahannya sistem demiki-an lebih banyak menyebabkan suara partai terbuang percuma.

Jelasnya, pembagian kursi pada Pemilu 1971 dilakukan dalam tiga tahap, ini dalam hal ada partai yang melakukan stembus accoord. Tetapi di daerah pemilihan yang tidak terdapat partai yang melakukan stembus acccord, pembagian kursi hanya dilakukan dalam dua tahap.

"Stembus Accord: kesepakatan kotak suara. Sebuah kerjasama atau kesepakatan antara dua atau lebih partai politik peserta pemilu untuk saling membantu dengan cara pemanfaatan sisa suara yang tidak habis dibagi dalam bilangan pembagi pemilihan (BPP), di mana kemungkinan jumlah suara yang diperoleh partai tersebut dapat menghasilkan kursi tambahan. Pada pemilu 1998 beberapa partai Islam menyepakati adanya stembus accord sehingga sisa suara dapat dimanfaatkan dan tidak hilang secara sia-sia."

Tahap pembagian kursi pada Pemilu 1971 adalah sebagai berikut. Pertama, suara partai dibagi dengan kiesquotient di daerah pemi-lihan. Tahap kedua, apabila ada partai yang melakukan stembus accoord, maka jumlah sisa suara partai-partai yang menggabungkan sisa suara itu dibagi dengan kiesquotient. Pada tahap berikutnya apabila masih ada kursi yang tersisa masing-masing satu kursi diserahkan kepada partai yang meraih sisa suara terbesar, termasuk gabungan sisa suara partai yang melakukan stembus accoord dari perolehan kursi pembagian tahap kedua. Apabila tidak ada partai yang melakukan stembus accoord, maka setelah pembagian pertama, sisa kursi dibagikan langsung kepada partai yang memiliki sisa suara terbesar.

Namun demikian, cara pembagian kursi dalam Pemilu 1971 menyebabkan tidak selarasnya hasil perolehan suara secara nasional dengan perolehan keseluruhan kursi oleh suatu partai. Contoh paling gamblang adalah bias perolehan kursi antara PNI dan Parmusi. PNI yang secara nasional suaranya lebih besar dari Parmusi, akhirnya memperoleh kursi lebih sedikit dibandingkan Parmusi. Untuk lebih jelasnya lihat tabel di bawah ini.

sumber: KPU.go.id





Read More

Gejolak Politik Kampanye Pemilu Indonesia tahun 1971

Bung Hatta melakukan pencoblosan saat Pemilu tahun 1971. Foto: Koleksi Ida Budhiati

Ada partai baru, ada ketua umum baru, ada juga yang meninggal sebelum pemilu dilaksanakan.

Harian Sejarah - Setelah enam belas tahun tidak melaksanakan pemilu, Indonesia kembali menyelanggarakan pemilu pada 3 Juli 1971. Pada pemilu kali ini ada 10 partai yang terdaftar sebagai peserta, yakni Partai Katolik, PSII, NU, Parmusi, Golkar, Parkindo, Murba, PNI, Perti, dan IPKI.
Partai politik peserta pemilu tahun 1971. Foto: Pinterest
Golkar sebagai partai baru dalam politik Indonesia adalah partai yang didukung oleh pemerintah dan ABRI. Dalam kampanye pertamanya, Golkar memilih tema “Politik no, Pembangunan yes” sebagai representasi keinginan pemerintah. 

Dalam kampanyenya, Golkar sering kali mengungkit-ungkit kegagalan dan kelemahan partai politik di masa lalu untuk melumpuhkan partai politik. Kampanye Golkar juga diwarnai dengan paksaan. Kebanyakan pegawai negeri dan pamong desa dilarang berkampanye untuk partai pilihan mereka dan diharuskan untuk bergabung dan bekerja sama dengan Golkar. Lebih penting lagi, mereka harus memilih Golkar dalam pemilu.
Warga antre memberikan suaranya di TPS 5, Kelurahan Kwitang, Jakarta saat Pemilu 1971. Foto: HENDRANTO/Arsip Kompas
Di beberapa daerah para pemilih diharuskan untuk mendaftar sebagai anggota Golkar. Golkar mengkampanyekan kepada masyarakat bahwa menentang Golkar berarti menentang pemerintah sehingga tidak akan ada pekerjaan atau pelayanan pemerintah bagi para penentang Golkar.
Presiden Soeharto dan Ibu Tien menuju tempat pemungutan suara pada Pemilu 1971, tanggal 5 Juli 1971. HENDRANTO/Arsip Kompas
Para perwira militer menjadi ketua Golkar setempat dan mengawasi para pemimpin sipil dari dekat. Daftar para calon partai disaring dan banyak nama dikeluarkan dari daftar pemilihan. Pemimpin-pemimpin partai yang kurang bersimpati kepada penguasa militer dipaksa keluar dari kedudukan mereka di partai. 

Partai lain yang melakukan kampanye adalah PNI. Kampanye yang dilakukan oleh PNI menimbulkan ketegangan antara PNI dan pemerintah. Sebelumnya, anggota PNI sempat kesal dengan pemerintah karena ikut campur dalam pemilihan ketua umum. 

Ketika Ketua Umum PNI Osa Maliki meninggal karena penyakit jantung pada September 1969, pemerintah harus mengawasi PNI dalam pemilihan pemimpin baru. Dua kandidat kuat dalam pemilihan ketua umum PNI adalah Hardi, seorang ahli hukum dan mantan wakil perdana menteri 1957 dan 1959, dan Hadisubeno, seorang mantan walikota Semarang pada akhir tahun 1950-an.

Pihak pemerintah mencurigai Hardi akan bekerja sama dengan partai-partai untuk menentang tentara. Oleh karena itu, pemerintah menginginkan Hadisubeno menjadi ketua umum. 
ali moertopo2
Ali Murtopo saat berkampanye untuk Golkar, 1971. Foto: beritakabar.co
Dalam kongres partai yang diadakan di Semarang pada April 1970, asisten pribadi Ali Murtopo ditugaskan untuk memastikan kemenangan Hadisubeno. Pada akhirnya, Hadisubeno keluar sebagai ketua umum PNI. 

Seorang pendukung Hardi kemudian menulis dalam harian partai Suluh Marhaen bahwa dalam kongres terdapat campur tangan pihak Angkatan Darat yang mengatakan pada para anggota kongres bahwa pemerintah menginginkan Hadisubeno menjadi ketua umum dan bila tidak tercapai, PNI bisa dibubarkan. Akhirnya Hadisubeno berhasil keluar sebagai Ketua Umum PNI, seperti keinginan pemerintah.

Hadisubeno yang sebelumnya disangka penurut oleh pemerintah, ternyata melakukan kampanye yang mengundang kewaspadaan. Kampanye Hadisubeno bersemangat anti-Golkar dan menyatakan kedekatan hubungan antara PNI dengan Sukarno. 

Padahal terdapat larangan Kopkamtib tentang penyebaran ide-ide Sukarno. Hadisubeno menantang pemerintah untuk membubarkan PNI kalau larangan tersebut diberlakukan. Dalam pidatonya, Hadisubeno mengatakan, “Sepuluh Suharto, sepuluh Nasution, dan segerobak penuh jenderal tidak akan dapat menyamai satu Sukarno.” 

Meski sudah berusaha melakukan kampanye dengan penuh semangat, usaha Hadisubeno untuk ikut dalam pemilu gagal. Sejarawan R. William Liddle menulis bahwa Hadisubeno meninggal sebelum pemilu dilaksanakan, yakni pada April 1971. Liddle tidak menuliskan penyebab kematian Hadisubeno karena penyakit atau alasan lain. Ditinggal mati ketua umum 2 bulan sebelum pemilu membuat kampanye PNI menjadi berantakan. 

Nasib Parmusi tidak beda jauh dengan PNI. Sebagai partai baru sepertinya Parmusi tidak tahu cara melakukan kampanye sehingga kampanye yang mereka lakukan juga berantakan. Sedangkan NU di samping kampanye yang penuh semangat tetap menjadi partai yang tunduk kepada pemerintah. NU mengeluarkan fatwa bahwa orang Islam wajib memberikan suara kepada partai-partai Islam. Dari tiga partai besar hanya NU yang tidak menyerang pemerintah secara langsung.

Berbagai intrik terjadi pada pelaksanaan pemilu 1971. Pada akhirnya Golkar keluar sebagai pemenang dengan mendapat suara paling banyak. Pada 1974, pemerintah melakukan penyederhanaan partai politik dari 10 menjadi 3 partai politik sebagai upaya persiapan pemilu 1977. 


Rujukan:

Crouch, Harold. 1999. Militer dan Politik di Indonesia, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Liddle, R. William. 1992. Partisipasi dan Partai Politik: Indonesia pada Awal Orde Baru. Jakarta: Grafiti, 1992.
Muhammad Rusli Karim. 1983. Perjalanan Partai Politik di Indonesia. Jakarta: Rajawali

"Kiriman Kontributor oleh Nur Janti Mahasiswa Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta. Dapat dihubungi: jantinur.nj@gmail.com"

Read More

Pemandangan Indah di Bukit Jambul, Bali

Pemandangan landscape Bukit Jambul, Bali. Foto: Kintamani.id

Aku tinggal di Desa Pesaban. Letaknya jauh di pedalaman. Jaraknya kira-kira 50 kilo meter dari Kota Denpasar, ibu kota Provinsi Bali. Kalau lalu lintas lancar, perjalanan sepanjang ini memakan waktu sejam dengan kendaraan beroda empat.

Desaku termasuk wilayah dataran tinggi, kurang lebih 1000 meter di atas permukaan laut. Pagi hari udara sangat sejuk. Di sekeliling pemukiman penduduk terhampar lahan-lahan pertanian yang luas dan subur. Kecamatan Rendang adalah  pusat pemerintahan yang melingkupi segenap urusan kerakyatan di desaku.

Sebagian besar penduduk di desaku mata pencahariannya adalah bercocok-tanam. Petani menanam padi di sawah. Sayang, hampir semua penduduk di desaku tergolong petani gurem. Hal ini disebabkan oleh sempitnya sawah yang menjadi sandaran setiap kepala keluarga.

Tanaman bunga yang dikembangkan di desaku beberapa dasawarsa terakhir, menjadi tumpuan harapan bagi petani kecil. Selain tidak membutuhkan banyak lahan, bunga harganya sangat bagus di pasaran. Petani dapat menanam bunga sebagai selingan seusai panen padi di sawah.

Orang-orang muda di desaku sekarang banyak yang berlayar, menjadi awak kapal pesiar. Tidak sedikit yang berhasil mengumpulkan uang dalam jumlah yang besar. Di samping tentu saja bisa singgah di negeri-negeri asing di mana pun di seluruh dunia. Sebuah petualangan tersendiri sebagai anak buah kapal yang mengasyikkan bagi anak muda yang mengalaminya.

Kabupaten Karangasem melingkupi pemerintahan di tingkat  kecamatan. Kabupaten ini termasuk wilayah ujung timur Pulau Dewata. Orang-orang berpendidikan tinggi dapat bekerja sebagai pegawai negeri / swasta di Kota Amlapura, yang merupakan ibu kota kabupaten.

Bukit Jambul adalah kawasan wisata yang menjadi primadona desaku. Jalan menuju ke tempat ini berliku-liku, menanjak dan banyak tikungan bila di tempuh dari arah selatan. Sawah-sawah bertingkat di sebelah jalan, tampak hijau ketika musim tanaman padi.

Panorama di Bukit Jambul sangat indah. Para pengunjung sering mengabadikannya dengan kamera / handicam sebagai kenang-kenangan. Di tempat ini ada rumah-makan untuk beristirahat sejenak sambil menikmati hidangan masakan tradisional.

Bukit Jambul adalah tempat singgah sementara sebelum berangkat menuju daerah tujuan wisata Pura Besakih, yang terbesar di Bali.



Kiriman Kontributor oleh I Wayan Budiartawan, Pengajar dan Peneliti di ITB 1992 – 1997, dapat dihubungi: 082250815282
Read More